MURWAKALA

0

Murwakala

 



Deso mowo coro, negoro mowo toto. 

Kita hargai dan hormati nilai kearifan masing-masing suku bangsa dan budaya. Karena setiap suku, budaya dan bangsa memiliki nilai kearifan (local wisdom) masing-masing yang berbeda dengan masyarakat dan wilayah lainnya. Sebagai hasil interaksi antara manusia dengan lingkungan alamnya yang spesifik selama berabad dan ribuan tahun lamanya. Pemaksaan suatu nilai kearifan lokal terhadap masyarakat dan budaya lain, adalah bentuk tindakan aniaya dan merupakan perilaku melawan hukum alam. Sebuah penghianatan akan jati diri, jika penganiayaan dilakukan oleh masyarakat dan suku bangsa itu sendiri. Manusia seringkali kesulitan  melepaskan diri dari nafsu golek benere dewe, golek menange dewe, golek butuhe dewe. Bahkan seringkali nafsu itu diklaim atas nama Tuhan. Sungguh keterlaluan. Siapapun pelakunya cepat atau lambat akan digulung dan diadili oleh hukum alam itu sendiri. Sebab hukum alam tidak pernah menyisakan secuil pun  ketidakadilan.

 

 

Makna Ruwatan

Ruwatan adalah salah satu upacara tradisional  dengan tujuan utama mendapatkan keselamatan  supaya orang terbebas dari segala macam kesialan hidup, nasib jelek dan selanjutnya agar dapat mencapai kehidupan yang ayom ayem tentrem (aman, bahagia, damai di hati).  Lebih konkritnya ruwatan sebagai suatu upaya membersihkan diri dari sengkala dan sukerta (dosa dan sial) ang diakibatkan dari perbuatannya sendiri, hasil perbuatan jahat orang lain maupun force-majeur misalnya faktor kelahiran dan ketidaksengajaan di luar kendali dirinya. Ruwatan yang paling terkenal sejak zaman kuno diselenggarakan oleh nenek moyang adalah ruwatan murwakala. Dalam ruwatan ini dipergelarkan wayang kulit dengan cerita Murwakala di mana orang-orang yang termasuk kategori sengkolo-sukerto diruwat atau disucikan supaya terbebas dari hukuman Betara Kala, gambaran raksasa menakutkan yang suka memangsa para sukerto.

 

 

Siapakah sesungguhnya Bethara Kala ?

Semula saya pribadi pernah tidak percaya samasekali jika Bethara Kala itu ternyata ada secara faktual. Saya sempat mengira ia hanyalah sebatas dalam cerita mitologi (dongeng) pewayangan. Namun semenjak 10 tahun lalu, pada suatu ketika kami mendapatkan anugrah mantra trah secara langsung dari Eyang Gusti Mangkunegoro IV yang lebih pas disebut sebagai mantra pambuka.  Dalam 3 hari kami lakukan suatu ritual khusus untuk menyatukan mantra itu agar manjing ajur ajer dalam roso pangroso dan menembangkannya dengan getaran rahsa sejati agar dapat menemukan frekuensi nada yang selaras dengan harmoni tata keseimbangan kosmos.  Pada hari ketiga, berlangsunglah suatu peristiwa luarbiasa hingga kami dapat menyaksikan langsung ternyata Bethara Kala itu sungguh-sungguh ada. Peristiwa itu sebagai sambutan dari alam semesta setelah mencapai frekuensi yang sinergis ke dalam frekuensi roh jagad agung, atau ke dalam tata keseimbangan kosmos. Manunggal kalayan gustinira berkat laku neng, ning, nung, nang.  Bethara Kala memberikan sambutan welas asih dari kekuatan jagad semesta dengan menoreh rajah kalacakra  (asli) di punggung sebagai tanda mata atau sebagai penanda (bagi siapapun juga) yang mau menyelaraskan diri dengan roh jagad agung, yang tidak lain adalah Sang Jagadnata itu sendiri.

