Mbah Syechah / Ash-Shoichah / Kiai Abdus Salam Tambakberas Jombang (Syechah / Ash-Shoichah = Bentakan menggelegar, sebuah cerminan kewibawaan seorang pejuang berdarah biru Pajang dan Majapahit)

0

 Mbah Syechah / Ash-Shoichah / Kiai Abdus Salam Tambakberas Jombang 

(Syechah / Ash-Shoichah = Bentakan menggelegar, sebuah cerminan kewibawaan seorang pejuang berdarah biru Pajang dan Majapahit)





Hikayat Sang Pembuka Cakrawala

Sejarah besar ini bermula dari sosok "Singa Tersembunyi" trah Jaka Tingkir, Kiai Abdus Salam atau yang dikenal sebagai Mbah Syechah. Nama beliau diambil dari kata Ash-Shoichah yang berarti "bentakan menggelegar", sebuah cerminan kewibawaan seorang pejuang berdarah biru Pajang dan Majapahit. Sebagai pengikut setia Pangeran Diponegoro, beliau memilih jalan sunyi untuk menjaga api perjuangan tetap menyala, menjadi akar spiritual yang kelak melahirkan tokoh-tokoh besar bangsa melalui cicit beliau, Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari.







Tahun 1825 menjadi titik balik saat Mbah Syechah menepi ke utara Jombang demi menghindari pengejaran Belanda. Beliau memasuki belantara Dusun Gedang yang kala itu masih angker dan melakukan "babat alas". Di tengah hutan sunyi itu, beliau mendirikan tiga unit bangunan sederhana yang dikenal sebagai Pondok Telu. Keikhlasan beliau dalam mengajar segera menarik hati para santri, hingga terkumpullah dua puluh lima santri pertama yang menjadi saksi lahirnya julukan bersejarah, Pondok Selawe.


Memasuki usia senja, estafet perjuangan diteruskan kepada dua menantunya melalui pembagian wilayah keilmuan yang harmonis. Kiai Usman memimpin wilayah timur sungai Dusun Gedang dengan fokus pada kedalaman ilmu Thariqah dan Tasawuf, sementara Kiai Said memimpin wilayah barat sungai dengan ketegasan ilmu Syariat. Pembagian unik ini menjadi tonggak sejarah yang membentuk karakter Tambakberas sebagai pusat pendidikan yang mampu memadukan aspek batiniah dan hukum agama secara selaras.


Warisan luhur ini mencapai puncaknya di tangan Pahlawan Nasional, KH Wahab Chasbullah, yang pada tahun 1965 menyematkan nama Bahrul Ulum atau "Lautan Ilmu". Nama ini merupakan doa dan cita-cita agar pesantren ini menjadi samudra ilmu yang tak pernah kering, tempat para santri menimba wawasan seluas samudra namun tetap Hikayat Sang Pembuka Cakrawala


Sejarah besar ini bermula dari sosok "Singa Tersembunyi" trah Jaka Tingkir, Kiai Abdus Salam atau yang dikenal sebagai Mbah Syechah. Nama beliau diambil dari kata Ash-Shoichah yang berarti "bentakan menggelegar", sebuah cerminan kewibawaan seorang pejuang berdarah biru Pajang dan Majapahit. Sebagai pengikut setia Pangeran Diponegoro, beliau memilih jalan sunyi untuk menjaga api perjuangan tetap menyala, menjadi akar spiritual yang kelak melahirkan tokoh-tokoh besar bangsa melalui cicit beliau, Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari.


Tahun 1825 menjadi titik balik saat Mbah Syechah menepi ke utara Jombang demi menghindari pengejaran Belanda. Beliau memasuki belantara Dusun Gedang yang kala itu masih angker dan melakukan "babat alas". Di tengah hutan sunyi itu, beliau mendirikan tiga unit bangunan sederhana yang dikenal sebagai Pondok Telu. Keikhlasan beliau dalam mengajar segera menarik hati para santri, hingga terkumpullah dua puluh lima santri pertama yang menjadi saksi lahirnya julukan bersejarah, Pondok Selawe.


