Ha-Na-Ca-Ra-Ka
Da-Ta-Sa-Wa-La
Pa-Dha-Ja-Ya-Nya
Ma-Ga-Ba-Tha-Nga
ꦲ ꦤ ꦕ ꦫ ꦏ
ꦣ ꦠ ꦱ ꦮ ꦭ
ꦥ ꦣ ꦗ ꦪ ꦚ
ꦩ ꦒ ꦧ ꦛ ꦔ
Ha-Na-Ca-Ra-Ka
Da-Ta-Sa-Wa-La
Pa-Dha-Ja-Ya-Nya
Ma-Ga-Ba-Tha-Nga
Berikut adalah daftar lengkap 20 aksara Jawa beserta artinya sesuai urutan barisnya:
ꦚ (Ha) • ꦈ (Na) • ꦌ (Ca) • ꦎ (Ra) • ꦐ (Ka)
Artinya: Ada dua utusan (prajurit).
ꦒ (Da) • ꦔ (Ta) • ꦖ (Sa) • ꦘ (Wa) • ꦚ (La)
Artinya: Mereka saling bertengkar (terlibat perselisihan).
ꦜ (Pa) • ꦞ (Dha) • ꦠ (Ja) • ꦢ (Ya) • ꦤ (Nya)
Artinya: Sama-sama memiliki kesaktian/kekuatan yang seimbang.
ꦦ (Ma) • ꦨ (Ga) • ꦪ (Ba) • ꦬ (Tha) • ꦮ (Nga)
Artinya: Akhirnya kedua prajurit tersebut sama-sama mati menjadi bangkai.
Honocoroko (Aksara Jawa) bukan sekadar huruf abjad untuk menulis, melainkan sebuah ajaran spiritual, filosofi kehidupan, dan refleksi tentang eksistensi manusia yang mendalam dalam kebudayaan Jawa.
Penjabaran spiritual terstruktur yang membedah setiap huruf menjadi untaian falsafah hidup, khususnya mengenai pengendalian diri dan asal-usul jiwa.
Berikut adalah penjabaran lengkap dari filosofi Honocoroko yang dikaitkan dengan Howo (hawa nafsu), sifat manusia, dan ketuhanan:
1. Baris Pertama: Ha-Na-Ca-Ra-Ka (Asal-Muasal Jiwa & Nafsu)
Baris ini melambangkan penciptaan manusia yang dibekali dengan cipta, rasa, karsa, serta potensi hawa nafsu.
- Ha (Hawa no nafsu): Sifat dasar manusia yang dibekali hawa nafsu. Manusia hidup karena memiliki keinginan, namun nafsu ini harus dikendalikan agar tidak merusak diri.
- Na (Nafas): Berarti tali hidup. Manusia bisa bergerak dan memiliki hawa nafsu karena adanya napas yang ditiupkan oleh Sang Pencipta.
- Ca (Cipta): Rasa, kalbu, atau pikiran. Kemampuan manusia untuk berpikir, merenung, dan membedakan yang baik dan buruk.
- Ra (Rasa): Rasa sejati atau rohani. Sumber intuisi, empati, dan hubungan batin antara manusia dengan Tuhan (Gusti).
- Ka (Karsa): Kehendak atau niat. Dorongan kuat dari dalam diri manusia untuk melakukan suatu tindakan atau mewujudkan cipta dan rasa.
2. Baris Kedua: Da-Ta-Sa-Wa-La (Ujian & Pergulatan Hidup)
Baris ini menggambarkan bahwa manusia yang hidup dengan nafsu dan kehendak akan menghadapi ujian, pertentangan, dan takdir yang tidak bisa dihindari.
- Da (Dzat): Dzat yang Maha Suci (Tuhan). Mengingatkan bahwa asal-usul manusia dan seluruh alam semesta berasal dari Dzat yang satu.
- Ta (Tatag): Keteguhan hati. Dalam menghadapi ujian hidup, manusia harus memiliki mental yang kuat, sabar, dan konsisten (istiqomah).
- Sa (Sifat): Wujud atau perilaku. Manusia dinilai bukan dari penampilannya, melainkan dari sifat dan perilakunya kepada sesama.
- Wa (Wujud): Kenyataan fisik. Manusia harus menyadari wujud fisiknya hanyalah titipan sementara di dunia.
- La (Lali): Lupa atau khilaf. Sifat dasar manusia yang sering lupa pada hakikat penciptaan dan penciptanya ketika terlena dunia.
3. Baris Ketiga: Pa-Dha-Ja-Ya-Nya (Pertempuran Ego)
Baris ini melambangkan dualisme dalam diri manusia. Ada pertarungan konstan antara sifat baik (rohani) dan sifat buruk (hawa nafsu). Keduanya sama-sama kuat.
- Pa (Papan): Tempat atau maqam. Manusia harus tahu menempatkan diri (empan papan) sesuai kodrat dan situasinya.
- Dha (Dhuwur): Derajat yang tinggi. Keinginan manusia untuk mencapai kemuliaan, baik di mata manusia maupun di hadapan Tuhan.
- Ja (Jodo): Pasangan atau harmoni. Segala sesuatu diciptakan berpasangan (baik-buruk, benar-salah, lahir-batin) untuk saling melengkapi.
- Ya (Yakin): Kepercayaan mutlak. Kunci ketenangan hidup adalah keyakinan penuh kepada takdir dan bimbingan Tuhan.
- Nya (Nyata): Kebenaran yang hakiki. Menghargai realitas hidup dan kesaksian batin bahwa Tuhan itu nyata dalam setiap helai napas.
4. Baris Keempat: Ma-Ga-Ba-Tha-Nga (Akhir Perjalanan / Kematian)
Baris terakhir ini adalah puncak spiritual Jawa (Sangkan Paraning Dumadi). Ketika pertarungan ego selesai, manusia akan kembali menjadi mayat dan bersatu dengan penciptanya.
- Ma (Manungsa): Hakikat sejati manusia sebagai makhluk ciptaan yang lemah dan akan kembali.
- Ga (Gusti): Sang Pencipta, rujukan akhir dari segala kehidupan.
- Ba (Badan): Jasad atau raga manusia yang tercipta dari tanah dan akan hancur kembali ke tanah.
- Tha (Thukul): Tumbuh atau bangkit. Kematian di dunia fisik adalah awal tumbuhnya kehidupan baru di alam kelanggengan (akhirat).
- Nga (Ngarsa): Pasrah atau kembali ke hadapan. Manusia pada akhirnya harus ngasrahaken diri (berserah diri total) dan kembali ke hadapan Tuhan tanpa membawa apa-apa selain amal perbuatannya.
Kesimpulan Utama:
Penjabaran Ha (Howo no nafsu) hingga Nga (Ngarsa/Ngasrahaken diri) mengajarkan bahwa hidup manusia dimulai dari pemberian napas dan hawa nafsu, mengarungi pergulatan ego dan ujian dunia, hingga akhirnya nafsu itu harus ditundukkan agar manusia bisa kembali kepada Tuhan dalam keadaan suci (khusnul khotimah).
Falsafah Aksara Jawa ini memiliki banyak sudut pandang penjabaran lain yang tidak kalah mendalam.
Kisah legenda Aji Saka (asal-usul historis penciptaan aksara ini)
Penjabaran empat sifat nafsu manusia dalam budaya Jawa (Nafsu Luwamah, Amarah, Sufiyah, Mutmainah).
Penerapan filosofi ini dalam konsep Sangkan Paraning Dumadi (asal dan tujuan hidup).
Makna dan arti honocoroko (filosofi Jawa)
Secara sekilas mengenai sejarah terciptanya 20 huruf bahasa Jawa yang disebut Hanacaraka atau Carakan Jawa dimana Hanacaraka ini menurut sejarah diciptakan oleh Raja Sariwahana Ajisaka yang bertahta di India, beliau jugalah yang menciptkan perhitungan kalender tahun Saka sebelum munculnya Kalender Jawa ciptaan Sultan Agung Mataram.
Berikut ini adalah makna filosofis ke dua puluh suku kata yang membentuk aksara Jawa ini :
1. Ha berarti Hidup
2. Na berarti Hampa
3. Ca berarti Cahaya atau Nur
4. Ra berarti Ruh atau Rasa
5. Ka berarti Menyatu atau Berkumpul
6. Da berarti Menjadi atau Berwujud
7. Ta berarti Titik atau Noktah
8. Sa berarti sebuah atau suatu
9. Wa berarti bentuk atau wujud
10. La berarti abadi atau langgeng
11. Pa berarti meninggal atau wafat
12. Dha berarti berdagang atau jual beli
13. Ja berarti Jiwa atau berjiwa
14. Ya berarti sabda atau firman Tuhan
15. Nya berarti pasrah
16. Ma berarti sebab akibat
17. Ga berarti pendamping, suami istri
18. Ba berarti hamil atau mengandung
19. Tha berarti tumbuh, bersemi, berkembang
20. Nga berarti alam fana atau dunia
Sedangkan 4 baris susunan Hanacaraka Carakan Jawa ini dimana masing-masing baris berisikan 5 aksara Jawa, apabila diuraikan baris per baris maka masing-masing memiliki makna filosofis mendalam dimana secara keseluruhan menggambarkan proses kehidupan manusia.
Berikut ini uraikan ringkas makna filosofis baris per baris ke 20 aksara Jawa tersebut :
Ha Na Ca Ra Ka
Hanacaraka berarti adanya utusan manusia (Hana kong-kongan = Bahasa Jawa).
Secara filosofis diartikan sebagai adanya utusan dari Tuhan yang Maha Esa dua orang utusan, seorang pria dan wanita.
