KUMPULAN PITUTUR JAWI & CANGKRIMAN
ꦏꦸꦩ꧀ꦥꦸꦭꦤ꧀ꦥꦶꦠꦸꦠꦸꦂꦗꦮꦶ & ꦕꦁꦏꦿꦶꦩꦤ꧀
Wong Jawa urip kanthi prinsip nguri-uri kabudayan kang diwarisake dening para leluhur. Salah sawijining prinsip sing isih dilestarekake nganti saiki, asale saka Pitutur Jawi. Kapethik saka kumpulan pitutur, utawa kumpulan pitutur kang kababar ing buku-buku kayata Serat Kalathida, Serat Wulangreh, lan liya-liyane, geguritan-geguritan mau katulis dening para pujangga gedhe kayata R. Ngabehi Ranggawarsita, R. Ngabehi Yusadipura II, lan Sultan Agung watara taun 1700-an. Piurut Jawi nengenaken ngendhaleni dhiri. Salajengipun, Pitutur Jawi asring ngandharaken bilih tiyang Jawi kebacut ngati-ati utawi “alon-alon asal waton kelakon”, ndadosaken persepsi “klelat-klelet” utawi “semangat”. Sikap iki, nyatane, nuduhake yen kewaspadaan minangka kunci kanggo saben langkah maju.
Kumpulan Pitutur Jawi yang Sarat Akan Makna Kehidupan :
1. Bibit, bebet, bobot
(Menilai kualitas secara detail dengan dasar asal mjuasaal, peranan, dan kiprah yang telah dibuat)
2. Ana catur mangkur
(Adu mulu pertentangangan, percekcokan sebisa mungkin untuk dihindari agar senantiasa menyelesaikan masalah secara bijak)
3. Dhuwur wekasane, endhek wiwitane
(Kesengsaraan atau konflik menyebabkan kerusakan atau perpecahan)
4. Bener saka kang Kuwasa iku ana rang warna, yakuwi kang cocok karo benering Pangeran lan bener kang ora cocok karo benering Panageran
(Kebenaran yang ada terdiri dari dua jenis, yaitu kebenaran yang selaras dengan ajaran Tuhan dan kebenaran yang bertentangan dengan ajaran Tuhan. Ketika kebenran selaras dengan tuntunan atau ajaran tuhan daan saalah ketika bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Tuhan)
5. Manungsa mung ngunduh wohing pakerti
(Kehidupan manusia yang baik dan buruk akibat dari perbuatan manusia itu sendiri)
6. Aja dadi wong sing rumangsa bisa lan rumangsa pintar. Nanging dadiya uwong sing bisa lan pinter rumangsa
(Jangan menjadi orang yang merasa bisa dan merasa pintar, tetapi jadilah orang yang bisa dan pintar merasa)
7. Nek wes ono sukurno, nek durung teko entenono, nek wes lunga lalekno, nek ilang ikhlasno
(Jika sudah ada disyukur, jika belum memiliki nantikan saja, jika sudah pergi lupakan saja, jika hilang ikhlaskanlah)
8. Wong sabar rejekine jembar, ngalah urip luwih berkah
(Orang sabar rezekinya luas, mengalah menjadi hidup lebih berkah)
9. Sepi ing pamrih, rame ing gawe, banter tan mbancangi, dhuwur tan nungkuli
(Bekerja keras tanpa memandang pamrih, cepat tanpa harus mendahului, tinggi tanpa harus melebihi)
10. Netas, nitis, netes
(Dari Tuhan kita ada, bersama Tuhan kita hidup, dan bersatu dengan Tuhan kita kembali)
60 PITUTUR JAWA KEHIDUPAN
Contoh Pitutur Jawa beserta Artinya 1 – 10
1. Aja dadi kacang kang lali marang lanjarane artinya jangan pernah melupakan kebaikan budi dari orang lain.
2. Adhang-adhang tumetesing bun, pasrah mring peparinging Gusti artinya senantiasa bekerja keras dan memasrahkan segala hasilnya kepada pemberian Tuhan.
3. Aja rumangsa bisa nanging bisa ngrumangsani artinya jangan merasa paling pandai, tetapi jadilah orang yang pintar menghargai orang lain.
4. Aja adigang, adigung, lan adiguna artinya jangan pernah berperilaku sombong hanya karena mengandalkan kekuatan, kekayaan, dan kedudukan.
5. Aja keminter mengko dadi keblinger artinya jangan merasa sok pintar karena yang demikian pasti akan celaka.
6. Adedamar nanggal pisan kapurnaman artinya seseorang yang sedang memiliki masalah besar tetapi pada akhirnya bisa diselesaikan dengan baik-baik.
7. Aja seneng nggugah macan turu artinya jangan membuat masalah dengan orang sakti/kuat yang sedang mencoba bertaubat.
8. Aja waton anggene ngomong, nanging ngomonga nganggo wewaton artinya jangan suka asal bicara, tetapi bicaralah dengan sebenarnya atau memiliki dasar.
9. Ajining dhiri manggon ing lathi, ajining sarira manggon ing busana artinya harga diri seseorang terletak pada ucapan dan pakaiannya
10. Giri lungsi jalma ingina artinya jangan pernah merendahkan orang lain hanya kamu merasa memiliki status sosial yang lebih tinggi.
