Kisah Puntadewa (Darmakusuma, Yudhistira) Berdialog Dengan Sunan Kalijaga
Puntadewa memiliki banyak nama lain seperti Yudistira, Gunatalikrama, Darmakusuma, Darmaputra, Ajatasatru, Samiaji, dan Wijakangka; ia adalah putra sulung Pandawa yang dikenal bijaksana, sabar, jujur, dan tidak suka berperang, serta merupakan titisan Dewa Yama. Nama-nama ini mencerminkan sifat-sifatnya seperti kesabaran luar biasa (Ajatasatru: tidak punya musuh), kepemimpinan (Dharmaputra, Wijakangka), dan keagungan (Puntadewa: setara dewa).
BACA JUGA :
JAMUS KALIMASADA / KALIMOSODO
Pusaka Puntadewa Serat Jamus Kalimasada Asalnya Dari Kalimat Syahadat
SERAT JAMUS KALIMASADA
.
Nama-nama Lain Puntadewa :
- Yudistira: Nama paling umum, berarti pandai memerangi nafsu pribadi.
- Gunatalikrama: Pandai bertutur kata/berbahasa.
- Darmakusuma / Dharmaputra: Keturunan Dewa Dharma.
- Ajatasatru: Tidak memiliki musuh, karena ia tidak suka berperang.
- Samiaji: Menghormati orang lain seperti diri sendiri.
- Wijakangka: Nama kecilnya saat muda.
- Bharata: Keturunan Maharaja Bharata.
- Kurunandana / Kurupati: Kesayangan atau raja bangsa Kuru.
- Kalimataya / Sri Dermawangsa / Harya Cakranegara: (nama lain dalam pewayangan Jawa).
Nama asli Sunan Kalijaga adalah Raden Said atau Raden Sahid, ia juga dikenal dengan sebutan lain seperti Jaka Said, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman, dengan nama Kalijaga sendiri berasal dari kisah ia menjaga tongkat di tepi sungai saat berguru pada Sunan Bonang, yang berarti penjaga kali.
Lakon pertemuan Sunan Kalijaga dengan Puntadewa (Yudhistira) adalah kisah simbolis pergeseran zaman dari Hindu-Jawa menuju pengaruh Islam di Nusantara. Pertemuan ini menekankan pesan moral tentang keadilan, kepemimpinan yang jujur, dan penyisipan nilai tauhid (Kalimasada) ke dalam ajaran moralitas Jawa klasik yang diwakili Puntadewa, titisan Dewa Darma.
Pesan Moral dan Sindiran: Dalam kisah ini, Puntadewa mengeluh tentang pemimpin yang berebut tahta untuk kekayaan, bukan pengabdian. Sunan Kalijaga mengingatkan bahwa esensi kebenaran (yang dicari di luar) sebenarnya ada dalam diri sendiri.
Simbol Kalimasada: Pertemuan ini menafsirkan Jamus Kalimasada (pusaka Puntadewa) sebagai Kalimah Syahadat (ajaran Islam), mengubah makna pusaka fisik menjadi iman dan tauhid.
Dakwah Kultural: Ini adalah contoh pendekatan dakwah Sunan Kalijaga yang menggunakan seni wayang sebagai media, akomodatif terhadap budaya lokal untuk menyebarkan Islam.
Pertemuan ini sering dipentaskan dalam budaya wayang kulit sebagai bentuk dialog antara ajaran lama (Hindu-Budha) dan pandangan baru (Islam) yang disampaikan secara halus.
Ini bukan sekadar tafsir baru dalam dunia pedalangan wayang Jawa. Lakon Puntadewa Bertemu Sunan Kalijaga merupakan jembatan batin antara dunia pewayangan Mahabharata dan spiritualitas Jawa Islam. Di dalamnya tersirat kritik sosial, pembacaan ulang terhadap kekuasaan, dan renungan panjang permasalahan jati diri bangsa.
Dalam lakon pewayangan Jawa, Puntadewa digambarkan tengah resah. Sebagai raja suci dari Hastinapura, ia mengalami kegelisahan akibat keretakan moral bangsawan dan penderitaan rakyat. Ia merasa kehilangan arah, tak tahu lagi bagaimana memimpin tanpa menjadi tiran. Maka, ia bertapa di lereng gunung. Di tengah heningnya laku spiritual itu, datanglah sosok misterius Sunan Kalijaga.