Da Ta Sa Wa La
Datasawala berarti terjadi perselisihan atau peperangan (Padha Peperangan = Bahasa Jawa).
Secara filosofis diartikan sebagai timbulnya perpecahan diantara ke dua utusan tersebut.
Pa Dha Ja Ya Nya
Padajayanya berarti mereka sama-sama saktinya (Padha Digdayane = Bahasa Jawa)
Secara filosofis diartikan bahwasanya kedua jenis manusia tersebut (pria dan wanita) dalam menjalani kehidupan sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing namun bisa saling melengkapi satu sama lainnya.
Ma Ga Ba Tha Nga
Magabathanga berarti tak ada yang menang dan tak ada yang kalah, keduanya sama-sama meninggal (Sampyuh = Bahasa Jawa)
Secara filosofis diartikan pada akhirnya kedua jenis manusia tersebut (pria dan wanita) akan meninggal dan menjadi sesuatu yang tiada berguna namun selama mereka hidup hanya memberikan kepuasan keduniawian semata.
Sejarah dan Filosufi Huruf Jawa
Disini akan kita bahas tentang makna filosofi huruf jawa yang mengandung rahasia tentang gambaran kehidupan manusia secara hakiki dari fase kehinaan menuju kesempurnaan.
Dan juga tentang satu sudut sejarah lahirnya huruf jawa itu sebagai wacana pembahasan dan pengetahuan.
Makna filosofi Huruf Jawa
Dari sekian pengartian tentang makna huruf jawa, sangat jarang yang mampu menjabarakan tentang arti yang lepas dari cerita rakyat tentang Aji Saka yang banyak beredar di masyarakat.
Huruf Caraka ini tersusun seperti sebuah bait puisi, Dan Karena memang secara harfiyah huruf jawa ini memang mempunyai makna menggambarkan sebuah cerita.
Sejarah dan Filosufi Huruf Jawa
Ho No Co Ro Ko : ada utusan
Do To So Wo Lo : saling menolak atau bertengkar.
Po Do Jo Yo NYo : sama saktinya.
Mo Go Bo Tho Ngo : sama-sama mati.
Namun disini kita akan memberikan sebuah pengertian yang lebih dalam dari makna huruf jawa ini dan bukan hanya sekedar menggambarkan cerita tapi menggambarkan sebuah pelajaran mistis atau bersifat ruhani dan hakiki.
Jika Huruf Jawa ini lahir dari sebuah peradapan Hindu ataupun Budha, tentu lahirnya huruf huruf ini secara filosofi juga dipengaruhi oleh ajaran agama tersebut.
Dan kita tahu bahwa setiap ajaran agama pasti mengajarkan tentang ketuhanan atau tauhid dan ibadat serta muamalat. Apalagi agama samawi sudah tentu mengajarkan tentang kebaikan dan menuju kesempurnaan hidup.
Sedangkan makna huruf Jawa secara hakiki antara lain:
HO-NO-CO-RO-KO
Manusia lahir dimuka bumi ini adalah dalam rangka mengemban amanat atau sebagai utusan atau kholifah dimuka bumi ini.
Sedangkan manusia itu diciptakan oleh Tuhan terdiri dari dua unsur, yaitu Jasmani dan Rohani. penyatuan kedua unsur tersebut digambarkan dengan huruf Ho-No-Co-Ro-Ko, yaitu :
Ho berarti Howo/hawa.
No berarti Nafsu.
Co berarti cipto/cipta.
Ro berarti Roso/rasa.
Ko berarti Karso/karsa.
Sedangkan dalam menjalankan tugasnya sebagai kholifah dimuka bumi ini manusia yang telah dikaruniai beberapa unsur tadi maka ia akan menjadi lebih sempurna dari makhluk lainya.
Akan tetapi manusia sering terpaku dan terlena dikarenakan unsur hawa nafsunya mendominasi unsur lainya, sehingga unsur cipta, rasa,dan karsanya lebih menuruti hawa dan nafsunya.
Dalam kondisi inilah manusia terpuruk dan akan selalu berbuat kerusakan.
Sehingga dalam menjalani hidupnya manusia sering tak pernah mengenal kesejatian dirinya, dalam arti ia lupa tugasnya sebagai kholifah atau utusan tuhan, yang tentu sesungguhnya ia harus tunduk dan patuh pada aturan-aturan tuhan.
Manusia menganggap bahwa seluruh karunia dalam dirinya adalah untuk memuaskan hasrat duniawinya, sehingga manusia berlomba-lomba untuk menggapai itu semua bahkan dengan jalan yang melanggar aturan tuhan.
Di sisi lain ada manusia yang dalam kondisi lemah, penuh kekurangan dan saling mengeluh akan nasibnya.
Mereka menganggap itu semua karena mereka tak mampu mengoptimalkan unsur-unsur yang ada, dan selalu bersusah payah mengejar ketertinggalan dari yang lain untuk masalah duniawi.
Sungguh mereka tak menyadari bahwa tugas manusia hidup adalah hanya huntuk menjaga karunia tuhan, mengabdi dan berserah diri.
Sedangkan untuk urusan hidup dan kebutuhan adalah urusan tuhan.
Memang sangat sulit di fahami karena kebanyakan dari manusia beranggapan bahwa dia dapat rezeki karena dia berusaha (cipta Karsa), Dan mereka tidak menyadari sesungguhnya tak ada gerak dan daya upaya tanpa campur tangan tuhan.
DO-TO-SO-WO-LO
Do tan sawolo, Yang berarti apabila sudah saatnya maka manusia takkan bisa mengelak.
Maksudnya saat disini adalah, Saat tuhan berkehendak sesuatu terhadap manusia maupun alam ini, tak satupun manusia bisa mengelak.
Saat Tuhan berkehendak terhadap alam ini seperti terjadinya bencana, atau fenomena alam lainya, manusia takkan bisa menghentikanya.
Sedangkan saat tuhan berkehendak pada diri manusi, seperti misalnya Tuhan berkehendak manusia dalam duka atau mati, tak satupun manusia bisa menghindarinya.
Atau tuhan berkehendak sehat bagi yang sakit maka apapun akan bisa menjadi sebab untuk sembuhnya.
Atau tuhan menghendaki seseorang menjadi makmur atau dalam kejayaan dan kekayaan, maka apapun bisa menjadi sebab sehingga ia selalu dalam keberuntungan.
Atau saat tuhan berkehendak menyulitkan dan menyempitkan kehidupan seseorang maka sekuat apaun dia berusaha maka seperti dia selalu dalam apes dan tak pernah berhasil.
Dari uraian diatas bisa diambil sebuah kesimpulan bahwa semua yang terjadi di diri kita adalah kehendak tuhan.
Dan sesungguhnya walaupun beragamnya ujian yang mendera kehidupan seseorang namun secara hakiki sesungguhnya tidak pernah terjadi apa-apa.
Di ibaratkan sebuah wayang yang sedang dalam lakon yang dimainkan oleh sang dalang, yang pada akhirnya nanti akan dimasukkan kembali dalam kotak penyimpanan.
Karena disaat tuhan berkendak apapun pada diri kita maka sesungguhnya itu semua adalah hanya sebuah ujian bagi kita dalam rangka mengemban amanat sebagai kholifah di muka bumi ini. karena dibalik kesusahan pasti ada kemudahan.
Manusia yang mampu membawa unsur HO-NO-CO-RO-KO yang ada dalam dirinya sesuai kehendak tuhan, maka dia akan bisa dengan mudah menghayati dan menerapkan makna DO-TO-SO-WO-LO dalam hidupnya, sehingga dia akan menjadi pribadi yang tenang, ayem, tentrem, bahagia bebas dan merdeka.
PO-DO-JO-YO-NYO
Sama Jaya-nya atau sama menangnya, artinya disaat manusia telah mampu mendidik dirinya sehingga mampu mengenali dirinya yang terdiri dari unsur Hawa, nafsu, cipto, roso, karso ini Yang ahirnya dia bisa mencapai keadaan hati yang lebih tenang karena dia mengerti semua adalah kehendak tuhan, atau do-to-so-wo-lo.
maka sesungguhnya pada hakikinya dia akan memperoleh sebuah kemenangan. Namun menang bukan sekedar menang-menangan.
Artinya dia mungkin menurut para pemuja dunia seakan dia telah kalah karna tidak dalam kekayaan harta yang berlimpah, disebabkan jalan yang ia lalui adalah jalan yang damai aman bekerja jauh dari menipu, menindas dan jalan haram lainya.
Namun sesungguhnya dia telah merasakan lain dari yang orang lain tak mampu merasakanya yaitu rasa sebuah kebahagiaan.
Karena kebahagiaan bagi dia adalah dalam arti yang sangat dalam yaitu sebuah pengabdian pada tuhan bukan pada yang lainya.
MO-GO-BO-TO-NGO
Artinya manusia yang telah mampu mengenal dirinya dia akan mengenal siapa tuhanya. Dia akan mengabdikan dirinya hanya pada tuhan bukan pada hawa nafsu, jabatan, kekayaan atau kenikmatan duniawi.
Maka segala aktifitas dunianya tak lebih dari sekedar penghambaan kepada tuhan, dalam arti dia mematikan rasa keinginan duniawinya dan hanya hidup untuk tuhan. Atau disebut Mati sak jeroning aurip, lebur sak jeroning lali.
Dia hanya berharap hanya dari pertolongan tuhan bukan mengandalkan akal dan nafsiahnya atau bahasa jawanya mbathang (berserah diri).
Mbatang disini berarti lalu tidak berbuat apa-apa sama sekali, jasad yang telah diberikan kesempurnaan ia syukuri dengan menggunakanya dalam jalan yang di kehendaki tuhan dan untuk mencari fadhilahnya tuhan, bukan untuk menuruti hawa nafsunya.
