IMAJINER NUSWANTORO
Imajiner Nuswantoro merujuk pada visi atau konstruksi konseptual tentang Nusantara yang melampaui batas geografis politik saat ini. Konsep ini sering muncul dalam diskusi budaya, filsafat, dan seni di Indonesia untuk membayangkan kembali kejayaan, persatuan, atau identitas kepulauan dalam konteks modern atau masa depan.
Filsafat budaya adalah cabang filsafat yang mengkaji hakikat, makna, struktur, dan nilai-nilai kebudayaan sebagai hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Ini menganalisis bagaimana nilai-nilai dibentuk, berinteraksi, dan diubah dalam kehidupan bermasyarakat, serta membedakan kebudayaan (dinamis) dengan peradaban (statis/mencapai titik tertentu).
Berikut adalah poin-poin kunci mengenai filsafat budaya :
1. Fokus Kajian: Menganalisis unsur budaya, kaidah, derajat, dan nilai-nilai yang menyertainya. Ini juga mempelajari kaitan budaya dengan tradisi, agama, dan teknologi.
2. Peran & Tujuan:
- Mengkritis budaya yang tidak lagi sesuai dengan nilai-nilai luhur.
- Memahami secara mendalam kondisi sosial-kultural masyarakat.
- Menjawab pertanyaan mendasar tentang asal-usul, fungsi, dan eksistensi kebudayaan.
Contoh dalam Indonesia :
- Pancasila: Sebagai dasar dan filsafat budaya nasional yang mengintegrasikan nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan persatuan.
- Kearifan Lokal: Gotong royong, musyawarah, dan toleransi sebagai bentuk perwujudan nilai luhur.
- Konsep Terkait: Kebudayaan mencakup wujud ideal (gagasan/norma), aktivitas (tindakan berpola), dan artefak (hasil karya fisik).
Filsafat budaya membantu manusia untuk merefleksikan kembali budaya mereka di tengah perubahan zaman dan modernisasi.
Berikut adalah beberapa pilar utama dalam konsep Imajiner Nuswantoro :
1. Kesadaran Geobudaya : Memandang wilayah Asia Tenggara (terutama kepulauan) sebagai satu kesatuan budaya yang terhubung oleh laut, bukan dipisahkan olehnya. Ini mengacu pada memori kolektif era Sriwijaya dan Majapahit.
Geo budaya (Geografi Budaya) adalah cabang geografi yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannya, fokus pada persebaran, keragaman, dan interaksi produk budaya seperti bahasa, agama, adat istiadat, kesenian, serta bagaimana budaya membentuk lanskap fisik dan dipengaruhi oleh kondisi geografis suatu tempat. Ini mengkaji bagaimana budaya bermanifestasi di ruang dan waktu, menciptakan lanskap budaya yang unik, serta peran letak geografis (seperti posisi strategis atau kondisi alam) dalam membentuk identitas budaya, seperti rumah adat atau mata pencaharian di Indonesia.
Konsep Utama
- Interaksi Budaya & Lingkungan :
Bagaimana manusia beradaptasi dan memodifikasi alam, serta bagaimana alam memengaruhi cara hidup budaya (misalnya, rumah panggung di dataran tinggi).
- Keragaman Spasial Budaya :
Studi tentang variasi produk budaya (bahasa, agama, adat) di berbagai wilayah dunia.
- Lanskap Budaya (Cultural Landscape) :
Hasil interaksi antara aktivitas manusia dan lingkungan alam, yang menciptakan ciri khas suatu daerah (misalnya, terasering sawah, desa adat).
Contoh dalam Konteks Indonesia
a. Posisi Geografis :
Indonesia sebagai jalur silang dunia memengaruhi masuknya budaya asing (Hindu-Buddha, Islam, Eropa) yang berakulturasi dengan budaya lokal, menciptakan kekayaan budaya unik di setiap pulau (Jawa, Sumatera, dll.).
b. Kondisi Ekologis:
Topografi dan iklim memengaruhi bentuk rumah (atap rendah di gunung, tinggi di dataran rendah), mata pencaharian (nelayan di pantai, petani di pedalaman), dan pakaian adat.
c. Keragaman Seni & Adat:
Munculnya seni ukir Asmat, kesenian Jawa (Wayang Kulit, Ludruk), Karapan Sapi Madura, Tari Jaipong Sunda, hingga upacara adat seperti Ngaben Bali, yang semuanya terikat pada konteks geografis dan sejarah lokal.
