ANWAS - ANWAR LAHIR
Keturunan Nabi Adam yang diangkat menjadi nabi hanya satu; Nabi Syits (Set, dalam bahasa Ibrani; Sang Hyang Esis, dalam bahasa Jawa). Syith merupakan keturunan Adam yang lahir tunggal (semua anak Adam dilahirkan kembar) diturunkan Yang Mahaesa sebagai pengganti anak Adam yang terbunuh. Rupa Syith sangat mirip dengan rupa Adam dan menjadi satu-satunya manusia yang memiliki kebijaksanaan terhebat sepanjang masa.
Begitu mengasihinya Adam meminta pada Yang Maha Esa supaya kelak keturunan Syits diizinkan menjadi penguasa atas keturunan saudara-saudaranya. Saat berdoa, Malaikat Ngajajil/Azazil (Iblis) ternyata mencuri dengar. Ngajazil paham, bila doa Adam akan selalu didengar dan dikabulkan Yang Maha Esa. Seketika itu pula, tumbuh keinginan Ngajazil untuk mencampurkan darah keturunannya dengan darah keturunan Syits.
Malaikat Ngajazil/Azazil (iblis) terus mengintai Syith dan menunggu kesempatan mencampurkan darah keturunannya. Maka ketika Syith menikah dengan Dewi Mulat, pada suatu malam, Dewi Mulat di-sirep, diambil Ngajazil, lalu keberadaannya digantikan putrinya, Dewi Dlajah, yang telah beralih rupa menjadi Dewi Mulat. Setelah dibuahi, Malaikat Ngajazil langsung mengangkat Dewi Dlajah dan mengembalikan Dewi Mulat.
Pada suatu pagi, Dewi Mulat melahirkan dua orang anak; satu berwujud laki-laki normal dan satunya berupa cahaya berkilauan (kasat mata). Sore harinya Dewi Dlajah juga melahirkan, wujudnya berupa gumpalan darah yang berkilauan. Oleh Malaikat Ngajazil, gumpalan darah berkilauan itu disatukan cahaya berkilauan anak Dewi Mulat. Dari hasil penggabungan itu, muncullah seorang anak laki-laki yang cakap. Anak Dewi Mulat diberi nama Sayid Anwas, sedang anak campuran Dewi Mulat dan Dewi Dlajah diberi nama Sayid Anwar.
Sayid Anwas maupun Sayid Anwar memiliki rupa yang sangat tampan. Sayid Anwas besar dalam perlindungan Adam, sedang Sayid Anwar besar dalam asuhan Ngajazil. Sebagai keturunan yang terberkati, keduanya memiliki kemampuan yang sama-sama hebat. Bedanya, Sayid Anwas gemar mempelajari ilmu agama, sedang Sayid Anwar gemar tirakat dan bertapa.
Ketika Sayid Anwar dewasa, dia bertanya pada Dewi Dlajah tentang siapa ayah sejatinya. Maka diberitahulah Sayid Anwar bila dia merupakan keturunan Syith. Pada Dewi Dlajah dan Ngajazil, Sayid Anwar berpamitan untuk menjumpai sang ayah. Ketika berjumpa dengan Syith, terkejutlah sang ayah. Semula Syith tidak mau mengakui keberadaannya, tetapi setelah Yang Maha Esa membisikan mengenai asal-usal Sayid Anwar, barulah Nabi Syith menerima kenyataan itu.
Sayid Anwas dan Sayid Anwar kemudian besar dalam asuhan Adam. Ketika melihat Sayid Anwas dan Sayid Anwar, Adam mulai paham bila Sayid Anwas kelak akan melahirkan keturunan yang mempertahankan ajaran agama, sedang Sayid Anwar kelak akan melahirkan keturunan yang menghancurkan ajaran agama. Dalam asuhan Adam, Sayid Anwar melanggar pantangan dengan meminum air kehidupan yang membuat hidupnya abadi. Mengetahui itu, Nabi Adam marah lalu mengusir Sayid Anwar.
Sayid Anwar sangat kecewa dengan sang kakek lalu pergi berkelana. Di tengah perjalanan dia bertemu Malaikat Harut dan Marut yang menyesatkannya menuju ke arah Sungai Nil dan bertemu dengan beberapa anak Adam lainnya. Dengan sang paman, Sayid Anwar belajar ilmu melihat masa depan (semacam ilmu laduni) dan berbagai ilmu hebat lain. Usainya, Sayid Anwar melanjutkan perjalanan ke arah timur menuju pulau kecil di antara Pulau Maldewa dan Laksdewa, yang bernama Lemah Dewani.
Di situlah Sayid Anwar melakukan tapa brata dengan cara melihat matahari mulai terbit sampai tenggelam. Setelah tujuh tahun bertapa, daya linuwih pada Sayid Anwar terolah hebat sehingga bisa menghilang (kasat mata). Dalam pengembaraannya di Lemah Dewani, Sayid Anwar banyak bertarung dengan para jin dan membuat mereka tunduk di bawah kekuasaannya. Mendengar kehebatan Sayid Anwar, lama-lama banyak kaum jin yang memilih mengabdi padanya.
Kejadian tersebut sangat mengganggu Prabu Nuradi, raja para jin yang menguasai Lemah Dewani. Prabu Nuradi melabrak Sayid Anwar dan mengajaknya bertarung. Dalam pertarungan itu Prabu Nuradi kalah dan tunduk pada kekuasaan Sayid Anwar. Prabu Nuradi memilih turun tahta lalu mengangkat Sayid Anwar menjadi raja para jin dan menyerahkan putrinya menjadi isteri. Ketika menjadi raja jin, Sayid Anwar mendapatkan gelar Prabu Nurasa.
Prabu Nurasa yang telah memiliki kehidupan abadi, kemudian tinggal di tempat tinggi dan meminta izin pada Yang Maha Esa untuk mengangkat diri sebagai Tuhan Semesta Alam. Yang Maha Esa mengabulkan dan membiarkan Prabu Nurasa murtad dari ajaran keturunan Nabi Adam. Ketika menjadi raja, Lemah Dewani diubah nama menjadi Tanah Jawi (Tanah Jawa). Dari Prabu Nurasa lahirkan keturunan-keturunannya yang kemudian menjadi para dewa mulai dari Batara Guru sampai raja-raja di Tanah Jawi.
