BEKSAN BEDAYA ANGLIR MENDHUNG
ꦧꦼꦏ꧀ꦱꦤ꧀ꦧꦼꦣꦪꦄꦁꦭꦶꦂꦩꦼꦤ꧀ꦝꦸꦁ
Sekar Durma
Anglir mendung kang wadya bala wus tata
anglar samya sumiwi
santana arampak
samya busana indah
neka warna tinon asri
lir singa lodra
sadaya golong pipit
Swara nata ingkang pangandika nata
kanjeng sri narapati
nitih rata retna
pangirid kuda hasta
binusanan murub adi
sunar gumebyar
prabane anelahi
Tinon asri, enggih, kang mentas menang djurit,
wong agung babo,
wus pinasti denira djumeneng Adji,
suka kaduk luwih,
wisikar nata ing bala,
kang satria mantjur, kang tjahja awening,
wong agung kang gawe mulja,
tulusena mukti sari awibawa,
tulusa suka wirjoa
Terjemahannya dalam Bahasa Indonesia :
Seperti awan badai gelap tentara berdiri tersusun rapi,
dalam formasi seperti sayap, mereka memberi penghormatan bersama,
para kerabat semuanya berkumpul,
semua berjubah indah,
banyak warna, mulia untuk dilihat,
seperti singa yang merajalela,
semua berdiri di barisan terdekat.
Suara Raja, memberi salam Raja,
Yang Mulia, Penguasa Alam (terdengar),
dipasang di kereta berpermata miliknya,
ditarik oleh delapan kuda,
mengenakan kemegahan yang berkilauan,
cahaya berkilau,
Pancaran Mulia-Nya menyebarkan sinarnya.
Sungguh mulia untuk dilihat, apakah Dia baru saja memenangkan kemenangan dalam pertempuran,
Penguasa Agung dan Perkasa,
Pemerintahannya telah ditahbiskan sebelumnya dalam urutannya,
Kegembiraannya tidak mengenal batas,
Dia bernama Dewa Perang,
Seperti air yang jatuh, pancaran putih satria-nya berkilau,
Pangeran Agung, yang maha agung,
Menyempurnakan pemenuhan kekuasaan dan kekuatan,
Jadilah sempurna dalam kebahagiaan dan keberanian
Gamelan Kyahi Kanyut Mesem mengalun membawakan Gending Kemanak dan Ketawang Mijil memecah kesunyian Puro Mangkunegaran. Dari dalam Dalem Ageng Puro Mangkunegaran nampak 7 gadis remaja keluar dengan mengenakan kain jarik ditangannya masing masing membawa gendewa busur panah berjalan melewati Paringgitan menuju ke Pendopo Ageng Puro Mangkunegaran. 7 penari dengan luwesnya menari mengikuti irama gamelan.
Suasana semakin bertambah sakral dan magis ketika tercium harum dupa dan wanginya bunga mawar melati kantil.....
Beksan Bedhaya Anglir Mendhung adalah tarian sakral yang dimiliki Puro Mangkunegaran. Tarian tersebut menggambarkan perjuangan Pangeran Suryokusumo ( KGPAA Mangkunagara I ) beserta para prajurit setianya melawan kompeni Belanda di Ponorogo tahun 1752 M, pada saat itu konon setelah pasukan Pangeran Suryokusumo memenangkan pertempuran tiba tiba turun hujan yang seolah ikut merayakan kemenangan itu.
Beksan Bedhaya Anglir Mendhung adalah Mahakarya dari KGPAA Mangkunagara I, yang sebelumnya ditulis dalam bentuk karya sastra yang berjudul " Palagan " yang menceritakan tentang pengalaman pertempuran Beliau dan pasukan dalam berjuang melawan pasukan Belanda.
" Palagan " kemudian digubah dalam bentuk tarian bernama Bedhaya Mataram Senopaten kemudian dirubah menjadi Beksan Bedhaya Anglir Mendung. Pada awalnya ditarikan 3 penari putri yang menggambarkan Pangeran Suryokusumo, Ki Kudanawarsa, Ki Ronggo Panambang. Kemudian pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunagara II jumlah penari dirubah menjadi 7 orang
Yang menarik, penciptaan Beksan Bedhaya Anglir Mendhung diawali dengan terbentuknya sebuah paduan irama gending gamelan karawitan yang indah karya Ki Gunosuto & Ki Kidung Wulung.
Istilah Anglir Mendhung sendiri juga digunakan untuk menggambarkan para prajurit wiratamtama yang saat itu akan menghadap Pangeran Suryokusumo dengan busana lengkap berwarna gelap , sehingga dari kejauhan nampak bagaikan awan mega yang menebal seakan akan menunggu hujan. Anglir artinya seperti ; Mendhung artinya suasana langit akan hujan.
