PRASASTI PETHAK 1486 M
Pada masa pemerintahan Girindrawardhana dyah Ranawijaya, keluar prasasti bernama Prasasti Petak atau Prasasti Kembangsore bertarikh 1486M.
Dinamakan Prasasti Petak karena berisi anugerah sima perdikan desa Petak. Sedang dinamakan Prasasti Kembangsore karena berdasarkan temuan pertama di desa Kembangsore.
Prasasti Petak 1486M dikeluarkan untuk menguatkan atau meneguhkan kembali anugerah tanah pradesa Petak yang sebelumnya diberikan oleh Bhatara Prabu Sang Mokta ring Mahawisesalaya dan Sang Mokta ring mahalayabuwana kepada Sri Brahmaraja Ganggadara.
Peneguhan anugerah yang dilakukan maharaja Girindrawardhana dyah Ranawijaya merupakan pencatatan anugerah ke batu prasasti.
Pada waktu itu Sri Maharaja didampingi seorang mahapatih bernama Mpu Thahan.
Dua tokoh yang sebelumnya memberi anugerah kepada sri Brahmaraja Ganggadara adalah kakak kandung Girindrawardhana Dyah Ranawijaya.
Sebagaimana disebutkan dalam prasasti, penganugerahan tanah Pradesa petak merupakan balas jasa pihak istana Majapahit kepada Sang Brahmaraja Ganggadara yang sebelumnya berjuang membantu kejayaan Sang Munggwing Jinggan dalam pertempuran melawan pihak Majapahit [empat putra Sang Sinagara melawan maharaja Majapahit Singawikramawardhana dyah Suraprabhawa].
Prasasti Petak 1486 M
Prasasti Petak 1486M dikeluarkan untuk menguatkan atau meneguhkan kembali anugerah tanah pradesa Petak yang sebelumnya diberikan oleh Bhatara Prabu Sang Mokta ring Mahawisesalaya dan Sang Mokta ring mahalayabuwana kepada Sri Brahmaraja Ganggadara.
Peneguhan anugerah yang dilakukan maharaja Girindrawardhana dyah Ranawijaya merupakan pencatatan anugerah ke batu prasasti.
Pada waktu itu Sri Maharaja didampingi seorang mahapatih bernama Mpu Thahan.
Dua tokoh yang sebelumnya memberi anugerah kepada sri Brahmaraja Ganggadara adalah kakak kandung Girindrawardhana Dyah Ranawijaya.
Sebagaimana disebutkan dalam prasasti, penganugerahan tanah Pradesa petak merupakan balas jasa pihak istana Majapahit kepada Sang Brahmaraja Ganggadara yang sebelumnya berjuang membantu kejayaan Sang Munggwing Jinggan dalam pertempuran melawan pihak Majapahit [empat putra Sang Sinagara melawan maharaja Majapahit Singawikramawardhana dyah Suraprabhawa].
Siapa Sang Munggwing Jinggan itu ?
Karena penyerbuan ke istana Majapahit pada tahun 1478M dipimpin sang putra mahkota Sang Sinagara, maka tokoh bergelar Sang Munggwing Jinggan atau ‘Yang bersemayam di Jinggan’ merujuk pada Bhre Kahuripan Wijaya Parakrama Dyah Samarawijaya, kakak sulung Dyah Ranawijaya.
Berikut ini transkrip dan terjemahan Prasasti Petak [Kembangsore] 1486M menurut Muhammad Yamin dalam buku Tatanegara Madjapahit, Parwa 1-2, yayasan Prapantja, Jakarta, 1962.
//O// swasti cri cakawarsatita 1408 dyesta masa, titi dacami cukla ma pa ra wuru tolu, aicanyastha grahanacara, citraksatra, twasta dewata kanya raci.
Irika diwaca cri bhatara prabhu girindrawardhana, garbhopatinama dyah ranawijaya, wuddopadeca, hniring de rakryan patih pu thahan, hamagehaken sungsungira bhatara prabhu sang mokta ring mahawicecalaya mwang sang mokteng mahalayabhawana samasung ganjaraning cri brahmaraja ganggadara, decakalanya ring ptak sahampihanyengembu salbak wukir sakendeng sengkernya saprakaraning bhuktinja cri brahmaraja muktiha tke Santana pratisantana, yananaha paksabhumi salwiraning janmanya marihabhumi, cri brahmarajatah pramanamuktiha, kararaning sinung ganjaran hamrih kadigwijayanira sang munggwing jinggan duk ayun ayunan yudha lawaning majapait.
