Sang Hyang Wenang
Sang Hyang Wenang adalah tokoh dewa dalam pewayangan Jawa yang dianggap sebagai leluhur Batara Guru dan penguasa Kahyangan Suralaya.
Ia bertempat tinggal di Khayangan Alang-alang Kumitir dan kemudian membangun kahyangan baru di Gunung Tengguru.
Dalam lakon wayang, Sang Hyang Wenang sering dimunculkan meskipun ia telah mewariskan takhta kahyangan kepada putranya, Sang Hyang Tunggal.
Sang Hyang Wenang mendiami Kahyangan Alang-alang Kumitir sebelum membangun kahyangan baru di Gunung Tengguru.
Ia membangun kahyangan baru di Gunung Tengguru setelah sekian lama memimpin di Alang-alang Kumitir.
Sang Hyang Wenang mewariskan takhta kahyangan kepada putranya, Sang Hyang Tunggal, sebelum bersatu ke dalam dirinya.
Meskipun telah mewariskan takhta, Sang Hyang Wenang tetap dimunculkan dalam beberapa lakon pewayangan, seringkali dengan nama julukan Sang Hyang Podo Wenang.
Kisah Sang Hyang Wenang banyak diangkat dalam naskah-naskah pewayangan, salah satunya adalah Serat Paramayoga, yang disusun oleh pujangga Ranggawarsita.
Menurut Bendung Layung Kuning, Sang Hyang Wenang merupakan tokoh yang paling tua dalam cerita pewayangan. Sang Hyang Wenang ini dianggap sebagai perwujudan dari sifat Tuhan. Dia adalah putra Sang Hyang Nur Rahsa (Nurrasa) dengan permaisuri Dewi Sarwati (Rawati), putri Prabu Rawangin (raja jin di Pulau Darma). Sang Hyang Wenang lahir berwujud sotan atau suara yang samar-samar bersama adik kembarnya yang bernama Sang Hyang Hening (Wening).
Dalam cerita pedalangan, Sang Hyang Wenang memiliki nama lain Sang Hyang Jatiwisesa. Ia juga memiliki saudara kandung bernama Sang Hyang Taya atau Sang Hyang Pramanawisesa yang berwujud akyan atau berbadan halus (jin).
Ketika Sang Hyang Wenang dewasa, Sang Hyang Nurrasa kemudian manuksma (hidup dalam satu jiwa) ke dalam diri Sang Hyang Wenang setelah menyerahkan benda-benda pusakanya. Adapun benda-benda pusakanya yang diserahkan Sang Hyang Nurrasa Kepada Sang Hyang Wenang, antara lain Kitab Pusaka Darya, kerajaan, pusaka, dan azimat berupa Kayu Rewan, Lata Maha Usadi, Cupu Manik Astagina, dan Cupu Retnadumilah. Setelah Menyerahkan semua pusaka tersebut, ia kemudian manuksma kedalam diri Sang Hyang Wenang.
Menurut kisah sejarah, pada awalnya Sang Hyang Wenang bertempat tinggal di Kahyangan Gunung Tunggal, yang merupakan salah satu wilayah pulau dewa. Di tempat tersebut, Sang Hyang Wenang kemudian menciptakan surga sebagai tempat bersemayam. Setelah itu, ia menciptakan kahyangan atau surga baru, yaitu di Kahyangan Alang-alang Kumitir, tepatnya di pulau Maldewa, sebagai tempat tinggalnya yang baru.
Sang Hyang Wenang Menikah dengan Dewi Sahoti (Dewi Sati), putri Prabu Hari Raja dari negara Keling. Dari Perkawinan tersebut, ia memperoleh lima putra, yang semuanya berwujud akyan (jin). Anak mereka tersebut masing-masing bernama Sang Hyang Tunggal, Dewi Suyati, Batara Nioya, Batara Herumaya, dan Batara Senggana. Melalui Sang Hyang Tunggal, kelak Sang Hyang Wenang menurunkan dewa-dewa yang akan menjadi pengawas kehidupan di kahyangan dan bumi. Setelah Sang Hyang Tunggal dewasa, Sang Hyang Wenang pun menyerahkan tahta kerajaan beserta semua pasukannya. Setelah itu, Sang Hyang Wenang tinggal di kahyangan Ondar-andir Bawana. Karena berwujud gaib, maka ia hidup sepanjang masa dan bersifat abadi.
Sang Hyang Wenang adalah tokoh yang amat suci dalam pewayangan, Mengapa ? Pasalnya, dalam dunia pewayangan, Sang Hyang Wenang disamakan dengan Tuhan. Oleh karena sifatnya yang suci dan sakral tersebut, maka sebagian dalang jarang memunculkan tokoh ini. Mereka Menganggap bahwa untuk memainkan peran Sang Hyang Wenang harus tidak boleh sembarangan.
Dalam pewayangan, ada beberapa tokoh manusia yang peranannya berhubungan dengan Sang Hyang Wenang, antara lain Semar yang menjadi penuntun moral para satria, Bima dalam lakon Dewa Ruci, Wisanggeni putra Arjuna, dan Antasena putra Bima. Sang Hyang Wenang sering masuk kedalam diri tokoh-tokoh tersebut untuk memberikan petunjuk suci, khusus, dan penting kepada manusia.
Imajiner Nuswantoro