Sumarah garising kodrat, Nadyan kalilan amiradati, total berserah diri kepada taqdir Alloh, walau sudah diikhlaskan tentang hidupnya namun berkewajiban meng ihtiyari.
Atau dia hanya sekedar meng ihtiyari sesuatu yang telah dijatahkan Alloh, tanpa dia mencari-cari perkara sehingga menyulitkan.
Manusia yang seperti ini biasanya batinnya sarat akan petunjuk Tuhan, seperti dia telah tahu apa yang harus ia jalankan. Yaitu karena kejernihan hatinya dalam menangkap sinyal yang diberikan tuhan.
Sejarah lahirnya aksara Jawa.
Dari sekian banyak artikel yang membahas tentang sejarah huruf jawa, banyak dari mereka telah menyebutkan tentang sejarah lahirnya huruf jawa Ho-No-Co-Ro-Ko atau dikenal sebagai Carakan, adapun makna yang mereka sebutkan adalah tidak lepas dari sepenggal kisah awal mula lahirnya huruf atau aksara jawa itu, yaitu kisah tentang seorang ksatria yang bernama Aji Saka.
Dan ada yang menyebutkan abad terjadinya kisah tersebut sekitar abad ke-4 M, namun ada pula yang menyebutkan berbeda, mungkin karena perbedaan penelitian sejarah dan asumsi tentang lahirnya huruf jawa ini. Mari kita ulas sedikit tentang sejarah lahirnya huruf jawa ini.
Periode Hindu Budha
Ada yang menyebutkan bahwa aksara jawa itu adalah aksara Abugida yaitu turunan dari aksara Brahmi, atau disebutkan berasal dari daerah Hindia selatan, dan salah satu huruf yang berasal dari daerah itu adalah huruf Pallawa. Yaitu berasal dari sebuah kerajaan yang bernama Pallawa sekitar abad ke-4 M.
Dan para ahli sejarah mengatakan bahwa huruf Pallawa ini adalah induk dari semua huruf yang ada di Nusantara. Namun dari bentuknya huruf pallawa ini adalah berbentuk persegi empat (Box head atau square head- mark), yang sangat mirip dengan huruf ho-no-co-ro-ko atau huruf Carakan.
Dan dari huruf pallawa kemungkinan berkembang menurut perkembangan kesusastraan dari waktu ke waktu dan di pengaruhi oleh faktor kekuasaan, agama, sosial, politik dan budayanya.
Bukti sejarah yang menggunakan huruf Pallawa yaitu Prasasti Yupa yang ditemukan di daerah Kutai, Kalimantan timur. Dan juga prasasti Taruma peninggalan kerajaan Taruma Negara 450M, dan banyak lagi prasasti-prasasti lain yang menggunakan huruf Pallawa ini.
Seiring berjalanya waktu huruf pallawa ini berkembang dengan ditemukanya bukti sejarah yang menggunakan huruf Kawi Wiwitan yang banyak menuliskan tentang prasasti atau dokumen berbahasa Sangsekerta, seperti misalnya Prasasti Plumpang di daerah Salatiga Jawa tengah ditulis sekitar tahun 750M.
Kemudian ditemukan Prasasti dari era berikutnya yaitu dengan bahasa yang berbeda yaitu bahasa Jawa kawi dan dengan huruf Kawi Pungkasan yang sebenarnya tak jauh beda dengan Kawi Wiwitan, seperti Prasasti Singasari yang ditulis sekitar tahun 1351 M.
Sebenarnya di masa ini pengaruh kesusastraan Islam sudah mulai kental mempengaruhi gaya penulisan huruf jawi pungkasan terutama mulai era kekuasaan kediri yaitu kisaran tahun 1100-1200 M dan jaman kekuasaan Majapahit yaitu sekitar tahun 1250-1450 M. Yaitu dengan gaya penulisan semi kali grafis, seperti yang tertulis di tulisan-tulisan lontar peninggalan masa itu.
Karena sebenarnya sejak abad ke-7 M agama islam itu sudah masuk di wilayah Nusantara ini, Ulama yang terkenal telah memasuki wilayah ini adalah Syaih Muhamad Al Uraidi dan Syaih Muhamad Annaaqib, yang masuk di daerah Pasai dan daerah Maluku, dibuktikan kedua daerah tersebut dinamai dengan Malaka dan Maluku yang berasal dari kata AlMulk (kepulauan Raja-raja), namun berdirinya kerajaan Islam pertama baru setelah abad ke-14 M yaitu kerajaan Samudra Pasai.
Yang secara tidak langsung sebenarnya telah mempengaruhi perkembangan sastra dan budaya di Nusantara ini,termasuk cara komunikasi dan dialog penulisan dengan menggunakan huruf jawa ini.
Periode Islam Dan Kolonial Belanda
Pada periode ini Huruf jawa sebenarnya sudah mengalami perubahan yang sangat drastis tanpa ada bukti sejarah yang menunjukkan masa perubahannya.
Tak ada prasasti ditemukan yang menggunakan huruf jawa yang seperti sekarang ini. dan di jaman ahir dari majapahit dan masuk zaman Mataram hingga zaman kolonial Belanda sampai sekarang huruf jawa tiba-tiba sudah dalam bentuk seperti yang sekarang ini, yaitu huruf honocoroko yang modern.
Seperti naskah naskah peninggalan zaman itu yang sudah dalam huruf honocoroko modern dan tidak dalam bentuk lontar semua namun banyak yang sudah tertulis dengan kertas.
Beberapa peninggalan di periode ini sebagai contoh Seperti serat suluk wijil dan Serat Aji Saka.
Bait 12 pupuh Dhandhanggula :
// Siniwaka kapapak waduaji/ para ratu sayid lan ambiya/ pra ngalimulana akeh/ angandika sang prabu/ tuwan-tuwan para sayidi/mulana waliullah/ kita minta tulung/ niyan tanah pulo Jawa/ teluh jahat sudah kali dua kami/ angreksa itu orang //
Bait 13 pupuh Dhandhanggula :
// Tuwan samya dedunga myang Widi/ beta minta jimat dengan tumbal/ donga besar-besar kabeh/ sampun asudah unjuk/ heh nakoda dengen bupatih/ lu lagi pegang Jawa/bawa tumbal itu/orang duwa kasih sembah/ sudah mesat tak liyat jalan apatih/ nakoda dapat Jawa //.
Pupuh II Dhandhanggula
// Gusti Allah karsa amijeni/ nagri Jawa kang kinarya marga/ Sultan ing Rum dalu sare/ pan katurunan wahyu/ nagri Jawi dadi wanadri/ werit tan ana jalma/ karsaning Ywang Agung/ nu[ng]swa tumimbanging Mekah/ keraton wetan ngajam tanah Jawi/ kuloning mring negri sabrang//
// Sultan ing Rum wungu denya guling/ ri s(e)dengnya miyos siniwaka/ wadyabala pepak kabeh/ pra ngalim pandita gung/ para ratu bupati mantri/ sigra ngling raja besar/ heh kawulaningsun/ wetan ngajam tanah Jawa/ tan ana jalma suwung dadya wana werit/ catur lurah juragan//
// Inggih wonten kelingkung prayugi/ apanjang punjung jembar arata/ loh jinawi banyu akeh/ kaluwar dari gunung/ Sultan ing Rum ngandika malih/ sawruha haning kuna/ pan negara agung/ kang wadya sahur kukila/ tan ana wruhing pandita papat uning/ munggel kitab musarar//
// pra pandita matur genti-genti/ pan kawula wruhing tanah Jawa/ wruh munggeling kitab bae/ jeng Sultan ngandika rum/ dawek tuwan kula yun myarsi/ matur pandita Jawa sajarah tunutur/ wus tamat ganti wirayat/dawak cawak kantun pandita satunggil/ ingkang murwa carita//
Pupuh I Amaradana bait 1 :
// Kasmaran guru sawiji/ guru sangking Ywang Ngatunggal/ iku kang wasesa kabeh/ jaka liru pratelanya/ guru kalih kang juga/ iya Sang Hyang Guru tuhu/ kalih guru katon ranya//
Pupuh I Dhandhanggula :
// Sinekaran ingkang dandanggendis/ duk kalanira wiwit sinerat/ ing soma epon enjinge/ tanggal kaping tri likur/wulan besar ingkang lumaris/tahun be kang lumampah/ windu sancayeku/ anuju kang mangsa asta/ wuku sinta dene sengkalaning warsi/musna hesti raja//
//Amurwani ing carita adi/serat Ajisaka ingkang kinirtya/ kang pinunggel caritane/ Ajisaka puniku/ ingejawa purwane singgih/saking nagari Ngarab/ sekabat jeng Rasul, ananging murtating karsa/ mila prapta ing tanah Jawa mulangi/ sakehing ngelmunira//
//Dasarira dereng wonten ngelmi/Ajisaka pan ginuron ing rat/ sangking katahe kawruhe/ prawira ambeg anung/ tur sumbaga rerasa sekti/ wong punjuling ngapapak/ mrojol krerepiku/manjing ajur-ajer bisa/ luput pejah duk nganggit/ ing kendeng singgih jimakir nuju kana//
AJI SAKA
Karya klasik berbentuk puisi tembang macapat, dan berbahasa Jawa Baru. Isi teks tentang cerita mitos yang dimulai dengan kedatangan Aji Saka dari Arab (Mbumi Majeti) ke Tanah Jawa atau Medhang Kamulan. Diceritakan pula tentang kematian Prabu Dewatacengkar oleh Aji Saka yang kemudian menggantikannya sebagai raja di Medhang Kamulan dengan gelar Prabu Jaka. Cerita ini diakhiri dengan peperangan antara para Adipati Brang Wetan (pesisir timur) melawan Prabu Banjaransari di Kerajaan Galuh. Aji Saka dalam perjalanannya ke Medhang Kamulan singgah di rumah seorang janda bernama Sengkeran. Ditempat inilah banyak orang yang berguru kepada Aji Saka. Raja Medhang Kamulan, Prabu Dewatacengkar, senang sekali melihat banyak orang ditempat tersebut kesukaannya memakan daging manusia. Oleh karena itu orang-orang menjadi takut.Aji Saka menawarkan dirinya lewat Patih Trenggana agar dihadapkan sebagai santapannya. Ia mengajukan persyaratan meminta tanah seluas ikat kepala yang dimilikinya untuk dibentangkan di tanah tersebut.
