AJI PEMELING (Ilmu Keheningan Syekh Siti Jenar)

0

 AJI PEMELING 

(Ilmu Keheningan Syekh Siti Jenar)



Imajiner Nuswantoro


Maksud dan pengertian Semedi atau Laku Hening. Maksud dari aji adalah ratu/raja, pameleng adalah pasamaden (laku semedi, hening), memiliki pengharapan sebagai tanda keinginan yg paling luhur. Adapun jenis perbuatannya disebut dengan manekung, pujabrata, mesu budi, mesu cipta, mengheningkan, atau meluhurkan pandangan, matiraga dan sejenisnya.

Tempat yang digunakan untuk melaksanakan laku tersebut adalah panepen, penekung, sanggar pemujan, pamurcitan, pahoman, paheningan dan lain-lain. Sedangkan uraian pengetahuan disebut daiwan, dawan, tirta-amerta, tirtakamandhanu, tirtanirwala, mahosadi, kawasanan, kawaspadaan, kawicaksanaan, sastracetha, atau sastrajendrayuningrat pangriwating-diyu dan sebagainya.

Adapun kegunaan pengetahuan dan lelaku di atas, perlu digunakan sebagai sarana menyembah untuk mendapatkan kawilujengan (keselamatan disertai kesejahteraan, kedamaian, dan ketentraman), sebab dengan begitu dapat melaksanakan segala sesuatu perbuatan yang baik, ataupun sebagai sarana ketika kita memiliki keinginan mewujudkan anugerah hidup kita pribadi (Pangeran), juga meminta apapun yang lumrah bisa dilaksanakan sesuai dengan kemampuan kita melaksanakannya dengan tidak meninggalkan kehati-hatian.



ASAL MULA ILMU HENING

Adapun permulaan datangnya pengetahuan pasamaden di dunia ini, menurut tata bahasanya, banyak yang memakai bahasanya, banyak yang memakai bahasa sansekerta. Jadi dengan demikian, berarti mulanya pengetahuan pasamaden berasal dari kebijaksanaan bangsa Hindu pada zaman kuno, yang sudah tidak diketahui hitungan ribuan tahunnya. Kemungkinan saja tersebarnya pengetahuan (Kawruh) pasamaden bersamaan dengan ketika bangsa Hindu mulai membuat Candi-candi beserta arca-arcanya. Semula, pengetahuan itu hanya untuk bangsa Hindu (India) yang beragama apa saja, pasti ditentukan memakai dan menghayati pasamaden. Sebab hanya dengan pengetahuan pasamaden itulah yang menjadi permulaan pengetahuan semesta, dan juga menjadi pengajaran agama paling utama.

Lama-kelamaan, bangsa India dengan Hindunya menyebar sampai ke Tanah Jawa dan sebagainya, termasuk penyebaran agama beserta pengetahuan-pengetahuan yang lain, termasuk pengetahuan pasamaden. Kawruh pasamaden di Tanah Jawa dapat berkembang pesat, sebab orang Jawa tidak memandang derajad, sudah senang dan akrab dengan laku puruta (Pasamaden), dan dapat menerapkan pengolahan pengetahuan itu, sebab dengan kawruh itu dapat cocok dengan dasar-dasar batin dan rohani orang Jawa. Sehingga dengan mudah segera merasuk ke dalam tulang sumsum orang Jawa. Ditambah lagi bahwa kemudian banyak orang India dan Hindu yang menjadi Jawa menyebarkan ajaran agama dan pengetahuan olah rohani, serta ilmu kebijaksanaan (kawicaksanaan). Ibarat sekejapan mata, bangsa Jawa di semua pelosok memeluk agama Hindu, dan juga, dengan kawruh pasamaden dan kawicaksanan, sudah merasakan keberuntungan, kemuliaan, kebahagiaan, dan sebagainya, sebab dari buah pengetahuan lelaku hening tersebut.

Kemudian datanglah orang-orang bangsa Arab yang masuk di Pulau Jawa, yang membawa pengetahuan dan agama yang disiarkan Nabi Muhammad, yang disebut agama Islam, yang mengurangi pengaruh agama Hindu, disebabkan oleh bapaknya orang yang memeluk Islam. Hanya saja penyebaran agama Islam tidak membawa dan tidak mengandung ilmu pasamaden seperti yang disebutkan di atas.



MEMBUKA RAHASIA ILMU JAWA

(Bab Membuka Rahasia Ilmu Samadhi/Yoga Orang Jawa - Mengurai sedikit Ajaran Syech Sitijenar)

Mustika dari ilmu yang bisa menyebabkan keselamatan hidup, kebahagia an hidup, ketenangan hidup, dan lain sebagainya.

Penyunting : Pujo Prayitno

Tulisan berikut, terjemahan bebas bersumber daribBuku Serie Adamakna Jilid Angka : Sekawan,

Kawedalaken dening : Ny. Siti Woeryan Soemodiyah Noeradya, Penerbit : “SOEMODIDJODJO MAHA DEWA”

Ngayugyakarta Hadiningrat. Tahun : 1994.

Dari Bab Yang berjudul “Aji Pameleng”



Tata cara “Samadhi” (Yoga), disebut juga “AJI PAMELENG”; yang bermakna “Aji” = Ratu; “Pameleng” = Konsentrasi = Tapa – Bertapa - Samadhi, mengandung maksud, sebuah niat yang paling utama untuk bertapa atau Samadhi. Bertapa – Samadhi, disebut juga : Manekung, Tafakur, Pubarata, Mengendalikan Budi, mengendalikan cipta, menenangkan raga, yoga, dan sebagainya.

Tempat untuk menjalankan hal tersebut, dinamakan Pertapan, Pamurcitan, Pamursitan, dan lain sebagainya. Sedangkan teorinya disebut “Daiwan”, dawan, tirta amerta, tirta kamandhanu, tirta nirmala, mahosadi, kawasanan, kawaspadan, kawicaksanan, sastra cetha, ataupun Sastrajendrayuningrat Pengruwating Diyu, dan lain sebagainya.

Sedangkan manfaat ilmu Samadhi dan tindakan yang demikian, digunakan sebagai sarana menyempurnakan dalam menjalankan Ibadah, agar mendapatkan keselamatan hidup, sebab bisa sebagai sarana untuk bisa melakukan tindak laku utama dengan sempurna, dan juga bisa digunkan sebagai sarana ketika diri ada hajat keperluan yang sangat penting untuk memohon anugrah hidup kepada Tuhan Yang Maha Murah.

Sedangkan mengapa di dunia ada ilmu tata cara bertapa (Yoga) Samadhi yang demikian, menurut dari kata-kata tersebut, ternyata banyak yang berasal dari Bahasa Sansekerta. Dengan demikian terbukti bahwa Ilmu Samadhi, berasal dari ilmu para pertapa (Yogi) dari Hindu India pada jaman dahulu. Barangkali saja bersamaan dengan ketika Bangsa Hindu membuat Candi-candi dan patung-patung pada saat itu. Awal mula ilmu tersebut, hanya untuk bangsa Hindu, tidak terkecuali Bangsa Hindu yang beragama apa saja akan bisa melakukan Samadhi. Sebab hanyalah Ilmu Samadhi (Tafakur) ini saja yang menjadi pembuka ilmu di seluruh dunia, dan juga menjadi ujung tombak dalam Ilmu Agama.

Lama-kelamaan Bangsa Hindu merantau ke Tanah Jawa dan ke berbagai negara lain, serta juga mengajarkan Agama dan ilmu yang dianutnya. Demikian Juga Ilmu Samadhi juga tidak ketinggalan. Imu Samadhi di Tanah Jawa bisa berkembang dengan subur, sebab masyarakat Jawa tidak pilih-pilih ilmu, dan juga orang Jawa senang berguru dan bisa menjalankan dengan sempurna ilmu apa saja yang masuk ke Tanah Jawa. Sebab ilmu yang demikian bisa selaras dengan dasar jiwa orang Jawa, sehingga orang jawa dengan mudahnya bisa menerima ilmu tersebut.  Ditambah juga dengan banyak nya orang Hindu yang pergi ke tanah Jawa, dengan tujuan berdagang, menyebarkan Agama dan juga ilmu bijaknya. Sekejab saja hampir semua orang Jawa di masa itu, memeluk Agama Hindu.

Kemudian disusul dengan datangnya Bangsa Arab ke tanah Jawa, yang juga dengan membawa Ilmu dan Agama Nabi Muhammad, saw. Yaitu Agama Islam, sehingga sedikit mengurangi perkembangan Agama Hindu, sebab, banyak juga orang Jawa yang memeluk Agama Islam. Hanya saja, Agama Islam tidak punya Ilmu Samadhi, sebagaimana tersebut di atas.

Ketika Islam telah berkuasa dengan berhasil mendirikan Kerajaan Demak (Bintara), kemudian Negara melarang orang Jawa untuk menyebar luaskan Ilmu Samadhi, demikian juga dipaksa berganti agama untuk memeluk Agama Islam.

Namun, tidak semua orang Jawa mau masuk untuk memeluk Agama Islam. Walaupun telah memeluk Agama Islam, namun tidak sepenuhnya menjalan Syariatnya, hanya sebatas karena takut pada hukuman raja saja. Sehingga Agama Islam yang dianut hanya sebatas luar atau di lahir saja. Dalam jiwa dan batin mereka, masih tetap beragama Hindu. Sehingga Ilmu Samadhi masih tetap dijalankan, hanya saja dengan cara sembunyi-sembunyi, dan dilakukan pada malam hari di atas jam 12 malam. Sedangkan tempat untuk bertapa di tempat yang tidak terhalang apapun, yaitu di tempat terbuka yang luas, seperti di dalam hutan, di sungai dan sebagainya, asal saja tempat yang benar-benar sepi. Diajarkan dengan cara bisikan, tidak boleh terdengar oleh siapapun, walaupun oleh dedaunan, rumput, hewan dan juga hewan kecil yang merayap di tanah juga tidak boleh mendengar. Jika ikut mendengar maka mereka yang mendengar akan berubah menjadi manusia. Sehingga diajarkan dengan cara, Guru duduk berhadapan dengan cara beradu dahi dengan murid, dan guru berpesan bahwa apa yang diajarkan tidak boleh diberitahukan kepada siapapun juga, tanpa ijin dari sang guru. Jika di langgar, maka sang murid akan mendapat celaka karena akan mendapat hukuman dari Tuhan. Cara yang demikian bertujuan agar ajaran Ilmu Samadhi (Yoga) tidak bisa di ketahui oleh Pemerintah yang berpedoman pada ajaran Agama Islam, sebab apabila sampai ketahuan, akan mendapat hukuman yang sangat berat.

Sampai dengan jaman sekarang, walaupun negara sudah tidak melarang dengan adanya Ilmu Samadhi (yoga), namun cara menyebar luaskan ajaran tersebut, masih tetp sama dengan cara sembunyi-sembunyi seperti di jelaskan di atas. Sehingga mendapat julukan oleh orang yang tidak suka ajaran tersebut, atau oleh orang yang beragama Islam, bahwa ajaran Ilmu Samadhi (yoga) tersebut disebut Ilmu Klenik. Berasal dari kata “Klenik” sehingga di tanah Jawa ada sebutan “Abangan” dan “Putihan” (merah dan putih). Yang diberi julukan “Abangan” adalah orang jawa Islam yang tidak menjalankan Syariat Agama Islam, sedangkan “Putihan” adalah sebutan bagi orang jawa yang menjalankan sepenuhnya Syariat Agama Islam, disebut Santri. Sehingga Santri disebut juga “Putihan” sebab pada umumnya pakaian yang digunakan oleh Santri yang ber Agama Islam, itu lebih bersih di banding dengan orang Jawa yang tidak beragama Islam.

Kembali kepada Ilmu Samadhi (yoga), bahwa disebut Ilmu Rahasia di karenakan seperti keterangan tersebut di atas. Sedangkan yang sesungguhnya nama Ajaran Rahasia itu, sebetulnya tidak ada. Sehinga boleh-boleh saja di ajarkan kepada siapa saja, baik kepada yang muda atau juga kepada yang sudah berumur tua, dan juga boleh diajarkan sewaktu-waktu kapan saja, apabila ada seseorang yang benar-benar sangat membutuhkan Ilmu Samadhi (Yoga) tersebut. Sebab, tata cara yang demikian itu, agar ajaran tersebut bisa diketahui oleh orang banyak, lebih-lebih bahwa Ilmu Samadhi (Yoga) tersebut ternyata menjadi pemuka dari semua Ilmu, sehingga wajib disebar luaskan agar menjadi pengetahuan bagi generasi muda ataupun juga yang sudah tua, tanpa melihat tinggi rendah dari martabat dan derajat seseorang.

