BANJARAN PANDAWA 5
(CERITA WAYANG KULIT JAWA)
Banjaran Cerita Pandawa (25)
Pandawa Papa
Prabu Duryodana dihadap oleh pendeta Durna, Patih Sakuni, Kartamarma dan warga Korawa. Raja memberi tahu tentang berita para Pandhawa. Dikatakan, Pandhawa berada di Girikandha. Mereka berganti nama. Raja lalu minta agar padepokan Girikandha dihancurkan, para Pandhawa supaya dimusnahkannya. Patih Sakuni diminta menyiapkan perajurit dan melaksanakan perintah raja.
Prabu Duryodana membubarkan sidang, lalu masuk ke istana permaisuri, dan memberitahu kepada permaisuri tentang rencana pemusnahannya Pandhawa. Banowati sedih dan sayang kepada para Pandhawa.
Prabu Duryodana bersamadi memanjatkan doa.
Patih Sakuni menemui Basukarna, Dursasana, Jayadrata, Citraksa, Citraksi dan Aswatama. Mereka berunding tentang perintah raja. Mereka bersiap-siap berangkat ke Girikandha.
Bagawan Selaraja dihadap oleh Jalasangara, Puthut Parandaka, Kunthi dan para Pandhawa. Perajurit Korawa datang menyerang. Pandhawa lari bersembunyi ke hutan. Padepokan Girikandha dirusak, sang bagawan dan para murid melarikan diri.
Kunthi dan para Pandhawa berjalan menyusuri hutan. Pinten dan Tangsen kehausan. Arjuna disuruh mencari air.
Arjuna dan para panakawan pergi mencari air. Di tengah perjalanan diserang raksasa suami isteri. Arjuna melawan dua raksasa. Raksasa dipanah berubah rupa menjadi Dewa Kamajaya dan Dewi Ratih. Arjuna menghormat, Dewa Kamajaya dan Dewi Ratih memberi doa restu, lalu kembali ke Kahyangan.
Arjuna melanjutkan pencarian air, dan dapat menemukan sendang. Arjuna segera mengambil air sendang untuk saudara-saudaranya.
Air sendang diserahkan kepada ibunya. Semua minum air, kecuali Semar. Semua yang minum air mati. Semar marah, sendang dikeringkan airnya. Lalu datanglah jin minta hidup, air sendang minta tidak dikeringkannya. Semar berhenti membuang air sendang, lalu diberi air hidup untuk menghidupkan Kunthi dan anak-anaknya. Setelah hidup kembali, mereka meneruskan perjalanan. Masing-masing berganti nama. Kunthi bernama Endhang Rini, Yudisthira bernama Tandha Dwijakangka, Bima bernama Bilawa, Arjuna bernama Kandhi Wrahatnala, Nakula bernama Tripala dan Sadewa bernama Darmagati
Bagawan Sutikna yang tinggal di Wukir Manikmaya, dihadap oleh Endhang Suki dan Endhang Suketi. Mereka berdua bermimpi, bertemu dengan Wasi Jalasangara dan Puthut Parandaka. Tiba-tiba dua ksatria itu datang terbawa angin. Dua remaja itu diambil menantu oleh oleh Bagawan Sutikna.
Korawa datang merusak padepokan Wukir Manikmaya. Sang Bagawan melarikan diri, lari meninggalkan padepokan
Prabu Matswapati raja Wiratha, duduk di atas singhasana, dihadap oleh Seta, Utara, Wratsangka dan Nirbita. Tengah mereka berbincang-bincang datanglah Bagawan Sutikna minta perlindungan karena diusir oleh Korawa.
Perajurit Korawa datang di Wiratha, minta supaya menyerahkan Bagawan Sutikna. Raja Matswapati tidak mau menyerahkannya, para Korawa mengamuk. Seta, Utara dan Wratsangka berhasil mencerai-beraikan Korawa. (Pertempuran selesai. Bagawan Sutikna dan keluarga Wiratha mengadakan pesta bersama)
Banjaran Cerita Pandawa (26)
Pandawa Gupak
Prabu Suyudana dihadap oleh Pendeta Durna dan Patih Sengkuni. Mereka berunding tentang perdamaian dengan Pandhawa. Tengah mereka berbicara Nakula datang, bertanya tentang rencana kehadiran raja Suyudana. Raja Suyudana minta agar Pandhawa menyiapkan Balai Kencana bertiang delapanratus. Nakula minta diri, raja suyudana masuk istana.
