KAKAWIN NITI CASTRA (NITI SASTRA)

0

KAKAWIN NITI CASTRA 

(NITI SASTRA)





PENGERTIAN NITI SASTRA

Kata Niti Sastra memang sudah tidak asig lagi di kalangan tokoh terpelajar,akan tetapi bagi masyarakat yang awam masih terasa asing dengan kata ini. Pada masyarakat yang beragma Hindu di Bali lebih mengenal dengan istilah kakawin Niti Sastra .Kekawin adalah salah satu karya sastra yang berbahasa jawa kuno berupa puisi.Kakawin memiliki aturan tersendiri yang mengikatnya yaitu berupa guru laghu. Guru berarti panjang (berat), laghu berarti (ringan). Kakawin Niti Sastra berisikan tentang ilmu Kepemimpinan yang biasa di gunakan dan ditrapkan dalam ketatanegaraan juga bias kita terapkan dalam kehidupan di masyarakat, dan dalam pendidikan .

Banyak para tokoh yang mengatakan bahwa Artha Sastra, Niti Sastra, Raja Dharma, Raja Niti, dan Dhanda Niti itu adalah sama. Dan mengatakan bahwa ajaran ini hanya beda nama dan penyebutan saja.

  1. Artha Sastra memiliki arti ilmu pengetahuan yang mengatur tentang kesejahteraan dalam kehidupan disuatu wilayah.
  2. Raja Dharma memiliki arti ilmu pengetahuan tentang kebenaran yang menguraikan kewajiban -kewajiban pemerintah atau pemimpin.
  3. Raja Niti memiliki arti ilmu pengetahuan yang lebih menekankan kepada ilmu kepemimpinan atau bagaimana cara pemimpin.
  4. Dhanda Niti memiliki arti tentang pengaturan atau hukum –hukum yang mengaturdlam kehidupan bermasyarakat.
  5. Niti Sastra sendiri memiliki arti ilmu pengetahuan tentang moralitas yang mengajarkan tentang bagaimana mendidik, membimbing , memimpin, bertingkah laku serta menjalani kehidupan berdasarkan Dharma atau kebenaran.


Dari pengertian diatas sudah dapat di petik bagaimana hubungan kitab-kitab tersebut dengan kitab Niti Sastra. Dan secara umum Niti Sastra lebih menekankan pada ajaran moralitas dan ilmu bangun masyarakat yang sejahtera. Dikatakan pula Artha sastra ini sama dengan Arthaveda yaitu Upaveda dari kitab Atharvaveda. Upaveda sendiri berarti penjelasan yang lebih terperinci mengenai kitab veda. Masing-masing dari kitab catur veda memiliki kitab Upaveda dari Rgveda adalah Ayurveda, kitab Upavveda dari yajurveda adalah dhanurveda, kitab Upaveda dari Samaveda adalah Gandharvaveda, sedangkan kitab Upaveda dari Atharvaveda adalah Arthaveda.

 




RSI CANAKYA

Penyusun kitab Arthasastra memang sangatlah banyak ditemukan, dan selalu bertuliskan tentang Canakya didalamnya. Rupanya ini adalah kaitannya tentang ramalan bahwa Canakya adalh penghancur Raja Nanda yang ada dalam kitab-kitab Purana yaitu Visnu Purana dan Bhagavata Purana. Seperti yang di kutip dalam Srimad Bhagavatam 12.1.11-12 “seorang Brahmana (canakya) akan menghancurkan raja Nada dan delapan putra-putranya dan akan menghancurkan dinastinya.

Dari ramalan tersebut dapat disimpulkan bahwa memang benar Cankya yang menghancurkan Raja Nandadan menempatkan Candragupta sebagai Raja. Tentang proses penghancur kerajan Nanda oleh Canakya menurut par tokoh berbeda-beda.

