Asal Mulanya Wayang Kulit "Kajian Centhini (132:23-26)"

0

 Asal Mulanya Wayang Kulit

"Kajian Centhini (132:23-26)"



Imajiner Nuswantoro




Prolog


Di kompleks pemakaman masjid Demak ada sebuah nisan yang amat panjang. Panjangnya ada sekitar 12 meter. Yang menarik makam itu konon adalah makam dari Prabu Darmakusuma, Raja dari kerajaan Amarta. Kerajaan Amarta adalah kerajaan di dunia pewayangan. Bagaimana mungkin seorang raja dari dunia wayang mempunyai makam secara fisik di masjid Demak? Banyak orang bertanya-tanya tentang kisah makam itu. Kajian Sastra Klasik kali ini akan mengkaji serat yang memuat cerita itu, yakni Serat Centhini pada Pupuh ke-132 dan seterusnya. Semoga kajian ini membawa manfaat untuk yang membutuhkan.


 

Pandawa Muksa


Pupuh 132 Asmaradana (metrum: : 8i, 8a, 8e/8o, 8a, 7a, 8u, 8a), bait ke-23 sampai bait ke-26, Serat Centhini:


Cariyosipun sang Aji, Ngamarta Sri Darmawangsa, paranbaya darunane, dene sumare ing Dêmak, kubur kalangkung panjang. Kyai Rasika lingnya rum, kabar makatên purwanya.


Nalikanira ing nguni, mekrading natèng Pandhawa, mawi srana pêjah obong. Yudhisthira Sri Ngamarta, Rahadèn Wrêkudara, Janaka myang arinipun, kalih Nangkula Sadewa.


Nênêm garwanya Sang Aji, Yudhisthira ing Ngamarta, Dyah Drupadi jujuluke. Kasapta Wara Sumbadra, dayitèng Dananjaya, Dyah Kunthi kawolunipun, kang ibu katri Pandhawa.


Criyos padhalangan ringgit, ginêrba wus samya pêjah, amung satunggal kang dèrèng, (ng)gih punika Darmawangsa. Muksanya mring kaendran, dalah ing saraganipun, praptane ing Suralaya.


 

Kajian per kata:

Cariyosipun (ceritanya) sang (sang)Aji (raja), Ngamarta (Amarta) Sri Darmawangsa (Sri Darmawangsa), paranbaya (bagaimana) darunane (sebabnya), dene (adapun, sampai) sumare (dimakamkan) ing (di) Dêmak (Demak), kubur (dengan kubur) kalangkung (sangat) panjang (panjang). Ceritanya Sang Raja Amarta Sri Darmawangsa, bagaimana sebabnya sampai dimakamkan di Demak dengan kubur yang sangat panjang.


Di kompleks masjid Demak yang letaknya di belakang masjid, ada sebuah makam dengan nisan yang sangat panjang. Tertulis di nisan itu nama yang dikubur adalah Prabu Darmakusuma. Itu adalah nama lain dari Prabu Puntadewa, atau Sri Darmawangsa, atau Darmaputra. Beliau adalah raja Amarta di cerita pewayangan purwa. Mengapa sampai ada makam Prabu Darmakusuma di kompleks masjid Demak? Bagaimana ceritanya?


Kyai Rasika (Kyai Rasika) lingnya (berkata) rum (harum, manis), kabar (berita) makatên (seperti itu) purwanya (asal mulanya). Kyai Rasika berkata manis, “Kabar seperti itu asal mulanya (begini)!”


Kyai Rasika adalah tokoh dalam Serat Centhini yang menjadi juru kunci makam Tegalarum. Beliau ditanya sejumlah orang pada saat ngobrol, bagaimana awal mulanya makam Prabu Darmakusuma ada di kompleks masjid Demak. Demikian penuturannya:


Nalikanira (ketika itu) ing (di) nguni (zaman dulu), mekrading (kembalinya ke surga) natèng (raja para) Pandhawa (Pandawa), mawi (dengan) srana (sarana) pêjah obong (membakar diri). Ketika itu di zaman dahulu, kembalinya ke surga raja Pandawa, dengan sarana membakar diri.


Mekrad berasal dari kata mi’raj dalam bahasa Arab, yakni peristiwa naiknya Nabi Muhammad ke langit. Dalam kata serapan mekrad artinya naik ke kahyangan, tempat di mana ada surga dan neraka. Cara mereka naik ke surga adalah dengan membakar diri. Ini adalah tatacara bagi agama mereka. Kita tidak perlu memberi komentar yang tidak relevan. Cukup diketahui bahwa cara mereka naik ke surga adalah demikian.


