BANJARAN PANDAWA (CERITA WAYANG KULIT JAWA)

0

BANJARAN PANDAWA

 (CERITA WAYANG KULIT JAWA) 



Imajiner Nuswantoro



Banjaran Cerita Pandawa (1)

Banjaran Pandawa adalah jenis lakon atau cerita wayang bergenre biografi yang mengisahkan perjalanan hidup tokoh Pandawa Lima : Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, serta Sadewa, dari masa lahir, perjuangan hidup, hingga akhir hayat mereka. 

Inti Lakon Banjaran dalam Pewayangan

1. Biografi Tokoh: Menyajikan riwayat hidup secara utuh dari suatu karakter pewayangan.

2. Fase Kehidupan: Menggambarkan transformasi fisik, pendadaran ilmu, ujian hidup, hingga kebijaksanaan para Pandawa.

3. Kreativitas Pedalangan: Sering dipentaskan oleh dalang Ki Sutresno, Ki Anom Dwijokangko, atau dalang lainnya untuk mengeksplorasi Ringkasan Cerita Pandawa Lima dinamika batin dan petualangan kesatria




MENGENAL KARAKTER TOKOH PANDAWA LIMA

Banyak sekali karakter pewayangan yang bisa kita jadikan contoh dalam kehidupan sehari-hari, tapi tentunya yang berkarakter baik. baik Pandawa Lima merupakan tokoh yang tidak dapat dipisahkan dengan kisah Mahabarata, karena Pandawa Lima merupakan tokoh sentralnya bersama dengan Kurawa.Pandawa lima adalah sebutan lima bersaudara, putra dari Pandu Dewanata yakni Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Berikut ini kita akan mengenal karakter tokoh pandawa lima :


1. YUDISTIRA


Imajiner Nuswantoro

Imajiner Nuswantoro



Yudistira memiliki nama kecilnya yaitu Puntadewa. Ia merupakan yang tertua di antara lima Pandawa, atau para putera Pandu dengan Dewi Kunti. Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Yama. Yudistira memerintah di Kerajaan Amarta.

Karakter : Sifatnya sangat bijaksana, tidak memiliki musuh, hampir tak pernah berdusta seumur hidupnya. Memiliki moral yang sangat tinggi, suka mema’afkan serta suka mengampuni musuh yang sudah menyerah. Sifat lainnya yang menonjol adalah adil, sabar, jujur, taat terhadap ajaran agama, penuh percaya diri, dan berani berspekulasi. 


2. BIMA (BRANTASENA / WREKUDARA)


Imajiner Nuswantoro

Imajiner Nuswantoro

Imajiner Nuswantoro



Bima dengan nama kecilnya Sena. Bima merupakan putra kedua Pandu dengan Dewi Kunti. Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Bayu sehingga memiliki nama julukan Bayusutha. Bima sangat kuat, lengannya panjang, tubuhnya tinggi, dan berwajah paling sangar di antara saudara-saudaranya. Meskipun demikian, ia memiliki hati yang baik. Pandai memainkan senjata gada. Senjata gadanya bernama Rujakpala. Bima juga dijuluki Werkudara. Dalam pewayangan Jawa, Bima memiliki anak yaitu Gatotkaca, Antareja dan Antasena.

Karakter : Bima memililki sifat dan perwatakan; gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur.

Ia juga memiliki sifat kasar dan menakutkan bagi musuh, walaupun sebenarnya   hatinya lembut,  setia pada satu sikap, tidak suka berbasa basi dan tak pernah bersikap mendua serta tidak pernah menjilat ludahnya sendiri.


3. ARJUNA


Imajiner Nuswantoro



Arjuna dengan nama kecilnya Permadi. Arjuna merupakan putra bungsu Dewi Kunti dengan Pandu. Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Indra, Sang Dewa perang. Ia adalah ksatria cerdik dan gemar berkelana, gemar bertapa dan berguru menuntut ilmu. Arjuna memiliki kemahiran dalam ilmu memanah dan dianggap sebagai ksatria. Kemahirannnya dalam ilmu peperangan menjadikannya sebagai tumpuan para Pandawa agar mampu memperoleh kemenangan saat pertempuran besar di melawan Kurawa. Arjuna dikenal juga dengan nama Janaka. Ia memimpin kerajaan di Madukara 

Karakter : Arjuna memiliki sifat perwatakan cerdik pandai, pendiam, lemah lembut budinya,teliti, sopan-santun, berani dan suka melindungi yang lemah.