Mengapa Penting ?
Geografi budaya membantu memahami identitas suatu bangsa, menjelaskan mengapa kelompok manusia berbeda, dan bagaimana budaya dapat menjadi kekuatan dalam pembangunan nasional, sekaligus menghadapi tantangan globalisasi.
2. Identitas Hibrida : Imajiner ini sering kali menggabungkan kearifan lokal (tradisi luhur, spiritualitas, dan hukum adat) dengan elemen kontemporer. Ini adalah upaya untuk menjawab tantangan globalisasi tanpa kehilangan "akar" jati diri.
Identitas hibrida adalah konsep sosiologis dan budaya yang merujuk pada pembentukan identitas baru hasil perpaduan antara dua atau lebih tradisi, budaya, atau latar belakang sosial yang berbeda.
Berikut adalah poin-poin utama mengenai identitas hibrida :
- Proses Pembentukan: Muncul ketika seseorang atau kelompok masyarakat terpapar pada pengaruh budaya yang berbeda (misalnya melalui migrasi, globalisasi, atau kolonisasi) dan memilih untuk menggabungkan elemen-elemen tersebut alih-alih memilih salah satu.
- Ruang Ketiga (Third Space): Istilah yang dipopulerkan oleh Homi K. Bhabha ini menjelaskan bahwa hibriditas menciptakan ruang baru di mana identitas tidak lagi kaku, melainkan dinamis dan terus berubah.
Contoh Nyata :
- Budaya: Seseorang keturunan Tionghoa yang lahir dan besar di Indonesia (Tionghoa-Indonesia), yang menggabungkan tradisi leluhur dengan nilai-nilai lokal.
- Bahasa: Penggunaan bahasa campuran seperti Singlish (Singaporean English) atau bahasa anak muda Jakarta yang mencampur bahasa Indonesia dan Inggris.
- Gaya Hidup: Perpaduan selera kuliner, cara berpakaian, atau keyakinan yang mencerminkan pengaruh global dan lokal sekaligus (glokalisasi)
Identitas hibrida menantang gagasan bahwa identitas harus bersifat murni atau homogen, serta menunjukkan bahwa keberagaman identitas adalah bagian alami dari dunia yang semakin terhubung.
3. Visi Futuristik (Nusantara 2045/2026): Dalam konteks pembangunan seperti Ibu Kota Nusantara (IKN), istilah ini sering dikaitkan dengan transformasi Indonesia menjadi pusat peradaban baru yang berkelanjutan dan berbasis teknologi, namun tetap selaras dengan alam (konsep Forest City).
Visi futuristik Ibu Kota Nusantara (IKN) adalah membangun sebuah kota yang cerdas, hijau, berkelanjutan, dan manusiawi, sekaligus menjadi simbol kemajuan peradaban Indonesia pada 100 tahun kemerdekaannya. Nusantara dirancang bukan hanya sebagai pusat pemerintahan baru, tetapi sebagai pusat inovasi ekonomi dan keberlanjutan yang sejalan dengan Visi Indonesia Emas 2045.
Berikut adalah pilar-pilar utama visi futuristik Nusantara :
a. Konsep Smart Forest City (Kota Hutan Cerdas)
Nusantara mengusung konsep Smart Forest City yang menggabungkan kemajuan teknologi modern dengan pelestarian alam.
- Kehijauan: Sebanyak 75% wilayah IKN dialokasikan sebagai ruang hijau, di mana pembangunan fisik hanya menempati 25% sisanya.
- Lingkungan: Targetnya adalah mencapai kota dengan emisi nol bersih (net zero) pada tahun 2045, menjadikannya salah satu kota paling ramah lingkungan di dunia.
b. Kota Cerdas Berbasis Teknologi (Smart City)
Sebagai pusat digitalisasi, IKN akan menerapkan teknologi dalam seluruh aspek kehidupan perkotaan untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas hidup.