Prabu Suyudana menemui prameswari Dewi Banowati. Sang Raja bercerita tentang rencana perdamaian dengan Pandhawa. Mereka lalu santap bersama. Patih Sengkuni dan para Korawa menghantar Nakula sampai di perbatasan negara.
Sadewa menghadap raja Kresna di kerajaan Dwarawati. Raja diminta kehadirannya di Ngamarta. Kresna menyanggupinya, dan bersama Setyaki berangkat ke Ngamarta.
Yudisthira menerima kehadiran Nakula. Nakula memberitahu segala permintaan raja Suyudana. Yudisthira susah hatinya. Kresna dan Setyaki datang, Yudisthira menyambut dengan hormat. Kresna menyetujui rencana perdamaian Korawa dengan Pandhawa. Wrekodara disuruh ke negara Ngalengka, meminjam persyaratan yang diminta oleh raja Suyudana. Wrekodara berangkat ke Ngalengka, akan menghadap raja Wibisana. Bathara Bayu menemaninya.
Raja Wibisana menerima kehadiran Wrekodara. Wrekodara menyampaikan maksud kedatangannya. Wibisana mengajak Wrekodara ke tempat Balai Kencana. Balai Kencana dilihat oleh Wrekodara hanya tampak seperti Balai-balai bambu. Balai Kencana segera dibawanya.
Patih Sengkuni dan para Korawa mencegat perjalanan Wrekodara. Terjadilah perkelahian, Korawa tidak mampu melawan Wrekodara, lalu kembali ke Ngastina.
Perjalanan Wrekodara diketahui oleh Anoman. Anoman menjamu di Dhadhalisada. Kemudian Wrekodara meminta pamit, kembali ke Ngamarta.
Perjalanan Wrekodara lewat di Tegal Kuru. Baladewa mencegat, Balai Kencana disuruh meninggalkan di Tegal Kuru. Balai Kencana ditinggal oleh Wrekodara.
Wrekodara menemui Yudisthira, Kresna, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Wrekodara memberi tahu, bahwa Balai Kencana telah diperoleh dan sekarang ditinggalkan di Tegal Kuru atas permintaan Baladewa. Nakula disuruh memberi tahu kepada raja Ngastina. Semua warga Pandhawa berangkat ke Tegal Kuru.
Bathara Guru dihadap oleh Bathara Narada, Bathara Brama, Bathara Kuwera, Bathara Citragotra, mereka menanyakan sebab terjadinya gara-gara. Bathara Narada memberi tahu, bahwa Korawa akan mengadakan perdamaian dengan Pandhawa. Bathara Guru khawatir bila tidak terjadi perang Baratayuda. Empat dewa disuruh mendurhakai perdamaian lewat orang-orang Korawa. Para dewa turun ke Marcapada.
Prabu Suyudana dan para para Korawa menerima kedatangan Nakula. Nakula memberi tahu, bahwa permintaan raja telah siap di Tegal Kuru. Raja Suyudana dan para Korawa pergi ke pesanggrahan.
Baladewa memihak Korawa, Kresna dipihak Pandhawa. Masing-masih minta agar menyampaiakn janji. Pandhawa mendahului berjanji, bila memulai berbuat durhaka, sanggup menerima hukuman dari dewa, sengsara sampai anak cucunya. Korawa berjanji demikian itu juga.. korawa dan Pandhawa telah bersatu. Para dewa merasuki kepada Burisrawa, Dursasana dan Patih Sengkuni. Dewa lain merasuk kepada Satyaki dan Gatotkaca. Burisrawa pergi menggoda Sumbadra, Patih Sengkuni mencari Kunthi dan Dursasana mencari Drupadi.
Patih Senhgkuni mengejar Kunthi, dan berhasil menarik kain penutup buah dada. Kunthi mengutuk, kelak bila Patih Sengkuni mati jenasahnya akan busuk tidak seperti bangkai anusia.
Dursasana menggoda Drupadi, dan berhasil melepas sanggul. Drupadi berjanji, ia tidak akan bersanggul sebelum berjamas dengan darah Dursasana.
Burisrawa mengejar Sumbadra. Sumbadra lari, Srikandhi menghalanginya. Burisrawa diberi minuman keras. Setyaki memberi minuman keras kepada Baladewa. Setyaki dan Gathotkaca panas hati, karena Sumbadra digoda, lalu mencari sebab untuk menghantamnya. kain Burisrawa diinjak oleh Setyaki, terjadilah perkelahian. para Korawa memisahnya.
Patih Sengkuni ingin memukul Setyaki. Kartamarma disuruh menghina putra-putra Pandhawa. Kartamarma menghina Nakula, Sadewa, Pancawala, Angkawijaya dan Gathotkaca. Putra-putra Pandhawa mengamuk, terjadilah perkelahian.