Pertemuan antara Puntadewa dan Kalijaga adalah metafora pertemuan dua jaman dunia Hindu-Jawa klasik dan dunia Islam-Nusantara. Dialog Sunan Kalijaga tak datang untuk menggantikan Puntadewa, melainkan untuk menyadarkannya.
Panjenengan mencari Kalimasada, tapi lupa isinya, ujar Kalijaga dalam dialog. Ucapan itu menghentak. Kalimasada selama ini diyakini sebagai pusaka sakti keluarga Pandawa.
Namun Kalijaga menjelaskan bahwa Kalimasada bukan benda, bukan jimat bertuliskan aksara rahasia, melainkan tata nilai :
- kejujuran,
- welas asih,
- kearifan, dan
- keberpihakan pada yang lemah.
Dalam tangan Kalijaga, Kalimasada diartikan sebagai "kalimat sakti" yang sejatinya adalah pedoman hidup. Sebuah jimat nilai, bukan jimat kekuasaan. Sebuah pedoman spiritual yang menggabungkan ajaran budaya dan agama dalam kesadaran kemanusiaan. Dalam kebudayaan Jawa, Kalimasada sering dihubungkan dengan kalimat syahadat.
Kalimasada sebagai simbol kearifan lokal Nusantara, tempat Islam hadir bukan sebagai penakluk, tapi sebagai pengayom. Dalam lakon ini, nilai-nilai Islam dibumikan lewat cara yang halus tembang, suluk, dan sabda dalang pewayangan.
Ketika Kalijaga berbicara kepada Puntadewa, ia tidak menguliahi, tetapi menembang. Ia tidak menunjukkan kitab, tetapi menunjukkan perilaku. Nilai yang disampaikan bukan melalui doktrin, melainkan laku. Dialog tersebut bukan debat agama, melainkan rasa damai.
Maka tak heran jika dalam pertunjukan ini, Kalimasada juga dibaca sebagai metafora dari Pancasila. Lima sila dasar negara, dalam lakon ini, terasa seperti resonansi nilai Kalimasada. Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan semua itu adalah "sabda" yang harus dibaca dalam hati, bukan hanya diucapkan di podium.
Puntadewa mengeluh bahwa kini para penguasa saling berebut tahta, bukan untuk mengabdi, melainkan untuk memperkaya diri. Kalijaga tidak menyalahkan, hanya tersenyum dan berkata: Yang kau cari di luar, sudah lama ditinggalkan di dalam.
Bahwa hari ini, banyak pemimpin mencari legitimasi dari simbol, dari narasi besar, dari klaim warisan sejarah. Namun lupa bahwa yang paling penting adalah isi. Banyak orang bicara soal Kalimasada, namun sedikit yang membaca isinya. Banyak yang mengangkat nama rakyat, namun tak mendengarkan jeritan mereka.
Penguasa tanpa laku hanyalah wayang yang kehilangan dalang. Pemerintahan tanpa nilai hanyalah pertunjukan kosong yang menunggu roboh. Dalam dunia yang makin gaduh oleh polarisasi politik, ujaran kebencian, dan perebutan panggung, lakon ini menjadi suluh batin.
Refleksi Transisi Zaman (Dari Pewayangan Hindu-Jawa ke Spiritualitas Islam Nusantara)
Lakon Puntadewa Bertemu Sunan Kalijaga menyajikan sebuah transisi besar antara dua dunia yang berbeda: Hindu-Jawa klasik dan Islam Nusantara. Ini bukan sekadar pertemuan dua tokoh besar, namun juga sebuah simbol dari pergeseran zaman, dari ajaran-ajaran yang berakar pada mitologi Hindu-Budha menuju pengaruh Islam yang menyebar dengan cara yang sangat khas Nusantara.
Dalam konteks ini, Puntadewa yang merupakan raja suci dari Hastinapura, digambarkan mengalami kebingungannya terhadap keadaan bangsawannya yang semakin korup. Di tengah kegelisahan ini, ia bertemu dengan Sunan Kalijaga, seorang tokoh spiritual yang bukan hanya membawa ajaran agama, tetapi juga menawarkan kebijaksanaan yang memadukan nilai-nilai lokal dengan ajaran Islam.
