MENDALAMI MANTRA AJIAN PAMELING

0

 MENDALAMI MANTRA AJIAN PAMELING



Imajiner Nuswantoro



Mantra : 

"BISMILLAHIR RAHMANIRAHIIM

HANG, ANARIK JURUNG PAMELING

MANJING ING RASA SEJATI

NIAT INGSUN MATEK AJI SI PAMELING

RASA PUTIH TALINING URIP

SUKMA PUTIH TALINING EMUT

ELINGA SAJRONING URIP

UNDANGAN……..(sebut namanya)

AUM BARBUAH SWAH"


Aksara Jawa :

ꦩꦤ꧀ꦠꦿ꧇

"ꦧꦶꦱ꧀ꦩꦶꦭ꧀ꦭꦲꦶꦂꦫꦃꦩꦤꦶꦫꦲꦶꦪꦶꦩ꧀

ꦲꦁ꧈ꦄꦤꦫꦶꦏ꧀ꦗꦸꦫꦸꦁꦥꦩꦺꦭꦶꦁ

ꦩꦚ꧀ꦗꦶꦁꦆꦁꦫꦱꦱꦼꦗꦠꦶ

ꦤꦶꦪꦠ꧀ꦆꦁꦱꦸꦤ꧀ꦩꦠꦺꦏ꧀ꦄꦗꦶꦱꦶꦥꦩꦺꦭꦶꦁ

ꦫꦱꦥꦸꦠꦶꦃꦠꦭꦶꦤꦶꦁꦈꦫꦶꦥ꧀

ꦱꦸꦏ꧀ꦩꦥꦸꦠꦶꦃꦠꦭꦶꦤꦶꦁꦄꦼꦩꦸꦠ꧀

ꦄꦼꦭꦶꦔꦱꦗꦿꦺꦴꦤꦶꦁꦈꦫꦶꦥ꧀

ꦈꦤ꧀ꦝꦔꦤ꧀……꧉꧉(ꦱꦼꦧꦸꦠ꧀ꦤꦩꦚ)

ꦎꦴꦩ꧀ꦧꦂꦧꦸꦮꦃꦱ꧀ꦮꦃ"


Tata Cara : puasa mutih selama 3 hari 3 malam.Makan nya setiap jam 12 malam dan puasanya itu dimulai pada hari rabu pon.Supaya berhasil sebelum menjalani puasa mutih haruslah mandi keramas yang bersih dahulu.

Mantra diatas yang cukup fenomenal dan menghebohkan ini adalah milik Resi Druwasa,

yang konon menurut warga carita bukan saja bisa mengundang seseorang,

tapi juga bisa di gunakan sebagai pelet ampuh.



SABDA PANGRUNGU

Dalam tradisi spiritual dan mistik Jawa (Kejawen), konsep yang paling mendekati "telepati" atau kemampuan berkomunikasi antar pikiran dari jarak jauh biasanya disebut dengan beberapa istilah khusus, tergantung pada tujuan dan cara kerjanya:

1. Aji Pameling

Ini adalah ajian atau ilmu supranatural yang paling sepadan dengan konsep telepati secara harfiah. Kata pameling berasal dari akar kata "eling" yang berarti ingat. Aji Pameling digunakan untuk memanggil, mengingatkan, atau mengirimkan pesan spesifik kepada seseorang dari jarak jauh murni melalui kekuatan batin dan konsentrasi pikiran. Orang yang menjadi target dari ajian ini biasanya akan tiba-tiba teringat kepada si pengirim pesan atau seolah-olah mendengar bisikan suara di dalam kepalanya.

2. Sambung Roso (Sambung Rasa)

Jika telepati sering dianggap sebagai komunikasi antar "otak", Sambung Roso adalah komunikasi antar "hati". Konsep ini merujuk pada terhubungnya getaran perasaan dan batin antara dua orang secara mendalam. Ketika tali roso (ikatan perasaan) sudah tersambung kuat, seseorang bisa langsung mengetahui isi hati, niat, atau bahaya yang sedang mengancam orang lain tanpa ada satu kata pun yang diucapkan. Ini sangat umum terjadi antara guru dan murid spiritual yang sudah sepemahaman.

3. Kontak Batin / Ilmu Batin

Secara lebih umum dalam keseharian, fenomena menangkap sinyal pikiran orang lain sering disebut sebagai "kontak batin". Ini melibatkan kepekaan mata batin (intuisi tingkat tinggi) untuk membaca energi atau frekuensi dari seseorang di sekitarnya.

4. Kewaskitaan

Meskipun istilah ini lebih sering diartikan sebagai clairvoyance (kemampuan melihat hal-hal gaib atau kejadian di masa depan), seseorang yang waskita (tajam batinnya) otomatis memiliki kepekaan telepati yang tinggi. Orang yang waskita bisa "membaca" pikiran atau niat seseorang hanya dengan menatap mata atau berdiam diri di dekatnya.

Dalam praktiknya, ilmu-ilmu ini tidak didapatkan secara instan, melainkan sering kali membutuhkan laku tirakat khusus seperti puasa mutih, puasa pati geni, atau semedi hening di malam hariuntuk menjernihkan hati dan menajamkan frekuensi batin.