Raja Dewatacengkar menyanggupinya sehingga ikat kepala yang dibentangkan tadi memenuhi wilayah Medhang Kamulan. Dewatacengkar terdesak dan akhirnya sampai di pantai selatan hingga tercebur dalam samudera dan berubah wujud menjadi buaya putih. Selanjutnya Aji Saka kembali ke Medhang Kamulan dan menggantikan kedudukannya sebagai raja dengan gelar prabu Jaka atau Prabu Anom Aji Saka. Sepeninggal Dewatacengkar kerajaan Medhang Kamulan menjadi aman tenteram dan damai kekuasaan Aji Saka. Ia dapat membuat manusia dengan tanah dan menciptakan aksara Jawa yang disebut Dhentawyanjana. Diceritakan pula mengenai naga Nginglung yang mengaku dirinya sebagai putra prabu Jaka. Ia disuruh untuk membunuh buaya putih di samudera yang merupakan penjelmaan Dewatacengkar. Naga tersebut dapat membunuh buaya putih sehingga diakui sebagai putranya dan diberi nama Tunggul Wulung.
Raden Daniswara di Panungkulan bermaksud ingin merebut Kerajaan Medhang. Ia disarankan oleh Hyang Sendhula agar meminta bantuan kepada ratu Kidul yang bernama Ratu Angin-Angin. Ia kemudian dapat menjadi raja di tanah Jawa dengan sebutan Raja Daniswara atau Srimapunggung. Ki Jugulmudha dijadikan patih dengan gelar Adipati Jugulmudha. Langkah selanjutnya adalah ingin menaklukan pesisir mencanegara. Setelah selesai tugasnya ia kembali ke Panungkulan dan selanjutnya berniat menaklukan Medhang. Akhirnya Aji Saka moksa bersama dengan kerajaannya sedangkan Medhang dibawah kekuasaan Srimapunggung. Setelah Srimapunggung moksa kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Sri Kandhihuwan. Setelah Sri Kandhihuwan moksa kemudian digantikan oleh prabu Kelapagadhing.
Selanjutnya kekuasaan secara berturut-turut digantikan oleh :
1) Prabu Andhong,
2) Sri Andhongwilis,
3) Prabu Banakeling,
4) Sri Banagaluh,
5) Sri Awulangit,
6) Ratu Tunggul,
7) Selaraja,
8) Mundhingwangi,
9) Mundhigsari,
10) Jajalsengara,
11) Gilingwesi,
12) Sri Prawatasari,
13) Wanasantun,
14) Sanasewu,
15) Raja Tanduran,
16) Rama Jayarata,
17) Raja Ketangga,
18) Raja Umbulsantuin,
19) Raja Padhangling,
20) Ratu Prambanan,
21) Resi Getayu,
22) Lembu Amiluhur,
23) Raden Laleyan, dan
24) Raden Banjaransari).
Pusat kerajaan di Medhang Pangremesan atau Jenggala.
Pada saat pemerintahan Raden Banjaransari, ia mendapatkan wangsit dari dewa Sang Hyang Narada agar meninggalkan kerajaan untuk pergi ke arah barat yang akhirnya sampai di Gua Terusan untuk bertapa. Ditempat inilah ia dapat bertemu dengan kakeknya, Sang Hyang Sindula, yang akhirnya dapat menjadi raja di Kerajaan Galuh. Disebutkan pula mengenai peperangan antara para Adipati Brang Wetan melawan Prabu Banjarsari di Kerajaan Galuh.
Cerita Ajisaka tersebut diatas ada yang mengartikan perlambang atau bermakna sebagai berikut :
1. Ajisaka, Aji = Raja (pegangan raja), Saka = Pilar
2. Majeti : Ma = Diterima (keterima), Jet = Grenjet (bijaksana, Ti = Pangesti (doa khusuk). Artinya : Doa orang yang bijak, yang melakukan dengan khusuk akan diterima.
3. Medang Kamulan
Kamulan = Mula = tempat asal muasal kehidupan
Beberapa resensi tentang Ajisaka terdapat pada serat Jatiswara dan Serat Centhini yang memuat sebuah episode mengenai nama Ajisaka (Raja Jawa Pertama) pada abad ke. 17.
- Ngasah paluning bangsa : Isih tungkul padhadene
- Ngalung anduk bebasane : Oglak aglik gegondhele
- Maling alok maling : Osoring ketara
- Sapa wani arumangsa ?
KELAHIRAN HA-NA-CA-RA-KA
Secara garis besar, ada dua konsepsi tentang kelahiran ha-na-ca-ra-ka. Dua konsepsi itu masing-masing mempunyai dasar pandang yang berbeda. Konsepsi yang pertama berdasarkan pandang pada pemikiran tradisional, dari cerita mulut ke mulut sehingga disebut konsepsi secara tradisional. Konsepsi yang kedua berdasar pandang pada pemikiran ilmiah sehingga disebut konsepsi secara ilmiah.
Konsepsi Secara Tradisional
Konsepsi secara tradisional mendasarkan pada anggapan bahwa kelahiran ha-na-ca-ra-ka berkaitan erat dengan legenda Aji Saka. Legenda itu tersebar dari mulut ke mulut yang kemudian didokumentasikan secara tertulis dalam bentuk cerita. Cerita itu ada yang masih berbentuk manuskrip dan ada yang sudah dicetak. Cerita yang masih berbentuk manuskrip, misalnya Serat Momana, Serat Aji Saka, Babad Aji Saka dan Tahun Saka lan Aksara Jawa. Cerita yang sudah dicetak misalnya Kutipan Serat Aji Saka dalam Punika Pepetikan saking Serat Djawi ingkang Tanpa Sekar (Kats 1939) Lajang Hanatjaraka (Dharmabrata 1949 dan Manikmaya (Panambangan 1981)
Dalam manuskrip Serat Aji Saka (Anonim) dan kutipan Serat Aji Saka (Kats 1939) misalnya diceritakan bahwa Sembada dan Dora ditinggalkan di Pulau Majeti oleh Aji Saka untuk menjaga keris pusaka dan sejumlah perhiasan. Mereka dipesan agar tidak menyerahkan barang-barang itu kepada orang lain, kecuali Aji Saka sendiri yang mengambilnya. Aji Saka tiba di Medangkamulan, lalu bertahta di negeri itu. Kemudian negari itu termasyhur sampai dimana-mana. Kabar kemasyhuran Medangkamulan terdengar oleh Dora sehingga tanpa sepengatahuan Sembada ia pergi ke Medangkamulan. Di hadapan Aji Saka, Dora melaporkan bahwa Sembada tidak mau ikut, Dora lalu dititahkan untuk menjemput Sembada. Jika Sembada tidak mau, keris dan perhiasan yang ditinggalkan agar dibawa ke Medangkamulan. Namun Sembada bersikukuh menolak ajakan Dora dan memperhatankan barang-barang yang diamanatkan Aji Saka.
Akibatnya, terjadilah perkelahian antara keduanya, oleh karena seimbang kesaktiannya meraka mati bersama. Ketika mendapatkan kematian Sembada dan Dora dari Duga dan Prayoga yang diutus ke Majeti, Aji Saka menyadari atas kekhilafannya. Sehubungan dengan itu, ia menciptakan sastra dua puluh yang dalam Manikmaya, Serat Aji Saka dan Serat Momana disebut sastra sarimbangan. Sastra Sarimbangan itu terdiri atas empat warga yang masing-masing mencakupi lima sastra, yakni :
1. Ha-na-ca-ra-ka
2. Da-ta-sa-wa-la
3. Pa-dha-ja-ya-nya
4. Ma-ga-ba-tha-nga
Sastra Sarimbangan itu, antara lain terdapat dalam manuskrip Serat Aji Saka, pupuh VII- Dhandhanggula bait 26 dan 27 sebagai berikut :
Dora goroh ture werdineki : Dora bohong ucapannya yakin
Sembada temen tuhu perentah : Sembada jujur patuh perintah
Sun kabranang nepsu pituture : Ku emosi marah ucapannya
Cidra si Dora iku ingkar : si Dora itu beringkar
Nulya Prabu Jaka anganggit : Lalu Prabu Jaka Menganggit / mengarang
Anggit pinurwa warna : Anggit dibuat macam
Sastra kalih puluh : Sastra dua puluh
Kinarya warga lelima : Dibuat warga lelima
Wit Ha-na-ca-ra-ka sak warganeki : Dari Ha-na-ca-ra-ka itu sewarganya
Pindho Da-ta-sa-wala : Dua Da-ta-sa-wala
Yeku sawarga ping tiganeki : Yaitu sewarga ketiganya
Pa-dha-ja-ya-nya ku suwarganya : Pa-dha-ja-ya-nya sewarganya
Ma-ga-ba-tha-nga ping pate : Ma-ga-ba-tha-nga keempatnya
Iku sawarganipun : itulah sewarganya
Anglelima sawarganeki : Lima-lima satu warganya
Ran sastra sarimbangan : Nama sastra sarimbangan
Iku milanipun : Itulah sebabnya
Awit ana sastra Jawa : Mulai ada hufur Jawa
Wit sinungan sandhangan sawiji-wiji : Mulai diberi harakat satu per satu
Weneh-weneh ungelnya : Macam-macam lafalnya
Teks diatas mirip teks yang terdapat dalam Manikmaya jilid II (Panambangan 1981 : 385) kemudian untuk memberikan kesan yang menarik lagi bagi anak-anak yang sedang belajar aksara ha-na-ca-ra-ka, dalam Lajang Hanatkaraka jilid I dan II (Dharmabrata, 1948:10-11 : 1949:65-66) dihiasi dengan gambar kisah Dora dan Sembada. Hiasan yang menggambarkan kisah kedua tokoh itu menandai lahirnya ha-na-ca-ra-ka.
