Kisah Aji Saka
Aji Saka dalam legenda Jawa digambarkan sebagai pahlawan pembawa peradaban yang berasal dari tanah seberang, sering disebut berasal dari negeri Ngerum/Istanbul, Bumi Majeti, atau dikaitkan dengan Jambudwipa (India). Ia datang ke Jawa untuk menyebarkan peradaban dan mengalahkan Raja Dewata Cengkar di Medang Kamulan.
Berikut adalah detail asal-usul Aji Saka menurut berbagai sumber :
- Tanah Ngerum (Istanbul): Dalam Serat Manik Moyo, ia disebut bernama Abu Soko yang berasal dari Ngerum, sempat berguru di Mekkah, lalu diminta pergi ke Tanah Jawa.
- Bumi Majeti: Sering disebut sebagai negeri antah-berantah dalam mitologi Jawa.
- India/Jambudwipa: Beberapa penafsiran mengaitkan Aji Saka dengan suku Shaka dari India, melambangkan kedatangan ajaran Dharma (Hindu-Buddha) ke Jawa.
- Aji Saka dikenal sebagai sosok yang menciptakan aksara Jawa (Hanacaraka) dan menerapkan sistem kalender Saka di Jawa.
Kisah Aji Saka secara tradisional dimulai sekitar tahun 78 Masehi, menandai awal kalender Saka Jawa (Tahun 1 Saka) yang berhubungan dengan masuknya budaya India ke Jawa, meskipun versi ceritanya berkembang jauh kemudian, terutama pada abad ke-15 Masehi saat aksara Jawa modern diciptakan. Jadi, Aji Saka mewakili simbol permulaan tahun Saka (78 Masehi) dan juga tokoh legenda pencipta aksara Jawa.
Kaitan Tahun :
- 78 Masehi: Tahun dimulainya perhitungan Tahun Saka di India dan dikaitkan dengan kedatangan Aji Saka ke Jawa sebagai pembawa peradaban dan huruf Jawa (aksara Jawa Kawi).
- Abad ke-15 Masehi: Para pujangga Jawa mengembangkan cerita Aji Saka menjadi legenda tentang penciptaan aksara Jawa modern (Hanacaraka), yang melambangkan pertemuan budaya Hindu dan Islam.
Intinya :
- Secara historis-legenda : Aji Saka dikaitkan dengan tahun 78 Masehi (permulaan Tahun Saka).
- Secara perkembangan cerita : Kisahnya menjadi populer dan dikembangkan sebagai legenda pencipta aksara Jawa pada abad ke-15.
Aji Saka disebutkan Haji Saka berasal dari Bumi Majeti. Bumi Majeti sendiri adalah negeri antah-berantah mitologis, akan tetapi ada yang menafsirkan bahwa Aji Saka berasal dari Jambudwipa (India) dari suku Shaka (Scythia), karena itulah ia bernama Aji Saka (Raja Shaka). Legenda ini melambangkan kedatangan Dharma (ajaran dan peradaban Hindu-Buddha) ke pulau Jawa. Akan tetapi penafsiran lain beranggapan bahwa kata Saka adalah berasal dari istilah dalam Bahasa Jawa saka atau soko yang berarti penting, pangkal, atau asal-mula, maka namanya bermakna "raja asal-mula" atau "raja pertama". Mitos ini mengisahkan mengenai kedatangan seorang pahlawan yang membawa peradaban, tata tertib dan keteraturan ke Jawa dengan mengalahkan raja raksasa jahat yang menguasai pulau ini. Legenda ini juga menyebutkan bahwa Aji Saka adalah pencipta tarikh Tahun Saka, atau setidak-tidaknya raja pertama yang menerapkan sistem kalender Hindu di Jawa. Kerajaan Medang Kamulan mungkin merupakan kerajaan pendahulu atau dikaitkan dengan Kerajaan Medang dalam catatan sejarah. Hinga shakalah pemenang dari catatan sejarah.
Membawa peradaban ke Jawa
Segera setelah pulau Jawa dipakukan ke tempatnya, pulau ini menjadi dapat dihuni. Akan tetapi bangsa pertama yang menghuni pulau ini adalah bangsa "danawa" (raksasa) yang biadab, penindas, dan gemar memangsa manusia. Kerajaan yang pertama berdiri di pulau ini adalah Medang Kamulan, dipimpin oleh raja raksasa bernama Prabu Dewata Cengkar, raja raksasa yang lalim yang punya kebiasaan memakan manusia dan rakyatnya.
Pada suatu hari datanglah seorang pemuda bijaksana bernama Aji Saka yang berniat melawan kelaliman Prabu Dewata Cengkar. Aji Saka berasal dari Bumi Majeti. Suatu hari menjelang keberangkatannya ia memberi amanat kepada kedua abdinya yang bernama Dora dan Sembodo, bahwa ia akan berangkat ke Jawa. Ia berpesan bahwa saat ia pergi mereka berdua harus menjaga pusaka milik Aji Saka. Tidak ada seorangpun yang boleh mengambil pusaka itu selain Aji Saka sendiri. Setelah tiba di Jawa, Aji Saka menuju ke pedalaman tempat ibu kota Kerajaan Medang Kamulan. Ia kemudian menantang Dewata Cengkar bertarung. Setelah pertarungan yang sengit, Aji Saka akhirnya berhasil mendorong Prabu Dewata Cengkar ke laut Selatan (Samudra Hindia). Akan tetapi Dewata Cengkar belum mati, ia berubah wujud menjadi Bajul Putih (Buaya Putih). Maka Aji Saka naik takhta sebagai raja Medang Kamulan.
Kisah Ular Raksasa
Sementara itu seorang perempuan tua di desa Dadapan, menemukan sebutir telur. Ia meletakkan telur itu di lumbung padi. Setelah beberapa waktu telur itu hilang dan sebagai gantinya terdapat seekor ular besar di dalam lumbung itu. Orang-orang desa berusaha membunuh ular itu, akan tetapi secara ajaib ular itu dapat berbicara : "Aku anak dari Aji Saka, bawalah aku kepadanya!" Maka diantarkanlah ia ke istana. Aji Saka mau mengakui ular itu sebagai putranya dengan syarat bahwa ular itu dapat mengalahkan dan membunuh Bajul Putih di Laut Selatan. Ular itu menyanggupi, setelah berkelahi dengan sangat sengit dengan kedua pihak memperlihatkan kekuatan yang luar biasa, ular itu akhirnya dapat membunuh Bajul Putih.
Sesuai janjinya ular itu diangkat anak oleh Aji Saka dan diberi nama Jaka Linglung (anak lelaki yang bodoh). Di istana Jaka Linglung dengan rakus memangsa semua hewan peliharaan istana. Sebagai hukumannya sang raja mengusir dia ke hutan Pesanga. Ia diikat erat hingga tak dapat bergerak, lalu Aji Saka bersabda bahwa ia hanya boleh memakan benda apa saja yang masuk ke mulutnya.
Suatu hari ada sembilan orang bocah lelaki bermain di hutan. Tiba-tiba turun hujan, mereka pun berlarian mencari tempat berteduh. Untungnya mereka menemukan sebuah gua. Hanya delapan anak yang masuk berteduh ke gua itu. Seorang anak yang menderita penyakit kulit dilarang ikut masuk ke dalam gua. Tiba-tiba gua runtuh dan menutup pintu keluarnya. Delapan orang bocah itu hilang terkurung di gua. Sesungguhnya gua itu adalah mulut Jaka Linglung.
Jaka Linglung
Jaka Linglung merupakan putera Aji Saka yang berwujud ular naga raksasa pada masa Kerajaan Medang Kamulan. Berbagai tempat dihubungkan dengan kisah perjalanan hidupnya hingga meninggal, salah satunya adalah Bleduk Kuwu.
Nama "Jaka Linglung" memiliki arti "jejaka (pria muda yang belum menikah) yang kebingungan/ linglung". Terdapat beberapa versi bagaimana nama tersebut diperoleh Jaka Linglung. Versi pertama (Serat Centhini) menyebutkan nama tersebut diperolehnya dari Ratu Anginangin. Versi kedua menyebutkan bahwa saat dalam perjalanan kembali ke Medang Kamulan melalui bawah tanah, ia muncul pada suatu tempat sebagai anak kecil yang linglung sehingga dirawat oleh seorang wanita tua sampai sembuh. Karena itu, wanita tersebut menamainya Jaka Linglung. Setelah sembuh, Jaka Linglung kembali masuk ke lubang tempat ia keluar untuk melanjutkan perjalanan, sementara tempat ia menjadi linglung menjadi Bleduk Kuwu. Versi ketiga menyebutkan bahwa Prabu Aji Saka sendiri yang menamainya Jaka Linglung, karena putranya bercerita bahwa ia tersesat beberapa kali sebelum mencapai istana sehingga perjalanan pulangnya jauh lebih lama dibandingkan saat ia berangkat.
Jaka Linglung juga disebut dengan berbagai nama, antara lain Linglung Tunggulwulung, Prabu Anom Tunggulwulung, Tunggulwulung Jaka linglung, dan Ki Joko Linglung.
