TASAWUF MALAMATIYAH

0

  TASAWUF MALAMATIYAH



POINT Consultant



Malamatiyah adalah jalan tasawuf yang sengaja menyembunyikan amal kebaikan dan membiarkan diri dicela, dengan tokoh utama Syaikh Hamdun al-Qashar demi melawan rasa sombong. 


Konsep Dasar :

1. Menyembunyikan Amal: Menutup rapat hubungan pribadi dengan Tuhan agar tidak dilihat orang lain.

2. Mencela Diri Sendiri: Merasa diri selalu salah dan tidak punya kebaikan di hadapan Allah.

3. Menghindari Pujian: Lebih suka dihina orang agar hati bersih dari sifat riya atau pamer. 


Tujuan Utama :

1. Lawan Ego: Berjuang keras menundukkan nafsu supaya tidak merasa suci atau paling benar.

2. Ikhlas Murni: Menjaga niat agar ibadah hanya untuk Allah tanpa peduli penilaian manusia. 



Malamatiyah adalah ajaran tasawuf awal dari abad ke-3 Hijriah di Khurasan yang didirikan oleh Hamdun al-Qashshar. Pengikut ajaran ini sengaja menyembunyikan amal baik dan tidak suka dipuji. Mereka bahkan tidak peduli jika dicaci atau difitnah orang lain agar terhindar dari sifat ria. 


Hal Utama Ajaran Malamatiyah

- Berasal dari kata malamah yang berarti celaan atau tuduhan buruk.

- Menutupi ibadah dan amal saleh dari pandangan banyak orang.

- Tidak mencari pujian dan ikhlas saat menerima kritik atau hinaan.

- Fokus membersihkan hati dari sifat sombong, ria, dan ujub.


Ketika banyak orang tergila-gila dengan pujian, sejatinya ada orang-orang yang menikmati celaan. Itulah ajaran malamatiyah, penempuh ‘jalan pencelaan’ yang disebarkan oleh Syaikh Hamdun al-Qashar. Malamatiyah menekankan penempuhnya (salikin) agar tidak merasa suci dan benar. Malamatiyah justru fokus menyalahkan diri sendiri, dan tidak menyalahkan orang lain.

Sungguh berkebalikan dengan praktik keberagamaan dewasa ini yang suka menyesatkan orang lain dan menganggap diri terbaik. Ketika sufi malamatiyah dihina dan dicaci-maki, justru mereka menyambutnya dengan setangkai senyuman. Dalam batas tertentu, bahkan mereka enggan memamerkan ibadahnya, takut tergelincir riya’.

Namun perlu digaris bawahi, bahwa mengamalkan malamatiyah tidak boleh sembarangan. Yang namanya bertarekat tentu butuh bimbingan mursyid, tetap berlandaskan syari’at yang benar. Malamatiyah bukan berarti memberikan justifikasi untuk berbuat dosa, lalu meninggalkan ibadah secara vulgar. Malamatiyah agak ‘nyerempet bahaya’ jika gagal paham. Esensi dari malamatiyah itu berjihad melawan egosentris. Outputnya adalah tidak mudah tersinggung, jauh dari iri hati, dengki, marah, sombong, tidak menyakiti orang lain, dan cinta damai. Esensi lebih diutamakan daripada simbol. 


Karena begitu susahnya menahan nafsu riya’/pamer, dalam sejarah tasawuf sampai-sampai lahir kelompok malamatiyah. Mereka menampilkan diri sebagai orang yang tidak memiliki keutamaan, bahkan memberikan kesan buruk, supaya tertutup semua ruang bagi mereka untuk pamer suatu sifat buruk yang berisiko membuat mereka menjadi munafik. Mereka sampai menolak untuk menampilkan sikap zuhud karena berisiko menjebak diri mereka untuk ingin dilihat sebagai orang baik yang telah bisa menundukkan nafsunya.