Beksan Bedhaya Anglir Mendung berdurasi hampir satu jam dan hanya ditarikan pada upacara penobatan Adipati Mangkunegaran dan pada ulang tahun kenaikan tahta Adipati Mangkunegaran.
KRT Koesrahadi S Jayaningrat.
Beksan Bedhaya Anglir Mendhung adalah tarian pusaka sakral dari Pura Mangkunegaran yang diciptakan oleh KGPAA Mangkunegara I (Pangeran Samber Nyawa) untuk menggambarkan perjuangan melawan Belanda. Tari berdurasi 45-60 menit ini dibawakan oleh 7 penari putri dengan iringan gamelan Kyai Kanyut Mesem, dan hanya dipentaskan saat upacara Jumenengan atau Tingalan Jumenengan.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai Beksan Bedhaya Anglir Mendhung berdasarkan sumber sejarah:
Sejarah dan Makna: Diciptakan oleh RM Said (Mangkunegara I) dibantu Kyai Gunasuta dan Kyai Kidungwulung, tarian ini menggambarkan kisah perjuangan dan pasukan yang mengenakan busana gelap, seolah-olah awan mendung, untuk mengecoh musuh.
Sakral dan Terbatas: Tarian ini dianggap sakral dan tidak ditarikan sembarangan. Awalnya ditarikan 3 orang, namun diubah menjadi 7 orang pada masa KGPAA Mangkunegara II.
Ritual Penari: Sebelum menari, para penari menjalani ritual khusus seperti puasa, meditasi, dan ziarah ke makam leluhur (Astana Mangadeg, Girilayu, dan Oetara).
Rekonstruksi: Setelah sempat tidak dipentaskan, tarian ini direkonstruksi oleh KGPAA Mangkunegara VIII pada tahun 1981.
Iringan: Tarian diiringi gamelan Kyai Kanyut Mesem dengan gending-gending seperti Ladrang Wirangrong dan Ketawang Puspawarna.
Tarian ini merupakan simbol perjuangan, kekebalan, dan penghormatan leluhur di lingkungan Mangkunegaran.
Sejarah tari Bedhaya Anglir Mendung
Perkembangan tari Jawa khususnya di Surakarta, diawali sejak terbaginya kerajaan Mataram Islam menjadi dua wilayah kerajaan, yaitu wilayah Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat dan wilayah Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Selanjutnya wilayah kerajaan Surakarta sendiri terbagi menjadi dua wilayah otonomi yaitu Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran, atas perjuangan Raden Mas Said selama kurang lebih 16 tahun. Tepatnya pada tanggal 17 Maret 1757, setelah ditandatangani perjanjian Salatiga antara Pangeran Sambernyawa (Raden Mas Said), S.I.S.K.Susuhunan Pakubuwono III dan Sri Sultan Hamengkubuwono I yang dijadikan saksi oleh Gubernur Jendral Belanda. Pembagian wilayah secara geografis ternyata mempengaruhi pembagian wilayah budaya. Masing-masing kerajaan ingin menunjukan jati diri mereka melalui berbagai macam bentuk budaya diantaranya karya seni tari.
Dari sejarah perjalanan lahirnya Kadipaten Mangkunegaran, dapat ditarik benang merah bahwa pada saat itu pula sejarah dan perkembangan seni tari di Puro Mangkunegaran dimulai, yaitu sejak berdirinya Puro Mangkunegaran pada masa kepemimpinan K.G.P.A.A.Mangkunagoro I (Raden Mas Said) pada 1757-1796.
Momen penting yang dijadikan awal kehidupan tari di Mangkunegaran adalah dengan diciptakanya beksan tari Bedhaya Anglir Mendung, tarian sakral Mangkunegaran yg menggambarkan monumental penaklukan Panaraga oleh Pangeran Mangkunegara / RM Sahid (KGPAA Mangkunegara I), penguasa pertama Praja Mangkunegaran.
Satu peristiwa penting sehubungan dengan kehidupan seni tari dalam masa pemerintahan K.G.P.A.A.Mangkunagoro VIII antara lain adalah keberhasilan dalam upaya merekonstruksi tari Bedhaya Anglir Mendung pada tahun 1981. Pelacak dan pelaku rekonstruksi tari Bedhaya Anglir Mendung adalah K.R.Ay. Partini Partaningrat.
Tari tersebut pada akhirnya berhasil dipertunjukan kembali di Pura Mangkunegaran setelah 145 tahun menghilang (hampir satu setengah abad yang lalu). Pentas pertama kali tari Bedhaya Anglir Mendung yang telah di rekontruksi tersebut diadakan di Pura Mangkunegaran dengan ditarikan oleh 3 orang penari putri.