Perjalanan hidup
Perjalanan hidup Jaka Linglung diceritakan dalam berbagai versi. Serat Centhini juga menceritakan kisah hidup Jaka Linglung hingga meninggal dalam 75 bait tembang (11 bait pocung, 36 bait megatruh, dan 28 bait gambuh).
Versi Serat Centhini
Kisah hidup Jaka Linglung diceritakan oleh Ki Jatipitutur, juru kunci Kasanga (di wilayah Gabus, Grobogan), kepada Jayengresmi. Ki Jatipitutur juga menyebutkan lima tempat lain di wilayah Kasanga yang berupa sumber lumpur, yaitu Bedhug, Kuwu, Crewek, Mandhikal, dan Sedang Ramesan.[1]
Cerita dimulai dari Aji Saka yang telah menjadi prabu di Medang Kamulan. Ia terbiasa berburu di hutan dan gunung tanpa diiringi prajurit. Pada suatu ketika, ia membunuh seekor ular raksasa yang sedang bertapa dengan panahnya sehingga dirinya menerima kutukan. Setelah itu, Aji Saka bertamu ke rumah Nyi Janda Kasiyan di Desa Sangkeh yang memiliki putri kecil bernama Rarasati. Saat ia tiba, Nyi Janda sedang mengawasi para wanita menumbuk padi dan putrinya yang beranjak remaja ikut menumbuk. Rarasati selalu diikuti induk ayam kesayangannya yang berwarna putih bersih. Aji Saka bernafsu saat melihat kemolekan Rarasati sehingga nutfahnya menetes ke tanah, demikian pula dengan Rarasati. Ayam katai peliharaan Rarasati memagut keduanya sementara Aji Saka pulang karena malu.
Ayam katai Rarasati bertelur beberapa hari kemudian dan telurnya disimpan Nyi Janda di tempat penyimpanan beras. Ternyata beras di sana terus bertambah meskipun tiap hari ditanak. Selanjutnya telur tersebut diletakkan di lumbung hingga menetas seekor ular. Saat Nyi Janda melihat ular besar di dalam lumbungnya, ia berlari ketakutan hendak melapor kepada patih. Ular tersebut keluar dari lumbung menemui Rarasati sambil memanggilnya ibu, Rarasati juga berlari ketakutan. Akhirnya ular tersebut menjelaskan perihal dirinya yang merupakan putra dari Aji Saka dan Rarasati kemudian meminta untuk dibawa ke istana.
Aji Saka murka karena ular naga tersebut mengaku sebagai anaknya, terutama karena dirinya masih perjaka dan belum menikah. Setelah diberi penjelasan oleh sang ular, Aji Saka menjadi malu kemudian mengutusnya ke laut selatan menghadapi buaya putih penjelmaan Dewatacengkar sebelum diakui sebagai anak serta mencarikannya tunangan. Ular naga melesat ke laut selatan dan berkelahi dengan buaya putih selama beberapa hari dan menang. Kemenangan tersebut disambut bahagia oleh Ratu Anginangin yang selanjutnya memberinya hadiah memerintah di laut selatan selama tujuh hari, menjodohkannya dengan putrinya Nyi Blorong yang cantik, bersedia menjadi tunangan Aji Saka, dan memberinya gelar Linglung Tunggulwulung. Ia diberi ramalan akan merajai makhluk halus di gunung-gunung. Setelah tujuh hari, Jaka Linglung memohon pamit untuk pulang, Ratu Anginangin melarangnya melalui jalan yang sama seperti ia berangkat. Akhirnya ia pulang dengan cara menembus bumi dan muncul ke permukaan untuk melihat apakah sudah sampai. Tempat ia keluar dari dalam bumi berubah menjadi berbagai sumber lumpur.
Setibanya di istana, Aji Saka mengangkatnya menjadi Pangeran Adipati dan menyuruhnya tinggal di Tunggulwulung. Namun, Jaka Linglung menghabiskan seluruh unggas di kediamannya sehingga Aji Saka memanggilnya dan mengajarinya ilmu kasar halus. Ia kemudian bertapa menganga di hutan selama bertahun-tahun sampai seluruh tubuhnya ditumbuhi semak belukar dan tidak kelihatan lagi. Pada suatu hari, ada sembilan anak gembala yang hendak berlindung dari hujan. Delapan anak masuk ke dalam mulut Jaka Linglung yang dikira mereka gua, sementara yang seorang dilarang masuk. Anak tersebut memanjat punggung Jaka Linglung kemudian membacokkan kudi ke punggung yang dikiranya adalah tanah, Jaka Linglung segera mengatupkan mulutnya sehingga kedelapan anak gembala yang lain mati. Anak kesembilan berlari pulang ketakutan.
Prabu Aji Saka yang mendengar berita tersebut menjadi marah dan memerintahkan untuk memasak mulut Jaka Linglung sehingga akhirnya mati di tempat. Ki Jatipitutur sebagai juru kunci Kasanga menjelaskan bahwa Jaka Linglung tinggal di bawah Kasanga dan terkadang memberikan pertanda (ramalan) melalui ledakan lumpur di Kasanga yang "tingginya melebihi gunung"
Berbagai variasi cerita Jaka Linglung adalah sebagai berikut :
1. Sebelum mengalahkan Dewatacengkar, Aji Saka tinggal di rumah Kaki Grenteng yang memiliki putri bernama Rara Cangkek. Aji Saka tertarik pada kecantikan Rara Cangkek kemudian kencing, air seninya diminum seekor ayam jantan yang selanjutnya bertelur sebutir. Telur tersebut disimpan oleh Rara Cangkek di dalam lumbung padi. Padi di dalam lumbung tersebut tidak habis-habis sehingga menimbulkan kecurigaan Kaki Grenteng.
2. Pemilik ayam yang menelurkan Jaka Linglung adalah seorang janda tua dari Desa Dadapan. Janda tersebut yang digantikan oleh Aji Saka saat Prabu Dewatacengkar hendak memakannya.
3. Setelah diakui sebagai putera, Jaka Linglung tinggal di taman kerajaan bersama binatang-binatang yang lain. Namun, ia tidak diberi cukup makanan hingga kelaparan dan memakan binatang-binatang yang lain. Aji Saka menghukumnya ke Hutan Klampis dan melarangnya makan apapun selain yang masuk sendiri ke dalam mulutnya. Itulah sebabnya ia memakan delapan anak gembala yang masuk ke dalam mulutnya, sementara anak kesembilan berlindung di bawah pohon besar.
4. Versi lain menyebutkan jumlah anak gembala yang berlindung dari hujan ada sepuluh orang. Sembilan orang masuk ke dalam mulut Jaka Linglung sementara yang satu tidak mau masuk. Setelah di dalam, kesembilan anak tersebut memukul-mukul golok mereka ke dinding gua sehingga Jaka Linglung kesakitan dan menelan semuanya. Karena kenyang, Jaka Linglung meneteskan air liur yang selanjutnya berubah menjadi letupan-letupan lumpur. Ia masuk ke dalam bumi untuk melanjutkan pertapaannya. Tempat tersebut akhirnya dinamai Kêsóngó (dari bahasa Jawa cah songo yang artinya "sembilan anak") atau Pêsóngó.
5. Aji Saka menghukum Jaka Linglung dengan cara tubuhnya diikat ke tanah dan mulutnya dicengkal sehingga tidak bisa mengatup lagi dan meninggal dalam siksaan.
Aji Saka ana ing nagara Mendhangkamolan
Seorang pemuda yang gagah dan sakti, bernama Ajisaka dengan berani menantang raja raksasa yang gemar makan rakyatnya.Sehingga rakyat nya takut dengan rajanya. Dengan keberanianya Aji Saka menghadap sang raja untuk menyerahkan diri. Setelah diterima sang raja Aji Saka menyerahkan diri untuk di santap namun sebelum disantap Aji Saka minta satu permintaan yaitu sebidang tanah seluas serban Aji Saka. Aji Saka langsung melepaskan sorban dikepalanya untuk ditarik Sang Raja, Ajaibnya sorbanya memanjang akhirnya sampai tebing dekat laut Selatan tanpa di duga Sang Raja Aji Saka mengibaskan sorban saktinya sehingga raja terlempar dari atas tebing. Akhirnya sang raja yang jahat tewas.
Aji Saka ana ing nagara Mendhangkamolan
Aji saka karo abdine loro wis teka ing tanah Jawa. Anjujug ing nagara Mendhangkamolan, sing jumeneng ratu ing kono ajujuluk Prabu Dewata Cengkar. Sang Prabu Kresa dhahar daging uwong. Kawulane akeh sing padha giris malah akeh sing ngalih menyang nagara liya. Jalaran kuwatir manawa didhahar Sang Prabu Patihe aran: Kyai Tengger.
Kacarita Aji Saka ana ing Mendhangkamolan jumeneng guru mulang muruk kawruh rupa-rupa wong padha mlebu dadi muride padha asih lan tresna marang Aji Saka, awit atine becik banget sarta dhemen tetulung.