Memasuki usia senja, estafet perjuangan diteruskan kepada dua menantunya melalui pembagian wilayah keilmuan yang harmonis. Kiai Usman memimpin wilayah timur sungai Dusun Gedang dengan fokus pada kedalaman ilmu Thariqah dan Tasawuf, sementara Kiai Said memimpin wilayah barat sungai dengan ketegasan ilmu Syariat. Pembagian unik ini menjadi tonggak sejarah yang membentuk karakter Tambakberas sebagai pusat pendidikan yang mampu memadukan aspek batiniah dan hukum agama secara selaras.


Warisan luhur ini mencapai puncaknya di tangan Pahlawan Nasional, KH Wahab Chasbullah, yang pada tahun 1965 menyematkan nama Bahrul Ulum atau "Lautan Ilmu". Nama ini merupakan doa dan cita-cita agar pesantren ini menjadi samudra ilmu yang tak pernah kering, tempat para santri menimba wawasan seluas samudra namun tetap teguh memegang akar nasionalisme kebangsaan. Dua abad berlalu, cahaya iman yang bermula dari langkah berani di tengah hutan itu kini terus mengalir abadi bagi Nusantara.


Imajiner Nuswantoro





Mbah Sechah, Perang Jawa, dan Pondok Pesantren Bahrul Ulum

Pada tahun 1825 terlacak sebagai titik awal sejarah berdirinya Pesantren Tambakberas, Jombang Jawa Timur. Pada tahun itu, seorang kiai, pendekar, dan panglima perang asal Tuban, Mbah Abdus Salam, berkunjung ke Jombang. Kota Tuban berada di sisi Barat Laut Kota Jombang, berjarak sekitar 90 kilometer. Mbah Abdus Salam mengunjungi dua desa di Jombang. Pertama, Desa Wonomerto, kini di Kecamatan Wonosalam, di kaki gunung Anjasmoro, sebelah tenggara dari Kota Jombang, dekat perbatasan Kabupaten Kediri dan Malang. Kedua, dusun Gedang, kini di Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang. Jarak Wonomerto dan Gedang sekitar 35 kilometer.


Mbah Abdus Salam adalah putra Syekh Abdul Jabbar asal dusun Jojogan, Desa Mulyo Agung, Kecamatan Singgahan, Tuban. Jalur nasab ke atasnya bersambung pada Joko Tingkir, raja pertama (1549-1582) Kerajaan Pajang, kini di wilayah Kartasura, Sukoharjo. Kiai Abdus Salam kemudian lebih dikenal dengan panggilan, Mbah Shoichah atau Mbah Sechah.


Beliau mengunjungi Jombang dengan tiga tujuan. Pertama, napak tilas dan ziarah ke makam leluhurnya, Pangeran Benowo, putra Joko Tingkir. Untuk hal ini, ada beberapa situs yang dinyatakan sebagai makam Pangeran Benowo, Raja Pajang ketiga dan terakhir. Salah satunya di Desa Wonomerto, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang.


Di Desa Wonomerto, Jombang, terdapat sebuah bukit yang dikelilingi lapisan bata merah model kuno, seperti candi. Di atas bukit terdapat banyak makam kuno. Salah satunya adalah makam Pangeran Benowo dan istrinya. Masyarakat sekitar mempercayai secara turun temurun bahwa situs tersebut adalah makam Pangeran Benowo. Mereka juga masih banyak yang hafal cerita lisan tentang kisah Pangeran Benowo.


Tujuan kedua kunjungan Mbah Sechah ke Jombang, untuk mencari lokasi yang tepat dalam berdakwah. Terbukti, setelah menemukan makam Pangeran Benowo di Wonomerto, Wonosalam, Mbah Sechah melanjutkan perjalanan ke arah utara dari Wonomerto, sekitar 35 kilo meter, menuju kampung Gedang,


Tujuan ketiga, beliau melakukan survei lokasi untuk mencari tempat strategis terkait Perang Jawa. Perang yang dimulai sejak 19 Juli 1825 sampai 28 Maret 1830 dengan menghabiskan kas Belanda sebesar f. 25.000.000 ini terjadi antara Belanda melawan Pangeran Diponegoro, seorang pengamal tarekat Syattariyah.