Tibalah pada suatu masa, ada cerita kejadian yang tidak di sangka-sangka, di belakang hari Ilmu Samadhi (Yoga) tersebut bisa di terima oleh orang Islam, sebab mereka percaya bahwa Ilmu Samadhi (Yoga) tersbut, memang benar sebagai puncak ilmu yang bisa menghantarkan kepada keselamatan, kehormatan, ketenteraman dan sebagainya. Sehingga Ilmu Samadhi (yoga) tersebut oleh se orang yang telah terbuka pintu hatinya dengan kebenaran, yang bernama “Shech Sitijenar” atau Syech Lemah Abang, yang nama aslinya “San Ali Ansar” ada juga yang menyebut “Kasan Ali Ansar”, yang kedudukan tingkat ilmunya juga sebagai Pemuka Agama setingkat Wali, kemudian digubah oleh nya di kitab buatannya yang disebut “Daim”, mengambil dari asal kata “Daiwan” , yang kemudian digunakan sebagai tata cara dalam melakukan ibadah, dengan cara dirobah susunan katanya, menjadi : “Sholat Daim” (Sholat yang tiada terputus). Sehingga oleh ajaran Syech Sitijenar Sholat terbagi menjadi dua, yaitu Sholat 5 waktu, disebut Sholat Syariat, Sholat lahir. Yang ke dua Sholat Daim. Sholat  ini adalah Sholat di dalam batin, mengandung maksud juga menyatukan rasa diri pribadi dengan Tuhan atau dalam Bahasa Jawa disebut “Manunggaling Kawula Gusti”, atau “Loroning Atunggal” (Dua menjadi satu).

Kitab buatan Syech Sitijenar kemudian digunakan sebagai pedoman dalam ajaran tersebut. Setelah berhasil mendapat perhatian oleh orang banyak, di situ Sholat 5 waktu dan Syariat Agama Islam oleh pengikut Syech Sitijenar, ajaran nya banyak yang ditinggalkan ataupun tidak di ajarkan lagi. Perhatian para penyebar Ilmu murid Syech Sitijenar hanya mengajarkan Sholat Daim saja. Sehingga orang jawa yang semula sudah memeluk Agama Islam terlebih lagi yang belum, semua condong dan berguru kepada Syech Sitijenar, sebab ajarannya lebih mudah, terang dan nyata.

Sedangkan Ilmu Samadhi yang dikembangkan oleh Syech Sitijenar berasal dari Kyai Ageng Pengging, sebab Syech Sitijenar adalah masih saudara dari Kyai Ageng Penging. Ilmu Samadhi (Yoga) oleh Syech Sitijenar diajarkan kepada “Raden Watiswara” juga bernama “Pangeran Panggung”, yang juga dia mempunyai derajat Wali. Kemudian diajarkan kepada “Sunan Geseng”, yang juga bernama “Ki Cakrajaya” yang berasal dari daerah “Pagelen”.  yang dalam cerita ketika dia belum menjadi Wali, mempunyai pekerjaan “nderes” mengambil air sari bunga pohon kelapa untuk dibuat menjadi Gula Kelapa. Kemudian olehnya diajarkan kepada orang banyak . Demikian juga para sahabat Syech Sitijenar yang telah terbuka hatinya oleh ajaran Syech Sitijenar disuruh mendirikan perguruan untuk menyebarkan Ilmu Samadhi tersebut. Semakin lama semakin banyak dan berkembang, sehingga berhasil menyaingi bahkan melemahkan kekuasan Wali yang lain  dalam hal menyebarkan Ilmu Agama Islam, sehingga banyak masjid yang kosong.

Untuk menanggulangi keadaan yang demikian agar tidak semakin berkembang luas, maka Kyai Ageng Pengging dan juga Syech Sitijenar beserta pengikutnya semuanya di hukum pancung oleh para Wali yang mendapat perintah dari Sultan Demak. Demikian juga Pangeran Panggung tidak ketinggalan pula, di hukum dengan cara dibakar di tengah alun-alun Demak, untuk dijadikan contoh agar supaya orang-orang dan para pengikutnya menjadi takut, dengan harapan supaya bersedia meninggal ajaran Syech Sitijenar.

Dalam cerita tersebut, tubuh Pangeran Panggung tidak bisa terbakar api, kemudian dia keluar dari dalam api dan meninggalkan kerajaan Demak. Ada salah satu kisah cerita bahwa, pada saat Pangeran Panggung sedang berada di dalam api, Pangerang panggung mengarang Kitab yang diberi nama “Suluk Malang Sumirang”. 20 Bait Tembang Macapat yang termuat di dilam buku "Suluk Walisana" Karangan Sunan Giri ke II (Jenis lagu Jawa). Sebelum meninggalkan Demak, buku itu diserahkan kepada Raja Demak. Dan pada saat Pangeran Panggung pergi meninggalkan api, Sultan Bintara dan para punggawa kerajaan, beserta para Wali, kalah wibawa oleh kesaktian Pangeran Panggung, sehingga termangu dan tidak bisa berbuat apa-apa bagaikan tersihir.  Setelah Pangeran Panggung pergi jauh, barulah Sultan Demak dan para Wali sadar bahwa Pangeran Panggung selamat dari hukuman bakar. Sehingga mereka merasa kalah oleh kesaktian Pangeran Panggung, yang mendapat Anugrah kasih sayang dari Tuhan. Kemudian datang Punggawa kerajaan melapor bahwa Sunan Geseng atau Cakrajaya pergi juga menyusul langkah Pangeran Panggung. Kemudian setelah sadar, barulah muncul kemarahan Sultan Demak, sehingga kemudian menyuruh prajuritnya untuk membunuh sahabat dan semua murid Syech Sitijenar yang telah berhasil ditangkap, sedangkan yang tidak tertangkap melarikan diri mencari selamat.

Para sahabat dan murid Syech Sitijenar yang masih hidup di dalam pelariannya, kemudian mendirikan Perguruan dan terus melestarikan ajaran “Ilmu Samadhi”, namun dengan cara ditutupi dengan ajaran Syariat Islam seperti pada umumnya, agar tidak di ganggu ataupun dilarang oleh para Wali pembela Kerajaan Demak. Sedangkan isi ajarannya, sebagai berikut :


Cara pengajaran Ilmu Samadhi yang kemudian disebut Sholat Daim dibarengi dengan pengajaran Sholat 5 waktu, juga rukun Islam lainnya. Ajaran Sholat Daim kemudian diberi nama Naksobandiyah, sedangkan isi ajaran diberi nama “Tafakur”. Cara yang lain, tata cara dalam cara mengajarkan ilmu tersebut,  sebelum para murid diberi ajaran Sholat Daim, terlebih dahulu para murid dilatih menjalankan beberapa macam jenis dzikir dan juga membaca ayat-ayat suci. Sejak saat itu Ajaran Ilmu Samadhi, ada dua macam yaitu :

1. Ilmu Samadhi yang sesuai dengan ajaran yang diajarkan oleh para murid Syech Sitijenar yang ditutupi atau oleh ajaran Rukun Islam. Ajaran tersebut pada jaman selanjutnya mengalami perubahan karena tidak sesuai lagi dengan ajaran pada awal ilmu itu ada. Sehingga para guru pada jaman sekarang dalam menyampaikan pengajaran Ilmu Samadhi, yang telah berganti nama menjadi Naksobandiyah dan juga Satariyah, mengira bahwa ilmu tersebut perasal dari Jabalkuber atau Mekah, walaupun Ajaran Naksobandiyah dan Satariyah yang asli itu ada, dan cara pengajarannya tidak sama seperti tersebut di atas. Sehingga para Kyai guru Agama Islam, memberi julukan Guru Klenik kepada para guru yang mengajarkan Ilmu Samadhi yang berpedoman pada ajaran Jawa yang bersumber dari ajaran Syech Sitijenar, dan Para Kyai Guru tersebut memberi julukan nama “Kiniyai” mengandung maksud Guru yang mengajarkan ilmu setan. Sedangkan sebutan Kyai adalah hanya untuk guru yang mengajarkan Ilmu Nabi.

2.  Ajaran Ilmu Samadhi cara Jawa, yang bersumber dari Kyai Ageng Pengging yang dikembangkan oleh Syech Sitijenar (jaman sekarang diberi julukan klenik), tersebut yang pada awalnya berdasar pada 5 pedoman, sebagaimana berikut :

2.1.  Setya tuhu;  sangat bersungguh-sungguh dan jujur.

2.2. Santosa; berbuat adil, tanggung jawab tidak berbuat semaunya sendiri.

2.3.  Benar dalam semua pekerjaan; Sabar; kasih sayang pada sesama, tidak mengunggulkan dirinya sendiri, tidak berwatak kejam.

2.4.   Pinter saliring kawruh, Pandai dalam banyak ilmu, terlebih lagi pandai menjaga perasaan sesama, serta bisa mengendalikan nafsu amarah dalam diri, tidak serakah terhadap harta benda.

2.5.  Susila anor-raga, Selalu bersikap sopan santun, serta bersikap yang bisa menyenangkan orang lain dan juga indah dalam berkata-kata apalagi terhadap orang yang sedang menderita kesusahan.


Tindakan 5 macam tersebut harus dilakukan bersama saat ketika menjalankan Samadhi, yaitu mengendalikan Cipta mengheningkan cipta. Oleh karena itu menurut ajaran Jawa, tentang Ilmu Samadhi dan juga 5 macam tindakan tersebut di atas, akan diajarkan kepada semua anak muda atau orang tua tidak memandang tinggi rendahnya kelas dalam masyarakat. Sebab inti ilmu dan tinggi tingkatan ilmu seseorang apabila tetap dalam menjalankan  Samadhi, dan mampu menjalan 5 ajaran tersebut di atas, maka manusia akan mendapatkan ketentraman, sedangkan dengan adanya ketentraman menyebabkan hidup merdeka dalam rasa. Jika tidak demikian, sampai dengan akhir jaman, seseorang akan mengalami nasib sengsara, tergilas oleh roda jaman, sebab rusak hati nurani diri.

Tentang Ilmu Samadhi yang diberi nama Ajaran Naksobandiyah dan Satariyah, yang berasal dari Syech Sitijenar, telah dijelaskan di muka, namun tata caranya tidak dijelaskan. Di sini hanya akan menjelaskan tata cara melakukan Samadhi cara Jawa, sebelum tercampur dengan Agama lain, sebagai berikut :


Semoga para pembaca tidak salah terima, bahwa Samadhi itu, akan menghilangkan rasa hidup manusia atau pun akan mengeluarkan ruh dari badan. Pemahaman yang demikian, berasal dari pemahaman yang terkandung dalam cerita “Sri Kresna” raja Dwarawati, atau “Arjuna” yang sedang menjalankan “Raga Sukma”. Agar diketahui di sini, bahwa cerita demikian hanya sebatas ibarat saja.


Tata cara Samadhi Jawa adalah sebagai berikut : Kata Samadhi = Satu rasa = memusatkan rasa = rasa jati = rasa ketika rasa belum bekerja. Sedangkan berjalannya rasa disebabkan oleh hasil pengalaman-pengalaman yang diterima atau kejadian-kejadian yang di terima dalam hidup sehari-hari. Itulah kerja rasa yang disebut berfikir. Berasal dari kekuatan ilmu, pengalaman, dan peristiwa hidup sehari-hari, sehinga Pikiran manusia bisa menganggap baik dan buruk, yang bisa menjadi penyebab Tata cara, tindakan, sikap, dan sebagainya, yang kemudian akan menjadi kebiasaan.


Sedangkan anggapan tentang baik dan buruk, yang telah menjadi kebiasaan tersebut, apa bila buruk memang benar-benar buruk, dan apabila biak, memang benar-benar baik, itu sebetulnya belum tentu benar. Hal ini karena hanya disebabkan oleh kebiasaan cara berfikir saja, atau anggapan diri sendiri saja. Anggapan yang demikian, tidak mesti benar, tetap hanya sebatas kebiasaan tata cara berfikir saja, sehingga hal itu bukan yang sebenarnya.

Sedangkan maksud dan tujuan Samadhi, adalah bertujuan untuk mengetahui dan memahami kenyataan yang sebenar-benarnya (Kajaten). Sedang tata cara nya adalah dengan memahami dan menghilangkan segala anggapan dari kekuatan daya pikir sendiri, disebut hilangnya tempat dan tulisan (Sirnaning papan lan tulis). Setelah berhasil menguasai daya pikir yang demikian, maka itu ujud rasa yang sesungguhnya rasa (rasa jati) yang bisa mengetahui segala sesuatu tanpa petunjuk (Dalam bahasa Jawa disebut "Tanpa Tinulis bisa dibaca"). Sedangkan hal demikian akan bisa dicapai dengan cara menghentikan segala pengaruh gerak pikiran, dengan cara mengendalikan segala gerak anggota badan.

Mengendalikan pengaruh dari gerakan badan yang paling  maksimal adalah dengan cara tidur terlentang, tangan bersedakep melipat kedua tangan atau kedua tangan diluruskan, kedua telapak tangan ditempelkan di kedua paha kanan dan kiri, kaki diluruskan, telapak kaki yang kanan di atas telapak kaki kiri, sikap yang demikian disebut “Sidakep saluku tunggal”, (Bersidakep berkaki satu). Dan juga memusatkan pandangan atau menghentikan gerak mata. Tindakan demikian disebut “Meleng” (Memusatkan mata). Sikap demikian akan bisa mengendalikan gerak pikiran, serta mengendalikan gerak rasa, sedangkan pusat titik mata di arahkan dan di pusatkan memandang ujung hidung dengan menyatukan dua titik pandangan mata menjadi satu, dengan cara memejamkan kedua mata.

