SURA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI ꦱꦸꦫꦣꦶꦫꦗꦪꦤꦶꦔꦿꦠ꧀ꦊꦧꦸꦂꦣꦼꦤꦶꦁꦥꦔꦱ꧀ꦠꦸꦠꦶ

0

 SURA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI

ꦱꦸꦫꦣꦶꦫꦗꦪꦤꦶꦔꦿꦠ꧀ꦊꦧꦸꦂꦣꦼꦤꦶꦁꦥꦔꦱ꧀ꦠꦸꦠꦶ



Imajiner Nuswantoro




Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti berarti segala sifat keras hati, kemarahan, dan angkara murka akan hancur oleh kebijaksanaan, kelembutan, serta kesabaran. 


Arti Kata per Kata

- Sura: Berani

- Dira: Kuat atau tabah

- Jayaningrat: Kejayaan atau kekuasaan dunia

- Lebur: Hancur atau sirna

- Dening: Oleh

- Pangastuti: Kasih sayang, kebaikan, kesabaran, dan kelembutan 


Asal-Usul Filosofi

Pepatah ini berasal dari Wikipedia Bahasa Indonesia sebagai bagian dari bait tembang Kinanthi dalam Serat Witaradya. Karya sastra ini diciptakan oleh R. Ngabehi Ranggawarsita (1802–1873), seorang pujangga besar dari Kasunanan Surakarta. 


Makna dan Penerapan

1. Menaklukkan Diri: Kemenangan terbesar manusia bukan mengalahkan orang lain, melainkan mengendalikan hawa nafsu dan amarah diri sendiri.

2. Menghadapi Konflik: Kekerasan atau kemarahan tidak harus dibalas dengan kemarahan serupa, tetapi diredam dengan sikap kepala dingin dan welas asih.

3. Kepemimpinan: Pemimpin yang bijak mengandalkan empati dan kearifan, bukan ancaman atau kekuasaan mutlak


Sura dira jayaning rat lebur dening pangastutibadalah ungkapan bahasa Jawa yang paling saya sukai. Maknanya kurang lebih : Keberanian, kedigdayaan dan kekuasaan dapat dikalahkan dengan panembah. Segala sifat angkara, lebur dengan kesabaran dan kelembutan. Kata-kata bijak ini bisa kita baca dimana-mana, bahkan ditempel dimana saja, mungkin juga yang menulis atau menempel tidak terlalu paham artinya. 

Sura dira jayaning rat lebur dening pangastuti adalah bagian dari salah satu bait Pupuh Kinanthi dalam Serat Witaradya buah karya R Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873) pujangga besar Kasunanan Surakarta, yang mengisahkan R. Citrasoma, putra Sang Prabu Aji Pamasa di negara Witaradya. 



PEMAHAMAN MAKNA TEMBANG

Selengkapnya Pupuh Kinanthi tersebut adalah sebagai berikut:

1. Jagra angkara winangun;

2. Sudira marjayeng westhi;

3. Puwara kasub kawasa;

4. Sastraning jro Wedha muni;

Ada yang menulis : Wasita jro wedha muni.

5. Sura dira jayaning rat;

6. Lebur dening pangastuti;


Terjemahan kata per kata merujuk Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939 sebagai berikut : 

1. Jagra: Bangun (dalam pengertian melek); Angkara: Angkara; Winangun: Diwujudkan (Wangun: Wujud);

2. Sudira: Amat berani; Marjayeng: Jaya ing, menang dalam ... ; Westhi: Marabahaya;

3. Puwara: Akhirnya; Kasub: terkenal, kondang; Kawasa: Kuasa;

4. Sastra: Tulisan, surat-surat, buku-buku; Jro: Jero, Di dalam; Wedha: Ilmu pengetahuan, Kitab-kitab ilmu; Muni: berbicara;

5. Sura: Berani; Dira: Berani, kokoh; Jaya: menang; Ningrat: Bangsawan, tetapi Ning: Di; Rat: Jagad;


Terjemahan bebasnya kurang lebih sebagai berikut : 

Baris ke 1 sd 3 menunjukkan orang yang karena keberanian dan kesaktiannya ia tidak pernah terkalahkan, akhirnya tidak kuat memegang kekuasaan dan tumbuh sifat angkara. Sedangkan baris ke 4 - 6 menjelaskan bahwa menurut kitab-kitab ilmu pengetahuan, sifat angkara tersebut dapat dikalahkan dengan kelembutan.

Di bawah adalah kisah pendukung “Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti” yang dapat dibaca pada Serat Witaradya, tentang kesetiaan seorang istri yangt dapat mencegah niat buruk laki-laki dengan “pangastuti” 



Imajiner Nuswantoro


KISAH NYAI PAMEKAS 

Alkisah sang putra mahkota jatuh cinta kepada istri Tumenggung Suralathi yang bernama Nyai Pamekas, seorang wanita yang sepantaran dengan dirinya. Wanita yang tidak hanya cantik lahiriyah tetapi juga suci hatinya. Begitu gandrungnya sang pangeran, sampai pada suatu saat Ki Tumenggung sedang dinas luar, beliau mendatangi Nyai Pamekas yang kebetulan sedang sendirian, untuk menyatakan maksud hatinya yang mabuk kepayang.