Baladewa melihat lalu dilerainya. Baladewa marah terhadap Gathotkaca. Gathothotkaca dipukulinya. Wrekodara membela anaknya. Kresna datang melerai perkelahian mereka. Para Pandhawa berkumpul lalu kembali ke Ngamarta.
Banjaran Cerita Pandawa (27)
Pandawa Dulit
Prabu Duryodana duduk di atas singhasana, dihadap oleh Patih Sakuni, Pendeta Durna, Dursasana, Burisrawa, Citraksa dan Citraksi. Raja merundingkan rencana pembunuhan terhadap Bima. Bima akan dimasukkan ke sumur Jalatundha. Sakuni ditugaskan menghadap raja Ngamarta, minta agar Bima datang di Ngastina untuk diangkat menjadi Adipati di Gajahoya. Perundingan selesai, Patih Sengkuni minta diri, Raja masuk ke istana permaisuri.
Prabu Duryodana masuk ke istana permaisuri disambut oleh permaisuri. Raja bercerita tentang rencana untuk mengundang para Pandhawa. Kemudian raja bersamadi.
Patih Sakuni bersama beberapa warga Korawa berbicara tentang rencana kepergian ke Ngamarta. Setelah siap mereka berangkat.
Yudisthira berbincang-bincang dengan Bima, Nakula, Sadewa dan Gathotkaca. Tengah mereka berbincang-bincang, datanglah Patih Sakuni. Patih Sakuni minta agar Bima diperkenankan untuk dinobatkan menjadi Adipati di Gajahoya. Yudisthira dan adik-adiknya menyetujui dan bersama-sama pergi ke Ngastina.
Yudisthira sesaudara diterima oleh Duryodana. Bima ditempatkan di Gajahoya. Yudisthira diminta bertempat di Ketandhan, menjadi Lurah Pasar. Nakula dan Sadewa ditempatkan di belakang kerajaan, disuruh menjadi penggembala itik.
Arjuna menghadap Bagawan Abiyasa, minta agar sang bagawan menghadiri penobatan Bima menjadi Adipati di Gajahoya. Bagawan Abiyasa tidak bersedia menghadiri penobatan. Arjuna minta diri dan mohon doa restu. Arjuna kembali ke Ngamarta diikuti para Panakawan.
Perjalanan Arjuna lewat di tengah hutan. Tiba-tiba dihadang oleh raksasa suami isteri. Terjadilah perkelahian. Raksasa berdua musnah terkena panah Arjuna, kemudian muncul Bathara Kamajaya dan Dewi Ratih. Arjuna dan Panakawan datang menghormat, Bathara Kamajaya memberi tahu bahwa Duryodana telah menipu saudara-saudara Pandhawa. Setelah memberitahukan hal tersebut, Bathara Kamajaya dan Dewi Ratih kembali ke Kahyangan. Arjuna meneruskan perjalanan.
Dursasana mencoba akan membunuh Dwijakangka, nama lain dari Yudisthira, tetapi gagal. Karena Dwijakangka tidak dapat dilukai dengan jenis senjata apapun. Dursasana melarikan diri, karena merasa tidak mampu membunuh Dwijakangka.
Duryodana sedang dihadap oleh para Korawa, Patih Sakuni dan Pendeta Durna. Arjuna datang dengan mengacungkan keris, akan membunuh Duryodana. Pendeta Durna membujuk agar Arjuna menyarungkan kerisnya. Dikatakan, bahwa Bima dikurung di Gajahoya, sebab ia akan dinobatkan menjadi adipati.
Banowati menemui Kunthi dan kedua anaknya, Nakula dan Sadewa. Ia menyampaikan suguhan untuk mereka. Duryodana ikut menemui Kunthi dan dua anaknya. Nakula dan Sadewa bangkit marahnya, Duryodana dipukul dengan batu dan mengenai kepalanya.
Arjuna menyamar sebagai penjual kinang atau kapur sirih di pasar. Baladewa, Banowati, dan para abdi membeli sirih dengan perlengkapannya.
Pendeta Durna menyuruh para Korawa agar mencuri gada Bima. Gada Bima ditunggu oleh Bajobarat. Para Korawa diserang oleh Bajobarat. Para Korawa ketakutan, mereka melarikan diri.
Bima dan Arjuna menemui Duryodana. Mereka mendakwa kejahatan Duryodana. Para Korawa mencoba meredakan kemarahan Bima. Terjadilah perkelahian. Bima dan Arjuna dikeroyok oleh para Korawa.