Tidak dapat dipungkiri bahwa legenda Aji Saka hingga beberapa generasi mengilhami dan bahkan mengakar dalam alam pikiran masyarakat Jawa. Dikatakan oleh Suryadi ( 1995 : 74-75 ) bahwa mitologi Aji Saka masih mengisi alam pikiran abstraksi generasi muda etnik Jawa yang kini berusia tiga puluh tahun keatas. Fakta pemikiran tersebut menjadi bagian dari kerangka refleksi ketika mereka menjawab perihal asal-usul huruf Jawa yang berjumlah dua puluh.
Selain Aji Saka sebagai tokoh fiktif, nama kerajaannya yakni Medangkulan masih merupakan misteri karena secara historik sulit dibuktikan. Ketidakterikatan itu sering menimbulkan praduga dan persepsi yang bermacam-macam. Misalnya praduga yang muncul dari Daldjoeni (1984 : 147-148) yang kemudian diacu oleh Suryadi (1995 : 79) bahwa kerajaan Medangkamulan berlokasi di Blora, sezaman dengan kerajaan Prabu Baka di (sebelah selatan) Prambanan, yakni sekitar abad IX. Berdasarkan praduga itu, aksara Jawa (ha-na-ca-ra-ka) diciptakan pada sekitar abad tersebut.
Praduga Daldjoeni tentang lokasi Medangkamulan memang sesuai dengan keterangan dalam sebuah teks lontar (Brandes, 1889a : 382-383) bahwa Medangkamulan terletak di sebelah timur Demak, seperti berikut :
Mangka wonten ratu saking bumi tulen, arane Prabu Kacihawas. Punika wiwitaning ratu tulen mangka jumeneng ing lurah Medangkamulan, sawetaning Demak, sakiduling warung.
Demikianlah ada raja dari tanah tulen, namanya Prabu Kacihawas. Itulah permulaan raja tulen ketika bertahta di lembah Medangkamulan, sebelah timur Demak sebelah selatan warung.
Akan tetapi, penanda tahun kelahiran ha-na-ca-ra-ka diatas berbeda dengan yang terdapat dalam Serat Momana. Dalam Serat Momana disebutkan bahwa ha-na-ca-ra-ka diciptakan oleh Aji Saka yang bergelar Prabu Girimurti pada tahun (saka) 1003 (Subalidata 1994 : 3) atau tahun 1081 Masehi. Tahun 1003 itu dekat dengan tahun bertahtanya Aji Saka di Medangkamulan, yakni tahun 1002 yang disebutkan dalam The History of Java jilid II (Raffles 1982 : 80) pada halaman yang sama dalam The History of Java itu disebutkan pula bahwa Prabu Baka bertahta di Brambanan antara tahun 900 dan 902, yakni seratus tahun sebelum Aji saka bertahta.
Sementara itu, dalam Manikmaya (salinan Panambangan, 1981 : 295) disebutkan bahwa Aji Saka dengan sebutan Abu Saka mengembara ke tanah Arab. Di negeri itu ia bersahabat dengan Nabi Muhammad (yang hidup pada akhir abad VI – pertengahan abad VII). Setelah pergi ke pulau Jawa, dengan sebutan Aji Saka akbibat berselisih paham dengan Nabi Muhammad (Graff 1989 : 9) ia menciptakan aksara ha-na-ca-ra-ka. Penciptaan aksara itu diperkirakan pada sekitar abad VII (sesuai dengan masa kehidupan Nabi Muhammad) karena di dalam teks tidak disebutkan secara eksplisit.
Warsito (dalam Ciptoprawiro, 1991 : 46) dalam telaah Serat Sastra Gendhing berpendanpat bahwa syair ha-na-ca-ra-ka diciptakan oleh Jnanbhadra atau Semar. Dengan demkian, saat kelahiran ha-na-ca-ra-ka sulit ditentukan karena Semar merupakan tokoh fiktif dalam pewayangan.
Pendapat lain dikemukan oleh Hadi Soetrisno (1941). Dalam bukunya yang berjudul Serat Sastra Hendra Prawata dikemukan bahwa aksara Jawa diciptakan oleh Sang Hyang Nur Cahya yang bertahta di negeri Dewani, wilayah jajahan Arab yang juga menguasai tanah Jawa. Sang Hyang Nur Cahya adalah putra Sang Hyang Sita atau Kanjeng Nabi Sis (Hadi Soetrisno, 1941 : 6). Disamping aksara Jawa, Sang Hyang Nur Cahya juga menciptakan aksara Latin, Arab, Cina dan aksara-aksara yang lain. Seluruh aksara itu disebut Sastra Hendra Prawata (Hadi Soetrisno, 1941 : 3 – 6)
Di kemukakan pula bahwa berdasarkan bentuknya, aksara Jawa merupakan tiruan dari aksara Arab, mula-mula aksara itu berupa goresan-goresan yang mendekati bentuk persegi atau lonjong, lalu makin lama makin berkembang hingga terbentuklah aksara yang ada sekarang (Hadi Soetrisno 1941 : 10). Lebih lanjut dijelaskan bahwa Aji Saka yang dianggap sebagai pencipta aksara Jawa itu sebenarnya bukan penciptanya, melainkan sebagai pembangun dan penyempurna aksara tersebut sehingga terciptalah bentuk aksara dan susunan atau carakan (ha-na-ca-ra-ka dan seterusnya) seperti sekarang ini (Hadi Soetrisno, 1941 : 7). Terciptanya bentuk aksara dan carakan itu melibatkan kedua abdinya, Dora dan Sembada yang menemui ajalnya secara tragis.
Paparan yang telah diuraikan di atas, ada dugaan bahwa kisah tragis Dora dan Sembada dalam legenda Aji Saka merupakan simbol perang saudara untuk memperebutkan tahta Majapahit. Perebutan ia mengakibatkan hancurnya kedua belah pihak, menjadi bangkai dengan ungkapan ma-ga-ba-tha-nga. Tentu saja kisah simbolik yang melahirkan aksara ha-na-ca-ra-ka itu muncul setelah hancurnya kerajaan Majapahit, antara abad XVI dan XVII (Atmodjo, 1994 : 26)
Dugaan lain adalah bahwa peristiwa tragis yang menimpa Dora dan Sembada merupakan simbol gerakan milenarianisme, yakni gerakan yang mengharapkan datangnya pembebasan atau ratu adil, dengan ungkapan ha-na-ca-ra-ka (Atmojo, 1994 : 26). Namun kapan datangnya pembebasan dan siapa yang dimaksud dengan ratu adil, apakah Raden Patah yang berhasil naik tahta setelah Majapahit runtuh atau Sutawijaya yang mampu menyelamatkan negeri (Pajang) dari rongrongan Arya Penangsang ataukah tokoh lain, masih merupakan tanda tanya yang sulit untuk memperoleh jawaban secara ilmiah atau nalar.
Praduga-praduga di atas mencerminkan keragaman pendapat, keragaman itu sulit dapat timbul dari persepsi yang berbeda-beda sehingga sulit untuk menentukan persamaan waktu atas kelahiran ha-na-ca-ra-ka. Kesulitan itu dapat disebabkan oleh sifat legenda yang fiktif sehingga memungkinkan terjadinya perbedaan antara sumber yang satu dan sumber yang lain, sesuai dengan kehendak pengarang atau penulis masing-masing. Perbedaan praduga pertama (Daldjoeni) dengan praduga kedua (dalam Serat Momana) dan praduga ketiga (dalam The History of Java) misalnya terletakpada selisih waktu dua abad, sedangkan praduga kedua dengan praduga ketiga hanya mempunyai selisih satu tahun. Perbedaaan ketiga praduga tersebut akan lebih beragam jika menyertakan perkiraan hidup Aji Saka dalam Manikmaya, pendapat Warsito dan Hadi Soetrisno serta kisah-kisah simbolik di atas. Selain itu masih terbuka kemungkinan yang dapat menimbulkan perbedaan yang berasal dari teks-teks lain yang belum sempat diungkapkan di sini, termasuk misteri pencipta aksara tersebut.
Konsepsi Secara Ilmiah
Kelahiran pada perkembangan aksara Jawa erat hubungannya dengan kelahiran dan perkembangan bahasa Jawa. Secara alami, mula-mula bahasa Jawa lahir sebagai alat komunikasi lisan pemakainya. Bahasa Jawa yang dilisankan itu, seperti bahasa ragam lisan pada umumnya, terikat oleh waktu dan tempat (lihat Molen, 1985 : 3) untuk melepaskan diri dari keterikatannya, sesuai dengan pola pikir pemakainya dan sejalan dengan tantangan zaman akibat pengaruh lingkungan serta perkembangan ilmu dan teknologi, sarana yang nyata dan kekal, berupa aksara diciptakan. Aksara yang dipakai etnik Jawa muncul pertama kali setelah orang-orang India datang ke pulau Jawa. Diperkirakan bahwa sebelum itu etnik Jawa belum mempunyai aksara (Poerbatjaraka, 1952 : vii) sehingga masih berlaku tradisi kelisanan. Dengan munculnya aksara, mulailah tradisi keberaksaraan untuk menciptakan bahasa ragam tulis, meskipun tradisi kelisanan tetap berlangsung.