Canakya juga dikenal dengan Kautilya dan disebut juga dengan Visngupta. Ayahanda dari Canakya bernama canaka, sehingga beliau di beri nama Canakya karena factor nama orang tua. Kautilya dikatakan adalah sebagai nama ejekan dari penganut budha kepada canakya. Kautily (kutila) berarti licik atau cerdik (dalam konotasi yg baik) yang berarti tidak mudah ditipu, banyak akalnya, suka membalas kebaikan orang lain apabila orang tersebut jahat apabila beliau disakiti.

Canakya juga disebut dengan Wishnugupta yang berarti seorang menteri Negara, ahli politik, tokoh agamawan (brahmana), adalah orang yg dianggap sebagai penulis karya yang agung.

 



TUJUAN AJARAN NITI SASTRA

Tujuan mempelajari Niti Sastra adalah agar tercapainya tujuan Dharma atau disebut dengan Dharma sidhyartha.Seperti yang tertera dalam Manawan Dharma Sastra, VII. 10:

 

Karyam so veksya saktim ca 

Desakalau ca tattvatah,

Kureta Dharma sidhyartham

Visvarupam punah-punah

Terjemahan :

Setelah mempertimbangkan sepenuhnya maksud, kekuatan dan tempat serta waktu, untuk mencapai keadilan ia menjadikan dirinya menjadi bermacam wujudnya, untuk mencapai keadilan yang sempurna.

Yang dimaksud Dharma Sidhyarta disini adalah pertimbangan untuk mencapai kebenaran dan kesejahteraan. Dalam mencapai kebenaran hendaknya harus mertimbangkan lima unsur yang disebut Iksa, Sakti, Desa, Kala dan tattwa.

  1. Iksa disini berarti pandangan atau cita-cita untuk mencapai kesejahteraan.
  2. Sakti disini berarti kekuatan atau kemampuan, dalam mencapai cita-cita hendaknya harus memiliki kekuatan yg sesuai.
  3. Desa disini berarti batasan-batasan atau juga bisa disebut dengan keadaan. Dalam berbuat hendaknya harus mengetahui keadaan terlebih dahulu sebelum bertindak.
  4. Kala disini berarti waktu, hendaknya juga harus mempertimbangkan waktu sebelum melakukan sesuatu.
  5. Tattwa disini berarti hakekat kebenaran, dalam menjalankan sesuatu hendaknya berdasarkan atas kebenaran.

Dengan tercapainya Dharma Sidhyartha maka tercapai pula tujuan dari ajaran Niti Sastra. Selain Dharma Sidhyartha hindu juga mempunyai tujuan yaitu mencapai Dharma, Artha, Kama dan Moksa.

 



NITI SASTRA DALAM DIRI

Niti Sastra ini, sebelum masuk ke masyarakat hendaknya pahami dan terapkan dalam diri kita terlebih dahulu sehingga kita mudah memberikan contoh kepada orang lain. Ada tiga perbuatan dalam diri yang harus di sucikan atau yang sering disebut dengan Tri kaya parisudha. Adapun bagian dari Tri kaya parisudha antara lain: Manacika Parisudha yakti berpikir yang baik, Wacika Parisudha yakni berkata yang baik. Ajaran Niti Sastra sudah memberikan kita contoh bagaimana hendaknya berpikir , berkata dan bertingkah laku atau berbuat yang baik.

 

1. Berpikir yang baik. 

Dalam ajaran sastra kita di ajarkan bagaimana harusber pikir dan apa yang kita pikirkan. Sebab pikiran dapat mempengaruhi apa yang akan kita lakukan.

 2. Berkata yang baik

Banyak yang mengatakan bahwa lidah tak bertulang, apapun bias dikatakn memperdulikan dampak atau hasil dari perkataan tersebut.

 3. Berbuat yang baik

Segala perbuatan yang kita lakukan didunia ini pasti kita sendiri yang akan menanggungnya, karma yang kita lakukan tidak bias kita tinggalkan ataupun kita warisi kepada orang lain.

 


NITI SASTRA DALAM KELUARGA

Keluarga adalah bagian yang terdekat dalam hidup kita, karena bersama mereka kita menghabiskan sisa waktu kita. Baik buruknya keluarga akan berpengaruh pada diri kita.