4. NAKULA


Imajiner Nuswantoro



Nakula dengan nama kecilnya Pinten. Nakula merupakan salah satu putera kembar pasangan Dewi Madrim dan Pandu. Ia merupakan penjelmaan Dewa kembar bernama Aswin, Sang Dewa pengobatan. Nakula pandai memainkan senjata pedang. Nakula merupakan pria yang paling tampan di dunia dan merupakan seorang ksatria berpedang yang tangguh. 

Karakter : perwatakan jujur, setia, taat pada orang tua dan tahu membalas budi serta dapat menjaga rahasia.


5. SADEWA


Imajiner Nuswantoro


Sadewa dengan nama kecilnya Tangsen. Sadewa merupakan salah satu putera kembar pasangan Dewi Madri dan Pandu. Ia merupakan penjelmaan Dewa kembar bernama Aswin, Sang Dewa pengobatan. Sadewa adalah orang yang sangat rajin dan bijaksana. Sadewa juga merupakan seseorang yang ahli dalam ilmu astronomi. 

Karakter : perwatakan jujur, setia, taat pada orang tua dan tahu membalas budi serta dapat menjaga rahasia



Imajiner Nuswantoro



Banjaran Pandawa 

Budaya pewayangan telah lama hidup dan berkembang. Istilah ringgit dan wayang telah lama didapat, antara lain ditemukan dalam kakawin Arjunawiwaha yang ditulis oleh Mpu Kanwa pada jaman pemerintahan raja Airlangga, abad sebelas (Poerbatjaraka, 1952:17), dan dalam kakawin Parthayajna pada jaman kerajaan Majapahit. (Zoetmulder, 1983: 462), abad 13-14. Jika menurut sumber cerita yang hidup sejak abad sembilan sampai abad empatbelas dapat diambil kesan, bahwa budaya pewayangan didukung oleh cerita yang berasal dari cerita yang bersumber sikles cerita Ramayana dan Mahabharata.

J.J. Ras mengatakan, bahwa panggung wayang kulit Jawa berkaitan erat dengan panggung wayang kulit Bali, yaitu jenis wayang yang biasa disebut wayang parwa, yaitu jenis wayang yang mementaskan cerita yang diambil dari parwa-parwa Mahabharata dan cerita Ramayana.(Ras, 1976:3).

Parwa-parwa Mahabharata Sansekerta banyak disadur dalam bahasa Jawa kuna. Antara lain : 

Adiparwa, Sabhaparwa, Aranyakaparwa, (Wanaparwa), Wirataparwa, Udyogaparwa, Bhismaparwa, Mausalaparwa, Prasthanikaparwa dan Swargarohanaparwa. 

Parwa lain yang sebagian besar isinya dimuat dalam kakawin Bharatayudha karangan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh (Naskah Kirtya Nomor 1060), ialah: Dronaparwa, Karnaparwa, Salyaparwa, Gadaparwa, Aswathamaparwa, Stripralayaparwa, Santikaparwa, Aswamedaparwa dan Asramawasaparwa.

Beberapa bagian cerita Mahabharata ada yang dikembangkan dengan cara diolah, menurut fiksi dan daya kreasi pujangga penulisnya. Dalam karya sastra Jawa kuna, ditemukan beberapa buku sumber cerita yang isinya merupakan perkembangan dan pengolahan masalah yang dimuat dalam cerita Mahabharata. Cerita yang bersumber karya sastra Jawa kuna itu terus berkembang melalui sastra tulis dan sastra lesan. Pada jaman sesudah kerajaan Majapahit, yaitu pada jaman kerajaan Demak, sekitar abad limabelas, budaya pewayangan hidup dan berkembang pula. Sebuah kitab suluk karangan Sunan Bonang yang dikenal dengan nama Suluk Wujil, memuat kalimat yang isinya sebagai berikut.: ”Dalang Sari dari Pananggungan mewayang dengan cerita permulaan perang Bharatayudha, (Suluk Wujil: bait 90). Selanjutnya diceritakan makna kias Korawa dan Pandhawa. Pandhawa berada disebelah kiri dikiaskan sebagai nafi. Korawa berada disebelah kanan, dikiaskan sebagai isbat. Mereka berebut musbat (Suluk Wujil: bait 99-100)

Pada jaman kerajaan Mataram, Kartasura dan surakarta, cerita pewayanagn berkembang pesat sebagai salah satu hasil penciptaan jenis karya sastra pewayangan dan seni pertunjukan wayang kulit. Cerita sikles Arjunasasra, Rama dan Mahabharata banyak diolah menjadi karya sastra tulis. Banyak buku yang bermunculan yang dikarang semacan cerita roman simbolik, teks drama dan cerita pendek. Dengan menampilkan tokoh-tokoh wayag. Dalam pengembangan cerita Mahabharata, tokoh-tokoh Pandhawa dan Korawa menjadi pusat perhatian masyarakat. Cerita yang bertokoh Pandawa banyak mendapat perhatian, dan banyak disusun banyak cerita tentang tokoh-tokoh itu.