Nalika samana Aji Saka mono ana ing omahe Nyai Rondho Sengkerran dipek anak karo Nyai Rondho. Kyai Patih karo Nyai Rondho iyo wis manjing dadi muride Aji Saka.
Anuju ing sawijining dina Sang Prabu Dewata Cengkar duka banget marang Kyai Patih awit wis telung dina ngurung bisa nyaosi uwong kanggo dhahar dalem, Kyai Patih susah banget, ing nagara Medhangkamolan katon sepi mamring jalaran akeh sing padha ngalih menyang nagara liya, utawa andhelikin ing alas lan guwa-guwa.
Kyai Patih tilik menyang omahe Nyai Rondha Sengkeran. Ngandhakake dukane Sang Prabu, jalaran durung oleh uwong kanggo dhahar dalem, nalika iku Aji Saka iya lagi jagongan karo Nyai Rondha. Ngerti apa sing dadi susahe Kyai Patih mula banjur matur mangkene: ”Paman kulo kemawon sampeyan caosaken dados dhaharipun Sang Prabu”.
Nyai Rondha karo Patih Tengger kaget banget ngrungu ature Aji Saka ya mangkono iku. Wangsulane Kyai Patih: ”Sampun ngger, kula aturi nglajengaken mulang muruki tiyang ing Mendhangkamolan ngriki. Manawi angger klampahan kadhahar ing Sang Prabu, ingkang nglajengaken mulang muruk sinten, sampun angger, sampun kepengin dados dhaharipun sang Prabu.
Nyai Rondho iya menging, nanging Aji Saka kenceng karepe, kepengin dadi dhahare Sang Prabu. Ature Aji Saka: ”Paman sampun kuwatos manawi kulo lajeng pejah. Sedya kula badhe tetulung dhateng Sang Prabu. Nanging kula gadhah panyuwun saderengipun kapragat kula nyuwun siti Mendhangkamolan wiyaripun namung saiket kula.
Terjemahan cerita Aji Saka :
Aji Saka ada di negara Medhangkamolan
Aji Saka bersama dua pembantunya sudah sampai di Jawa. Langsung menuju ke negara Mendhangkamolan, yang dikuasai oleh raja berjuluk Prabu Dewata Cengkar. Sang Prabu suka makan daging manusia. Warganya banyak yang ngeri malah banyak yang pindah ke negara lain. Karena khawatir kalau dimakan Sang Prabu. Patihnya bernama: Kyai Tengger.
Ceritane Aji Saka ada di Mendhangkamolan hidup sebagai guru pengajar macam-macam ilmu pengetahuan bagi orang-orang yang bersedia menjadi muridnya. Para muridnya sangat menyukai Aji Saka, mulai dari kebaikan hatinya sampai sifatnya yang suka menolong.
Waktu Aji Saka tinggal di rumah Nyai Rondho Sengkeran dan diangkat menjadi anak oleh Nyai Rondho. Kyai Patih dan Nyai Rondho juga sudah menjadi murid Aji Saka.
Pada suatu hari Sang Prabu Dewata Cengkar sangat marah kepada Kyai Patih karena sudah tiga hari belum juga bisa memberikan daging manusia sebagai makanan beliau, Kyai Patih sangat kebingungan karena di negara Medhangkamolan sudah sepi karena kebanyakan warganya sudah pindah ke negara lain, atau bersembunyi di hutan dan goa-goa.
Kyai Patih mengunjungi rumah Nyai Rondho Sengkeran. Mengabarkan kemarahan Sang Prabu, karena belum juga mendapatkan daging manusia untuk dimakan, ketika itu Aji Saka juga sedang berbincang dengan Nyai Rondho. Mengetahui apa yang menjadi penyebab susahnya Kyai Patih maka Aji Saka berbicara: ”Paman, saya saja yang paman ajukan menjadi makanan Sang Prabu”.
Nyai Rondho dan Patih tengger sangat kaget mendengar permintaan Aji Saka. Kyai Patih menjawab: ”Jangan, nak! Saya minta, kamu tetap melanjutkan mengajari warga di Mendhangkamolan ini. Kalau kamu benar-benar menjadi makanan Sang Prabu, siapa yang akan melanjutkan mengajar, jangan nak, jangan sampai kamu memiliki keinginan menjadi makanan Sang Prabu.
Nyai Rondho juga melarang, namun Aji Saka keras kemauannya, tetap meminta diajukan menjadi makanan Sang Prabu. Kata Aji Saka: ”Paman jangan khawatir kalau saya nanti mati. Maksud saya menolong semua warga di Mendhangkamolan. Sekarang juga Paman sampaikan kepada Sang Prabu. Namun sebelumnya saya punya permintaan, saya minta tanah di Mendhangkamolan yang luasnya hanya sebatas bandana (ikat kepala) saya.
Dalam cerita ini dapat diambil salah satu nilai sosial yang sangat menonjol, bahwasannya seorang Aji Saka rela berkorban menjadi makanan Prabu Dewata Cengkar untuk menyelamatkan rakyat Mendhangkamolan. Dia tidak memperdulikan nasibnya sendiri walaupun harus kehilangan nyawanya. Asal rakyat Mendhangkamolan bisa bahagia dan tidak sengsara atas ketamakan Prabu Dewata Cengkar.
Hal ini bisa kita lihat pada kutipan ....”Paman kulo kemawon sampeyan caosaken dados dhaharipun Sang Prabu”. Pada pernyataan kutipan ini menggambarkan bahwa Aji Saka sangat tulus dan ikhlas dalam menyerahkan nyawanya untuk membantu rakyat Mendhangkamolan. Pengorbanan Aji Saka merupakan dorongan dari nurani akan kepeduliannya terhadap kesejahteraan masyarakat daerah tersebut.
Berbeda dengan karakter tokoh di atas, sifat Prabu Dewata Cengkar yang sangat kejam dan rakus akan kekuasaan, dimana dia juga semena-mena terhadap rakyatnya. Hal ini tergambar pada kutipan ”Anuju ing sawijining dina Sang Prabu Dewata Cengkar duka banget marang Kyai Patih awit wis telung dina ngurung bisa nyaosi uwong kanggo dhahar dalem....” Kedzaliman sang Prabu Dewata Cengkar yang suka makan daging manusia untuk memenuhi hawa nafsunya merupakan sifat yang melanggar norma sosial, yang mana dia tidak mempedulikan hak orang lain untuk dapat hidup bahagia. Karena dalam norma sosial hal yang paling penting ialah hidup rukun dan kesejahteraan antar sesama.
Legenda Aji Saka: Asal-Usul Aksara Jawa yang Sarat Makna
Setiap daerah di Indonesia memiliki aksaranya sendiri, termasuk Jawa yang memiliki aksara Jawa atau Hanacaraka. Meskipun perkembangan teknologi telah mendorong penggunaan huruf Latin, aksara Jawa masih digunakan dalam berbagai aspek budaya, terutama di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Bahkan, aksara ini tetap diajarkan di sekolah-sekolah sebagai bagian dari warisan budaya.
Sejarah Singkat Aksara Jawa
Aksara Jawa merupakan turunan dari aksara Brahmi India melalui aksara Kawi. Sejak abad ke-15 hingga ke-20, aksara ini berkembang dan memengaruhi sistem tulisan lain, seperti aksara Sunda, Madura, Sasak, dan Melayu. Tak hanya digunakan dalam bahasa daerah, aksara ini juga dipakai dalam penulisan bahasa Sansekerta dan Kawi.
Namun, dalam cerita rakyat, aksara Jawa memiliki kisah tersendiri yang berkaitan dengan seorang tokoh legendaris, Aji Saka. Kisahnya tidak hanya menceritakan asal-usul aksara ini, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai luhur tentang kesetiaan dan pengorbanan.
Perjalanan Aji Saka ke Tanah Jawa
Dahulu kala, seorang pemuda bernama Aji Saka berkelana dari Hindustan ke tanah Jawa bersama dua pengikut setianya, Dora dan Sembada. Dalam perjalanannya, mereka singgah di Pulau Majeti. Aji Saka mempercayakan keris pusakanya kepada Dora dan berpesan agar tidak menyerahkannya kepada siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Setelah meninggalkan Dora di Pulau Majeti, Aji Saka dan Sembada melanjutkan perjalanan ke Medang Kamulan, sebuah negeri subur yang dipimpin oleh raja kejam bernama Prabu Dewata Cengkar. Sang raja dikenal karena kebiasaannya memakan manusia dan menebarkan ketakutan di antara rakyatnya.
Aji Saka Melawan Prabu Dewata Cengkar
Setibanya di Medang Kamulan, Aji Saka segera menarik perhatian penduduk, termasuk patih kerajaan. Ia kemudian mengetahui kekejaman Prabu Dewata Cengkar dan memutuskan untuk mengakhirinya. Dengan kecerdikannya, Aji Saka menawarkan dirinya sebagai korban asalkan ia diberi tanah seluas kain ikat kepalanya.
