SIDDHARTHA GAUTAMA, SANG PENDIRI AGAMA BUDDHA
Abstrak
Siddhartha Gautama, yang kemudian dikenal sebagai Buddha ("Yang Tercerahkan"), merupakan tokoh sejarah sekaligus guru spiritual yang melahirkan salah satu tradisi keagamaan dan filsafat terbesar di dunia, yaitu agama Buddha. Ajarannya lahir dari pencarian mendalam terhadap hakikat penderitaan manusia dan jalan menuju pembebasan batin. Selama lebih dari 2.500 tahun, ajaran Buddha telah memengaruhi kehidupan spiritual, filsafat, seni, budaya, politik, dan peradaban di berbagai belahan dunia, termasuk Asia Selatan, Asia Tenggara, Asia Timur, hingga dunia Barat.
Pendahuluan
Agama Buddha merupakan salah satu agama tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini. Berbeda dengan banyak agama lain yang berpusat pada konsep penciptaan alam oleh Tuhan, Buddha lebih menitikberatkan pada pengalaman manusia dalam menghadapi penderitaan dan menemukan kebijaksanaan melalui latihan batin.
Siddhartha Gautama tidak mengajarkan penyembahan kepada dirinya, melainkan menunjukkan jalan agar setiap manusia mampu mencapai kebijaksanaan dan pembebasan melalui usaha sendiri.
Kelahiran Siddhartha Gautama
BACA JUGA :
Kumpulan Buku-Buku Tentang Budha (Free Download)
.
Menurut tradisi Buddhis, Siddhartha Gautama lahir sekitar abad ke-6 hingga ke-5 sebelum Masehi (perkiraan modern umumnya sekitar 563–483 SM atau 480–400 SM; tanggal pastinya masih diperdebatkan para sejarawan).
Ia dilahirkan di Lumbini, yang kini berada di Nepal. Ayahnya adalah Raja Śuddhodana, sedangkan ibunya adalah Māyā.
Nama "Siddhartha" berarti:
"Dia yang telah mencapai tujuan."
Sedangkan nama keluarga atau marganya adalah Gautama.
Masa Muda Sang Pangeran
Siddhartha dibesarkan sebagai seorang pangeran.
Ayahnya berusaha menjauhkan putranya dari:
- penderitaan
- kemiskinan
- penyakit
- kematian
Karena adanya ramalan bahwa Siddhartha akan menjadi:
- Raja Agung, atau
- Guru Spiritual Besar.
Ia hidup dalam kemewahan, menikah dengan Yaśodharā, dan memiliki seorang putra bernama Rāhula.
Namun kehidupan istana tidak mampu menghilangkan kegelisahan batinnya.
Empat Peristiwa yang Mengubah Hidup
Suatu hari Siddhartha keluar istana dan melihat:
- Orang tua
- Orang sakit
- Orang meninggal
- Seorang pertapa
Empat pemandangan tersebut dikenal sebagai Empat Penglihatan (Four Sights).
Ia menyadari bahwa:
- semua manusia akan tua,
- semua akan sakit,
- semua akan meninggal.
Tetapi ia juga melihat kemungkinan adanya jalan menuju kebebasan batin melalui kehidupan spiritual.
Meninggalkan Istana
Pada usia sekitar 29 tahun, Siddhartha meninggalkan istana, istri, dan putranya.
Peristiwa ini dikenal sebagai Mahābhiniṣkramaṇa (Pengunduran Agung).
Ia memilih menjalani kehidupan sebagai seorang pencari kebenaran.
Masa Bertapa
Selama hampir enam tahun Siddhartha menjalani pertapaan yang sangat keras. :
- berpuasa ekstrem,
- bermeditasi,
- menyiksa tubuh.
Namun ia menyadari bahwa penyiksaan diri tidak membawa pencerahan.
Dari pengalaman ini lahirlah konsep Jalan Tengah (Majjhima Paṭipadā), yaitu menghindari dua ekstrem: kemewahan dan penyiksaan diri.
Mencapai Pencerahan
Pada usia sekitar 35 tahun, Siddhartha bermeditasi di bawah Pohon Bodhi di Mahabodhi Temple.
Setelah bermeditasi sepanjang malam, ia mencapai pencerahan sempurna (Bodhi).
Sejak saat itu ia dikenal sebagai:
Buddha, yang berarti:
"Yang Telah Tercerahkan."
Khotbah Pertama
Setelah memperoleh pencerahan, Buddha menyampaikan khotbah pertamanya di Sarnath.