Transisi ini mencerminkan bagaimana Islam, yang datang ke Nusantara, tidak memaksakan diri sebagai kekuatan yang menggantikan, melainkan hadir untuk menuntun dan memberi pencerahan, menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan baru tanpa melupakan budaya dan kearifan lokal. Kalimasada, yang pada awalnya dipahami sebagai benda atau pusaka sakti, kini diperkenalkan sebagai nilai-nilai kemanusiaan yang lebih universal. Bukan lagi sekadar jimat kekuasaan, tetapi pedoman hidup yang mendalam dan relevan untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ketika Kalijaga berbicara kepada Puntadewa, ia tidak menguliahi, tetapi menembang. Ia tidak menunjukkan kitab, tetapi menunjukkan perilaku. Nilai yang disampaikan bukan melalui doktrin, melainkan laku. Dalam dialog merajut semua ini dengan begitu halus sehingga bukan debat agama, melainkan rasa damai.
Pesan Kebangsaan dalam Laku dan Makna
Lakon Puntadewa Bertemu Sunan Kalijaga sejatinya adalah lakon tentang kita. Tentang bangsa yang kaya akan simbol dan jimat, tetapi sering lupa makna. Tentang rakyat yang gemar menonton wayang, tapi kadang lupa bercermin dari tokohnya. Tentang pemimpin yang mendaku dirinya titisan Pandawa, tapi tak pernah bertapa untuk rakyatnya.
Ketika Kalijaga menyerahkan kembali Kalimasada kepada Puntadewa, ia berkata, "Kekuasaan sejati adalah kemampuan menjaga sesama tetap utuh, meski dirimu remuk." Kalimat itu menusuk, menjadi renungan di tengah politik yang semakin transaksional. Apakah kita hari ini masih memiliki pemimpin yang rela remuk demi menjaga rakyatnya utuh ?
Kalimasada bukan benda. Ia adalah pesan. Pesan yang dititipkan lewat laku. Dan laku itulah yang kini sedang diuji, hari demi hari, di negeri yang katanya sudah merdeka.
Siapa yang hari ini memegang Kalimasada? Apakah mereka para pemimpin negeri, atau para pedagang mimpi? Siapa yang hari ini meneladani Kalijaga? Apakah mereka yang berteriak paling keras, atau yang berjalan paling sunyi ?
Kalimasada
Kalimasada (kalimat sahadat) sebagai ajaran (tauhid) islam masuk dalam cerita pewayangan. Puntadewa yang juga mempunyai nama Dharmakusuma yang juga Yudhistira menjadi wayang pilihan yang memegang surat atau Jamus Kalimasada.
Dalam lakon Jamus Kalimasada Kajarwa, gambar kiri adalah jejeran di Kasultanan Demak. Sultan Demak Raden Patah dengan menerima pisowanan para Wali.
Gambar kanan adalah adegan Prabu Puntadewa bersama Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga sedang membaca isi Jamus Kalimasada yang hanya berupa kertas putih tanpa tulisan. Sunan Kalijaga membaca kertas putih tersebut agar nantinya ditirukan oleh Prabu Puntadewa. Isi Jimat Jamus Kalimasada berupa Kalimah syahadah yang berbunyi : " Asyhadu allaa ilaaha illallah, Wa asyhadu anna Muhammadarrasuulullah"
Artinya : Saya besaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
Setelah Raden Puntadewa mengucapkan kalimah syahadat tersebut, Prabu Puntadewa menjadi musna, kemudian masuk nirwana/surga yang sudah ditunggu -tunggu oleh saudara-saudaranya Pandawa beserta para punakawan, Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.
Dalam pedahlangan diceritakan bahwa Puntadewa adalah putra dari Dewi (dalam hal ini manusia) Kunthi dengan Bethara (Dewa ya dewa, bukan manusia) Darma melalui mantra Adityarhedaya. Dewa Darma di Kahyangan (Surga) adalah dewa kebenaran dan keadilan. Alkisah Prabu Pandhu saat itu ingin memiliki seorang putra yang dapat bertindak adil dan benar. Dalam pewayangan, Puntadewa ekalimasada miliki watak/sifat yang halus,penurut, bersahaja, rela,iklas,sabar, menerima.Puntadewa menjadi tokoh wayang yang memiliki darah berwarna putih.Menjadi lambang wayang yang berhati bersih dan suci.Maka sangat tepat sekali bila Puntadewa dipilih sebagai tokoh yang memiliki Jamus kalimasada
Masih berkaitan dangan halatau kalimat sahadat, di tanah Demak ada cerita tutur tinular (cerita turun temurun kali ya, cerita dari kakek nenek). Waktu itu Sunan Kalijaga (salah satu tokoh walisanga) bertemu dengan seorang yang sudah tua pikun.Orang tadi mengaku bernama Darmakusuma, yang sudah lama sekali berkelana kemana mana. Pada akhirnya dia mengeluh kepada Sunan Kalijaga supaya diberitahu jalan mati (makssudnya: sudah tua pikun, pengin segera mati kog ya ndak mati2).Sunan Kalijaga memberi petunjuk untuk membaca kalimasada atau kalimat sahadat.