Sang raja setuju, namun kain yang direntangkan Aji Saka terus memanjang hingga membawa Prabu Dewata Cengkar ke tepi tebing. Karena terlalu serakah dan tidak menyadari jebakan tersebut, raja akhirnya terjatuh ke laut dan berubah menjadi buaya putih. Dengan berakhirnya kekejaman sang raja, Aji Saka diangkat sebagai raja Medang Kamulan.
Pertarungan Tragis Dora dan Sembada
Setelah menjadi raja, Aji Saka teringat akan keris pusakanya. Ia pun mengutus Sembada untuk mengambilnya dari Dora di Pulau Majeti. Namun, karena Dora memegang teguh perintah Aji Saka untuk tidak menyerahkan keris kepada siapa pun, ia menolak permintaan Sembada.
Keduanya terlibat dalam perdebatan yang berujung pada pertempuran sengit. Tak ada yang mengalah, dan akhirnya keduanya gugur dalam pertarungan tersebut. Saat Aji Saka mendengar kabar duka ini, ia merasa sangat menyesal dan menciptakan aksara Jawa untuk mengenang kesetiaan kedua sahabatnya.
Makna Aksara Jawa
Aksara Hanacaraka yang diciptakan Aji Saka terdiri dari 20 aksara utama yang membentuk sebuah sajak bermakna:
- Ha Na Ca Ra Ka (Ada utusan)
- Da Ta Sa Wa La (Saling berselisih pendapat)
- Pa Dha Ja Ya Nya (Sama-sama sakti)
- Ma Ga Ba Tha Nga (Sama-sama menjadi mayat)
Sajak ini mencerminkan kisah tragis Dora dan Sembada, serta nilai kesetiaan dan pengabdian yang mereka tunjukkan. Hingga kini, aksara Jawa tetap menjadi bagian penting dalam kebudayaan dan sejarah masyarakat Jawa.
Pelajaran Moral
Legenda Aji Saka mengajarkan kita tentang keberanian, kesetiaan, dan tanggung jawab. Aji Saka menunjukkan kepemimpinan yang cerdas dan bijaksana, sedangkan Dora dan Sembada menggambarkan kesetiaan tanpa batas meskipun berakhir tragis. Kisah ini menjadi pengingat bahwa janji dan amanat harus dipegang teguh, tetapi kebijaksanaan dalam menafsirkannya juga penting.
Dengan adanya aksara Jawa, budaya dan sejarah Jawa tetap lestari. Warisan ini menjadi bukti betapa pentingnya menghargai tradisi dan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Kisah Aji Saka Dan Asal Mula Aksara Jawa
Pada zaman dahulu kala, di Desa Medang Kawit, Desa Majethi, Jawa Tengah. Hidup seorang kesatria bernama Ajisaka. Dia seorang tampan dan memiliki ilmu yang sangat sakti. Ajisaka memiliki dua orang punggawa bernama Dora dan Sembada. Mereka berdua setia menemani Ajisaka. Suatu hari, Ajisaka ingin pergi berkelana, bertualang meninggalkan Pulau Majethi. Kemudian Ajisaka pun pergi bersama dengan Dora. Sedangkan Sembada tetap tinggal di Pulau Majethi. Sebelum pergi Ajisaka berpesan kepada Sembada untuk menjaga keris pusaka Ajisaka dan membawanya ke Pegunungan Kendeng.
“Sembada! Bawa keris pusaka ini ke Pegunungan Kendeng. Jagalah keris ini baik-baik dan jangan serahkan kepada orang lain sampai aku datang kembali untuk mengambilnya!” Aji Saka berpesan kepada Sembada.
“Baik, Tuan! Saya berjanji akan menjaga keris pusaka ini dan tidak akan memberikan kepada siapapun!” jawab Sembada.
Pada waktu itu di Jawa ada negeri yang terkenal makmur, aman, dan damai, yang bernama Negeri Medang Kamulan. Negeri itu dipimpin oleh Prabu Dewata Cengkar, seorang raja yang berbudi luhur dan bijaksana. Ia selalu memberikan yang terbaik untuk rakyatnya. Sehingga Negeri Medang Kamulan sejahtera. Namun semuanya berubah bermula ketika sang juru masak kerajaan teriris jarinya saat memasak. Sehingga potongan kulit dan darahnya pun masuk ke dalam sup yang akan disuguhkan kepada Sang Raja. Kemudian ia pun menyajikan masakannya kepada Prabu Dewata Cengkar. Prabu Dewata Cengkar langsung melahap habis sup tersebut ia merasa sup yang disajikan sangat lezat, kemudian ia mengutus patihnya yaitu Jugul Muda untuk menanyai juru masak kerajaan. Kemudian sang juru masak berkata bahwa ia tidak sengaja teriris jarinya menyebabkan kulit dan darahnya tercampur masuk ke dalam sup yang dihidangkan untuk Prabu Dewata Cengkar.
Setelah kejadian itu Prabu Dewata Cengkar memerintahkan kepada patihnya untuk menyiapkan seorang rakyatnya untuk disantap setiap harinya. Sejak itulah sang Prabu menjadi senang makan daging dan darah manusia dan sifatnya pun berubah menjadi bengis, jahat dan senang melihat orang menderita. Negeri Medang Kamulan pun perlahan berubah menjadi negeri yang sepi karena satu per satu rakyatnya disantap oleh rajanya, namun ada juga rakyat yang pergi mengungsi ke daerah lain.
Ajisaka bersama Dora saat itu tiba di Hutan yang sangat lebat. Ketika akan melintasi hutan tersebut, tiba-tiba Aji Saka mendengar teriakan seorang laki-laki meminta tolong.
“Tolong...!!! Tolong...!!! Tolong...!!!” demikian suara itu terdengar.
Mendengar teriakan itu, Aji Saka dan Dora segera menuju ke sumber suara tersebut. Tak lama kemudian, mereka mendapati seorang laki-laki paruh baya sedang dipukuli oleh dua orang perampok.
“Hei, hentikan perbuatan kalian!” seru Aji Saka.
Kedua perampok itu tidak menghiraukan teriakan Aji Saka. Mereka tetap memukuli laki-laki itu. Melihat tindakan kedua perampok tersebut, Aji Saka pun naik pitam. Dengan secepat kilat, ia melayangkan sebuah tendangan keras ke kepala kedua perampok tersebut hingga tersungkur ke tanah dan tidak sadarkan diri. Setelah itu, ia dan abdinya segera menghampiri laki-laki itu.
“Maaf, Pak! Kalau boleh kami tahu, Bapak dari mana dan kenapa berada di tengah hutan ini?” tanya Aji Saka.
Lelaki paruh baya itu pun bercerita bahwa dia seorang pengungsi dari Negeri Medang Kamulan. Ia mengungsi karena raja di negerinya yang bernama Prabu Dewata Cengkar setiap hari mengincar rakyatnya untuk di hidangkan. Karena takut menjadi mangsa sang Raja, lelaki itu kabur dari negeri itu.
Aji Saka dan Dora tersentak kaget mendengar cerita laki-laki tua yang baru saja ditolongnya itu.
“Bagaimana itu bisa terjadi, Pak?” tanya Aji Saka dengan heran.
“Begini, Tuan! Kegemaran Prabu Dewata Cengkar memakan daging manusia bermula ketika seorang juru masak istana teriris jarinya, lalu potongan kulit jari dan darahnya itu masuk ke dalam sup yang disajikan untuk sang Prabu. Rupanya, beliau sangat menyukainya. Sejak itulah sang Prabu menjadi senang makan daging manusia dan sifatnya pun berubah menjadi bengis,” jelas lelaki itu.
Mendengar pejelasan itu, Aji Saka dan abdinya memutuskan untuk pergi ke Negeri Medang Kamulan. Ia ingin menolong rakyat Medang Kamulan dari kebengisan Prabu Dewata Cengkar. Setelah sehari semalam berjalan keluar masuk hutan, menyebarangi sungai, serta menaiki dan menuruni bukit, akhirnya mereka sampai di Kerajaan Medang Kamulan. Ajisaka pun melihat keadaan negeri Medang Kamulan yang sunyi dan menyeramkan itu. Semua penduduk pergi meninggalkan negeri itu.
“Apa yang harus kita lakukan, Tuan?” tanya Dora.
“Kamu tunggu di luar saja! Biarlah aku sendiri yang masuk ke istana menemui Raja bengis itu,” jawab Aji Saka dengan tegas.
Dengan gagahnya, Aji Saka berjalan menuju ke istana. Suasana di sekitar istana tampak sepi. Hanya ada beberapa orang pengawal yang sedang mondar-mandir di depan pintu gerbang istana.
“Berhenti, Anak Muda!” cegat seorang pengawal ketika Aji Saka berada di depan pintu gerbang istana.
“Kamu siap dan apa tujuanmu kemari?” tanya pengawal itu.
“Saya Aji Saka dari Medang Kawit ingin bertemu dengan sang Prabu,” jawab Aji Saka.
“Hai, Anak Muda! Apakah kamu tidak takut dimangsa sang Prabu?” sahut seorang pengawal yang lain.
“Ketahuilah, Tuan-Tuan! Tujuan saya kemari memang untuk menyerahkan diri saya kepada sang Prabu untuk dimangsa,” jawab Aji Saka.