Langkah selanjutnya adalah menata keluar masuknya nafas, dengan cara mengendalikan jalannya nafa. Dimulai nafas berjalan dari puser perut, di tarik ke atas melewati pangkal mulut  Cethak) terus di naikan ke atas hingga masuk ke dalam otak, kemudian di tahan semampunya di dalam otak. Dalam melakukan tarikan nafas yang demikian, dilakukan sampai dengan badan merasa tidak punya daya kekuatan untuk mengangkat apapun, sedangkan yang di kendalikan adalah jalannya rasa. Apabila telah terasa berat dalam menahan nafas, kemudian nafas dilepaskan dengan perlahan-lahan. Sikap yang demikian yang disebut Sastracetha. Arti dari “Cetha” = penempatan ilmu, “Cetha” = Suara Cethak (pangkal mulut) yang berat.

Disebut demikian, sebab ketika sedang melakukan tarikan nafas dari pusat perut melewati dada terus naik melewati cethak (pangkal mulut) sampai masuk ke pusat otak. Apabila jalan nya pernafasan tidak di kendalikan, maka nafas hanya akan mengikuti jalan nafas sendiri saja, cara nafas yang demikian tidak akan sampai naik masuk ke dalam otak, sebab nafas baru sampai di pangkal mulut (cethak) akan turun kembali dan keluar lagi. 

Langkah demikian disebut juga “Daiwan” (dawan), maksudnya : Mengendalikan perjalan nafas yang panjang dan dengan tenang, dengan mengucapkan mantra di dalam batin, yaitu yang berbunyi “Hu” bersama dengan masuknya nafas, yang berjalan dari puser, cethak sampai ke pusat otak. Kemudian mengucapkan “ya” bersama sama saat melepaskan nafas yang berjalan dari pusat otak – cetahk – sampai ke perut. Naik dan turun nya perjalanan nafas akan selalu melewati dada dan cethak.

Hal demikian disebut “Sastracetha” sebab, ketika mengucapkan mantra sastra dua macam : Hu – ya, yang hanya di batin saja, akan terasa di dalam cethak (pangkal mulut). (Mantra dua macam tersebut, Hu dan Ya, di dalam ajaran Naksobandiyah dirubah menjadi berbunyi : Hu – Allah, menyebutnya juga bersamaan dengan perjalanan nafas. Sedangkan dalam ajaran Satariyah sebutan tersebut , menjadi : Ha ilah Ha illalloh, namun tidak digabung dengan pernafasan).

(Sedikit tambahan penyunting : Pada saat melakukan pernafasan demikian, usahakan mengendurkan urat wajah se rilex-rilex nya atau sesantai mungkin, dibarengi seolah-olah tersenyum, dan mengendurkan urat otak se santai santainya, dan yang terpenting... jangan dibarengi menelan ludah – penyunting hanya sebatas belajar yoga dan sangat bermanfaat ketika sedang menghadapi problim kehidupan).

Kebiasaan yang biasa terjadi, dalam melakukan pernafasan dengan cara demikian, dalam satu angkatan bernafas hanya mampu mengulang sebanyak 3 kali pernafasan, biasanya sudah terengah-engah. Apabila sudah tenang, maka di ulang lagi. Tindakan demikian dilakukan berulang-ulang, hingga jika semakin lama dan makin banyak dilakukan, akan semakin baik. Sedangkan dalam satu kali angkatan tindakan yang demikian disebut : “Tri pandurat” yang artinya “Tri” = tiga; “Pandu” = suci; “Rat” = Dunia = tubuh = tempat, yang bermakna juga : Tiga kali tarikan nafas, maka itu berarti telah bisa sampai di hadapan Yang Maha Suci yang bertempat di dalam otak (Susuhunan = yang di suwun) tempat permohonan. Yaitu yang disebut “Kawula Gusti”, maksudnya : Ketika kita menarik nafas , kita sebagai ibarat Gusti (Tuhan); dan ketika melepas nafas, kita kembali sebagai “Kawula” (makhluk). Hal yang demikian, diharapkan para pembaca tidak salah menafsirkan. Bahwa yang disebut “Kawula Gusti” (Makhluk dan Tuhan), itu bukan nafas kita, namun hanya daya kekuatan dari pikiran dan cipta kita. Sehingga, dalam inti melakukan Samadhi adalah kita harus dengan cara memanjangkan masuk dan keluarnya nafas, dengan menjernihkan penglihatan, sebab penglihatan adalah terjadi dari pengaruh rasa.

Sedangkan sikap Samadhi, seperti yang telah di jelaskan di atas, juga bisa dengan jalan di percepat, asal dilakukan dengan cara tidak terputus dalam mengendalikan jalannya pernafasan, bisa dilakukan pada saat duduk, berjalan ataupun pada saat bekerja, juga sebaiknya dalam melakukan pernafasan dengan cara tersebut, dengan jalan mengucapkan mantra yang berbunyi : “Hu –Ya” seperti dijelaskan sebelumnya...ataupun juga bisa diganti sesuai dengan keyakinan nya masing-masing.

Selain itu, berdasar kata daiwan, juga masih mempunyai arti yang lain, yaitu panjang tidak berujung atau bermakna langgeng, yang mempunyai maksud bahwa nafas kita adalah sebagai tanda hidup tiap diri pribadi. Sedangkan bahwa nafas itu ada, ditandai dengan adanya keluar dan masuk nya angin tanpa berhenti, yang bersamaan juga dengan berjalannya detak jantung yang seiring juga dengan perjalanan peredaran darah (Ruh). Bahwa, apabila keduanya berhenti tidak bekerja, maka disebut meninggal dunia, yaitu rusaknya jasad manusia yang akan kembali kepada asalnya. Sehingga sebaiknya, dalam bernafas diusahakan dipanjangkan juga, agar umur kita bisa panjang untuk hidup di dunia.

Dengan adanya uraian di atas, menunjukan bahwa Ilmu Samadhi, ternyata besar manfaatnya, sehingga disebut juga “Sastrajendrayuningrat Pangruwating Diyu”. Artinya : “Sastra” = Ilmu; “Jendra” = berasal dari kata Harja dan Endra. Artinya “Harja” = bahagia; “Endra” = Raja; “Yu” = Selamat; “Ningrat” = Dunia = tempat = Badan, mengandung maksud : Mustika dari ilmu yang bisa menyebabkan keselamatan hidup, kebahagia an hidup, ketenangan hidup, dan lain sebagainya. Sedangkan makna dari “Pangruwating Diyu” = menghancurkan diyu; sedangkan “Diyu” = Raksasa, Denawa, Asura, sebagai lambang dari Kejahatan, penyakit, kotoran, Bahaya, pikiran gelap, kebodohan, dan sebagainya. Sehingga sifat Diyu itu berlawanan dengan Tuhan, yaitu : Pandai, Indah, Selamat, dan sebagainya. Mengandung maksud juga bahwa, bagi siapa saja yang bisa mengalahkan segala kejahatan dan segala penghalang hidup. Artinya, bagi siapa saja yang selalu menjalankan Samadhi yang tiada henti, maka apabila dilakukan oleh manusia jahat, akan hilang sifat jahatnya dan akan berubah menjadi orang baik. Orang yang sedang sakit, akan hilang sakitnya. Orang angkara murka, orang kejam, akan menjadi orang yang sabar, menerima apa adanya, dan jadi orang yang penyayang. Jika dilakukan oleh pembohong, akan berubah menjadi orang jujur, Bodo akan menjadi pinter, dan sebagainya.

Bisa juga untuk menghilangkan, segala macam bencana dan segala rencana jahat, bahaya dan halangan apapun, yang tumbuh dari kegelapan jiwa diri pribadi, semuanya akan hilang musnah “Lebur dening pangastuti” karena menjalankan ulah Samadhi. Demikian juga bisa membentengi diri dari serangan bahaya yang berasal dari perbuatan orang lain, dan juga makhluk lainnya, baik yang berupa hewan yang jahat atau juga makhluk halus yang jahat, akan musnah terbakar dari kewibawaan ahli Samadhi.

Harapan penyunting, bahwa akan lebih sempurna apabila menjalankan ajaran kebaikan dari teori yang di dapat dari luar diri apabila diimbangi dengan keadaan sucinya hati karena ulah Samadhi, yang dilakukan dengan olah rasa, tafakur dan Samadhi apabila melakukan ajaran kebaikan, akan semakin sempurna dan tidak kaku. Karena bukan hanya berdasar teori dalam Ilmu Syariat saja, tapi juga dengan olah rasa sehingga kebenaran mutlak akan menjadi pedoman dalam segala tindak perbuatan dirinya.





ADJI PAMELENG/PANUNGGAL DAN WIRIDZ MALADIHENING

ADJI PAMELENG/PANUNGGAL/WIRID MALADIHENING YANG PERNAH DI PELAJARI KI DJAKA TOLOS/WONG EDAN BaGu

PADA SEORANG GURU DI WONOGIRI JATENG



AJI PAMELENG

Tegesipun aji= ratu, pameleng= pasamaden ; mengku pikajeng : tandaning sedya ingkang luhur piyambak, dene empaning pendamel wau winastan manekung, pujabrata,mesu budi, mesu cipta, ngeningaken utawi angluhuraken paningal, matiraga lan saasaminipun.

Papan ingkang kangge nindakaken wau panepen, panengkungan, pamujan, pamurcitan, pamursitan, pahoman, paheningan lan sanes-sanesipun. Dene wedaring kawruh winastan daiwan,dawan, tirtaamerta, tirtakamandhanu, tirtanirwala, mahosadio, kawasanan, kawaspadan, kawicaksanan, sastracetha, utawi sastrajendrayuningrat, pangruwating diyu lan sapanunggalipun.

Menggah pigiunanipun kawruh lan pandamel wau, perlu kangge sarananing panembah murih manggih kawilujengan, margi saged anindakaken dhateng sawarnaning pandamel sae, punapadene kangge sarana duk kita darbe sedya nunuwun kanugrahaning gesang kita pribadi (Pangeran). Inggih nunuwun bab punopo kemawon ingkang lumrah kenging linampahan saking pandamel kito ingkang boten tilar murwat.

Wondene purwanipun ing jagad teka wonten kawruh pasamaden,  bilih miturut saking tembung-tembungipun, sanyata kathah ingkang nghangge basa sansekrit; yen makaten tetela manawi wimbaning kawruh pasamaden wau saking tumitisin kawicaksananipun bangsa Indhu ing jaman kinamakina , ingkang saking boten kasumerepan petang ewoning taun. Mbok manawi kemawon papantaranipun kalihan nalika bangsa Indhu amurwani iyasa andhi dalah reca-recanipun. Dene kawruh wau ing sakawit inggih namung kangge bangsa Indhu ingkang agami punapa  kemawon, katamtokaken mesthi ngrasuk pasamaden. Awit inggih namung kawruh pasamaden punika ingkang dados mukaning saliring kawruh sajagad, lan ugi dados pangajenging pawukang agami.

Ing ngalami-lami bangsa Indhu sami lumeber dateng ing tanah Jawi lan sanes-sanesipun ; makaten ugi kawruh pasamaden inggih boten kantun. Kawruh pasamaden wonten ing Tanah Jawi saged ngrembaka tuwuhipun , margi bangsa Jawi tan pilih drajat sami remen puruita lan saged nandangaken dhateng pangolahing kawruh punika, awit kawruh wau saged nocoki kalihan dhadhasaring pamanahipun titiyang Jawi, mila kalayan gampil rumasukipun wonten ing balung-sumsumipun titiyang Jawi. Kasembuh malih saking kathahing bangsa indhu kados sinuntak sami angajawi, nedya anggelar agami lan kawruh awicaksananipun. Babasan sakedhephing netra, bangsa Jawi ing sa’indhengipun maratah sampun sami angrasuk agami Indhu, lan ugi sampun sami saged ngraosaken kabegjan , kamulyan, kawilujengan lan sasaminipun, margi saking wohing kawruh pandamel wau.

Ing wusana katungka dhatengipun titiyang bangsa Arab sami lumebed ing Tanah Jawi, ingkang ugi ambekta kawruh lan agaminipun Muhammad, kasebut agami Islam, temah nyunyuda tumangkaring agami Indhu, sabah lajeng wonten angrasuk agami Islam. Namung kemawon wedharing agami Islam boten andarbeni kawruh pasamaden, kados kasebut ing nginggil.

Sareng golonganipun tiyang Islam sampun saged ngendhih nagari, inggih punika adeging Karaton Bintara(Demak), ing ngriku lajeng angawisi kalayan kenceng, titiyang Jawi boten kenging anindakaken kawruh pasamaden, mekaten ugi sami kinen nilar agaminipun lami, sarta kedah santun angrasuk agami Islam.

Ananging mboten ta manawi bangsa Jawi lajeng anut purun santun agami Islam sadaya, purunipun wau namung margi saking ajrih paukuman wisesaning Nata, dados Islamipun wau namung wonten ing lahir kemawon, utawi islam pangaran-aran, yen batosipun taksih angrungkebi agamanipun lami. Mila bab kawruh pasamaden inggih taksih lajeng katindakaken, ananging pamulang pamedharing kawruh pasamaden wau, ingkang karan nama kawejangan (wijang-wijang) sarana lampah dhedhemitan , katindakaken ing wanci ndalu sasampunipun jam 12, ugi papaning pamejang boten kenging kauban wangon, kadota ing ara-ara , ing wana, ing lepen lan sasaminipun ing papan ingkang sepen. Pamejangipun srana bisikan boten kenging kapireng ngasanes,sanadyan suket godhong, kewan tuwin bangsaning gergremetan kutu-kutu walangataga ugi boten kenging mireng, yen mireng lajeng malih dados manungsa. Mila linggihihpn kyai Guru ajeng-ajengan aben bathuk kalihan pun murid, sarto sanget pamantos- mantosipun Kyai Guru, pun murid boten kenging nularaken wewjanganipun (kawruhipun) dateng tiyang sanes, bilih dereng angsal paliliahing Guru, yen nerak badhe angsal wilalat manggih sapudendhanging Pangeran. Panindak ingkang makaten punika, puranipun nanging tetep kangge panjagi, suados palilanging kawruh pamasaden boten katupiksan dhateng pamarintahing agami Islam. Sabab yen ngantos kasumurepan, tamtu manggih pidana.