Di lain pihak, Sayid Anwas yang besar dalam asuhan Nabi Adam, keturunannya kemudian menjadi manusia-manusia terpilih mulai Nabi Idris, Ibrahim, Musa, Isa sampai Muhammad. Keturunan Sayid Anwas juga menumbuhkan suku-suku bangsa superior seperti bangsa Israil, bangsa Arab, bangsa Arya dan bangsa-bangsa besar lainnya. Di lain pihak keturunan Sayid Anwar, karena juga mendapatkan berkah dari doa Adam, juga banyak melahirkan bangsa-bangsa besar pada masa-masa kerajaan Jawa. Tidak sedikit raja-raja keturunan Sayid Anwar yang menguasai bangsa-bangsa lain di permukaan bumi.
Dalam perputaran peradaban, keturunan Sayid Anwar dan Sayid Anwas telah banyak yang bersilangan. Persilangan-persilangan inilah yang membuat kehidupan mereka tumpang-tindih. Ada keturunan Sayid Anwas yang kemudian mengikuti jejak pemikiran Sayid Anwar yang sesat. Sebaliknya, tidak sedikit pula keturunan Sayid Anwar yang kembali pada ajaran nenek moyang mereka dan menganut agama yang diajarkan Adam serta leluhur mereka Nabi Syith. Terlepas dari semua itu, keturunan-keturunan Sayid Anwas maupun Sayid Anwar sama-sama memiliki darah superioritas yang membuat mereka banyak menjadi pemimpin-pemimpin bangsa lainnya.
SITI HAWA MENGIDAM BUAH-BUAHAN SURGA
Di Negeri Kusniya Malebari, Nabi Adam bersama para putra sedang membicarakan sang istri, yaitu Siti Hawa, yang kali ini sedang mengandung untuk ketiga belas kalinya. Yang membuat heran adalah Siti Hawa mengidam ingin memakan buah-buahan dari Taman Surga.
Dalam pembicaraan itu Sayidina Kabil sang putra sulung juga menyampaikan keluhan yang selama ini dipendam dalam hati, yaitu tentang peraturan Nabi Adam dalam menikahkan putra-putrinya. Sayidina Kabil lahir bersama Siti Aklimah, sedangkan Sayidina Habil lahir bersama Siti Damimah. Namun, Sayidina Kabil yang berwajah tampan ternyata dinikahkan dengan Siti Damimah yang berwajah jelek, sedangkan Sayidina Habil yang berwajah jelek ternyata dinikahkan dengan Siti Aklimah yang berwajah cantik. Selama ini Sayidina Kabil selalu memendam kekecewaaan dalam hati, namun sekarang ia tidak tahan lagi dan menyampaikan rasa kesalnya itu kepada sang ayah.
Nabi Adam menjelaskan bahwa peraturan tersebut ditetapkan dengan pertimbangan bahwa Sayidina Kabil dan Siti Aklimah lahir bersama, maka mereka berasal dari satu benih yang sama, sehingga tidak baik jika dinikahkan. Sayidina Kabil kecewa dengan jawaban sang ayah. Ia lalu pamit undur diri meninggalkan pertemuan.
Nabi Adam kembali membicarakan kehamilan Siti Hawa. Dulu mereka berdua telah melanggar larangan Tuhan Yang Mahakuasa, sehingga harus dikeluarkan dari Taman Surga. Kini Siti Hawa sedang mengandung dan merindukan kelezatan buah-buahan dari tempat yang serba indah itu. Putra keenam bernama Sayidina Sis mengajukan diri untuk mewujudkan idaman sang ibu. Nabi Adam sangat yakin pada kemampuan Sayidina Sis dan memberikan restu kepadanya untuk berangkat.
SITI HAWA MENCERITAKAN KELAHIRAN SAYIDINA SIS
Nabi Adam masuk ke dalam puri dan disambut Siti Hawa. Kepada sang istri, ia menceritakan jalannya pertemuan, di mana Sayidina Sis bersedia mengusahakan terwujudnya buah-buahan dari Taman Surga. Ia juga menceritakan kekecewaan Sayidina Kabil karena beristrikan Siti Damimah yang buruk rupa.
Siti Hawa mengungkit cerita masa lalu di mana antara dirinya dan sang suami pernah berselisih paham mengenai tata cara perkawinan putra-putri mereka. Nabi Adam berpendapat, putra pertama hendaknya dinikahkan dengan putri kedua, sedangkan putra kedua dinikahkan dengan putri pertama. Putra ketiga dinikahkan dengan putri keempat, sedangkan putra keempat dinikahkan dengan putri ketiga. Begitulah seterusnya. Di lain pihak, Siti Hawa berpendapat putra pertama hendaknya dinikahkan dengan putri pertama, putra kedua dinikahkan dengan putri kedua, dan seterusnya, dengan alasan mereka sudah berjodoh sejak dalam kandungan.
Perbedaan pendapat itu membuat keduanya berselisih tanpa ada yang mau mengalah, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk meminta petunjuk kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Masing-masing lalu mengeluarkan benih dari dalam tubuh untuk ditempatkan di dalam pusaka Cupumanik Astagina. Benih Nabi Adam ditempatkan pada tutup cupumanik, sedangkan benih Siti Hawa ditempatkan di badan cupumanik. Setelah beberapa hari, atas kehendak Tuhan, benih milik Nabi Adam berubah menjadi calon janin, sedangkan benih Siti Hawa tidak berubah. Karena itulah, Siti Hawa mengaku pasrah dan menyerahkan keputusan tentang tata cara pernikahan putra-putri supaya dijalankan sesuai pendapat Nabi Adam.
Setelah Nabi Adam dan Siti Hawa pergi, Malaikat Jibril datang atas perintah Tuhan Yang Mahakuasa untuk menyatukan calon janin tersebut dengan benih Siti Hawa sehingga menjadi bayi hidup, yang kemudian diberi nama Sayidina Sis. Dengan demikian, anak pertama sampai kelima selalu lahir sepasang laki-laki perempuan, sedangkan putra keenam ini hanya seorang laki-laki, yaitu Sayidina Sis tersebut. Tidak lama kemudian muncul angin topan yang menerbangkan Cupumanik Astagina entah ke mana.
