MAJAPAHIT PURBA: PRABU BRATANA DAN JEJAK PERADABAN JAWA SEBELUM MASEHI
(Kajian Sejarah Alternatif, Pemikiran Metafisika Ahmad Chojim, Manuskrip Jawa Kuno, dan Arkeologi)
Disusun oleh: Imajiner Nuswantoro (R. Try Noegroho)
Sumber video pendapat Prof. Ahmad Chojim :
RESUME ARTIKEL
1. Pendahuluan
Majapahit Purba adalah sebuah konsep peradaban spekulatif yang diklaim oleh penulis dan pemikir metafisika, Ahmad Chojim, berdasarkan penafsiran pribadinya terhadap situs purbakala di Trowulan.
gagasan mengenai Majapahit Purba versi Ahmad Chojim ini dikategorikan sebagai sejarah alternatif (alternative history) atau pseudosains.
Berikut adalah poin-poin inti dari klaim mengenai Majapahit Purba tersebut:
- Garis Waktu (Linimasa): Peradaban ini diklaim eksis sekitar tahun 675 hingga 522 Sebelum Masehi (SM).
- Raja Pertama: Peradaban Majapahit Purba ini dipimpin oleh raja pertamanya yang bernama Prabu Bratana.
Majapahit Purba merupakan gagasan sejarah alternatif yang dikaitkan dengan penafsiran metafisika Ahmad Chojim mengenai kemungkinan adanya peradaban Jawa jauh sebelum Kerajaan Majapahit yang dikenal dalam sejarah Indonesia.
Dalam klaim yang dibahas, peradaban tersebut diperkirakan berlangsung pada tahun 675–522 Sebelum Masehi (SM) dan dipimpin oleh raja pertama bernama Prabu Bratana.
Gagasan ini menarik untuk diteliti karena menghubungkan sejarah Jawa, situs purbakala Trowulan, manuskrip kuno, cerita pewayangan, tradisi lisan, dan pemikiran spiritual Nusantara.
2. Prabu Bratana sebagai Raja Pertama
Prabu Bratana merupakan tokoh sentral dalam narasi Majapahit Purba. Namun, keberadaan dan masa pemerintahannya belum dapat dipastikan berdasarkan bukti sejarah yang terverifikasi.
Untuk membuktikan klaim tersebut, diperlukan manuskrip yang dapat diidentifikasi, prasasti, bukti arkeologis, atau sumber independen yang mendukung nama dan kronologi tokoh tersebut.
Penyebutan gelar prabu dalam sebuah cerita tidak otomatis membuktikan bahwa tokoh yang bersangkutan benar-benar hidup pada periode yang diklaim.
3. Kajian Pemikiran Ahmad Chojim
Pemikiran Ahmad Chojim perlu ditelaah dengan membedakan penafsiran metafisika dari pembuktian sejarah empiris.
Pendekatan metafisika dapat memberikan makna filosofis terhadap simbol, leluhur, dan identitas kebudayaan. Akan tetapi, penetapan tahun berdirinya kerajaan memerlukan bukti yang dapat diuji.
Karena judul dan halaman buku Ahmad Chojim yang secara khusus membahas Majapahit Purba belum terverifikasi dalam kajian ini, klaim tersebut masih memerlukan pemeriksaan terhadap sumber aslinya.
4. Trowulan dan Arkeologi Majapahit
Trowulan di Jawa Timur merupakan kawasan arkeologi penting yang dikaitkan dengan pusat Kerajaan Majapahit pada abad ke-13 hingga ke-15 Masehi.
Situs tersebut memiliki berbagai peninggalan berupa bangunan bata, gerbang, candi, saluran air, dan artefak permukiman.
Namun, keberadaan peninggalan kuno di Trowulan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kerajaan bernama Majapahit telah berdiri pada 675–522 SM. Setiap temuan harus dianalisis berdasarkan konteks lapisan tanah, penanggalan, dan hubungan dengan artefak lainnya.
5. Manuskrip Kuno dan Pewayangan Jawa
Beberapa sumber penting untuk mengkaji sejarah Majapahit dan tradisi Jawa meliputi:
- Nagarakretagama (1365 M): memberikan gambaran mengenai kehidupan kerajaan Majapahit pada masa Hayam Wuruk.
- Pararaton: memuat kisah Ken Arok, Singhasari, dan Majapahit.
- Prasasti: dapat memberikan informasi mengenai penguasa, administrasi, dan kehidupan politik sesuai konteks penulisannya.
- Babad, serat, dan kidung: merekam tradisi sejarah, silsilah, pandangan moral, dan ingatan kolektif.
- Pewayangan Jawa: menyimpan nilai filosofis dan kebudayaan yang dapat diteliti melalui sejarah sastra serta tradisi lisan.