 1. Peranan seorang suami/ayah

Dalam keluarga ayah hendaknya selalu berperan menjadi kepada keluarga, yang bertugas melindungi dan membimbing keluarganya.

 2. Peranan seorang istri

Seorang yang sudah memiliki suami serta mempunyai anak sudah bias disebut dengan ibu. Seorang ibu yang baik harus bias melayani suami serta anak-anaknya dengan tulus iklas. Suami serta putranya adalah tempat bergantung bagi seorang istri apabila sudah tua nanti.

 3. Tugas seorang putra

Seorang putra ataupun putri yang di lahirkan dalam keluarga tentu akan melewati empat tahapan yang sering di sebut Catur Asrama.

Sebenarnya membayar hutang pada orang tua tidak harus dengan cara membuat acara pengabenan yang mewah, atau juga dengan membakar harta benda pada saat pengabenan. Akan tetapi juga biasa dengan cara membayarnya ketika beliau masih hidup yaitu dengan cara berbhakti, menghormati serta menmbahagiakan keluarga

 

 

NITI SASTRA DALAM MASYARAKAT

Pada kehidupan di masyarakat terdapat banyak sekali orang yang memiliki sifat-sifat yang berbeda, ada yang bersifat baik ada juga yang bersifat kurang baik. Semua itu berdasarkan ciri kelahiran dari seseorang terebut .Berikut di jelaskan pada sloka di bawa ini tentang ciri kelahiran seseorang:

 

Svarga shitanam iha jivaloke

Catvari cinhani vasanti dehe

Dana prasango madhura ca vani

Devarcanam brahmana-tarpanas ca.

Canakya Niti Sastra, VII.16                          

Terjemahan :

Setelah menikmati kepuasan di surge loka, roh-roh lahir kembali ke bumi ini. Empat ciri kelahiran surga dapat dilihat pada empat kegiatan ini yaiyu: kedermawanan, kata-kata yang lemah lembut dan menarik, tekun memuja tuhan yang maha esa dan melayani/menghormati brahmana.

Dari sloka diatas dapat dibedakan orang yang selalu berbuat baik berasal dari Surga dan apabila selalu berbuat demikian pasti akan masuk surge pula nantinya. Bengitu juga sebaliknya apa bila selalu berbuat yang tidak baik berarti kelahiran neraka dan apabila selalu berbuat demikian pasti akan jatuh ke neraka akhirnya.

 


KEPEMIMPINAN HINDU

Pengertian pemimpin

Kepemimpinan adalah suatu kemampuan dalam membimbing atau menuntun yang dimiliki oleh seorang pemimpin.Setiap orang yang dilahirkan didunia ini adalah seorang pemimpin.Entah sebagai pemimpin masyarakat, keluarga ataupun pemimpin diri sendiri.Sifat sebagai seorang pemimpin sudah ada semenjak kita dilahirkan. Menurut Dr. kartini kartono dikatakan bahwa ada tiga teori yang menonjol yang menjelaskan seorang pemimpin, yaitu:

  • Teori Genetis , yaitu sifat kepemimpinan yang sudah dibawa semenjak lahir.
  • Teori SoSial, berbeda dari teori genetik yaitu sifat kepemimpinan belum ada dalam diri seseorang .
  • Teori Ekologis atau Sintesis, seseorang akan berhasil menjadi seorang pemimpin yang baik apa bila memiliki bakat pemimpin dari lahir dan mendapatkan pendidikan tenteng kepemimpinan.


CATUR VARNA

Pandangan Catur Varna dalam masyarakat masih belum sepenuhnya dapat dipahami.Banyak yang menganggap Varna dengan kasta memili kesamaan.Sesungguhnya kedudukan Varna dan kasta adalah berbeda.Istilah kasta sendiri dibuat oleh bangsa Portugis ketika menjajah Bali.Mereka membuat kasta untuk memecah belah masyarakat yang ada di Bali sehingga dapat dikuasi.