Diceritakan bahwa setelah Darmakusuma membaca kalimasada , dia langsung meninggal. Mayatnya diurus dan dikuburkan dibelakang Masjid Demak. Ternyata kalimat sahadat dalam dunia pewayangan diletakkan oleh walisanga dalam penggarapan cerita wayang secara indah dan unik. Dalam bulan puasa yang penuh berkah dari Allah SWT ini, watak dan sifat Puntadewa tadi dapatlah menjadi cermin atau teladan yang dapat diterapkan dalam dunia keluarga.
Pertemuan Terakhir Puntadewa dengan Sunan Kalijaga, Perjalanan Sebelum Moksa Ditemani Seekor Anjing yang Ternyata Sosok Dewa Pelindung Pandawa.
Puntadewa adalah sosok yang dikenal dengan kebijaksanaan dan kesabarannya. Sebagai putra sulung Pandu, ia diberkahi oleh Batara Darma, dewa keadilan.
Namun, tak banyak yang tahu bahwa perjalanan hidup Puntadewa tak berhenti di lakon Baratayudha. Ia juga dikisahkan bertemu Sunan Kalijaga di akhir hayatnya.
Puntadewa atau Yudhistira merupakan anak pertama dari 5 bersaudara Pandawa yang sangat terkenal di wayang kulit Jawa.
Pandawa terdiri dari Puntadewa, Bima/Bratasena, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Mereka juga karakter yang selalu mendapatkan perlindungan dari para dewa.
Salah satu dewa pelindung Pandawa adalah Batara Darma. Ia merupakan sosok dewa yang merupakan ayah angkat dari Puntadewa, sehingga ia juga menyandang nama Dharmaputra atau Dharmakusuma.
Puntadewa merupakan salah satu karakter yang terkenal dari kesabaran dan kebijaksanaannya.
Peran Batara Dharma dalam membantu dan menaungi Pandawa adalah pada saat kelahiran Puntadewa.
Batara Darma juga yang melindungi Dewi Drupadi saat peristiwa Pandawa Dadu.
Bahkan, Batara Darma pula yang mendampingi perjalanan dari Puntadewa sampai bertemu Sunan Kalijaga, yaitu akhir hayat Puntadewa yang moksa.
Salah satu tokoh Wali Songo ini dikenal sebagai tokoh penyebar Islam yang menggunakan pendekatan budaya, termasuk wayang kulit.
Dalam pertemuan tersebut, Puntadewa dan Sunan Kalijaga diyakini berdialog mengenai nilai-nilai keadilan, kesabaran, dan makna kehidupan.
Saat menjelang akhir hayat, Puntadewa kembali ditemani Batara Darma dalam wujud seekor anjing.
Ia mengikuti Puntadewa dalam perjalanan menuju sorga. Namun, ketika tiba di gerbang sorga, anjing tersebut dilarang masuk.
Puntadewa dengan tegas menolak masuk ke sorga jika sahabat setianya tidak diperbolehkan ikut.
Kesetiaan dan kebijaksanaannya kembali diuji. Di saat itulah anjing tersebut menjelma kembali menjadi Batara Darma, membuktikan bahwa Puntadewa telah lulus ujian terakhirnya.
Kajian Centhini (133:6-12): Sunan Kalijaga Bertanya Maksud Pertapaan Prabu Yudhistira
Pupuh 133 Pangkur (metrum: 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i), bait ke-6 sampai bait ke-12, Serat Centhini:
(n)Jêng Sunan sampun widagda, têmbung Buda dènnya asung pambagi. Mênggah mangke têmbungipun, dhuh sang nêmbe kapanggya, kula nilakrami ing sanak satuhu, sintên jujuluk sampeyan, tuwin kawijilan pundi.
