Urip Anggendong Lali - Nadyan siro pinunjul

0

 Urip Anggendong Lali

Nadyan siro pinunjul 



Imajiner Nuswantoro




Tembang Macapat Gambuh kanthi irah-irahan Gambuh Royal utawi Urip Anggendong Lali


Lirik Tembang Gambuh (Nadyan Siro Pinunjul) : 

Nadyan siro pinunjul 

Nanging ojo siro njur keladuk 

Ngelingono wong urip anggendong lali 

Den elingo urip iku 

Prayogo ingkang prasaja 


Aksara Jawanipun :

ꦤꦣꦾꦤ꧀ꦱꦶꦫꦺꦴꦥꦶꦤꦸꦚ꧀ꦗꦸꦭ꧀ 

ꦤꦔꦶꦁꦎꦗꦺꦴꦱꦶꦫꦺꦴꦚ꧀ꦗꦸꦂꦏꦼꦭꦣꦸꦏ꧀ 

ꦔꦼꦭꦶꦔꦺꦴꦤꦺꦴꦮꦺꦴꦁꦈꦫꦶꦥ꧀ꦄꦁꦒꦺꦤ꧀ꦝꦺꦴꦁꦭꦭꦶ 

ꦣꦺꦤ꧀ꦄꦼꦭꦶꦔꦺꦴꦈꦫꦶꦥ꧀ꦆꦏꦸ 

ꦥꦿꦪꦺꦴꦒꦺꦴꦆꦁꦏꦁꦥꦿꦱꦗ 


Maknanipun :

Walaupun kamu unggul/pandai

Tetapi jangan lalu berlebihan/sombong

Ingatlah orang hidup itu membawa lupa

Maka ingatlah hidup itu

Sebaiknya yang sederhana/bersahaja





Nadyan siro pinunjul

Nanging ojo siro njur keladuk

Ngelingono wong urip anggendong lali

Den elingo urip iku

Prayogo ingkang prasaja.


Walau pung engkau sangat pandai

Tapi janganlah engkau sombong

Ingatlah bahwa orang hidup tempatnya lupa

Dan ingatlah bahwa hidup itu

Lebih baik jujur.


Pancen bener kandamu

Urip iku mung eling lan tekun

Manembaha marang Gusti kang peparing

Dateng pundi paranipun

Tan punrun ngadep Hyang Manon.


Memang benar katamu

Hidup itu harus selalu ingat dan rajin

Berbaktilah pada Gusti Yang Maha Memberi

Maukemanakah kita…

Mau atau tidak kita akan menghadap Hyang Monon.





Filosofi "Urip Anggendhong Lali" (atau sering dikaitkan dengan Melik Nggendhong Lali) adalah pepatah Jawa yang bermakna "hidup membawa lupa". Ajaran ini mengingatkan bahwa manusia cenderung lupa diri, melupakan Tuhan, atau melupakan kewajiban moral saat mengejar kenikmatan duniawi, kekayaan, atau jabatan. 


YouTube +1


Berikut adalah poin-poin utama filosofi tersebut:


Melik Nggendhong Lali: Hasrat atau nafsu memiliki sesuatu (melik) sering kali membawa (nggendhong) kelupaan (lali) akan jati diri atau kebenaran.


Pengingat Diri: Sebagai nasihat agar manusia tetap rendah hati, tidak sombong meski pandai atau kaya, dan selalu ingat bahwa dunia hanya sementara.


Ajaran Hidup Sederhana: Mengajak manusia untuk bersikap prasaja (sederhana/bersahaja) agar tidak mudah terbuai oleh nafsu duniawi yang membutakan. 


Secara keseluruhan, ungkapan ini menjadi peringatan (pepeling) agar manusia senantiasa waspada dan tidak diperbudak oleh keinginan pribadi yang bisa merusak nilai-nilai kehidupan.



Imajiner Nuswantoro 




Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)