SRI BOYONG (Kisah Wayang Kulit Bambang Prabakusuma mempersunting Dewi Sri)

0

 SRI BOYONG

(Kisah Wayang Kulit Bambang Prabakusuma mempersunting Dewi Sri)



Imajiner Nuswantoro


Sekilas Dewi Sri :

Dewi Sri dalam wayang kulit adalah personifikasi dewi padi, kesuburan, dan kemakmuran yang sangat dihormati masyarakat agraris. Karakter dewi ini memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Jawa, Sunda, dan Bali sebagai simbol pelindung pangan bagi kelangsungan hidup manusia. 


Karakteristik dan Wujud Tokoh

- Sifat Tokoh: Berbudi luhur, murah hati, penyabar, serta membawa kedamaian.

- Asal-usul: Putri sulung Prabu Sri Mahapunggung dari Kerajaan Medangkamulan, dipercaya sebagai titisan Bathari Sri Widowati.

- Visual Wayang: Digambarkan dengan paras cantik, tubuh anggun, mengenakan pakaian adat bangsawan, mahkota (jamang), serta ekspresi wajah luruh (menunduk lembut) lambang kebijaksanaan. 


Lakon Terkenal dan Makna Simbolis

Dalam pementasan wayang kulit, kisah Dewi Sri sering diangkat dalam lakon "Dewi Sri Boyong" atau "Dewi Sri Kondur". Lakon ini menceritakan tentang hilangnya Dewi Sri dari kerajaan yang mengakibatkan paceklik, gagal panen, dan penderitaan rakyat. Perjuangan mengembalikan sang dewi menggambarkan usaha manusia menjaga keseimbangan alam. 

Lakon ini juga menjadi simbol ekosistem pertanian berkelanjutan: 

- Dewi Sri: Simbol tanaman padi dan kemakmuran pangan.

- Raksasa dan Binatang Hutan: Representasi hama tanaman (tikus, celeng, ular).

- Ksatria (Pandawa): Simbol petani yang berjuang merawat tanah pertanian. 


Tradisi dan Ruwatan

Pertunjukan dengan lakon Dewi Sri umumnya dipentaskan semalam suntuk pada acara adat seperti Bersih Desa, Ruwata Bumi, atau Mapag Sri. Acara ritual ini digelar pasca-panen sebagai bentuk rasa syukur sekalian permohonan doa agar tanah tetap subur dan terhindar dari bencana kelaparan. 



Alunan gending mulai menyeruak diantara dinginnya malam itu. Cerita ini berawal pada Bambang Prabakusuma yang berniat untuk memperistri Dewi Sri. Dia menceritakan kepada anaknya Janaka yang bernama Kuntarama. Mendengar hal tersebut ayahnya menyetujuinya namun beliau memberikan petuah kepada dia agar dia tak lupa diri dan bertindak sewajarnya dalam mencitai seseorang. Setelah Kuntarama setuju dengan rencananya tersebut Bambang Praba Kusuma berniat untuk mengajak Dewi Sri ke kerajaannya. Dengan begitu Kuntarama mulai mencari Dewi Sri.


Dengan perginya Dewi Sri, Ayah Dewi Sri dan rakyat negara Amarta merasa sangat kehilangan atas dibawa larinya Dewi Sri. Dan karena kepergian Dewi Sri yang merupakan Mustika Retna penjaga kesejahteraan itu, negara Amarta dilanda sebuah bencana berupa paceklik berkepanjangan. Untuk menemukan dan membawa pulang kembali Dewi Sri, sang Ayah dari Dewi Sri mengutus para Pandhawa. Dan Pandhawa sendiri mengutus putera dari Janaka yang bernama Bambang Prabakusuma untuk mencari sang Dewi Sri ke negeri Antasangin. Namun setelah mencobanya, Prabakusuma tidak berhasil membawa pulang Dewi Sri karena para Buta dari negeri Antasangin menyembunyikannya. Kemudian sang Prabakusuma meminta pertolongan Sang Dewa Indra untuk membantunya, dan Dewa Indra memberikan Garuda untuk membantu Prabakusuma dalam membawa pulang Dewi Sri.


Setelah menerima Garuda dari Sang Dewa Indra, Prabakusuma menuju negeri Antasangin, namun dalam perjalanan ia bertemu dengan Nilataksaka. Dan terjadilah peperangan disana, pada mulanya sang Prabakusuma berhasil mengalahkan Nilataksaka, namun setelah Nilataksaka mengubah dirinya menjadi ular ia hampir mengalahkan Prabakusuma,  namun sang Garuda menyelamatkan Prabakusuma. Kemudian terjadilah pertempuran sengit. Sang Prabakusuma akhirnya bisa mengalahkan ular yang merupakan jelmaan dari Nilataksaka tadi, ular itu menjadi cacat menjadi ular buntung.


Setelah mengalahkan ular Nilataksaka, Prabakusuma berhasil menemui Dewi Sri. Dan ia meminta pertolongan Semar untuk membujuk Dewi Sri pulang, dan Dewi Sri akhirnya mau dibawa pulang/diboyong ke Amarta, kembali ke negaranya.


Mengetahui Dewi Sri diboyong kembali ke Amarta dan anaknya dikalahkan dan berubah menjadi ular buntung, Prabu Trenggono menuju ke Amarta untuk membalas dendam, namun dalam perjalanan ia bertemu dengan Sang Bima, dan bertarunglah mereka. Namun Seran Trenggono kalah dan dikutuklah ia menjadi sebatang kayu Tawa. Kayu Tawa inilah yang kemudian digunakan oleh rakyat untuk menjaga lumbung padi agar tidak terjadi kerusakan pada hasil panen mereka.


Setelah kalah dan menjadi ular buntung, Nilataksaka menemui Prabu Kresna dan minta pertolongan beliau untuk dikembalikan seperti bentuk semula karena ia ingin selalu dekat dengan Dewi Sri. Prabu Kresnapun mengabulkan permintaan Nilataksaka dengan syarat nilataksaka harus menjaga dan melindungi Dewi Sri dari berbagai macam gangguan. Dan Nilataksaka membuktikannya dengan berhasil mengalahkan Raja Tikus, Raja Babi/Celeng yang hendak mengganggu Dewi Sri.


Seperti pagelaran wayang kulit pada umumnya, cerita ini diselingi dengan munculny tokoh Limbuk dan Punakawan yang membuat cerita lebih hidup karena menyelipkan obrolan yang sesuai dengan keadaan sekarang. Selain itu pertunjukan ini semakin menarik dengan ditampilkannya Semar dan Gareng dalam bentuk wayang orang. Selingan ini justru mengundang perhatian penonton karena mereka menyajikan lawakan-lawakan yang menarik dan lucu dengan ciri khas tokoh masing-masing.




Imajiner Nuswantoro



Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)