Masyarakat tertarik pada tokoh Pandhawa, terbukti didapatkannya berbagai judul cerita yang menampilkan tokoh Pandhawa secara bersama dan secara individu.. sikap masyarakat sangat memperhatikan dengan tokoh-tokoh Pandhawa, sehingga masing-masing tokoh mempunyai riwayat hidup seperti manusia. Maka didapat cerita yang berisi tentang kelahiran, perkawinan, seluk-beluk kehidupan di masyarakat luas sebagai anggota masyarakat dan kematian tokoh-tokoh Pandhawa itu. Penggambaran peri kehidupan tokoh-tokoh pewayangan itu seperti kehidupan manusia, yang diolah dengan berbagai gaya penceritaan seperti penciptaan karya fiksi yang biasa berlaku dalam dunia sastra roman.

Kiranya perlu penelitian terhadap cerita yang menampilkan tokoh-tokoh Pandhawa, yaitu salah sastu kelompok tokoh pewayangan yang mendapat tempat di masyarakat pecintanya. Penelitian terhadapnya, sedikit atau banyak mesti ada manfaatnya, dan diharapkan bisa digunakan sebagai sarana pengembangan sastra nasional dan budaya pewayangan.


Sumber Cerita Tokoh Pandhawa

Dalam bab pendahuluan telah disebut, bahwa cerita yang ada dalam parwa Mahabharata telah hidup dan berkembang lewat kehidupan sastra Jawa kuna dan Jawa baru. Cerita yang dimuat dalam delapan-belas parwa sebagian besar ditulis dalam sastra Jawa kuna prosa, dan sabagian dimuat dalam kakawin Bharatayudha karangan Mpu Sedah Mpu Panuluh. Kitab Adiparwa, Sabhaparwa, Aranyakaparwa dan Wirataparwa memuat cerita tokoh Pandawa sejak kecil, masa remaja dan dewasa setelah mereka kawin. Dalam Swargarohanaparwa dimuat kisah tentang kematian para Pandawa. Kitab Bharatayudha memuat kisah perang saudara antara Pandawa dengan Korawa, dan berakhir kemusnahan para Korawa. Isi pokok dalam kitab Bharatayudha itu sejalan dengan isi cerita dalam Udyogaparwa, Bhismaparwa, Dronaparwa, Karnaparwa, Salyaparwa, Gandaparwa dan Aswatthamaparwa. Dalam parwa lain (Stripralapaparwa, Santikaparwa, Aswamedaparwa, Asramawasaparwa, Mausalaparwa, Prasthanikaparwa), erisi cerita Pandhawa sesudah perang Bharatayudha.

Cerita yang bersumber kitab Mahabharata itu juga menimbulkan kitab-kitab baru, antara lain : Kakawin Parthayajna, Arjunawiwaha, Pathayana, Nawaruci dan Sudamala.



Banjaran Cerita Pandawa (2)

1. Kakawin Parthayajna

Kakawin Parthayajna (anonim), berisi cerita perjalanan Arjuna sebelum bertapa di Indrakila. Ringkasan isi ceritanya sebagai berikut:


Pandhawa beredih hati karena kekalahan Yudhisthira waktu bermain dadu dan penghinaan Dropadi oleh Dusasana. Mereka harus hidup di hutan selama dua-belas tahun. Bhima ingin perang melawan Korawa dan mati di medan perang, tetapi Yudhisthira menahannya. Widura memberi nasihat kepadaYudhisthira dalam mengatasi penderitaan. Domya menasihati para Pandhawa sejak mereka akan pergi ke hutan. Atas permintaan Yudhisthira, Arjuna disuruh bertapa di Indrakila. Arjuna menyanggupi permintaan kakanya, kemudian ia minta diri kepada Ibunda Kunti, kakak dan adik-adiknya serta Dropadi, lalu masuk ke hutan. Perjalanan Arjuna tiba di pertapaan Wanawati yang didirikan oleh Mahayani. Di tempat itu Arjuna ditemui oleh petapi Mahayani dan di wejang tentang hidup dan kehidupan. Sewaktu bermalam seorang petapi datang dan menyatakan cinta kepada Arjuna, tetapi Arjuan menolaknya.