Peristiwa ini dikenal sebagai:
Dhammacakkappavattana Sutta
("Memutar Roda Dharma").
Di sinilah Buddha mengajarkan:
Empat Kebenaran Mulia
Jalan Mulia Berunsur Delapan
Inti Ajaran Buddha
Empat Kebenaran Mulia
- Hidup mengandung penderitaan (dukkha).
- Penyebab penderitaan adalah keinginan atau kemelekatan (taṇhā).
- Penderitaan dapat diakhiri (nirodha).
Jalan menuju berakhirnya penderitaan adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan.
Jalan Mulia Berunsur Delapan
- Pandangan Benar
- Niat Benar
- Ucapan Benar
- Perbuatan Benar
- Mata Pencaharian Benar
- Usaha Benar
- Perhatian Benar
- Konsentrasi Benar
Ajaran ini menjadi inti praktik Buddhisme.
Konsep-Konsep Penting
Beberapa konsep utama dalam Buddhisme meliputi:
- Karma
- Kelahiran kembali (rebirth)
- Anicca (ketidakkekalan)
- Dukkha (penderitaan atau ketidakpuasan)
- Anatta (tiadanya diri yang kekal)
- Nirwana (Nibbāna), yaitu padamnya kemelekatan, kebencian, dan kebodohan yang mengakhiri penderitaan.
Penyebaran Agama Buddha
Setelah sekitar 45 tahun mengajar, ajaran Buddha menyebar ke berbagai wilayah.
Perkembangan besar terjadi pada masa Aśoka, yang mendukung penyebaran Dharma ke Sri Lanka dan wilayah Asia lainnya.
Dari India, Buddhisme berkembang ke:
- Sri Lanka
- Myanmar
- Thailand
- Kamboja
- Laos
- Tiongkok
- Korea
- Jepang
- Vietnam
- Tibet
- Mongolia
- Nusantara
Wafatnya Buddha
Buddha wafat pada usia sekitar 80 tahun di Kushinagar.
Peristiwa ini disebut Mahāparinibbāna (Parinirvāṇa).
Dalam tradisi Buddhis, beliau dipandang telah mencapai pembebasan sempurna dari siklus kelahiran dan kematian.
Pengaruh terhadap Dunia
Pengaruh Siddhartha Gautama melampaui ranah keagamaan. Pemikirannya memberi inspirasi pada:
- filsafat etika,
- psikologi dan praktik meditasi,
- pendidikan,
- seni dan arsitektur,
- dialog lintas agama,
- gerakan perdamaian dan tanpa kekerasan.
Praktik meditasi Buddhis juga telah banyak dipelajari dalam konteks kesehatan mental dan ilmu pengetahuan modern, meskipun penerapannya sering dipisahkan dari konteks religiusnya.
Kesimpulan
Siddhartha Gautama merupakan seorang guru spiritual yang mengajarkan jalan pembebasan dari penderitaan melalui kebijaksanaan, moralitas, dan disiplin batin. Ajarannya menekankan bahwa perubahan dimulai dari pengenalan terhadap diri sendiri, pengendalian pikiran, serta pengembangan welas asih kepada semua makhluk. Lebih dari dua milenium setelah kehidupannya, ajaran Buddha tetap menjadi salah satu warisan intelektual dan spiritual yang berpengaruh dalam sejarah umat manusia.
(**)
KISAH BIOGRAFI SIDDHARTA GAUTAMA
Buddha Gautama lahir dengan nama Siddhartha Gautama (Sanskerta) atau Siddhattha Gotama (Pali). Beliau merupakan seorang guru, filsuf, dan pemimpin spiritual yang dikenal sebagai pendiri agama Buddha (Buddhism).
Siddhartha tinggal dan mengajar di wilayah sekitar perbatasan Nepal dan India modern antara abad ke-6 hingga ke-4 sebelum Masehi.
Nama Siddhartha Gautama memiliki makna “seseorang yang mencapai tujuannya”, sedangkan nama Buddha sendiri memiliki makna “seseorang yang terbangun”, “seseorang yang tercerahkan”, atau “orang yang telah mencapai penerangan sempurna”.
Tanggal kelahiran dan wafat Siddhartha tidak diketahui secara pasti, namun sebagian sejarawan modern memperkirakan beliau lahir antara tahun 623 SM dan wafat pada tahun 543 SM.
Siddhartha Gautama juga dikenal sebagai Shakyamuni yang berarti “orang bijak dari kaum Shakya”. Selain itu, dikenal juga sebagai Theravada dan dikenal sebagai Tathagata. Secara mendasar, pemeluk Agama Buddha menganggap Siddhartha sebagai Buddha Agung (Sammāsambuddha).