Siti Hawa mengakhiri ceritanya. Nabi Adam berusaha menenangkan perasaan istrinya, dan menganggap keluhan Sayidina Kabil tadi adalah ujian rumah tangga belaka. Maka ia pun mengajak Siti Hawa untuk lebih menguatkan iman dan senantiasa berserah diri kepada Tuhan Yang Mahakuasa, semoga apa pun yang akan terjadi bisa mendatangkan kebaikan bagi umat manusia.
KEBERANGKATAN SAYIDINA SIS MENCARI BUAH-BUAHAN SURGA
Sayidina Habil memerintahkan empat orang adiknya, yaitu Sayidina Israil, Sayidina Israwan, Sayidina Basradiwan, dan Sayidina Yasis untuk mengantarkan keberangkatan Sayidina Sis dalam mewujudkan idaman sang ibu. Di tengah perjalanan, Sayidina Sis dan keempat saudaranya itu diganggu oleh kaum setan pengikut Malaikat Ajajil yang dulu diusir dari Taman Surga karena menolak perintah Tuhan. Terjadilah pertempuran di mana para setan tersebut dapat diusir pergi.
Sesampainya di tepi hutan, Sayidina Sis berpisah dengan keempat saudaranya untuk melanjutkan perjalanan seorang diri. Sayidina Israil, Sayidina Israwan, Sayidina Basradiwan, dan Sayidina Yasis lalu kembali ke Kusniya Malebari dan mendoakan perjalanan Sayidina Sis supaya berhasil dan selalu mendapatkan perlindungan.
SAYIDINA SIS MENDAPATKAN ANUGERAH
Seorang diri Sayidina Sis memasuki hutan belantara untuk kemudian bertafakur meminta izin Tuhan Yang Mahakuasa supaya bisa mendapatkan buah-buahan Taman Surga. Setelah empat puluh hari bertafakur mengheningkan cipta, Malaikat Jibril pun datang menyampaikan perintah Tuhan, bahwa Sayidina Sis diizinkan naik ke Taman Surga untuk memetik buah-buahan yang menjadi idaman ibunya. Sayidina Sis sangat gembira, dan ia pun berangkat dengan pertolongan Malaikat Jibril.
Di dalam Taman Surga, Malaikat Jibril mengantarkan Sayidina Sis memetik buah-buahan yang diinginkan Siti Hawa. Setelah dirasa cukup, Malaikat Jibril kemudian menyampaikan keputusan Tuhan yang kedua, yaitu menikahkan Sayidina Sis dengan seorang bidadari bernama Dewi Mulat. Malaikat Jibril menyampaikan kehendak Tuhan bahwa kelak Sayidina Sis akan menurunkan manusia-manusia utama, dan sebagian di antaranya akan menjadi nabi dan raja. Maka itu, yang menjadi istri Sayidina Sis haruslah wanita utama pula.
Sayidina Sis sangat bersyukur. Ia kemudian membawa Dewi Mulat turun ke dunia dan membangun rumah tangga di Kusniya Malebari. Buah-buahan dari Taman Surga pun dipersembahkan kepada Siti Hawa yang menerimanya dengan suka cita.
Setelah tiba saatnya, Siti Hawa pun melahirkan sepasang putra-putri seperti biasa. Nabi Adam memberi nama putra putrinya itu, masing-masing Sayidina Kayumaras dan Siti Indunmaras.
SAYIDINA KABIL MEMBUNUH SAYIDINA HABIL
Pada suatu hari, Sayidina Kabil datang menemui Sayidina Habil di rumahnya untuk meminta supaya Siti Aklimah diceraikan dan diserahkan kepadanya. Sayidina Habil sebenarnya sangat menyayangi kakak sulungnya, namun ia juga tidak berani melanggar keputusan sang ayah. Merasa tersinggung, Sayidina Kabil menantang Sayidina Habil untuk mengadakan kurban. Barangsiapa yang diterima sesajinya maka dialah yang berhak memperistri Siti Aklimah. Sayidina Habil bersedia menuruti tantangan itu dengan harapan sang kakak bisa mendapatkan petunjuk Tuhan supaya sadar.
Maka, kedua bersaudara itu lantas mempersiapkan sesaji masing-masing. Karena Sayidina Kabil seorang petani, maka kurban yang ia sajikan pun berwujud hasil bumi, seperti buah-buahan dan palawija. Namun karena ia bersifat kikir, maka yang dipilih adalah buah-buahan dan palawija yang buruk, sedangkan yang baik disisihkan untuk dijual dan dipakai sendiri. Sementara itu Sayidina Habil seorang peternak, maka ia pun mengurbankan hewan-hewan peliharaannya. Karena ia bersifat murah hati dan penuh iman, maka yang dipilihnya sebagai sesaji adalah hewan-hewan yang terbaik pula.
Tuhan Yang Mahakuasa kemudian mengirim api dari langit untuk membakar sesaji yang dipersembahkan Sayidina Habil, sebagai pertanda bahwa kurbannya telah diterima. Sayidina Kabil sangat kesal dan bertambah iri. Karena kedengkian dan kecemburuannya sudah memuncak, ia pun mengambil sebongkah batu dan memukul kepala Sayidina Habil hingga pecah.
Melihat adiknya mati, Sayidina Kabil menjadi kebingungan bercampur sedih. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Tiba-tiba terlihat olehnya dua ekor burung gagak sedang berkelahi. Gagak yang menang kemudian mengubur bangkai gagak yang mati di dalam tanah. Merasa mendapatkan petunjuk, Sayidina Kabil pun menguburkan mayat Sayidina Habil seperti gagak itu.
Sayidina Kabil kemudian menemui Siti Aklimah untuk menikahinya. Siti Aklimah menolak karena takut melanggar perintah sang ayah. Sayidina Kabil tidak peduli, dan ia pun memukul Siti Aklimah sampai pingsan, kemudian membawanya lari meninggalkan Negeri Kusniya Malebari sejauh-jauhnya.
