ADJI SASTRAJENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU

0

 ADJI SASTRAJENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU 



Imajiner Nuswantoro



Adji Sasto Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu dalam jagat pewayangan merupakan ilmu tinggi yang mempunyai arti : 

- Adji = Linuwih/Luhur, 

- Sastra = Tulisan, 

- Jendra = Dewa Agung (Tuhan), 

- Hayuningrat = Ketentraman dunia, 

- Pangruwating Diyu = Menghilangkan keburukan/kebodohan. 

Jadi makna kaprahnya ialah "Ilmu luhur dari Tuhan untuk ketentraman dunia yang menghilangkan keburukan, sifat-sifat angkara, kebodohan (Diyu=Buto=Buta)" 


Dalam babad Lokapala lebih tua dari Ramayana sekitar Tahun 700 SM, Ilmu ini pernah diturunkan ke dunia diberikan kepada seseorang yang tinggi derajat spiritualnya yaitu Prabu Wisrawa seorang Raja di negeri Lokapala.

Babad Lokapala adalah karya sastra klasik Jawa berbentuk tembang macapat yang dikarang oleh R. Ng. Sindusastra pada masa Kasunanan Surakarta. 


Isi Cerita

- Kerajaan Lokapala: Dipimpin oleh Prabu Danaraja (Danapati). 

- Tokoh Utama: Melibatkan kisah Resi Wisrawa, Prabu Danaraja, dan Prabu Arjuna Sasrabahu dari Negeri Maespati. 

- Konflik: Berisi perebutan kekuasaan, intrik keluarga, dan hubungan antara tokoh-tokoh besar dalam wiracarita pewayangan (Arjuna Sasrabahu vs Rahwana/Rawana di latar belakang awal).

- Sumber: Cerita ini merupakan bagian dari lakon carangan atau pakem pewayangan Jawa gaya Surakarta yang bersumber dari wiracarita Ramayana dan Mahabharata



Melalui perantara para dewa yaitu Shang Hyang Kaneka Putra (Naradha) memberi tahu kepada Prabu Wisrawa, bahwa ilmu ini sangat rahasia sifatnya bahkan para dewa sekalipun tidak diperkenankan mempelajarinya. Oleh karenanya akan turun langsung kepada Resi Wisrawa pada waktunya dan tidak boleh disampaikan kepada siapapun, karena untuk digelar didunia masih ribuan tahun yang akan datang. Singkat cerita turunlah Adji Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu berupa cahaya gemilang yang masuk kedalam sanubari Resi Wisrawa......Ilmu ini menimbulkan pengalaman bathin yang menggoncangkan rasa diri pribadinya, banyak hal yang aneh diterimanya tetapi itu semua membuat tenteram rasa bathinnya.   


Oleh karena nikmat bathin yang dirasakannya, Prabu Wisrawa merasakan nikmat duniawi sudah tidak memberikan kepuasan lagi baginya semuanya menjadi hambar sehingga ia kemudian memutuskan untuk meninggalkan tahta Kerajaan Lokapala dan menyerahkan tahtanya kepada putranya R. Danaraja menjadi Pandhito (Begawan, Resi di Pertapan Argo Jembangan). 

Persoalan yang muncul di negeri Lokapala selanjutnya adalah Prabu Donorojo menghadapi protes para abdi dalem karena Prabu Danaraja belum mempunyai pendamping (isteri) berdasarkan kepercayaan rakyat Lokapala seorang raja yang belum mempunyai isteri panas perbawanya.. (kurang serius mengurus negara). Selanjutnya Prabu Donorojo menghadap ayahandanya di pertapan Argo Jembangan menyampaikan keinginannya mempunyai seorang permaisuri, dara cantik yang dipilih adalah seorang puteri dari negeri Alengka bernama Dewi Sukesi putri Prabu Sumalirojo. Namun tidak mudah mendapatkan Dewi Sukesi yang cantik jelita, karena Dewi Sukesi mempunyai persyaratan barang siapa yang bisa mbabar Adji Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu maka ia akan menjadi suaminya....Memenuhi istilah "Anak polah Bopo Kepradah" Resi Wisrawapun menyanggupi permintaan putranya untuk melamar Dewi Sukesi yang kebetulan putri sahabatnya..


Di negeri Alengka Prabu Sumali (Raja Raksasa) sedang bingung memikirkan banyaknya lamaran dari para raja seribu negara yang menginginkan Dewi Sukesi, namun tak seorangpun diterimanya, karena tidak ada yang mampu  mbabar Adji Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Selain itu itu juga keponakannya Kesatria Argolubang R. Jambumangli menggelar sayembara perang tanding dengan taruhan barang siapa yang mampu mengalahkannya dialah yang berhak memperisteri Dewi Sukesi.