Istilah malamatiyah berasal dari kata malamah yang bermakna tuduhan buruk. Begitu sentralnya upaya menundukkan nafsu pamer ini dalam gerakan-gerakan keruhaniahan masih di awal-awal sejarah Islam ini sehingga pernah ada masa yang di dalamnya istilah malamatiyah diidentikkan dengan tasawuf itu sendiri. Bukankah tasawuf bermakna “penyucian” hati. Dan bukankah sumber semua kekotoran hati itu adalah kesombongan, yang darinya bisa lahir ‘ujub, sum’ah, riya’, dan sejenisnya. Termasuk terperangkap sifat ghurur, yakni tertipu oleh kebaikan diri sehingga kebaikan itu justru bisa berakibat burtuk bagi kita. Karena susahnya perjuangan menaklukkan nafsu tampil baik inilah, maka sebagian sufi memilih sekalian menampilkan kesan buruk atas diri mereka itu meski dengan demikian mereka tak bisa dijadikan panutan. Pikir mereka, dari pada bisa memandu orang tapi berisiko terjebak kemunafikan, biarlah orang melihat mereka sebagai orang buruk dan menjauh dari mereka, tapi dengan demikian mereka bisa lebih terjamin terbebas dari kemunafikan. Fenomena malamatiyah ini kalau pun kita anggap terlalu ekstrem bisa memberi pelajaran kepada kita tentang susahnya menjadi orang baik yang hatinya bersih. Setidaknya menurut pandangan tasawuf.


Malamatiyah secara bahasa artinya seuatu yang bersifat caci maki atau dicaci maki. Dalam Tashawwuf, Malamatiyah adalah perilaku shufi yang menyembunyikan kebaikannya dan yang tampak di mata awam adalah keburukannya sehingga menjadikan ia selalu menjadi sasaran celaan dan cemoohan orang lain. Para Malamatiyah ini lebih suka dicela dari pada dipuji dan lebih suka dihina dari pada dibela. Tujuannya adalah agar bisa mengukuhkan keikhlasannya dalam hati dan terhindar dari hubbul jah (cinta pangkat kehormatan) dan takabbur (kesombongan). Sayid Muhammad bin Abdul Karim al Kasnazan al Husaini (Mursyid Thariqah Qadiriyah dari Iraq, lahir 1358 H/1938 M, beliau sekarang masih aktif) menjelaskan :


الْمَلاَمَتِيَّةُ ، وَهُمُ الَّذِيْنَ لَمْ يُظْهَرْ لِمَا فِي بَوَاطِنِهِمْ أَثَرٌ عَلَى ظَوَاهِرِهِمْ.

(موسوعة الكسنزان فيما اصطلح عليه أهل التصوف والعرفان للسيد محمد بن الشيخ عبد الكريم الكسنزان الحسيني (2/ 11))

Al Malamatiyah adalah mereka yang lahiriyahnya tidak terpengaruh dari ketinggian maqam yang batin mereka. (Mausu’ah al Kasnazan Fima Ishthalaha ‘Alaihi Ahl al-Tashawwuf wa al-‘Irfan karya Sayid Muhammad bin Abdul Karim al Kasnazan al Husaini, (2/ 11))


Meski keberadaan Wali Malamatiyah sendiri masih diperdebatkan di kalangan Ulama Shufi, tapi yang jelas Malamatiyah merupakan maqam tinggi, sulit dan istimewa di kalangan para wali. Sehingga dalam sejarah tashawwuf, disebutkan ada sekolompok ahli sesat dan ma’siat yang mendakwakan diri sebagai wali malamatiyah tapi tujuannya hanya untuk menutupi kesesatannya dan kema’siatannya. Maka dalam hal ini, al-Imam al-Suhrawardi memberikan penjelasan :


إِنَّ مِنْ أُصُولِ الْمَلاَمَتِيَّةِ : أَنَّ الذِّكْرَ عَلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ: ذِكْرٍ بِاللِّسَانِ، وَذِكْرٍ بِالْقَلْبِ، وَذِكْرٍ بِالسِّرِّ، وَذِكْرٍ بِالرُّوحِ. فَإِذَا صَحَّ ذِكْرُ الرُّوحِ سَكَتَ السِّرُّ وَالْقَلْبُ وَاللِّسَانُ عَنِ الذِّكْرِ، وَذَلِكَ ذِكْرُ الْمُشَاهَدَةِ. وَإِذَا صَحَّ ذِكْرُ السِّرِّ سَكَتَ الْقَلْبُ وَاللِّسَانُ عَنِ الذِّكْرِ، وَذَلِكَ ذِكْرُ الْهَيْبَةِ. وَإِذَا صَحَّ ذِكْرُ الْقَلْبِ فَتَرَ اللِّسَانُ عَنِ الذِّكْرِ، وَذَلِكَ ذِكْرُ اْلآلاَءِ وَالنَّعْمَاءِ. )كتاب عوارف المعارف للسهروردي (1/ 64)