MALAIKAT AJAJIL MEMPEROLEH ANAK PEREMPUAN
Malaikat Ajajil dulu diusir dari Taman Surga karena menolak perintah Tuhan Yang Mahakuasa untuk bersujud memberikan penghormatan kepada Nabi Adam. Kini ia mendengar kehendak Tuhan bahwa keturunan Sayidina Sis akan menjadi manusia-manusia utama. Maka, ia pun bertafakur memohon kepada Tuhan supaya diizinkan memiliki seorang putri. Ia berharap melalui putrinya itu bisa lahir keturunan Sayidina Sis yang bisa menjadi raja dan penguasa umat manusia.
Tuhan Yang Mahaadil pun mengabulkan permohonan Malaikat Ajajil. Atas kehendak-Nya, dari sebagian tubuh Malaikat Ajajil tercipta seorang perempuan yang berwajah sama persis dengan Dewi Mulat, yang kemudian diberi nama Dewi Dlajah. Malaikat Ajajil lalu membawa putrinya itu ke Negeri Kusniya Malebari supaya bisa mengandung benih Sayidina Sis.
Malaikat Ajajil memasuki rumah Sayidina Sis secara diam-diam dan menculik Dewi Mulat untuk ditukar dengan Dewi Dlajah. Beberapa hari kemudian, setelah mengetahui Dewi Dlajah telah disetubuhi Sayidina Sis yang tidak bisa membedakan istrinya, Malaikat Ajajil pun mengembalikan Dewi Mulat dan membawa pulang Dewi Dlajah.
LAHIRNYA SAYIDINA ANWAS DAN SAYIDINA ANWAR
Sembilan bulan kemudian, Dewi Dlajah melahirkan bersamaan dengan terbenamnya matahari. Namun anehnya, anak yang lahir itu berwujud segumpal darah yang berkilauan. Malaikat Ajajil mengambil darah tersebut lalu membawanya pergi ke Negeri Kusniya Malebari.
Sementara itu pada hari yang sama, Dewi Mulat lebih dulu melahirkan bersamaan dengan terbitnya matahari. Yang dilahirkannya adalah dua orang anak. Anak yang satu berwujud bayi normal, sedangkan yang satunya berwujud seberkas cahaya.
Malaikat Ajajil datang secara gaib lalu menangkap seberkas cahaya tersebut dan disatukannya dengan darah berkilauan yang ia bawa dari Dewi Dlajah. Atas kehendak Tuhan, persatuan tersebut menciptakan seorang bayi laki-laki, namun tubuhnya tidak bisa diraba dan selalu memancarkan cahaya seperti sinar rembulan.
Nabi Adam datang dan memberi nama kedua cucunya tersebut. Yang berwujud bayi normal diberi nama Sayidina Anwas, sedangkan yang berwujud bayi bercahaya diberi nama Sayidina Anwar. Nabi Adam meramalkan bahwa Sayidina Anwas kelak akan menurunkan para nabi, sedangkan Sayidina Anwar kelak tidak mau mengikuti agamanya dan memilih jalan hidup sendiri, namun keturunannya juga banyak yang menjadi raja dan tokoh besar di dunia. Hal ini membuat Sayidina Sis bimbang dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada takdir Tuhan.
Leluhur Para Nabi dan Dewa (Anwas-Anwar)
Matur salam, para pembaca. Melanjutkan kisah Jagat Gumelar, kisah kali mengisahkan perjalanan anak-anak Nabi Adam dan Siti Hawa, dimulai dari kisah pembunuhan Kabil dan Habil, kelahiran Nabi Syis dan keturunannya. Kelak akan ada keturunan Nabi Syis yang menjadi para nabi dan rasul sedangkan keturunan yang lain akan menjadi para Dewa. baik keturunan Anwas maupun Anwar kelak akan menjadi keturunan linuwih. Sumber kisah ini adalah Serat paramayoga dan dipadukan beberpa kisah dari Timur Tengah.
Tatacara Pernikahan anak-anak Adam dan Hawa
Telah lama Nabi Adam dan Siti Hawa berumah tangga. Setiap kali melahirkan selalu terlahir sepasang putra-putri. Kini, anak-anak mereka sudah pada besar. Sudah saatnya mereka untuk menikah, namun Adam dan Hawa saling bersilang pendapat tentang tatacara pernikahan mereka. Adam berpendapat “Menurut kanda, putra pertama harus dinikahkan dengan putri kedua sementara putra kedua dinikahkan dengan putri pertama dan begitu seterusnya.” tapi Hawa berpendapat “ Dinda tidak setuju! seharusnya putra pertama harus menikahi putri pertama sementara putra kedua harus menikahi putri kedua karena dianggap telah berjodoh sejak di dalam rahim.” Persilangan pendapat ini membuat keduanya terus berselisih tanpa ada yang mengalah, sampai pada akhirnya mereka berdoa meminta petunjuk dari Tuhan Yang Maha Agung. Lalu datanglah Malaikat Jibril membawa sebuah cupu (kotak menyimpan air). Oleh Malaikat Jibril, cupu itu disebut Cupu Kamandalu. Atas seizin-Nya, Malaikat Jibril mengambil intisari benih Adam dan Hawa untuk ditempatkan ke dalam cupu itu. Benih Adam diletakkan di tutup cupu sementara benih Hawa di bagian dalam badan cupu. Setelah beberapa hari, atas kehendak Yang Maha Kuasa, benih Adam berubah menjadi calon janin. Sementara benih Hawa tidak berubah. Karena itulah, Hawa akhirnya menurut dan pasrah menyerahkan keputusan tentang cara pernikahan putra-putri mereka sesuai pendapat Adam. Setelah Nabi Adam dan Siti Hawa pergi, Malaikat Jibril datang lagi atas perintah Sanghyang Maha Agung untuk menyatukan benih Adam dan Hawa. Lalu benih yang telah dipersatukan itu segera dimasukkan kedalam rahim Hawa secara gaib. Nabi Adam kemudian menyimpan cupu Kamandalu di dalam ruang penyimpanan pusaka.
Kisah Kabil dan Habil, pembunuhan pertama di muka bumi.