TENTANG AJI PAMELING – WIRID MALADIHENING

Para nenek moyang dulu yang bijaksanan mengajarkan Aji Pameling atau Wirid Maladihening. Disebut aji pameling karena berasal dari akar kata eling, ingat atau dzikir. Disebut maladihening karena mengheningkanhati atau kalbu. Mengheningkan punya makna menyucikan, bahasa Jawanya ‘ambeningake’, menjernihkan maksudnya.

Dalam laku ‘eling’ atau dzikir bukan saja mulut mengucapkan lafal atau mantra tetapi lebih kepada ‘rasa’ ingat dan sekaligus penyaksian. Penyaksian antara dirinya, TuhanNya , nabinya dan perhubungan adintaranya. Diterangkan bahwa barang siapa yang ahli melakukan ini maka dia akan memperoleh kesaktian dan ‘kawicaksanan’ (kebijaksanaan hati) bahkan ‘weruh sadurunge winarak (tahu senbelum terjadi).

Sebenarnya bukan itu maksudnya. Yang dimaksud adalah bagi sesiapa yang mempunyai ilmu ini dan ikhlas melakukannya maka dia akan dekat dengan Tuhannya. Tentu saja jika sudah dekat dengan-Nya maka hidupnya akan diberkahi, segala masalahnya akan ditolong oleh-Nya. Dalam pemahaman leluhur  Jawa itu kemudian diistilahkan dengan ‘sakti’. Makna yang hakiki adalah ‘mendapat pertolongan-Nya’. Bukankah ada janji Allah bahwa barang siapa ingat Allah maka Diapun akan mengingat (memberikan rahmat dan pertolongan) kepadanya.


“BismIlahirrahmanirrahim

Melebu Allah,

Metu Allah,

Anekadaken urip iku Allah,

Utek dunungno kodrate Allah,

Ya Hu,

Allah Ya Hu,

Allah Ya Hu,

Allah,

Nabi Muhammad iku utusane Allah”.


Artinya :

“Dengan nama Allah Yang Maha berbelas kasihan serta amat penyayang. 

Masuk Allah, 

Keluar Allah, 

menyaksikan bahwa sejatinya Yang Maha Hidup itu Allah, 

wahai otak pahamilah  akan kodrat (kekuasaan) Allah, 

Wahai Dia Sang Dzat (Huwa), 

Allah Wahai Dzat (Huwa), 

Allah Wahai Dzat (Huwa), 

Allah 

Nabi Muhammad itu utusannya Allah.”


Perenungan dan penghayatannya kurang lebih demikian :

Bahwa masuk dan keluarnya nafas ini adalah kodrat Allah yang tidak bisa dicegah. selagi manusia ditentukan untuk hidup di dalam jasadnya di bumi ini. Itu ‘karya’ atau af’al Allah. Manusia hanya menerima dengan pasrah atas kekuasaan Allah yang meliputi dan ‘memegang’ nafas kita. Sehingga fikiran ini diajak patuh dan pasrah bersamaan dengan patuhnya nafas tanpa kecuali (totalitas). Sehingga dipahami bahwa hakekatnya Yang Hidup itu adalah Allah semata. Sedang manusia hanya duhidupkan, artinya hidup atas kemurahan Allah. Kemudian memanggil – manggil Nama-Nya dengan mesra. Juga Si Aku bersaksi bahwa nabi Muhammad itu Rasulullah.

Mengenai tata cara pelaksanannya sebenarnya relatif. Bisa dengan cara mengambil waktu yang hening. Malam hari di kala sunyi misalnya. Bersih (suci) badan dan tempat. Menghadap keblat sebagai tanga kebulatan tekad untuk menghadapNya. (Karena pada hakekatnya kemanapun kita menghadap maka disitu kita menghadap wajahNya).

Bisa juga diamalkan dalam keseharian kita. Bahkan itulah yang terbagus. Namun tentu saja yang terbaik lagi adalah jika wirid tersebut telah menyatu dalam diri kita sehingga berbuah dalam kehidupan kita sehari-hari. Seperti halnya peringatan Allah bahwa sesungguhnya sembahyang (sholat) itu bisa mencegah perbuatan keji dan munkar. Nah bukankah di dalam ritual sholat juga pada intinya dzikir atau ingat kepada Allah ? Di dalamnya juga ada penyaksian seorang hamba terhadap Tuhan dan nabinya. Nah wirid di atas adalah cara penghayatan terhadap ‘rasa’ ingat dan penyaksian tersebut.




AJIAN UNTUK MEMANGGIL SESEORANG DARI JARAK YANG SANGAT JAUH


Aji Pameling merupakan sebuah ilmu untuk memanggil seseorang yang jauh

Tanpa menggunakan alat, pengguna Aji Paneling dapat memanggil siapapun yang dikehendaki

Yang dipanggil akan mengetahui siapa yang menggunakan Aji Pameling

Dengan kesaktiannya yang dipanggil akan tiba tepat waktu didepan pemanggil

Pada cerita pewayangan, umumnya Aji Pameling digunakan oleh Prabu Kresna untuk memanggil Gatotkaca atau Anoman

Dimana Gatotkaca dan Anoman mempunyai kemampuan berpindah tempat dengan sangat cepat.



Imajiner Nuswantoro 



Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)