“Sesungguhnya di antara pokok-pokok (amalan) Malamatiyah, sesungguhnya dzikir itu ada empat macam: dzikir lisan, dzikir qalbi, dzikir sirri dan dzikir ruh. Jika ruh sudah berdizikir, maka sirri, hati dan lisan diam dari dzikir, inilah yang disebut dzikir musyahadah. Jika sirri sudah dzikir, maka hati dan lisan diam dari dzikir, inilah yang disebut dzikir haibah. Dan jika hati sudah dzikir, maka lisan berhenti dari dzikir, inilah yang disebut dzikir karunia dan anugrah. (‘Awariful Ma’arif, karya al-Suhrawardi, (1/64).

Kitab Awarif al-Ma'arif (Puncak Pengetahuan Ahli Makrifat) karya Syekh Syihabuddin Umar al-Suhrawardi adalah salah satu rujukan klasik utama dalam ilmu tasawuf. Kitab Awarif al-Ma'arif, bisa dibaca di lampiran (**) artikel ini (PDF Free download) :


Tentang Kitab Awarif al-Ma'arif

- Membahas hakikat tasawuf, adab murid dan guru, serta tingkat makrifat.

- Menjadi panduan dasar spiritual dalam tarekat Suhrawardiyyah.

- Mengupas konsep pembersihan jiwa seperti khalwat dan mujahadah.



KETETAPAN MALAMATIYAH (Sabilus Salikin)

Ketetapan-ketetapan Malamatiyah adalah sebagai berikut :

- Tidak menampakkan dan tidak menyembunyikan kejelekan. Artinya, Sâlik Malâmatiyah melakukan sesuatu dengan ikhlâs, melaksanakan sesuatu dengan kesungguhan hati tidak suka menunjukkan amal (zhahir) dan hal (amal hati atau batin) kepada seseorang;

- Sâlik Malâmatiyah berpegang teguh pada keikhlâsan, mereka memandang bahwa menyembunyikan ahwal (keadaan hati/batin)merasa nikmat, jika sampai amal ahwal mereka terlihat oleh seseorang sehingga Sâlik merasa gelisah sebagaimana orang yang berbuat maksiat merasa gelisah karena kemaksiatannya diketahui orang;

- Sâlik Malâmatiyah lebih mengedepankan keikhlâsan, sementara para shufi menghilangkan keikhlâsan.


Abû Ya’qub al-Susi berkata: “Ketika Sâlik Malâmatiyah menemukan keikhlâsannya secara ikhlâs maka mereka butuh keikhlâsannya dengan ikhlâs”. Sebagian ‘Ulama’ berkata: “Ikhlâs yang benar adalah melupakan pandangan kepada makhluk dengan terus menerus memandang kepada Allah SWT yang haq, sementara Sâlik Malâmatiyah memandang makhluk sehingga dia menyamarkan amal dan halnya”.

Ja’far al-Khâlidi bertanya kepada Imâm Junaid (Baghdad, w. 297 H/910 M.) tentang perbedaan ikhlâs dan shiddiq. Imâm Junaid berkata: “Shiddiq adalah pokok dan permulaan, sementara ikhlâs adalah cabang dan yang mengikuti, keduanya juga memiliki perbedaan karena ikhlâs tidak akan muncul sebelum ada perbuatan”.

Imâm Junaid berkata : “Ikhlâs adalah kemurnian dan pemurnian, dimana kemurniannya terbentuk dalam proses pemurnian itu”. Keadaan Sâlik Malâmatiyah berupa keikhlâsan seperti ini, sedangkan proses pemurniannya merupakan keadaan para shufi dan kemurnian yang terbentuk dari proses itu merupakan hasil.