Sedangkan Varna memang diatur dalam kitab suci Veda.Dalam kitab suci agama Hindu dikenal dengan istilah Catur Varna atau empat golongan. Kata Varna memiliki arti sifat dan bakat kelahirannya dalam mengabdi pada masyarakat berdasarkan kecintaannya yang menimbulkan kegairahan kerja (Sudarta dan Atmaja, 2001 : 49). Jadi Varna memiliki arti empat golongan kerja berdasarkan profesinya dalam masyarakat, meliputi :Brahmana, Ksatriya, Waisya, dan Sudra. Dan keempat golongan ini memiliki kedudukan yang sama dimata Tuhan, karena semua merupakan cipataannya.

 

1. Brahmana

Brahmana adalah golongan karya yang setiap orangnya memiliki ilmu pengetahuan suci dan mempunyai bakat kelahiran untuk mensejahterakan masyarakat, Negara, dan umat manusia. Yang dapat disebut dengan Brahmana tidak hanya yang memiliki profesi sebagai Pandita ( Sulinggih ) saja, melainkan sastrawan yang memiliki keahlian Veda juga dapat dikatakan Brahmana.

Seorang Brahmana atau Purohitha memiliki tugas yang utama karena memiliki fungsi sebagai penyelenggara upacara-upacara keagamaan, selain itu juga sebagai penghubung diri dengan Tuhan. Brahmana dalam fungsinya sebagai perantara dalam menghubungkan diri dengan Tuhan, dapat melakukannya karena sudah melalui proses Diksa atau Dwijati. Tanggung jawab ini sungguhlah berat dan mulia, jadi sudah sepatutnya sebagai walaka harus menghormati, melayani serta mengikuti perintah seorang Brahmana.

Dalam kitab Manawa Dharmasastra, IV. 4, 5, dan 6, dijelaskan bagaimana seorang Brahmanaboleh mencari penghidupan dengan lima carai, yaitu : 

  1. Rta, adalah dengan tumbuh-tumbuhan yang sudah matang, dapat dijadikan sumber penghidupan.
  2. Amrta, segala yang diberikan tanpa diminta.
  3. Mrta, yaitu makanan yang didapat dari hasil meminta.
  4. Pramrta,yaitu hasil pertanian.
  5. Satya Nrta,yaitu perdagangan atau pinjam meminjam uang, hal ini juga boleh dilakukan.


2. Ksatriya

Ksatriyaadalah golongan karya yang setiap orangnya memiliki kewibawaan cinta tanah air serta bakat kelahiran untuk memimpin dan mempertahankan kesejahteraan masyarakat, Negara, dan umat manusia, seperti : Presiden, Gubernur, Bupati, sampai Kelapa Desa dan lain sebagainnya.

Golongan Brahmana dan Ksatriya sama-sama sebagai seorang pemimpin, akan tetapi seorang Brahmana tugasnya sebagai pemimpin upacara yadnya, sedangkan Kesatriya tugasnya memimpin rakyatnya. Apabila seseorang telah menjadi kesatriya, maka tugasnya adalah menjadi pelindung dan pemimpin bagi rakyatnya.


3. Waisya

Waisya merupakan golongan karya yang setiap orangnya memiliki watak tekun, terampil, hemat, cermat, dan keahlian serta bakat kelahiran untuk menyelenggarakan kemakmuran masyarakat kenegaraan dan kemanusiaan. Mereka yang dapat disebut vaisyaadalah seorang pedagang, peternak, dan pengusaha.


4. Sudra

Sudra adalah golongan karya yang setiap orangnya memiliki kekuatan jasmaniah, ketaatan, serta bakat kelahiran sebagai pelaku utama dalam tugas-tugas memakmurkan masyarakat, Negara dan umat manusia. Mereka yang termasuk dalam golongan sudra yaitu, petani, buruh, pelayan, dan pekerja lainnya.

Pekerjaan sudradikatakan sebagai pekerjaan terendah dari empat golongan lainnya. Akan tetapi pekerjaan sudraadalah pekerjaan seseorang yang paling mengerti dengan hakikat kehidupan sejati. Hakikat hidup yang sebenarnya adalah Bhakti, wujud dari bhakti adalah pelayanan kepada Sang Pencipta.