Sumber-sumber tersebut memiliki nilai penting, tetapi tidak dapat langsung dijadikan bukti keberadaan Prabu Bratana tanpa penyebutan yang jelas dan dukungan bukti independen.
6. Status Ilmiah Majapahit Purba
Gagasan Majapahit Purba perlu ditempatkan dalam kategori sejarah alternatif yang belum terverifikasi.
Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai Status Ilmiah Majapahit Purba berdasarkan gambar diagram:
a. Kategori Umum: Sejarah Alternatif (Belum Terverifikasi) Gagasan mengenai Majapahit Purba dikategorikan sebagai sejarah alternatif atau hipotesis yang belum diakui secara luas oleh komunitas akademis sejarah dan arkeologi. Sebuah klaim sejarah memerlukan kriteria metodologi ilmiah yang ketat, seperti keberadaan bukti fisik yang teruji, validasi silang teks, serta kronologi yang konsisten.
b. Periode 675–522 SM
Status: Belum terbukti secara historis.
Penjelasan: Tarikh ini menempatkan keberadaan Majapahit pada zaman besi/perunggu era kuno, jauh sebelum periode Hindu-Buddha berkembang pesat di Nusantara. Menurut konsensus akademis, Kerajaan Majapahit berdiri pada abad ke-13 M (sekitar tahun 1293 M). Klaim keberadaan Majapahit pada milenium pertama sebelum masehi belum didukung oleh penanggalan karbon (radiocarbon dating) atau bukti epigrafi yang sah.
c. Tokoh Prabu Bratana
- Status: Memerlukan sumber primer yang dapat diperiksa.
- Penjelasan: Nama Prabu Bratana sebagai penguasa Majapahit Purba belum ditemukan dalam prasasti otentik, catatan asing (seperti kronik Tiongkok atau India), maupun teks Jawa kuno kontemporer. Dalam historiografi ilmiah, narasi tokoh sejarah membutuhkan sumber primer (seperti prasasti batu/tembaga dari zamannya) yang dapat diuji keaslian linguistik dan materialnya.
d. Situs Trowulan
- Status: Bukti penting bagi kajian Majapahit yang dikenal secara akademis.
- Penjelasan: Trowulan di Mojokerto, Jawa Timur, merupakan kompleks situs arkeologi nyata yang terbukti secara ilmiah sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit abad ke-13 hingga ke-15 M. Temuan berupa fondasi pemukiman, kanal air, candi, terakota, dan mata uang kuno di Trowulan mengonfirmasi keberadaan sejarah Majapahit historis
e. Manuskrip dan Wayang
- Status: Bernilai sebagai sumber sejarah budaya, dengan keterbatasan masing-masing.
- Penjelasan: Naskah sastra, folklor, dan seni wayang memegang peran penting dalam menyimpan memori kolektif dan kearifan lokal. Namun, karya-karya ini sering kali ditulis berabad-abad setelah peristiwa terjadi dan memuat alegori, simbolisme, serta mitologi. Oleh karena itu, naskah budaya tidak bisa ditafsirkan secara harfiah sebagai catatan fakta sejarah tanpa komparasi arkeologis.
f. Tafsir Metafisika
Status: Memperkaya pemaknaan budaya, tetapi bukan pengganti bukti arkeologi.
- Penjelasan: Pendekatan metafisika atau spiritual memberikan sudut pandang intuitif dalam memahami nilai-nilai kebudayaan. Meskipun demikian, dalam epistemologi ilmu sejarah modern, klaim metafisik tidak dapat diukur, diuji ulang, atau dijadikan bukti hukum sejarah (historical proof).
Istilah pseudosains sebaiknya digunakan secara hati-hati, berdasarkan pemeriksaan metode dan bukti, bukan sekadar karena sebuah gagasan berbeda dari pandangan sejarah yang umum diterima.
7. Kesimpulan
Gagasan Majapahit Purba versi Prabu Bratana menawarkan perspektif alternatif tentang kemungkinan akar peradaban Jawa sebelum Masehi. Pemikiran ini dapat menjadi bahan kajian budaya, sejarah lisan, metafisika, dan filologi.
Namun, berdasarkan bukti yang dibahas dalam artikel, belum tersedia dasar terverifikasi yang cukup untuk menyimpulkan bahwa Kerajaan Majapahit telah berdiri pada 675–522 SM atau bahwa Prabu Bratana merupakan raja pertamanya.
Penelitian lebih lanjut perlu mencakup pemeriksaan buku Ahmad Chojim, penelusuran manuskrip, kajian epigrafi, dan pengujian arkeologis.
Dengan demikian, pelestarian warisan leluhur Nusantara sebaiknya berjalan seiring dengan sikap kritis, keterbukaan terhadap penelitian baru, dan penghormatan terhadap bukti sejarah.