Punapa ingkang sinêdya, dene lênggah nèng wana tanpa kanthi, miwah ing pasêmonipun, kadi nandhang sungkawa. Kang tinanya mangêrtos lajêng umatur, ugi cara basa Buda, makatên Jawinirèki.
O ênggèh kiyai sanak, jêngandika satuhu wus udani, lêpasing tyas kang kalimput, kula Ki Yudhisthira, kawijilan saking Ngamarta rumuhun, duk ing nguni jaman Buda, maksih Brahma kang agami.
(n)Jêng Sunan Kali duk myarsa, langkung ngungun nulya tatanya malih, kisanak kala rumuhun, mlampah damêl punapa. Walèh-walèh punapa kala rumuhun, sayêtosipun kawula, jumênêng sri narapati,
kadhaton nagri Ngamarta, Yudhisthira inggih jujuluk mami. Balik sampeyan sang luhung, ing wingking kang pinangka, lan ing ngajêng lajêr sêdyanirèng kalbu, miwah sintên kang sinambat. Dhuh Yudhisthira sang aji,
andangu nami kawula, Sunan Kalijaga kalêbêt Wali, saking tlatah Majalangu, ing Girigajahpura. Dhatêng kula saèstune dipunutus, Sunan Giri lurah amba, pêrlu kinèn mariksani.
kawontênane kang wana, dene têka wontên ingkang (n)dahwèni, damêl wilalat satuhu, maring kang sami babat. Sampun kula salasak ing wana kêmput, samya tan na kara-kara, muhung andika pribadi.
Kajian per kata :
(n)Jêng Sunan (Kangjeng Sunan) sampun (sudah) widagda (pintar, sempurna ilmunya), têmbung (bahasa) Buda (agama Budha) dènnya (dia pakai) asung (memberi) pambagi (salam). Kangjeng Sunan sudah sempurna ilmunya, segera memakai bahasa Budha dia pakai untuk memberi salam.
Sunan Kalijaga adalah wali yang bijaksana dan sempurna ilmunya. Mengetahui bahwa si lawan bicara tak mengerti bahasanya segera menyapa dengan bahasa yang dipakai kalangan agama Budha. Mungkin yang dimaksud adalah bahasa Jawa Kuna atau semacamnya. Mengingat Prabu Yudhistira hidup di zaman dahulu. Menurut serat Pustaka Raja Purwa kerajaan Astina muncul di sekitar tahun 800 Saka. Zaman keemasan kerajaan itu ketika diperintah oleh Yudhistira sebagai Maharaja yang membawahi tanah Jawa bagian timur. Di tahun-tahun itu orang Jawa masih memakai bahasa Jawa Kuna dalam percakapan sehari-hari.
Mênggah mangke (adapun) têmbungipun (perkataannya), dhuh (duhai) sang (yang) nêmbe (baru saja) kapanggya (bertemu), kula (saya) nilakrami (bertanya, dengan hormat) ing (pada) sanak (saudara) satuhu (sungguh), sintên (siapa) jujuluk (panggilan) sampeyan (Anda), tuwin (serta) kawijilan (asal) pundi (dari mana). Adapun perkataan (Sang Sunan) sebagai berikut, “Duhai saudara yang baru saja bertemu, saya bertanya dengan hormat pada saudara sungguh, siapa panggilan saudara serta asal dari mana?”
Dalam serat Panitisastra, kata silakrama artinya sikap hormat, nilakrama dalam bait ini artinya menyela dengan hormat untuk bertanya siapa nama dan asalnya. Pertanyaan Sunan Kalijaga tersebut diucapkan dalam bahasa Jawa Kuna yang kira-kira bisa dimengerti oleh sang pertapa.
Punapa (apakah) ingkang (yang) sinêdya (dikehendaki), dene (adapun, mengapa) lênggah (duduk) nèng (ada di) wana (hutan) tanpa (tanpa) kanthi (pengiring), miwah (serta) ing (dalam) pasêmonipun (raut mukanya), kadi (seperti) nandhang (mengalami) sungkawa (kesedihan). Apakah yang dikehendaki sampai duduk di hutan tanpa pengiring, serta dalam raut muka terlihat seperti mengalami kesedihan.
Sunan Kalijaga bertanya lagi, masih dengan sikap hormat, mengapa orang tersebut berada sendirian di tengah hutan, dan mengapa terlihat seperti sedang mengalami kesedihan.