Contoh Pitutur Jawa beserta Artinya 11 – 20
1. Aja cedhak kebo gupak artinya janganlah mendekati sesuatu yang buruk karena akan membuatmu kena dampaknya.
2. Anak polah bapa kepradah artinya orang tua yang mengalami kesialan atau keburukan karena tingkah buruk anaknya.
3. Bapa polah anak kesolah artinya seorang anak yang mengalami nasib buruk atau kesialan karena tingkah polah bapaknya.
4. Becik ketitik ala bakale ketara artinya kebaikan sekecil apapun nantinya pasti akan terlihat juga.
5. Beras kang wutah arang bisa mulih menyang takerane artinya jangan pernah mengharapkan balas budi atas kebaikan yang telah diperbuat sekecil apapun itu, karena yang demikian sangat sulit bisa terjadi.
6. Blilu nate, pinter dereng nate nglampahi artinya orang yang kurang cakap dalam berteori, tetapi memiliki banyak pengalaman.
7. Bolu rerambatan lemah artinya suatu masalah yang sangat pelik dan terlihat mustahil untuk bisa diselesaikan.
8. Dedagang tuna adum bathi artinya seseorang yang berkenan untuk memberikan bantuan dengan ikhlas tanpa pernah mengharapkan balasan.
9. Dhusun mawi tata, negari mawi cara artinya semua daerah pastilah memiliki adat istiadat yang berbeda-beda dan harus dihormati.
10. Cilik diitik-itik, gedhe dipasangi benik artinya seorang anak yang semasa kecil dibesarkan dan dididik dengan baik, tetapi saat sudah dewasa harus meninggalkan orang tua karena telah memiliki keluarga sendiri.
Contoh Pitutur Jawa beserta Artinya 21 – 30
1. Dikempit kaya wadhe, dijuju kaya manuk artinya seorang anak yang sangat dikasihi dan bahkan dimanjakan oleh orang tuanya.
2. Urip iku urup artinya hidup itu haruslah dapat memberi manfaat kepada sesama.
3. Dudu sanak dudu kadang lamun mati melu kelangan artinya meski bukan siapa-siapa tetapi saat seseorang meninggal merasa ikut kehilangan.
4. Ana catur mungkur artinya sebaiknya sebisa mungkin menghindari percakapan yang mengarah pada perpecahan.
5. Kabeh manungsa bakal ngundhuh wohing pakarti artinya semua manusia pastilah akan mengunduh hasil perbuatannya.
6. Aja selak muluk barang kang melok artinya janganlah mengharapkan sesuatu yang terlihat indah dan menarik hati kalau belum mampu memilikinya.
7. Aja kaya setan kang nunggang gajah artinya janganlah mau enaknya sendiri dan melupakan perjuangan orang lain.
8. Aja dadi setan kang nggegawa ting artinya janganlah menjadi manusia yang suka mengadu domba atau membuat kegaduhan dalam kehidupan bermasyarakat.
9. Aja seneng sumengka pengawak braja artinya janganlah menjadi manusia yang mengharapkan sesuatu yang tidak ada pada tempatnya.
10. Aja mung weruh grubyug tanpa weruh rembug artinya janganlah menjadi manusia yang hanya ikut-ikutan tanpa tahu yang sedang dibicarakan.
Contoh Pitutur Jawa beserta Artinya 31 – 40
1. Sing ngati-ati tansah enmbat-embat clarat artinya jadilah manusia yang senantiasa berhati-hati dengan senantiasa mempertimbangkan baik dan buruknya akibat atas perbuatan yang dilakukan.
2. Kebat kliwat ngangsa nekakake brahala artinya sesuatu yang dikerjakan terlalu cepat terkadang mendatangkan hasil yang kurang menyenangkan.
3. Kayu watu bisa krungu, godhong lan suket padha duwe mata artinya sebaiknya rahasiakan sesuatu yang menurutmu penting sebaik mungkin agar tidak diketahui oleh orang lain.
4. Wani nggetih bakale sembulih artinya seseorang yang berani bekerja keras dengan sungguh-sungguh akan mendapatkan hasil yang memuaskan.
5. Aja dadi naga mangsa tanpa cala artinya janganlah menjadi manusia yang suka mencelakakan orang lain tanpa alasan yang jelas.
6. Aja dadi kaya kere kang nembe munggah bale artinya janganlah menjadi orang yang lupa diri karena mendapatkan kekayaan atau ketenaran secara tiba-tiba.
7. Aja kaya kidang kang mlayu ninggal swara artinya janganlah menjadi manusia yang saat pergi meninggalkan sesuatu yang buruk dan membuat kecewa orang lain.
8. Aja mung arep jamure nanging emoh watange artinya janganlah menjadi manusia yang mau enaknya saja, tanpa mau mengalami susahnya.
9. Wenehana payung kanggo wong kang lagi kudanan artinya berikanlah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh orang lain.
10. Aja seneng kekudhung lulang macan artinya janganlah menjadi manusia yang suka berlindung dibalik nama besar orang tua atau orang lain.
Contoh Pitutur Jawa beserta Artinya 41 – 50
1. Aja kaya emprit abutut bedhug artinya janganlah suka membuat masalah yang semula kecil menjadi besar.
2. Kadya suruh kang lumah lan mengkurube lamun ginigit rasane padha artinya meskipun memiliki rupa yang berbeda tetapi memiliki banyak kemiripan.
3. Kadya kebo bule kang pejah ing setra artinya orang pandai yang tidak pernah membagikan pengetahuannya dan memilih memendam ilmu yang dimiliki hingga ajal menjemput.
