KISAH NYIMAS GANDASARI & WAWACAN GANDASARI
Wawacan Gandasari adalah sebuah karya sastra berbentuk puisi tradisional Sunda (wawacan) yang memuat ajaran agama Islam, tasawuf, dan dialog filosofis. Anda dapat membaca teks digital naskah ini melalui Wikisumber Wawacan Gandasari.
Karakteristik Naskah
- Ditulis menggunakan aturan pupuh tradisional Sunda seperti Sinom, Asmarandana, Mijil, Pucung, Magatru, dan Pangkur.
Berisi kajian dan ajaran keagamaan atau hakikat hidup manusia.
- Disajikan dalam bentuk dialog interaktif yang bernuansa suluk.
Kisah Gandasari dan Jagatrasa
(Wawacan Sunda Abad ke-19)
Manuskrip ini berisi kisah epik Lalakon Gandasari Jeung Jagatrasa, sebuah karya sastra Sunda berbentuk puisi wawacan. Naskah ini terdiri dari 148 halaman dan ditulis dalam aksara Pegon menggunakan bahasa Sunda. Secara fisik, naskah ini berada dalam kondisi yang kurang utuh, kertasnya kekuning-kuningan dan kusam, beberapa lembar hilang atau sobek, dan penjilidannya longgar. Namun, tulisan tinta hitamnya masih kontras dan dapat dibaca. Naskah yang merupakan Serial VIII dari Wawacan Jagatrasa ini diperkirakan berasal dari abad ke-19, tepatnya dari daerah Banjaran, Bandung, dan ditulis di atas kertas Eropa dengan cap Best papier Much. Dahulu, naskah ini dimiliki oleh seseorang bernama Oman dari Kp. Kiarapayung, Desa Kiarapayung, Kec. Banjaran, Kab. Bandung. Saat ini, manuskrip ini tersimpan di EFEO Bandung. Teks wawacan ini terdiri atas 36 pupuh yang berawal dalam kalimat (... ) dulur kudu sing rapih, ulah sok kajurung napsu ... ; asep ( ... ) hayu ayeuna ka bumi, enggal bae paran ( ... ) ka ibuna agan putri, putri nga (... ). Kisah ini berpusat pada tiga bersaudara: Jagatnata, Gandasari, dan Jagatrasa, putra-putri Raja Ganda Ermaya dari negara Selan.
Mereka ditugaskan mencari ayam jantan berbulu perak, berkaki emas, dan berkepala intan. Petualangan mereka penuh dengan intrik, pengkhianatan, dan keajaiban, hingga akhirnya keadilan ditegakkan berkat kemurahan hati Jagatrasa
KISAH NYIMAS GANDASARI
(Panglima Perang Kesultanan Cirebon dari Samudera Pasai / Aceh)
Bagi masyarakat Cirebon dan Keluarga Besar Kesultanan Cirebon, nama Nyimas Gandasari atau Nyi Ratu Mas Gandasari adalah sosok yang tak asing lagi.
Namun, siapa nyana, dibalik namanya yang tenar, ternyata menyimpan sejarah masa lalu yang erat kaitannya dengan Kesultanan Samudera Pasai. Bahkan, disebutkan dalam Babad Cirebon, bahwa Nyimas Gandasari atau Nyi Ratu Mas Gandasari bukanlah nama aslinya. Nama sebenarnya adalah Muthmainah, perempuan piatu yang lahir di Samudera Pasai, anak Raja Pasai dan kemudian diasuh dan dibesarkan di lingkungan Kesultanan Cirebon.
Nyimas Gandasari atau Nyi Ratu Mas Gandasari adalah Putri Sultan Samudera Pasai yang diasuh dan diangkat anak oleh Pangeran Walang Sungsang atau dikenal sebagai Pangeran Cakrabuana bin Prabu Siliwangi.
Pangeran Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana adalah Kakak dari Raden Kian Santang atau merupakan Uwak (Saudara laki-laki dari Ibu) Syeikh Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Djati.