Kang (yang) tinanya (ditanya) mangêrtos (mengerti) lajêng (lalu) umatur (berkata, menjawab), ugi (juga) cara (dengan cara) basa (bahasa) Buda (Budha), makatên (begini) Jawinirèki (dalam bahasa Jawanya). Yang ditanya mengerti lalu menjawab, juga dengan cara bahasa Budha, demikian dalam bahasa Jawanya.
Pertanyaan Sang Sunan yang sopan dan penuh empati, dan memakai bahasa Jawa lama rupanya membuat si manusia besar itu tergerak untuk menjawab. Ternyata benar bahwa diamnya orang besar itu karena tidak mengerti bahasa yang dipakai oleh Sunan Kalijaga. Begitu Sunan memakai bahasa Budha, orang itu mengerti dan dapat menjawab pertanyaan dengan lancar. Kira-kira seperti di bawah ini percakapan mereka kalau dijawakan.
O ênggèh (Oh ya) kiyai sanak (saudara), jêngandika (Anda) satuhu (sungguh) wus (sudah) udani (mengetahui), lêpasing tyas (suasana hati) kang (yang) kalimput (diliputi kesedihan), kula (saya) Ki Yudhisthira (Ki Yudhistira), kawijilan (asal) saking (dari) Ngamarta (Amarta) rumuhun (dahulu), duk (ketika) ing (pada) nguni (waktu dulu) jaman (zaman) Buda (Budha), maksih (maksih) Brahma (Brahma) kang agami (agamanya). “Oh ya saudara, Anda sungguh sudah mengetahu suasana hati yang diliputi kesedihan, saya Ki Yudhistira asal dari negeri Amarta di zaman dahulu, ketika masih dikuasai agama Brahma.
Orang besar itu memperkenalkan diri sebagai Ki Yudhistira dari negeri Amarta di zaman dahulu, zaman ketika Pulau Jawa masih dikuasai kerajaan yang memeluk agama Brahma. Ketika itu, di zaman Sunan Kalijaga hidup negeri Amarta sudah lama lenyap dari percaturan kerajaan di Jawa. Kekuasaan di pulau Jawa masih dipegang oleh Majapahit, tetapi negeri Majapahit sudah di ambang senjakala. Oleh karena itu para wali bermaksud mendirikan negeri baru yang berlandaskan agama Islam. Karena sebagian besar kawula Majapahit sudah berganti agama dari agama lama mereka ke Islam.
(n)Jêng (Kangjeng) Sunan Kali (Sunan Kalijaga) duk (ketika) myarsa (mendengar), langkung (sangat) ngungun (heran) nulya (lalu) tatanya (bertanya) malih (lagi), kisanak (saudara) kala (zaman) rumuhun (dahulu), mlampah (melakukan) damêl (pekerjaan) punapa (apa). Kangjeng Sunan Kalijaga ketika mendengar sangat heran, lalu bertanya lagi, “Saudara di zaman dahulu melakukan pekerjaan apa?”
Mendengar penuturan Ki Yudhistira Sunan Kalijaga merasa sangat heran karena bertemu manusia dari zaman dahulu kala, zaman yang sudah sangat lama. Lalu Sunan Kalijaga menanyakan lagi, “Apa pekerjaan saudara dahulu?”
Walèh-walèh punapa (terus terang saja) kala (zaman) rumuhun (dahulu), sayêtosipun (sebenarnya) kawula (saya), jumênêng (berdiri) sri narapati (Raja), kadhaton (kerajaan) nagri (negara) Ngamarta (Amarta), Yudhisthira (Yudhistira) inggih (itulah) jujuluk (gelar) mami (saya). “Terus terang saja di zaman dahulu sebenarnya saya adalah seorang raja di kerajaan Amarta, Yudhistira itulah gelar saya.”
Sang Yudhistira menjawab bahwa dirinya dahulu adalah seorang Raja di negeri Amarta. Lebih tepatnya sebenarnya adalah Astinapura. Karena Amarta hanyalah negara bagian dari Astinapura. Sebelum terjadi perang Baratayuda Yudhistira adalah raja Amarta. Setelah menang perang Baratayuda Yudhistira menjadi maharaja di Astinapura yang wilayahnya mencakup beberapa kerajaan bawahan.
Balik (gantian) sampeyan (Anda) sang (sang) luhung (terhormat, mulia), ing (di) wingking (belangka) kang (yang) pinangka (asal), lan (dan) ing (di) ngajêng (depan) lajêr sêdyanirèng (maksud dalam) kalbu (hati), miwah (serta) sintên (siapa) kang (yang) sinambat (namanya). Ganti Anda yang mulia, dari manakah asal dan apa maksud dalam hati, serta siapa nama Anda.
