Mantra Pananjakan Candi Sanggar Pananjakan Pusumalang, kec. Puspo, Pasuruan

0

Mantra Pananjakan Candi Sanggar Pananjakan Pusumalang, kec. Puspo,  Pasuruan



Imajiner Nuswantoro





Candi Sanggar adalah situs purbakala di lereng Gunung Penanjakan, Dusun Wonogriyo, Desa Pusungmalang, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan, yang diduga sebagai tempat pemujaan Dewa Brahma dari masa Majapahit. 

Lokasi dan Kondisi Fisik

- Ketinggian: Berada di 1.340 meter di atas permukaan laut pada punggung bukit kawasan Gunung Bromo.

- Luas Situs: Sekitar 20 meter x 25 meter (500 meter persegi).

- Keunikan: Menjadi satu-satunya bangunan candi di lereng Gunung Bromo.


Sejarah dan Temuan Arkeologi

- Masa Pembangunan: Dibangun secara bertahap antara abad ke-14 hingga abad ke-16 Masehi.

- Prasasti: Ditemukan prasasti pendek dan angka tahun berangka 1267 Saka atau 1345 Masehi oleh Balai Arkeologi Yogyakarta saat penelitian tahun 2005–2008.


Jagat permusikan kearifan lokal dan dunia spiritual spiritualitas Tengger mendadak gempar ! 

Sebuah batu kuno peninggalan tahun 1267 Saka (alias 1345 Masehi) dari Candi Sanggar, Pananjakan Pusumalang, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan, mendadak "dihidupkan" kembali lewat sebuah mahakarya alih wahana bertajuk "Mantra Pananjakan".



Imajiner Nuswantoro


Jagat permusikan kearifan lokal dan dunia spiritual spiritualitas Tengger mendadak gempar! Sebuah batu kuno peninggalan tahun 1267 Saka (alias 1345 Masehi) dari Candi Sanggar, Pananjakan Pusumalang, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan, mendadak "dihidupkan" kembali lewat sebuah mahakarya alih wahana bertajuk "Mantra Pananjakan".


Bukan sembarang lagu cover biasa, karya cipta imajinatif  ini berhasil membongkar rahasia susunan partitur lagu paling kuno di tanah Jawa yang selama ribuan tahun mengendap di batu prasasti.


Berikut laporan investigasi mengenai lagu mantra bertema "Asal Mula Kehidupan" yang bikin para sound engineer modern sungkem:


Siapa sangka, nenek moyang kita di lereng Bromo pada abad ke-14 ternyata sudah mengenal sistem notasi musik balungan laras pelog/slendro yang super rapi!


Pada baris atas prasasti pendek tersebut, ditemukan ukiran bulatan-bulatan kecil yang tersusun menjadi 2 gatra (total 8 nada/ketukan). Jika diterjemahkan ke dalam bahasa musik modern, notasinya berbunyi:


1 - 3 - 3 - 5 - 3 - 3 - 3 - 2


(Ji - Lu - Lu - Ma - Lu - Lu - Lu - Ro)


Susunan nada repetitif ini disinyalir sebagai beat atau tangga nada utama yang siap mengocok jiwa para pendengarnya menuju dimensi spiritual!


Sementara itu, pada baris bawah prasasti, terukir indah tulisan Beraksara Kawi (Jawa Kuna) yang jika dilafalkan berbunyi sangat magis:


"Pa dra dra dra mu la dra la"


Inilah Bijah Mantra alias mantra suci tentang asal mula kehidupan yang terpaut langsung dengan Sang Hyang Swayambhu (Sang Hyang Brahma) yang bersemayam di kawah Gunung Bromo.


Zaman dahulu kala, mantra ini dilantunkan oleh para Ulun Hyang (pendeta/pemimpin ritual kuno) dengan diiringi nada balungan ji-lu-lu-ma-lu-lu-lu-ro. Lagu ini diputar repetitif sebagai sarana pemujaan agar kehidupan di bumi tetap berkah, selamat, dan terhindar dari marabahaya.


Hingga berita ini diterbitkan, lagu "Mantra Pananjakan" dianjurkan untuk didengarkan saat matahari terbit (sunrise) di Pananjakan Bromo disarankan memakai jaket tebal agar tidak kedinginan saat mendadak merinding mendengar alunan mantra kuno abad ke-14 ini!








Sumber Kutipan :

https://www.facebook.com/groups/1601022247083479/permalink/2493890724463289/



Imajiner Nuswantoro 



Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)