Para pengawal istana terkejut mendengar jawaban Aji Saka. Tanpa banyak tanya, mereka pun mengizinkan Aji Saka masuk ke dalam istana. Saat berada di dalam istana, ia mendapati Prabu Dewata Cengkar sedang murka, karena Patih Jugul tidak membawa mangsa untuknya. Tanpa rasa takut sedikit pun, ia langsung menghadap kepada sang Prabu dan menyerahkan diri untuk dimangsa.
“Ampun, Gusti Prabu! Hamba Aji Saka. Jika Baginda berkenan, hamba siap menjadi santapan Baginda hari ini,” kata Aji Saka.
Betapa senangnya hati sang Prabu mendapat tawaran makanan. Dengan tidak sabar, ia segera memerintahkan Patih Jugul untuk menangkap dan memotong-motong tubuh Aji Saka untuk dimasak. Ketika Patih Jugul akan menangkapnya, Aji Saka mundur selangkah, lalu berkata:
“Ampun, Gusti! Sebelum ditangkap, Hamba ada satu permintaan. Hamba mohon imbalan sebidang tanah seluas serban hamba ini,” pinta Aji Saka sambil menunjukkan sorban yang dikenakannya.
Permintaan itu dikabulkan oleh Sang Prabu. Ajisaka kemudian meminta Prabu Dewata Cengkar menarik salah satu ujung sorbannya. Ajaibnya, sorban itu setiap diulur, terus memanjang dan meluas hingga meliputi seluruh wilayah Kerajaan Medang Kamulan. Karena saking senangnya mendapat mangsa yang masih muda dan segar, sang Prabu terus mengulur serban itu sampai di pantai Laut Selatan. Kemudian Ajisaka mengibaska sorban tersebut, hal ini membuat Prabu Dewatacengkar terlempar ke laut. Wujud Prabu Dewata Cengkar lalu berubah menjadi buaya putih.
Mengetahui kabar tersebut, seluruh rakyat Medang Kamulan kembali dari tempat pengungsian mereka. Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi Raja Medang Kamulan menggantikan Prabu Dewata Cengkar dengan gelar Prabu Anom Aji Saka. Ia memimpin Kerajaan Medang Kamulan dengan arif dan bijaksana, sehingga keadaan seluruh rakyatnya pun kembali hidup tenang, aman, makmur, dan sentausa.
Setelah beberapa hari, Ajisaka menyuruh Dora pergi ke Pulau Majethi untuk ngambil keris pusaka yang dijaga oleh Sembada.
“Dora! Pergilah ke Pegunungan Kendeng untuk mengambil keris pusakaku. Katakan kepada Sembada bahwa aku yang menyuruhmu,” kata Ajisaka.
“Baik Tuan!” jawab Dora seraya memohon diri.
Setelah berhari-hari berjalan, sampailah Dora di Pegunungan Gendeng. Ketika kedua sahabat tersebut bertemu, mereka saling rangkul untuk melepas rasa rindu. Setelah itu, Dora pun menyampaikan maksud kedatangannya kepada Sembada.
“Sembada, sahabatku! Kini Tuan Ajisaka telah menjadi raja Negeri Medang Kamulan. Beliau mengutusku kemari untuk mengambil keris pusakanya untuk dibawa ke istana,” ungkap Dora.
“Tidak, sabahatku! Tuan Ajisaka berpesan kepadaku bahwa keris ini tidak boleh diberikan kepada siapa pun, kecuali beliau sendiri yang datang mengambilnya,” kata Sembada dengan tegas.
Sembada yang patuh pada pesan Ajisaka tidak memberikan keris pusaka itu ke Dora. Dora tetap memaksa agar pusaka itu segera diserahkan. Akhirnya keduanya bertarung tanpa ada yang mau mengalah. Mereka bersikeras mempertahankan tanggungjawab masing-masing dari Aji Saka. Mereka bertekad lebih baik mati daripada mengkhianati perintah tuannya. Akhirnya, terjadilah pertarungan sengit antara kedua orang bersahabat tersebut. Namun karena mereka memiliki ilmu yang sama kuat dan tangguhnya, sehingga mereka pun mati bersama.
Sementara itu, Aji Saka sudah mulai gelisah menunggu kedatangan Dora dari Pegunung Gendeng.
“Apa yang terjadi dengan Dora? Kenapa sampai saat ini dia belum juga kembali?” gumam Aji Saka.
Sudah dua hari Aji Saka menunggu, namun Dora tak kunjung tiba. Akhirnya, ia memutuskan untuk menyusul ke Pegunungan Gendeng seorang diri. Betapa terkejutnya ia saat tiba di sana. Ia mendapati kedua pengikut setianya Dora dan Sembada telah tewas. Mereka tewas karena ingin membuktikan kesetiaannya kepada tuan mereka. Untuk mengenang kesetiaan kedua abdinya tersebut, Aji Saka menciptakan aksara Jawa atau dikenal dengan istilah dhentawyanjana yang bunyinya :
ha na ca ra ka
Ana utusan (ada utusan)
da ta sa wa la
Padha kekerengan (sama-sama menjaga pendapat)
pa dha ja ya nya
Padha digdayané (sama-sama sakti)
ma ga ba tha nga
Padha dadi bathangé (sama-sama mejadi mayat)
Legenda Aji Saka
Legenda Aji Saka dimulai dari seorang pemuda bernama Aji Saka, yang menurut cerita berasal dari India. Bersama dua pelayannya, Dora dan Sembada, ia mengembara ke berbagai negeri, memperluas ilmu dan pengalaman. Perjalanan panjang mereka membawa mereka ke Nusantara, yang dikisahkan sebagai wilayah yang subur dan kaya akan keindahan alam.
Di Pulau Majeti, tempat mereka pertama kali mendarat, Aji Saka memutuskan untuk meninggalkan salah satu pelayannya, Sembada, untuk menjaga keris pusaka miliknya. Pesannya jelas: barang itu hanya boleh diserahkan kepada Aji Saka sendiri. Selanjutnya, Aji Saka bersama Dora melanjutkan perjalanan ke Pulau Jawa.
Setibanya di Jawa, mereka menemukan kerajaan yang diperintah oleh Prabu Dewata Cengkar, seorang raja lalim yang gemar memakan daging manusia. Aji Saka menantang sang raja dengan syarat yang unik: ia meminta tanah seluas sorban yang dikenakannya. Sang raja menyetujui tanpa menyadari kekuatan magis dari sorban tersebut, yang bisa memanjang hingga ke Pantai Selatan. Akibatnya, Prabu Dewata Cengkar terguling ke laut dan berubah menjadi buaya putih. Setelah berhasil mengalahkan raja lalim itu, Aji Saka menjadi raja di Medangkamulan, menggantikan Dewata Cengkar.
Tragedi yang Melahirkan Aksara Jawa
Sebagai raja, Aji Saka meminta Dora untuk kembali ke Pulau Majeti dan mengambil keris pusaka yang dititipkan kepada Sembada. Namun, Sembada menolak menyerahkan keris tersebut, tetap mematuhi amanah awal dari Aji Saka. Akibatnya, terjadi pertempuran sengit antara Dora dan Sembada.
Keduanya sama-sama sakti, namun tidak ada yang mundur hingga akhirnya keduanya tewas. Ketika Aji Saka mendengar kabar kematian mereka, ia sangat menyesal. Sebagai penghormatan terhadap pengorbanan Dora dan Sembada, Aji Saka menciptakan aksara Jawa.
Makna Filosofis Aksara Jawa
Aksara Jawa tidak hanya sekadar huruf, tetapi juga menyimpan cerita dan makna mendalam. Inilah bunyi aksara Jawa yang diciptakan oleh Aji Saka :
Ha Na Ca Ra Ka: Ana utusan (Ada utusan).
Da Ta Sa Wa La: Padha kekerengan (Saling berselisih).
Pa Dha Ja Ya Nya: Padha didhayane (Sama-sama sakti).
Ma Ga Ba Tha Nga: Padha dadi bathange (Sama-sama menjadi mayat).
Setiap baris dalam aksara ini mencerminkan perjalanan hidup Dora dan Sembada, yang menggambarkan kesetiaan, pengorbanan, dan amanah.
Aksara Jawa dan Peradaban Hindu-Buddha
Legenda Aji Saka juga mencerminkan masuknya ajaran Hindu-Buddha ke Pulau Jawa. Dalam konteks sejarah, aksara Jawa terinspirasi dari aksara Pallawa yang berasal dari India. Kedatangan Aji Saka sering diasosiasikan dengan kedatangan peradaban dan nilai-nilai Dharma ke Nusantara.
Aksara ini tidak hanya digunakan untuk menulis, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya dan alat komunikasi yang penting pada masa itu. Dalam berbagai prasasti kuno, aksara Jawa digunakan untuk mencatat peristiwa penting, hukum, serta ajaran keagamaan.