Arjuna menghadap dewa Kama dan Ratih yang berada di tepi sebuah danau, kemudian menghormatnya. Dewa Kama banyak memberi nasihat kepada Arjuna dalam hal mencari kebahagiaan. Kemudian Kama memberi petunjuk arah Indrakila dan tempat pertapaan Dwaipayana. Kama memberi tahu, bahwa raksasa Nalamala ingin mengadu kesaktian dengan Arjuna. Nalamala adalah anak Durga yang lahir dari ujung lidah sebelum beranak Ganesya. Bila kalah Arjuna supaya bersamadi memuja dewa Siwa. Tak berapa lama kemudian Kama lenyap, Arjuna melanjutkan perjalanan.

Arjuna dicegat oleh banyak raksasa dan Nalamala. Maka terjadilah perkelahian. Nalamala menampakkan diri dalam wujud Kala, Arjuna bersemadi memuja dewa Siwa. Memancarlah sinar pada dahi Arjuna, Nalamala lari dan berkata, kelak akan menjelma lagi, untuk membunuuh para Pandawa. Arjuna meneruskan perjalanan ke Indrakila. Sampailah ia di Inggitamartapada tempat tinggal Dwaipayana. Arjuna bercerita perilaku para Pandawa dan sikap para Korawa. Kakek Arjuna itu menerangkan, bahwa Arjuna diutus untuk memberantas kejahatan itu. Setelah menerima banyak nasihat dari kakek itu, Arjuna pergi ke Indrakila. Ia bertapa dan memeperoleh anugerah dari dewa Siwa yang menampakan diri sebagai orang Kirata. (Sumber Cerita:Naskah Kirtya No. 665)


2. Kakawin Arjunawiwaha

Kakawin Arjunawiwaha karangan Mpu Kanwa (Naskah Kirtya Nomor 1092) ditulis pada jaman Kediri. Isi ringkas cerita itu sebagai berikut:

Niwatakawaca raja Himataka ingin menghancurkan kerajaan Indra, Indra ingin minta bantuan kepada Arjuna yang sedang bertapa di Indrakila. Tujuh bidadari diutus untuk menguji keteguhan tapa Arjuna. Suprabha dan Tilottama memimpin tugas para bidadari itu. Tujuh bidadari menyusuri Indrakila, kemudian tiba di gua tempat Arjuna bertapa. Para bidadari berhias cantik, menggoda dan mencoba menggugurkan tapa Arjuna..usaha meraka tidak berhasil, para bidadari kembali ke kerajaan Indra, lalu melapor hasil tugas mereka kepada Indra.

Indra menyamar dalam wujud orang tua, datang di pertapaan Arjuna. Ia ingin mengethui tujuan tapa Arjuna. Lewat pembicaraan mereka, Indra memperoleh jawaban, bahwa tapa Arjuna bertujuan untuk memenuhi tugasnya sebagai seorang ksatria dan ingin membantu Yudhisthira sewaktu merebut kerajaan dari kekuasaan Duryodhana. Indra sangat senang mendengar penuturan Arjuna, lalu memberi tahu, bahwa dewa Siwa akan memberi anugerah atas tapa Arjuna.

Niwatakawaca menyuruh Muka untuk datang di Indrakila, dan membunuh Arjuna. Muka dalam wujud babi hutan mengganggu tapa Arjuna. Arjuna melepas tapanya, lalu berusaha membunuh babi hutan itu. babi hutan berhasil dibunuh dengan panah. Tancapan panah di tubuh babi hutan bersama dengan tancapan anak panah seorang pemburu. Arjuna berselisih dengan pemburu orang Kirata itu. terjadilah perkelahian seru. Arjuna hampir terkalahkan, lalu memegang erat kaki pemburu. Pemburu menampakan diri dalam wujud dewa Siwa. Arjuna menghormat dan memujanya. Dewa Siwa menganugerahkan panah Pusupati kepada Arjuna, kemudian lenyap dari hadapan Arjuna.

Dua bidadari utusan Indra datang menemui Arjuna, minta agar Arjuna bersedia menolong para dewa dengan membunuh Niwatakawaca. Kemudian Arjuna bersama dua bidadari datang di kerajaan Indra.

