PANGERAN DANUREJA (Sang Cucu Tawang Alun II)

0

 PANGERAN DANUREJA 

(Sang Cucu Tawang Alun II)



Imajiner Nuswantoro


Perebutan kekuasan di Blambangan oleh anak anak Prabhu Tawang Alun yang wafat tahun 1691M  berlangsung cukup sengit, Pasca terbunuhnya Pangeran Pati Sasranagara (Anak tertua Tawang Alun) oleh senjata mustika milik Sutanangga yang berupa tulup sakti bernama Baru Klitihk mengakhiri kekuasaan sang Raja,

Hanya tujuh tahun memerintah di istana Macan Putih tahtanya harus terenggut paksa oleh pihak pihak keluarga yang tidak puas, 

Pangeran Macanapura tampil sebagai pengganti Sasranagara sebagai Susuhunan baru di istana Macan Putih.

Setelah memerintah selama empat tahun, berita perang perebutan tahta itu sampai ke telinga Chokorda Klungkung dan Dewa Agung Mengwi, Utusan sebanyak 400 orang yang dipimpin oleh Gusti Made Karang Asem dan Gusti Gedhe Panji Kartanagara dari Buleleng beserta kerabat dan pengangkut barang sebanyak 500 orang berangkat ke Blambangan, misi mereka ingin mendamaikan dan menyelesaikan persoalan tanpa menumpahkan darah dengan mengukuhkan Macanapura dan Ketanagara sebagai Patih, rombongan utusan Mengwi itu menyeberang selat Bali dan bergerak melalui Watu Dodol, Tanjung Jajang, Tanjung Anyar, lalu berkemah di Banyu Alit, Di istana Macan putih, Macanapura dan Ketanagara mengira rombongan prajurit dari Bali ingin menyerang mereka, merasa posisi Blambangan yg masih lemah pasca perang saudara mereka memutuskan meninggalkan istana Macan putih untuk mencari perlindungan ke Mataram, mereka berdua diiringi pengikut setia meninggalkan Macan Putih menuju Prabalingga melewati Besuki. Mas Ayu Surabaya anak pertama pangeran Sasranagara yang sejak kecil di asuh Macanapura menyambutnya dengan tangan terbuka, Mas Ayu Surabaya diambil istri oleh Pangeran Dipati Prabalingga dan melahirkan anak laki laki bernama Garun, Kelak Garun akan menurunkan anak laki laki bernama Anom,

Utusan Bali tiba di istana Macan Putih mendapati istana kosong , misi damai mereka ditanggapi lain oleh pihak Macanapura , stelah berunding dengan Bangsawan ,para Mentri dan Panglima perang Macan putih, utusan Bali bertanya masih adakah keturunan Tawang Alun yang bisa dijadikan raja baru di Balambangan ? Maka kemudian pencarian dilakukan, dan Sutanangga lah yang menemukan Mas Purba anak Sasranagara yg berhasil lolos dari maut saat terjadi pembunuhan terhadap ayahnya, Mas Purba lolos bersama Ibunya Mas Ayu Gadhing serta pembantunya bernama Mbok Cina yg bersembunyi di hutan Laban, hutan yg dikemudian hari disebut sebagai Laban Cina, Mas Purba yg saat itu berusia delapan tahun di bawa kehadapan utusan Bali dan dilantik menjadi pangeran Blambangan dengan gelar Pangeran Danureja , ibukota baru di bangun di Wijenan dan Sutangga diangkat sebagai penasehatnya, Utusan Bali pulang dengan membawa Panji Panji kebesaran Macan Putih untuk dipersembahkan kepada raja Mengwi dan Klungkung.


Delapan tahun kemudian Danureja meninggalkan istana Wijenan dan menyerahkan istana Wijenan ke Pamannya yang bernama Wiraguna, dan   mendirikan ibukota baru di Kebrukan.

Danureja memiliki lima orang anak, mereka adalah Mas Ayu Ghana, Mas Noyang (Danuningrat), Mas Ayu Pendhawajaya, Mas Ayu Dipati dan yang terakhir adalah Mas Sirna (Agung Wilis), sumber lain menyebutkan Agung Wilis memiliki darah Bali dari sang Ibu.

Danureja sudah sangat tua saat meninggal, beliau dimakamkan di Tuban (Bali) dan dijuluki Dewa Nyurga oleh Orang Bali. Ngabehi Sutangga juga meninggal di usia sangat sepuh. Sutanangga diganti oleh anaknya yang bernama Singhamumpuni.

Setelah kematian Danureja, Cokordha Klungkung mengutus Gusti Gedhe Lanang Den Pasar untuk mengangkat Mas Noyang putra sulung Danureja menjadi Raja baru di Blambangan, Mas Noyang di beri Gelar Pangeran Danuningrat dan Mengangkat adiknya Mas Sirna sebagai Patih dengan gelar Wong Agung Wilis. Pemerintahan di Blambangan akan diawasi oleh petinggi dari Bali bernama Ranggasatata.