Hasil teknologi baru yang berupa tulisan memang memainkan peranan yangamat penting dalam sejarah manusia, dalam kehidupan sehari-hari di bidang ilmu pengetahuan, politik dan sebagainya. Ada perbedaan mendasar antara peradaban yang tanpa tulisan dan peradaban yang mempunyai tulisan (Molen, 1985 : 3) peradaban yang mempunyai tulisan setidaknya mempunyai kelebihan setingkat lebih maju daridapa peradaban tanpa tulisan.
Dalam sejarah peradaban etnik Jawa, atas dasar data arkeologis, tulisan tertua yang ditemukan dalam bentuk prasasti dengan menggunakan aksara Pallawa menunjukkan penanda waktu sebelum tahun 700 Masehi (Casparis, 1975 : 29) jauh sesudah bahasa Jawa yang tertua dugunakan secara lisan. Setelah ditemukan beberapa prasasti yang lain, secara berangsur-angsur dilakukan studi paleografi. Dari beberapa prasasti yang dijadikan bahan studi, diperoleh hasil deskripsi yang menggembirakan (lihat Molen 1985 : 4). Namun hingga kini masih sedikit jumlah karya tulis yang membicarakan paleografi Jawa. Karya tulis tentang paleografi Jawa baru dimulai pada awal abad XIX, seperti yang dilakukan oleh Raffles (1871) Stuart (1863) dan Keyzer (1863). Hanya sayang bahwa contoh aksara yang ditampilkan menurut Stuart (1864 : 169 – 173) lihat Molen, 1985 : 4) bukan jiplakan yang asli, melainkan aksara Jawa baru yang dituliskan dengan bentuk dan gaya aksara Jawa kuna, contohnya : dibawah ini dikutipkan dari The History of Java Jilid I, karya Raffles (1982 : 370)
Ada juga Ajaran filsafat hidup berdasarkan aksara Jawa yang sebagai berikut :
Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada ” utusan ” yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasad manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia (sebagai ciptaan)
Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data ” saatnya ( dipanggil ) ” tidak boleh sawala ” mengelak ” manusia ( dengan segala atributnya ) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan
Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup (Khalik) dengan yang diberi hidup (makhluk). Maksudnya padha ” sama ” atau sesuai, jumbuh, cocok ” tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan. Jaya itu ” menang, unggul ” sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan ” sekedar menang ” atau menang tidak sportif.
Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.
Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka Paku Buwana IX
Filsafat ha-na-ca-ka-ra yang diungkapan Paku Buwana IX dikutip oleh Yasadipura sebagai bahan sarasehan yang diselenggarakan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta pada tanggal, 13 Juli 1992. Judul makalah yang dibawakan Yasadipura adalah ” Basa Jawi Hing Tembe Wingking Sarta Haksara Jawi kang Mawa Tuntunan Panggalih Dalem Hingkang Sinuhun Paku Buwana IX Hing Karaton Surakarta Hadiningrat “. Dalam makalah itu dikemukakan oleh Yasadipura (1992 : 9 – 10) bahwa Paku Buwana IX memberikan ajaran (filsafat hidup) berdasarkan aksara ha-na-ca-ra-ka dan seterusnya, yang dimulai dengan tembang kinanthi, sebagai berikut.
Nora kurang wulang wuruk : tak kurang piwulang dan ajaran
Tumrape wong tanah Jawi : bagi orang tanah Jawa
Laku-lakune ngagesang : perilaku dalam kehidupan
Lamun gelem anglakoni : jika mau menjalaninya
Tegese aksara Jawa : maknanya aksara Jawa
Iku guru kang sejati : itu guru yang sejati Ha Na Ca Ra Ka
MAKNA HURUF
Haa
Hana hurip wening suci = Adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci
Na
Nur candra,gaib candra,warsitaning candara = Pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi
Ca
Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi = Satu arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal
Ra
Rasaingsun handulusih = Rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani
Ka
Karsaningsun memayuhayuning bawana = Hasrat diarahkan untuk kesajetraan alam
Da
Dumadining dzat kang tanpa winangenan = Menerima hidup apa adanya
Ta
Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa = Mendasar ,totalitas,satu visi, ketelitian dalam memandang hidup
Sa
Sifat ingsun handulu sifatullah = Membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan
Wa
Wujud hana tan kena kinira = Ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas
La
Lir handaya paseban jati = Mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi
Pa
Papan kang tanpa kiblat = Hakekat Allah yang ada disegala arah
Dha
Dhuwur wekasane endek wiwitane = Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar
Ja
Jumbuhing kawula lan Gusti = Selalu berusaha menyatu -memahami kehendak Nya
Ya
Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi = Yakin atas titah /kodrat Illahi
Nya
Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki = Memahami kodrat kehidupan
Ma
Madep mantep manembah mring Ilahi = Yakin – mantap dalam menyembah Ilahi
Ga
Guru sejati sing muruki = Belajar pada guru nurani
Ba
Bayu sejati kang andalani = Menyelaraskan diri pada gerak alam
Tha
Tukul saka niat – sesuatu harus dimulai = Tumbuh dari niatan
Nga
Ngracut busananing manungso = Melepaskan egoisme pribadi -manusia
KELAHIRAN HA-NA-CA-RA-KA
Secara garis besar, ada dua konsepsi tentang kelahiran ha-na-ca-ra-ka. Dua konsepsi itu masing-masing mempunyai dasar pandang yang berbeda. Konsepsi yang pertama berdasarkan pandang pada pemikiran tradisional, dari cerita mulut ke mulut sehingga disebut konsepsi secara tradisional. Konsepsi yang kedua berdasar pandang pada pemikiran ilmiah sehingga disebut konsepsi secara ilmiah.
Konsepsi Secara Tradisional
Konsepsi secara tradisional mendasarkan pada anggapan bahwa kelahiran ha-na-ca-ra-ka berkaitan erat dengan legenda Aji Saka. Legenda itu tersebar dari mulut ke mulut yang kemudian didokumentasikan secara tertulis dalam bentuk cerita. Cerita itu ada yang masih berbentuk manuskrip dan ada yang sudah dicetak. Cerita yang masih berbentuk manuskrip, misalnya Serat Momana, Serat Aji Saka, Babad Aji Saka dan Tahun Saka lan Aksara Jawa. Cerita yang sudah dicetak misalnya Kutipan Serat Aji Saka dalam Punika Pepetikan saking Serat Djawi ingkang Tanpa Sekar (Kats 1939) Lajang Hanatjaraka ( Dharmabrata 1949 dan Manikmaya (Panambangan 1981)
Dalam manuskrip Serat Aji Saka (Anonim) dan kutipan Serat Aji Saka (Kats 1939) misalnya diceritakan bahwa Sembada dan Dora ditinggalkan di Pulau Majeti oleh Aji Saka untuk menjaga keris pusaka dan sejumlah perhiasan. Mereka dipesan agar tidak menyerahkan barang-barang itu kepada orang lain, kecuali Aji Saka sendiri yang mengambilnya. Aji Saka tiba di Medangkamulan, lalu bertahta di negeri itu. Kemudian negari itu termasyhur sampai dimana-mana. Kabar kemasyhuran Medangkamulan terdengar oleh Dora sehingga tanpa sepengatahuan Sembada ia pergi ke Medangkamulan. Di hadapan Aji Saka, Dora melaporkan bahwa Sembada tidak mau ikut, Dora lalu dititahkan untuk menjemput Sembada. Jika Sembada tidak mau, keris dan perhiasan yang ditinggalkan agar dibawa ke Medangkamulan. Namun Sembada bersikukuh menolak ajakan Dora dan memperhatankan barang-barang yang diamanatkan Aji Saka.
Akibatnya, terjadilah perkelahian antara keduanya, oleh karena seimbang kesaktiannya meraka mati bersama. Ketika mendapatkan kematian Sembada dan Dora dari Duga dan Prayoga yang diutus ke Majeti, Aji Saka menyadari atas kekhilafannya. Sehubungan dengan itu, ia menciptakan sastra dua puluh yang dalam Manikmaya, Serat Aji Saka dan Serat Momana disebut sastra sarimbangan. Sastra Sarimbangan itu terdiri atas empat warga yang masing-masing mencakupi lima sastra, yakni :
1. Ha-na-ca-ra-ka
2. Da-ta-sa-wa-la
3. Pa-dha-ja-ya-nya
4. Ma-ga-ba-tha-nga
Sastra Sarimbangan itu, antara lain terdapat dalam manuskrip Serat Aji Saka, pupuh VII- Dhandhanggula bait 26 dan 27 sebagai berikut :
Dora goroh ture werdineki : (Dora bohong ucapannya yakin)
Sembada temen tuhu perentah : (Sembada jujur patuh perintah)
Sun kabranang nepsu ture : (Ku emosi marah ucapannya)
Cidra si Dora iku : (Ingkar si Dora itu)
Nulya Prabu Jaka angganggit : (Lalu Prabu Jaka Menganggit)
Anggit pinurwa warna : (Anggit dibuat macam)
Sastra kalih puluh : (Sastra dua puluh)
Kinarya warga lelima : (Dibuat warga lelima)
Wit Ha-na-ca-ra-ka sak warganeki : (Dari Ha-na-ca-ra-ka itu sewarganya)
Pindho Da-ta-sa-wala : (Dua Da-ta-sa-wala)
Yeku sawarga ping tiganeki : (Yaitu sewarga ketiganya)
Pa-dha-ja-ya-nya ku suwarganya : (Pa-dha-ja-ya-nya sewargane)
Ma-ga-ba-tha-nga ping pate : (Ma-ga-ba-tha-nga keempatnya)
Iku sawarganipun : (itulah sewarganya)
Anglelima sawarganeki : (Lima-lima satu warganya)
Ran sastra sarimbangan : (Nama sastra sarimbangan)
Iku milanipun : (Itulah sebabnya)
Awit ana sastra Jawa : (Mulai ada huruf Jawa)
Wit sinungan sandhangan sawiji-wiji : (Mulai diberi harakat satu per satu)
Weneh-weneh ungelnya : (Macam-macam lafalnya)
Teks diatas mirip teks yang terdapat dalam Manikmaya jilid II (Panambangan 1981 : 385) kemudian untuk memberikan kesan yang menarik lagi bagi anak-anak yang sedang belajar aksara ha-na-ca-ra-ka, dalam Lajang Hanatkaraka jilid I dan II (Dharmabrata, 1948:10-11 : 1949:65-66) dihiasi dengan gambar kisah Dora dan Sembada. Hiasan yang menggambarkan kisah kedua tokoh itu menandai lahirnya ha-na-ca-ra-ka.