 

Lantas apa alasan Bethara Kala ada sebagai bagian dari kompleksitas kehidupan semesta ini ? Sesuai dalam cerita pewayangan, Bethara Kala masuk dalam level kadewatan. Apalagi ia memang anak dari Bethara Guru dengan kata lain ia adalah cucu bangsa kadewatan. Ia hidup di dimensi bumi tidak lain untuk mengkonstribusi dalam tata keseimbangan kosmos. Walaupun Bethara Kala adalah Ratu yang hangratoni jagad lelembut jin setan priprayangan tetapi ia sangat bijaksana. Ia disiplin, patuh dan loyal terhadap wewaler dan paugeran yang termaktub di dalam hukum tata kesimbangan kosmos. Hukum alam khususnya di wilayah Nusantara. Ia tidak akan sembarangan “memangsa” (nasib) bangsa manusia yang bukan termasuk dalam kategori sengkolo-sukerto. Bagi yang belum memahaminya, Bethara Kala seolah makhluk jahat pemangsa (nasib) bangsa manusia. Namun jika kita berfikir lebih kritis dan bijaksana, Bethara Kala sebenarnya hanya menjalankan tugas sesuai dengan hukum alam dengan rumus-rumus yang berlaku di dalamnya. Ia bukanlah pelanggar hukum alam (nerak wewaler) atau pembangkang hukum Tuhan. Sebaliknya ia adalah makhluk yang taat dan patuh menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai salah satu penjaga tata keseimbangan kosmos. Demikian juga kita semua, bangsa manusia dituntut agar patuh dan taat (takwa) terhadap hukum alam (ayat-ayat tersirat/azim). Jadi sesungguhnya bangsa manusia ada dan hidup sebagai bagian dari kehidupan semesta berfungsi dan bertugas untuk menjalankan hukum tata keseimbangan kosmos. Jika kita melanggarnya, maka alam semesta melalui unsur-unsurnya dan kehidupan lainnya akan menghakimi kita. Itu pula disebut sebagai hukum  sebab akibat atau karma.

 

 

Tradisi Ruwat

Ritual pangruwatan dalam masyarakat Jawa  yang paling sering dan mudah  dilakukan biasanya adalah pemagaran gaib yang dilakukan dengan menyediakan berbagai jenis sesaji dan melakukan ritual khusus. Cara di atas bisa dilakukan apabila sengkolo-sukerto yang ada masih termasuk jenis yang ringan dan mudah dibersihkan. Sementara itu untuk sengkolo-sukerto kelas berat pelaksanaan yang umum dilakukan dalam masyarakat Jawa adalah dengan menggelar pentas wayang kulit yang melakonkan tentang ruwatan itu sendiri. Sang dalang dalam menampilkan pagelarannya menyajikan salah satu dari beberapa jenis lakon. Misalnya lakon murwakala. Ruwatan dengan pagelaran wayang dilakukan sebagai suatu bentuk mendapatkan dispensasi atau keringanan hukuman. Dalam tradisi hukum positif (formal) sepadan dengan membayar denda kepada negara atau memohon grasi kepada Presiden. Dalam hal ruwatan, Bethara Kala posisinya sebagai Presiden dari bangsa lelembut. Negosiasi tertuju pada Bethara Kala sebagai salah satu eksekutor hukum alam.

 

Dalam masyarakat Jawa tradisi ritual ruwatan dibedakan dalam tiga macam menurut fungsi dan tujuannya yaitu :

§  Ritual ruwat untuk orang per orang (person).

§  Ritual ruwat untuk lingkungan dan bangunan.

§  Ritual ruwat untuk suatu wilayah yang luas.