Danuningrat memiliki empat orang anak, yaitu Sutawijaya atau sering disebut Mas Jelei, Mas Ayu Bali, Mas Ayu Talaga, dan Mas Ayu Tanjung.

Agung Wilis memiliki enam orang anak yaitu , Serutadi, Kencling, Tunjung, Berud, Suratman atau Surawijaya dan Mas Ayu Prabhu.

Pangeran Wiraguna anak Tawang Alun dari istri selir yang menempati istana Wijenan wafat diusia senja, Wiraguna memiliki anak laki laki yg bernama Wiraguna (Nunggak Semi) pergi meninggalkan istana dan hidup mengembara, Wiraguna Jr,  ini memiliki tiga orang anak laki laki bernama Suratman, Alit dan Talip dan juga tiga anak perempuan bernama Nawangsurya, Rahinten, dan Mas Ayu Pati. Dan dari pengembaraannya di wilayah pakis, Wiraguna Jr memiliki putra bernama Mas Rempeg yang kelak akan memimpin laskar Blambangan dalam Perang Bayu melawan VOC tahun 1771 - 1773.


KEDHATON MANIK LINGGA

(1705 - 1763)

Pada tahun 1705, Alas kebhrukan yang dibangun sebagai kutharaja akhirnya selesai dan mulai ditempati oleh Prabu Agung Danureja beserta keluarganya. Seluruh para pejabat juga ikut pindah yang semula tata pemerintahan dilaksanakan di Wijenan, sekarang dilaksanakan di Kutharaja Blambangan Hamuncar.

Ibukota atau Kutharaja kerajaan Blambangan itu bernama Kutha Arja Blambangan Hamuncar yang dibangun menghadap timur dengan jalan utama yang disebut LURUNG AGUNG, yang menghubungkan kutharaja dengan pelabuhan Teluk pangpang. Disisi barat laut terdapat jalan setapak tanah berlumpur yang panjang, dan ketika musim hujan tidak dapat digunakan karena licin dan becek, jalan ini menghubungkan kutharaja dengan pelabuhan Panarukan di utara dan pelabuhan Grajagan hingga Puger di selatan yang diantara keduanya dipisahkan dengan hutan belantara baik itu Baluran maupun Gumitir, namun untuk jalan dari Puger ke Panarukan sudah agak lebar dan bisa dilalui oleh kereta kuda.


Pasar kerajaan Blambangan berada di sisi kanan dan kiri gerbang timur kutharaja, disanalah kegiatan jual beli aneka barang dagangan dilaksanakan. Blambangan adalah negeri yang subur, dengan komoditas utamanya adalah beras, perikanan serta hasil laut lainnya. Tidak hanya itu, Blambangan juga memiliki komoditas lainnya seperti sarang burung walet, lilin, daging babi, daging banteng, dan kayu jati gelondongan yang berlimpah. Semua komoditas tersebut menjadi andalan perdagangan kerajaan Blambangan untuk dunia luar.

Benteng dan gerbang timur kutharaja yang disebut PLENGKUNG WETAN yang siap menyambut setiap tamu luar yang datang dari pelabuhan, sebab gerbang wetan langsung menghadap lautan luas dengan pelabuhan Pangpang didepannya.

Istana raja menghadap ke timur ke arah Lurung Agung yang disisi kanan dan kirinya ditanami pohon asam, kedhaton raja tersebut bernama MANIK LINGGA disanalah raja Blambangan bertahta bersama para mantri dan pejabat lainnya.

Kompleks Kutharaja Blambangan Hamuncar dikelilingi dengan tembok bata merah yang tebal dan tinggi, gerbangnya diapit oleh patung NAGA BASUKI yang merupakan naga bercat putih dari batu kapur meniru simbol yang ada di kutharaja Macanputih dahulu. Tembok luarnya juga dibangun benteng batu bata tebal dan tinggi sepanjang kali Bago sampai kalimoro di utara dan kali parasgempal di selatan.

Setelah melalui pos jaga pertama bercat putih kapur dan pasar Hamuncar ada pos jaga kedua pada gerbang dan benteng pertama sampai ke alun-alun kutharaja.

Disisi selatan alun-alun terdapat bangunan yang megah yang disebut puri, tempat kediaman para keluarga raja dan anggota dewan Saptamanggala menetap kecuali Mas Arya Gajah Binarong yang menetap di Padepokannya di Gunung Srawet.