Walaupun pernikahan telah dilangsungkan sesuai cara Nabi Adam, ada juga pihak yang tak puas. Yaitu Kabil, sang putra tertua. Dia tak terima dinikahkan dengan Labudha yang berwajah ala kadarnya, sementara kakak Labudha yaitu Habil dinikahkan dengan adik Kabil, Aklimah yang cantik. Akhirnya mereka berdua diperintahkan Adam sesuai wahyu dari Yang Maha Kuasa untuk mempersembahkan kurban. Barangsiapa yang sesajinya diterima, maka dia berhak menikahi Aklimah. Habil bersedia dengan harapan agar sang kakak insyaf. Maka mereka mempersiapkan sesaji. Kabil adalah seorang petani jadi dia akan menyajikan hasil panennya. Namun karena sifat kikir, dengki, dan sombong telah menyelimutinya, maka dia lebih memilih buah-buahan dan gandum yang buruk, sedangkan yang baik disimpan sendiri. Sementara itu Habil yang seorang peternak mengurbankan hewan-hewan peliharaannya. Karena murah hati dan penuh iman, maka ia pilihkan domba terbaik untuk dijadikan sesaji. Tuhan Yang Maha Kuasa kemudian mengirimkan api untuk membakar salah satu sesaji kurban dari dua putra Adam itu. Rupanya api membakar sesaji Habil, tanda kurbannya telah diterima. Kabil menjadi semakin kesal dan dengki hingga pada suatu hari ketika Habil sedang menggembala, Kabil memukul Habil dengan sebongkah batu hingga pecah kepalanya. Habil yang tidak melawan akhirnya mati terbunuh di tangan saudaranya sendiri.
Kabil menjadi bingung dan gelisah setelah membunuh Habil. Harus diapakan jenazah adiknya itu sehinggalah datang sepasang gagak.
Ilham dari burung gagak Gagak-gagak itu berkelahi memperebutkan jenazah Habil. Salah satu gagak itu mati lalu gagak yang masih hidup segera menggali lubang dan menguburkan bangkai burung gagak yang mati itu di dalam tanah. Merasa dapat petunjuk, Kabil segera mengubur Habil seperti yang dicontohkan burung gagak. Kabil tidak bertobat pada dosanya membunuh malah ia melarikan Aklimah menjauhi Kusniyamalebari.
Kelahiran Nabi Syis
Semenjak kematian Habil, Adam berduka. Nabi Adam berdo’a agar mendapatkan pengganti Habil. Hingga pada suatu ketika, datanglah topan badai di negeri Kusniyamalebari. Angin menerbangkan pepohonan dan tanah. Ruangan tempat Nabi Adam menyimpan cupu Kamandalu pemberian Malaikat Jibril menjadi berantakan bahkan cupu itu hilang, terbawa angin topan. Bersamaan pula dengan itu, Siti Hawa melahirkan lagi. Kali ini berbeda, bukan anak kembar yang lahir namun anak tunggal. Lahirlah dari rahim Hawa seorang bayi laki-laki. Bayi inilah yang dulu ditanamkan Malaikat Jibril melalui cupu Kamandalu waktu itu lalu secara gaib dipindahkan atas seizin-Nya. Nabi Adam memberi nama putranya itu Syis yang berarti hadiah.
Siti Hawa Mengidamkan Buah-buahan Taman Surga
Singkat cerita, Syis tumbuh sebagai seorang yang saleh, berbudi, dan memiliki kebijaksanaan melebihi anak-anak Adam yang lain. Pada suatu hari, sang ibu, Siti Hawa hamil kembali dan kini tengah mengidam makan buah-buahan dari Taman Surga. Syis berkata “wahai ibu, jangan khawatir. Aku akan meminta izin pada Yang Maha Memiliki agar mendapatkan buah-buahan surga idaman ibu” singkat cerita, Syis segera berangkat untuk meminta izin kepada Yang Maha Agung. Di perjalanan, Syis digoda dan diserang oleh bangsa setan pengikut Azazil. Namun segala godaan dan tipu daya setan berhasil dikalahkan oleh Syis. Setan-setan itu berhasil diusir pergi.
Syis mendapatkan Dewi MulatKemudian di dalam hutan ia bertafakur selama empat puluh hari agar diizinkan oleh Sanghyang Maha Agung memasuki Taman Surga. Setelah empat puluh hari, Malaikat Jibril dan Mikhail datang menemui Syis memenuhi perintahNya. Kepada Syis, ia diizinkan masuk Taman Surga. Di dalam Taman Surga, Syis memetik berbagai buah-buahan idaman sang ibu. Setelah dirasa cukup, Malaikat Jibril menyampaikan keputusan Yang Maha Agung, yakni menikahkan Syis dengan salah satu bidadari surga yaitu Dewi Mulat. Menurut Yang Maha Esa, kelak keturunan Syis akan menjadi menjadi manusia-manusia utama, sebahagian dari mereka akan menjadi para nabi dan raja maka yang menjadi pendamping Syis haruslah wanita yang mulia pula. Syis sangat bersyukur.
Singkat cerita, setelah menikah, Syis segera kembali ke dunia membawa Dewi Mulat dan berumahtangga di Kusniyamalebari. Buah-buahan dari Taman Surga segera dipersembahkan kepada sang ibu. Suka citalah Siti Hawa. Saat waktunya tiba, Siti Hawa melahirkan putra-putri kembar seperti biasa. Nabi Adam memberi nama putra-putrinya itu Kayumaras dan Hindunmaras.
Azazil meminta seorang Anak Perempuan
Tanpa disadari Syis, rupanya Azazil berhasil mencuri dengar pembicaraannya dengan Malaikat Jibril di Taman Surga. Azazil kemudian bertafakur agar diberi seorang putri.dia berharap agar melalui putrinya, kelak lahir keturunan Syis yang menjadi raja dan penguasa umat manusia. Tuhan memang Maha Adil. Ia mengabulkan permintaan Azazil. Dari sepercik benih Azazil, Yang Maha Pencipta menciptakan seorang perempuan yang wajah dan bentuk tubuhnya sama persis dengan Dewi Mulat yang kemudian diberi nama Dewi Dlajah. Azazil segera membawa putrinya itu ke negeri Kusniyamalebari supaya bisa mengandung benih Syis. Azazil memasuki rumah Syis secara diam-diam dan menyirep Dewi Mulat lalu ditukar dengan Dewi Dlajah. Setelah beberapa hari, setelah mengetahui Dewi Dlajah telah disenggamai Syis yang tak bisa membedakan istrinya, Azazil mengembalikan Dewi Mulat dan membawa pulang Dewi Dlajah.