Pangeran Walang Sungsang atau Pangeran Cakrabuana bernama Sayyid Abdullah Iman atau Syeikh Shomadullah atau dijuluki kemudian sebagai Mbah Kuwu Sangkan. (Berkuasa di Cirebon 1460 – 1479 M). Makam beliau berdekatan dengan Makam Syeikh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Djati) di Astana Gunung Sembung, Kota Cirebon – Jawa Barat – Indonesia.
Pangeran Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana adalah Pendiri Kesultanan Cirebon. Pangeran Cakrabuana Lahir pada tahun 1423 M dan Wafat pada 1529 M di Cirebon.
Sementara Nyimas Gandasari dibesarkan di Cirebon dan menjadi Murid dari Syeikh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Djati). Nyimas Gandasari ini kemudian dipercaya menjadi Panglima Perang Kesultanan Cirebon.
Tokoh Nyimas Gandasari dikemudian hari menjadi terkenal karena merupakan panglima perang Wanita dari Kesultanan Cirebon.
Bukan hanya itu saja, Nyimas Gandasari juga menjadi cikal bakal berdirinya Desa Panguragan, Cirebon. Desa Panguragan berada di Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon – Jawa Barat.
Secara geografis, Kecamatan Panguragan berbatasan dengan Kecamatan Suranenggala di sebelah Timur, dan di sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Arjawinangun dan Klangenan.
Nyimas Gandasari sudah menjadi piatu sejak bayi, bahkan ibunya meninggal saat dia belum diberi nama.
Kisah Nyimas Gandasari berawal dari perjalanan Pangeran Walang Sungsang dan Nyimas Rara Santang untuk pergi menunaikan ibadah haji.
Singkat cerita, Pangeran Walang Sungsang dan Nyimas Rara Santang berhasil sampai ke Mekkah dan menunaikan ibadah haji.
Namun Pangeran Walang Sungsang harus berpisah dengan adiknya Nyimas Rara Santang, karena Nyimas Rara Santang menikah dengan penguasa Mesir, Syarif Abdullah Umdatuddin. Namun di dalal riwayat lain,dikisahkan bahwa Syarif Abdullah Umdatuddin adalah Raja Champa. Kerajaan Champa ini sangat identik dengan nama Kerajaan Jeumpa yang berdekatan dengan Kesultanan Samudera Pasai.
Dikisahkan dalam Babad Cirebon, Pangeran Walang Sungsang akhirnya pulang tanpa sang adik Nyimas Rara Santang. Di tengah perjalanan sebelum sampai ke Cirebon, Pangeran Walang Sungsang singgah di Kesultanan Samudera Pasai.
Saat Pangeran Walang Sungsang berada di Pasai, Kesultanan Pasai tengah dilanda wabah penyakit yang mematikan.
Bukan hanya rakyatnya yang terkena wabah penyakit tersebut, bahkan Raja dan juga permaisurinya terkena wabah itu.
Pangeran Walang Sungsang yang memiliki kemampuan lebih dalam ilmu pengobatan, akhirnya ikut membantu untuk membuatkan obat wabah tersebut.
Hingga beberapa rakyat berhasil selamat dari wabah penyakit yang mematikan itu. Bahkan Raja Pasai bisa kembali pulih karena berhasil diobati oleh Pangeran Walang Sungsang.
Namun naas bagi Permaisuri Sang Raja, yang saat itu sedang hamil 9 bulan, tidak berhasil diselamatkan oleh Pangeran Walang Sungsang
Tetapi bayi yang ada dalam kandungan Sang Permaisuri Raja Pasai beruntung bisa diselamatkan. Bayi itulah yang kelak dikenal dengan nama Nyimas Gandasari atau Nyi Ratu Mas Gandasari.
Nyimas Gandasari kecil yang ditinggal wafat ibunya itu selalu menangis, namun anehnya ketika ditimang Pangeran Walang Sungsang bayi ini akan terdiam.