Tepat disisi timur Kedhaton Manik Lingga terdapat alun-alun yang luas dengan pohon beringin kembar di tengahnya dan dibelah oleh jalan kecil. Alun-alun dikelilingi oleh pohon Saman dan pohon Kuweni secara berselang-seling, kompleks kutharaja, alun-alun, dan pasar ini dikelilingi rumah-rumah penduduk dan lagan pertanian milik raja.

Memasuki regol wetan kedalam kompleks Kedhaton Manik Lingga, disisi luar tembok regol terdapat pos jaga ketiga dan didalamnya terdapat sebuah bangsal tempat tamu dipersilahkan menunggu. Bangunan bangsal ini berupa joglo Blambangan dengan atap susun tiga dimana atap teratasnya menjulang ke atas yang sangat berbeda sekali dengan joglo Jawa Tengahan. Pada sisi kanan dan kirinya terdapat ornamen kayu berukir yang menjulang menyerupai tanduk. Disekeliling bangsal ditanami pohon mangga dan sawo kecik sehingga rindang dan berhawa sejuk.

Memasuki regol dalam yang diapit dua pos jaga di kanan dan kirinya, didalamnya terdapat KEMAGANGAN atau tempat sidang paseban istana Blambangan, diamana watu gilang tempat Prabu Agung Danureja berada dengan bangunan pendopo yang lebih tinggi daripada pendopo-pendopo yang berada di luar regol dalam.


Daerah diluar Kutharaja disebut JAWIKUTHA ( luar kota ) yang dibagi menjadi tiga bagian yaitu :

1. Daerah MANCADESA/MANCANAGARA yaitu desa-desa yang mengililingi kutharaja Blambangan Hamuncar.

2. Daerah WANADRI yaitu daerah hutan yang terletak diantara pegunungan Rahung-Gumitir dan Alas Purwa.

3. Daerah PASISIRAN yaitu daerah pantai dan pelabuhan.

Kerajaan Blambangan memiliki empat pelabuhan yaitu :

● Pelabuhan Panarukan

● Pelabuhan Puger

● Pelabuhan Grajagan, dan

● Pelabuhan Teluk Pangpang sebagai pelabuhan terbesar kerajaan Blambangan.


Pada masa pemerintahan Prabu Agung Danureja, Blambangan membawahi lima kadipaten yaitu :

1. Kadipaten Panarukan

2. Kadipaten Sentong

3. Kadipaten Puger

4. Kadipaten Demong (menjadi daerah otonomi bangsa Bugis)

5. Kadipaten Macanputih.





Tambahan cerita :





Prabhu Tawang Alun II Meninggal

Pada tanggal 18 September  1691 terjadi tsunami duka yang menggulung hati 400 perempuan cantik di negeri Blambangan. 

Pasalnya, Prabu Tawang Alun mangkat meninggalkan negeri yang “gemah ripah loh jinawi”. Tak hanya meninggalkan negeri subur yang dipimpinnya, ia juga meninggalkan 400 orang isteri yang sangat mencintainya.

Sudah hampir sebulan Prabu Tawang Alun mangkat, tetapi langit dan bumi Blambangan beserta isinya masih menggemakan kerinduan pada sosoknya.

Pada tanggal 13 oktober 1691, atau tepatnya 25 hari pasca kematian Sang Raja, sebanyak 270 wanita cantik bersiap diri di sebuah upacara pelepasan jenazah Prabu Tawang Alun. Ribuan pasang mata rakyat Blambangan menyaksikan upacara ngaben tersebut  dengan tatapan mata hening. 

270 wanita janda raja itu sedang terlihat berdandan tanpa rasa sedih dan saling tersenyum. Mereka tampak lebih cantik dan teramat bahagia ditengah upacara yang sangat merah meriah dan sakral.

Di tempat terbuka nan luas, dengan tumpukan kayu pilihan yang tertata apik, ke-270 perempuan cantik tersebut berbaring dengan tenang dan tanpa rasa sedih ber iring iringan dengan jenazah Sang Prabu. Sekejap kemudian bara api pun berkobar-kobar melahap tubuh mereka.

Ke 270 wanita isteri raja tawang alun  itu mangkat dengan mengorbankan nyawanya atas nama cinta, pengorbanan, dan kesetiaan pada suami. 

Kematian 270 janda cantik Prabu Tawang Alun  didalam tradisi kebudayaan jawa kuno di sebut “Pati Obong”  tetapi dalam kaca mata pandang modern menyebut sebagai “Bunuh Diri Masal”.

Sumber babat mengatakan bahwa Abu Jenazah Prabhu Tawang Alun di Larung di pantai Pulo Merah Banyuwangi.

Jurnal Belanda menulis prosesi mesatya yang terjadi di Blambangan merupakan sesuatu yang sangat mengerikan.