Sâlik Malâmatiyah menyembunyikan keadaan mereka untuk 2 hal:

1. Mewujudkan kejujuran dan keikhlâsannya;

2. Untuk menutupi keadaannya dari rasa cemburu orang lain.


Diceritakan dari Ibrâhîm bin Adham beliau berkata: “Aku sampai di suatu desa bersamaan hujan yang lebat, angin musim dingin mengenaiku, sehingga tambalan bajuku robek, kemudian aku sampai di masjid dan aku tidak diperkenankan masuk ke dalam masjid itu, aku mencoba masuk kedua dan ketiga kalinya sehingga aku lelah tak berdaya. Tiupan angin dingin hampir membinasakanku kemudian aku masuk ke pemandian, aku mengeringkan pakaianku di atas api, sampai-sampai asap api mengenai pakaian dan wajahku, keadaan itu sampai tengah malam”.

Ibrâhîm bin Adham adalah salah satu `ulama’ besar pada zamannya yang dalam perjalanannya kehujanan, beliau mencari tempat berteduh di masjid, dan oleh petugas masjid sampai tiga kali. Ibrâhîm bin Adham tidak marah dan mencari tempat lain untuk berteduh, (Kasyf al-Mahjûb, halaman: 264-265).



ZIKIR TAREKAT MALAMATIYYAH 

Dalam tarekat Malâmatiyah zikir dibagi menjadi 4 macam:

1. Zikir Lisan: dilaksanakan Sâlik dengan menggunakan lisan sementara hatinya lupa, Sâlik masih mengharapkan pahala atau ingin mencapai maqâm-maqâm tertentu dan ingin diterima di kalangan tertentu. Ini adalah zikir Sâlik umum;

2. Zikir Qalb (hati): setelah Sâlik bisa melaksanakan zikir lisan dengan baik, selanjutnya Sâlik menghentikan zikir lisan dan beRAlih melaksanakan zikir qalb (hati).

Sâlik pada tahap ini menghitung kenikmatan-kenikmatan yang diterima sementara dia lupa terhadap dzat pemberi nikmat, sibuk memperhatikan karunia lupa terhadap pemberi karunia, ingin mendapat pahala, merasa sudah mencapai maqâm-maqâm tertentu. Ini adalah bentuk terendah dari kedudukan terendah dan paling jauh. Munculnya keinginan batin yang memandang pada tujuan sebagai pertimbangan perwujudan awal;

3. Zikir Sirri: setelah Sâlik melaksanakan zikir lisan dan qalb lalu Sâlik menghentikan kedua zikir tersebut dan beRAlih melakukan zikir sirri.

Kendala yang ada pada zikir sirri adalah terpautnya pengaruh zikir qalb.

Zikir sirri adalah zikir keagungan, disebut juga Haibah atau zikir sifat, ini mulai diRasakan Sâlik sebagai pendekatan (Taqarrub). Zikir ini menimbulkan Rasa takut, tunduk dan khawatir. Timbulnya Rasa khawatir (Haibah), Rasa wujud dan ini kebalikan Fana’;

4. Zikir Ruh: setelah Sâlik bisa melaksanakan zikir lisan, qalb dan sirri lalu Sâlik menghentikan ketiga zikir tersebut dan berganti dengan zikir ruh. Kendala awal yang dialami oleh Sâlik pada zikir ruh adalah munculnya zikir sirri terhadap ruh. Ini adalah zikir musyahadah, (Majmû’ah al-RAsâil al-Imâm al-Ghazâli fi RAudhah al-Thalibîn, halaman: 104-105).

Secara muamalah tarekat Mulamatiyah menghilangkan kedudukan di dalam hati makhluk dengan cara melakukan sesuatu yang menjadi bahan makian makhluk sehingga hilanglah kedudukan Sâlik Malâmatiyah di dalam hati manusia. Sâlik Malâmatiyah memishakan diri dari kerumunan kehidupan manusia untuk dapat diterima di hadapan Allah SWT Merasa tenang dengan menyembunyikan jati diri dan ditolak oleh manusia umum dan diterima oleh Allah SWT.

Diceritakan bahwa sebagian para Raja bermaksud menemui ahli zuhud, ketika Raja itu sudah dekat, zâhid (orang zuhud) itu meminta makanan dan minuman yang banyak. Dia (zâhid) makan dengan suapan yang besar. Raja yang melihat tingkah zâhid tersebut lalu memalingkan wajah dan pergi. Sang zâhid berkata: ”Alhamdulillah segala puji bagi dzat yang telah memalingkanmu dariku”.