Kalimat ing wingking kang pinangka adalah ungkapan menanyakan asal usul. Adapun ing ngajeng sedyanira adalah ungkapan menanyakan maksud kedatangan. Ungkapan yang halus dan penuh hormat dari Raja Yudhistira kepada Sang Sunan untuk menanyakan asal, maksud dan nama. Keduanya tampak sudah saling cocok sebagai kawan bicara. Sudah jumbuh antara keduanya.
Dhuh (Duhai) Yudhisthira (Yudhistira) sang (sang) aji (raja), ndangu (menanyakan) nami (nama) kawula (hamba), Sunan Kalijaga (Sunan Kalijaga) kalêbêt (termasuk) Wali (wali), saking (dari) tlatah (wilayah) Majalangu (Majapahit), ing (di) Girigajahpura (Kedaton Girigajah). “Duhai Sang Raja Yudhistira, (Paduka) menanyakan nama, hamba Sunan Kalijaga, termasuk wali dari wilayah Majapahit yang berkedudukan di Kedaton Girigajah.”
Di sini Sunan Kalijaga mengaku sebagai warga Kedaton Girigajah karena beliau memang diutus oleh Sunan Giri sebagai ketua para wali. Kata Majalangu artinya sama dengan Majapahit. Langu artinya hampir mirip dengan pahit. Ini adalah cara penamaan bagi orang Jawa seperti halnya kata Glagahwangi dan Glagahganda, yang telah diuraikan di kajian yang lalu.
Dhatêng (kedatangan) kula (saya) saèstune (sebenarnya) dipunutus (diutus), Sunan Giri (Sunan Giri) lurah (atasan) amba (hamba), pêrlu (keperluan) kinèn (suruh) mariksani (memeriksa), kawontênane (keadaan) kang (yang) wana (hutan), dene (karena) têka (ternyata) wontên (ada) ingkang (yang) (n)dahwèni (menjahili), damêl (membuat) wilalat (tuah) satuhu (sungguh), maring (kepada) kang (yang) sami (sedang) babat (membabat). “Kedatangan saya sebenarnya diutus oleh Sunan Giri atasan hamba, dengan keperluan disuruh memeriksa keadaan di hutan karena ternyata ada yang menjahili, memasang tuah sungguh kepada yang membabat (hutan).”
Walau tetap dengan kata yang sopan dan penuh hormat Sunan Kalijaga menyatakan keperluannya datang ke tengah hutan. Yakni sebagai utusan dari Sunan Diri yang hendak memeriksa dan memimpin pembabatan hutan. Karena ternyata ada orang yang sengaja menjahili pekerjaan tersebut, dengan membuat tuah kepada yang sedang bekerja. Karena tuah itu maka pekerjaan membabat hutan menjadi sulit. Setiap dibabat esoknya tumbuh lagi dengan cepat seperti sedia kala.
Sampun Kula salasak ing wana kemput samya tan na kara-kara muhung andika pribaden.
Aksara Jawanipun :
꧋ꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦏꦸꦭꦱꦭꦱꦏ꧀ꦆꦁꦮꦤꦏꦼꦩ꧀ꦥꦸꦠ꧀ꦱꦩꦾꦠꦤ꧀ꦤꦏꦫꦏꦫꦩꦸꦲꦸꦁꦄꦤ꧀ꦝꦶꦏꦥꦿꦶꦧꦣꦺꦤ꧀꧈
Kajian per kata :
Sampun (sudah) kula (saya) salasak (terobos) ing (di) wana (hutan) kêmput (tuntas seluruhnya), samya (semua) tan (tak) na (ada) kara–kara (tanda-tanda), muhung (hanya) andika (Anda) pribaden (sendiri).
Sudah saya terobos di hutan tuntas seluruhnya, semua tak ada tanda-tanda, hanya ada Anda sendiri. Sunan Kalijaga menyatakan sudah memeriksa sampai tuntas seluruhnya (kemput) dan tidak menemukan hal-hal yang dianggap sebagai penyebab keanehan yang terjadi. Hanya tinggal ada Anda sendiri! Secara tak langsung Sunan Kalijaga menuduh Sang Raja Yudhistira sebagai penyebab semua keanehan ini.