Paska kematian Prabhu Tawang Alun, Blambangan dilanda perebutan kekuasaan, Pangeran Pati Sasranagara yang merasa lebih tua mengangkat dirinya menjadi raja tanpa berunding dengan siapapun, saudara saudaranya, sanak keluarga dan kaum bangsawan Blambangan bersepakat untuk mengepung istana Macan putih dan membunuhnya .

Pangeran Pati Sasranagara sudah tujuh tahun naik tahta, dari permaisuri ya yang asal Pasuruan yaitu Mas Ayu Gadhing beliau mempunyai 2 anak, Dewi Surabaya dan Mas Purba yang baru berumur 3 tahun.

Rencana pengepungan diketahui oleh Sasranagara, Ia kemudian keluar istana dan menghunus kerisnya Si Sanggabuwana dan sesumbar akan membunuh siapa saja yang melawannya, pertempuran sengit terjadi, permaisuri Mas Ayu Gadhing dan putranya Purba berhasil lolos dari maut dengan menyelinap lewat saluran bawah tanah, mereka keluar istana ditemani oleh Mbok Cina inang pengasuh Purba, sedangkan anak Sasranagara yg lain sudah lama ikut sang Paman Macanapura, diantara para penyerang itu terdapat sang Guru Wangsakarya (Buyut Cungking) yang mengetahui titik kelemahan Sasranagara, Sang Raja hanya bisa mati dengan senjata mustika Baru Klitihk, senjata mustika berupa tulup yang akan membunuh Raja dan mematahkan ilmu kebalnya. Dengan berbekal tulup Baru Klitik, Ngabehi Sutanangga berhasil membunuh Sang Raja. Perang selama tujuh hari tujuh malam itupun berakhir.

Setelah Pangeran Pati Sasranagara terbunuh, maka diangkat lah Pangeran Macanapura menjadi Raja Blambangan yg baru.



Perebutan Kekuasaan di Blambangan 

Perebutan kekuasan di Blambangan oleh anak anak Prabhu Tawang Alun yang wafat tahun 1691M berlangsung cukup sengit, Pasca terbunuhnya Pangeran Pati Sasranagara (Putra sulung Tawang Alun) oleh senjata mustika milik Sutanangga yang berupa tulup sakti bernama Baru Klitihk mengakhiri kekuasaan sang Raja,

Hanya tujuh tahun memerintah di istana Macan Putih tahtanya harus terenggut paksa oleh pihak pihak keluarga yang tidak puas, 

Pangeran Macanapura tampil sebagai pengganti Sasranagara sebagai Susuhunan baru di istana Macan Putih.

Setelah memerintah selama empat tahun, berita perang perebutan tahta itu sampai ke telinga Chokorda Klungkung dan Dewa Agung Mengwi, Utusan sebanyak 400 orang yang dipimpin oleh Gusti Made Karang Asem dan Gusti Gedhe Panji Kartanagara dari Buleleng beserta kerabat dan pengangkut barang sebanyak 500 orang berangkat ke Blambangan, misi mereka ingin mendamaikan dan menyelesaikan persoalan tanpa menumpahkan darah dengan mengukuhkan Macanapura dan Ketanagara sebagai Patih, rombongan utusan Mengwi itu menyeberang selat Bali dan bergerak melalui Watu Dodol, Tanjung Jajang, Tanjung Anyar, lalu berkemah di Banyu Alit, Di istana Macan putih, Macanapura dan Ketanagara mengira rombongan prajurit dari Bali ingin menyerang mereka, merasa posisi Blambangan yg masih lemah pasca perang saudara mereka memutuskan meninggalkan istana Macan putih untuk mencari perlindungan ke Mataram, mereka berdua diiringi pengikut setia meninggalkan Macan Putih menuju Prabalingga melewati Besuki. Mas Ayu Surabaya anak pertama pangeran Sasranagara yang sejak kecil di asuh Macanapura menyambutnya dengan tangan terbuka, Mas Ayu Surabaya diambil istri oleh Pangeran Dipati Prabalingga dan melahirkan anak laki laki bernama Garun, Kelak Garun akan menurunkan anak laki laki bernama Anom,

Utusan Bali tiba di istana Macan Putih mendapati istana kosong , misi damai mereka ditanggapi lain oleh pihak Macanapura , stelah berunding dengan Bangsawan ,para Mentri dan Panglima perang Macan putih, utusan Bali bertanya masih adakah keturunan Tawang Alun yang bisa dijadikan raja baru di Balambangan ? Maka kemudian pencarian dilakukan, dan Sutanangga lah yang menemukan Mas Purba anak Sasranagara yg berhasil lolos dari maut saat terjadi pembunuhan terhadap ayahnya, Mas Purba lolos bersama Ibunya Mas Ayu Gadhing serta pembantunya bernama Mbok Cina yg bersembunyi di hutan Laban, hutan yg dikemudian hari disebut sebagai Laban Cina, Mas Purba yg saat itu berusia delapan tahun di bawa kehadapan utusan Bali dan dilantik menjadi pangeran Blambangan dengan gelar Pangeran Danureja , ibukota baru di bangun di Wijenan dan Sutangga diangkat sebagai penasehatnya, Utusan Bali pulang dengan membawa Panji Panji kebesaran Macan Putih untuk dipersembahkan kepada raja Mengwi dan Klungkung.