Prabu Kresna merelai permusuhan Korawa dan Pandawa. Mereka mengadakan perdamaian.
(Selanjutnya Pandawa dan Korawa mengadakan pesta perdamaian).
Banjaran Cerita Pandawa (28)
Pandawa Gubah
Prabu Duryodana duduk di atas singhasana, dihadap oleh Pendeta Durna, Patih Sakuni dan Adipati Karna. Mereka membicarakan rencana pertemuan dengan Pandhawa. Raja ingin memberikan separuh negara kepada Pandhawa.
Dewa kembar utusan Hyang Guru datang, untuk meminta kepada Duryodana supaya mendirikan Bale Kencana bertiang delapanratus. Raja menyanggupinya, akan dicarinya ke hutan Krukmandhala. Dewa kembar kembali ke Kahyangan, pertemuan dibubarkan, raja masuk ke istana.
Prabu Duryodana menemui permaisuri, Retna Lesmanawati dan para abdi. Raja bercerita tentang pembicaraan di persidangan.
Sementara itu di pagelaran jaba, di Alun-alun, Patih Sakuni dengan Korawa bersiap-siap menghantar kepergian raja ke Hutan Krukmandhala. Kemudian raja berangkat, naik di atas kereta kerajaan.
Yudhistira berbicara dengan Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, tentang rencana penerimaan separuh negara Ngastina.
Dewa Kembar datang menyampaikan pesan Hyang Guru, Pandhawa disuruh mendirikan Balai Kencana bertiang delapanratus. Yudhisthira menyanggupinya. Dewa Kembar minta diri, Bima ditugaskan mencari delapanratus tiang ke Singgela
Bima telah tiba di Singgela, bertemu dengan Patih Kartabangsa, meminta delapanratus tian kencana. Patih Kartabangsa tidak mengijinkannya. Bima ingin bertemu dengan rajanya, tetapi Patih Kartabangsa tidak memperbolehkan. Maka terjadilah perkelahian, Patih Kartabangsa kalah. Bima bertemu Raja Bisawarna. Raja memberikan delapanratus tiang. Tiang dibawa ke Ngamarta.
Anoman melihat delapanratus tiang dibawa Bima, cepat-cepat lari menahannya dan merebutnya. Bima menang dalam perebutan, tiang dibawa pulang.
Bathara Guru cemas terhadap kerukunan Pandhawa dan Korawa. Perang Baratayuda mesti tidak akan terjadi. Bathara Citragotra dan Bathara Guritna disuruh turun ke marcapada, menggoda kerukunan Pandhawa dan Korawa.
Bathara Citragotra dan Bathara Guritna turun ke marcapada. Masing-masing merasuk dalam diri Dursasana dan Burisrawa.
Pandhawa dan Korawa telah hadir di Balai Kencana. Mereka berjanji untuk menerima separuh bagian kerajaan Ngastina, dan tidak akan bermusuhan. Kemudian mereka mengadakan pesta besar bersama.
Dalam pesta besar tersebut, Burisrawa menggoda Sumbadra yang dikawal oleh Setyaki. Setyaki marah , Burisrawa dipukulinya.
Dursasana menggoda Drupadi sanggul Drupadi lepas. Drupadi marah dan berkata, tidak akan bersanggul bila belum berjamas darah Dursasana.
Pertemuan pesta menjadi kacau, Pandhawa mendakwa Korawa mendurhakai perjanjian.
(Prabu Duryodana menutup pertemuan, Pandhawa meninggalkan Balai Kencana)
Banjaran Cerita Pandawa (29)
Pandawa Sungging
Prabu Duryodana duduk di atas singhasana, dihadap oleh Patih Sakuni, Pendeta Durna, Burisrawa, Dursasana, Citraksa dan Citraksi. Raja membicarakan permintaan Burisrawa yang ingin memperisteri Sumbadra. Raja menyerahkan permasalahan itu kepada Pendeta Durna. Pendeta Durna menyanggupinya. Raja membubarkan pertemuan lalu masuk istana.
Banowati dan Dursilawati menyambut kedatangan raja. Raja bercerita tentang masalah rencana perkawinan Burisrawa. Setelah bersantap, raja bersemadi.
Pendeta Durna memanggil Adipati Karna, Burisrawa dan Jayadrata. Untuk dapat memboyong Sumbadra mereka harus dapat mencuri dengan jalan mengelabui para Pandhawa. Karna diubah dalam wujud Kresna. Burisrawa menjadi Arjuna, Jayadrata menjadi Gathotkaca. Mereka bertiga ditugaskan mencuri Sumbadra ke Madukara.