Anwas-Anwar Lahir
Hari bergantin pekan, pekan berganti bulan. Tak terasa Dewi Mulat sudah waktunya . melahirkan. Tepat pada saat matahari terbit (julung wangi), lahirlah dari rahimnya anak kembar, hanya yang satu berwujud bayi laki-laki biasa dan yang satunya berupa nur (cahya). Di tempat lain di saat yang hampir bersamaan, saat matahari terbenam (julung pujut) Dewi Dlajah melahirkan anak. Namun wujudnya berupa Asrar (plasma nutfah yang bercahaya), berkilau bagikan berlian. Oleh Azazil, Asrar itu dibawa ke Kusniyamalebari secara diam diam dan disatukan dengan anak Syis dan Dewi Mulat yang berwujud nur (cahya). Atas kehendak Yang Maha Kuasa, Asrar dan Nur itu berubah menjadi sosok bayi laki-laki yang berkilauan bagai mutiara dan nyaris tembus pandang lalu Azazil meninggalkannya. Selang beberapa waktu, Nabi Adam datang untuk memberi nama anak-anak Syis. Anak yang berwujud bayi laki-laki biasa diberi nama Anwas (Enos) sementara yang berwujud bayi laki-laki yang diliputi cahaya diberi nama Anwar(Nara). Nabi Adam mendapat firasat bahwa kelak Anwas akan menurunkan orang-orang pilihan Yang Mahakuasa yang kelak ditutup oleh orang bernama Isa A.S dan Muhammad SAW, sementara Anwar akan berpaling dari ajaran Adam dan Syis dan memilih jalannya sendiri namun keturunannya juga kelak akan menjadi para raja dan tokoh besar di muka bumi. Syis menjadi bimbang dan menyerahkan sepenuhnya kepada Sanghyang Maha Agung, Tuhan yang Maha Berkehendak.
Anwar berguru di hutan Ambalah
Singkat cerita, Anwas tumbuh menjadi seorang yang alim, tekun ibadahnya kepada Sanghyang Maha Agung, Tuhan Semesta Alam. Segala ilmu dan kebijaksanaan dari ayahnya telah ia kuasai. Sementara Anwar sangatlah gemar bertapa dan menyepi jauh dari keramaian. Hingga pada suatu hari ia berguru kepada seorang yang sakti di hutan Ambalah. Oleh orang sakti itu, Anwar diajarkan ilmu amblas bumi, ilmu berjalan di atas air, kemampuan terbang, ilmu menghilang, dan berubah wujud. Sekembalinya dari hutan Ambalah, Nabi Adam melihat perubahan pada diri Anwar. Nabi Adam berrtanya, “cucuku Anwar, kau dari mana saja?” “aku pergi ke hutan untuk menyepi lalu akau bertemu seorang yang sakti dan aku diajari berbagai ilmu.” Adam sadar bahwa orang sakti itu adalah Azazil yang sedang menyamar lalu mengingatkan Anwar untuk tidak berhubungan dengan orang sakti itu lagi karena ia adalah Azazil, penghulu penduduk langit yang pernah menolak sujud kepada Adam.
Wafatnya Nabi Adam
Beberapa tahun kemudian, Nabi Adam telah berusia 1000 tahun. Cahaya kenabian di dahinya turun kepada Syis. Beberapa hari setelah cahaya kenabian turun, Nabi Adam sakit keras dan kini dalam keadaan sakaratulmaut, merasa ajalnya sudah dekat. Di sekitarnya telah berkumpu Siti Hawa, sang istri dan seluruh putra, cucu, cicit, piut, dan canggah mereka. Diantara mereka ada Khanukh, cicit Anwas, anak Sayyid Yared (kelak dia menjadi nabi menggantikan Syis bergelar Nabi Idris). Anwas dan Anwar turut prihatin akan keadaan sang kakek. Tak lama kemudian, datanglah dua malaikat yang diutus Yang Maha Agung datang ke Kusniyamalebari. Mereka adalah Malaikat Jibril dan Malaikat Izrail. Malaikat Izrail bertugas mencabut atma (nyawa) Nabi Adam dan Malaikat Jibril mewartakan bahwa Syis yang akan menjadi pelanjut Adam sebagai nabi juga mengangkat Kayumaras sebagai pemimpin Kusniyamalebari yang baru bergelar Sultan Kayumuthu. Demikianlah, Nabi Adam pun wafat. Para anggota keluarga serentak memanjatkan doa mengantarkan kepergian atmanya ke hadirat-Nya.
Berpalingnya Anwar demi Umur Panjang
Empat puluh hari berlalu setelah wafatnya Nabi Adam, dua putra Nabi Syis, Anwas dan Anwar saling berdebat tentang hakikat rahasia kehidupan. Anwas berpendapat “rahasia kehidupan yang ada dalam ajaran yang diajarkan kakek dan ayah adalah yang benar. Kitab dan sahifah adalah peninggalannya berisi rahasia-rahasia menjalani kehidupan ini karena berasal dari Yang Maha Kuasa. Mencari cara-cara lain untuk mengungkapnya adalah sebuah kesia-siaan belaka.” “aku tidak setuju, kakang. ilmu dari Tuhan itu sangat luas tak berbatas dan tak hanya tertampung dalam kitab dan sahifah saja. Alam ini juga mengajarkan itu semua. Hukum sebab-akibat di alam ini yang menuntun kita dalam mempelajari hakikat kehidupan. Terlebih setelah melihat kakek diwafatkan di usia 1000 tahun. Kalau pun ajaran kakek dan ayah benar harusnya bisa menghindarkan kita dari kematian seperti halnya para malaikat yang berumur panjang.” Anwas tidak setuju “tidak, adikku! Malaikat dan manusia berbeda penciptaannya. Mereka terbuat dari cahaya yang tak bisa padam sedangkan kita dari saripati tanah yang hanya terang jika terkena cahaya. Cepat atau lambat, kita akan kembali menjadi materi gelap.” “kalau kita berusaha kita bisa seperti malaikat.bisa berusia panjang dan abadi.”