4. Aja dadi kebo kang gupak ngajak-ajak artinya janganlah menjadi manusia yang senang mengajak orang lain berbuat jahat.
5. Kadya maesa kang kegedhen sungu artinya seseorang yang sedang memiliki masalah yang di luar kemampuan untuk menanggungnya.
6. Aja kaya kebo kang seneng nyusu gudel artinya janganlah menjadi manusia yang suka membuat susah anak kandungnya sendiri.
7. Aja mbondhan tanpa ratu artinya dalam hidup ini janganlah berbuat seenak sendiri meski itu tidak diketahui oleh orang lain.
8. Aja dumeh duwe dadi sakarepe dhewe artinya jangan merasa sedang memiliki sesuatu yang lebih sehingga bisa berbuat seenak sendri.
9. Ana mangsane tunggak jati mati, tunggak jarak bakale mranjak artinya ada kalanya keturunan orang kaya akan kehilangan kekayaannya, sedangkan keturunan orang biasa akan mendapatkan kemuliaan.
19. Ana mangsa srengenge bakal ilang cahyane artinya akan ada masanya kita akan kehilangan sesuatu yang sangat dekat dengan kita.
Contoh Pitutur Jawa beserta Artinya 51 – 60
1. Ana mangsane kitiran kelangan unyere artinya akan tiba masanya bagi kita untuk berhenti karena telah kehabisan waktu.
2. Tansaha bisa manjing ajur-ajer artinya berusahalah untuk bisa menyatu dengan lingkungan sekitar kamu berada.
3. Manungsa mung wenang ngudi, dene purba wasesa mapan ing Astane Gusti artinya manusia hanya memiliki hak untuk berusaha, sedangkan soal hasil sepenuhnya berada ditentukan Tuhan.
4. Aja merga mburu uceng nganti kelangan dheleg artinya jangan hanya karena memburu hal-hal kecil sampai membuat kamu kehilangan yang lebih berharga.
5. Dadia bocah kang bisa mendhem jero lan mikul dhuwur artinya jadilah manusia yang mampu memendam keburukan dan menjunjung tinggi hal-hal yang baik.
6. Bisa napihi wong kang wuda artinya berusahalah menjadi manusia yang bisa menutupi keburukan orang lain di depan umum.
7. Tansaha nrima mring pandum artinya berusahalah menjadi manusia yang bisa menerima atau bersyukur atas semua pemberian Tuhan, baik itu anugrah maupun ujian.
8. Sapa sing luwih ora kena muni luweh artinya siapa saja jangan pernah merasa paling sempurna dan merendahkan orang lain, karena suatu saat pasti membutuhkan bantuan orang lain.
9. Wong kang sarik dalan samangsa nyandhung watang artinya siapa saja orang yang berbuat seenak sendiri pastinya akan mendapatkan rintangan atau masalah saat sedang berada di jalan.
10. Bisa maca kahanan murih uwal saka bebaya artinya berusahalah membaca keadaan agar kamu bisa lolos atau terhindar dari suatu masalah.
PERILAKU DAN PITUTUR
1. MANUSIA DINILAI DARI PERBUATANNYA
- Ajining manungsa iku kapurba ing pakartine dhewe, ora kagawa saka keturunan, kepinteran lan kasugihane. Nanging gumantung saka enggone nanjakake kapinteran lan kasugihane, sarta matrapake wewatekane kanggo keperluan bebrayan. Kabeh mau yen mung katanjakake kanggo keperluwane dhewe, tanpa paedah
Maknanya :
Nilai seorang manusia ditentukan oleh perbuatannya sendiri, tidak dibawa melalui keturunan, kepandaian dan kekayaannya. Tetapi bergantung bagaimana dia menerapkan kepandaian, kekayaan dan wataknya dalam bermasyarakat. Semua kalau diarahkan untuk kepentingan sendiri tidak akan bermanfaat
2. ORANG MENARIK: BUKAN DARI PAKAIAN
- Reseping sarira ora marga saka pacakan kang edi-peni, nanging gumantung ing sandhang penganggo kang sarwa prasaja, trapsilaning solah bawa lan padhanging polatan.
Maknanya :
Seseorang menarik bukan karena pakaian yang indah melainkan terletak pada kesederhanannya, sopan santunnya dan cerahnya wajah.
3. DALAM MELANGKAH DAN BEKERJA: TELADANI AIR
Saben tumindak sejangkah ngiloa marang kinclong-kinclonge banyu samudra sing suthik kanggonan sangkrah, jalaran sakehe uwuh mesti disingkirake minggir. Saben makarya sapecak, tuladhanen pakartine banyu tritisan, nadyan tumetes mbaka satetes, ditindakake kanti ajeg kaconggah mbolongake watu sing atose ngluwihi waja.
Maknanya :
Setiap berjalan satu langkah, bercerminlah pada gemerlapnya air samodera yang tidak mau ketempatan sampah, karena semua kotoran senantiasa disingkirkan kepinggir. Setiap langkah dalam pekerjaan, teladanilah perilaku air dari talang. Walaupun menetes satu tetes demi satu tetes mampu melobangi batu yang lebih keras dari baja.