Arjuna dan Supraba ditugaskan untuk mengetahui rahasia kesaktian Niwatakawaca. Mereka berdua pergi ke Himataka. Supraba disambut oleh bidadari yang lebih dahulu diserahkan kepada Niwatakawaca. Arjuna mengikutinya, tetapi raksasa tidak dapat melihat karena kesaktian Arjuna. Tipu muslihat Supraba berhasil, ia mengetahui rahasia kesaktian Niwatakawaca. Yang berada di ujung lidah. Setelah mengerti rahasia kesaktian Niwaatakawaca, Arjuna membuat huru-hara, dengan menghancurkan pintu gerbang istana. Suprabha terlepas dari kekuasaan Niwatakawaca, lalu meninggalkan Himataka. Niwatakawaca merasa kena tipu, lalu mempersiapkan pasukan untuk menyerang kerajaan Indra. Para dewa juga bersiap-siap melawan serangan prajurit Niwatakawaca. Maka terjadilah perang besar-besaran. Arjuna menyusup ditengah-tengah barisan, mencari kesempatan baik untuk membunuh Niwatakawaca. Akhirnya anak panah Arjuna berhasil menembus ujung lidah Niwatakawaca. Niwatakawaca mati di medang pertempuran. Perang pun selesai.

Arjuna memperoleh penghargaan dari para dewa. Ia dinobatkan menjadi raja selama tujuh hari surga, (tujuh bulan dunia) dan memperisteri tujuh bidadari. Mula-mula Arjuna kawin dengan Supraba, kemudian dengan Tilottama, dan selanjutnya lima bidadari lain yang pernah menggoda tapanya. Bidadari Menaka yang mengatur perkawinan mereka. Setelah genap tujuh bulan, Arjuan minta diri kepada dewa Indra untuk kembali ke dunia, menemui saudara-saudaranya.

Arjuna naik kereta diantar oleh Matali. Para bidadari menangis atas kepergiannya.



Banjaran Cerita Pandawa (3)

3. Kakawin Parthayana atau Subhadrawiwaha (anonim)

Ringkasan isi cerita ‘Parthayana’ atau ‘Subhadrawiwaha’ sebagai berikut:


Arjuna bertemu Ulupuy di hulu sungai Gangga. Setelah lewat pembicaraan panjang, Arjuna memperisteri Ulupuy putri raja Korawa. Arjuna meninggalkan Ulupuy meneruskan perjalanan. Sewaktu tiba di permandian Swabhadra, Arjuna diserang oleh seekor buaya. Buaya itu dibunuh, lalu berubah menjadi bidadari. Atas permintaan bidadari itu Arjuna juga membebaskan empat bidadari lainnya. Sang bidadari menyarankan agar Arjuna pergi ke negara Mayura. Arjuna pun pergi ke Mayura, dan diterima oleh raja Citradahana. Arjuna diambil menantu oleh raja itu, dikawinkan dengan Citragandha. Arjuna dan Citragandha dikaruniai anak bernama Wabhruwahana yang kelak akan mewarisi kerajaan Mayura.

Arjuna melanjutkan perjalanan, tiba di tepi sungai Saraswati. Para Yadu mengadakan pesta. Oleh Kresna, Samba disuruh mengundang Arjuna. Arjuna menghadiri pesta bersama Kresna. Arjuna tertarik kecantikan Subhadra. Kresna mengetahui, lalu menyetujui bila Arjuna cinta dan mau melarikan Subhadra. Arjuna membawa lari Subhadra. Baladewa dan para Yadu marah, merasa dihina oleh Arjuna. Kresna menyadarkan mereka. Akhirnya Arjuna berhasil memperisteri Subhadra, lalu memboyongnya ke Indraprastha.


4. Kakawin Bharatayudha

Kakawin Bharatayudha dikarang oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh pada jaman Jayabhaya. Isi ringkas cerita Bharatayudha sebagai berikut:


Kresna mewakili Pandawa datang di Hastina (Gajahwaya) untuk merundingkan pembagian kerajaan. Raja Dhrtarastra bersiap-siap dan menghias istana untuk menyambut kedatangan tamu.

Kresna datang di Hastina. Jamuan makan telah siap, tetapi Kresna tidak mau dijamu sebelum selesai perundingan.