Diantara empat golongan kerja ini tidak bias bediri sendiri, melainkan selalu membutukan golongan lainnya. Empat golongan ini diibaratkan seperti tubuh manusia, Brahmana dikatakan sebagai kepala, Ksatriya sebagai tangan, Vaisya sebagai perut, dan sudradikatakan seperti kaki.

 


BHAKTI DALAM NITI SASTRA

Agama Hindu memili keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain kepada Tuhan, ada empat keyakinan lagi yang sering disebut dengan PancaSradha. Panca Sradha berarti lima keyakinan atau kepercayaan, yang meliputi :

  1. Percaya dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa
  2. Percaya dengan Atma
  3. Percaya dengan Hukum Karma Phala
  4. Percaya dengan Punarbhawa
  5. Percaya dengan Moksa


Lima keyakinan atau sradha diatas sebagai dasar umat hindu melaksanakan Bhakti. Bhakti merupakn wujud cinta kasih serta penyerahan diri sepenuhnya kepada Ida Sang Hyang Widhi. Penyerahan diri dilakukan berdasarkan pemahaman serta keyakina bahwa sesungguhnya apa yang ada dalam diri manusia adalah diciptakan beliau.

 


WANITA DALAM NITI SASTRA

1. Kedudukan Wanita dalam sastra Hindu

Orang yang melahirkan kita setelah mengandung Sembilan bulan adalah Ibu.Orang yang merawat dan menyusui kita ketika baru lahir sampi menjadi tumbuh adalah seorang ibu.Kasih saying seorang ibu kepada anaknya tak terbayarkan atau tergantikan oleh apapun. Ketika berbicara kedudukan ibu sesungguhnya tak bias diungkapkan dengan kata-kata.

Dalam sastra hindu wanita memiliki kedudukan yang sangat utama dalam kehidupan. Wanita dikatakan sebagai sumber kehidupan, kedamaian, serta kebahagiaan.


Swadharma Wanita

Wanita dan laki-laki dalam hidup memiliki tugas yang berbeda, baik ketika masih dalam masa Brahmacari (masa menurut ilmu) maupun sudah memasuki Grahasta (mas, baik ketika masih dalam masa Brahmacari (masa menurut ilmu) maupun sudah memasuki Grahasta (masa berumah tangga). Tugas dan wewenang tersebut sudah ada sejak jaman dahulu yang diwariskan kepada kita oleh nenek moyang kita.Selain tugas serta wewenang, wanita dan laki-laki juga memiliki sifat yang berbeda.

Wanita berasal dari Bahasa Sanskrit, yaitu Svanittha, dimana kata Sva artinya “sendiri” dan Nittha artinya “suci”. Jadi Svanitha artinya “mensucikan sendiri ” kemudian berkembang menjadi pengertian tentang manusia yang berperan luas dalam Dharma atau “pengenalan Dharma”.

 

2. Memperlakukan dan Menjaga Wanita

Wanita adalah makhluk yang kuat tetapi bisa menjadi sangat lemah baik dilihat secara fisik maupun secara psikis. Kelemahan pada wanita memberikan ciri bahwa ia memiliki sifat atau naluri yang lembut. Akan tetapi kelemahan dan kelembutannya bisa mengakibatkan kebahagiaan dan juga kesengsaraan. Maka dari itu hendaknya seorang wanita harus dilindungi agar terciptanya keharmonisan dalam keluarga. Orang yang bertugas melindungi wanita yang tertera dalam

Manawa Dharmasastra, IX. 3,6 dan 9:

 

1. Ayah

Seorang ayah hendaknya melindungi putrinya agar tumbuh menjadi seorang wanita yang suci dan seorang Ayah harus memikirkan siapa yang menjadi pendamping hidup putrinya nanti. Jangan sampai putrinya jatuh ke orang yang tidak bertanggungjawab. Ketika putrinya sudah menikah tanggungjawab melindungi dilimpahkan kepada suaminya.