Delapan tahun kemudian Danureja meninggalkan istana Wijenan dan menyerahkan istana Wijenan ke Pamannya yang bernama Wiraguna, dan   mendirikan ibukota baru di Kebrukan.

Danureja memiliki lima orang anak, mereka adalah Mas Ayu Ghana, Mas Noyang (Danuningrat), Mas Ayu Pendhawajaya, Mas Ayu Dipati dan yang terakhir adalah Mas Sirna (Agung Wilis), sumber lain menyebutkan Agung Wilis memiliki darah Bali dari sang Ibu.


Danureja sudah sangat tua saat meninggal, beliau dimakamkan di Tuban (Bali) dan dijuluki Dewa Nyurga oleh Orang Bali. Ngabehi Sutangga juga meninggal di usia sangat sepuh. Sutanangga diganti oleh anaknya yang bernama Singhamumpuni.

Setelah kematian Danureja, Cokordha Klungkung mengutus Gusti Gedhe Lanang Den Pasar untuk mengangkat Mas Noyang putra sulung Danureja menjadi Raja baru di Blambangan, Mas Noyang di beri Gelar Pangeran Danuningrat dan Mengangkat adiknya Mas Sirna sebagai Patih dengan gelar Wong Agung Wilis. Pemerintahan di Blambangan akan diawasi oleh petinggi dari Bali bernama Ranggasatata.

Danuningrat memiliki empat orang anak, yaitu Sutawijaya atau sering disebut Mas Jelei, Mas Ayu Bali, Mas Ayu Talaga, dan Mas Ayu Tanjung.

Agung Wilis memiliki enam orang anak yaitu , Serutadi, Kencling, Tunjung, Berud, Suratman atau Surawijaya dan Mas Ayu Prabhu.


Pangeran Wiraguna anak Tawang Alun dari istri selir yang menempati istana Wijenan wafat diusia senja, Wiraguna memiliki anak laki laki yg bernama Wiraguna (Nunggak Semi) pergi meninggalkan istana dan hidup mengembara, Wiraguna Jr,  ini memiliki tiga orang anak laki laki bernama Suratman, Alit dan Talip dan juga tiga anak perempuan bernama Nawangsurya, Rahinten, dan Mas Ayu Pati. Dan dari pengembaraannya di wilayah pakis, Wiraguna Jr memiliki putra bernama Mas Rempeg yang kelak akan memimpin dalam Perang Bayu melawan VOC.




Patih Danurejo III (Patih Danurejo IV)


Dalam beberapa literatur terjadi perbedaan pencatatan untuk Pepatih Dalem Kesultanan Yogyakarta ini. Wakil Patih Tumenggung Sindunegara diangkat menjadi pengganti dari Kanjeng Raden Adipati Danurejo II yang dihukum mati karena dianggap berkhianat oleh Sri Sultan Hamengkubuwono II dicatat sebagai Patih Danurejo III sehingga Mas Tumenggung Soemodipoero yang diangkat menjadi patih selanjutnya dicatat sebagai Patih Kanjeng Raden Adipati Danurejo IV, bukan Danurejo III seperti yang dicatat sebagai sejarah oleh Kesultanan Yogyakarta.


Pepatih Dalem Danurejo IV (1813-1847)  yang sangat pro Belanda ini memang memiliki banyak nama. 

Nama pertama yang dipakai adalah Mas Tumenggung Soemodipoero dipakai saat menjadi pejabat Bupati Japan atau Mojokerto, pada saat itu wilayah Japan atau Mojokerto masuk wilayah dari Kesultanan Yogyakarta.


Nama lain dari Patih Danurejo III ( IV ) ini adalah Pangeran Joko Hadiyosodiningrat, Raden Joyosentiko. Setelah pensiun dari patih 

Kesultanan Yogyakarta, berganti nama menjadi 

Raden Tumenggung Kusumayudho.


Atas rekomendasi dari Residen Yogyakarta dan juga Pangeran Diponegoro, Sultan Yogyakarta yang ketiga, Sri Sultan  Hamengkubuwono III, 

pada tanggal 2 Desember 1813 secara remi mengangkat Mas Tumenggung  Soemadipoera  sebagai Pepatih Dalem Kanjeng Raden Adipati Danureja III, atau dalam banyak literatur sejarah  disebut dengan nama Patih Danureja IV, menggantikan jabatan dari Tumenggung Sindunegara, Wakil Patih yang tidak mendapat pengangkatan resmi dari pemerintah Kolonial Inggris. Patih Danurejo III ( IV ) ini menjadi patih selama 34 tahun hingga tahun 1847.