Anwas-Anwar Tandhing
Anwar yang bersikeras mencari kehidupan abadi dihalangi Anwas. Keduanya terlibat pertarungan. Karena Anwar lebih sakti, Anwas kalah. Anwas bersedih hati dan malu. Ia kemudian bersumpah “Anwar, dengarkan sumpahku. Sekarang aku mungkin kalah tapi kelak lain lagi. Kelak akan datang suatu masa dimana ada keturunanku yang bisa menundukkan keturunanmu!”
Pencarian Tirta Maolkayat.
Lalu Anwar bertemu dengan Azazil, sang kakek dari pihak ibu. Azazil juga mengungkapkan bahwa ia lah orang sakti yang dulu ditemuinya di hutan. Azazil memberitahukan rahasia “Anwar cucuku, kalau kamu ingin bisa berumur panjang seperti para malaikat, pergilah ke Tanah Lulmat jauh di Kutub Utara. Akan turun disana air ajaib yang bisa membuat pemakainya berumur panjang sampai hari kiamat tiba.” Maka pergiah Anwar ke utara. Setelah sekian lama ia sampai di kutub utara. Udaranya begitu dingin membekukan. Dimana-mana hanya ada es dan salju. Tapi anehnya ada sebidang tanah yang justru ditumbuhi rumput dan terasa cukup hangat. Itu lah Tanah Lulmat. Anwar kemudian bertapa dan berdoa memohon kemurahan Tuhan yang Maha Kuasa. Setelah sekian lama menahan cuaca yang begitu membekukan, Yang Maha Kuasa menjawab doa Anwar. Datanglah sekumpulan awan mendung dari Lautan Rahmat. Dari awan mendung itu, turunlah air keabadian yang disebut juga Tirta Maolkayat. Anwar kemudian mandi dan meminum air itu. Sejak saat itu Anwar menjadi makhluk berumur panjang. Anwar berniat untuk menampung air itu agar bisa diminum oleh keturunannya nanti namun ia tak tahu caranya. Lalu datanglah Azazil membawa cupu Kamandalu dan menyerahkannya pada sang cucu. Dahulu, cupu itu adalah milik Nabi Adam pemberian Malaikat Jibril dan wadah itu lah tempat dimana benih Adam dan Hawa menyatu menjadi calon bayi Nabi Syis. Cupu itu terhempas angin topan saat kelahiran Nabi Syis dan ditemukan Azazil terapung di tengah samudera. Anwar segera membuka cupu Kamandalu dan ajaib, seluruh Tirta Maolkayat masuk dan dapat tertampung semua.
Pengembaraan Anwar
Anwar kemudian meninggalkan dari Kutub Utara yang dingin membekukan itu. Di tengah perjalanan sedang musim dingin. Terjadi badai hebat yang menurunkan hujan es yang sangat lebat. Anwar memutuskan berteduh di dalam lubang sebuah pohon gundul.
Anwar mandi Tirta Maolkayat
Sembari berteduh, Anwar kembali bertafakur. Lalu terdengar suara yang memerintahkannya mengambil akar pohon tempatnya berteduh. Suara itu mengatakan bahwa pohon itu bernama pohon Rewan (Kalpataru), anak pohon Sidratul Muntaha. Kemudian Anwar dengan kesaktiannya, mengambil akar pohon itu dan menjadikannya pusaka bernama Kayulata Mahosadi. Khasiatnya membuat orang sakit menjadi sembuh, orang lemah jadi perkasa bahkan orang mati yang belum waktunya bisa hidup lagi. Setelah badai es reda, Anwar melanjutkan perjalanan. Anwar memutuskan untuk tidak kembali ke Kusniyamalebari. Dalam pengembaraannya, ia bertemu dua malaikat bekas bawahan Azazil, Harut dan Marut. Anwar belajar banyak dari mereka diantaranya ilmu teleportasi dan meraga sukma. Ketika ditanya dimana letak surga dan neraka, mereka membohongi Anwar bahwa surga dan neraka itu ada di ujung dunia. Anwar yang polos segera mencari ujung dunia namun semakin dicari ujung dunia itu tak pernah ada. Anwar terus mengembara ke seluruh dunia selama bertahun-tahun karenannya. Lalu sampailah ia di benua Afrika. Di sana ia bertemu dengan salah satu paman dan bibinya, Latta dan Ujwa (Uzza). Mereka adalah salah satu putra-putri Nabi Adam yang memilih mengikuti Kabil dan murtad dari jalan Adam. Di sana, Anwar belajar ilmu sihir, ilmu perbintangan, ilmu astrologi, ilmu meramal, ilmu berbicara dengan hewan dan tumbuhan, dan cara-cara agar tetap awet muda walaupun sudah berumur panjang. Anwar kemudian bertanya tentang letak Taman Surga dan Kerak Neraka. Latta dan Ujwa mengatakan kalau ingin menemukan kedua tempat itu, harus mengarungi Sungai Nil hingga ke hulunya. Lalu mendaki Gunung Kapsi yang sedang bergemuruh dan mengeluarkan api yang menyala-nyala. Anwar yang polos kemudian berpamitan kepada paman dan bibinya itu.
Turunnya Mustika Retnadumilah
Setelah mengarungi Sungai Nil yang panjang itu, sampailah di hulunya yaitu Danau Jambirijahari. Setelah mengambil air di sana untuk keperluan minum, Anwar mendaki gunung yang terus menyemburkan lahar dan api. Sesampainya di puncak ia kembali bertafakur memohon bisa melihat Taman Surga dan Kerak Neraka. Tuhan Yang Mahakuasa mengabulkan permohonan Anwar. Pemandangan di sekeliling Anwar berubah menjadi indah dan menyenangkan layaknya Taman Surga lalu seketika berubah menjadi seram dan mengerikan layaknya di dasar Kerak Neraka. Pemandangan itu menghilang setelah turunnya sebuah batu permata berbentuk bulat sempurna dari langit. Bersamaan itu, terdengarlah suara bahwa itulah Mustika Retnadumilah. Dengan batu permata itu, Anwar bisa melihat pemandangan dunia dan seisi jagatraya, melihat indahnya Taman Surga, dan ngerinya Kerak Neraka.