2. Suami

Seorang suami hendaknya menjaga dan melindungi istrinya dengan sepenuh hati agar istrinya merasa aman dan nyaman. Walaupun sang suami lemah, ia harus tetap melindungi istrinya.

 3. Anak Laki-laki

Ketika peranan ayah sudah tidak ada atau ayah sudah meninggal, yang bertanggungjawab melindungi wanita dalam keluarga adalah anak laki-lakinya. Anak laki-laki hendaknya melindungi ibu, dan saudara perempuannya di saat tidak ada ayahnya. Karena dalam agama Hindu seorang anak laki-laki merupakan generasi penerus keluarga.

 

Dalam Manawa Dharmasastra, IX.10, dan 11. Yang mengatakan bahwa tak seorang laki-laki pun dapat menjaga wanita dengan kekerasan tetapi ia dapat dijaga dengan cara-cara sebagai berikut: selain melindungi dari musuh atau mara bahaya, seorang suami juga harus membimbing istri agar dapat melakukan pekerjaan dengan baik seperti mengelola rumah tangga dan mengatur keuangan keluarga.

 

PENGETAHUAN DALAM NITI SASTRA

Artha yang paling abadi dan tak mungkin bisa dicuri oleh orang lain adalah pengetahuan. Dibandingkan dengan memiliki harta benda yang banyak, orang yang memiliki pengetahuan lebih dihormati serta dikenang. Seperti contoh tokoh-tokoh ilmuan di dunia dikenal karena hasil penemuannya dan bukan karena harta bendanya. Begitu mulianya seseorang yang memiliki pengetahuan, yang riwayatnya akan dikenang walaupun beliau sudah meninggal.

Pengetahuan diibaratkan sebagai lampu yang bisa menerangi kegelapan, karena kegelapan yang dimaksud adalah kebodohan. Seperti yang tertera pada sloka di bawah ini:

 

Kama-dhenu guna vidya

Hyakala phala dayini

Pravase mattrsadrsi

Vidya gupta-dhanam smrtam

Canakva Niti Sastra, IV.5

Terjemahan:

Ilmu pengetahuan ibaratnya Kamadhenu, yaitu yang setiap saat dapat memenuhi segala keinginan. Pada saat orang berada di Negara lain, ilmu pengetahuan bagaikan seorang ibu yang selalu memelihara kita. Orang bijaksana mengatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah kekayaan yang rahasia, harta yang tak kelihatan.

 

Pada sloka diatas juga dikatakan bahwa pengetahuan sebagai penuntun, dan memelihara kita ketika dalam kesulitan. Karena dengan pengetahuan orang bisa melewati kesulitan yang dihadapi. Pengetahuan juga dikatakan sebagai harta yang rahasia karena tak seorang pun yang tahu kecuali diri kita orang yang memiliki ilmu pengetahuan akan selalu siap ditempatkan dimana saja, dan dengan mudah akan menyesuaikan diri dibandingkan orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan. Begitu juga kedudukannya dalam keluarga, orang yang memiliki putra yang berpengetahuan akan menjadi terhormat dibandingkan dengan memiliki putra yang biasa saja. Dengan pengetahuan juga bisa mengangkat martabat dari keluarga tersebut.

Pengetahuan pada diri seseorang tidak selalu sama, semua itu dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dari beberapa pendapat para ahli mengatakan pengetahuan seseorang dipengaruhi karena tiga faktor, yaitu faktor Genetik/kelahiran, faktor sosial/lingkungan, dan faktor ekologi/perpaduan antara genetic dan sosial.

Dalam Niti Sastra dikatakan juga bahwa ilmu pengetahuan juga dipengaruhi oleh kelahiran seperti pada sloka dibawah ini:

 

Ayuh karma ca vittam ca

Vidya nidhanam eva ca

Pancaitani hi srjyante

Garbhasthasyeva dehinan     

Canakya Niti Sastra, IV.1

Terjemahan:

Umur, pekerjaan, kekayaan, pengetahuan dan kematian, kelima hal ini sudah ditentukan sewaktu kita masih dalam kandungan.