Dumuginipun ing jaman samangke, sanadyan Nagari sampun boten angarubiru dhateng wontenipun wewejangan kawruh pamasaden, nanging panindaking wejangan wau taksih kalestantunaken sarana dhedhemitan kados kawursita ing nginggil. Mila lajeng angsal paparab saking panyedaning titiyang ingkang boten remen, utawi tiyang ingkang anglampahi sarrengating agama islam , bilih wontening wejangan kawruh pasamaden wau lajeng kawastanan ilmu klenik. Purwa saking tembung klenik , lajeng angandhakaken tembung abangan lan putihan. Ingkang kasebut abangan punika tiyang ingkang boten nindakaken saraking agama islam, dene putihan mastani tiyang jawi ingkang teluk manjing agama islam sarta naglampahi sadaya sarak sarengating agama Islam wau, inggih punika ingkang kasebut nama santri. Mila santri karan putihan, margi miturut panganggenipun titiyanng agami Islam , bilih santri punika sarwa- sarwi langkung resik utawa suci tinimbang kalihan tiyang ingkang boten angrasuk agami Islam.

Wangsuli wontening kawruh pasamaden anggenipun sanget winados menggah ingkang dados sebabipun sampun kapratelakaken ing nginggil. Dene yen saleresipun ingkang nama wados-wados wau pancen mboten wonten. Dados inggih kenging-kenging kemawon kawulangaken dhateng sok tiyanga, boten mawang nem sepuh, sarta kenging kawejangaken ing sawanci-wancinipun, uger tiyang wau mila pancen ambetahaken kawruh pasamaden kasebat. Sebab wontenipun sedaya puniko perlu supados kasumerepan dhateng ingkathah. Langkung-langkung kawruh pasamaden punika ingkang sanyata dados mukaning sedaya kawruh. Mila wajib sinebar dados seserepaning tiyang nem sepuh waradin ing saindengipun, tanpa mawang andhap inggiling drajadipun.


Amarengi wahyuning mangsakala, wusana wonten kaelokaning lalampahan ingkang boten kenyana-nyana, ing pawingkingipun bab kawruh pasamedan wau lajeng muncul katampen dhateng tiyang Islam, margi yakin bilih kawruh pasamaden wau, pancen musthikaning gegayuhan, ingkang saged andhatangaken ing kailujengan, kamulyan, katentreman, lan sesaminipun. Mila kawruh wau dening tiyang ingkang sampun suluh pepadhanging raosipun inggih punika Seh Sitijenar, ingkang ugi dados pramugaraning agama Islam apangkat Wali, lajeng kadhapuk ing ndalem serat karanganipun ingkang lajeng winastan daim, mirid saking tembung daiwan kasebut ing nginggil. Punapadene lajeng kaewokaken dados saperanganing panembah, sarana dipun wewahi tembungipun lajeng mungel : salat daim (salat, basa Arab, daim saking daiwan, basa Sansekrit). Milanipun dipun wewahi basa Arab, namung kawigatosipun kangge mikekahaken kapitadosanipun murid-muridipun ingkang sampun sami necep agami Islam. Punapadene tembung salat lajeng kapilah kalih prakawis. Sapisan 5 wekdal, kasebut salah sarengat, ateges panembah lahir. Kaping kalih salah daim, puniko panembahing batos, mengertosipun : anekadaken maninggaling pribadinipun, utawi kasebut loroning atunggal.


Kitab kakaranganipun Seh Sitijenar wau lajeng kangge paugeraning piwulang. Sareng sampun angsal kawigatosaning ngakathah, ing ngriku salat 5 wekdal lan sarak agami sanes-sanesipun lajeng kasuwak boten kawulangaken babar pisan. Ingkang pinindeng namung mamuruk tumindaking salat daim kemawon. Mila titiyang Jawi ingkang suwau manjing agama Islam, langkung-langkung ingkang dereng, lajeng sami ambyuk maguru dhateng Seh Sitijenar, margi piwulangipun langkung gampil, terang lan nyata.


Wondene purwanipun Seh Sitijenar kaserenan kawruh pasamaden, ingkang mijeni Kya Ageng Pengging, sebab Seh Sitijenar punika mitradarmaning Kyai Ageng Pengging. Kawruh pasamaden, dening Seh Sitijenar lajeng katularaken Raden Watiswara, inggih Pangeran Panggung, ingkang ugi apangkat Wali. Lajeng tumimbal dhateng Sunan Geseng, inggih Ki Cakrajaya tiyang asal saking Pagelen, ingkang kacarios saderengipun dados Wali, Ki cakrajaya wau pandamelanipun anderes nitis gendhis. Salajengipun sumrambah kawiridaken dhateng ingakatah. Makaten ugi sakabat-sakabatipun Seh Sitijenar ingkang sampun kabuka raosipun, dening Seh Sitijenar kinen sami madeg paguron amiridaken kawruh pasamaden wau. Sengsaya dangu sengsaya ngrebda, anyuremaken panguwaosipun para Wali, anggenipun amancaraken piwulang agami Islam. Yen kalajeng-lajeng masjid saestu badhe suwung.


Ngawekani sampun ngantos wonten kedadosan ingang makaten, temah Kyai Ageng Pengging tuwin Seh Sitijenar sasekabatipun ingkang sami pinejahan katigas jangganipun dening para Wali, saking dhawuhipun Sultan Demak. Makaten ugi Pangeran Panggung mboten kantun, kapidana kalebet aken ing brama gesang-gesangan wonten samadyaning alun-alun Demak, kangge pangewan-ewan mudih titiyang sami ajrih, lajeng sami mantuni utawi nglepeh piwulanging Seh Sitijenar.


Kacariyos sariranipun Pangeran Panggung mboten tumama dening mawerdaning Hyang Brama, lajeng oncat medal saking salebeting latu murub nilar nagari Demak. Kanjeng Sunan Bintara tuwin para Wali sami kablerengen kaprabawan katiyasaning Pangeran Panggung, temah kamitenggengen kadi tugu sinukrata, Sareng sampun sawatawis lebih tindakupun Sang Pangeran. Kanjeng Sultan tuwin para Wali saweg sami enget bilih Pangeran Panggung, temah keninteng gengen kadi tugu sinukarta, sareng sampun sawatawis tebih tindakipun Sang pangeran, kanjeng Sultan tuwin para wali saweg sami enget bilih Pangeran Panggung kalis saking pidana, temah sami rumaos kawon angsal sihing Pangeran. Katungka ujuking wadyabala, atur uninga bilih sunan geseng inggih ki Cakrajaya, kesah anututi lampahipun Pangeran panggung. Ing ngriku kangjeng sultan katetangi dukanipun, temah bawahing bendu, para sakabat tuwin murid-muridipun Seh Sitijenar ingkang kapikul lajeng sami pinejahan. Ingkang boten kacepeng sami lumajang pados gesang.


Para sekabatipun seh Sitijenar ingkang taksih wilujeng kakantunanipun ingkang sami pejah, ugi taksih sami mandeg panguron nglestantunaken pencaring kawruh pasamanden, nanging mawi sislintru tinutupan wuwulang sarengating agami Islam, murih boten ka’arubiru dening para wali pramugarining praja. Dene piwulangipun kados ing ngandhap punika.


Pamulanging kawruh pasamanden ingkang lajeng karan salat daim, karangkepan wuwulang salat 5 wekdal tuwin rukuning Islam sanes-sanesipun malih. Wewejanganipun salat daim wau lajeng winastan wiridan naksobandiyah, dene panindaking piwulang kawastanan tafakur. Saweneh wonten ingkang pamulanganipun ing sederengipun para murid nampi wiridan salat daim, langkung rumiyin kalatih lampah dhidikiran lan maos ayat-ayat. Wiwit punika wuwulangan pasamaden lajeng wonten warni kalih, inggih punika :

1. Piwulang pasamanden wiwiridan saking para sekabatipun Seh Sitijenar, ingkang sarana tinutupan utawi aling-aling sarak rukuning agami islam. Wuwulang wau dumunginipun ing jaman semangke sampun mleset saking jejer ing sakawit, mila para guru samangke, ingkang sami miridaken kawruh pasamanden, ingkang dipun santuni nama naksobandiyah utawi satariyah, nginten bilih kawruh wau wiwiridan saking ngulami ing jabalkuber (Mekah). Salajengipun para kyai wau, amastani guru klenik dhateng para ingkang sami miridaken kawruh pasamanden miturut wawaton jawi pipiridan saking Seh Sitijenar. Punapadhene para kyai guru wau nyukani paprab nama kiniyani, pikajengipun : guru ingkang mulangker, ilmuning setan, dene nama kyai. Punika guru ingkang mulangen ilmuning para nabi.

2. Piwulang pasamanden miturut jawi, wiji saking Kyai Ageng Pengging, ingkang kapencaraken dening Seh Sitijenar (ingkang ing samangke karan klaneik). Punika ing sakawit, ingkang dados purwaning piwulang, dumunung wonten panggulawenthahing wawatekan 5 prakawis, kados ing ngandhap punika :

a. Setya tuhu utawi temen lan jujur

b. Santosa, adil paramarta, tanggeljawab boten lewerweh

c. Leres ing samubarang damel, sabar welas asih ing sasami, boten ngunggul-ngunggulaken dhirinipun, tebih saking watak panganiaya.

d. Pinter saliring kawruh, langkung-langkung pinter ngencani manahing sasami-sami, punapadene pinter angereh kamurkaning manah pribadi, boten anguthuh melik anggendhong lali, margi saking daya ning mas picis rajabrana.

e. Susila anor-raga tansah ngenggeni tatakrami, maweh reseping paningal tuwin seseming pamiharsa, dhateng ingkang sami kataman.


Lampah 5 prakawis wau kedah linampahan winantu ing pujabrata anandangaken ulah samadi, inggih amestu cipta angeningaken pranawaning paningal. Awit saking makaten punika mila tumrap panindaking agami jawi (buda), bab kawruh pasamanden tuwin lampah 5 prakawis wau kedah kawulangaken dhateng sadaya titiyang enem sepuh boten pilih andhap ing giling drajadipun. Mila mekaten, sebab musthikaning kawruh tuwin luhur-luhuring kamanungsan, punika bilih tetep samadinipun, kuwasa anindakaken lampah 5 prakawis kados kawursita ini nginggil. Temah kita manggen ing sasanining ketentreman, dene wontening katentreman, mahanani harja kreta lan kamardikan kita sami, yen boten makaten, ngantos sabujading jagad, kita badhe nandhang papa papa cintraka, kagiles dening rodha jantraning jagad, maringi kacindraning manah kita pribadi.

Bab kawruh pasamaden ingkang lajeng karan wiridan naksobandiyah lan satariyah, ingkang ing nguni wiwiridan saking Seh Sitijenar, sampun ka’andharaken ing nginggil, namung kemawon tumandhangipun boten kawedharaken. Ing riki namung badhe anggelaraken lampah tumandangipun samadi sacara jawi ingkang dereng kacarobosan agami sanes, inggih punika mekaten :

Para nupiksa, mugi sampun kalintu panampi, bilih samadi punika angicalaken rahsaning gesang utawi nyawanipun (gesangipun) medal saking badan wadhag. Panampi mekaten punika. Purwanipun mirid saking cariyos lalampahanipun sri kresna ing Dwarawati, utawi sang arjuna yen angraga-sukma. Mugi kawuninganana, bilih cariyos makaten punika tetep namung kangge pasemon utawi pralambang.


Ing samangke wiwit medharaken lampahing samadi makaten : tembung samadi = sarasa = rasa tunggal = malingining rasa = rasa jati = rasa nalika dereng makarti. Dene makartining rasa jalaran saking panggulawenthah utawi piwulang, punapadene pangalaman-pangalaman ingkang tinampen utawi kasandhang ing sadinten-dintenipun. Inggih makartining rasa punika ingkang kawastanan pikir. Saking dayaning pangulawenthah, piwulang tuwin pangalaman-pangalaman wau, pikir lajeng gadhah panggarep awon lan sae, temah anuwuhaken tata cara, pemacak lan sanes-sanesipun ingkang lajeng dados pakulin. Punapa panganggep awon sae, ingkang sampun dados tata cara margi sampun dados pakulinan punika yen awon inggih awon sayektos, yen sae inggih sae temenan, punika dereng tamtu, jer punika namung pakulinang panganggep. Dene panganggep, boten yekti, tetep namung ngenggeni pakulinang tata cara dados inggih dede kajaten utawi kasunyatan. Menggah pikajenganipun samadi ing riki boten wonten sanes namung badhe nyumerepi kajaten. Dene sarananipun boten wonten malih kajawi nyumerepi utawi anyilahaken panganggep saking makartining rasa, kasebut sirnaning papan lan tulis. Inggih ing riku punika jumenenging rasa jati kang nyata, kang yekti, kang weruh tanpa tuduh. Wondene kasembadanipun kedah angendelaken ing saniskara, sarana angereh solahing anggota (badan). Mangrehing anggota wau ingkang langkung pikantuk kalihan sareyan malumah, saha sindhakep utawi kalurusaken mangandhap, epek-epek kiwa tangen tumempel ing pipu kiwa tengen, suku ingkang lurus dalamakan suku ingkang tengen katumpangaken ing dalamakan suku kiwa, mila lajeng kasebut sidhakep suku (saluku) tunggal. Punapadhene angendhelna ebahing netra (mripat), inggih punika engkang kawastanan meleng. Lampah mekaten wau engkang kuwasa ngendelaken osiking cipta (panggagas), tuwin amuntu ilining rahsa, dene pancering paningal kasipatna amandeng pucuking grana medal saking sa’antawising netra kakalih, inggih punika ing papasu, dene pamendengipun kedah kalayan angeremaken netra kakalih pisan.


