Jual Setandan Pisang, Beli Sepotong Pisang Goreng (Prof. Dr. Dinn Wahyudin, MA, Msi)

0

 Jual Setandan Pisang, Beli Sepotong Pisang Goreng 

(Prof. Dr. Dinn Wahyudin, MA, Msi)



Imajiner Nuswantoro


Ada sebuah gambaran sederhana tentang mentalitas malas. ‘‘Jual setandan pisang, beli sepotong pisang goreng”. Pisangnya tumbuh sendiri di kebun. Tidak ditanam dengan perhitungan, tidak dipupuk dengan tekun, bahkan mungkin tidak pernah disiram. Ketika berbuah, langsung dipetik dan dibawa ke pasar. Laku, dapat uang. Setelah itu, uang hasil menjual pisang dipakai membeli sepotong pisang goreng. Selesai. Pisangnya habis, uangnya habis, dan yang tersisa hanya kenangan tentang betapa enaknya pisang goreng.


Di situlah letak persoalannya. Mengapa pisang tidak diolah sendiri? Bisa digoreng, dikukus, direbus, dibuat kolak, keripik, sale, atau aneka olahan lainnya. Setandan pisang yang dijual mentah mungkin hanya menghasilkan uang sekali. Tetapi jika diolah, nilainya bisa berlipat dan menghasilkan lebih banyak produk. Bahkan bisa dijual lagi, keuntungan diputar kembali, lalu usaha berkembang. Pisang yang sama, tetapi cara berpikirnya berbeda, menghasilkan nilai yang berbeda.

Sebuah  ungkapan Sunda yang sejalan dengan pesan tersebut: Ulah ngadahar siki nu rék jadi tangkal. Jangan memakan biji yang seharusnya ditanam menjadi pohon. Maknanya sederhana, tetapi mendalam.  jangan menghabiskan sesuatu yang sesungguhnya dapat dikembangkan menjadi sumber kehidupan dan manfaat yang lebih besar.


Analogi di atas, sama dengan menjual seluruh pisang, lalu membeli pisang goreng sebagai sesuatu yang terlalu pendek pandang. Pohonnya ada, buahnya ada, pasarnya ada—tetapi nilai tambahnya justru diberikan kepada orang lain.

Masalah utama adalah tidak memiliki kemauan untuk membuat pisang itu menjadi lebih bernilai. Pisang yang sama dapat menjadi buah segar, pisang goreng, keripik, sale, tepung, kolak, atau berbagai produk olahan lainnya. Hal yang membedakan bukan pohonnya, melainkan kreativitas, teknologi, keterampilan, dan keberanian mengolahnya. Di situlah sebuah komoditas berubah menjadi nilai ekonomi.


Ungkapan popular Masyarakat Barat, Don’t kill the goose that lays the golden eggs. Jangan membunuh angsa yang bertelur emas. Maknanya, jangan menghabiskan atau menyia-nyiakan sumber daya yang sebenarnya dapat terus menghasilkan manfaat. 

Sayangnya, sebagian masyarakat masih terjebak pada pola pikir: asal cepat dapat uang, selesai perkara. Tidak terpikir bagaimana membuat uang itu berkembang. Tidak terpikir bagaimana bahan mentah diberi nilai tambah. Tidak terpikir bagaimana hasil hari ini bisa menjadi modal untuk hari esok. Maunya tinggal petik, jual, dapat uang, lalu beli sesuatu yang sudah jadi. Setelah uang habis, kembali menunggu pisang berikutnya tumbuh.

Inilah yang disebut ekonomi “jual setandan, beli sepotong”. Bukan karena tidak punya sumber daya, melainkan karena tidak punya cukup kemauan untuk mengolahnya. Bukan karena tidak ada peluang, tetapi karena terlalu nyaman menikmati peluang seadanya. Alam sudah memberikan pisang, tetapi kreativitas tidak ikut tumbuh. Kemampuan mengolah sumber daya menjadi produk bernilai tambah merupakan kunci transformasi ekonomi dan peningkatan daya saing suatu bangsa” (World Bank, 2020).


Kalau pola pikirnya tetap begitu, jangan heran bila selamanya hanya menjadi penjual bahan mentah dan pembeli produk jadi. Orang lain yang mengolah pisang, orang lain yang menentukan harga, orang lain yang menikmati keuntungan. Ia cukup menjadi pemasok bahan baku sekaligus pelanggan setia.

Satire “jual setandan pisang, beli sepotong pisang goreng” sesungguhnya bukan cerita tentang pisang. Ini cerita tentang mentalitas. Tentang orang yang memiliki sesuatu, tetapi tidak mau mengolahnya. Memiliki kesempatan, tetapi tidak mau mengembangkannya. Memiliki waktu, tetapi enggan belajar. Memiliki potensi, tetapi malas berikhtiar.