Para penari Bedhaya Anglir Medung menggunakan peralatan pistol yang dibawakan penari pembatak, pistol tersebut diselipkan dipinggang penari bagian depan dan gandewa serta anak panah.
Tari Bedhaya Anglir Mendung merupakan tarian pusaka Pura Mangkunegaran yang hanya dibawakan untuk acara-acara tertentu, misalnya pada momentum kenaikan tahta Mangkunegara. Tarian yang dibawakan oleh tujuh penari wanita itu berdurasi sekitar 45 menit.
Menjadi tarian pusaka yang sakral, Tari Bedhaya Anglir Mendung ini ditampilkan pada acara tertentu yang penting seperti jumenengan KGPAA Mangkunegara. Untuk membawakan Tari Bedhaya Anglir Mendung ini terdapat beberapa ketentuan, di antaranya penari yang membawakan tarian ini diharuskan wanita yang belum menikah dan tidak sedang dalam masa haid,.
Gusti Raden Ajeng (GRA) Ancillasura Marina Sudjiwo, salah seorang kluarga Kerton Mangkunegaran menjelaskan bahwa Tari Bedhaya Anglir Mendung menggambarkan tentang perjuangan KGPAA Mangkunegara I atau Raden Mas Said. Bersama para pasukannya yang berperang melawan musuhnya.
Sebelum Tari Bedhaya Anglir Mendung ini ditampilkan, ada sejumlah persiapan fisik hingga batin yang dilaksanakan oleh pihak Pura Mangkunegaran dan para penari. Persiapan batin dilakukan dengan meditasi, berdoa, dan berpuasa.
Penari juga menjalani sengkeran atau pingitan sehari atau 3 hari sebelumnya, dilokasi rahasia di Pura Mangkunegaran. Persiapan lain di antaranya berziarah ke makam leluhur, khususnya ke makam para Mangkunegara.
Secara khusus pula, ditampilkannya Tari Bedhaya Anglir Mendung ini diiringi dengan gamelan Kyai Kenyut Mesem. Sedangkan gending pengiringnya adalah Ladrang Wirangrong Pelog Nem, Ketawang Puspawarna Slendro Manyura, Ladrang Tebu Sauyun Laras Pelog Barang, Ladrang Sekar Gandhung, Ketawang Lebdosari Laras Slendro Manyura, Ladrang Pangkur, Ketawang Sita Mardawa Laras Pelog Pathet Barang dan Ayak Kaloran Slendro Manyura.
Beksan Bedhaya Anglir Mendhung merupakan tarian pusaka Mangkunegaran yang dibawakan oleh tujuh penari dengan iringan gendhing dari Gangsa Gamelan Kyai Kanyut Mesem.
Tarian tersebut mengisahkan Perjuangan KGPAA Mangkunegara I bersama pasukannya, Beksan Bedhaya Anglir Mendhung menjadi tarian sakral yang hanya dipersembahkan pada acara Jumenengan dan Tingalan Jumenengan.
Sebelum mempersembahkan Beksan Bedhaya Anglir Mendhung, para penari Mangkunegaran harus melalui berbagai ritual dan tirakat seperti puasa, meditasi, hingga melakukan ziarah ke Astana Mangandeg, Astana Girilayu, dan Astana Oetara.
Beksan Bedhaya Anglir Mendhung akan dipersembahkan saat Tingalan Jumenengan ke-4 Mangkunegara X
Tari Bedhaya Ketawang
Tarian tradisional pertama adalah Bedhaya Ketawang yang mengandung arti di setiap masing-masing kata. ‘bedhaya’ yang artinya penari wanita dan ‘ketawang’ artinya langit. Bila disatukan Bedhaya Ketawang ini mengandung arti penari wanita dari istana langit.
Tarian ini dipertunjukan untuk acara resmi saja, yang bertujuan untuk menghibur. Sejarah tarian ini menceritakan tentang hubungan Ratu Kidul yang biasa kita kenal dengan Roro Kidul.
Menurut kepercayaan setempat, bila ada yang menarikan Tarian ini, maka Nyi Roro Kidul atau Kangjeng Ratu Kidul akan menghadiri tarian tersebut dan ikut menari.
Biasanya tarian ini ditarikan oleh 9 orang wanita, dimana sembilan ini melambangkan Wali Songo, adapun yang bilang 9 sebagai arah mata angin.
Busana para penari pun biasanya menggunakan pengantin adat Jawa, dimana para penari menggunakan gelung besar, dan aksesoris-aksesoris Jawa berupa centhung, sisir jeram saajar, tiba dhadha, garudha mungkur, dan cundhuk mentul. Para penaripun diusahakan tidak dalam keadaan haid.
Musik gamelan yang dimainkan untuk mengiringi tarian ini biasanya Gending Ketawang Gedge, bisa juga dengan gamelan.
Imajiner Nuswantoro