Dalam Keraton Yogyakarta pada saat itu berlaku aturan dan tingkatan Abdi Dalem yang membantu  tugas Sultan Yogyakarta, yaitu :

 1. Kanjeng Pepatih Dalem 

      (Perdana Menteri atau Patih yang berada

      satu tingkat di bawah raja)

 2. Kanjeng Tumenggung Nagari 

      (setingkat Menteri)

 3. Kanjeng Panji Palang Nagari atau Kanjeng

     Wedana

     (setingkat Gubernur/Bupati yang memegang

     daerah Kadipaten)

 4. Bekel Punakawan Bedaya

 5. Jajar Punakawan Bedaya

     (Lurah/Komandan Pasukan)

 6. Pangaruh Babar 

     (Prajurit/ Mantri)

 7. Emban Dalem

     (Pembantu dalam Keraton)


Jabatan dari Kepatihan dibagi menjadi dua, terdiri dari patih yang mengurus masalah pertahanan dan keamanan dan patih yang mengurus permasalahan ekonomi dan kemasyarakatan. 

Apabila patih meninggal, jabatannya bisa diwariskan pada anak-anaknya, adiknya, 

atau keponakannya asalkan masih memiliki hubungan darah atau kekerabatan dengan patih sebelumnya. Itupun masih harus dengan syarat setingkat Panji Palang Nagari atau Kanjeng Tumenggung Nagari. 

Jadi usulan Residen Yogyakarta John Crawford dan juga Pangeran Diponegoro pada saat itu dapat dikatakan  " tidak umum " dan cukup mengagetkan pada saat itu. Keberhasilan dari Mas Tumenggung  Soemadipoera membangun Japan sebagai wilayah Mancanegara Timur, yang menjadi dasar pemilihannya sebagai Pepatih Dalem.

Pada awalnya hubungan antara Pangeran Diponegoro dan Patih Danurejo III (IV) ini sangat baik, namun seiring berjalannya waktu sikap Patih Danurejo yang sangat memihak Belanda dan banyak keputusannya merugikan Keraton Yogyakarta membuat hubungannya menjadi buruk dan semakin buruk lagi.

Politik Patih Danurejo yang menghalalkan segala cara untuk mencari pengaruh dalam Keraton dan kehidupan serba mewah serta kebiasaannya minum minuman keras bersama pejabat Belanda semakin membuat Pangeran Diponegoro menentangnya.

Patih Danurejo IV semakin pegang kekuasaan saat Sri Sultan Hamengkubuwono III wafat dan digantikan oleh putranya yang masih berusia 10 tahun. 

Raden Mas Ibnu Jarot diangkat sebagai Sri Sultan Hamengkubuwono IV dengan bantuan Wali yang terdiri dari 4 orang, termasuk ibu suri dan Pangeran Diponegoro.

Peluang ini dimanfaatkan dengan baik oleh Patih Danurejo untuk menguatkan posisinya dan mencari keuntungan pribadi. Banyak kebijakan yang diatur olehnya dan hsmpir semuanya dimanfaatkan untuk semakin memperkuat posisinya di Keraton. 

Hampir semua pejabat Keraton adalah orang pilihannya. Dengan demikian ia bisa mengatur Sultan yang masih muda dan belum punya pengalaman. Sikapnya yang pro Belanda semakin memperburuk citranya dalam Keraton.

Banyak kebijakan yang diambilnya sendiri terpaksa disetujui oleh Sultan, dan dalam banyak hal yang lebih  menguntungkan posisi Belanda. Pada saat itu Pangeran Diponegoro juga sering meninggalkan keraton untuk belajar agama Islam, sehingga tidak banyak tahu tentang kelakuan buruk Patih Danurejo.

Dalam Babad Kedung Kebo dicatat sebuah peristiwa yang menandai anti klimaks hubungan dari Pangeran Diponegoro dengan Patih Danurejo. Pada tahun 1822, Pangeran Diponegoro memanggil Patih Danurejo dalam sebuah pasowanan, berkaitan dengan berbagai laporan miring atas kesewenang-wenangannya menindas rakyat. 

Sebagai salah satu Wali dari Sultan yang masih kecil, Pangeran Diponegoro menginterogasinya di paseban, di depan banyak pemangku pejabat dan seorang sentono yaitu anggota keluarga dari Sultan Yogyakarta. 

Pangeran Diponegoro bersama ayahnya yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono III mengangkat beberapa petugas di pedesaan dan gunung. 

Namun tanpa berkonsultasi, Patih Danurejo  menunjuk 50 lebih petugas resmi yang digaji langsung dari uang pajak Kesultanan dengan tugas khusus yang mengambil pajak rumah tangga dan sekaligus berfungsi sebagai petugas penegak hukum.