Skala Makro Nasional


Pada skala makro nasional, logika “jual mentah, beli matang” bisa tampil dalam bentuk yang jauh lebih besar dan lebih mahal. Kita memiliki minyak, bijih besi, nikel, bauksit, tembaga, batu bara, dan berbagai kekayaan alam lainnya. Jika semuanya sekadar dikeluarkan sebagai bahan mentah atau komoditas bernilai tambah rendah, kita ibarat petani yang menjual setandan pisang dari kebun, lalu membeli pisang goreng dari negeri lain dengan harga berkali-kali lipat.


Negeri kita mengekspor bahan baku; yang kembali masuk adalah barang jadi. Sumber daya alamnya milik kita, tetapi teknologi, proses pengolahan, desain produk, merek, dan sebagian besar nilai tambah justru dinikmati pihak yang memiliki industri pengolahannya. “Penguasaan teknologi dan kemampuan mengolah sumber daya menjadi produk bernilai tambah merupakan fondasi penting bagi industrialisasi dan transformasi struktural ekonomi” (UNIDO, 2020).


Mengapa kita hanya puas dengan mengekspor minyak mentah? Mengapa bijih mineral harus berhenti sebagai bahan tambang ketika dapat diproses menjadi bahan industri, komponen teknologi, hingga produk manufaktur bernilai tinggi? Mengapa kekayaan alam hanya dihitung dari berapa ton yang berhasil dikeluarkan dari perut bumi, bukan dari berapa besar nilai tambah (added value), lapangan kerja (employement opportunities), transfer teknologi, dan devisa (foreign exchange earnings)  yang dapat diciptakannya setelah melalui proses industrialisasi? Di sinilah teknologi dan industri maju seharusnya bekerja. Bukan sekadar mengeruk kekayaan alam, tetapi mengubah kekayaan alam menjadi kekayaan ekonomi. Konsep value added pada dasarnya menegaskan bahwa daya saing ekonomi tidak hanya ditentukan oleh kepemilikan sumber daya, tetapi oleh kemampuan mengolahnya melalui teknologi, inovasi, dan rantai nilai sehingga menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi (Porter, 1985).


Negara yang ingin naik kelas tidak cukup menjadi pengekspor bahan mentah dan pengimpor barang jadi. Negara harus membangun rantai nilai dari hulu sampai hilir: riset, teknologi, pengolahan, manufaktur, desain, standardisasi, hingga pemasaran global. Kalau bahan mentah bernilai satu, lalu setelah diolah menjadi produk industri bernilai sepuluh, seratus, bahkan seribu, maka yang diperjuangkan bukan sekadar peningkatan volume ekspor, melainkan lompatan nilai tambah (quantum leap in value creation). Devisa yang masuk pun bukan lagi sekadar hasil menjual isi perut bumi, tetapi hasil dari kecerdasan manusia mengolahnya.

Satire “jual setandan pisang, beli sepotong pisang goreng” sesungguhnya bisa menjadi cermin bagi bangsa. Pada tingkat individu, kita mengkritik kemalasan mengolah pisang.


 Pada tingkat nasional, kita patut mengkritik atas ketergantungan pada ekspor komoditas mentah dan lemahnya penguasaan teknologi serta kelesuan industri bernilai tambah. Bedanya, kalau seorang petani kehilangan keuntungan dari setandan pisang, kerugiannya mungkin hanya dirasakan keluarganya. Tetapi kalau sebuah bangsa gagal mengolah kekayaan alamnya sendiri, yang hilang bukan hanya keuntungan hari ini. Kita juga gagal meraih kesempatan membangun industri, menciptakan pekerjaan berkualitas, menguasai teknologi, dan memperbesar kemakmuran generasi mendatang.


Kita jangan bangga karena mampu menjual gunung, hutan, minyak, dan mineral, tetapi kemudian membeli kembali produk turunannya dengan harga yang jauh lebih mahal. Kita menjual “pisangnya”, lalu membeli “pisang gorengnya”. Hal yang lebih ironis, setelah pisangnya habis, kita masih bertanya mengapa dapur ekonomi belum juga mengepul.

Kekayaan alam adalah modal. Teknologi adalah pengungkit. Industri adalah mesin nilai tambah. Dan manusia kreatif adalah penggeraknya. Tanpa ketiganya, kekayaan alam hanya akan menjadi kekayaan yang dipindahkan dari perut bumi ke rekening transaksi. Sebaliknya, dengan teknologi, inovasi, dan industrialisasi, satu ton bahan mentah dapat menjadi produk bernilai berkali-kali lipat.


Jual mentah, beli matang. Jangan terus menjual setandan pisang untuk membeli sepotong pisang goreng. Saatnya mengolah pisang menjadi industri, mengubah sumber daya menjadi nilai tambah, dan menjadikan kreativitas sebagai jalan menuju kemandirian ekonomi bangsa.






Imajiner Nuswantoro 



Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)