[irika cri bra] hma [raja ganggadara] maring ptek sumanggala pura ngaranya, dening kawewnanganing deca ha nuta ring saka wewnanganira cri brahmaraja, acandrarkasthayi, astabhogatajaswamnya, luputa saprakara, wnanga sakalwiranya, mwah yanana mangrudgha sarasa ning andika pala supracasti, sakalwiran ing janmanya, makadi sang anagata prabhu, dadya bhasmikretayatad ahning kaala kalibhuta picacadi tumpur bhrasta sahananya, astu, am. //O//
Terjemahannya dalam bahasa Indonesia bebas :
//O// Selamatlah! Pada tahun saka 1408, pada hari komariah yang kesepuluh ketika perduaan bulan djesta sedang naik pada hari pecan Majawulu Minggu paing sedangkan bintang tetap bertempat di tenggara gugusan bulan citra dewata twastr tanda resi perawan.
Ketika itu sri batara prabhu Girindrawardhana dyah Ranawijaya, yang mahir dalam ajaran agama Buda, diiringkan rakryan apatih Pu Thahan, meneguhkan anugerah yang telah dikeluarkan batara prabhu sang mokta ring mahawisesalaya dan sang mokteng ring mahalaya-bhuwana, dimana mereka berdua telah menganugerahkan atau memberi ganjaran tanah pradesa di Petak berikut lembah dan bukitnya kepada sri brahmaraja Ganggadara,
Dan segala pengluasan dan pembatasan dan berbagai hasil, hanyalah sri brahmaraja yang diperkenankan memetik hasilnya sampai ke anak cucunya turun-temurun. Yang menyebabkan sri brahmaraja mendapat anugerah itu ialah karena ia berusaha keras mendukung kejayaan dan kemenangan sang munggwing jinggan [yang bersemayam di Jinggan] ketika terombang-ambing masa kemelut perang melawan Majapahit.
Ketika itu sri brahmaraja pergi ke Petak yang merupakan tempat persembahan dengan tanda paling baik. Segala hak desa itu menjadi milik sri brahmaraja selama bulan dan matahari bersinar di langit. Segala hak itu meliputi hawa napsu yang delapan ragam, tedjaswanya, dengan mengalami segala macam hak perdikan dan segala macam wewenang.
Selanjutnya barang siapa melanggar isi perintah Sebagaimana yang termuat dalam prasasti, siapapun mereka, terutama segala raja-raja yang akan datang, mereka akan hancur lebur menjadi abu dan akan menjadi makanan setan laku-laki dan perempuan, juga bagi buta dan picasa. Habis dan rusak binasalah mereka bersama seluruh kepunyaannya. Demikianlah hendaknya. Amien //O//
Setelah maharaja Singawikramawardhana dyah Suraprabhawa gugur pada tahun 1400C/1478M dengan sengkala Sunyi Nora Yuganing Wong, akibat serbuan empat putra Sang Sinagara Rajasawardhana yaitu Bhre Koripan, Bhre Mataram, Bhre Pamotan, dan Bhre Kertabhumi, kerajaan Majapahit sepenuhnya berada dalam kekuasaan para putra Sang Sinagara.
Dalam penggempuran ke istana Majapahit di Trowulan tahun 1478M, putra sulung Sang Sinagara yaitu Bhre Koripan Wijaya Parakrama dyah Samarawijaya juga gugur.
Oleh karena itu yang kemudian bertahta sebagai maharaja Majapahit adalah Bhre Mataram Girindrawardhana Dyah Wijayakarana, adik kandung Bhre Koripan Wijaya Parakrama Dyah Samawawijaya.
Pada masa pemerintahan Girindrawardhana dyah Wijayakarana, kerajaan Majapahit tidak lagi beribukota di Trowulan, melainkan pindah ke Keling dan pindah lagi ke Daha.
Ibukota Majapahit di Daha bertahan sampai tahun 1527M. [analisa ini lengkap ada dalam buku GIRINDRA : Pararaja Tumapel Majapahit karya Siwi Sang]
Girindrawardhana dyah Wijayakarana bertahta sebagai maharaja Majapahit menggantikan pamannya, Singawikramawardhana Dyah Suraprabhawa, mulai tahun 1478M-1486M.
Berdasarkan penelitian Sejarawati Nia Kurnia Sholihat Irfan, Girindrawardhana dyah Wijayakarana wafat sekitar tahun 1486M lalu digantikan adiknya dyah Wijayakusuma [putra Sang Sinagara nomer 3], tapi hanya bertahta beberapa bulan lalu digantikan oleh Girindrawardhana dyah Ranawijaya [putra Sang Sinagara nomer 4 atau pamungsu].