Dalam hidupnya, Siddhartha telah bermeditasi dengan berbagai pengajaran atau ilmu yang berbeda-beda selama bertahun-tahun, namun beliau merasa bahwa pengajaran tersebut masih belum bisa memberikan jawaban.
Kemudian, Siddhartha menghabiskan malam untuk bermeditasi secara mendalam di bawah pohon Bodhi. Ketika meditasi tersebut, semua jawaban yang beliau cari selama ini akhirnya tercerahkan secara jelas, menjadikan beliau mencapai pencerahan yang penuh. Dengan demikian, beliau pun menjadi Buddha karena telah mencapai pencerahan yang sempurna.
Kehidupan Siddhartha Sebelum Menjadi Sang Buddha.
Siddhartha tumbuh sebagai seorang anak laki-laki dari penguasa klan Shakya. Ayahnya bernama Śuddhodana dan ibunya bernama Maya Devi. Namun, ibu Siddhartha meninggal 7 hari setelah melahirkannya.
Suatu hari, seorang lelaki suci meramalkan hal-hal baik bagi Siddhartha muda. Beliau meramal bahwa nantinya, Siddhartha akan tumbuh dan menjadi sosok yang hebat, entah itu menjadi raja, pemimpin militer, atau pemimpin spiritual.
Lalu, untuk melindungi Siddhartha dari kesedihan dan penderitaan duniawi, ayah Siddhartha memutuskan untuk membesarkan Siddhartha di tengah kemewahan di dalam istana yang dibangun khusus hanya untuk Siddhartha.
Ayahnya juga melindungi Siddhartha dari pengetahuan tentang dunia luar, termasuk pengetahuan tentang kesulitan-kesulitan hidup sebagai manusia dan pengetahuan tentang agama. Semua ini dilakukan dengan tujuan agar Siddhartha dapat tumbuh dengan baik dan terlindungi dari kejahatan dunia luar.
Menurut legenda, Siddhartha kemudian menikah dengan putri Yashodhara ketika usianya menginjak 16 tahun dan dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Rāhula tidak lama setelah itu. Namun, kehidupan Siddhartha setelah menikah pun masih terisolasi dari dunia luar dan berlanjut hingga 13 tahun kemudian.
Siddhartha Mulai Mengenal Dunia Luar
Karena bertahun-tahun hidup dalam lingkungan kerajaan yang terisolasi, Siddhartha pun akhirnya mencapai usia dewasa dengan minim pengetahuan maupun pengalaman tentang dunia yang sesungguhnya.
Setelah dewasa, Siddhartha pun mulai berkelana keluar istana dan perlahan-lahan mengenal dunia luar. Suatu hari, beliau berkelana bersama kusirnya dan melihat seorang lelaki yang sangat tua. Sang kusir menjelaskan kepada Siddhartha bahwa di dunia ini, semua orang akan bertumbuh tua seperti orang tersebut.
Setelah itu, Siddhartha pun mulai melakukan lebih banyak perjalanan penjelajahan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang dunia luar yang selama ini tidak beliau ketahui.
Selama berkelana, beliau pun bertemu dengan beragam bentuk manusia, mulai dari pria yang sakit, mayat manusia yang membusuk, hingga seorang pertapa. Sang kusir menjelaskan kepada Siddhartha bahwa pertapa tersebut telah meninggalkan kegiatan duniawinya untuk mencari pembebasan dari ketakutan manusia akan kematian dan penderitaan.
Pikiran tentang pertapa tersebut memenuhi kepala Siddhartha hingga akhirnya beliau memutuskan untuk melakukan hal yang sama: meninggalkan istri dan anaknya untuk menempuh jalan spiritual yang lebih mendalam.
Beliau bertekad untuk menemukan cara meringankan penderitaan universal yang telah beliau pahami sebagai salah satu ciri khas kemanusiaan.
Kehidupan Siddhartha sebagai Pertapa hingga Menjadi Sang Buddha
Hingga enam tahun berikutnya, Siddhartha hidup sebagai pertapa, belajar dan bermeditasi dengan ilmu yang didapatnya dari berbagai guru spiritual sebagai pedoman.
Beliau mempraktikkan cara hidup baru ini bersama dengan sekelompok pertapa yang terdiri atas lima orang. Kemudian, karena dedikasinya yang begitu tinggi dalam mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya, kelima pertapa ini pun memutuskan menjadi pengikut Siddhartha.