Pangeran Diponegoro menjadi murka ketika Patih Danurejo terus saja mengelak dengan berbagai dalih, dan terjadilah sebuah peristiwa heboh ini. Pangeran Diponegoro yang amat disegani semua kalangan itu mendadak berdiri, melepaskan selop atau alas kakinya, kemudian mendekati Patih Danurejo dan memukulkan selop itu ke kepala dan wajah sang patih yang duduk menyembah. Hal ini kemudian menjadi dasar dendam dari Patih Danurejo kepada Pangeran Diponegoro, walaupun sebenarnya dia sangat pantas menerimanya, katena sudah menyengsarakan rakyat dengan menarik pajak yang sangat memberatkan rakyat Yogyakarta.

Insiden kedua terjadi ketika dalam sebuah pesta bersama Belanda, disajikan anggur dan beraneka minuman keras. Lazim pada masa itu pesta-pesta ala barat diadakan di kalangan pemerintahan sehingga Pangeran Diponegoro sampai tidak tahan dan menganggap bahwa Belanda telah menginjak-injak dan mencemari keraton. 

Pada saat itu Patih Danurejo berniat untuk membalas dendam atas peristiwa penghinaan yang pernah dialaminya. Patih Danurejo tahu bahwa Pangeran Diponegoro  tidak akan mau minum ikut minum minuman keras, sehingga dengan sengaja ditawarkannya minuman keras kepada Pangeran Diponegoro. 

Namun Pangeran Diponegoro malah menyiram wajah Patih Danurejo dengan minuman keras. 

Semenjak itu kemarahan dari Patih Danurejo  kepada Pangeran Diponegoro benar-benar memuncak sehingga ia selalu berupaya untuk.menyingkirkan Pangeran Diponegoro dari Keraton Yogyakarta. Dan pada akhirnya Pangeran Diponegoro tersingkir dari istana dan melakukan peperangan dengan Belanda yang dibantu oleh pihak Keraton Yogyakarta 




Asal usul dari Patih Danurejo 

Ada beberapa keterangan yang berbeda dari beberapa penulis literatur sejarah dan juga  pengamat sejarah tentang asal usul Patih Danurejo yang kontroversial ini. 

Peter Carey menunjuk bahwa Patih Danurejo berasal dari garis keturunan dengan Untung Surapati atau Adipati Wiranegara yang menguasai Pasuruan. Artinya menurut Peter Carey, Patih Danurejo memiliki darah Bali dan Jawa. Untung Surapati juga dikenal sebagai penentang dari penjajahan Belanda. 

Namun data yang lain yang ditulis oleh Pigeud menyebut bahwa Patih Danurejo merupakan keturunan dari Prabu Tawang Alun atau Cinde Amoh. Keturunan Cinde Amoh ini justru pihak yang berseberangan dengan Untung Surapati yaitu membantu Belanda dalam memadamkan pemberontakan Untung Surapati.

Pada masa mudanya diketahui pernah tinggal dan belajar di Yogyakarta yang merupakan salah satu pusat dari Kesultanan di Jawa. 

Dicatat dalam sejarah menjadi Bupati Japan, menggunakan gelar Mas Tumenggung Soemodipoero, gelar yang juga dipakai oleh Bupati Japan sebelumnya. Pada saat Japan diambil alih oleh Gubernur Jenderal  Herman Willem Daendels pada bulan Januari 1811, 

dia kembali ke yogyakarta dan tidak memiliki jabatan setelahnya. Masa tanpa jabatan itu tidak berlangsung lama sebab pada tahun 1814 Mas Tumenggung Soemodipoero diangkat sebagai Patih Yogyakarta.

 


Pada tahun 1825-1830 pecah perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Sebagai patih Yogyakarta, Patih Danurejo ikut  memainkan peranannya dan berhasil untuk  menyingkirkan Pangeran Diponegoro dari kursi penasehat utama Sultan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono IV. 

Setelah perang Jawa berakhir, kekuasaan Patih  Danurejo semakin kuat karena Sultan yang baru, Pangeran Gatot  Menol yang bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono IV adalah cucunya  . Semua kebijakan yang disodorkan oleh Patih  Danurejo pada Sultan Yogyakarta tidak bisa ditolaknya. Kebijakan Patih Danurejo yang sangat  menguntungkan Patih Danurejo pribadi dan Belanda membuatnya semakin dimusuhi oleh para pejabat keraton lainnya.

Kehidupan mewah ala pejabat Belanda dijalani Patih Danurejo. Bukan hanya kebiasaan minum   minuman keras, sang patih juga akrab dengan opium yang secara legal juga diperdagangkan. 