Tidak dapat dipungkiri bahwa legenda Aji Saka hingga beberapa generasi mengilhami dan bahkan mengakar dalam alam pikiran masyarakat Jawa. Dikatakan oleh Suryadi (1995 : 74-75) bahwa mitologi Aji Saka masih mengisi alam pikiran abstraksi generasi muda etnik Jawa yang kini berusia tiga puluh tahun keatas. Fakta pemikiran tersebut menjadi bagian dari kerangka refleksi ketika mereka menjawab perihal asal-usul huruf Jawa yang berjumlah dua puluh.
Selain Aji Saka sebagai tokoh fiktif, nama kerajaannya yakni Medangkulan masih merupakan misteri karena secara historik sulit dibuktikan. Ketidakterikatan itu sering menimbulkan praduga dan persepsi yang bermacam-macam. Misalnya praduga yang muncul dari Daldjoeni (1984 : 147-148) yang kemudian diacu oleh Suryadi (1995 : 79) bahwa kerajaan Medangkamulan berlokasi di Blora, sezaman dengan kerajaan Prabu Baka di (sebelah selatan) Prambanan, yakni sekitar abad IX. Berdasarkan praduga itu, aksara Jawa (ha-na-ca-ra-ka) diciptakan pada sekitar abad tersebut.
Praduga Daldjoeni tentang lokasi Medangkamulan memang sesuai dengan keterangan dalam sebuah teks lontar (Brandes, 1889a : 382-383) bahwa Medangkamulan terletak di sebelah timur Demak, seperti berikut :
Mangka wonten ratu saking bumi tulen, arane Prabu Kacihawas. Punika wiwitaning ratu tulen mangka jumeneng ing lurah Medangkamulan, sawetaning Demak, sakiduling warung.
Demikianlah ada raja dari tanah tulen, namanya Prabu Kacihawas. Itulah permulaan raja tulen ketika bertahta di lembah Medangkamulan, sebelah timur Demak sebelah selatan warung.
Akan tetapi , penanda tahun kelahiran ha-na-ca-ra-ka diatas berbeda dengan yang terdapat dalam Serat Momana. Dalam Serat Momana disebutkan bahwa ha-na-ca-ra-ka diciptakan oleh Aji Saka yang bergelar Prabu Girimurti pada tahun (saka) 1003 (Subalidata 1994 : 3) atau tahun 1081 Masehi. Tahun 1003 itu dekat dengan tahun bertahtanya Aji Saka di Medangkamulan, yakni tahun 1002 yang disebutkan dalam The History of Java jilid II (Raffles 1982 : 80) pada halaman yang sama dalam The History of Java itu disebutkan pula bahwa Prabu Baka bertahta di Brambanan antara tahun 900 dan 902, yakni seratus tahun sebelum Aji saka bertahta.
Sementara itu, dalam Manikmaya (salinan Panambangan, 1981 : 295) disebutkan bahwa Aji Saka dengan sebutan Abu Saka mengembara ke tanah Arab. Di negeri itu ia bersahabat dengan Nabi Muhammad (yang hidup pada akhir abad VI – pertengahan abad VII). Setelah pergi ke pulau Jawa, dengan sebutan Aji Saka akbibat berselisih paham dengan Nabi Muhammad (Graff 1989 : 9) ia menciptakan aksara ha-na-ca-ra-ka. Penciptaan aksara itu diperkirakan pada sekitar abad VII (sesuai dengan masa kehidupan Nabi Muhammad) karena di dalam teks tidak disebutkan secara eksplisit.
Warsito (dalam Ciptoprawiro, 1991 : 46) dalam telaah Serat Sastra Gendhing berpendanpat bahwa syair ha-na-ca-ra-ka diciptakan oleh Jnanbhadra atau Semar. Dengan demkian, saat kelahiran ha-na-ca-ra-ka sulit ditentukan karena Semar merupakan tokoh fiktif dalam pewayangan.
Pendapat lain dikemukan oleh Hadi Soetrisno (1941). Dalam bukunya yang berjudul Serat Sastra Hendra Prawata dikemukan bahwa aksara Jawa diciptakan oleh Sang Hyang Nur Cahya yang bertahta di negeri Dewani, wilayah jajahan Arab yang juga menguasai tanah Jawa. Sang Hyang Nur Cahya adalah putra Sang Hyang Sita atau Kanjeng Nabi Sis (Hadi Soetrisno, 1941 : 6). Disamping aksara Jawa, Sang Hyang Nur Cahya juga menciptakan aksara Latin, Arab, Cina dan aksara-aksara yang lain. Seluruh aksara itu disebut Sastra Hendra Prawata (Hadi Soetrisno, 1941 : 3 – 6)
Di kemukakan pula bahwa berdasarkan bentuknya, aksara Jawa merupakan tiruan dari aksara Arab, mula-mula aksara itu berupa goresan-goresan yang mendekati bentuk persegi atau lonjong, lalu makin lama makin berkembang hingga terbentuklah aksara yang ada sekarang (Hadi Soetrisno 1941 : 10). Lebih lanjut dijelaskan bahwa Aji Saka yang dianggap sebagai pencipta aksara Jawa itu sebenarnya bukan penciptanya, melainkan sebagai pembangun dan penyempurna aksara tersebut sehingga terciptalah bentuk aksara dan susunan atau carakan (ha-na-ca-ra-ka dan seterusnya) seperti sekarang ini (Hadi Soetrisno, 1941 : 7). Terciptanya bentuk aksara dan carakan itu melibatkan kedua abdinya, Dora dan Sembada yang menemui ajalnya secara tragis.
Selian yang telah diuraikan di atas, ada dugaan bahwa kisah tragis Dora dan Sembada dalam legenda Aji Saka merupakan simbol perang saudara untuk memperebutkan tahta Majapahit. Perebutan ia mengakibatkan hancurnya kedua belah pihak, menjadi bangkai dengan ungkapan ma-ga-ba-tha-nga. Tentu saja kisah simbolik yang melahirkan aksara ha-na-ca-ra-ka itu muncul setelah hancurnya kerajaan Majapahit, antara abad XVI dan XVII (Atmodjo, 1994 : 26)
Dugaan lain adalah bahwa peristiwa tragis yang menimpa Dora dan Sembada merupakan simbol gerakan milenarianisme, yakni gerakan yang mengharapkan datangnya pembebasan atau ratu adil, dengan ungkapan ha-na-ca-ra-ka (Atmojo, 1994 : 26). Namun kapan datangnya pembebasan dan siapa yang dimaksud dengan ratu adil, apakah Raden Patah yang berhasil naik tahta setelah Majapahit runtuh atau Sutawijaya yang mampu menyelamatkan negeri (Pajang) dari rongrongan Arya Penangsang ataukah tokoh lain, masih merupakan tanda tanya yang sulit untuk memperoleh jawaban secara ilmiah atau nalar.
Praduga-praduga di atas mencerminkan keragaman pendapat, keragaman itu sulit dapat timbul dari persepsi yang berbeda-beda sehingga sulit untuk menentukan persamaan waktu atas kelahiran ha-na-ca-ra-ka. Kesulitan itu dapat disebabkan oleh sifat legenda yang fiktif sehingga memungkinkan terjadinya perbedaan antara sumber yang satu dan sumber yang lain, sesuai dengan kehendak pengarang atau penulis masing-masing. Perbedaan praduga pertama (Daldjoeni) dengan praduga kedua (dalam Serat Momana) dan praduga ketiga (dalam The History of Java) misalnya terletak pada selisih waktu dua abad, sedangkan praduga kedua dengan praduga ketiga hanya mempunyai selisih satu tahun. Perbedaaan ketiga praduga tersebut akan lebih beragam jika menyertakan perkiraan hidup Aji Saka dalam Manikmaya, pendapat Warsito dan Hadi Soetrisno serta kisah-kisah simbolik di atas. Selain itu masih terbuka kemungkinan yang dapat menimbulkan perbedaan yang berasal dari teks-teks lain yang belum sempat diungkapkan di sini, termasuk misteri pencipta aksara tersebut.