Anwar Menghindari Air Bah
Setelah menerima Mustika Retnadumilah, dia mengembara ke arah timur, melewati Kusniyamalebari. Ketika melewati perbatasan, dia melihat ada badai topan dan air bah besar melanda seluruh Kusniyamalebari. Rumah-rumah penduduk, pepohonan, hutan, bukit bahkan gunung-gunung terendam air. tidak ada yang tersisa kecuali sebuah bahtera yang mengarungi air bah dahsyat itu. Di dalam bahtera itu ada delapan puluh empat orang beserta hewan-hewan yang ada disana. Salah satu orang itu dikenal oleh Anwar. Dia keturunan Anwas, yaitu Nuh, anak Lamekh, cicit Khanukh (Idris). Suara dari langit muncul dan kemudian menjelaskan pada Anwar bahwa Nuh sudah ditunjuk olehNya untuk menggantikan Syis dan Khanukh sebagai nabi malah menjadi rasul pertama. Di masa Nabi Nuh banyak orang telah lupa ajaran Adam, Syis, dan Khanukh (Idris) sehingga banyaklah kerusakan maka Tuhan pun memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat bahtera dan mengangkut keluarganya dan semua orang yang masih ikut dengannya beserta segala hewan berpasang-pasangan. Lalu Yang Maha Kuasa menurunkan badai topan dan hujan lebat untuk menenggelamkan orang-orang yang berbuat kerusakan itu. Anwar kemudian mengarungi air bah itu dengan menumpang diam-diam di bahtera selama berhari-hari tanpa ketahuan. Begitu empat puluh hari, air bah mulai surut. Sebelum Anwar melanjutkan perjalanan, dilihatnya Nabi Nuh yang baru turun dari bahtera melakukan syukuran dan di atasnya pelangi terbentang tanda Sanghyang Maha Agung menerima syukuran itu.
Bertukarnya Raga kasar dengan Raga Halus
Lalu, sampailah ia di tanah Hindustan. Di sana, ia kembali mengembara tanpa tujuan selama berabad-abad mengelilingi Benua Asia hingga tepi Samudera besar sehingga tanpa terasa bahwa waktu sudah berganti jaman. Kala itu sudah zaman nabi Musa-dan Harun, dua bersaudara cicit Nabi Yakub.
Anwar menjadi manusia berbadan ruhani
Setelah sekian lama,ia kembali bertemu dengan Azazil sekali lagi dan diberi ilmu baru. Diantaranya : ilmu pangiwa-pangenen, ilmu patraping panitisan (ilmu reinkarnasi), ilmu weruh sedurung winarah (tahu perkara gaib dan bisa melihat masa depan), ilmu mati sajroning urip, urip sajroning mati, hingga ilmu cakra manggilingan (ilmu untuk melakukan perjalanan, menghentikan, dan memutarbalikkan waktu). Azazil kemudian berkata pada Anwar”cucuku, bertapalah di pulau Laksadwipa (Laksadewa) di barat jazirah Hindustan. Setelah itu kau akan menjadi panjang umur sepenuhnya.” “baik, guru Azazil. Titahmu akan ku junjung dan ku laksanakan.” Singkat cerita, Anwar bertapa dengan melihat matahari. Bila matahari terbit maka ia menghadap timur. Bila tengah hari ia menengadahkan kepala dan bila matahari terbenam, ia menghadap ke barat. Atas kehendak Tuhan yang Maha Kuasa, setelah tujuh tahun bertapa, Anwar telah hilang raga jasmaninya, hanya tinggal raga rohani saja dan berpindah ke dimensi para jin. Bumi dan langit tiada beda, terang tiada matahari, tiada bulan. Semuanya menjadi tiada dalam rengkuhan cahaya hingga seluruh kehendaknya langsung mendapat restu Sanghyang Maha Esa, Tuhan Semesta Alam. Anwar mengganti namanya menjadi Sang Dewa Nurcahya.
Asal Mula Dewa Pertama
Singkat cerita, Sang Dewa Nurcahya telah menguasai segala ilmu. Semenjak berbadan ruhani, dengan seizin Yang Maha Kuasa, ia mampu menundukkan bangsa jin di pulau Dewa (pulau ini membentang dari Malwadwipa hingga ke Laksadwipa) dan menjadi dipuja para jin. Prabu Nurhadi, raja jin kerajaan Pulau Dewa berkeinginan untuk mencobai Nurcahya. Bertemulah Prabu Nurhadi dan Dewa Nurcahya. Berbagai kesaktian diadu hinggalah Prabu Nurhadi kalah telak. Prabu Nurhadi kemudian mempersembahkan putrinya, Dewi Nurrini untuk Sang Dewa Nurcahya. Pernikahan pun dilangsungkan dan dari pernikahan itu mereka dikaruniai seorang putra yang berwujud akyan (badan halus) bernama Nurrahsa dan itulah pertama kalinya bangsa dewa muncul sebagai tandingan para malaikat. Sang Dewa Nurcahya menuliskan kisah hidupnya di dalam sebuah kitab ajaib bernama Pustakadarya. Kitab itu tak berwujud namun dapat ditulis hanya dengan suara dan hanya dapat dibaca dengan mata batin. Saat Nurrahsa telah dewasa dan sudah berumah tangga, kini saatnya Sang Dewa Nurcahya turun takhta dan segera melantik sang putra menjadi raja baru Pulau Dewa. Kitab Pustakdarya, Mustika Retnadumilah, Cupu Kamandalu yang berisi Tirta Maolkayat, dan Kayulata Mahosadi juga diwariskan padanya. Setelah itu, Sang Dewa Nurcahya menitis dan bersatu jiwa raga dengan sang putra. Sementara Dewi Nurrini bersatu dengan menantunya, Dewi Sarwati, istri Nurrahsa.
Sumber Referensi :
- Kamus Alkitab
- Abraham Park. D. Min.,D.D., Silsilah Di Kitab Kejadian. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo).
- Kisah ini menceritakan tentang peristiwa pembunuhan pertama di dunia, perkawinan Sis, dan kelahiran anak-anak Sis yang bernama Anwas dan Anwar. Kelak, tokoh bernama Anwar ini akan menjadi dewa pertama yang bergelar Sanghyang Nurcahya.
- Sumber yang dipakai dalam penyusunan kisah ini adalah Serat Paramayoga karya Raden Ngabehi Ranggawarsita yang dipadukan dengan kisah-kisah tradisi dari Timur Tengah. Kediri, 25 April 2014 Heri Purwanto
Imajiner Nuswantoro