Raja Pasai akhirnya mempercayakan bayi Nyimas Ganda Sari kepada Pangeran Walang Sungsang. Nyimas Gandasari diserahkan untuk dididik dan dibesarkan Pangeran Walang Sungsang di Cirebon.
Bukan hanya itu saja, Raja Pasai mempercayai Pangeran Walang Sungsang, karena dia tahu kalau sang pangeran adalah seorang Putra Raja.
Akhirnya bayi Nyimas Gandasari dibawa pulang ke Cirebon oleh Pangeran Walang Sungsang.
Nyimas Ganda Sari ketika tumbuh dewasa menjadi murid Sunan Gunung Jati sekaligus menjadi panglima perang Kesultanan Cirebon.
Siapa, sebenarnya Raja Pasai sebagai Orangtua dari Nyimas GANDASARI ?
Meneliti time line sejarah dan sejarah Kesultanan Samudera Pasai, pada kurun waktu 1438 – 1462 M Kesultanan Samudera Pasai dipimpin Sultan Shalahuddin bin Sultan Zainal Abidin II berikutnya pada kurun waktu 1462 -1464 M dipimpin oleh Sultan Ahmad II bin Sultan Shalahuddin diteruskan Sultan Abu Zaid Ahmad III (1464 -1466) diteruskan Sultan Ahmad IV (1466 – 1466) diteruskan Sultan Mahmud (1466 – 1468) diteruskan Sultan Zainal Abidin III (1468 -1474).
Dari analisa angka tahun, sejarah yang paling mendekati dengan masa Pangeran Walang Sungsang sebelum berkuasa di Cirebon pada tahun 1460 M adalah Sultan Shalahuddin.
Penelusuran dan Penelitian Tuan Guru Fekri Juliansyah ini diperkuat oleh Babad Cirebon yang mengisahkan tentang pertemuan Pangeran Wala Sungsang di Samudera Pasai dengan Datuk Sholeh.
“Diceritakan saat itu abad 15 M, Pangeran Cakrabuana (Mbah Kuwu Carbon) dalam kunjungannya sebagai penguasa Cirebon di Negeri Pasaeh (Pasai). Ia memilih untuk bertinggal di rumah Syekh Datuk Soleh.
Dalam singgahnya Pangeran Cakrabuana menemukan putri dari Syekh Datuk Soleh yakni Nyi Muthmainah (Nyi Mas Gandasari) sedang dalam kondisi sakit parah.
Sedikit berbeda dengan kisah sebelumnya bahwa Nyi Mas Gandasari diceritakan masih bayi.
Dalam obrolannya dengan Pangeran Cakrabuana, Syekh Datuk Soleh menceritakan prihal putri semata wayangnya tentang upaya penyembuhan anaknya dan penyakit yang diderita sang putri.
Mendengar penuturan Syekh Datuk Soleh, Pangeran Cakrabuana bergegas bermunajat meminta kesembuhan kepada ALLAH.
Berkat karomah Pangeran Cakrabuana, Nyi Muthmainah sembuh. Melihat putrinya sembuh Syekh Datuk Soleh berterima kasih kepadanya dengan menyerahkan putrinya untuk dijadikan murid. Dan saat itulah Nyi Mutmainah yang masih kecil dibawa ke Cirebon dan diangkat menjadi anak angkat Pangeran Cakrabuana dan diberi nama Nyi Mas Gandasari.
Dari Babad Cirebon dan Sejarah Samudera Pasai maka dapat teridentifikasi bahwa Nyimas Gandasari adalah Putri dari Sultan Shalahuddin atau dalam Babad Cirebon disebut Mbah Sholeh dari Samudera Pasai. Datuk Sholeh identik sebagai panggilan dari Sultan Shalahuddin/Sholehuddin.
Nyimas Gandasari bernama asli Muthmainah binti Sultan Shalahuddin.