§  Ruwatan Diri Sendiri

 

Pada saat ini ruwatan yang dilakukan oleh sebagaian masyarakat Jawa jauh berbeda dengan kebudayaan peninggalan pada zaman Hindu-Budha. Hal ini merupakan suatu kewajaran karena mengikuti hukum dinamika zaman. Ruwatan untuk diri sendiri lazimnya bukan disebut ruwatan, walau memiliki tujuannya sama sebagai upaya membersihkan diri dari sengkala dan sukerta (dosa dan sial).  Lelaku sebagai wujud atau bentuk dari ruwatan bagi diri sendiri ini juga sering dilakukan oleh sebagian mansyarakat Jawa agar mendapatkan kebersihan jiwa. Ritual ruwatan ini memiliki banyak sebutan, antara lain adalah Ruwatan Anggara Kencana.

 

Ruwatan diri sendiri dilakukan dengan cara-cara tertentu seperti melakukan puasa (ajaran sinkretisme), melakukan berbagai macam selamatan, melakukan laku tarak brata atau tapa brata. Dalam tradisi spiritual masyarakat Jawa, bertapa merupakan bentuk laku atau cara berprihatin. Laku tapa termasuk lelaku. Lelaku adalah tindakan untuk membersihkan diri dari hal-hal yang bersifat gaib negatif. Dengan memasukan unsur kekuatan (fisik dan non fisik) yang bersifat positif ke dalam diri, gunanya untuk menciptakan keseimbangan energi dalam tubuh. Orang yang terkena sengkolo dan sukerto, artinya energi dalam dirinya lebih didominasi oleh kekuatan negatif (buruk) yang disebabkan oleh banyak faktor yang berasal dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar dirinya.

 

Khususnya ruwatan untuk diri sendiri dapat dilaksanakan dengan pakem sederhana maupun dengan pakem standar yakni dengan pagelaran wayang kulit dengan lakon dan uborampe khusus ruwatan. Semua itu merupakan pilihan bagi siapa yang akan melaksanakan. Jika ruwatan dilakukan oleh orang yang memang memiliki kemampuan ekonomi yang memadai, biasanya ruwat murwakala dilakukan dengan mengadakan pagelaran wayang kulit. Pagelaran wayang kulit ini berbeda dengan pagelaran yang pada umumnya dilakukan. Pagelaran wayang kulit dilaksanakan pada siang hari dan dilakukan oleh dalang yang benar-benar mampu (bukan sekedar bisa) meruwat.

 

 

Ruwatan Untuk Lingkungan

Ruwatan yang dilakukan untuk lingkungan hidup lazimnya disebut pemagaran yakni teknik memasang pagar gaib pada suatu lokasi atau bangunan.

 

Tujuannya antara lain :

§  Memberikan daya magis yang bersifat menahan, menolak, atau mengalihkan energi negatif yang berada dalam rumah atau yang hendak masuk ke dalam rumah. Metode semacam ini biasanya dilakukan dengan menanam rajah, membaca doa-doa dan mantera. Lebih dari itu bisa dilakukan dengan cara menanam tumbal yang diperlukan, misalnya dlingo-bengle di setiap sudut bangunan dan gerbang. Bisa juga menanamkan kepala kambing, hingga yang paling mahal misalnya menanamkan kepala kerbau. Masing-masing tergantung kebutuhan dan menyesuaikan berat ringannya suatu gangguan.

§  Menciptakan pagar gaib agar tidak dapat dimasuki orang yang hendak berniat jahat. Memberikan kekuatan gaib yang bersifat mengusir atau mengurung seorang pelaku kejahatan, misalnya pencuri yang masuk ke dalam rumah ia takan menjadi bingung sehingga tidak mampu menemukan pintu keluar rumah yg dicuri. Atau mengurungkan niat si pencuri yang akan memasuki sebuah rumah calon sasarannya, karena dalam pandangan si pencuri rumah itu berubah menjadi hutan, kuburan atau laut.  Pemagaran semacam ini termasuk untuk mengurung makhluk halus pengganggu yang berbeda dalam lingkup pagar gaib. Mahluk halus dimaksud adalah mahluk halus kiriman atau suruhan seseorang yang ingin mencelakai.