Dakwah Wali Sanga
Dakwah Wali Sanga di tanah Jawa, kepada kalangan bangsawan, pedagang, maupun keluarga keraton nusantara pada masa lampau merupakan jejak sejarah dakwah Islam. Sunan Kalijaga salah satu tokoh Wali sanga yang seringkali muncul di beberapa rekam sejarah. Kisah Pewayangan Punakawan Jamus Kalimasada, diadopsi dari Pewayangan Pandawa Lima merupakan salah satu akulturasi dakwah, Sunan Kalijaga Dan Budaya Jawa. Akulturasi budaya Sunan Kalijaga merupakan dakwah persuasif untuk masyarakat Jawa, notabenenya awam tentang agama Islam. Meskipun banyak cerita wayang yang diubah dan dikembangakn sendiri oleh Kanjeng Sunan, Perlahan membawa perubahan dan mengislamkan masyarakat tanah jawa tanah jawa tanpa pertumpahan darah, bersama anggota Wali sanga lainnya. Akulturasi kesenian pewayangan Sunan Kalijaga sendiri adalah salah satu dari bid’ah hasanah yang menyatukan kesenian jawa dengan unsur-unsur Islam.
Jamus Kalimasada merupakan, sinkronisasi antara akulturasi kesenian budaya dengan religi (Islam) yang melahirkan Pesan Dakwah Tersembunyi Dari setiap Lakon. Pusaka Jamus Kalimasada biasa ditampilkan berbentuk sebuah surat (layang/nawala).
Prabu Puntadewa atau sebutan mashurnya ialah Yudhistira. Kalimasada, dikisahkan sebagai pusaka yang selalu dipegang teguh oleh sang Prabu nan luhur. Berisikan sarana petuah, suatu petunjuk berjumlah lima hal tentang kesempurnaan hidup manusia yang bisa dirasakan dalam qalbu.
Makna Jamus Kalimasada
Mengisahkan perjalanan spiritual seorang prabu pemangku Pusaka ampuh Jamus Kalimasada bernama Puntadewa atau Yudhistira. Kisah ini berjudul Kalimasada kajarwa, menyimpan segudang pesan dakwah. Meliputi akidah, syari’ah, akhlak dari peran utama, Pandawa, Kurawa, Punakawan, Kesultanan, Dan Sunan Kalijaga. Wujud pesan dakwah berupa pokok landasan dasar akidah ialah, sang Prabu Puntadewa mendekat pada ketauhidan uluhiyah dan rububiyah.
Bermula ketika beliau bertapa di puncak gunung Himalaya, mengarungi samudera waktu. Hingga sampai pada zaman Kesultanan Demak Bintaro Era Walinga, Sunan Kalijaga. Raja berbudi luhur itu menghadap Sunan Kalijaga, sekaligus mengucap dua kalimat syahadat. Pesan dakwah tentang amar ma’ruf nahi mungkar juga diselipkan dalam lakon ini, dari percakapan Werkudara dengan Kakaknya diawal cerita.
Makna arti Jamus Kalimasada, Kalima berarti lima, sedangkan sada berarti 12. Jika dijumlahkan, hasilnya ada 17.
Hal ini diartikan sama dengan jumlah rakaat sholat lima waktu dalam sehari. Manusia akan selamat, jika memegang pedoman Jamus Kalimasada semasa hidupnya.
Kisah perwayangan Jamus Kalimasada dari Sunan Kalijaga, seringkali dibawakan oleh dalang
dalam pertunjukan wayang. Makna dan pesan dakwah Sunan kalijaga.
Pendakwah yang akan datang bisa
menerapkan Islam yang rahmatan lil’alamin.
Karena, seorang pendakwah seharusnya paham tipologi mad’u mereka. Fungsi memahami tipologi mad’u, merupakan sebuah strategi agar pesan dakwah kita sampai kepada penerima pesan yakni mad’u. Mad'u adalah objek dakwah, yaitu individu atau kelompok manusia yang menjadi sasaran seruan, ajakan, atau pesan agama yang disampaikan oleh seorang da'i. Pemahaman mendalam mengenai karakteristik, tingkat intelektual, dan latar belakang sosial-budaya mad'u sangat penting agar metode dakwah yang digunakan (seperti hikmah, mauidzah hasanah, atau mujadalah) tepat sasaran.
Imajiner Nuswantoro