Dengan tutur kata lembut dan "ulat sumeh" Nyai Pamekas berupaya menyadarkan R Citrasoma dari niat tidak baiknya, karena jelas menyeleweng dari sifat seorang ksatria dan melanggar norma-norma kesusilaan, tetapi sang Pangeran tetap ngotot. Nyai Pamekas mencoba ulur waktu, dengan mengingatkan bahwa ada banyak orang disitu yang berpeluang melihat perbuatan R Citrasoma, kecuali di"sirep" (dibuat tidur dengan ilmu sirep)

Bagi seorang yang sakti mandraguna seperti R Citrasoma, tentu saja me"nyirep" orang bukan hal besar. Ketika semua orang tertidur, kembali Nyai Pamekas mengingatkan bahwa masih ada dua orang yang belum tidur yaitu Nyai Pamekas dan R Citrasoma sendiri. Lebih dari pada itu, masih ada satu lagi yang tidak pernah tidur dan melihat perbuatan R Citrasoma, yaitu Gusti yang Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

R. Citrasoma terhenyak dan sadar. Minta maaf kemudian kembali ke kediamannya. Nyai Pamekas berhasil mengatasi nafsu angkara tidak dengan kekerasan. Mungkin juga kalau keras dilawan keras justru akan terjadi hal yang tidak baik. Kelembutan dan kesabaran ternyata berhasil meluluhkan kekerasan. 



YUDISTIRA DAN CANDRABIRAWA 

Menjelang akhir perang Bharayuda, Yudistira dipasang untuk melawan Prabu Salya yang sakti mandraguna dan memiliki aji-aji Candrabirawa. Berupa raksasa yang kalau dibunuh akan hidup lagi bahkan jumlahnya menjadi berlipat ganda. Bima dan Harjuna sudah kewalahan. Dipukul gada atau dipanah, tidak mati malah bertambah banyak. Akhirnya Candrabirawa berhadapan dengan Yudistira, raja yang dikenal berdarah putih, tidak pernah marah apalagi perang. Raksasa raksasa Candrabirawa tidak dilawan.Bahkan didiamkan saja. Raksasa-raksasa Candrabirawa pun kembali ke tuannya.



KELEMBUTAN MAMPU MENGUASAI JAGAD 

Orang lemah lembut sering dianggap lemah. Ini masalahnya. Sehingga lebih banyak orang yang berupaya menunjukkan kekuasaan dengan pamer kekuatan yang bermanifestasi sebagai tindak angkara. Ia lupa bahwa sikap memberikan “pangastuti” mampu melebur tingkah yang “sura dira jaya ning rat”  Masih dalam Serat Witaradya, pupuh Kinanti R Ng Ranggawarsita menjelaskan seperti apa manusia yang sudah mampu mengendalikan menata hawa nafsunya sebagai berikut : 

1. Ring janma di kang winangun; 

2. Kumenyar wimbaning rawi; 

3. Prabangkara dumipeng rat; 

4. Menang kang sarwa dumadi; 

5. Ambek santa paramarta; 

6. Puwara anyakrawati 


Terjemahan kata per kata merujuk Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939 sebagai berikut :

1. Ring (Maring: Kepada); Janma: Manusia; Di (Adi: baik); Kang: Yang; Winangun: Ditata; 

2. Kumenyar: Bercahaya; Wimba:Seperti; Rawi: matahari

3. Prabangkara: Matahari; Dumipeng: Sampai ke; Rat: Jagad 

4. Menang: Mengalahkan; Kang: Yang; sarwa: serba; Dumadi: Semua makhluk 

5. Ambek: Sifat; Santa: sabar; Paramarta: Adil bijaksana 

6. Puwara: Akhirnya; Anyakrawati: Memerintah


Terjemahan bebasnya kurang lebih sebagai berikut:

Pada  orang utama yang sudah mampu menata hawa nafsunya (tidak bersifat angkara murka); Bercahaya seperti sinar matahari; Sinarnya menerangi jagad; menguasa seluruh isi jagad; wataknya sabar, adil dan bijaksana; Akhirnya bisa menguasai jagad (maksudnya pemerintahan).

Pangastuti (panembah) disini dapat diartikan dengan penerapan laku-linggih dan solah muna-muni (perilaku dan ucapan) dalam penerapan Basa Basuki.

Itulah "Sura dira jayaning rat, lebur dening pangastuti", yang mampu mengalahkan sifat yang mengarah ke “Adigang Adigung Adiguna”.


Adigang, Adigung dan Adiguna. Manusia hendaknya tidak mengandalkan dan menyombongkan kelebihan yang dia miliki. (Adigang: Kekuatan; Adigung: Kekuasaan; Adiguna: Kepandaian). Kata-kata ini dapat dibaca pada Serat Wulangreh karya Sri Sunan Pakubuwana IV, pada Pupuh gambuh bait ke 4-10. Pada bait ke 4 di bawah, disebutkan bahwa Sifat Adigang diwakili oleh "Kijang", Adigung oleh Gajah (esthi) dan Adiguna oleh ular.