Atas dasar laporan tentang penyalahgunaan wewenang yang dilakukannya selama menjadi  patih, pihak pemerintah kolonial Belanda di Batavia memutuskan agar Patih Danurejo diganti. 

Alasannya adalah sudah terlalu tua dan cukup lama menduduki jabatan Patih Yogyakarta. Namun alasan sebenarnya adalah cara dari Belanda untuk menyingkirkan Patih Danurejo yang semakin memiliki kekuatan dan juga pengaruh di Keraton. Disamping kasus pajak  yaitu penggelapan pajak oleh Patih Danurejo, seperti pajak pembuatan jembatan dan pajak penggalian kapur di daerah Gunung Kidul.

Mengingat kesetiaan dan jasanya selama menjabat patih, maka pihak dari Pemerintah Belanda tidak melakukan penyelidikan kasus dari Patih Danurejo.

Patih Danurejo diberhentikan dengan hormat dan diberi hak pensiun sebesar 1.000 gulden yang dibayar dari kas negara. Diberikan juga hak memakai gelar Pangeran Kusumoyudho. 

Pemerintah Belanda  mengembalikannya ke   Mojokerto, tempat dimana dia pernah menjadi bupati. Patih Danurejo atau yang bergelar Pangeran Kusumoyudho menuju Mojokerto beserta keluarganya dengan diiringi oleh 200 orang pelayan. Pemberhentian itu dilakukan pada bulan Pebruari 1847.

Pemilihan Mojokerto itu dimaksudkan oleh Belanda agar dia tidak bisa berkecimpung dalam urusan pemerintahan. Dalam bayangan Belanda, di Keraton Yogyakarta banyak pejabat yang pernah diangkatnya dan kemungkinan masih mengikuti arah kebijakannya. Mojokerto pada saat itu bukan lagi bagian dari Kesultanan Yogyakarta dan cukup jauh letaknya dari pusat  Intinya Patih Danurejo memang disingkirkan secara halus dan diasingkan di Mojokerto.

Patih Danurejo masih memiliki hasrat untuk  kekuasaan. Meskipun sudah dijauhkan dari pusat kekuasaan, dia tetap berusaha menjalin hubungan dengan mantan anak buahnya. 

Dia diketahui beberapa kali meninggalkan Mojokerto dan masuk ke wilayah Kesultanan  Yogyakarta. Karena dianggap membahayakan maka pada bulan Juni 1847, Residen Surabaya mendapatkan perintah untuk melarang Patih  Danurejo atau Pangeran Kusumoyudho untuk  meninggalkan Mojokerto.

Tidak diketahui secara pasti kapan Patih Danurejo meninggal dunia. 

Peter Carey menyebut bahwa Patih Danurejo  meninggal dunia  dan di makamkan di daerah  Mojokerto, tempat pengasingannya. Sementara data dari Pegeud menyebut bila Patih Danurejo atau Pangeran Kusumoyudo dimakamkan di daerah  Ngrowo atau Tulungagung.



Biografi Patih Danurejo 

Nama lain Patih Danurejo : 

   Kanjeng Pangeran Adipati Danurejo III ( IV )

   Mas Tumenggung Soemadipoero 

   Kanjeng Pangeran Joko Hadiyosodiningrat, 

   Surodipo

   Raden Joyosentiko 

   Pangeran Kusumoyudho 


Pejabat sebelumnya : 

   Kanjeng Pangeran Adipati Danurejo I

   Kanjeng Pangeran Adipati Danurejo II

   Pangeran Natadiningrat 

    (Barep Hadiwanaryo )

   Kanjeng Pangeran Adipati Danurejo II

    * Diangkat kembali oleh Gubernur Jenderal

      Herman Willem Daendels 

   Tumenggung Sindunegara 

     ( Adipati Danurejo )

     ( Kanjeng Pangeran Adipati Danurejo III )


Menjadi Patih dengan gelar : 

      Kanjeng Pangeran Adipati Danurejo III

      * Dalam literatur lain disebut 

         Adipati Danurejo IV

Masa jabatan : 

     2 Desember 1813 - Februari 1847 


Jabatan sebelumnya 

    1811 ~ 2 Desember 1813

    Bupati Japan (Mojokerto) dengan gelar    

    Mas Tumenggung Soemodipoero


Istri :

   Gusti Kanjeng Ratu Sasi

   ( Putri dari Sri Sultan Hamengkubuwono II )

   Gusti Kanjeng Kencono Wulan


Anak : 

   Gusti Kanjeng Ratu Kencono


Menantu : 

  Sri Sultan Hamengkubuwono IV


Cucu :

  Sri Sultan Hamengkubuwono V




Sumber Referensi:

- Babat Tawang Alun Sri Margana: Java Las Frontier: The Struggle for Hegomony of Blambangan



Imajiner Nuswantoro 



Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)