Ketika jawaban atas pertanyaannya tidak ditemukan, Siddhartha akan menggandakan usahanya, menahan rasa sakit, berpuasa, bahkan menolak air minum. Namun, setelah mencoba berbagai hal,, Siddhartha masih belum mencapai tingkat wawasan yang beliau cari.
Suatu hari, seseorang menawarinya semangkuk nasi. Beliau menerima nasi tersebut dan tiba-tiba beliau menyadari bahwa pertapaan jasmani bukanlah cara untuk mencapai pembebasan batin dan hidup di bawah batasan fisik yang keras tidak akan membantunya mencapai pelepasan spiritual.
Jadi, beliau pun akhirnya mengambil nasi, minum air, dan mandi di sungai. Kelima pertapa yang menyaksikan hal ini mengira Siddhartha telah menyerah hidup di jalan pertapa, sehingga mereka pun memutuskan untuk meninggalkannya.
Suatu malam, Siddhartha duduk sendirian di bawah pohon Bodhi. Siddhartha bertekad untuk tidak bangun sampai kebenaran yang beliau cari datang kepadanya.
Siddhartha bermeditasi sampai matahari terbit keesokan harinya. Siddhartha tinggal di bawah pohon Bodhi selama beberapa hari, memurnikan pikirannya, melihat seluruh hidupnya, dan kehidupan sebelumnya, dalam pikirannya.
Ilustrasi Buddha di bawah pohon Bodhi
Selama ini, Siddhartha harus mengatasi ancaman Mara, sosok iblis jahat yang menentang haknya untuk menjadi Buddha. Mara mengklaim bahwa keadaan tercerahkan merupakan miliknya dan Siddhartha tidak akan bisa mendapatkannya.
Malam itu, Siddhartha bertekad untuk mengusir Mara. Beliau menyentuhkan tangannya ke tanah dan meminta Bumi untuk menjadi saksi atas pencerahannya.
Lalu, sebuah gambaran pun mulai terbentuk di benak Siddhartha tentang semua yang terjadi di alam semesta. Beliau akhirnya melihat jawaban atas pertanyaan penderitaan yang telah beliau cari selama bertahun-tahun lamanya. Pada saat pencerahan murni itu, Siddhartha Gautama pun menjadi Buddha dan berhasil mengusir Mara.
Berbekal pengetahuan barunya, Sang Buddha pada awalnya ragu untuk mengajar, karena apa yang beliau ketahui kini tidak dapat dikomunikasikan kepada orang lain dengan kata-kata.
Namun, saat itulah Brahma, Sang Raja para Dewa, meyakinkan Buddha untuk tetap mengajar. Sang Buddha pun bangkit dari tempatnya di bawah pohon Bodhi dan berangkat untuk mengajarkan ilmu yang telah beliau dapatkan.
Wafatnya Sang Buddha
Buddha meninggal sekitar usia 80 tahun karena sakit. Sebelum beliau meninggal, dikatakan bahwa beliau memberitahu murid-muridnya bahwa mereka tidak boleh hanya mengikuti pemimpin saja, tetapi juga harus “menjadi terangmu sendiri”.
Sang Buddha pun wafat dengan posisi seperti tidur miring ke kanan dengan telapak tangan kanan menyangga kepalanya, yang kini banyak diabadikan menjadi patung Buddha Tidur atau Sleeping Buddha di berbagai negara di dunia termasuk di Nusantara.
Sumber Referensi :
- Biography.com Editors. ‘Buddha Biography’, Biography, [Daring]. Tautan: https://www.biography.com/religious-figure/buddha (Diakses: 16 Mei 2022)
- Lopez, D. S. ‘Buddha, founder of Buddhism’, Britannica, [Daring]. Tautan: https://www.britannica.com/biography/Buddha-founder-of-Buddhism (Diakses: 16 Mei 2022)
- Noble, S. ‘Unveiling: Is the veil metaphor really Buddhist?’, Stephanie Noble, [Daring]. Tautan: https://stephanienoble.com/2021/11/12/unveiling-is-the-veil-metaphor-really-buddhist/ (Diakses: 16 Mei 2022)
- Connolly, L. ‘Third Sunday of Advent: Bodhi Sunday’, Lewis Connolly, [Daring]. Tautan: https://www.lewisconnolly.com/post/2016/12/14/third-sunday-of-advent-bodhi-sunday (Diakses: 16 Mei 2022)
Imajiner Nuswantoro


















