Urip Anggendong Lali
Nadyan siro pinunjul
Tembang Macapat Gambuh kanthi irah-irahan Gambuh Royal utawi Urip Anggendong Lali
Lirik Tembang Gambuh (Nadyan Siro Pinunjul) :
Nadyan siro pinunjul
Nanging ojo siro njur keladuk
Ngelingono wong urip anggendong lali
Den elingo urip iku
Prayogo ingkang prasaja
Aksara Jawanipun :
ꦤꦣꦾꦤ꧀ꦱꦶꦫꦺꦴꦥꦶꦤꦸꦚ꧀ꦗꦸꦭ꧀
ꦤꦔꦶꦁꦎꦗꦺꦴꦱꦶꦫꦺꦴꦚ꧀ꦗꦸꦂꦏꦼꦭꦣꦸꦏ꧀
ꦔꦼꦭꦶꦔꦺꦴꦤꦺꦴꦮꦺꦴꦁꦈꦫꦶꦥ꧀ꦄꦁꦒꦺꦤ꧀ꦝꦺꦴꦁꦭꦭꦶ
ꦣꦺꦤ꧀ꦄꦼꦭꦶꦔꦺꦴꦈꦫꦶꦥ꧀ꦆꦏꦸ
ꦥꦿꦪꦺꦴꦒꦺꦴꦆꦁꦏꦁꦥꦿꦱꦗ
Maknanipun :
Walaupun kamu unggul/pandai
Tetapi jangan lalu berlebihan/sombong
Ingatlah orang hidup itu membawa lupa
Maka ingatlah hidup itu
Sebaiknya yang sederhana/bersahaja
Nadyan siro pinunjul
Nanging ojo siro njur keladuk
Ngelingono wong urip anggendong lali
Den elingo urip iku
Prayogo ingkang prasaja.
Walau pung engkau sangat pandai
Tapi janganlah engkau sombong
Ingatlah bahwa orang hidup tempatnya lupa
Dan ingatlah bahwa hidup itu
Lebih baik jujur.
Pancen bener kandamu
Urip iku mung eling lan tekun
Manembaha marang Gusti kang peparing
Dateng pundi paranipun
Tan punrun ngadep Hyang Manon.
Memang benar katamu
Hidup itu harus selalu ingat dan rajin
Berbaktilah pada Gusti Yang Maha Memberi
Maukemanakah kita…
Mau atau tidak kita akan menghadap Hyang Monon.
Filosofi "Urip Anggendhong Lali" (atau sering dikaitkan dengan Melik Nggendhong Lali) adalah pepatah Jawa yang bermakna "hidup membawa lupa". Ajaran ini mengingatkan bahwa manusia cenderung lupa diri, melupakan Tuhan, atau melupakan kewajiban moral saat mengejar kenikmatan duniawi, kekayaan, atau jabatan.
YouTube +1
Berikut adalah poin-poin utama filosofi tersebut:
Melik Nggendhong Lali: Hasrat atau nafsu memiliki sesuatu (melik) sering kali membawa (nggendhong) kelupaan (lali) akan jati diri atau kebenaran.
Pengingat Diri: Sebagai nasihat agar manusia tetap rendah hati, tidak sombong meski pandai atau kaya, dan selalu ingat bahwa dunia hanya sementara.
Ajaran Hidup Sederhana: Mengajak manusia untuk bersikap prasaja (sederhana/bersahaja) agar tidak mudah terbuai oleh nafsu duniawi yang membutakan.
Secara keseluruhan, ungkapan ini menjadi peringatan (pepeling) agar manusia senantiasa waspada dan tidak diperbudak oleh keinginan pribadi yang bisa merusak nilai-nilai kehidupan.
Imajiner Nuswantoro