4. MAU MENURUTI PERINTAH DAN NASIHAT
Aboting abot iku ora kaya yen kudu nuruti prentah lan pitutur. Pahit lan ngrekasa dikaya ngapa prentah lan pitutur iku prayoga dilakoni. Kowe mesti bakal nemu barang legi sing ora klebu ing petunganmu, ing suwalike barang pahit mau, Pancen luwih prayoga pahite dhisik tinimbang legine. Awit bisane kowe ngrasakake legi iku rak marga kowe wis ngrasakake pahit. Bisa ngrasakake kabungahan marga kowe wis ngalami nandang kasusahan
Maknanya :
Hal yang paling berat diantara yang berat adalah keharusan mengikuti perintah dan nasihat. Bagaimanapun pahit dan beratnya, sebaiknya perintah dan nasihat itu diikuti saja. Kamu pasti akan menemukan sesuatu yang manis di luar perhitunganmu dibalik barang yang pahit itu. Bukankah lebih baik merasakan pahit dahulu sebelum manisnya? Kamu bisa merasakan manis itu kan setelah tahu rasanya pahit. Demikian pula kamu bisa merasakan kesenangan karena kamu pernah mengalami kesusahan
5. MAU MINTA PENDAPAT ORANG
Wong pinter kang isih gelem njaluk rembuging liyan iku dianggep manungsa wutuh. Sapa sing rumangsa pinter banjur suthik njaluk rembuging liyan kuwi manungsa setengah wutuh. Lan sing sapa ora gelem njaluk rembuging liyan, iku bisa kinaran babar pisan durung manungsa
Maknanya :
Orang pandai yang mau meminta pendapat orang lain bisa dikatakan manusia utuh. Yang merasa pandai kemudian enggan meminta pendapat orang lain adalah manusia setengah utuh. Kemudian siapapun yang tidak mau minta pendapat orang lain bisa dikatakan samasekali belum menjadi manusia.
6. JANGAN TERLALU MUDAH MOHON PETUNJUK
Wong kang kerep dipituturi wong liya iku adate bisa dadi wong kang ngati-ati, nanging menawa kapengkok ing perlu sok ora bisa tumindak lan ngrampungi dhewe. Kepeksa isih kudu noleh marang wong liya sing diwawas bisa aweh pituduh. Mula kuwi prayoga ngawulaa marang ati lan kekuwatanmu dhewe, jalaran sejatine yen ana apa-apane, wong liya iku mung saderma nyawang, ora melu ngrasakake.
Maknanya :
Orang yang sering diberi nasihat oleh orang lain biasanya menjadi orang yang hati-hati, tetapi kalau dihadapkan pada sesuatu sering tidak bisa memutusi sendiri. Terpaksa masih harus berpaling kepada orang lain yang dipandang mampu memberi petunjuk. Oleh sebab itu, sebaiknya berpeganganlah pada hati dan kekuatanmu sendiri, karena sebenarnya kalau terjadi sesuatu maka orang lain hanya sekedar melihat tanpa ikut merasakan
7. JANGAN GAMPANGAN DAN MENGANGGAP ENTENG APA SAJA
Sapa kang nganggep apa bae gampang, mesti bakal nemu akeh rubeda. Sapa kang gampang janji ya dheweke kang arang netepi.
Maknanya :
Siapa yang menganggap apa saja mudah, pasti akan banyak menemukan masalah. Siapa yang gampang janji, dialah yang jarang menepati janji
8. JANGAN MENUNDA PEKERJAAN
Sarupane pakaryan kang wis kok yakini beciking asile tumuli enggal katindakna, aja ngenteni liya wektu. Jer kekencengan sarta kekarepan iku yen diendhe-endhe ora mundhak kuwate. Nanging malah mundhak ringkih lan bisa uga ilang dayane. Sipat seneng ngendhe-endhe iku mujudake dalan kang anjog marang watak ora antepan lan kesed, sungkan ing gawe sing tundhone dadi tanpa aji urip ing bebrayan.
Maknanya :
Semua pekerjaan yang sudah kau yakini manfaat dari hasilnya, hendaknya segera dilaksanakan, jangan ditunda. Niat dan tekad kalau ditunda-tunda tidak akan bertambah kuat. Justru menjadi semakin lemah bahkan hilang kekuatannya. Sifat suka menunda-nunda merupakan jalan menuju watak tidak tetap dan malas. Malas bekerja membuat kita tidak berharga dalam kehidupan bermasyarakat.
9. MAMPU MENYIMPAN RAHASIA DAN TIDAK INGIN TAHU RAHASIA ORANG LAIN
Sarupaning wewadi sing ala lan becik yen isih mbok keket kanti remiting ati salawase tetep dadi batur. Nanging yen mbok ketokake sathithik bae bakal dadi bendaramu.Nyimpen wewadine dhewe bae abot, apa maneh yen nganti pinitaya nggegem wewadining liyan. Mula saka iku aja sok dhemen meruhi wewadining liyan. Mung bakal nambahi sanggan sing sejatine dudu wajibmu melu ngopeni.
Maknanya :
Semua rahasia yang baik maupun buruk kalau tetap kau simpan dalam hati selamanya akan tetap menjadi budakmu. Sebaliknya kalau kau buka sedikit saja maka akan menjadi tuanmu. Menyimpan rahasia pribadi saja berat apalagi kalau dipercaya menyimpan rahasia orang lain. Oleh sebab itu jangan suka mengetahui rahasia orang lain. Hanya akan menambah beban yang sebetulnya bukan kewajibanmu untuk memeliharanya.