SANG AJI SAKA
Kabaosang dawegé dumun wénten jagat sane kawastanin jagat Majeti. Yan tuturang indik kawéntenan ring Majeti, wiakti jagaté kalintag becik. Tanahnyané subur, kadongané dadar, cocok pisan yan anggén pertanian. Sakéwanten kala punika para krama ring Majeti, tan pisan uning ring kaweruhan pertanian, kantun tambet-tambet, napi malih kaweruhan aksara, agama, sastra kalih piranti-piranti lianan during uningin ipun. Majalaran antuk kawéntenané sapunika minab sampun sangkaning kaagungan Hyang Parama Kawi raris Ida nyupat jagat Majeti, antuk ngariptayang manusa mautama sane mapeséngan Sang Aji Saka.
Gelisang satua, Sang Aji Saka sampun duur tur maduwé pusaka keris kadulurin parekan kakalih, sane mawasta I Sambada sareng I Dora. Sanunggil rahina geginanan Ipun wantah ngurukang panjakésanj wénten ring Majeti indik kaweruhan makadi agama,aksara,sastra miwah pertanian. Kasuén-suén uning panjaké indik kaweruhan iwau sane kaurukang Sang Aji Saka. Nyambran raine ikrama pacang muponin kauripan mabekel antuk kaweruhan sane dahat mautama punika. Mawetu raris degdeg jagaté mupu sarwi tinadur murah sarwi timuku. Sampun landuh jagaté ring Majeti, metu raris kayun Sang Aji Saka pacing ngelimbakang ngicénin kaweruhan kajagat lianan, wantah jagat belat Negara mawasta jagat medag kemulan. Sadurung Sang Aji Saka mamarga raris ngandika ring parekanné, sapuniki “ Bapa ajak dadua titian lakar ngalimbakang ngicén pangajah, jani bang titian tugas, Bapa Dora ngebag keris pusakané dini, Bapa Sambada ngiring titian ka jagat Medang Kemulan, yan ada anak nagih kerisé ané lianan tekén titian eda pesan baanga.” Makakalih parekané ngiring sapangandikan Sang Aji Saka.
Kaceritayang sane mangkin Sang Aji Saka sampun rauh ring jagat Medang kamulan, sada gegéson Ida ngojog pondok sane madaging sunar, saget katemu sareng anak lingsir lanang-istri meraga pandita. Irika ida masandekan temuli ngantenang kawéntenan kalih pandita sane sedeng keni pakéwuh. Ring dija makakalih Sang Pandita nenten nué putra tur maning sané mangkin galah Ida ngaturang caru, tetadahan retune ring Medang Kamulan marupa ajeng-ajengan maulam jatma adiri, adeng siu, jejanganan, miwah inum-inuman marupa sajeng mangda katur raina benjang. Duaning nelesek pesan galahé, raris cutetang bebaosané. Sang Aji Saka misadia pacang dados ulam ajengan bogan Sang Nata ratu ring Medang Kamulan.
Dumun Sang Nata Ratu sane nyeneng ring medang kamulan nenten sios wantah raksasa, sane paripolahnyané kalangkung kaon, sane mapesengan Déwata Nawa Cengkar. Kakaonannyané nenten sios nadah jatma pinaka ulamnyané ritatkala ipanjak ngaturang caru. Sapunika panjaké silih genti mangda nagingin pangarsan Sang Prabu, yan tan sida antuka I panjak ngaturang caru, pacang keni danda, sakulawarga kapademang. Sané polih giliran rahinané punika ngaturang carutan sioa wantah Ida Sang pandita Bekung ring ajeng. Ajengan, jangan-janganan, inum-inuman sampun Ida madué, nagging ulam jatma nénten prasida antuk ida duaning Ida bekung tan madué oka. Sampun sangkaning titah Sang Hyang suung momo angkara nenten pacing matuuh panjang, nadak sara raris anak mautama pacing nulungin Ida. Paigunan Sang Pandita sareng Aji Saka duk wenginé sampun puput wantah Sang Aji Saka pinaka ulam jatma, raris sampun rahina pasemangan pisah Ida mamarga sakulawarga ka puri medang kembulan kairing olih kaula-kaulané maduluran makta tetadahan tan lempas taler masarengan Sang Aji Saka. Tan kocap ring margi, saget sampun rauh ring puri. Wiakti angob Dewate Cengkar nyingak aturanné tios ring sane sampun-sampun. Tumuli ngandika Dewata cengkar, “ Sakondjn kola nadah caruné, men apa lakar tunas bapa”, sapuniki baosné, masaur Sang Aji Saka,”Ratu Sang Prabu sadurung titiang padem, wenten sane lungsur titiang, wantah nunas tanah alumbang destar titiangé puniki pacang wehin bapan titiangé (sang Pandita). Mewali Dewata Cengkar,”Beh alumbang udeh cai nunas tanah anggon apa? Sapalan nunas aéktar apang ada anggon mertiwi, lamun kéto, lautang kelésang udengé turmaning sikut tanahé, kola suba enggalan Makita nadah,”sapunika baos Dewata Cengkar. Digelis Sang Aji Saka ngelus destar raris kasikut tanahé. Sampun saking pengentas Hyang Widi, lipetan destaré nenten telas-telas anggén nyikut tanah, raris Dewate Cengkar kirig-kirig nyampingin muncuk destaré sayan ngedoh-ngedohang, sampun rauh reké ring tepi siring, taler kantun nglumbang-nglumbangang raris katambakin oleh Dewate Cengkar nanging nenten mrasidayang, pamuput kagulung tur kacemplungang Dewate Cengkar ketengah segarané ngantos tan maurip malih. Sasédan Dewate Cengkar, panjak Medang Kembulan sami rumase ledang, sahasa mari ngangkat Sang Aji Saka mangda dados Prabu ngetosin Dewata Cengkar. Pinunas I panjak kadagingin raris Sang Aji Saka dados Prabu Medang Kambulan.
Kacritayang sesampun Aji Saka dados Prabu ring Medang Kambulan, éling Ida ring keris pusakané, saha digelis ngandikain parekané I Sambada mangda ngambil ka Majati.
I Sambada tan purun tulak ring titah Sang Aji Saka, digelis ipun lunga ka Majati. Sarauhé irika tan mari ngojog genah I Dora Jaga ngrauhin titah Sang Aji Saka. Nanging I Dora tan nguéhin kerisé I Sambade, duaning wenten piteket Sang Aji Saka duke dumun, “Dora yan ada anak nagih pusakané, elénan tekén titian, da pesan banga. “Raris parekané makakalih sami-sami pageh nyuun pangandika mawetu rebat marebutin keris, nyantos makakalih parekané padem. Indik sepadem parekan makakalih kapireng olih Sang Aji Saka, pramangkin Ida Parisesel ring raga, rumase ring raga iwang ngicén tugas ring parekané makaklih wastu ngemasin padem. Duaning kangen ring parekan raris Sang Aji Saka makaryaa pangeling-éling sane masuara :
h,ÿn,ÿc,ÿr,ÿk,
Ha, Na, Ca, Ra, Ka,
Ana utusan (ada utusan) - There are two servants
d,ÿt, ÿs,ÿw,ÿl,
Da, Ta, Sa, Wa, La,
Padha kekerengan (saling berselisih pendapat) - having an argument each other
p,ÿa,ÿj,ÿy,ÿz,
Pa, Dha, Ja, Ya, Nya
Padha digdayané (sama-sama sakti) - equally strong
m,ÿg,ÿb,ÿ`,ÿ\.
Ma, Ga, Ba, Tha, Nga.
Padha dadi bathangé (sama-sama mejadi mayat) - Then both of them died
(Kaketus saking carita jawi kuno)
Carita punika pinaka bantang wénten Aksara Bali- jawi lan katah keanggé olih krama Bali nyantos mangkin ritatkala nyurat Awig-awig, rontal miwah sasuratan sane tiosan sane nganggé aksara punika.
Kisah Dongeng Aji Saka dan Asal Muasal Huruf Carakan
Resi Wisaka
Pusaka mantra tersebut diberi nama Carakan (utusan), yang kemudian kita kenal sebagai urutan huruf Jawa (Ha, Na, Ca, Ra, Ka, Da, Ta, Sa, Wa, La, Pa, Dha, Ja, Ya, Nya, Ma, Ga, Ba, Ta, Nga). Konon, pusaka mantra Carakan adalah kunci dari pengetahuan asal muasal kehidupan. Dalam legenda Yunani, pengetahuan itu tersimpan dalam kotak Pandora. Dalam legenda Jawa, pengetahuan itu adalah Ilmu Sangkan Paraning Dumadi.
Kisah Resi Wisaka ini, oleh masyarakat Jawa, diabadikan sebagai dongeng Aji Saka dari Bumi Majeti.
Dalam sebuah legenda, disebutkan bahwa Pulau Jawa pada awalnya terombang-ambing, bagai perahu di lautan. Di pulau ini, hanya berupa hutan-hutan angker yang dibanjiri rawa yang berpindah-pindah seiring goyangan pulau ini yang senantiasa terombang-ambing.