Isu hilangnya atau terpinggirkannya catatan sejarah Nusantara dalam narasi historiografi nasional maupun internasional yang sering digambarkan dengan kiasan "The Lost World" atau peradaban yang hilang bukan sekadar teori konspirasi, melainkan hasil dari fenomena historis, politik, dan akademis yang nyata.
1. Faktor Utama Terkikisnya Catatan Sejarah Nusantara
Eurosentrisme dan Kolonialisme (Penulisan Sejarah oleh Penjajah)
Selama berabad-abad, sejarah dunia ditulis dari sudut pandang bangsa Eropa (Eurocentric view). Bangsa penjajah cenderung mengonstruksi narasi bahwa wilayah jajahan termasuk Nusantara adalah wilayah barbar atau tidak berperadaban sebelum mereka datang.
Penjarahan dan Perusakan Manuskrip Ancient
- Selama masa kolonialisme (Belanda dan Inggris), ribuan naskah kuno (daun lontar, serat, naskah Jawa/Bugis/Melayu) diboyong ke perpustakaan Eropa (seperti di Leiden atau London) atau musnah akibat perang dan penjarahan. Hal ini memutus akses masyarakat lokal terhadap rekaman sejarahnya sendiri.
- Sifat Bahan Catatan Lokal (Kerentanan Iklim)
Banyak kerajaan di Nusantara menulis sejarah pada media organik seperti daun lontar, bambu, atau kulit kayu. Di iklim tropis yang lembap, media ini sangat rentan rusak, lapuk, atau terbakar dibanding media batu, lempung, atau perkamen yang digunakan di Eropa atau Timur Tengah.
* **Tradisi Lisan (Oral History)**
Masyarakat Nusantara sangat mengandalkan tradisi lisan (babad, tutur, hikayat, tembang) dalam mewariskan sejarah. Dalam metodologi sejarah modern yang berpatokan pada dokumen tertulis, sumber lisan kerap dianggap tidak valid atau dianggap sebatas mitos/folklor.
- Politik Historiografi Nasional Pasca-Kemerdekaan
Dalam penyusunan sejarah nasional pasca-kemerdekaan, ada upaya pemfokusan narasi pada persatuan nasional dan perlawanan terhadap kolonialisme. Akibatnya, dinamika internal kerajaan lokal, perdagangan rempah antarpulau, atau catatan konflik lokal kerap tersingkirkan atau diragukan demi kepentingan integrasi politik.
2. Apa yang Dimaksud dengan "The Lost World" dalam Konteks Nusantara ?
Istilah "The Lost World" (Dunia yang Hilang) atau peradaban tersembunyi kerap dikaitkan dengan beberapa dimensi:
- Sunda Shelf / Sundaland (Peradaban Zaman Es yang Tenggelam)
Secara geologis dan arkeologis, Nusantara sebelum berakhirnya Zaman Es terakhir (sekitar 11.600 tahun lalu) adalah satu daratan besar bernama Sundaland, yang menghubungkan Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan daratan Asia. Ketika es mencair, daratan ini tenggelam. Hipotesis ilmuwan (seperti Robert Schoch atau Stephen Oppenheimer) menyebut Sundaland sebagai salah satu pusat peradaban paling awal yang hilang akibat kenaikan permukaan air laut.
- Pusat Maritim dan Rempah Global yang Terlupakan
Sebelum bangsa Eropa tiba, Nusantara adalah pusat jaringan perdagangan global terpenting yang menghubungkan Tiongkok, India, Persia, dan Arab. Namun, peran dominan para pelaut dan pedagang lokal dalam membentuk ekonomi dunia sering terabaikan di literatur internasional, digantikan oleh narasi "pembukaan jalur perdagangan oleh bangsa Eropa".
- Situs dan Kerajaan yang Hilang (Terburu atau Musnah)
Banyak situs peradaban hilang akibat bencana alam dahsyat (seperti letusan Gunung Tambora yang memusnahkan Kerajaan Tambora, Pekat, dan Sanggar dalam semalam) atau tertutup hutan tropis (seperti kompleks-kompleks percandian kuno di Sumatra dan Jawa yang baru ditemukan kembali belakangan ini).
3. Implikasi Terhadap Pengetahuan Modern
Tergusurnya catatan-catatan ini membuat Nusantara sering disalahpahami sebagai wilayah periferi (pinggiran) dalam peta peradaban dunia, padahal wilayah ini merupakan salah satu poros utama perdagangan, navigasi laut, dan pertukaran budaya kosmopolitan di masa lalu.
Saat ini, para sejarawan dan arkeolog independen terus melakukan rekonstruksi (dekonstruksi historiografi) melalui penelusuran kembali naskah-naskah Nusantara, analisis artefak bawah laut, serta studi genetik untuk memulihkan narasi sejarah yang sempat hilang.