10. SUKSES: JANGAN HILANG KEWASPADAAN
Wong kang kinaran “sukses” yaiku: Wong kang wis ngetog kadibyane, ngudidaya nganti kecandhak gegayuhan lan idham-idhamane kang laras karo pepenginane. Tekane “sukses” durung ateges tamating crita, nanging malah kudu tansah luwih waspada, prayitna lan ngati-ati. Jalaran adhakane wong sing wis “sukses” banjur kurang kaprayitnane, sembrana lan gumampang ing sabarang tumindake, kang luput sembire bisa klenggak.Mula “sukses” iku anggepen kayadene sawijining pandadaran kanggo lestarining panggayuh becik.
Maknanya :
Orang sukses yaitu: Orang yang sudah mengeluarkan semua kemampuannya dan berupaya sampai tercapai harapan dan keinginannya sesuai yang dicita-citakan. Tercapainya sukses bukan berati akhir ceritera, justru harus lebih awas, waspada dan hati-hati. Mengingat sering kejadian setelah sukses orang menjadi kehilangan kewaspadaan, sembrono dan menganggap enteng segala sesuatunya sehingga berakibat fatal. Oleh sebab itu anggaplah sukses sebagai pelatihan demi kelestarian cita-cita yang baik.
11. WASPADA DENGAN IMING-IMING
Wong kang ringkih iman lan batine bakal gampang dadi jujugane durjana apus-apus kang pating sliwer golek mangsan. Pirang-pirang wong kang kaselak percaya rembug pangiming-iming ora pinikir bakal kedadeyane ing tembe. Wusanane nandhang kapitunan lan kena ing apus. Mula ditansah waspada, aja lirwa ing kaprayitnan.
Maknanya :
Orang yang ringkih iman dan batinnya akan mudah jadi target penipu yang berkeliaran mencari mangsa. Banyak orang yang terlalu cepat percaya iming-iming tanpa dipikir apa yang akan terjadi di belakang hari. Akhirnya mengalami kerugian dan tertipu. Oleh sebab itu selalulah waspada. Jangan kehilangan kewaspadaan.
12. PUJIAN: TIDAK SEMUDAH ITU DIDAPAT
Sapa wonge sing ora seneng yen entuk pangalembana. Nanging thukuling pangalembana iku ora gampang. Kudu disranani pakarti kang becik lan murakabi tumraping wong akeh. Yen mung disranani bandha, pangalembanane mung kandheg ing lambe bae, ora tumus ing ati. Dene yen disranani panggawe kang lelamisan, ing pamburine bakal kasingkang-singkang, disingkirake saka jagading pesrawungan
Maknanya :
Siapa orang yang tidak senang menerima pujian. Tetapi untuk memperolehnya tidaklah mudah. Harus dibekali perilaku baik yang bermanfaat untuk orang banyak. Kalau hanya berbekal harta, pujian hanya berhenti di bibir, tidak sampai ke dalam hati. Demikian pula kalau bekalnya perilaku yang “lamis” di belakang hari akan dimaki-maki dan disingkirkan dari dunia pergaulan.
13. KEHORMATAN: AKAN DATANG SENDIRI, TAK USAH DIBURU
Yen kepengin diajeni liyan, aja sok dhemen marta-martakake, apa maneh nganti mamerake kabisan lan kaluwihanmu. Pangaji-ajining liyan iku sejatine bakal teka dhewe, ora perlu mbok buru. Nuduhake kawasisan pancen kudu bisa milih papan lan empan. Mula kang prayoga kepara purihen aja kongsi wong liya bisa njajagi. Nanging mangsa kalane ngadhepi gawe-parigawe keconggah mrantasi.
Maknanya :
Bila ingin dihormati orang lain jangan suka memberitahukan kesana kemari apalagi kemampuan dan kelebihanmu. Penghormatan dari orang lain sebetulnya tidak perlu dikejar karena akan datang sendiri. Menunjukkan kelebihan harus empan papan, tahu kapan dan bagaimana caranya. Sebenarnya lebih baik jangan sampai orang bisa meraba kemampuanmu, tetapi kalau diperlukan kamu bisa mengatasi.
KESIMPULAN
Tidak kita ingkari bahwa manusia hidup mencari kalau tidak mengejar “drajat, semat dan kramat”. Hanya perlu diingat bahwa manusia dinilai dari perbuatannya, bukan dari pakaian atau yang serba lahiriyah lainnya. Dalam bekerja manusia hendaknya meneladani ketekunan air yang pelan-pelan mampu melobangi batu. Harus mau mengikuti petunjuk dan perintah atasan, mau mendengar saran orang lain, tetapi tidak terlalu sering memohon petunjuk maupun menganggap enteng suatu masalah. Dengan demikian pekerjaan tidak akan sering tertunda atau terhambat.
Dalam melaksanakan tugas, kita harus mampu menyimpan rahasia termasuk tidak ingin tahu rahasia orang lain. Setelah sukses jangan kehilangan kewaspadaan. Hati-hati dengan iming-iming. Bekerjalah dengan baik karena pujian tidak segampang itu kita peroleh sehingga tidak perlu kita kejar. Kehormatan justru akan datang sendiri tanpa diburu.