Adalah Pendeta Bageral Banjir yang mula-mula mendatangi Pulau Jawa. Kemudian Pendeta Bageral Banjir mendatangi beberapa gunung, rawa, tegalan dan lembah, untuk memasang paku, agar Pulau Jawa menjadi tenang dan diam. Usahanya tidaklah mudah, karena selalu mendapat gangguan dari para penghuni Pulau Jawa dari kalangan bangsa siluman.
Konon untuk menyempurnakan paku-paku tadi, Pendeta Bageral Banjir harus bertapa di satu gunung yang paling angker, yaitu Gunung Ciremai. Bertapa untuk mendapatkan ilmu Wijihing Srandil yang dapat menyempurnakan kekuatan paku-paku tadi, agar Pulau Jawa benar-benar diam dan aman untuk dapat dihuni oleh bangsa manusia.
Sayangnya, Pendeta Bageral Banjir justru hilang, saat ilmu Wijihing Srandil merasuk ke dalam tubuhnya. Hilang bersamaan dengan melesatnya puncak Gunung Ciremai tersebut lalu terombang-ambing di laut, saat gunung itu meletus.
Banyak pendeta lain yang datang untuk menyempurnakan yang telah dilakukan oleh Pendeta Bageral Banjir. Namun mereka mendapat perlawanan sengit dari para siluman penghuni Pulau Jawa. Para pendeta dan pengikut (atau pasukan) mereka, terpaksa mundur sampai sampai ke arah utara Jawa Tengah. Mereka membuat kantong-kantong pertahanan. Kantong pertahanan terakhir adalah pertahanan setengah lingkaran, yang kemudian disebut Pekalongan (berbentuk kalung).
Dalam keadaan terdesak, tiba-tiba datanglah pertolongan dari seorang yang sakti mandra guna, yang kemudian dikenal dengan nama Resi Wisesa. Dengan kesaktiannya, Resi Wisesa dapat mematahkan setiap serangan dari para siluman. Para pendeta dan pasukan mereka selamat dan dapat membalas serangan.
Setelah kondisi dirasa aman, Resi Wisesa pergi lagi entah ke mana. Sementara para pendeta dan pasukan mereka, dipimpin oleh Resi Gilingwesi, bergerak ke arah selatan. Pada satu titik (tengeran) yang merupakan salah satu paku Pendeta Bageral Banjir di suatu wilayah tegalan, mereka mendirikan pemukiman.
Pemukiman itu kemudian menjadi sebuah daerah kedaulatan bernama Madang Kamulan. Prabu atau raja pertama adalah Resi Gilingwesi sendiri. Namun gangguan dari para siluman kadang masih terjadi.
Daerah Pekalongan pun telah dikuasai kembali oleh bangsa siluman ular. Konon, pemimpin bangsa siluman ular tersebut adalah seorang Raja perempuan (Ratu) bernama Dewi Lanjar. (Baca juga Sintren).
Prabu Gilingwesi wafat, dan kedudukannya digantikan oleh Prabu Parikenan, anaknya. Masa kekuasaan Prabu Parikenan tergolong singkat. Setelah berkali-kali mendapat serangan dari bangsa siluman, akhirnya Prabu Parikenan tewas di tangan Sadewa, anaknya sendiri, yang bersekutu dengan bangsa siluman. Sadewa naik tahta bergelar Prabu Cingkaradewa atau Prabu Dewata Cengkar.
Dalam legenda pewayangan versi Jawa, Prabu Parikenan adalah awal garis keturunan Pandawa.
Sementara itu, titik-titik paku (mantra pusaka yang menjadi tengeran) Pulau Jawa, telah berhasil disempurnakan oleh seorang yang bernama Resi Wisaka. Konon, Resi Wisaka adalah manusia setengah dewa yang berasal dari negeri para dewa (Parahyangan).
Resi Wisaka, mendengar kabar tentang Kerajaan Madang Kamulan. Kerajaan yang akhirnya dikuasai oleh Prabu Dewata Cengkar. Prabu Dewata Cengkar memiliki kelainan seksual. Sang Prabu adalah pecinta sesama jenis. Korban pelampiasan nafsunya adalah rakyatnya sendiri. Bila Sang Prabu telah bosan, orang tersebut akan dijadikan korban persembahan untuk makanan bangsa siluman, sekutu kekuasaannya.
Resi Wisaka berniat membebaskan rakyat negeri Madang Kamulan dari kezaliman Prabu Dewata Cengkar. Namun sebelum itu Resi Wisaka menemui dua orang abdinya yang bernama Dora (Sayid Abdurrahman) dan Sembadi/Sembodo (Sayid Abdillah/Abdullah). Sang Resi menitipkan suatu doa mantra kepada mereka berdua, agar doa itu diolah menjadi kunci mantra. Kelak kunci mantra itu akan diminta sendiri oleh Sang Resi dari mereka. Artinya, tak ada seorang pun yang boleh mengambilnya, selain Resi Wisaka.
Dalam perjalanan menuju Madang Kamulan, Resi Wisaka merubah dirinya menjadi seorang pemuda yang gagah dan rupawan bernama Wira Lodra. Saat Resi Wisaka menemui Prabu Dewata Cengkar, ternyata Sang Prabu terpikat oleh ketampanan Resi Wisaka. Tentu saja Prabu Dewata Cengkar hanya terpikat secara seksual.
Resi Wisaka dalam wujud Wira Lodra pemuda tampan itu, menyatakan bersedia menjadi pemuas nafsu Prabu Dewata Cengkar. Tapi dengan imbalan mendapat wilayah seluas kain sapu tangan Wira Lodra. Prabu Dewata Cengkar tertawa dan langsung setuju. Prabu Dewata Cengkar mengajak Wira Lodra ke sudut alun-alun untuk mempersilakan Wira Lodra membentangkan sapu-tangannya.
Wira Lodra mengeluarkan sapu-tangannya yang masih terlipat rapih. Lalu Wira Lodra menjatuhkan sapu tangan yang terlipat itu. Ajaib, sapu tangan itu membuka sendiri lipatan demi lipatan yang tiada hentinya. Khawatir wilayah kekuasannya akan tertutup oleh sapu tangan yang terus membentang membuka lipatannya, Prabu Dewata Cengkar memanggil para siluman sekutunya untuk membantu menghentikan bentangan sapu tangan itu.
Arah barat, utara dan timur telah berhasil dibendung. Namun arah selatan masih terus membuka lipatan. Prabu Dewata Cengkar mengejar lipatan yang ke arah selatan, kemudian menginjak lipatan tersebut. Terjadi adu kekuatan antara Prabu Dewata Cengkar yang menginjak lipatan sapu tangan, dengan mantra Wira Lodra yang berusaha membuka lipatan. Akhirnya Prabu Dewata Cengkar kalah kekuatan, dan terlempar hingga ke laut selatan.
Tapi Prabu Dewata Cengkar tidak tewas. Sang Prabu ditolong dan mendapat suaka dari negeri Bajul Putih (siluman Buaya Putih). Namun demikian, Kerajaan Madang Kamulan akhirnya dikuasai oleh Wira Lodra. Wira Lodra kembali ke wujud aslinya sebagai Resi Wisaka.
Resi Wisaka kemudian memboyong kekuasaan Madang Kamulan ke tanah Parahyangan dan menjadi Madang Galuh.
Bersamaan dengan itu, Resi Wisaka mengirim utusan untuk menemui Dora dan Sembadi. Tidak lain tujuannya adalah meminta kunci mantra yang sedang dikerjakan oleh mereka. Sekian lama, Resi Wisaka menunggu utusannya datang ke Madang Galuh membawa pusaka mantra, tapi tak kunjung tiba.
Sadar akan kesalahannya, Resi Wisaka datang sendiri menemui Dora dan Sembadi. Pusaka mantra tersebut memang telah rampung, tapi tidak diberikan begitu saja kepada sang utusan. Hingga Resi Wisaka sendiri yang akhirnya menjemput pusaka mantra tersebut.
Pusaka mantra tersebut diberi nama Carakan (utusan), yang kemudian kita kenal sebagai urutan huruf Jawa (Ha, Na, Ca, Ra, Ka, Da, Ta, Sa, Wa, La, Pa, Dha, Ja, Ya, Nya, Ma, Ga, Ba, Ta, Nga). Konon, pusaka mantra Carakan adalah kunci dari pengetahuan asal muasal kehidupan. Dalam legenda Yunani, pengetahuan itu tersimpan dalam kotak Pandora. Dalam legenda Jawa, pengetahuan itu adalah Ilmu Sangkan Paraning Dumadi.
Kisah Resi Wisaka ini, oleh masyarakat Jawa, diabadikan sebagai dongeng Aji Saka dari Bumi Majeti.
Aji Saka dan Naga Baru Klinthing
Keris Eyang Raga Runthing itu mungkin memang benar-benar ada (atau bahkan menjadi pusaka suatu kerajaan). Namun kisah di balik itu, bisa jadi hanyalah merupakan simbol (legitimasi) atas keberadaan dewan Wali Sanga. Mungkin ada kaitan silsilah antara para anggota dewan Wali Sanga dengan sosok Aji Saka.