Sasampunipun lajeng nata lebet wedaling napas (ambegan) mekaten : pinariking napas saking puser kasengkakna minggah anglangkungi cethak ingga dumugi ing suhunan (utek = embun-embunan) sarta mawi kaendelna ing sawatawis dangunipun. Sumengkanipun napas wau kadosdene darbe raos angangkat punapa-punapa, dene temenipun engkang kados kita angkat. Punika ilining rahsa ingkang kita pepet saking sumengkaning napas wau. Manawi sampun kraos awrat penyangginipun napas inggih lajeng ka’endhakna kalayan alon-alon. Inggih patrap ingkang mekaten punika ingkang kawastanan sastracetha. Tegespiun cetha = empaning kawruh, cetha = antebing swara cethak, inggih cethaking tutuk kita punika. Mila winastan makaten, awit duk kita mangreh sumengkaning napas anglangkungipun dhada lajeng minggah malih anglankungi cethak ingga dumugi suhunan. Manawi napas kita boten dipun ereh, dados namung manut lampahing napas piyambak, tamtu boten saged dumugi ing suhunan, margi sawrg dumugi ing cethak lajeng sampun medhak malih. Punapdhene ugi winastan daiwan (dawan), pikajengipun, mangreh lebet wedaling napas ingkang panjng lan sareh, sarwi, mocapaken mantra sarana kabatos kemawon. Inggih punika mungel “hu” kasarengan kalihan lumebeting napas, inggih paniriking napas saking puser minggah dumugi ing suhunan. Lajeng “ya”, kesarengnan kalihan wedaling napas. Inggih medhaking napas saking suhunan dumugi ing puser, minggah mandhaping napas wau anglangkungi dhada lan cethak. Dene anggenipun kawastanan sastracetha, margi nalika mocapaken mantra sastra kaliyan : hu – ya, wedaling swara ingkang namung kabatos wau, ugi kawistara saking dayaning cethak. (ungeling mantra utawi panebut kakalih “ hu – ya, ing wiridan naksobandiyah. Kaewahan dados mungel : hu – Allah, panebutipin ugi kesarengan lampahing napas. Dene ing wiridan satariyah penebut wau mungel “ hailah haillollah, nanging tanpa angereh lampahing napas)


Menggah lebet wedaling napas kados kasebut ing nginggih, sa’angkatanipun namung kawusta angambali rambah kaping tiga, mila mekaten awit tarik napas lita sampun menggeh-menggeh. Dene menawi sampun sereh, inggih lajeng kaangkatana malih, mekaten salajengipun ngantos merambah-marambah sakuwawinipun, margi saya kumawi dangu, sangsaya langkung prayogi sanget. Dene sa’angkataning pandamel wau kawastanan : tripandurat tegesipun tri = tiga, pandu = suci, rat = jagat = badan = enggene suraosipun : kaping tiga napas kita saged tumeneng ing ngabyantaraning ingkang Maha Suci manggen ing selebeting suhunan (ingkang dipun suwuni). Inggih punika ingkang kabasakaken paworing kawula Gusti, tegesipun : manawi napas kita sumengka, kita jumeneng gusti, yun tumedhak, wangsul dados kawula. Bab punika para nupiksa sampun kalintu tampi! Menggah ingkang dipun wastani kawula gusti, punika dede napas kita, nanging dayaning cipta kita. Dados ulah samadi punika, pokokipun kita kedah amanjangaken panjing wilijing napas (lebet wedaling napas), kalihan angeningaken (ambeningaken) paningal, sebab paningal punika kadadosan saking rahsa.


Wondene patraping samadi kados kasebut ing nginggil wau, ugi kenging karancagaken, uger kita tansah lumintu tanpa pedhot mangreh panjing wilijing napas, kalihan lenggah, lumampah, utawi nyambut damel inggih kedah mboten kenging tilar mangreh lebet wedaling napas wau, ing kang sarana mocapaken mantra mungel : hu – ya, kados ingkang kajarwa ing nginggil.


Kajawi punika, mirid saking tembung daiwan, punika ugi taksih darbe maksud, sanesipun malih, inggih punika ateges panjang tanpa ujung. Utawi ateges langgeng. Dene pikajengipun amastani bilih wontening napas kita punika sanyata wahananing gesang kita ingkang langgeng, inggih wontening ambegan kita. Dene ambegan punika, sanyata wontening angin ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, ingkang sasarengan kalihan keketeg panglampahing rah (roh). Bilih kakalih wau kendel boten makarti nama pejah inggih risaking badan wadhag wangsul dados babakalan malih. Mila sayogyanipun lampahing napas inggih ambrgan kita ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, kedah kapanjang-panjangna lampahipun, murih panjanga ugi umur kita temah saged awet wonten ing donya tutug panyawangipun dhateng anak, putu, buyut, canggah, wareng ingkang babranahan.


Wontenipun andharan ing nginggil, mretelaaken bilih kawruh pasamaden punika sanyata lanhkung ageng pingunanipun, mila lajeng sinebut sastrajendayuningrat pangrueating diyu. Tegesipun sastra = empaning kawruh, jendra = saking pangarbaining tembung harja endra. Tegesipun harja = raharja, endra = ratu = dewa, yu = rahayu = wilujeng, ningrat = jagad = enggen = badan, suraosipun : mustikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon, karaharjan, ketentreman lan sapanunggalipun. Dene tegesipun pangruwating diyu = amalihaken diyu : dene diyu = danawa = raksasa = asura = buta, punika kangge pasemoning piawon, penyakit, rereged, babaya, pepeteng, kabodhohan lan sasaminipun. Dados diyu punika kasokwangsulipun dewa, ingkang ateges pinter, sae, wilujeng lan sapanunggalipun. Mengku suraos amatsani ingkang saged anyirnakaken saliring piawon tuwin samubarang babaya pakewed. Mangertosipun, sinten engkang tansah ajeg lumintu anandangaken ulah samadi, punika bilih ing suwaunipun tiyang awon, lajeng sirna piawonipun, malih dados tiyang sae lampahipun. Tiyang sakit sirna sasakitipun, dados saras, tiyang murka daksiya lajeng narimah sabar. Welas asih. Tiyang goroh lajeng dados temen. Tiyang bodho dados pinter sanget, mekaten ugi tiyang golongan sudra dados waesia, waesia dados satriya, satriya dados brahmana, brahmana sumengka pangawak braja asarira bathara.


Gampilipun, sawarnining kapiawon tuwin saliring godha rencana, babaya pakewed punapa kemawon, ingkang tuwuh saking kacidraning manah pribadi, punika sadaya sirna lebur dening pangastuti ulah samadi, inggih amestu cipta amurmeng pandulu woring kawula gusti. Mekaten ugi sawarnining babaya pekewed ingkang medal saking pendameling liyan, kadosta sanadyan kewan ingkang purun angganggu damel, tamtu kataman ing wilalat peksi miber ingkang ngungkuli, tamtu pejah sirna kuwandhanipun. Punapadene ugi tumrap sasamining titah ingkang nedya anglawan nagremehaken tuwin angluhuri kemenangan lan sasaminipun tamtu boten badhe kalampahan, salagi saweg purun papandengan kemawon, sampun tamtu badanipun lajeng geseng dados awu, inggih margi saking kaungkulan agenging prabawa ingkang tansah sumunar gumawang prabanipun kadidene wimbaning purnama sadz.



SERAT AJIPANUNGGAL

Serat Ajipanunggal punika medharaken wontenipun pancadriya tuwin kawruh pasamaden utawi kawruh yoga. Dene ingkang badhe kawedaraken rumiyin, wontening nutupi babagan nawasangan. Menggah wontenipun tembung wau kangge ucap-ucapanipun (janturanipun) Nata Dwarawati utawi sang arjuna menawi kaleres samadi maneges ing dewa. Lah inggih saking tembung punika wau ingkang dipun ugemi sarta lajeng dados pamanggih umum. Ananging menggah ing sejatosipun kita boten saged yenta anutupana salah satunggal kemawon saking babagan nawasanga wau. Liripun upami kita nutupi grana margining napas , lah mangka lampahing napas punika inghkang minangka dados tetekening ulah samadi, sebab napas punika sanyata dados tetangsul utawi dados wahananing gesang kita, amila yenta grana kalantur dipun tutupi, saestu badhe dumugi ing jaman sakaratil. Dados babahawn nutupi nawasangan ( bolonganipun anggota sanga ) punika tetela saking kalentuning panampi tandayektinipun saweg nutupi bolongan satunggal kemawon, tentu boten saged tumindak.


Ingkang mekaten wau, ing ngriki kedah anerangaken menggah ing kaleresanipun , inggih punika mekaten : tembung nawasanga punika panggambaranipun tembung ; hawa + song + nga, wetahipun kedah mengel : nutupi babahan hawa, song = kosong, nga = kosonga = kosongna. Suraosipun  : sedaya margining hawa napsu sami kakosongna, ateges boten dipun margeni.


Dene margining hawa napsu wau winastan indriya , utawi nama pancadriya , dunungipun : paningal, pamiarsa, ras ilat tuwin rasa badan. Tembung pancadriya , leresipun mungel : pancen indriya, wusana aksara i =  ai  luluh dhateng  ca = c    , kantun mungel pancen driya, ateges papancening karsa, inggih ingkang nyudiyani, anjageni, angladosi tuwin ingkang among kjarsa. Menggah ingkang among karsa punika sejatosipun wonten nem perkawis  ( wewah : 1. saking : 5 ) inggih punika pamicara. Mila lajeng wonten tembung : sad indriya utawi indriya nem ( ing candrasangkala watak nem tembung sadrasa = sad rasa  = sad guna = sad gana, tegesipun rasa nem


Kasebut ing Mahabarata Wanaparwa ing perangan Aranyakaparwa, sad indriya wau lajeng winastan taman lalanggening indriya nem. Ing ngriku katetepaken panggenan ingkang dados ugering pamarsudi lan sasanggeman. Mangertosipun ; kita kedah marsudi dhateng widagdaning pamepes pangrubedaning pancendriya nem prakawis kados kasebut ing nginggil. Dene pambrantastanipun temtu boten saged sampurna menawi namung lajeng kapiyagah kemawon sareng-sareng kaliyan nalika kita mangsah samadi. Hewadene inggih wonten ingkang ngaken saged angruwes sarta amiyagah, pangaken makaten wau tangeh leresipun. Awit saupami kita ngangarang punika punapa  saged kalampahan mangsi saking wadhah, lajeng kawesokaken ing delancang kemawon  lajeng saged dados ukara tuwin tembung ing kinajengaken.


Menggah pambrastaning pancadriya wau, sanyata boten saged sami kaliyan lampahing Hyang Pawana   ingkang kuwasa ambuncang sakathahing pepedhut ingkang anggendanu wonten ing gantariksa. Nanging kedah mawi sarana tata, titi, talatos atul sarwa ngatos-ngatos dhateng saliring pakarti punapa kemawon, sarta katindakaken saben dinten wonten samadyaning pasrawungan. Mila makaten awit ing salami-laminipun , ing salebeting cipta punika sampun kaebeken deneng susuker tuwin baladering pepenginan lan kamelikan. Lah ingkang makaten wau sampun samestinipun kemawon yenta sucining cipta katemah lebur sumawur sirna gempang tanpa tilas, kekantunanipun namung mawujud gandana (gandini ) ingkang banger bacin balarongan sapurug-purug, lah inggih wontening ganda amis ingkang manuksma wonten salebeting cipta wau punika ingkang tansah kita resiki ing saben dintenipun, sarana tirtaning kawicaksanan kanthi kasantosaning pangesti


Tutuladhanipun kadosdene sang raja putri Wirata Dewi Durgandini sadherekipun sang Durgandhana (tembung Durgandhana ugi tuwin Durgamdhini tegesipun ganda awon   mila Dewi Durgandhini ugi peparap Lara Amis ), sasampunipun dipun jampeni dhateng bagawan Palasara lajeng sirna mamalinipun ( sirna piawoning pandamelipun) nunten santun naminipun lajeng peparap Dewi Yojanagandi, inggih Gandawati utawi cakrawala (sayojana) menggah pikajenganipun : menawi sampun sanyata kuwasa ambrasta susukering indriya, temtu lajeng boten saged kenging pangrubedha sakathahing pandamel ingkang tuwuh saking kamayaning sad guna kasebut ing nginggil. Liripun kita wonten ing jagading pasrawungan boten ambedak bedakaken satru utawi mitra, cipta kita kuwasa nanggulangi panempuhing satru ingkang mawujud wanudya ingkang mameraken temah teguh kataman jemparingipun Sang Hyang Hasmara. Sosotya rajabrana namung kasamekaken belng utawi wingka, swara mar mardumardawaingkang linudhing gambang calempung, boten beda kaliyan swaraning grobag ingkang ngambah ing pagragalan boten kerem ing pangalem boten geseng dening latuning kadoracaran, gandaning ratuswida lan jebadkasturi saestu sami kaliyan gandaning bangke ingkang basah, boten pisan-pisan angisep-isep dhateng saliring kadhurakan, pangrubedhaning lidhah dhateng saliring kanikmatan, boten pisan dipun kenyami. Dene wedaling swara manis arum anuju prana kados dene madu pinastika tansah andamel kamartaning sasama , kadoracaran tuwin wuwus kacandhalan boten pisan kaucapaken, salring pangandika terus terang patitis nyata ing dalem cipta tansah suci ngumalawening, punapa dene boten pisan-pisan angemot piawon senadyan namung sawiji sawi.