KUMPULAN CANGKRIMAN
A. CANGKRIMAN PEPINDHAN
1. Abang-abang dudu kidang, pesegi dudu pipisan (merah bukan kijang, pesegi bukan alat penggiling jamu). Jawaban: batu bata
2. Ana titah duwe gulu tanpa sirah, suwe silit nanging ora tau bebuwang (Ada makhluk punya leher tanpa kepala, punya anus tetapi tidak pernah buang air besar): Jawab: botol
3. Bapak Demang klambi abang yen disuduk manthuk-manthuk (Bapak Demang berbaju merah kalau ditusuk mengangguk-angguk): Jawab: Bunga (jantung) pisang
4. Bocah cilik blusak blusuk nang kebon (Anak kecil menyelinap di kebun). Jawab: Jarum
5. Bocah cilik nggendong omah (Anak kecil menggendong rumah): Jawaban: Siput
6. Dicakot bongkote sing kalong pucuke (Digigit pangkalnya yang berkurang ujungnya). Jawab: rokok
7. Dijupuki malah dadi mundhak gedhe (Diambil terus malah jadi semakin besar). Jawab: Orang menggali lubang.
8. Duwe rambut ora duwe endhas (Punya rambut tidak punya kepala) Jawab: Jagung
9. Dikethok malah tambah dhuwur (Dipotong malah bertambah tinggi). Jawab: Celana panjang
10. Emboke diidak idak anake dielus-elus (Ibunya diinjak-injak anaknya dibelai-belai): jawab tangga bambu
11. Emboke wuda anake tapihan (Ibunya telanjang anaknya pakai kain). Jawab: Pohon bambu dan anaknya (rebung)
12. Ing ngisor kedhung ing ndhuwur payung (di bawah danau di atas payung): Jawab: Orang menanak nasi pakai dandang. Ini ceritera jaman dandang belum digeser rice cooker. Anak sekarang mungkin sulit membayangkan.
13. Kayu mati ginubed ula mati (Kayu mati dililit ular mati). Jawab: Gangsingan, gasing, yang dililit tali dulu kemudian dilempar.
14. Kebo bule dicancang merang (Kerbau putih diikat merang). Merang = Batang padi. Jawab: Buntil (Makanan daerah Jawa. Terbungkus daun talas, didalamnya berisi parutan kelapa, ikan teri dan lain-lain. Paling luar supaya tidak lepas, diikat merang). Mengapa perumpamaannya mengambil binatang kerbau? Mungkin karena buntil itu gemuk seperti kerbau
15. Ora mudhun-mudhun yen ora nggawa mrica sak kanthong (Tidak turun kalau tidak membawa mrica sekantung). Jawab: Buah papaya (Biji papaya diibaratkan mrica sekantung)
16. Rasane padha karo jenenge (Rasanya sama dengan namanya). Jawab: Sepet (sabut kelapa).
17. Sawah rong kedhok galengane mung sitok (Sawah dua petak galengannya hanya satu). Jawab: daun pisang (tulang daunnya adalah galengan)
18. Tibane ngisor digoleki ndhuwur (Jatuhnya ke bawah dicari ke atas): Jawab: genteng bocor. Bisa juga dijawab dengan orang kentut
19. Wit Adhikih woh adhakah; Wit adhakah woh adhikih (Pohonnya kecil buahnya besar; Pohonnya besar buahnya kecil). Jawab: Buah semangka dan buah beringin
20. Wujude kaya kebo, ulese kaya kebo, lakune kaya kebo, nanging dudu kebo (Bentuknya seperti kerbau, warnanya seperti kerbau, jalannya seperti kerbau tetapi bukan kerbau). Jawab: Gudel (anak kerbau).
21. Yen mlaku sikile lore, yen mandheg sikile sepuluh (bila berjalan kakinya dua bila berhenti kakinya sepuluh). Jawab: Orang jualan sate atau lainnya yang dipikul dengan wadah jualan muka dan belakang kakinya masing-masing empat. Bisa dimodifikasi menjadi “yen mandheg sikile patbelas” (empatbelas). Kalau penjualnya bawa dingklik kaki empat. Kalau kaki tiga ya tigabelas.
B. CANGKRIMAN WANCAHAN
1. Burnas kopen: Bubur panas kokopen (Dikokop: makan dengan mulut langsung menempel di bibir mangkuk)
2. Buta buri: Tebu ditata mlebu lori (Tebu ditata masuk lori)
3. Gerbong tulis: Pager kobong watune mendhelis (Pagar terbakar batunya timbul)
4. Gowang pelot: Jagone ana lawang cempene mencolot (Ayan jagonya ada di pintu, anak kambingnya melompat
5. Itik pertis ibu perbeng ijah perlong: Tai pitik memper petis, tai kebo memper ambeng, tai gajah memper golong. (Tai ayam seperti petis, tai kerbau seperti ambeng dan tai gajah seperti golong). Ambeng: nampan besar; Golong: bongkahan besar. Cangkriman yang ini memang agak jorok.
6. Kablak ketan: (membacanya “koblok ketan). Nangka tiba ning suketan (Nangka jatuh di rerumputan)
7. Kicak ketan: Kaki macak iket-iketan (kakek-kakek berhias pakai destar)
8. Langdikum ditasbir: Lulang dikum dientas njebibir (Kulit direndam, setelah basah, diangkat akan mengembang)
9. Ling cik tu tu ling ling yu: maling mancik watu, watu nggoling maling mlayu (Maling naik batu, batu terguling maling lari)
10. Manuk biru: Pamane punuk bibine kuru (Pamannya gemuk bibinya kurus)
11. Nituk lersure: Nini ngantuk diseler susure (nenek-nenek ngantuk dicuri susurnya). Susur: Gumpalan tembakau yang dulu banyak diisap wanita, kebanyakan sudah setengah umur.