Di setiap peninggalan peradaban kuno, pastilah mengenal Cerita Rakyat, Legenda atau Dongeng mengenai laut yang berpindah, danau/telaga/rawa yang terbentuk, atau banjir besar. Menurut tiga agama besar (Yahudi, Nasrani dan Islam) terdapat kisah banjir besar pada masa Nabi Nuh (Noah).
Legenda yang dikenal di (hampir seluruh) masyarakat Jawa, berawal dari peradaban yang dibentuk oleh Watugunung (Prabu Gilingwesi). Prabu Parikenan (pewaris Kerajaan Madang Kamulan), dalam Legenda Jawa, adalah garis awal keluarga Pandawa (Pandu) versi Jawa.
Namun sayang, nama Sadewa (kembaran Nakula) menjadi tokoh jahat yang membunuh Prabu Parikenan, untuk merebut kekuasaan Madang Kamulan. Sadewa, naik tahta bergelar Prabu Cingkaradewa atau Prabu Dewata Cengkar. Kisah ini pun berawal dari rawa yang berpindah-pindah di tanah Jawa. (Baca Resi Wisaka)
Legenda yang dikenal di tanah Jawa konon berasal dari karya-karya sastra sejak jaman Airlangga (Erlangga). Puncak kejayaan kesusastraan, adalah pada masa Sri Jayabaya. (Baca Seloka Bagian 2)
1. Kondisi Zaman "Edan" (Kekacauan)
Pada bagian ini, diramalkan tentang situasi yang terbalik dan hilangnya tata krama:
"Wong bener dadi kojur, wong salah dadi gedhe": Orang jujur sengsara, orang salah justru berjaya.
"Akeh dhandhang diunekake kuntul": Banyak gagak (orang jahat) dianggap bangau (orang suci/baik).
"Wong wadon nglamar wong lanang": Perempuan melamar laki-laki (pergeseran peran sosial).
"Durjana saya sempurna": Kejahatan semakin merajalela.
2. Tanda-Tanda Alam dan Teknologi
"Pulo Jawa kabeh kagawa": Pulau Jawa terbelah atau mengalami perubahan besar.
"Kali ilang kedhunge, pasar ilang kumandange": Sungai kehilangan lubuknya (alam rusak), pasar kehilangan suaranya (ekonomi merosot).
"Wong tuku ngglenik sing dodol": Pembeli membujuk penjual (dunia serba sulit).
"Kreta tanpa jaran": Munculnya kendaraan tanpa kuda (kereta api/mobil).
3. Kerinduan akan Ratu Adil
Setelah gambaran kekacauan tersebut, bagian ini juga sering merujuk pada kerinduan akan datangnya Ratu Adil (pemimpin yang adil) yang akan memperbaiki tata negara dan moral masyarakat, yang sering disimbolkan sebagai seseorang yang akan mengembalikan kejayaan Nusantara.
Dalam Legenda Jawa, Jayabaya adalah titisan Wisnu, keturunan Pandawa dari garis keturunan Arjuna, Abimanyu, Parikesit, yang nantinya ke Airlangga.
Karya-karya sastra ini, terus mengalami perkembangan hingga masa kekuasaan Giri Kedaton (peralihan dari Hindu ke Islam).
Munculnya nama Aji Saka, konon tertulis dalam Serat Jayabaya Musarar. Suatu hari, Jayabaya berguru pada seorang ulama bernama Maolana Ngali Samsujen. Dari ulama itu, Jayabaya mendapat gambaran keadaan Pulau Jawa sejak zaman Aji Saka sampai datangnya hari kiamat.
Melihat nama ulama Maolana Ngali Samsujen dan nama Serat Jayabaya Musarar (Asrar), sangatlah bernuansa Islam. Bisa dipastikan, serat ini adalah gubahan pada masa Giri Kedaton.
Cerita turun-temurun berdasarkan tutur (tutur tular atau gethok tinular), senantiasa dipengaruhi oleh kondisi subyektif dari para penutur.
Bersamaan dengan munculnya tokoh Aji Saka, muncul pula sosok seekor Naga (atau ular raksasa) bernama Baru Klinthing. Baru Klinthing, dalam versi manapun, menuntut diakui sebagai anak Aji Saka. Awal hadirnya Baru Klinthing, berbeda-beda versi ceritanya.
Menurut beberapa penggalan kisah, Baru Klinthing disuruh melingkari sebuah gunung. Harus sempurna melingkar hingga kepala menyentuh ekor (atau tepung gelang).
Dalam satu versi, dikatakan ini adalah syarat agar bisa diakui sebagai anak oleh Aji Saka. Dalam versi lain, adalah syarat agar bisa berubah menjadi wujud manusia sempurna. Namun, nama gunung tempatnya melingkar pun berbeda-beda pada tiap versi cerita.
Dalam penggalan kisah lain, Baru Klinthing menjelma menjadi bocah yang doyan makan bernama Jaka Linglung. Namun dalam versi lain, Baru Klinthing menjadi bocah bajang (bocah kerdil), yang berkeliling meminta makan pada setiap penduduk desa.
Di beberapa penggalan kisah lain, Baru Klinthing (dalam wujud bocah bajang, Jaka Linglung, atau manusia buruk rupa lainnya) mendapat makan dari seorang wanita (beda versi, beda usia).
Sementara para penduduk desa lain tidak mau memberinya makan. Maka wanita itu diberi tahu akan ada banjir, dan disuruh menyiapkan lesung sebagai perahu dan centong nasi sebagai dayungnya.
Kepada para penduduk desa lain, Baru Klinthing memberi sayembara "cabut lidi". Lidi yang ditancapkan ke tanah oleh Baru Klinthing, tak seorang pun yang mampu mencabutnya.
Baru Klinthing sendirilah yang akhirnya mencabut lidi tersebut. Ajaibnya, ketika lidi itu tercabut, muncul air dari lobang bekas tancapan lidi tersebut. Makin lama, air itu makin deras keluar, dan menjadi air bah.
Mengacu pada awal kisah sastra Jayabaya, kejadian tersebut berada di Sumber Baru Klinthing (mata air Baru Klinthing) sekitar kerajaan Kediri. Menurut gubahan dari Giri Kedaton, kejadian itu menjadi Legenda Rawa Pening. Sementara menurut gubahan masa Sultan Agung Mataram, kejadian itu berada di sekitar Pengging.
Plot atau alur cerita antara "tepung gelang" dan "cabut lidi" ini pun, berbeda urutan pada tiap versi.
Melanjutkan plot "tepung gelang", akhirnya naga Baru Klinthing didatangi oleh seseorang. Banyak versi menyebutkan bahwa orang itu adalah Aji Saka sendiri atau utusan Aji Saka. Orang tersebut menyarankan sang naga untuk menjulurkan lidah menyentuh ekornya, agar sempurna membentuk tepung gelang.
Akhirnya lidah naga Baru Klinthing terjulur hingga menyentuh ekornya, dan sempurna membentuk tepung gelang. Saat itu juga, orang tersebut dengan segera memotong lidah naga Baru Klinthing.
Dalam satu versi, naga Baru Klinthing meraung keras dan menggelepar hingga tewas. Sementara potongan lidahnya meloncat jauh tinggi melayang ke langit.
Versi lain, menyebutkan lidah naga Baru Klinthing berubah menjadi senjata. Sementara tubuhnya menjadi manusia, atau ada tubuh manusia keluar dari tubuh naga (karena sempurna menunaikan syarat agar bisa menjadi manusia sempurna), namun meninggal sebagai manusia saat itu juga. Versi lain, menyebutkan tubuhnya lenyap.
Menurut versi yang jarang dituturkan, senjata dari lidah naga itu menjadi sebuah keris. Keris itu diberi nama Eyang Raga Runthing atau Naga Runthing. Konon, Runthing adalah kependekan dari nama Baru Klinthing. Namun, ada pula yang mengartikan Runthing sebagai "banyak pikiran".
Dipercaya, keris ini akan menyerap kembali tubuh naganya jika terbenam dalam air, dan sosok naga ini akan memangsa siapapun yang berada di dekatnya, termasuk si pemegang keris tersebut.
Keris ini berluk (lekuk) sembilan. Sebagai simbol dari "Sembilan Pintu Naga" atau "Hawa Sanga" atau sembilan lubang pada tubuh manusia (baca Safar di Cirebon, tentang Lawang Sanga). Dan angka sembilan pun menjadi simbol jumlah anggota dewan Wali Sanga.
Apakah kisah naga Baru Klinthing ini, nyata terjadi? Atau menjadi simbol atas sesuatu? Hanya penulis awal yang tahu persis akan hal ini. Karya sastra memang kadang lugas namun kadang sarat dengan simbol dan kode-kode.
Keris Eyang Raga Runthing itu mungkin memang benar-benar ada (atau bahkan menjadi pusaka suatu kerajaan). Namun kisah di balik itu, bisa jadi hanyalah merupakan simbol (legitimasi) atas keberadaan dewan Wali Sanga. Mungkin ada kaitan silsilah antara para anggota dewan Wali Sanga dengan sosok Aji Saka. (Baca kembali Puser Bumi dan Syekh Nurjati)








.jpg)