Konsepsi Secara Ilmiah
Kelahiran pada perkembangan aksara Jawa erat hubungannya dengan kelahiran dan perkembangan bahasa Jawa. Secara alami, mula-mula bahasa Jawa lahir sebagai alat komunikasi lisan pemakainya. Bahasa Jawa yang dilisankan itu, seperti bahasa ragam lisan pada umumnya, terikat oleh waktu dan tempat (lihat Molen, 1985 : 3) untuk melepaskan diri dari keterikatannya, sesuai dengan pola pikir pemakainya dan sejalan dengan tantangan zaman akibat pengaruh lingkungan serta perkembangan ilmu dan teknologi, sarana yang nyata dan kekal, berupa aksara diciptakan. Aksara yang dipakai etnik Jawa muncul pertama kali setelah orang-orang India datang ke pulau Jawa. Diperkirakan bahwa sebelum itu etnik Jawa belum mempunyai aksara (Poerbatjaraka, 1952 : vii) sehingga masih berlaku tradisi kelisanan. Dengan munculnya aksara, mulailah tradisi keberaksaraan untuk menciptakan bahasa ragam tulis, meskipun tradisi kelisanan tetap berlangsung.
Hasil teknologi baru yang berupa tulisan memang memainkan peranan yangamat penting dalam sejarah manusia, dalam kehidupan sehari-hari di bidang ilmu pengetahuan, politik dan sebagainya. Ada perbedaan mendasar antara peradaban yang tanpa tulisan dan peradaban yang mempunyai tulisan (Molen, 1985 : 3) peradaban yang mempunyai tulisan setidaknya mempunyai kelebihan setingkat lebih maju daridapa peradaban tanpa tulisan.
Dalam sejarah peradaban etnik Jawa, atas dasar data arkeologis, tulisan tertua yang ditemukan dalam bentuk prasasti dengan menggunakan aksara Pallawa menunjukkan penanda waktu sebelum tahun 700 Masehi (Casparis, 1975 : 29) jauh sesudah bahasa Jawa yang tertua dugunakan secara lisan. Setelah ditemukan beberapa prasasti yang lain, secara berangsur-angsur dilakukan studi paleografi. Dari beberapa prasasti yang dijadikan bahan studi, diperoleh hasil deskripsi yang menggembirakan (lihat Molen 1985 : 4). Namun hingga kini masih sedikit jumlah karya tulis yang membicarakan paleografi Jawa. Karya tulis tentang paleografi Jawa baru dimulai pada awal abad XIX, seperti yang dilakukan oleh Raffles (1871) Stuart (1863) dan Keyzer (1863). Hanya sayang bahwa contoh aksara yang ditampilkan menurut Stuart (1864 : 169 – 173) lihat Molen, 1985 : 4) bukan jiplakan yang asli, melainkan aksara Jawa baru yang dituliskan dengan bentuk dan gaya aksara Jawa kuna, contohnya : dibawah ini dikutipkan dari The History of Java Jilid I, karya Raffles (1982 : 370)
Ada juga Ajaran filsafat hidup berdasarkan aksara Jawa yang sebagai berikut :
Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada ” utusan ” yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia (sebagai ciptaan)
Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data ” saatnya (dipanggil) ” tidak boleh sawala ” mengelak ” manusia (dengan segala atributnya) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan
Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup (Khalik) dengan yang diberi hidup (makhluk). Maksdunya padha ” sama ” atau sesuai, jumbuh, cocok ” tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan. Jaya itu ” menang, unggul ” sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan ” sekedar menang ” atau menang tidak sportif.
Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.
Ada Fersi Lain
(Sumber : Jakarta, Senin Pahing, 15 Desember 2008 pukul ; 09.45 – by Satmata)
Dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan yang diperintah oleh raja bernama Prabu Dewata Cengkar yang buas dan suka makan manusia. Setiap hari sang raja memakan seorang manusia yang dibawa oleh Patih Jugul Muda. Sebagian kecil dari rakyat yang resah dan ketakutan mengungsi secara diam-diam ke daerah lain.
Di dusun Medang Kamulan ada seorang pemuda bernama Aji Saka yang sakti, rajin dan baik hati. Suatu hari, Aji Saka berhasil menolong seorang bapak tua yang sedang dipukuli oleh dua orang penyamun. Bapak tua yang akhirnya diangkat ayah oleh Aji Saka itu ternyata pengungsi dari Medang Kamulan. Mendengar cerita tentang kebuasan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka berniat menolong rakyat Medang Kamulan. Dengan mengenakan serban di kepala Aji Saka berangkat ke Medang Kamulan.
Perjalanan menuju Medang Kamulan tidaklah mulus, Aji Saka sempat bertempur selama tujuh hari tujuh malam dengan setan penunggu hutan, karena Aji Saka menolak dijadikan budak oleh setan penunggu selama sepuluh tahun sebelum diperbolehkan melewati hutan itu.
Tapi berkat kesaktiannya, Aji Saka berhasil mengelak dari semburan api si setan. Sesaat setelah Aji Saka berdoa, seberkas sinar kuning menyorot dari langit menghantam setan penghuni hutan sekaligus melenyapkannya.
Aji Saka tiba di Medang Kamulan yang sepi. Di istana, Prabu Dewata Cengkar sedang murka karena Patih Jugul Muda tidak membawa korban untuk sang Prabu.
Dengan berani, Aji Saka menghadap Prabu Dewata Cengkar dan menyerahkan diri untuk disantap oleh sang Prabu dengan imbalan tanah seluas serban yang digunakannya.
Saat mereka sedang mengukur tanah sesuai permintaan Aji Saka, serban terus memanjang sehingga luasnya melebihi luas kerajaan Prabu Dewata Cengkar. Prabu marah setelah mengetahui niat Aji Saka sesungguhnya adalah untuk mengakhiri kelalimannya.
Ketika Prabu Dewata Cengkar sedang marah, serban Aji Saka melilit kuat di tubuh sang Prabu. Tubuh Prabu Dewata Cengkar dilempar Aji Saka dan jatuh ke laut selatan kemudian hilang ditelan ombak.
Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi raja Medang Kamulan. Ia memboyong ayahnya ke istana. Berkat pemerintahan yang adil dan bijaksana, Aji Saka menghantarkan Kerajaan Medang Kamulan ke jaman keemasan, jaman dimana rakyat hidup tenang, damai, makmur dan sejahtera.
Bait 12 pupuh Dhandhanggula :
// Siniwaka kapapak waduaji/ para ratu sayid lan ambiya/ pra ngalimulana akeh/ angandika sang prabu/ tuwan-tuwan para sayidi/mulana waliullah/ kita minta tulung/ niyan tanah pulo Jawa/ teluh jahat sudah kali dua kami/ angreksa itu orang //
Bait 13 pupuh Dhandhanggula ;l:
// Tuwan samya dedunga myang Widi/ beta minta jimat dengan tumbal/ donga besar-besar kabeh/ sampun asudah unjuk/ heh nakoda dengen bupatih/ lu lagi pegang Jawa/bawa tumbal itu/orang duwa kasih sembah/ sudah mesat tak liyat jalan apatih/ nakoda dapat Jawa //.
Pupuh II Dhandhanggula
// Gusti Allah karsa amijeni/ nagri Jawa kang kinarya marga/ Sultan ing Rum dalu sare/ pan katurunan wahyu/ nagri Jawi dadi wanadri/ werit tan ana jalma/ karsaning Ywang Agung/ nu[ng]swa tumimbanging Mekah/ keraton wetan ngajam tanah Jawi/ kuloning mring negri sabrang//
// Sultan ing Rum wungu denya guling/ ri s(e)dengnya miyos siniwaka/ wadyabala pepak kabeh/ pra ngalim pandita gung/ para ratu bupati mantri/ sigra ngling raja besar/ heh kawulaningsun/ wetan ngajam tanah Jawa/ tan ana jalma suwung dadya wana werit/ catur lurah juragan//
// Inggih wonten kelingkung prayugi/ apanjang punjung jembar arata/ loh jinawi banyu akeh/ kaluwar dari gunung/ Sultan ing Rum ngandika malih/ sawruha haning kuna/ pan negara agung/ kang wadya sahur kukila/ tan ana wruhing pandita papat uning/ munggel kitab musarar//
// pra pandita matur genti-genti/ pan kawula wruhing tanah Jawa/ wruh munggeling kitab bae/ jeng Sultan ngandika rum/ dawek tuwan kula yun myarsi/ matur pandita Jawa sajarah tunutur/ wus tamat ganti wirayat/dawak cawak kantun pandita satunggil/ ingkang murwa carita//
Pupuh I Amaradana bait 1 :
// Kasmaran guru sawiji/ guru sangking Ywang Ngatunggal/ iku kang wasesa kabeh/ jaka liru pratelanya/ guru kalih kang juga/ iya Sang Hyang Guru tuhu/ kalih guru katon ranya//
Pupuh I Dhandhanggula :
// Sinekaran ingkang dandanggendis/ duk kalanira wiwit sinerat/ ing soma epon enjinge/ tanggal kaping tri likur/wulan besar ingkang lumaris/tahun be kang lumampah/ windu sancayeku/ anuju kang mangsa asta/ wuku sinta dene sengkalaning warsi/musna hesti raja//
//Amurwani ing carita adi/serat Ajisaka ingkang kinirtya/ kang pinunggel caritane/ Ajisaka puniku/ ingejawa purwane singgih/saking nagari Ngarab/ sekabat jeng Rasul, ananging murtating karsa/ mila prapta ing tanah Jawa mulangi/ sakehing ngelmunira//
//Dasarira dereng wonten ngelmi/Ajisaka pan ginuron ing rat/ sangking katahe kawruhe/ prawira ambeg anung/ tur sumbaga rerasa sekti/ wong punjuling ngapapak/ mrojol krerepiku/manjing ajur-ajer bisa/ luput pejah duk nganggit/ ing kendeng singgih jimakir nuju kana//