KIJANG GAJAH DAN ULAR

Apa yang diandalkan oleh kijang, gajah dan ular sehingga ketiganya diangkat sebagai contoh sifat adigang adigung dan adiguna dapat dilihat pada bait ke 4 dan 5 pada gambar di samping:

Bait ke 4  terjemahannya sebagai berikut: Adalah sebuah kisah; Adiguna adigang adigung; Kijang adalah adigang dan gajah adalah adigung; Adiguna adalah ular; Ketiganya mati bersama (sampyuh)

Adapun andalan kijang, gajah dan ular disebutkan pada bait ke 5. Terjemahannya kurang lebih: Adalah watak si kijang yang  sombong dengan kecepatannya melompat. Sedangkan gajah mengandalkan tubuhnya yang tinggi besar. Kemudian  ular dengan bisanya yang mematikan kalau ia menggigit.


ADIGANG ADIGUNG DAN ADIGUNA

Pengertian sifat "Adigang Adigung Adiguna" dapat dibaca pada bait ke 6- 8 pada gambar di bawah sebagai berikut:

Bait ke 6 di bawah amat menarik, karena Sri Susuhunan Pakubuwana IV sebagai seorang raja kersa memberikan contoh "anak raja" untuk mewakili sifat adigung. Terjemahannya kurang lebih: Sebagai contoh; Jangan mengandalkan bahwa kamu itu anak raja, ya siapa yang akan berani. Itu adalah sifat adigung yang akhirnya justru merendahkan martabat.

Selanjutnya bait ke 7 menjelaskan sifat "adiguna" yang membangga-banggakan kepandaiannya. Terjemahannya  sebagai berikut: Adiguna itu; Mengandalkan kepandaian; Semua kepandaian hanya miliknya sendiri (dipun dheweki); Siapa pandai seperti saya (sapa pinter kaya ingsun, demikian sesumbarnya); Ternyata akhirnya tidak mampu (nora injoh)

Kemudian bait ke 8  menjelaskan sifat adigang yang pongah dengan kekuatannya. Ternyata kemudian tidak mampu dan gagal, akhirnya hanya jadi bahan olok-olok semua orang. Terjemahannya kurang lebih: Sifat adigang itu; mengandalkan kekuatannya (kasuranipun); Semua ditantang dan dicela (Para tantang candhala anyanayampahi) Ternyata tidak becus; Akhirnya jadi bahan tertawaan.


AKHIRNYA NGUNDUH WOHING PANGGAWE

Bait ke 9 dan 10 berisi pesan supaya wong urip itu tidak berperilaku yang tiga hal itu tapi hendaknya rereh ririh ngati-ati dan waspada. Pada akhirnya, kijang, gajah dan ular mati karena lengah dan akibat ulah sendiri.

Terjemahan bait ke 9: Orang hidup itu; jangan memakai ketiga watak tersebut; Gunakan sikap sabar (rereh), kehalusan (ririh)  dan hati-hati; perhatikanlah (den kawangwang) tingkah laku kita; Waspadalah dengan perilaku manusia;

Terjemahan bait ke 10: Mengenai ketiga hal tersebut; Si kijang mati karena terlalu bersenang-senang (suka ing patinipun); Si gajah karena lengah (alena patinireki); Sedang ajal ular; Karena mengandalkan bisanya yang manjur (ngandelken upase mandos)

Jadi, orang jangan sombong dengan mengandalkan kekuatan, kekuasaan dan kepandaiannya. Akhirnya hanya akan “ngunduh wohing panggawe”. Hal ini dapat dilihat pada bait ke 11 yang terjemahannya kurang lebih:

Ketiganya tidak pantas; Kalau ditiru malah jadi salah; Tanda-tandanya orang muda kurang bisa menjaga rahasia (wong anom kurang wewadi); Senang kalau banyak orang memuji-muji (bungah akeh wong anggunggung); akhirnya terjerumus (kajalomprong).

Orang yang punya watak "adigang adigung dan adiguna ini adalah orang yang nerak (tidak mengindahkan ajaran "Basa Basuki" seperti yang disebutkan dalam Serat Wulangreh, pupuh Pangkur bait ke 8 dan 9.

Dua hal yang harus diperhatikan disini: Pertama, orang harus bisa menjaga rahasia (dapat di baca di Anggenthong umos) dan jangan suka dipuji-puji (dapat dibaca di Serat Wulangreh: Jangan menjadi orang gunggungan dan Serat Wulangreh: Orang nggunggung tentu ada maunya) Adapun cara mengatasi orang yang “Adigang Adigung dan Adiguna” ini dapat dilihat di "Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti”.

Sebuah ajaran yang patut kita renungkan pada abad menyongsong Indonesia Emas ini.




Imajiner Nuswantoro 



Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)