Jambumangli seorang Raksasa Sakti yang sulit dicari tandingannya, maka yang terpikir oleh Prabu Sumali putrinya akan menjadi perawan tua.

Tiba-tiba datanglah Resi Wisrawa sahabatnya untuk melamar putrinya, gembiralah hati Sang Prabu Sumali, namun dengan perasaan yang masghul sang Prabu menyampaikan syarat yang diminta putrinya kepada Resi Wisrawa.


Prabu Sumali: Apakah Kakang Resi mampu mbabar Ilmu Adji Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu..?


Resi Wisrawa: Dinda Ilmu itu ada didalam sanubariku........


Prabu Sumali: Seperti apakah Ilmu itu kakang?


Resi Wisrawa: Ilmu itu yang mampu mengubah sifat-sifat Diyu menjadi sifat manusia mahluk yang sempurna, yang ditakdirkan Sang Pencipta menjadi pemimpin dimuka bumi ini dinda...


Prabu Sumali: Wah......Kalau begitu hebat sekali....Kakang bolehkah aku mengetahuinya terlebih dahulu sebelum putriku Sukesi...?


Resi Wisrawa: Baiklah dinda, tetapi marilah kita cari tempat yang sepi karena ilmu ini tidak boleh didengar siapapun kecuali dinda dan aku...


Prabu Sumali: Oh begitu kakang, marilah kita masuk kedalam Kedathon disana ada ruangan Pamujan (Kamar Ibadah) yang selalu kosong....


Resi Wisrawa Baiklah dinda, aku mengikutimu saja


(Pembicaraan Prabu Sumali dan Resi Wisrawa di bangsal keraton didengar oleh putranya R.Sukesa kakak Dewi Sukesi, pemuda yang tampan calon raja Alengka, dia merasa penasaran dengan pembicaraan ayahnya dan tamunya, lalu dia berniat mengintip apa yang dilakukan Resi Wisrawa kepada Ayahnya )


Didalam ruangan pamujan Resi Wisrawa dan Prabu Sumali duduk berhadapan, Resi Wisrawa menjelaskan tentang Ketuhanan, Sang Pencipta dengan segala kekuasaannya dan bagaimana cara berhubungan antara manusia dengan Tuhannya.....Cerita Resi Wisrawa mengalir dengan alur yang indah membuat suasana menjadi Hening, Heneng dan.........tiba-tiba tergetarlah rasa diri Prabu Sumali menerima kenyataan daya hidup yang ada didalam dirinya yang menjelma menjadi gerak, gerak, gerak tak beraturan....,senandung pujianpun keluar dari mulutnya....ALLAH, ALLAH, ALLAH............... DAN BERUBAHLAH WUJUD PRABU SUMALI DARI SEORANG RAKSHASA MENJADI MANUSIA.............YANG BERWAJAH TAMPAN, SUSILA ANORAGA, BERBUDI BOWO LAKSANA........Itulah Adji Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu telah merasuk didalam sanubari Prabu Sumalirojo. Kegembiraan Prabu Sumalirojo tak terhingga dengan memeluk sahabatnya Resi Wisrawa menangis haru penuh suka cita, Tidak demikian dengan putanya R. Sukesa yang mengintip melalui lobang pintu sanggar pamujan melihat ayahnya bergerak-gerak tidak beraturan, dirinya pun demikian DAN BERUBAHLAH WUJUDNYA DARI YANG SEMULA TAMPAN MENJADI RAKHSASA YANG MENYERAMKAN.....

MENGAPA DEMIKIAN ?.........

DUH NASIB SUKESA....


Singkat cerita akhirnya Resi Wisrawa bertemu dengan Dewi Sukesi didalam ruangan pamujan berdua saja........

Desuai dengan permintaan Dewi Sukesi, Sang Resi pun menjelaskan tentang Adji Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu dengan tutur bahasa yang halus mengalir dari sanubarinya........