Berdasarkan pemberitaanSerat Pararaton dan Banawa Sekar, Girindrawardhana dyah Ranawijayasebelumnya menjadi Bhre kertabhumi atau Sri natha di keraton Kertabhumi.
Pada masa pemerintahan Girindrawardhana dyah Ranawijaya, keluar prasasti bernama Prasasti Petak atau Prasasti Kembangsore bertarikh 1486M.
Dinamakan Prasasti Petak karena berisi anugerah sima perdikan desa Petak. Sedang dinamakan Prasasti Kembangsore karena berdasarkan temuan pertama di desa Kembangsore.
Prasasti Petak Mojokerto (Jejak Hadiah Raja Majapahit untuk Brahmaraja Ganggadhara)
Di sebuah sudut tenang wilayah Mojokerto, Jawa Timur, tersembunyi jejak masa lalu yang menyimpan kisah besar tentang kekuasaan, spiritualitas, dan penghargaan.
Jejak itu bernama Prasasti Petak, juga dikenal sebagai Prasasti Kembangsore yang bertanggal tahun 1408 Saka atau 1486 Masehi, dari masa akhir kejayaan Kerajaan Majapahit.
Melansir jurnal Pendidikan Sejarah Volume 11 No. 1 Tahun 2021 yang ditulis oleh Arian Mardiansyah Putra dan Nasution dari Universitas Negeri Surabaya, Prasasti Petak bertahun 1486 M.
Diketahui Prasasti ini tak hanya memuat catatan administratif, tapi juga mengungkap hubungan istimewa antara seorang raja dan seorang brahmana agung, Raja Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya dan Brahmaraja Ganggadhara.
Sebuah Hadiah Bernilai Sakral
Isi utama prasasti ini adalah peneguhan pemberian sebidang tanah perdikan, tanah bebas pajak yang tidak boleh diganggu gugat yang disebut "tanah Petak", kepada Brahmaraja Ganggadhara.
Tanah itu sebelumnya telah diberikan oleh dua tokoh kerajaan, yaitu Sang Mokta ring Mahawisesalaya dan Sang Mokta ring Mahalayabhuwana, yang diyakini sebagai kakak Raja Ranawijaya.
Namun untuk memperkuat legalitas dan status spiritual politiknya, Raja Ranawijaya secara resmi meneguhkan hadiah tersebut dalam bentuk prasasti. Ini bukan sekadar hadiah, tetapi pengakuan akan jasa besar sang brahmana dalam membantu kemenangan dan kekuasaan raja.
Siapakah Brahmaraja Ganggadhara ?
Ganggadhara adalah seorang brahmana Siwa yang sangat dihormati, bergelar Brahmaraja, yang berarti "raja para brahmana". Dalam prasasti, ia disebut sebagai seseorang yang "telah menyerahkan dirinya sepenuhnya untuk memelihara kekuasaan raja".
Dengan kata lain, ia bukan hanya tokoh religius, tetapi juga figur penting dalam politik spiritual kerajaan.
Pemberian tanah ini mencerminkan bagaimana dukungan spiritual dan keagamaan sangat menentukan legitimasi kekuasaan raja, terutama dalam situasi politik yang tidak stabil seperti pada masa akhir Majapahit.
Makna Politik di Balik Sebuah Prasasti
Tahun 1486 M adalah masa genting bagi Majapahit. Dinasti sedang terpecah, dan konflik internal mengancam stabilitas. Dalam konteks ini, peran tokoh spiritual seperti Ganggadhara menjadi sangat krusial. Dukungan beliau dipercaya ikut menentukan keberhasilan pihak Girindrawarddhana dalam perebutan takhta Majapahit.
Oleh karena itu, Prasasti Petak adalah simbol terima kasih sekaligus strategi penguatan legitimasi kekuasaan. Dengan menetapkan tanah tersebut sebagai perdikan, kerajaan memberi jaminan hukum sekaligus penghormatan yang abadi kepada Ganggadhara dan keturunannya.
Jejak Lain dari Sang Brahmana
Tak hanya di Petak, nama Brahmaraja Ganggadhara juga muncul dalam Prasasti Jiyu I dan II yang terbit di tahun yang sama (1486 M). Dalam kedua prasasti itu, ia disebut menerima tanah di daerah Talasan, Pung, dan Batu untuk pendirian asrama spiritual bernama Trailokyapuri.
Ini mengindikasikan bahwa Ganggadhara tidak hanya dihormati secara pribadi, tetapi juga memiliki peran kelembagaan dalam menjaga keseimbangan rohani kerajaan.
Imajiner Nuswantoro