12. Pak boletus: Tapak kebo ana lelene satus (Telapak kerbau ada lelenya seratus)
13. Pak bomba pak lawa pak piut: Tapak kebo amba, tapak ula dawa, tapak sapi ciut (Jejak kerbau lebar, jejak ular panjang dan jejak sapi sempit)
14. Pindhang kileng: sapi ning kandhang kaki mentheleng: sapi di kandhang kakek mendelik matanya
15. Pindhang kutut: sapi mblandhang lukune katut (Sapi ngabur walukunya terbawa)
16. Pothel kidi: Tompo cemanthel kaki wedi (Kukusan tergantung kaki takut). Catatan: Yang dimaksud dengan "kaki" adalah kakek (kaki-kaki: orang tua)
17. Rangsinyu muksitu: Jurang isi banyu gumuk isi watu (Jurang berisi air bukit berisi batu)
18. Segara beldhes: Segane pera sambele pedhes (Nasinya kering sambalnya pedas)
19. Suru bregitu: Asu turu dibregi watu (Anjing tidur ditimpa batu). NB. Adegan ini jangan ditiru
20. Surles penen: Susur teles pepenen (Susur basah jemurlah). Susur: gumpalan tembakau yang diisap wanita. Termasuk bisa diisap ulang. Kalau sudah basah, dijemur, nanti kering diisap ulang
21. Tuwan sinyo: Untu kedawan gusi menyonyo (Gigi terlalu panjang gusi menonjol)
22. Tuwok rawan: Untune krowok larane ora karuwan (Giginya berlubang sakitnya tidak karuan)
23. Wit tho yung: Yen dijiwit athi biyung (Bila dicubit aduh emak)
24. Wiwawite lesbadhonge: Uwi dawa wite tales amba godhonge (Uwi panjang pohonnya, talas lebar daunnya). Uwi: sejenis tanaman ubi yang menjalar.
25. Wiwawite lesbadhonge jatos lempuk: Sama di atas ditambah jati atos (keras) dan pelem (Imangga) empuk
26. Wiwawite lesbadhonge karwapake: Sama di atas ditambah Cikar dawa tipake (Gerobak panjang jejaknya)
27. Yu mahe rong, lut mahe ndhut: Yuyu omahe ngerong, welut omahe lendhut (Ketam rumahnya di lubang, belut rumahnya di lumpur)
CANGKRIMAN TEMBANG
1. Tembang Asmaradhana: Wonten ta dhapur sawiji; Tanpa sirah tanpa tenggak; Mung gatraning weteng bae; Miwah suku kalihira; Nging tanpa dlamakan; Kanthaning bokong kadulu; Rumaket ing para priya (Adalah suatu wujud; Tanpa kepala tanpa leher; Hanya berbentuk perut saja; Dan kaki keduanya; Tetapi tanpa telapak kaki; Bentuknya bokong dapat dilihat; Akrab pada para pria). Jawabnya: Celana. Catatan: Pada masa itu belum banyak wanita yang memakai celana luar. Sehingga keterangan terakhirnya “ Rumaket ing para priya”
2. Tembang Kinanthi: Wonten putri luwih ayu; Tan ana ingkang tumandhing; Sariranira sang retna; Owah-owah saben ari; Yen rina kucem kang cahya; mung ratri mancur nelahi (Ada putri amat cantik; tidak ada yang menandingi; badan sang dewi; Berubah setiap hari; Kalau siang suram cahayanya; Hanya pada malam hari bersinar cahayanya). Jawaban: Rembulan
3. Tembang Pangkur: (Yang ini cangkriman blenderan berbentuk tembang) Badhenen cangkriman ingwang; Tulung-tulung ana gedhang awoh gori; Ana pitik ndhase telu; Gandhenana endhase; Kyai Dhalang yen mati sapa sing mikul; Ana buta nunggang grobag; Selawe sunguting gangsir. Jawaban: a. Gedhang awoh gori maksudnya gedhang awoh ditegori, pisang berbuah ditebangi; b. Pitik ndhase telu maksudnya pitik ndhase dibuntel wulu, ayam kepalanya dibungkus bulu; c. Ki Dhalang maksudnya kadhal dan walang, atau belalang. Jadi kalau mati ya tidak ada yang memikul; d. Ana buta nunggang grobag, maksudnya tebu ditata, tebu setelah ditata dimasukkan gerobak, kalau sekarang masuk truk; Selawe sunguting gangsir, maksudnya selawe adalah sak lawe, sebesar lawe atau benang tenun.