Amangsuli wontening tembung pancedriya  (umum pancadriya), sanadyan sampun sami dipun sumurupi, nanging menggah ing salokanipun punapa dene dunungipun, kinten-kinten taksih awis-awis sanget ingkang ngawuningani, mila kula manah perlu ing mriki kedah katerangaken inggih punika mekaten : Kasebut ing serat Mahabarata bagean ing adiparwa kacarios dewi Drupadi punika dados garwanipun pandhawa gangsal sarta saking garwa wau sami peputra nyatunggal. Para rajaputra wau kasebut Pancabala (Pancawala) pancakumara lan ugi kasebut pancabaladwitiya tegesipun pancabala = anak jaler gangsal, hadwitiya = panunjul tanpa timbang lan inggih Pancabaladwitiya punika ingkang dados pralampitaning pancendriya


Raja putra gangsal wau putra saking prabu Yudistira  nama Sang Pretiwindya, kangge pralambanging paningal, saking Sang wrekudara nama Sang Sotasoma, kangge pasemoning panggada, saking Sang Arjuna, nama Sang Sutakirti kangge pangupamening pamiyarsa, saking Sang Nakula, nama Sang Satanika kangge sanepaning raosing lidhah, Sang Sadewa nama Sang Srutakarma , kangge pralampitaning  raosing anggota


Ing nginggil sampun kasebutaken bilih tembung pancadriya punika sakngh luluhing tembung pancen driya ingkang wusananipun lajeng mingsed dados mungel pancadriya. Dene pancadriya wau kakinten namung wonten gangsal margi kapirit saking tembung panca ingkang darbe teges gangsal. Milanipun ngantos saged kedadosan ingkang makaten punika, jalaran saking ingseding tembung wau dereng dipun sumerepi. Dene yen leresipun pancendriya inggih papancening karsa punika wonten nem ( mriksanana, mahabarata ing adiparwa tuwin candrasangkala ing watak : 6 ; tembung sadrasa jarwanipun : rasa nem ) dados tumrap ingkang sampun dipun sumerepi ing ngakathah ( ingkang sampun dados kawruh umum ) taksih kirang satunggal  inggih punika wontening pamicara. Ing mriki sampun jangkep nem , inggih punika : paningal, Pangganda, pamiyarsa , raosing ilat raosing anggota (badan) lan pamicara.


Wondene wonteneing pamicara lajeng dipun pralambangi sang Gathutkaca inggih punika putranipun sang Werkudara patutan saking Dewi Hidhimba (Arimbi), sebab saderengipun pandawa daup kaliyan dewi wara drupadi, sang werkudara anggarwa dewi hidhimba, patutan satunggal, inggih sag gathutkaca punika.


Dene Sang Gathutkaca anggenipun boten kalebet dados putranipun retna drupadi sebab retna drupadi punika kangge pralampitanipun gesang, mila Dewi Drupadi tetep namung puputra gangsal kasebut Pancabalahadwitiya, inggih ingkang dados pralambanging : paningal, pangganda, pamiyarsa, raos lidhah. Lan raosing badan. Dene sedaya wau sanyata sami kadadosan saking purbawasesaning gesang (drupadi) nanging gesang boten kuwasa saged damel wicara , kajawi namung saged damel swara. Kanyatahanipun lare saged micara (wicanten) punika tetela saking anjaraning jajahrana lan saking pasrawungan ingkang lajeng tinampen ing indriya gangsal. Mila yen lare wiwit lahir boten sasrawungan kaliyan tiyang temtu dados bisu.


Mangsuli sang Gathutkaca, kejawi dados pralambanging wicara ugi lajeng dados pralambanging swara. Dene wicara wijangipun dados wicara, kedah kaulah dening indriya gangsal, mila sanadyan sang Gathutkaca punika kacarios dados putraning Pandhawa ingkang pambajeng saking Sang Werkudara, nanging sejatosipun dados putra wuragil. Putranipu Dewi Drupadi saking sang Werkudara , nama sang Sutasoma, kangge pralambaning  pangganda , dene Sang Gathutkaca ingkang kangge pralambaning swara lan wicara. Menggah wontenipun pangganda, punika kany tahaning napas makaten ugi wontening swara lan wicara, sedaya wau tetela kedadosan saking lampahing hawa, dene hawa kapralambangan sang Werkudara. Dados tembung Sang Sotasoma lan sang Gathutkaca sami putranipun Sang Werkudara menggah suraosing pikajenganipun amastani bilih napas lan swara punika kadadosan saking hawa. Mila yen cangkem mingkem irung kapithes anglengkara yen kita saged wicanten, sarta yen ngantos sawatawis dangunipun tentu lajeng karawuhan Sang Hyang Yama, margi kaoncatan Sang Hyang Maruta ( pejah)


Kasebut Sang Gathutkaca krama angsal Dewi Pregiwa, tembung Pregiwa , panggarbaning tembung pregi hawa, tegesipun pregi = prawan=parawan= paraban = praban = sorot. Tembung prawan ugi darbe teges suci utawa urip. Tembung pregi ugi ateges tuk, panggenan utawi wadhah. Tembung hawa sampun jarwa, Gathutkaca  sampun kasebut ing ngajeng yen dados pralambanging wicara utawi swara, mila Gathutkaca saged miber tanpa lar, mletik tanpa cuthang sarta kacarios sang Gathutkaca bilih wonten ing mega malang, sami kahadhep para bledheg, awit sang Gathutkaca awit sang Gathutkaca wau dados ratunipun. Menggah sejatosipun ingkang dados baledheg punika inggih sang Gathutkaca piyambak, margi baledheg punika inggih swara  dene purwanipun saking tempuking hawa. Anggenipun Pregiwa dados bojonipun Gathutkaca, mengku pikajeng amastani bilih wonten swara punika kanyatahaning hawa, dene hawa punika inggih swara, utawi hawa punika ingkang amadhahi swara, sarta inggih hawa punika ingkang ngawontenaken swara.


Sadherekipun Dewi Pregiwa, nami Dewi Pregiwati punka kagarwa Sang pancawala (pancabala=pancabaladwitiya) tembung pregi sampun kajarwan tegesipun wati =rasa mengku suraos : rasa kang suci utawi panggenaning rasa inggih wadhahing rasa. Dene Pancawala   (pancabala=pancabaladwitiya) ugi kasebut dewa lilima inggih punika 1. Pretiwindya 2. Sang Sotasoma, 3. Sang Srutakirti, 4. Sang Satanika, 5. Sang Srutakrama,  punika sampun kajarwa ing nginggil bilih dados pasemoning pancedriya (indriya gangsal) inggih ingkang katelah nama pancadriya. Dados yen makaten, Pregiwati anggenipun dados garwanipun Sang Pancawala darbe teges : indriya gangsal punika rasa ingkang suci, tembung suci ing ngriki ateges urip utawi langgeng.


Kasebut ing serat baratayuda, para putranipun Drupadi gangsal pisan, inggih sang pancawala, sedaya sami kapejahan dening sang aswatama, nalika lampah dhusta ngamu wonten pakuwon Pandhawa, dene sang Gathutkaca pinejahan dening sang Karna, tegesipun pancawala  tuwin Gathutkaca sampun kajarwa ing nginggil, dene tegesipun karna = kuping mangertosipun : wontening wicara ingkang boten saged tinampen talinganing ngasanes, marga sampun kasumerepan kacidranipun, punapa dene bilih talingan kita boten purun kapanjingan utawi kelu dhateng swara kadoracaran wuwus kacandhalan lan sasaminipun, punika nama pejahing wicara lan swara, inggih atages sang karna amejahi sang Gathutkaca, wondene sang Aswatama kangge pralambang mangsah samadi, mila sayoginipun kita samiya anandhangaken ulah samadi ig sakuwasanipun, murih papancening indryia kita, inggih sang Pancabalahadwitiya (Pancawala) saged pejah. Ateges boten kataman dening kamayaning sadguna, inggih pepenginan nem prekawis. Menggah pepenginan nem prekawis wau inggih ingkang among karsoutawi mituruti karsa, wiwijanganipun kados ing ngandhap punika :

1. Paningal (Sang Pretiwindya) anjurungi karsa niningali wawarnen ingkang sarwa edi peni.

2. Pangganda (Sang Sotasoma), mituruti karso angambet gagandan ingkang amrikarum angambar-ngambar

3. Pamiyarsa (Sang Srutakirti), among karsa niling-nilingaken pamirenging swara ingkang sekeca angrangin angayut-ayut, langkung-langkung pangrinthihing swara salebeting pulang asmara.

4. Pangraosing ilat inggih pangenyam (sang Satanika) angumbar karsa raosing sawarninipun dhadhaharan tuwin unuj-unjukan ingkang sami miraos.

5. Pangraosing anggota (sang Srutakarma), anguja karsa sakecaning sarira (kesed sungkan sasaminipun), langkung malih pangujaning raos kanikmatan asmara.

6. Wicara ( sang Gathutkaca), anjurungi karsa wedaling swara sereng kadosta : nepsu, muring-muring, srengen lan sasaminipun, dene wedaling wicara ingkang manis arum anujuprana, namung yen kapanujon amawa pamrih, ateges wicara ingkang lamisan, mila sang Gathutkaca ngangge tlumpah madukacarma, tegesipun madu = wedaling wicara ingkang arum amanis, kacarma = kaawak, pikajenganipun amastani ingkang pangawak madu. Ananging pangawak madunipun sang Gathutkaca inggih wedaling wicara ingkang manis arum kadi madu pinastika punika mesi darubesi ingkang sakalangkung mandi, sinten ingkang kirang waspada, bilahi ingkang pinanggih.


Para raja putra kasebut ing nginggil, kajawi sang Gathutkaca, sami sirna dening aswatama, para mardibasa sami anegesi anak kapal, kapendhet saking tegesipun aswa=kapal, tama=anak, yen pikajenging pralampita boten makaten. Nanging tembung aswa ateges kapal paprangan , dene tegesipun tama =utami =prayogi=sae, menggah kapal punika dados tutumpakanipun,sasaminipun kadosdene sepur motor, kreta lan sapinunggalanipun, ingkang sedaya wau dados pirantosipun pangater utawi pangiring, darbe kajeng tumrap sakathahing pirantos ingkang saged andumugeni panedya, dados tembung aswatama darbe teges :tumpakan ingkang utami, utawi pangater ingkang sae tuwin prayogi, dene tumpakan utawi pangater, punika darbe raos sami kaliyan piranti sarta piranti ugi darbe kajeng sami kaliyan pandamel. Saking katrangan punika, dados tembung aswatama samangke langkung sumeleh yen dipun tegesi : pandamel ingkang utami. Mila kasebut ing serat baratayuda, aswatama gadhah pusaka saking tiyang sepuhipun inggih sang druna, pusaka wau nami cundamani. Tegesipun cundha = cundhuk , mani = rahsa, dene tembung cundhuk darbe kajeng sami kaliyan tembung : cocog, gathuk, tunggil,awor, suraosipun : tunggil rahsa, inggih anunggilaken rahsa  utawi maworing rahsa. Jarwa titiga pundi ingkang kapilih lan saged andamangaken panggalih.