Dalam tradisi spiritual dan filsafat Jawa Kuno (kejawen/m mistisisme Jawa), dikenal sebuah konsep luhur yang berbunyi "Ngilmu Tanpo Tulis Tanpo Papan" (Ilmu tanpa tulisan, tanpa papan tulis). Secara garis besar, ajaran ini berarti pengetahuan sejati atau kearifan spiritual tertinggi yang tidak bisa dipelajari sekadar lewat teks, buku, atau dogma lisan, melainkan harus dipahami melalui rasa, intuisi, kesadaran batin, dan pengalaman hidup langsung.
Berikut adalah penjelasan komplit mengenai makna, esensi, dan penerapan ajaran filsafat tersebut:
1. Arti Secara Harfiah dan Filosofis
- Tanpo Tulis (Tanpa Tulisan): Berarti ilmu ini tidak mengandalkan huruf, teks, kitab, atau simbol-simbol tersurat. Mengapa? Karena kata-kata memiliki batasan, sedangkan kebenaran hakiki (spiritual) bersifat tidak terbatas (tan keno kinoyo ngopo / tidak bisa digambarkan).
- Tanpo Papan (Tanpa Papan/Media): Berarti ilmu ini tidak membutuhkan ruang kelas, bangku sekolah, atau media fisik eksternal untuk dipelajari. Papan tulis terbaik dalam ajaran ini adalah alam semesta dan hati nurani manusia itu sendiri.
2. Inti dan Esensi Ajaran
Ajaran ini berfokus pada transendensi (melampaui hal-hal fisik) untuk mencapai kawruh sejati (pengetahuan hakiki). Ada beberapa esensi utama di dalamnya:
- Membaca "Kitab Kehidupan" (Sastra Cetho): Manusia diajak untuk membaca tanda-tanda alam, peristiwa hidup, dan perilaku sesama. Alam semesta dianggap sebagai hamparan ilmu yang hidup, bukan benda mati.
- Mengasah Kebeningan Hati (Roso Sejati): Pengetahuan ini ditangkap oleh roso (rasa/intuisi terdalam), bukan sekadar logika otak. Untuk mendapatkannya, seseorang harus membersihkan jiwanya dari ego, amarah, dan ketamakan.
- Manunggaling Rasa: Ketika seseorang berhasil memahami ilmu ini, ilmu tersebut tidak lagi menjadi teori yang dihafalkan, melainkan menyatu (manunggal) dalam setiap tarikan napas, ucapan, dan tindakan sehari-hari.
3. Cara Mempelajari "Ilmu Tanpo Tulis"
Karena tidak ada buku panduannya, masyarakat Jawa Kuno mempraktikkan beberapa laku spiritual (metode) untuk mengakses ilmu ini:
- Tapa Brata dan Tirakat: Melakukan puasa (seperti puasa weton, mutih) atau mengurangi tidur (melek malam) untuk menekan hawa nafsu fisik agar indra batiniah menjadi lebih tajam.
Amem (Keheningan): Menenangkan pikiran melalui meditasi atau semadi. Dalam kondisi hening total, batin dapat mendengar petunjuk gaib atau bisikan nurani yang suci.
- Mawas Diri (Introspeksi): Selalu berkaca pada perilaku diri sendiri, mencari kesalahan dalam diri terlebih dahulu sebelum menilai orang lain.
4. Tingkatan Ilmu dalam Filsafat Jawa
Filsafat ini sejalan dengan tingkatan pencarian spiritual dalam Islam-Jawa (Sufisme/Suluk), yang membagi ilmu menjadi empat tahapan:
- Syariat: Tingkat dasar, masih mengandalkan tulisan, hukum formal, dan aturan fisik.
- Tarekat: Mulai mempraktikkan ilmu tersebut dalam tindakan nyata.
- Hakikat: Mulai memahami esensi terdalam di balik aturan fisik (mulai menyentuh tanpo tulis).
- Makrifat: Puncak spiritual. Inilah zona Tanpo Tulis Tanpo Papan, di mana seseorang telah bersatu dalam kesadaran ketuhanan (Manunggaling Kawula Gusti) dan memahami realitas tanpa sekat bahasa.
Jadi dapat disimpulan :
Ajaran Ngilmu Tanpo Tulis Tanpo Papan mengajari kita bahwa kepintaran akademis (buku dan teks) tidak sama dengan kearifan hidup (kebijaksanaan). Seseorang bisa saja tidak lancar membaca buku, namun memiliki kearifan yang luar biasa karena ia mampu membaca alam, menjaga harmoni, dan mendengarkan suara Tuhan di dalam hatinya.
Berikut penulis lampiran artikel : MAJAPAHIT PURBA: PRABU BRATANA DAN JEJAK PERADABAN JAWA SEBELUM MASEHI (Kajian Sejarah Alternatif, Pemikiran Metafisika Ahmad Chojim, Manuskrip Jawa Kuno, dan Arkeologi)



