Serat Centhini (Kawruh Candrasengkala)
Serat Centhini, sebagai sebuah ensiklopedia kebudayaan Jawa yang ditulis pada awal abad ke-19 (sekitar 1742 Tahun Jawa atau 1814 Masehi), memuat kawruh (pengetahuan) yang komprehensif, termasuk di dalamnya adalah ilmu Candrasengkala (penanda tahun menggunakan rangkaian kata/sengkalan).
Berikut keterangan penting terkait kawruh candrasengkala dalam Serat Centhini :
- Definisi dan Fungsi: Candrasengkala dalam Centhini digunakan untuk mencatat peristiwa-peristiwa penting dalam pengembaraan tokoh (seperti Amongraga) atau pendirian bangunan/tempat, menggunakan kata-kata yang memiliki watak angka.
- Contoh Candrasengkala: Terdapat kajian khusus pada pupuh-pupuh awal (seperti Pupuh 50 dan 51) yang membahas Candrasengkala Masjid Demak dan penggunaan kata-kata berwatak angka dalam sangkalan.
- Watak Angka (Wicalan): Serat Centhini menjelaskan watak wicalan dari setiap kata, misalnya kata-kata berwatak angka satu (satunggal), sepuluh (sedasa), hingga penjelasan tentang watak angka-angka secara umum.
- Sangkalan Memet: Selain sengkalan yang berbentuk kalimat, Serat Centhini juga mengenalkan konsep visual dari sengkalan, yaitu Sangkalan Memet, yang berupa gambar atau relief, contohnya yang terdapat di panggung Sangga Buwana.
- Konteks Penulisan: Candrasengkala dalam Centhini mencerminkan kedalaman pemahaman masyarakat Jawa dalam menyematkan angka tahun ke dalam kalimat yang puitis dan bermakna filosofis.
Serat Centhini merupakan sumber primer penting untuk mempelajari Candrasengkala karena memuat rincian watak angka yang pakem dalam budaya Jawa.
Imajiner Nuswantoro

.jpg)