Untuk menghindari kemuliaan yang diberikan oleh Raja atau pemimpin negara, sebagian dari zâhid (bahkan) ada yang meminum-minuman halal yang dimasukkan ke dalam botol khamr (minuman keras). Sehingga para pejabat menyangka bahwa zâhid itu minum khamr, (Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn, juz 3, halaman: 255).



ASING DI BUMI, TERKENAL DI LANGIT 

Malamatiyyah adalah kaum sufi yang asing di bumi, namun terkenal di langit. Majhul fil ardhi ma’ruf fis-sama’ bukan masyhur fil ardhi majhul fis-sama’. Kaum Malamatiyyah sering tidak dianggap oleh manusia namun sangat dihormati oleh penduduk alam semesta. Wujudnya sering dianggap biasa, atau bahkan sering tidak dihormati dan dicela, akan tetapi keberadaannya sungguh bermakna.

Menurut Syekh Abu Hafsh an-Naisaburi, Malamatiyyah dimaknai sebagai sebuah kaum yang selalu mencela dan melawan nafsunya, menghabiskan hidupnya untuk Allah, selalu menjaga waktu dan rahasianya serta tidak pernah menampakkan kepada manusia kecuali yang buruk-buruk sembari menyimpan kebaikannya secara rapat-rapat di dalam dada dan hanya semata hidupnya untuk menggapai ridha dan derajat mulia di sisi Allah. (hlm. v, Malamatiyyah, Sahal Japara).  

Di dalam buku ini, kaum Malamatiyyah digambarkan pada sosok Sarno, orang gila yang berperawakan berambut panjang gimbal tak beraturan, wajahnya penuh kerut, tidak pernah mandi, dan banyak orang yang suka mencaci maki. Akan tetapi, meski sering dicaci maki dan dimarahi banyak orang, gaya khas senyum dan tawa selalu menghiasi kehidupannya sehari-hari. Bahkan tidak sedikit orang yang memberi uang kepadanya, sehingga menimbulkan banyak pengemis yang ada di sekitar makam menjadi iri, padahal sosok Sarno setiap harinya hidupnya hanya tertawa terus.

Meski begitu, banyak orang yang meyakini kalau Sarno itu membawa berkah bagi para pedagang yang berjualan di sekitar makam tersebut. Sehingga Sarno itu diaggap penting, oleh masyarakat sekitar. Dan ketika Sarno tiba-tiba menghilang entah kemana tanpa diketahui siapa pun,  maka mulailah sadar orang-orang yang setiap harinya mencaci maki merasa bersalah dan menyesal atas perbuatannya. Karena, sosok Sarno tidak lain adalah wali Allah dan setiap doanya selalu diijabahi.

Oleh karena itu, di antara hamba-hamba Allah yang sengaja menjelekkan diri di depan manusia untuk meninggalkan derajatnya di sisi Sang Pencipta. Suka menyembunyikan identitas, meng-ghuraba’, menjadi asing di bumi, namun sangat terkenal di langit. Namun, lebih suka menempuh jalan yang tidak lazim dan tidak khawatir kehilangan citra di mata manusia. Mereka lebih suka memendam diri serendah-rendahnya, untuk menumbuhkan pohon tinggi besar yang cabang dan buahnya menjulang ke langit. Dan mereka itulah sering disebut sebagai Malamatiyyah. (hlm. 20, Malamatiyyah, Sahal Japara)   

Buku kumpulan cerpen “Malamatiyyah” ini merupakan sebuah jendela kecil pembuka cerita-cerita yang tersimpan-pendam di pesantren, tentang kesunyian, persembunyian, ketulusan, pengabdian, serta kebijaksanaanyang mengurat nadi di tubuh pesantren.

Dalam kumpulan cerpen ini, rupa-rupanya penulis tidak hanya menulis cerita, melainkan juga menjadi agen sublimasi perenungan, dan oleh karena itu apa yang dituturkan dalam setiap kisahnya tidak pernah berakhir dalam tahap wacana. Jauh lebih utama buku ini membentuknya dalam suasana kesufian dengan cara menyenangkan dan tidak menggurui.


Berikut buku-buku lampiran relevan dengan judul artikel diatas :


1. SAIR AS SALIKIN

   


2. SABILUS SALIKIN

   


3. KEPRIBADIAN SANG WALI ALLAH

   


4. THE 'AWARIFUL MA'ARIF

   



By, Imajiner Nuswantoro 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)