SULUK PELOG BARANG
ꦱꦸꦭꦸꦏ꧀ꦥꦺꦭꦺꦴꦒ꧀ꦧꦫꦁ
Asri rengganing gunung
Tertane balumbang wening o,
Sekar sekar jinebengan o,
Mepake kang sari sari o,
Kaya taman arga suta
Unggyaning putri manthili
Asri rengganing gunung
Tertane balumbang wening o .......
Sekar sekar jinebengan o .......
Mepake kang sari sari o ........
Kaya taman arga suta
Unggyaning putri manthili
Aksara Jawanipun :
ꦄꦱꦿꦶꦉꦁꦒꦤꦶꦁꦒꦸꦤꦸꦁ
ꦠꦼꦂꦠꦤꦺꦧꦭꦸꦩ꧀ꦧꦁꦮꦼꦤꦶꦁꦎ꧉꧉꧉꧉꧉꧉꧉
ꦱꦼꦏꦂꦱꦼꦏꦂꦗꦶꦤꦺꦧꦺꦔꦤ꧀ꦎ꧉꧉꧉꧉꧉꧉꧉
ꦩꦼꦥꦏꦺꦏꦁꦱꦫꦶꦱꦫꦶꦎ꧉꧉꧉꧉꧉꧉꧉꧉
ꦏꦪꦠꦩꦤ꧀ꦄꦂꦒꦱꦸꦠ
ꦈꦁꦒꦾꦤꦶꦁꦥꦸꦠꦿꦶꦩꦤ꧀ꦛꦶꦭꦶ
Kajian :
Ini adalah lirik Suluk Ada-ada Asri Rengganing Gunung dengan laras Pelog Barang yang biasa dilantunkan oleh dalang dalam pertunjukan Wayang Kulit.
Konteks dan Suasana
1. Suluk: Nyanyian atau tembang tanpa iringan kendang penuh yang dibawakan dalang untuk memperkuat suasana hati atau adegan tertentu.
2. Laras Pelog Barang: Tangga nada musik tradisional Jawa yang memberikan kesan ksatria, tegas, dan bersemangat.
3. Penggunaan: Sering dipakai untuk menggambarkan suasana di keputren (tempat tinggal putri raja) atau keindahan alam yang tenang dan anggun.
Arti Bebas Lirik
1. Asri rengganing gunung: Keindahan hiasan di pegunungan.
2. Tertane balumbang wening: Ditata dengan telaga atau kolam air yang sangat jernih.
3. Sekar-sekar jinebengan: Bunga-bunga yang dikelilingi atau dijaga keindahannya.
4. Kaya taman arga suta / Unggyaning putri manthili: Bagaikan taman di pegunungan tempat kediaman sang Putri Manthili (merujuk pada Dewi Sinta dari kerajaan Mantili).
Cakepan Suluk Pelog Barang
Ana pandita akarya wangsit
Pindha kombang ajbing tawang
Susuh angin ngendi nggone
Lawan galihing kangkung
Wekasane langit jaladri
Isine uluh wung wang
Lan gigiring unglu
Tapake kontul hanglayang
Manuk miber uluke ngungkuli langit
Puspita panjrahing tawang
Patokan suluk dalang pewayangan ringgit purwa Jawa:
1. Gendhung : mempunyai kemampuan/ percaya diri
2. Gendheng : tidak bisa dicampuri oleh orang lain/ mempunyai jati diri
3. Gendhing : menguasai seluk beluk karawitan, olah vokal,maupun yang lain
4. Gandhang : harus bisa menyampaikan sesuatu yang diharapkan masyarakat, pendengar, penonton
Spirit wayang kulit Jawa :
bahwa wayang itu tidak akan punah terbukti sudah ratusan tahun lamanya sejak abad XI jaman erlangga sampai abad XXI sampai sekarang masih eksis karena wayang :
- Peralatanya mudah didapat.
- Cerita filosofisnya sesuai dengan pandangan hidup masyarakat/ falsafah atau cristalisasi dari nilai-nilai yang diyakini dalam kehidupan
- Sering dipentaskan dan meyesuaikan dengan perkembangan jaman
- Selalu terkait dengan kehidupan manusianya misalnya ruwatan,sunatan,nikahan,bersih desa ulang tahun dan yang lain
- Wayang tontonan yang penuh dengan tuntunan, falsafah. Pementasan wayang tidak luput dengan iringan gamelan entah wayang purwa,bbanjar, golek ,kancil dan yang lain-lain. Iringan wayang antara lain adalah : karawitan, dhodhokan, keprakakan, sulukan, suara tawa para penonton/penabuh. Apa bila salah satu iringan tersebut tidak dapat terpenuhi dalam pementasanya rasanya akan seperti makan sayur tanpa garam. Disini saya akan bercerita salah satu iringan wayang purwa yang selalu lekat dengan pementasan wayang yaitu SULUKAN.
Sulukan adalah vokal seorang dalang yang mempunyai cakepan/syair dan melodi (pentatonis) tertentu, berfungsi untuk mempertegas suasana drama/dialog dalam adegan wayang sehingga dapat menghipnotis para penonton maupun pendegar hanyut dalam cerita tersebut. Sulukan wayang purwa pun juga tidak bisa berdiri sendiri harus diberengi beberapa instrumen gamelan yang mendukungnya. sulukan terbagi bermacam-macam antara lain:
1. Pathetan : ageng, jugag, wantah, kedhu mataram, jingking, lindur. Patehtan ini dibarengi instrumen gamelan diantaranya : gender, rebab, gong, suling, gambang yang semua alur melodinya searah dengan sulukan dalang.
2. Sendhon : tlutur, pananggalan, rencasih, bimanyu, kloloran, kagok ketanon. Sendhon ini juga dibarengi instrumen gamelan diantaranya: gender, gong, suling, gambang yang semua alur melodinya searah dengan sulukan dalang.
3. Ada-ada : girisa,astakuswala alit dan ageng, budhalan metaram dan lain-lain. Ini juga dibarengi instrumen gamelan diantaranya: gender, gong, kempul, dhodhokan, sisiran keprak yang semua alur melodinya searah dengan sulukan dalang.
Adapun iringan sulukan yang diharapkan, penerapanya sesuai dengan suasana yang dibentuk oleh dalang tersebut contoh Pathetan untuk mempertegas suasana yang agung, Sendhon untuk mempertegas suasana hening, sedih, trenyuh, Ada-Ada untuk mempertegas suasana tegang. Semua itu dilakukan oleh dalang didalam pementasanya agar ada interaksi penonton dalam melihat mendengar supaya dapat merasakan suasana dalam pertunjukan yang dibangun oleh dalang, sehingga pementasan yang berdurasi waktu kurang lebih tujuh jam tidak terasa membosankan.
Imajiner Nuswantoro