Kresna mengunjungi Kunti, ibu para Pandhawa. Kunti menjadi sedih, dan teringat putra-putranya yang dibuang ke hutan. Kresna menghibur Kunti, lalu pergi menemui Widura. Duryodhana berunding dengan Sengkuni, Dussasana dan Karna. Mereka memandang Kresna sebagai musuh. Kresna diterima oleh Duryodhana di bangsal agung. Kresna minta agar perselisihan Korawa dan Pandawa diselesaikan dengan damai, negara Hastina dibagi dua. Dhrtarastra, para resi, Drona dan Bhisma menyetujui usul itu. Namun Duryodhana bersama keluarga Korawa menolak, dan akan membunuh Kresna. Mengetahui rencana Duryodhana dan para Korawa, Kresna segera meninggalkan bangsal agung. Kresna marah, lalu triwikrama, menampakkan diri sebagai Wisnu yang dahsyat dan menakutkan. Para Korawa ketakutan. Mereka memuja-muja agar tidak membinasakan keluarga Korawa. Kalau Korawa musnah, tidak akan terjadi perang. Jika demikian Bhima dan Dropadi tidak jadi membalas dendam.

Kresna meninggalkan Hastina, berpesan kepada Kunti agar yang telibat dalam perang bersikap jujur dan berjiwa kesatria, dan mau berkorban jiwa. Karna mengantar kepergian Kresna dari Hastina. Kresna dan Kunti minta agar Karna berpihak kepada Pandawa tetapi Karna tidak menerima bujukan mereka berdua.

Para Pandawa bersiap-siap untuk berperang. Mereka mendirikan perkemahan di Kurusetra. Widura dan Kunti mengunjungi perkemahan Pandhawa. Mereka mengangkat Sweta menjadi panglima tertinggi.

Korawa ikut bersiap-siap untuk berperang. Bhisma diangkat menjadi senopati. Pandawa dan Korawa mengumumkan perang dan mereka akan menaati peraturan perang.

Arjuna berkeberatan dan sedih hatinya, sebab harus berperang melawan saudara. Kresna memperingatkan Arjuna, bahwa perang adalah salah satu tugas dari ksatria.

Yudhisthira maju ke depan, saudara-saudaranya mengikuti dari belakang. Mereka menemui Korawa, lalu menghormat kepada bekas guru, terutama Bhisma, Krpa, Salya dan Drona. Mereka meminta maaf, karena terpaksa melawan pinisepuh yang seharusnya mereka hormati. Para guru meramal, bahwa Pandawa akan menang perang.

Pertempuran mulai, hebat pertempuran mereka. Dua putra raja Wirata gugur. Sweta membela kematian dua adiknya. Bhisma berhasil menghentikan perlawanan Sweta. Sweta dapat dibunuhnya. Raja Wiratha meratapi kematian tiga putranya.

Dhertadyumna diangkat menjadi panglima menggantikan Sweta. Bhisma hebat memimpin pertempuran. Kresna akan melemparkan cakra, tetapi ditahan oleh Arjuna. Bhisma menyuruh agar Yudhisthira tampil ke medan perang, ia tidak akan melawan. Arjuna disuruh melawan Bhisma bersama Srikandi. Bhisma dihujani anak panah dan gugur di medan perang. Para Korawa mengerumuni jenasah Bhisma. Para Pandawa datang menghormat. Bhisma menghormat dengan hati ragu-ragu. Anak panah menopang bingkai Bhisma, sehingga tubuhnya tidak melekat di bumi. Dengan tenang Bhisma menanti kematiannya.

Prajurit Korawa dipimpin oleh Drona. Drona diangkat menjadi panglima. Mulailah pertempuran lagi. Bhogadata dapat ditewaskan oleh Arjuna. Drona berusaha menangkap Yudhisthira bila ia lepas dari pengawasan Bhima dan Arjuna. Ketika Korawa datang menyerang, Abhimanyu menembus barisan, dan ingin mendapatkan Doryudhana.

Para Pandawa tidak dapat mengawal Abhimanyu, karena Jayadrata berhasil menahan mereka. Abhimanyu dikerumuni Subhadra, Yudhisthira, kedua pamannya, Uttari dan Ksiti Sundari. Mereka meratapi kematian Abhimanyu. Arjuna dan Bhima datang kemudian. Mereka menjadi sedih, lalu ingin memperoleh kematian di medan pertempuran. Kresna menghalang-halangi kehendak mereka berdua.

Setelah mereka tahu bahwa kematian Abhimanyu karena Jayadratha, Arjuna ingin membalas kematian anaknya.

