Kisah Sedah Mirah Putri Kerajaan Blambangan
Sedah Mirah dikenal dalam berbagai tradisi lisan Jawa sebagai seorang putri dari Kerajaan Blambangan yang hidup pada masa peralihan antara akhir Kerajaan Pajang dan awal Kerajaan Mataram Islam. Kisahnya banyak berkembang dalam babad, cerita rakyat, dan tradisi lokal sehingga sebagian bagiannya merupakan legenda yang bercampur dengan sejarah.
Dipersunting oleh Panembahan Hanyokrowati (Seda Krapyak)
Menurut cerita yang berkembang, kecantikan, kecerdasan, dan keluhuran budi Sedah Mirah menarik perhatian Panembahan Hanyokrowati (Mas Jolang), raja kedua Kesultanan Mataram yang kemudian dikenal dengan gelar Seda Krapyak. Setelah melalui proses lamaran dan perundingan antarkerajaan, Sedah Mirah dipersunting menjadi salah seorang permaisuri atau garwa kerajaan Mataram.
Pernikahan tersebut tidak hanya dipandang sebagai hubungan keluarga, tetapi juga menjadi simbol persatuan politik antara Mataram dengan wilayah timur Jawa, khususnya Blambangan yang saat itu masih memiliki pengaruh besar.
Kehidupan di Keraton Mataram
Di lingkungan keraton, Sedah Mirah dikenal sebagai perempuan yang bijaksana, santun, dan memiliki kepedulian tinggi kepada rakyat. Ia sering digambarkan sebagai sosok yang menenangkan berbagai persoalan di lingkungan istana serta menjadi teladan bagi para putri kerajaan.
Dalam berbagai kisah tutur, Sedah Mirah juga dikenal memiliki kemampuan spiritual yang tinggi sehingga dihormati oleh kalangan bangsawan maupun masyarakat.
Masa Setelah Wafatnya Seda Krapyak
Setelah Panembahan Hanyokrowati wafat pada tahun 1613, kekuasaan Mataram diteruskan oleh putranya, Sultan Agung Hanyokrokusumo. Dalam beberapa versi cerita, Sedah Mirah tetap memperoleh penghormatan sebagai sesepuh keraton dan mengabdikan hidupnya pada kegiatan keagamaan, pendidikan, serta pembinaan masyarakat.
Hubungan dengan Jipang Panolan
Tradisi masyarakat di wilayah Jipang Panolan (sekarang berada di wilayah Kabupaten Blora) menyebut bahwa Sedah Mirah pernah singgah atau menetap di daerah tersebut dalam suatu masa kehidupannya. Di sana ia dikenang sebagai tokoh yang mengajarkan nilai kebijaksanaan, kerukunan, dan penguatan moral masyarakat.
Karena itu, terdapat petilasan dan makam yang oleh sebagian masyarakat diyakini berkaitan dengan dirinya.
Hubungan dengan Kediri
Di wilayah Kediri, juga berkembang cerita bahwa Sedah Mirah pernah melakukan perjalanan dakwah, tirakat, atau menetap untuk beberapa waktu. Oleh masyarakat setempat terdapat makam yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan beliau.
Cerita tersebut menjadikan Sedah Mirah sebagai tokoh yang dihormati bukan hanya sebagai putri kerajaan, tetapi juga sebagai perempuan salehah yang menyebarkan nilai-nilai kebaikan.
Menurut tradisi lisan yang berkembang di Kediri, Nyai Sedah Mirah (Sedah Merah) diyakini pernah dimakamkan di kawasan Pasar Paing Kediri. Ketika kawasan pasar mengalami pemindahan dan renovasi, makam tersebut kemudian dipindahkan ke lokasi yang sekarang berada di sebelah barat bekas Pasar Paing, di sekitar Jalan HOS Cokroaminoto, tidak jauh dari Pondok Pesantren Assidiqiyah Jamsaren. Akses menuju makam berada melalui sebuah gang di sisi barat bangunan rumah tua yang kini pernah dimanfaatkan sebagai warung atau kedai.
Dalam cerita masyarakat setempat, kawasan Pasar Paing pada masa lampau masih dipenuhi pepohonan besar dan banyak dihuni kawanan monyet. Hal ini kemudian dikaitkan dengan legenda Sedah Mirah sebagai putri Kerajaan Blambangan yang dalam beberapa versi cerita rakyat dikenal memiliki hubungan dengan kisah-kisah Mataram. Seiring perkembangan kota, kondisi lingkungan berubah dan jejak-jejak alam tersebut menghilang.
Namun demikian, keberadaan makam Sedah Mirah di Kediri belum memiliki bukti sejarah yang kuat dan lebih banyak bersumber dari tradisi lisan masyarakat. Beberapa sumber lain bahkan menyebut tokoh Sedah Mirah dimakamkan di wilayah lain, sehingga terdapat perbedaan pendapat mengenai lokasi makamnya. Oleh karena itu, makam di Kediri lebih tepat dipandang sebagai bagian dari warisan budaya dan folklor lokal yang masih hidup di tengah masyarakat, daripada sebagai fakta sejarah yang telah dipastikan.
Makam di Surakarta (Solo)
Selain di Jipang Panolan dan Kediri, masyarakat juga mengenal makam Sedah Mirah di wilayah Surakarta (Solo). Keberadaan beberapa makam ini sering dijelaskan sebagai:
- Makam utama dan makam simbolis.
- Petilasan yang kemudian berkembang menjadi kompleks makam.
- Perbedaan tradisi lisan dari masing-masing daerah.
Hingga kini belum terdapat bukti sejarah yang secara pasti menetapkan lokasi makam asli Sedah Mirah. Karena itu, para sejarawan umumnya memandang keberadaan beberapa makam tersebut sebagai bagian dari tradisi lokal yang berkembang di masyarakat.
Kisah Kehebatan Sedah Mirah
Dalam berbagai cerita rakyat Jawa, Sedah Mirah dikenang karena:
- Memiliki kecantikan dan kewibawaan yang luar biasa.
- Bijaksana dalam menyelesaikan persoalan keluarga kerajaan.
- Mampu menjaga hubungan damai antara kerajaan-kerajaan di Jawa.
- Memiliki keteguhan iman serta rajin menjalani tirakat.
Dermawan dan dekat dengan rakyat kecil.
Dipercaya memiliki karomah atau kesaktian spiritual sehingga dihormati oleh banyak kalangan.
Menjadi simbol kesetiaan, kesabaran, dan kebijaksanaan perempuan Jawa.
Nilai Keteladanan
Terlepas dari unsur legenda yang menyertainya, kisah Sedah Mirah mengandung pesan moral yang kuat, yaitu pentingnya kesetiaan kepada keluarga, kebijaksanaan dalam memimpin, pengabdian kepada masyarakat, serta keteguhan menjalankan nilai-nilai agama dan budaya.
Dalam kajian sejarah modern, kisah Sedah Mirah masih memerlukan penelitian lebih lanjut karena sebagian besar sumber berasal dari babad dan tradisi lisan, bukan dari dokumen sejarah primer. Oleh sebab itu, beberapa bagian cerita tidak dapat dipastikan sebagai fakta sejarah, tetapi tetap memiliki nilai penting sebagai warisan budaya masyarakat Jawa.
Imajiner Nuswantoro