Pada sloka diatas dikatakan bahwa kelima hal tersebut sudah ditentukan ketika kita masih berada dalam kandungan. Karena dalam agama Hindu percaya dengan adanya karmaphala yaitu hasil dari perbuatan kita. Karmaphala yang kita dapat tidak selalu instan langsung kita terima, melainkan juga bisa diterima pada kehidupan yang akan datang atau dinikmati oleh keturunan kita. Karmaphala yang dinikmati sekarang karena perbuatan pada kehidupan sebelumnya disebut dengan Sancita Kharmaphala. Baik atau buruk perbuatan kita pada kehidupan sebelumnya kita akan nikmati pada kehidupan yang sekarang. Maka tidak heran ada orang lahir hampir sempurna, dan ada orang yang dilahirkan kurang sempurna. Begitu juga dengan pengetahuan, ada yang dengan cepat bisa memperoleh pengetahuan dan ada juga yang lambat.

 

BERBOHONG YANG DIBENARKAN

Setiap orang yang hidup di dunia ini pasti pernah melakukan kebohongan, yang membedakannya adalah besar dan kecilnya tingkat kebohongan tersebut. Walaupun kebohongan dikatakan sebagai perbuatan yang kurang baik, akan tetapi terkadang kita juga harus berbohong demi kebaikan. Sama halnya seperti kebohongan yang dilakukan oleh Yudhistira pada perang Bratayudha. pada kitab Drona Parwa diceritrakan bahwa maharaja Yudistira juga pernah melakukan kebohongan kepada maha guru Drona charya. Yudistira mengatakan kepada guru Drona bahwa putra dari guru Drona yaitu Asvatama sudah meninggal. Walaupun sesungguhnya Yudistira mengatakan bahwa Asvatama yang meninggal adalah gajah. Karena kebohongannya tersebut sehingga membuat guru Drona menyerah dan pasrah dalam berperang dan akhirnya dibunuh oleh Drestayumena. Kebohongan yang dilakukan oleh yudistira dilakukan karena untuk menyelamatkan kerajaan dan pasukannya. Kebohongan dalam keadaan tertentu memang perlu dilakukan untuk menyelamatkan diri atau yang lainnya dari mara bahaya.

 

Seperti yang tertera pada sloka dibawah ini :

Natyantam saralair bhavyam

Gatva pasya vanasthalim

Chidyante saralas tatra

Kubjas tisthanti padapah,

Canakya Niti Sastra, VII.12

Artinya:

Janganlah hidup terlalu lurus atau terlalu jujur, sebab begitu Anda pergi ke hutan Anda akan melihat bahwa pohon-pohon yang lurus ditebang, sedangkan pohon-pohon yang bengkok dibiarkan hidup.

 

Pada Kakawin diatas dikatakan bahwa dibenarkan kebohongan untuk lima hal tersebut. Kebohongan disaat berpesta dan bersenda gurau itu dibenarkan selama keinginannya untuk membuat tertawa dan menghibur para undangan pesta. Berbohong disaat bercumbu rayu untuk menyelamatkan harta dan nyawa juga dibenarkan.

 

NILAI DHARMA

Pandangan dari para tokoh agama maupun masyarakat mengatakan bahwa Dharma adalah suatu yang bersifat baik atau kebenaran. Baik tingkah laku, perkataan serta pikiran harus berlandaskan atas kebenaran. Selain perbuatan Dharma juga diartikan sebagai hukum agama Hindu. Setiap orang yang terlahir di dunia diwajibkan untuk berbuat Dharma. Karena Dharma merupakan jalan untuk mencapai kebahagiaan.

 

Jivantam mrtavan-manye

Dehinam dharma-varjitam

Yato dharmena samyukto

Dirgha-jivi na samsayah

Canakya Niti Sastra, XIII.9

Artinya:

Orang yang perbuatannya tidak sesuai dengan dharma, sebenarnya ia sudah mati, walaupun masih hidup. Seorang dharmatma yaitu orang yang perbuatannya sepenuhnya sesuai dengan dharma, sebenarnya ia masih hidup, walaupun sudah mati.