4. Tembang Pucung: Bapak pucung cangkemu marep mandhuwur; Sabane ing sendhang; pencokane lambung kering; Prapteng wisma si pucung mutah kuwaya (Bapak pucung mulutmu menghadap ke atas; Perginya ke mata air; Hinggapnya di pinggang kiri; Sampai rumah si pucung memuntahkan air). Jawab: Klenthing tempat air
5. Tembang Pucung: Bapak pucung dudu watu dudu gunung; Sangkamu ing sabrang; Ngon ingone sang Bupati; Yen lumampah si pucung lembehan grana (Bapak pucung bukan batu bukan gunung; Asalmu dari tanah seberang; Piaraan sang Bupati; Kalau berjalan si pucung berlenggang hidung). Jawab: gajah
6. Tembang Pucung: Bapak pucung renten-renteng kaya kalung; Dawa kaya ula; Pencokanmu wesi miring; Sing disaba si pucung mung turut kutha (Bapak pucung berangkai seperti kalung; Panjang laksana ular; Tempat bertenggermu besi miring; Yang didatangi si pucung dari kota ke kota). Jawab: kereta api
7. Tembang Pucung: Namung tutuk; Lan netra kalih kadulu; Yen pinet kang karya; Sinuduk netrane kalih; Yeku saratira bangkit ngemah-ngemah (Hanya mulut; Dan mata dua terlihat; Bila diminta kinerjanya; ditusukkan matanya yang dua; Itulah syarat dia mengunyah). Jawabannya: Gunting
CANGKRIMAN BLENDERAN
1. Biru bisane dadi wungu dikapakake? (Biru supaya bisa menjadi ungu diapakan). Jawab: Digebuk (Campuran cangkriman wancahan dan blenderan. Biru: Babi turu/tidur dan wungu: dalam bahasa Jawa berarti warna ungu atau bangun dari tidur)
2. Enak endi daging kucing karo daging pitik ? (Enak mana daging kucing dan daging ayam ? Jawab: Kalau menjawab enak daging ayam berarti pernah makan daging kucing. Modifikasi cangkriman ini banyak. Misal daging sapi, daging tikus dan lain lain).
3. Gajah ngidak endhog ora pecah (Gajah menginjak telur tidak pecah). Jawab: Yang tidak pecah gajahnya.
4. Gajah numpak becak ketok apane? (Gajah naik becak kelihatan apanya?) Jawab Ketok ndobose (kelihatan membualnya)
5. Suru supaya bisa mlayu dikapakake? (Suru: daun pisang yang dilipat dua kemudian dijadikan semacam sendok untuk makan nasi atau bubur. Suru disini adalah akronim dari asu turu atau anjing tidur. Mlayu adalah lari. Jadi merupakan campuran cangkriman wancahan dan blenderan. Jawab: Digebuk
6. Wong dodol tempe ditaleni (Orang jual tempe diikat). Jawab: Yang diikat bukan orangnya tetapi tempenya (Orang jual tempe di pasar tradisional. Tempe dibungkus daun jati atau daun pisang kemudian diikat pakai tali bambu atau lainnya)
7. Wong dodol klapa dikepruki (Orang jual kelapa dipukuli kepalanya). Jawab: Yang dikepruk bukan orangnya tetapi kelapanya (Orang jual kelapa di pasar tradisional).
8. Wong mati ditunggoni wong mesam-mesem (Orang mati ditungguin orang tersenyum-senyum). Jawab: Yang senyum bukan yang meninggal tetapi yang menunggui)
CANGKRIMAN YANG MEMANG HARUS DITEBAK
1. Ana kewan mapane ing alas. Saben wong mesthi wedi. Bareng digendhong dening manungsa, kewan iku ora medeni maneh, lan ora nyakot manungsa. Apa arane kewan iku? (Ada binatang bertempat tinggal di hutan. Setiap orang pasti takut. Kalau digendong manusia, binatang itu menjadi tidak menakutkan lagi dan tidak menggigit manusia. Binatang apa itu?). Jawabnya: Celeng; yang digendong manusia: celengan.
2. Ana piranti sabane ing pawon. Bareng ketiban cecak bisa mabur. Apa iku? (kalo). Ini cangkriman menggunakan huruf Jawa. Peralatan dapur tersebut adalah “kalo” yang biasa dipakai untuk mencuci sayuran yang sudah dipotong-potong. Kalo terdiri dari huruf “ka” dan “la” yang diberi “taling tarung” sehingga berbunyi “lo” Kalo kalau kejatuhan “ceceg”, artinya ditambah “ceceg” yaitu tanda baca yang mengubah “lo” menjadi “long” maka dari kalo akan menjadi kalong. Ya pasti bisa terbang.
3. Bosok malah enak (Busuk malah enak). Jawab: tape; bisa dijawab juga dengan “Tempe”
4. Dideleng gampang, dicekel angel (dilihat mudah, dipegang susah). Jawab: Matahari.
5. Dipedhanga, dimriyema, dibedhila ora mati nanging yen dicegati mati (Biarpun dipedang, dimeriam, ditembak tidak mati. Tetapi jika dihalangi mati). Jawab: Air. Air kalau dibendung akan berhenti.
6. Ing sadhuwuring lawang ana cecak. Yen cecak iku lunga, lawang iku dadi kewan kang bisa mabur. Apa arane kewan iku? Ini juga cangkriman menggunakan huruf Jawa. Lawang, terdiri dari huruf la dan wa, kemudian diberi ceceg di atas huruf wa sehingga berbunyi “wang”. Jadi kalau “lawang” cecegnya di ambil maka bunyinya menjadi “lawa”. Lawa adalah kelelawar, jadi bisa terbang. Cangkriman ke dua ini kebalikan yang pertama. Kalau yang pertama kejatuhan ceceg maka yang ke dua cecegnya lari
7. Lawa telu kalong loro ana pira ? (Kelelawar tiga kalong dua jumlahnya berapa ? Jawab: Kalau dijawab “satu” pasti salah. Yang benar jawabnya “lima”. Keterangan: Kalong dalam bahasa Jawa berarti “berkurang. Jadi kalau kita tidak jeli maka akan spontan menjawab “satu”. Kemudian ditertawakan semua orang. Cangkriman memang kadang-kadang jawabannya terlalu sepele.
(©) Imajiner Nuswantoro