Jenasah Abhimanyu diperabukan, Ksiti Sundari mengikuti kematian suaminya. Sedangkan Uttari menanti kelahiran anaknya yang masih dalam kandungan.

Pertempuran berlangsung lagi. Arjuna menghancurkan kereta Doryudhana. Satyaki dan Bhima berhasil membunuh banyak keluarga Korawa. Bhurisrawa terkena panah Arjuna, lalu ditewaskan oleh Satyaki. Para Pandawa kelelahan, Kresna menolong mereka, dengan cara menutup matahari dengan awan. Korawa mengira hari telah malam, mereka berhenti menyerang Pandawa. Arjuna naik di atas kereta dan berhasil membunuh Jayadratha. Duryodhana menuduh Drona yang bersalah atas kematian Jayadratha, karena Drona menghalang-halangi ketika Jayadratha akan pulang. Karna bersedia mengganti kedudukan Jayadratha. Pratipeya atau Somadatta, ayah Bhurisrawa hendak membunuh Satyaki, tetapi ia terbunuh oleh Bhima.



Banjaran Pandawa (4) 

(Kisah Perang Baratayuda)

Karna menjadi panglima perang, dan berhasil menewaskan musuh. Yudhisthira minta agar Arjuna menahan serangan Karna. Arjuna menyuruh Ghatotkaca untuk menahan dengan ilmu sihirnya, Ghatotkaca mengamuk, Korawa lari tunggang-langgang. Karna dengan berani melawan serangan Ghatotkaca. Namun Ghatotkaca terbang ke angkasa. Karna melayangkan panah, dan mengenai dada Ghatotkaca. Satria Pringgandani ini limbung dan jatuh menyambar kereta Karna, tetapi Karna dapat menghindar dan melompat dari kereta. Ghatotkaca mati di atas kereta Karna. Para Pandawa berdukacita. Hidimbi pamit kepada Dropadi untuk terjun ke perapian bersama jenasah anaknya.

Pertempuran terus berkobar, Drona berhasil membunuh tiga cucu Drupada, kemudian membunuh Drupada, dan raja Wirata. Maka Dhrtadyumna ingin membalas kematian Drupada.

Kresna mengadakan tipu muslihat. Disebarkannya berita, bahwa Aswatthama gugur. Yudhisthira dan Arjuna mencela sikap Kresna itu. Kemudian Bhima membunuh kuda bernama Aswatthama, kemudian disebarkan berita kematian kuda Aswatthama. Mendengar berita kematian Aswatthama, Drona menjadi gusar, lalu pingsan. Dhrtadyumna berhasil memenggal leher Drona. Aswatthama membela kematian ayahnya, lalu mengamuk dengan menghujamkan panah Narayana. Arjuna sedih atas kematian gurunya akibat perbuatan yang licik. Arjuna tidak bersedia melawan Aswatthama, tetapi Bhima tidak merasakan kematian Drona. Dhrtadymna dan Satyaki saling bertengkar mengenai usaha perlawanan terhadap Aswatthama. Kresna dan Yudhisthira menenangkan mereka. Pandawa diminta berhenti berperang. Tapi Bhima ingin melanjutkan pertempuran, dan maju ke medan perang mencari lawan, terutama ingin menghajar Aswatthama. Saudara-saudaranya berhasil menahan Bhima. Arjuna berhasil melumpuhkan senjata Aswatthama. Putra Drona ini lari dan sembunyi di sebuah pertapaan. Karna diangkat menjadi panglima perang. Banyak perwira Korawa yang memihak kepada Pandawa.

Pada waktu tengah malam, Yudhisthira meninggalkan kemah bersama saudara-saudaranya. Mereka khidmat menghormat kematian sang guru Drona, dan menghadap Bhisma yang belum meninggal dan masih terbaring di atas anak panah yang menopang tubuhnya. Bhisma memberi nasihat agar Pandawa melanjutkan pertempuran, dan memberi tahu bahwa Korawa telah ditakdirkan untuk kalah.

Pandawa melanjutkan pertempuran melawan Korawa yang dipimpin oleh Karna. Karna minta agar Salya mau mengusiri keretanya untuk menyerang Kresna dan Arjuna. Salya sebenarnya tidak bersedia, tetapi akhirnya mau asal Karna menuruti perintahnya.