Pada sloka diatas dikatakan bahwa hidup adalah untuk berbuat Dharma, karena Dharma adalah satu-satunya bekal ketika kita meninggal nanti. Walau kita memiliki banyak harta ataupun anak buah, namun ketika kita meninggalkannya Dharmalah yang membantu kita disana.

Ketika berbicara dharma atau kebenaran itu bersifat sangat relatif. Benar menurut kita sendiri dan belum tentu benar menurut orang lain. Pada dasarnya dharma atau kebenaran memiliki lima dasar yang dijadikan acuan. Kelima dasar tersebut adalah:

Sruti, merupakan wahyu suci yang diterima dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sruti diturunkan kepada para maha rsi yang sudah mekar intuisinya sehingga bisa menerima wahyu dengan baik. Wahyu yang diterima berisikan tentang kegaiban alam semesta, silsilah para Dewa, dan lain sebagainya.

Smerti, smerti adalah nama-nama buku yang merupakan hasil pemikiran dari dan ditulis berdasdarkan interpretasi veda dan telah diterapkan serta dijadikan panutan sejak berabad-abad. Kitab smerti juga merupakan bagian dari kitab suci Veda yang berisikan ajaran-ajaran tentang kebenaran.

Sila, merupakan etika yang diterima oleh orang-orang suci dan bijak. Ethika disini adalah tentang tingkah laku, tata cara berbicara, serta pikiran. Ethika merupakan sumber dharma yang tidak tertulis akan tetapi harus dilaksanakan.

Sadacara/acara, merupakan adat kebiasaan setempat yang telah diterima dan dijadikan sebagai bagian dari kepercayaan oleh masyarakat dimana mereka tinggal. Agama Hindu memberi pengakuan yang tegas tentang acara, dengan pengakuan itu sehingga adat setempat diakui sebagai dharma.

Atmanastuti, merupakan kebahagiaan yang di dapat oleh seseorang atau diri sendiri. Atmanastuti ini merupakan ajaran dharma untuk memecahkan permasalahan yang belum tertera dalam kitab Veda.

Kelima dasar dari dharma di atas memberikan ajaran tentang bagaimana cara mengatur kehidupan agar dapat mencapai kepuasan lahir batin.

Melakukan dharma haruslah berdasarkan dari ketulusan hati yang paling dalam. Walaupun itu kecil akan tetapi dilaksanakan dengan keinginan yang tulus maka akan menjadi besarlah dharma itu, begitu juga sebaliknya walau sebesar apapun perbuatan apabila tidak dilandasi ketulusan maka tidak akan ada artinya. Ketika berbicara dharma yang mana harus dilakukan seseorang, jawabannya adalah melakukan swadharmanya sendiri. Karena setiap manusia yang dilahirkan memiliki swadharma masing-masing, seperti yang tertera pada Bhagawadgita, III.35 yaitu “lebih baik mengerjakan kewajiban sendiri walaupun tidak sempurna daripada melakukan kewajiban orang lain yang dilakukan dengan baik; lebih baik mati dalam tugas sendiri daripada mati dalam tugas orang lain yang sangat berbahaya” (Pudja, 1999:99). Adalah lebih baik kalau kita mengerjakan pekerjaan yang sudah jadi kewajiban kita walaupun dalam mengerjakannya mungkin saja tidak sempurna, daripada melakukan kewajiban orang lain, walaupun dalam pelaksanaannya mungkin sangat sempurna. Tidak ada masalah bagi Yang Maha Esa mengenai tinggi-rendahnya nilai suatu pekerjaan atau kewajiban, semuanya bagi Yang Maha Esa sama saja sifatnya. Tetapi mengerjakan kewajiban kita masing-masing secara baik dan penuh dedikasi nilainya lebih baik untuk kepuasan batin kita sendiri, dan secara spiritual berkatanya ditentukan olehNya sesuai dengan kehendakNya juga.

 

KAKAWIN NITI CASTRA :


 



Imajiner Nuswantoro


Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)