Kasebut aswatama mijil saking dewi wilutama ingkang malih kapal sembrani sarta saged mabur. Dene tegesipun tembung wilu = ilu = toya, toya ingkang kangge pasemon piwulangin kawruh ( golek banyu bening = golek kawruh ) tama = utami, suraosipun piwulanging kawruh ingkang utama. Anggenipun saged mabur kangge pralambang sumengkaning napas kita tumameng ing susuhunan (embun-embunan) , inggih pandamel mangreh panjing wijiling (mlebet medaling) napas punika kawruh ingkang utami piyambak. (Bab Aswatama tuwin kapal sembrani malihipun Dewi Wilutama ugi, andarbeni teges sanesipun malih, panjarwinipun kasebut ing srat Madyabawana)


Wondene ingkang kasebut perangipun sang arjuna mengsah lan aswatama, kakalihipun sami angedalaken senjata brama, punika kangge pangumpamen kita anandangaken pandamel, upami kita nedya angraosaken prabawa mangka kapanujon mengsah kita inggih darbe aji wau, yen mekaten temah lajeng pur kemawon ananging sanyatanipun ingkang mesti kasoran ing prabawa, punika pundi ingkang ngenmgggeni lepating pandamel. Dene ingkang kasebut, pasinten ingkang kadhawahan jemparing wau dados bonten wonten jawah salebeting kalih welas tahun, punika pralambangipun tiyang ingkang kinasoraken saking dayaning pamandeng temtu ical kaengetanipun (kawruhipun). Dene jawah kangge pralambanging kawruh, kapirit saking tembung jawah = udan = udani = ngrawuhi


Ingkang kasebut , sasampunipun aswatama masrahaken sanjata cundhamani dhateng Arjuna sabab saking kawon perangipun, lajeng kasabda dhateng bathara kresna, yen aswatama kedah kesah ambraung ngantos tigang ewu taun laminipun. Menggah jarwanipun makaten : ulah samadi punika pikajenganipun kita anggriyakaken paningal dumunung salebeting paningal, tegesipun : paningal kita ingkang medal, punika kalebetna ing telenging paningal murih boten sumerep punapa-punapa, dene telenging paningal punika enggen raosing gesang kita ingkang sejati. Dados manawi kita mboten darbe lan boten nandangaken  ulah samadi, punika gesang kita kaumpamaken ambraung sebab boten nate mantuk utawi angenggeni griya kita ingkang sejati kados kasebut ing nginggil


Makaten ugi ingkang kasebut cundhamani wonten arjuna, nanging boten karimat, awit arjuna muhung katungkul amudya dyah banuwati kemawon. Carios ingkang makaten inggih namung kangge pralambang kita ingkang lirwa dhateng panindaking pandamel samadi punapa malih ingkang kasebut pusaka wau. Aswatama nampi saking bapa (Druna) lan bapa saking bathara guru , punika kangge pasemoningkawruh wau bilih sanyatanipun kita boten saged angsl sking panggelaring sastra utawi piwulanging guru. Dene angsalipun kawruh wau punika kedhah saking papadhanging kaengetan kita pribadi. Menggah papadhanging kaengetan kita pribadi bilih angsal papadhanging gesang kita pribadi, sagedipun pinaringan papadhanging gesang kita pribadi, bilih tinarimah samadinipun, kuwasa anjumbuhaken maworing kawula gusti.



WIRID MALADIHENING

Marsitakaken menawi badhe manekung,pipiridan wasiyat dalem kangjeng Panembahan Senopati Ngalaga Mataram menawi kalantih kados ing ngandhap punika

Awit angingirangi dahar lan sare, cegah syahwat, ameper hawa napsu sarta siyam ing sawatawis dinten , punapa dene boten kenging ngemu sakserik duka cipta


Menawi siyamipun kantun sadalu sampun ngantos sare sarta kedah ambisu. Ing wanci tengah ndalu lajeng siram, sarampungipun siram lajeng busana (ngangge-angge) sarwa suci, sarta kakonyoh gagandan langkang wangi-wangi. Punapa dene lajeng dedupa majeng mangetan, mangilen, mangidul, mangaler. Sasampunipun lajeng angajengaken keblatipun piyambak, inggih punika ing jaja.


Sareng sampun bangun enjing, wiwit tafakur (ssamadi)angwijah raga nutupi babagan hawa sanga. Tegesipun wonten rurupen sampun dipun tingali, wonten swanten sampun kapirengaken, wonten gagandan sampun ka’ambet, wonten wiraosan sampun kasauran, punapa dene yen karaos punapa-punapasampun karaosaken, salajengipun amepet turas lan suker


Dene patrapipun lenggah pitekun : jempol suku kapanggihaken jempol suku ingkang papak polok sami polok ingkang gathuk,jengku sami jengku ingkang rapet, purusa (pajaleran) sapalandhunganipun sinipat kaliyan jempol suku ingkang leres sampun ngantos katindhihan, nunten asta kakalih katumpangaken ing jengku. Sareng sampun sawatawis , lajeng sidhakep drijining asta antuk saselaning dariji, jempol asta dipun aben lan jempol asta, ilat katekuk minggah, lathi mingkem, lajeng mandeng pucuking grana kaliyan kejep ( merem) tumunten anjumenengaken panjenenganing dat  makaten :


Ingsun tajalining dat Maha suci kang amisesa kang kuwasa ngendika : kun Payakun : dadi saciptaningsun, ana sasedyaningsun teka sakarssaningsun, metu saka kodratingsun


Menawi sampun makaten, nunten epek-epeking asta kiwa kakempit ing cangklakan tengen, epek-epeking asta tengen kakempit ing cangklakan kiwa. Lajeng angeremaken netra (mripat). Prelu amadhangaken netranipun sajati ingkang dumunung ing sa’antawisipun alis kiwa tengen inggih punika papasu (caksu), sarta tansah mawas (mandeng) pucuking ardi tursina, inggih punika : grana, kallihan ngereh lebar-wedaling napas (ambegan) ingkang sareh (alon), kalihan manebut kabatos kemawon. Nebut : Hu, napas mlebet, nebut : Alloh, napas medal. Dados mungel : Hu-Alloh. Dene panarik inggih tumuruning napas wau kakandhasna dhumugi telenging Betalmakmur lan Betalmukadas, inggih punika teleng pagedhonganing wiji gesang ingkang dumunung ing salebeting pastapurusa (pajaleran). Terangipun kedah ulah manjangaken lampahing napas, margi napas punika pratandhaning gesang. Ateges bilih ambegan napasipun minggah, p[unika katarika manginggil dumugi ing susuhunan (sirah). Yen napas medhal, ugi ka edhakna dumugi ing puser (wudhel), punapadene lampahing napas kedahingkang alon. Lampahing napas minggah mandhap wau manawi saged sareh (boten menggah-menggah), saged ngleremaken raos pangraos, tegesipun : manah (kerap) boten makarti. Ing ngriku punika pratandhaning tinarimah:


Nabi Muhammmad, mumulenipun : dhahar sekul wuduk, lawuhanipun : lembaran ayam pethak mulus, sarem temper, lombok ijem, lalaban terong, dhaharan who-wohan sarta kokonyoh.


Wali Sunan Ngampeldenta mumulenipun : dhahar sekul abrit, lawuhan panggang wedar, sarem tamper.


Wali Sunan Benang, mumulenipun : dhahar sekul liwet, lalawuhan sakaparengipun, jenang manggul dipun wur-wuri bekatul.


Wali Sunun Kalijaga, mumulenipun : dhahar sekul liwet, jangan kangkung, ron sentul, ron senting, ron tuwin wohing kudhu (kemudhu), pecel lele, bakaran dhendheng gepuk, tuwin bakaran gereh lan balur.


Kanjeng Sultan Demak ingkang wekasan, mumulenipun : dhahar sekul punar, jangan oncom, sambel kedhele tanpa trasi.


Kanjeng Sultan Pajang Prabu Hadiwijaya, mumulenipun : dhahar sekul wuduk sapepaking lawuhan tuwin arang-arang kambang.


Kanjeng Panembahan Senapati Mataram, mumulenipun :dhahar sekul pera, lawuh gorengantombra, utawi sekul golong jangan menir, pecel ayam.


Kanjeng Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma, mumulenipun : dhahar ketan salak, ulam pindhang, ayam tuwin ulammahesa, utawi sekul golong jangan menir, pecel ayam.


Pangepungipun ketindakaken saderang utawi sasampunipun anindakaken manekung.


Menggah lampahing panekungan wau, prayogi ketindakaken ing saben dinten sakuwasanipun, ugi boten prelu ngingirangi dhahar tuwin sare. Ananing saben salapan dinten sapisan, langkung-langkung manawi kaleres dinten ijabah, punika prayogi anindakaken angingirangi dhahar sare kados kapratelakaken ing nginggil. Kacariyos dinten ijabah punika tumuruning wahyu kanugrahan. Dene dinten ijabah wau kados ing ngandhap punika :

1. Ing wulan sura ing tanggal 9 lan 10.

2. Ing wulan Mulud ing  tanggal 12.

3. Ing wulan Rejeb ing tanggal 27.

4. Ing wulan Ruwah ing tanggal 15.

5. Ing wulan Pasa ing tanggal 21, 23, 25, 27, lan 29.

6. Ing wulan Besar ing tanggal 8 lan 9.


Kajawi punika ugi wonten ijabah wektu, ing sadinten sadalu kaping sakawan. Wektu wau ugi prayogi kangge nindakaken panekungan padintenan, inggih punika :

1. Ing wektu bangun enjing nyarengi pletheking surya.

2. Ing wektu tengange, ngleresi srengenge wonten ing nginggil kita leres

3. Ing wektu seraping surya.

4. Tengah ndalu


Menggah ingkang dados bekaning panekungan punika wonten warni kalih prakawis, inggih punika : bekaning jiwa lan raga.


Bekaning jiwa :

1. Karem ngumbar kapirening karsa

2. Ambeg angkara murka.

3. Dora para cidra.

4. Remen mitnah, drengki lan srei.

5. Remen anganiaya.


Dene bekaning raga :

1.      Ulah crobo

2.      Lampah nista.

3.      Tingkah degsura.

4.      Kesed sungkanan.

5.      Lumuh nastapa pujabrata.


Miturut wirayating kadis, yen katabetan kados kasebut ing nginggil wau, saking adat luwangipun asring anyupetaken lalampahan, boten widada gesangipun. Sabab kakadosaning. Sabab kakadosaning beak sadaya wau punika kalebet ing babasan kados ing ngandhap punika :

1.      Nistha, papa, tegesipun : lampah nistha, yekti manggih papa.

2.      Dora sangsara, tegesipun : lampah dora, wekasan manggih sangsaara.

3.      Dhustha lara, tegesipun : lampah dhustha, wekasan manggih lara.

4.      Niaya pati, tegesipun : lapah niaya, wekasan manggih pati.


Prayoginipun suminggaha saking sakathahing bebeka kados kasebut ing nginggil wau, saestu andadokaen kamulyaning gesang ing donya engga dumugi ngakerat pisan. Langkun-langkung anindakaken lampah tapaning gesang sarta jakatipun, makaten :

1.      Badan, tegesipun trapsila anoraga, jakatipun : taberi ulah pandamel sae.

2.      Manah utawi budi, tapanipun anarima, jakatpun : aspen ing panginten-inten awon.

3.      Nepsu, tapanipun rila, jakatipun : sabar ing coba godha-rencana.

4.      Nyawa, tapanipun temen : jakatipun : boten dahwen utawi munasika.

5.      Rahsa, tapanipun utama, jakatipun : kendel analangsa.

6.      Cahya, tapanipun suci, jakatipun ening.

7.      Atma, tapanipun awas, jataipun : emut.


Kajawi ingkang sampun kasebut ing nginggil, wonten ingkang wajib dipun, tapani tuwin dipun jakati, punika :

1.      Netra (mripat) tapanipun : cegah sare,jakatipun : lumuh nyumerebi sawanining kamelikan awon.

2.      Karna (talingan) tapanipun : cegah hawa-napsu,jakatipun : lumuh miring para paben.

3.      Grana tapanipun : cegah ageganda,jakatipun : lumuh angisep-usep piawon.

4.      Lesan (pangandika) tapanipun : cegah dhahar,jakatipun : lumuh angraosi ing sasami-sami, punapadene ngedalaken pangandika awon.

5.      Urat tapanipun : cegah sahwat,jakatipun : lumuh datheng pandamel jina utawi bandrek.

6.      Asta tapanipun : cegah colong calimut,jakatipun : lumuh mara tangan.

7.      Suku tapanipun : cegah pandamel awon,jakatipun : lumuh lampah istirakat.


Manawi saged anglampahi punapa ingkang kasebut ing nginggil punika, saestu sinebut jalma utami. Mila wonten babasan saking wasitanipun Sunan Ngampeldenta, datheng putra wayahipun makaten :


Turua yen arep nepsu!, pikajenganipun : manawi rumaos badhe nepsu, katilema!


Nepsu yen arep perang!, pikajenganipun : manawi badhe perang, dipun pupuruna wedaling napsu.


Peranga yen arep mangan!, pikajenganipun : manawi karaosluwe badhe dhahar, kasayutama kados mangsah!


Mangana yen arep lumaku!, pikajenganipun : manawi badhe kekesahan tebih, kasaratana dhahar sawatawis!


Lumakun yen arep turu!, pikajenganipun : manawi karaos arip, sinamura kangge mlampah-mlampah.


Manawi piwulangipun Sang Hyang Wisnu, murih kalis boten dados mamangsanipun Sang Hyang Kala, titiyang dhinawuhan ngungelaken rajahkalacakra ingkang wonten ing jajanipun Sang Hyang Kala, inggih punika minangka panulakingrencaanipun Sang Hyang Kala. Dene ungelipun makaten :


Yamaraja – Jaramaya

Yamarani – Niramaya

Yasilapa – Palasiya

Yomidoro – Rodomiya

Yomidosa – Sodamiya

Yadayuda – Doyudaya (Dayudaya)

Yasiyaca – Cayasiya

Yasihama – Mahasiya


Tegesipun :

Heh pangrencana, mariya luwih.

Heh kang nekani, ilanga kaluwihanira.

Heh kang gaweluwe, amaregana.

Heh kang aweh mlarat, anyukupana.

Heh kang anyikara, mariya nangsaya.

Heh kang amerangi, laruta kuatira.

Heh kang para cidra, kagel welasa.

Heh kang dadi ama, yogya asiha.