Pertempuran berlangsung hebat, disertai caci maki dari kedua belah pihak. Bhima bergulat dengan Doryudana, kemudian menarik diri dari pertempuran. Dussasana dibunuh oleh Bhima, sebagai pembalasan sejak Dussasana menghina Drupadi. Darah Dussasana diminumnya.

Arjuna perang melawan Karna. Naga raksasa bernama Adrawalika musuh Arjuna, ingin membantu Karna dengan masuk ke anak panah Karna untuk menembus Arjuna. Ketika hendak disambar panah, kereta yang dikusiri Kresna dirundukkan, sehingga Arjuna hanya terserempet mahkota kepalanya. Naga Adrawalika itu ditewaskan oleh panah Arjuna. Ketika Karna mempersiapan anak panah yang luar biasa saktinya, Arjuna telah lebih dahulu meluncurkan panah saktinya. Tewaslah Karna oleh panah Arjuna.

Doryudhana menjadi cemas, lalu minta agar Sakuni melakukan tipu muslihat. Sakuni tidak bersedia karena waktu telah habis. Diusulkannya agar Salya jadi panglima tinggi. Sebenarnya Salya tidak bersedia. Ia mengusulkan agar mengadakan perundingan dengan Pandawa. Aswatthama menuduh Salya sebagai pengkhianat, dan menyebabkan kematian Karna. Tuduhan itu menyebabkan mereka berselisih, tetapi dilerai oleh saudara-saudaranya. Aswatthama tidak bersedia membantu perang lagi. Salya terpaksa mau menjadi panglima perang. Nakula disuruh Kresna untuk menemui Salya, dan minta agar Salya tidak ikut berperang. Nakula minta dibunuh daripada harus berperang melawan orang yang harus dihormatinya. Salya menjawab, bahwa ia harus menepati janji kepada Duryodhana, dan melakukan darma kesatria. Salya menyerahkan kematiannya kepada Nakula dan agar dibunuh dengan senjata Yudhisthira yang bernama Pustaka, agar dapat mencapai surga Rudra. Nakula kembali dengan sedih.

Salya menemui Satyawati, pamit maju ke medan perang. Isteri Salya amat sedih dan mengira bahwa suaminya akan gugur di medan perang. Satyawati ingin bunuh diri, ingin mati sebelum suaminya meninggal. Salya mencegahnya. Malam hari itu merupakan malam terakhir sebagai malam perpisahan. Pada waktu fajar Salya meninggalkan Satyawati tanpa pamit, dan dipotongnya kain alas tidur isterinya dengan keris. Salya memimpin pasukan Korawa. Amukan Bhima dan Arjuna sulit untuk dilawannya. Salya menghujankan anak panahnya yang bernama Rudrarosa. Kresna menyuruh agar Pandawa menyingkir. Yudhisthira disuruh menghadap Salya. Yudhisthira tidak bersedia harus melawan pamannya. Kresna menyadarkan dan menasihati Yudhisthira. Yudhisthira disuruh menggunakan Kalimahosadha, kitab sakti untuk menewaskan Salya. Salya mati oleh Kalimahosadha yang telah berubah menjadi pedang yang bernyala-nyala. Kematian Salya diikuti oleh kematian Sakuni oleh Bhima. Berita kematian Salya sampai kepada Satyawati. Satyawati menuju medan perang, mencari jenasah suaminya. Setelah ditemukan, Satyawati bunuh diri di atas bangkai suaminya.

Duryodhana melarikan diri dari medan perang, lalu bersembunyi di sebuah sungai. Bhima dapat menemukan Duryodhana yang sedang bertapa. Duryodhana dikatakan pengecut. Duryodhana sakit hati, lalu bangkit melawannya. Bhima diajak berperang dengan gada. Terjadilah perkelahian hebat. Baladewa yang sedang berziarah ke tempat-tempat suci diberi tahu oleh Narada tentang peristiwa peperangan di Hastina. Kresna menyuruh Arjuna agar Bhima diberi isyarat untuk memukul paha Duryodhana. Terbayarlah kaul Bhima ketika hendak menghancurkan Duryodhana dalam perang Bharatayudha. Baladewa yang menyaksikan pergulatan Bhima dengan Duryodhana menjadi marah, karena Pandawa dianggap tidak jujur, lalu akan membunuh Bhima. Tetapi maksud Baladewa dapat dicegah, dan redalah kemarahan Baladewa.


Bersambung ......

Click Disini :


BANJARAN PANDAWA 2 (CERITA WAYANG KULIT JAWA) 





Imajiner Nuswantoro 


Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)