Di masa muda, Pangeran Diponegoro akrab dengan beberapa pesantren dan mengaji Al-Qur’an, kitab Taqrib, Lubab al-fiqh, Muharrar, At Taqarrub, At Tuhfah al Mursalah ila Ruh al Nabi, Nasihatul Muluk, Sirah as Salatin, Tajus Salatin, dan Fatah al-Muluk. Tidak ketinggalan juga membaca suluk dan primbon, Sejarah Isfahan dan Arabia, Babad Majapahit, Sejarah Mataram, Serat Rama, Bhoma Kawya, Arjunawijaya, Arjunawiwaha, dan masih banyak lagi.

Sebagaimana ditulis Choirul Anam, dalam buku, KH. Wahab Chasbullah: Hidup dan Perjuangannya, bahwa tahun 1825, Mbah Sechah ke Wonomerto Wonosalam untuk berdakwah, kemudian pergi ke Gedang. Setelah Diponegoro ditangkap tahun 1830, Mbah Sechah memindahkan basis perlawanan dari Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, ke arah Timur, hingga ke Jombang. Pendapat Choirul Anam ini mengasumsikan, Mbah Sechah hanya berkunjung sebentar ke Jombang, kemudian kembali ke Tegalrejo, untuk berperang.


Mirip dengan pendapat Choirul Anam, Agus Sunyoto, dalam buku, Fatwa & Resolusi Jihad; Sejarah Perang Rakyat Semesta di Surabaya, 10 Nopember 1945, menjelaskan, bahwa Mbah Sechah adalah satu di antara sekian banyak panglima perang pasukan Diponegoro yang ikut berjuang di telatah Mataram. Sunyoto menambahkan, setelah Pangeran Diponegoro ditangkap tahun 1830, Mbah Sechah kemudian hijrah ke Jombang dan mendirikan Pesantren Tambakberas. Narasi Choirul Anam dan Agus Sunyoto tersebut perlu diklarifikasi.


Perang Diponegoro adalah perang yang terjadi di banyak daerah di Jawa, maka disebut sebagai Perang Jawa. Dalam sejarah dikisahkan, pada saat pecah Perang Jawa, wilayah kawedanan Monconegoro Timur berpihak kepada Diponegoro. Monconegoro Timur meliputi Madiun, Magetan, Kalangbret (wilayah Tulungagung), Berbek (Nganjuk), Kertosono (Nganjuk), Rowo (Tulungagung), Godean (Nganjuk), dan 16 kabupaten yang berdiri sendiri.


Pangeran Diponegoro mengirim pesan yang berisi perintah untuk memerangi orang Eropa dan Cina yang jadi musuh (ada juga Cina yang ikut perang lawan Belanda, memasok senjata dan uang untuk pasukan Diponegoro). Pesan itu disampaikan kepada para pimpinan pasukan di seluruh wilayah kesultanan: Kedu, Bagelen, Banyumas, dan Serang. Tidak ketinggalan pula ke wilayah Monconegoro Timur: Magetan, Madiun, Rajegwesi (Bojonegoro), Kertosono, Berbek, dan Rowo.


Sangat mungkin Mbah Sechah mendapat mandat untuk observasi lokasi baik untuk mengatur strategi, maupun untuk bertahan, dan menyerang Yogyakarta, tapi juga di wilayah Monconegoro Timur. Basis-basis santri di Monconegoro Timur ikut digerakkan Kiai Mojo, salah satu penasehat Pangeran Diponegoro, yang punya banyak relasi dan jaringan dengan pusat-pusat keagamaan dan politik di Jawa hingga Bali.





Imajiner Nuswantoro 



Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)