Kalayan malih dhinawuhan anglampahi ulah brata gangsal prakawis kados kasebut ing ngandhap punika :

1.      Siyam, awit ing saben surya, dumugi ing wanci tengange (surya wonten saninggiling sirah).

2.      Melek, await ing saben bangun enjing ngantos ing rahintenipun dumugi sirep tiyang. Yen badhe tilem ing wanci sirep tiyang punika mawi adus, tangining tilem ing wanci bangun enjing ugi lajeng adus, nunten mlampah-mlampah sakuwawinipun.

3.      Ambisu, awit ing saben tangi tilem bangun enjing punika ngantos dumugi wedaling surya. Salebeting ambisu wau sarwi amesu budi :ayipta, rahyuning badan.

4.      Wahdat, ing saben satus dinten sapisan kengingipun sanggama.

5.      Sabar ing salami-laminipun.

Pangandikanipun Sang Hyang Wisnu, lampah gangsal prakawis punika dados pamgruwating papa cintaka, amuwuhaken bagya raharja.


Manawi aturipun Patih Rajasukapa datheng Prabu Cingkaradewa murih kuwawa jumeneng Ratu Binathara, kedah nyumerepi watak gangsal prakawis, inggih punika : 1. Bekti ingDewa, 2. Ajrih ing Ratu, 3. Ngidhep ing yayah – rena, 4. Mithuhu ing guru, 5. Asih ing Sagung dumadi. Dene pikantukipun :

1.      Sinten ingkang tansah ngabekti datheng dewanipun punika badhe kinabekten datheng manungsa.

2.      Sinten ingkang ajrih datheng ratunipun, punika badhe kineringaning manungsa.

3.      Sinten ingkang angidhep ing yayah-renanipun, (bapa – biyung), punika badhe kinedhepan ing manungsa.

4.      Sinten ingkang mituhu datheng gurunipun, punika badhe pinituhu ing manungsa.

5.      Sinten ingkang asih ing sagungdumadi, punika badhe kinasihan ing manungsa.


Mengggah patrapipun angabekti ing dewa punika kalih prakawis, inggih punika : puja lan brata. Kalih prakawis punika boten kenging pisah,karanten saestunipun boten wenang amuja yen dereng anglampahi tapabrata. Menggah lampahing tapabrata punika ugi gangsal prakawis :

1.      Wadhahipun angingirangi dhahar, ingkang winadhahan anarima. Sanadyan angingirangidhahar, yen boten anarima ing sawontenipun ingkang dinahar, inggih boten pakantuk.

2.      Wadhahipun anyunyuda sare, ingkang winadhahan engat, sanadyan awungua yen mawi sinawur ing sasamben minangka cagaking pamelek, punika inggih boten pakantuk. Karanten sasamben punika andadosaken supening panuwunan.

3.      Wadhahipun angawis-awisi sanggama, ingkang winadhahan tata,. Sanadyan awis-awisa sanggama, yen sanggamanipun resah, inggih boten pikantuk. Tegesipun resah punika bandrek jina sapanunggilipun ingkang boten mawi tata.

4.      Wadhahipun anyegah duka, ingkamg winadhahan : santosa. Sanadyan sabar darana, yen dahwen sendhon para waonan, inggih boten pakantuk. Karanten para waonan punika tumusipun angemu duka salebeting batos.

5.      Wadhahipun amepet pangandika, ingkang winadhahan : panalongsa. Sanadya ambisu, yen kakenan manah, inggih boten pakantuk. Mila utamining ambisu punika ing ngasepen, ingkang supados boten wonten ingkang ndamel kakening manahipun.


Manawi sampun lebda tapabratanipun, saestu enggal katarimah ing pamujanipun. Dene pasinaonipun tapabrata gangsal prakawis wau, wonten ing ucap-ucapaning pralamita makaten :

1.      Sabecik-becike mangan wareg, isih becik mangan kurang.

2.      Sabecik-becike mangan kurang, isih becik mangan sa’anane.

3.      Sabecik-becike mangan sa’anane, isih becik mangan saketemune.

4.      Sabecik-becike mangan saketemune, isih becik mangan saluwene.

5.      Sabecik-becike mangan saluwene, isih becik mangan sakuwasane.


Kaping laihipun :

1.      Sabecikane turu, becik melek.

2.      Sabecikane melek, becik tangi.

3.      Sabecikane tangi, becik lungguh.

4.      Sabecikane lungguh, becik ngadeg.

5.      Sabecikane ngadeg, becik lumaku.


 

Bilih punika sampun lantih, ing prakawis wau angringkes gangsal prakawis pisan, empan wonten ing papan empanipun wonten ing wanci ndalu, papanipun wonten ing ngasepen, inggih punika ing saben ndalu siyam awit ing serap surya nunten mlampah-mlampah tanpa angandika, yenwonten ingkang anumbuk utawi anunjang boten dados duka, yen kapethuk ing wanita ayu boten niyat remen. Utaminipun manawi siram wonten ing tempuraning bawani, lajeng angeli ing sadumuginipun. Punika yen kalampahan ing saben ndalu makaten, adapt luwangipun boten antawis lami, saestu wonten parmaning Hyang Kang Murbeng Jagad.

Katarimah panuwunipun, kasandhangan kasantosaning manah, kasebut iman sabitah, tegesipun : iman tetep, dumunung wonten ing gesang kita.


Menggah wontening iman kados kasebut ing ngandhap punika :

- Iman Idayat, dados : pikekahing awas.

- Iman Musasak, dados : pasilahing emut.

- Iman Sodrah, dados : pambukaning budi.

- Iman Kali, dados : pangesthining budi.

- Iman Maksum, dados : pangreksaning napsu.

- Iman Mahmut, dados : panuntuning ening.

-  Iman Mahbul, dados : panarimaning ening.

- Iman Mujiman, dados : kaelokaning birahi.

- Iman Gaib, dados : panuksmaning sukma.

- Iman Tayibah, dados : pasucianing rahsa.

- Iman Kamilmukamil, dados : sampurnaning pranawa.

- Iman Daim, dados : paneteping atma.


 

KATRANGAN :

Manawa arep migunakake ngilmu-ngilmu ing kitab iki wajib di sumui lan ditindakake kanti temenan sarate. Kayata laku-laku kang dadi sarana nggayuh mantra-mantra, aji-aji uga sarana kanggo jimat-jimat iki kabeh kudu katindakake amrih kasembadane apa kang dadi gagayuhane eling ing paribasan “Ngilmu iku dadine sarana laku”.

Dene kang dikarepake mutih, pasa, patigeni lan sakpanunggalane iku kaya ing ngisor iki jarwane :

1. Pati geni : ora mangan lan ora ngombe lan ora turu, sarta manggon ana ing kamar (senthong) baae, apa dene yen bengi ora kena nyemut diyan.

2. Nglowong : ora mangan lan ora ngombe ananging kena turu sawetara bae lan kena lelungan.

3. Ngebleng : ora mangan ora ngombe lan ora kena metu saka kamar, kenane metu mung yen kabener sene utawa bebanyu, lanuga kena turu sawetara bae.


Laku ngowong utaw ngebleng kang wewangen telang dina telung bengi utaawa 7 dina 7 bengi iku utamane yen wis kari sadina sawengi nganggo dirangkepi ambisu. Yaiku ora caturan, sarta manggone kudu andewe ana sajeroning papan kang kinira ora srawungan karo uwong.

Mutih : kang dipangan mung sega thok, tanpa uyah lan lelawuhan, utawa papanganan liyan,sarta ngombene mung banyu wantah (tawar).

Apa dene laku mutih kang nganti 40 dina 40 bengi iku hakekate mung nyirik uyah, yaiku ora mangan sarupane panganan kang nganggo uyah.

Laku mutih milang kepel : tegese Manawa laku mutih milang kepel 7 bengi lan pati geni sawengi iku : mutih ing dalem sadina sawengi kang sapisan mung mangan sego putih 7 kepel, banjur saben sadina kasuda sakepel, tumekane dina kang kaping 7 mung kari sega sakepel, nuli kateusake pati geni sadina sawengi.


Laku melek : ora kena turu, anggone miwiti kudu saka wengine dhisik, banjur kateusake rinane, upamane wiwit jumuah sore jam 6, rampunge setu sore jam 6.


Wong kang arepnglakoni iku sarat kudu anuceni badan lan ati dhisik, mungguh kang aran nuceni badhan iku adus karmas kang resik, dene nuceni ati iku sarana nyenyuda ubaling hawa napsu.


Wong kana rep mentas luwar saka anggone anglakoni, kayata mutih ngebleng, pati geni lan liya-liyane, iku ora kena banjur daya-daya mangan lan ngombe apa-apa sakarepe dhewe, ananing kudu di rih-rih saka sathithik. Wiwit kang sapisanan mung ngombe banyu tawa sathithik, antara sajam lawase banjur kena ngombe banyu intip, (intip kabakar banjur dicoribanyu tawa) banyu intip iki diombe mbaka sathithik. Manawa wus sawetara weteng ora krasa lara banjur kena mangan bubur adhem uga mbaka sathithik, iki mau kabeh kudu diduga-duga sapantese aja banjur mangan sawarege mundhak lara wetenge.


Saluware anglakoni manawa awake wus kapenak kaya adapt sabene, banjur anganakake riaya, kang lumrah riyayane sego gurih, lawuhe pitik utawa endhog pitik diolah lambaran, ujube asung dhahar Gusti Rosul, didoangnana Slamet Kabul.


Katrangan bab Rajah :

Miturut kaol wawatone wong kang nulis rajah kanga rep dianggap jimat utawa sarana apa bae, mangka yen nulis panulisane mau pinuju ing dina :

1. Akad kudu ing wanci tengenge

2. Senen kudu ing wanci bakda luhur bener

3. Salasa kudu ing wanci wisan guru kira-kita jam 10.30 esuk

4. Rebo kudu ing wanci esuk

5. Kemis kudu ing wanci luhur

6. Jumuah kudu ing wanci  Maghrib.

7. Setu kudu ing wanci Ngasar.


Kalaja saka iku samangsane arep migunakake jimat, rajah, sadurunge nulis rajah kanga rep dienggo kudu ngelakoni pasa 3 dina 3 bengi ngebleng,dene riyayane mung mamangan who-wohan bae,iku yen arep kepingin apa saksedyane kasembadan dening Pangeran, ingkang sipat Esa wektu nglakoni 3 dina 3 bengi kang winatek mantrane mangkene : “Rokhku lumebu rohmu, rohmu lumebu rohku,rohku lumebu rohmu”


Iki niyate nulis jimat rajah maca mangkene :

“Bismillahirramaanirrahiim,nawaitu takhqaraban takhli umsri bismillahil laya ya ngaismihirafilar lafis syamai wa huwa samiul ngalim, birahmatika iya arkhama rokhimin”.


Iki dongane yen arep gawe jimat :

“bismillahirrahmaanirrahim,allhuma imaga muta dzaba”.


Iki dongane yen anggulung jimat, mantrane mangkene :

“ Lailla ha illallah Muhammad Rasullah”


Iki dongane yen wong arep jimat :

“assyalamu qaaula min robirrakhim” kawaka kaping telu (3)

1.Yen arep tarakbrata

Yen arep tarakbrata (tirakat), kudu adus wuwung dhisik, mantrane niyat ingsun adus, angadusi badan kayun, manggih toya rabani, dus lali, dus mani, badan adus den dusi padha badan, roh adus den dusi padha roh, sukma adus den padha sukma, dat teles sukma ngalam, dat urip tan kena kawowotan, urip sajeroning karsa, ingsun adus banyu saking tolah, byur njaba, suci njeroning badan, rabani, allahu sakarsa, allahu alaihi wasallam.

Sawise maca mantra banjur adus wuwung kang resik.

2.  Mantra supaya betah tarakbrata

“Ingsun nutup rasa, sang sir rasa  payungana ingsun, rahsa mangan cahya, cahya mangan rahssa, langgeng ing ciptaku, tetep mantep tan kena owah”.

Mantra diwaca saben bakda maghrib kaping 40, yen lagi tarakbrata.

3. Donga betah ora mangan lan ora ngombe lan ora turu

“Allahuma anta robbi lailaha ila anta alaika ya alahu yarabul’alamin”.

Donga diwaca kaping 40 yen lagi tirakat.

4. Donga yen lagi mutih supaya betah

“Sirulahi gagantine Allah, amangan cahya, den pangan lailahailalloh muhammadarosulloh”.

Donga diwaca kaping 40 yen lagi mutih.

5. Donga adus utawa raup.

“Nur cahyaning Allah nur gumulang cahyaning mohammad, mung rupa cahyaning rosulullah, waras kuat slamet.

6. Donga adus

“Assalamualaikum, Niyatingsun adus banyu bumi suci, raga suci, nyawa suci, sukma suci, dadi cahya nurcahya, ya muhammmad cahyaku,tan kena lelara, slamet.”

Donga diwaca kaping 3 mbarengi nggebyurake banyu.

7. Donga adus jamas

“bismillahirrahmaanirrahiim, nawaitu sumalhadi, minyaomil, tareki, niyatingsun manjing tarekan pasiyah, kitab baktulahul bablayaran sunatan lilahi tangala, allahuakhbar”.

8. Donga yen arep turu

“Almusangiru”

Diwaca kaping 100, yen arep turu, dosane dingapura dening Alloh.




Imajiner Nuswantoro 



 


 


 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)