Dewi Sukesi terkagum-kagum dengan Sang Resi paruh baya itu, meskipun rambutnya sebagian mulai memutih namun ketampanannya masih terlihat........ehm....sesekali Dewi Sukesi pun menyela dengan pertanyaan yang cerdas.....Resi Wisrawa pun memuji dalam hati....wah selain cantik pintar juga anak ini, cocok dengan putraku Donorojo.....dialog pun bersambung, lama-lama mereka berdua menjadi akrab dan ewuh pakewuhpun sedikit-sedikit menghilang.....sesekali Sang Dewi pun tersenyum sambil mengerlingkan matanya yang elok......Deg, deg, seerr Resi Wisrawa (Dalam hatinya wah boleh juga mojang geulis....ea...kalau bukan calon menantuku tentu cocok juga denganku.........mulailah terselip daya rendah pada mereka berdua) Sampailah pada waktunya setelah uraian dirasa cukup........kemudian Resi Wisrawa mengajak berdiri menenangkan rasa diri......Hening, Heneng........tergetarlah rasa diri keduanya.....gerak, gerak, gerak............tiba-tiba tubuh Dewi Sukesi diselimuti cahaya kemilau........gerak.........nampak menjadi sangat cuaaaaaaantik jelita....anginpun berhembus seperti mengikuti gerak Dewi Sukesi......tersingkaplah kain penutup tubuh......nya yang molek......(sensor) Resi Wisrawa............Oh........oh.........Dewi Sukesi pun melihat Resi Wisrawa bagaikan berubah menjadi Dewa Indra.........yang tampan......yang melambaikan tangannya.......agar ia mendekatinya.....Khilaf, lupa.......dst. Selanjutnya Resi Wisrawa pun menikahi Dewi Sukesi, dia melupakan tentang kewajibanya sebagai utusan putranya Prabu Donorojo, dia melupakan pesan dari Shang Hyang Naradha untuk tidak menyebarkan Adji Sastra Jendra......kepada orang lain....


Jambu Mangli...mendengar bahwa Dewi Sukesi telah dinikahi oleh Resi Wisrawa marah besar, mengamuk, mengobrak abrik Kedhaton Alengka sambil berteriak-teriak menantang perang tanding Resi Wisrawa....Dan....terjadilah perang tanding keduanya, Resi Wisrawa yang sakti dan berpengalaman meladeni kekuatan Jambu Mangli dengan perasaan yang merendahkan dan sombong, dilepaskanlah panah saktinya.........putus tangan kiri Jambu Mangli, dilepaskan lagi panahnya putus tangan kanan dan terus dilepaskan panahnya hingga kedua kaki Jambu Mangli putus.......terakhir dilepaskan panahnya dan menancap didada Jambu Mangli tewas...........seketika........Sukma Jambu Mangli lepas dari raganya.......sambil berujar....He...Wisrawa...engkau seorang Brahmana.....tentu tahu aturan perang tanding.......apa yang engkau lakukan kepadaku nanti pada saat perang besar Bangsa Alengka dengan Bangsa Kera salah satu anakmu akan menerima kematian seperti...ku...Itulah pembalasanku Wisrawa........


Nafsuuuu, nafsu........ dan terus larut didalam Asmara yang menggelora antara Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi beberapa bulan kemudian Dewi Sukesi melahirkan putra pertamanya RAHWANA Rakhsasa bertubuh besar,  berkulit kemerahan, berkepala sepuluh, kasar, dan bengis.....pembuat onar, huru-hara dan kekacauan. dunia...dilanjutkan kemudian putra keduanya pun lahir KUMBA KARNA, Rakhsasa besar, berkulit hitam, bertelinga lebar, doyan makan dan tidur......disusul kelahiran putrinya yang ketiga SARPA KENAKA Rakhseksi gemar bersolek berwajah kuning, hanya memuaskan nafsu birahinya (suaminya 9). 

Sampai pada putrinya yang ketiga baru tersadarlah Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi bahwa apa yang diterimanya merupakan buah dari perbuatannya yang menyimpang dari jalur SUSILA, kemudian keduanya Bertaubatan Nasuha, memohon ampun kepada Sang Khalik pencipta Jagat Raya.........., membersihkan rasa diri dalam hening dan eling. Tuhan pun akhirnya mengampuni.....dosa-dosa keduanya, lalu keduanya melakukan ASMARAGAMA memohon kepada Sang Pencipta agar dikaruniani putra yang sholeh....yang tertanam disanubarinya Adji Sastra Jendra Hayuningrat............lahirlah putra keempat GUNAWAN WIBISANA berbeda dengan saudaranya meskipun berdarah Rakhsasa Gunawan berwujud manusia yang halus budinya, lemah lembut tutur katanya, SUSILA, BERBUDI dan MENJALANKAN DHARMA SUCI.......

Dikemudian hari Gunawan bersatu dengan Prabu Rama Widjaya melawan Angkara yang bersumber di pribadi kakaknya RAHWANA...........dan duniapun menjadi tentram....

SURO DIRO JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI




Reposting by Imajiner Nuswantoro 

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)