Yudhisthira (Yudistira) Sri (Raja) Ngamarta (Amarta), Rahadèn (Raden) Wrêkudara (Werkudara), Janaka (Janaka) myang (dan) arinipun (adiknya), kalih (dua) Nangkula (Nakula) Sadewa (Sadewa). Yudistira Raja Amarta, Raden Werkudara, Janaka dan adiknya, berdua Nakula dan Sadewa.


Yang melakukan itu adalah kelima Pandawa. Yudistira sang Raja Amarta, Raden Werkudara atau Bima, Raden Janaka atau Arjuna, beserta si kembar Nakula dan Sadewa. Mereka berlima melakukan ritual membakar diri. Namun masih ada beberapa perempuan yang menyertai mereka.


Nênêm (keenam) garwanya (istri dari) Sang (Sang) Aji (Raja), Yudhisthira (Yudistira) ing (di) Ngamarta (Amarta), Dyah Drupadi (Dyah Drupadi) jujuluke (namanya, panggilannya). Keenam adalah istri dari Sang Raja, Yudistira di Amarta, Dyah Drupadi namanya.


Drupadi adalah istri dari Raja Amarta Yudistira. Ini adalah versi pewayangan Jawa (Wayang Purwa). Sedang menurut versi Mahabarata India, Drupadi adalah istri dari kelima Pandawa.


Kasapta (ketujuh) Wara Sumbadra (Wara Sumbadra), dayitèng (istri dari, kekasih) Dananjaya (Arjuna), Dyah Kunthi (Dyah Kunti) kawolunipun (yang kedelapan), kang ibu (yakni ibu) katri (tiga) Pandhawa (Pandawa). Ketujuh Wara Sumbadra, istri dari Arjuna, Dyah Kunti yang kedelapan, yakni ibu dari tiga Pandawa.


Menyertai kelima Pandawa yang membakar diri tadi ada lagi tiga perempuan. Orang yang keenam adalah Dyah Drupadi, yang telah disebut di atas. Yang ketujuh adalah Wara Sumbadra, isti dari Arjuna. Kata dayita artinya kekasih pilihan. Arjuna sendiri beristri banyak, tetapi yang dibawa serta dalam ritual membakar diri menuju surga hanya Wara Sumbadra. Karena istrinya yang ini memang sangat disayang dan merupakan wanita pilihan. Dia adalah adik perempuan dari Sri Batara Kresna, Rada Dwarawati yang amat kesohor di dunia wayang.


Criyos (cerita) padhalangan (pewayangan) ringgit (wayang), ginêrba (diringkas) wus (sudah) samya pêjah (mati semua), amung (hanya) satunggal (satu) kang (yang) dèrèng (belum), (ng)gih punika (yaitu) Darmawangsa (Darmawangsa, Puntadewa). Cerita dalam pewayangan, ringkasnya mereka semua sudah mati, hanya satu yang belum, yakni Darmawangsa (Puntadewa).


Ritual bakar diri tadi berjalan sukses. Semua yang ikut serta berhasil mencapai tujuannya, yakni naik ke surga dengan meninggalkan jasadnya yang terbakar. Hanya satu yang tubuhnya tidak terbakar. Meski demikian dia tetap bisa naik ke langit. Dia adalah Darmawangsa alias Puntadewa.


Muksanya (matinya) mring (menuju) kaendran (kahyangan), dalah (besera) ing (pada) saraganipun (jasadnya), praptane (sesampailah) ing (di) Suralaya (Suralaya). Matinya menuju kahyangan, beserta jasadnya, sampailah dia di Suralaya.


Muksa adalah cara mati dengan lenyap beserta raganya. Kematian ini menurut kepercayaan dalam dunia pewayangan (karena yang diceritakan ini adalah dunia pewayangan) adalah cara kematian yang sempurna. Hanya orang yang telah mencapai tingkat sempurna dalam kehidupan dunia saja yang berhasil mati dengan cara muksa. Kaendran adalah istana (di kahyangan) yang ditempati Batara Enda. Tempat ini juga disebut surga. Sedangkan Suralaya adalah dunia tempat tinggal dewata. Kaendran hanyalah salah satu tempat di Suralaya.


Jika Darmawangsa sudah mencapai Kaendran dengan membawa serta jasadnya bagaimana mungkin makamnya ada di Demak ?




Imajiner Nuswantoro 



Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)