Sumbadra dan Srikandhi bersiap-siap akan ke Ngamarta. Tiba-tiba Kresna palsu datang, Sumbadra diajak ke Ngamarta bersama-sama. Sumbadra menurut, lalu pergi bersama Kresna palsu. Abimanyu merasa tidak enak, lalu minta persetujuan kepada Srikandhi, untuk mengikuti Kresna palsu dan Sumbadra.
Kresna palsu telah tiba di luar istana, Sumbadara diserahkan kepada Arjuna palsu. Arjuna palsu dan Gathotkaca palsu disuruh kembali ke Ngastina. Abimanyu dan Srikandhi menemui Kresna palsu di luar istana. Srikandhi meminta kepada Kresna palsu agar Sumbadara dikembalikan. Kresna palsu tidak mengijinkan, lalu terjadi perselisihan. Kresna palsu dipanah oleh Srikandhi dan berubah menjadi Adipati Karna. Adipati Karna membalas dengan melepaskan panah angin, Srikandhi dan Abimanyu terbawa panah angin dan tiba di Dwarawati.
Arjuna asli bersama panakawan berjalan di tengah hutan. Raksasa Kalarudra dan isteri mencegat Arjuna dan Panakawan, dan tidak memberi ijin Arjuna lewat. Terjadilah perkelahian seru. Arjuna melepaskan panah. Kalarudra dan isteri berubah menjadi Bathara Kamajaya dan Dewi Ratih. Arjuna memberi hormat lalu disuruh kembali ke Madukara. Kamajaya kembali ke Kahyangan bersama Ratih. Yudhisthira kedatangan Kresna asli. Kresna memberitahu rencana pendirian candi Saptaarga. Arjuna singgah di Ngamarta dan akan ke Madukara. Mereka membicarakan laporan Abimanyu tentang Sumbadra. Kresna asli dan Arjuna asli pergi ke Madukara.
Kresna mencari akal untuk mengelabuhi Korawa. Gathotkaca diubah dalam wujud Duryodana, Arjuna menjadi Sakuni, Kresna menjadi Pendeta Durna. Bima diminta bersiap-siap di luar kerajaan Ngastina. Kresna telah mencipta kerajaan Ngastina. Arjuna palsu dan Sumbadra masuk di kerajaan Ngastina palsu. Durna palsu menerima Sumbadra, Arjuna palsu disuruh ke Mandura mengundang Baladewa. Prabu Baladewa diminta untuk mengawal pengantin. Durna palsu minta agar Duryodana palsu masuk ke istana Ngastina asli, mencuri Banowati dan Dursilawati. Duryodana palsu berangkat ke Ngastina. Sakuni palsu berubah menjadi Arjuna asli, Pendeta Durna menjadi Kresna asli. Duryodana asli ke istana, mengajak Banowati dan Dursilawati pergi ke Mandura. Banowati dan Dursilawati diajak ke Ngastina palsu.
Duryodana asli menerima kedatangan Adipati Karna. Adipati memberi penjelasan hasil yang dicapainya. Prabu Baladewa datang, dan menanyakan rencana perkawinan Burisrawa. Duryodana tercengang, karena tidak merasa suruhan untuk mengundang Prabu Baladewa. Lesmanamandrakumara datang, memberi tahu, bahwa Banowati dan Dursilawati hilang dari istana. Duryodana kebingungan, para Korawa disuruh mencarinya.
Baladewa dan Adipati Karna meninggalkan Ngastina, hendak menyerang Madukara. Kresna dan para Pandhawa telah siap di Madukara. Banowati, Dursilawati dan Burisrawa ditahannya. Pandhawa tidak memberikannya, meskipun Baladewa yang meminta untuk dibebaskannya. Terjadilah pertempuran dahsyat. Adipati Karna dan para Korawa melawan Pandhawa dan putra-putranya. Korawa tercerai-berai oleh amukan Bima dan Gathotkaca, mereka kembali ke Ngastina. Arjuna dan Sumbadra menghadap Baladewa, mereka berdua minta dibunuhnya. Baladewa menjadi kasihan menerima kedatangan adiknya. Ia tidak marah lagi, tetapi minta agar Pandhawa melepaskan Banowati, Dursilawati dan Burisrawa. Pandhawa mau melepaskan semua tahanan dengan perjanjian Korawa tidak akan mengganggu para Pandhawa lagi.
(Keluarga Pandhawa dan Dwarawati mengadakan pesta keselamatan di Madukara)
Imajiner Nuswantoro