- Mobilitas Cerdas: Pengembangan sistem transportasi umum yang terintegrasi, berbasis energi bersih, dan efisien.
- Tata Kelola: Penggunaan teknologi digital dalam pemerintahan (smart governance) untuk layanan publik yang lebih cepat dan transparan.
c. Kota Kelas Dunia untuk Semua (World Class City for All)
Nusantara dirancang sebagai kota inklusif yang nyaman, aman, dan dapat diakses oleh semua kalangan.
- Manusiawi: Desain kota menekankan pada ruang pejalan kaki, ruang terbuka publik, dan konektivitas yang memudahkan interaksi sosial.
- Budaya: Mempertahankan kearifan lokal dalam perancangan infrastruktur modern untuk menciptakan identitas kota yang khas.
d. Pendorong Ekonomi Indonesia Timur
Nusantara diposisikan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru, sekaligus memicu pemerataan pembangunan ke wilayah Indonesia Timur. Pembangunan ini diharapkan menjadi penggerak rantai nilai domestik yang lebih kuat.
e. Fase Pembangunan Futuristis
Pembangunan IKN dilakukan secara bertahap dengan target fungsional sebagai ibu kota politik pada tahun 2028, mencakup pusat eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Dengan visi ini, Nusantara tidak sekadar memindahkan pusat pemerintahan, melainkan mentransformasi wajah peradaban Indonesia menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.
4. Gerakan Literasi dan Seni: Banyak komunitas seni menggunakan istilah ini untuk menciptakan karya baik novel, karya tulis, artikel, lukisan, maupun musik yang mengeksplorasi "apa jadinya jika nilai-nilai Nusantara diterapkan secara murni di masa depan."
Gerakan Literasi dan Seni adalah upaya terpadu untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan apresiasi budaya melalui perpaduan kegiatan membaca, menulis, serta ekspresi artistik (seni rupa, musik, tari, sastra). Gerakan ini bertujuan membangun karakter, memperkaya wawasan, dan memupuk imajinasi, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat, dengan mengintegrasikan apresiasi karya seni ke dalam budaya baca-tulis.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai Gerakan Literasi dan Seni:
- Tujuan Utama: Tidak sekadar membaca, tetapi memahami, menganalisis, mengkritisi, dan mengapresiasi informasi serta karya seni. Gerakan ini juga bertujuan meningkatkan minat baca, kemampuan menulis, serta mengekspresikan gagasan secara positif.
- Literasi Seni: Merujuk pada pemahaman mendalam dan apresiasi terhadap berbagai bentuk seni seperti visual, musik, tari, dan teater. Ini juga mencakup penggunaan karya seni sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berbicara dan menulis, terutama pada anak-anak.
Implementasi di Sekolah:
- Kegiatan pembiasaan membaca non-pelajaran 15 menit sebelum pelajaran dimulai.
- Pengembangan literasi melalui kegiatan diskusi buku, apresiasi seni, festival buku, dan bazar literasi.
- Integrasi seni sebagai katalis pembentukan karakter dan literasi, misalnya melalui pameran karya seni, bercerita, atau membuat komik.
- Gerakan di Masyarakat: Melibatkan komunitas literasi, penyediaan taman bacaan, dan penggunaan ruang publik untuk kegiatan seni-budaya, seperti street art untuk edukasi.
- Literasi Budaya: Melestarikan kebudayaan lokal, gotong royong, dan kegiatan seni tradisional sebagai bagian dari identitas bangsa.
Gerakan ini menciptakan ekosistem kreatif yang membuat literasi menjadi gaya hidup yang menyenangkan dan bermakna.
Secara ringkas, Imajiner Nuswantoro adalah sebuah cara pandang untuk mendefinisikan ulang kekuatan Indonesia dan kawasan sekitarnya melalui lensa sejarah, budaya, dan cita-cita masa depan yang bersatu.
Imajiner Nuswantoro