§  Pemagaran dengan tenaga dalam atau energi. Lazimnya dilakukan oleh praktisi tenaga dalam. Pemagaran tenaga dalam ini bisa pula digabung dengan media garam (garam kasar) dan air sebagai unsur alam yang alamiah penetralisir energi negatif.

§  Tujuan utama dilakukannya pemagaran gaib pada manusia dan lingkungannya ini bila berhasil akan menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, tenteram, sejahtera,  jauh dari gangguan bangsa manusia dan makhluk halus suruhan manusia.

 

 

Ruwatan Untuk Desa atau Wilayah Yang Luas

Ruwatan Murwakala ini disebut pula sebagai ruwat bumi.  Pagelaran wayang biasanya dilakukan pada malam hari. Karena pagelaran wayang untuk ruwat bumi merupakan acara yang sangat sakral dan memerlukan biaya yang cukup banyak, maka pelaksanaan ruwatan dilakukan dan dibeayai oleh institusi. Seperti halnya dilakukan oleh Kraton Jogja dan Solo, begitu pula beberapa daerah setingkat Kelurahan hingga Provinsi acapkali mempunyai jadwal rutin untuk melakukan pangruwatan bumi. Ruwat bumi bertujuan memperoleh keselamatan dengan cakupan yang sangat luas. Bukan  hanya bangsa manusia, tetapi mencakup bangsa hewan dari hewan terkecil seperti gurem (kutu ayam), tengu, hingga binatang paling besar seperti gajah. Begitupula ditujukan untuk meruwat bangsa tetumbuhan dan bangsa mahluk halus.  Dilakukan dengan pagelaran pewayangan  yang membawakan lakon Murwa Kala dan dilakukan oleh dalang khusus memiliki kemampuan dalam bidang ruwatan. Ruwat bumi adalah ruwatan paling besar dan berat. Tidak setiap dalang kuat melakukan pangruwatan bumi. Ragam sesaji dan uborampe sangat beragam dan tidak boleh ada yang terlewatkan satu pun. Walaupun sesaji dan uborampenya lengkap, dalangnya pun harus benar-benar dalang pinilih, dalang yang kuat secara batin, dan ilmu spiritualnya mencapai kesadaran kosmologis.  Sebab jika tidak kuat resikonya adalah muntah darah atau bahkan mati karena tidak kuat saat Bethara Kala hadir dan merasuk ke dalam diri ki dalang.  Sepadan dengan banyaknya beaya serta beratnya resiko, hasil dari pangruwatan bumi akan sangat menakjubkan. Kehidupan masyarakat yang aman, tenteram, adil, makmur dan sejahtera. Buminya yang penuh berkah, gemah ripah loh jinawi ayom ayem tentrem kertaraharja.  Itu karena kehidupan tata kosmos keseimbangan alam berlangsung secara kompak dan harmonis dengan pola hubungan yang penuh welas-asih.

 

 

Hanya Doa Kepada Tuhan Saja ?

Kata-kata di atas kadang terdengar dari sebagian orang dengan alasan tertentu. Misalnya karena faktor keterbatasan budget. Bisa juga karena faktor pola pikir. Namun itu sekedar pendapat atau asumsi. Tidak bisa dinilai benar-salahnya. Tapi lazimnya yang dilihat adalah efektif-tidaknya soal hasil. Apapun kata orang, toh fakta telah menunjukkan bukti-bukti hasilnya. Rumus-rumus alam yang termaktub di dalam hukum alam mudah sekali kita saksikan. Bahwa beragam usaha mewujudkan suatu tujuan seringkali tidak cukup hanya dengan bermodalkan hasrat dari dalam lubuk hati maupun ucapan yang keluar dari bibir saja. Misalnya kita akan membangun sebuah pagar fisik yang mengelilingi rumah tidak cukup hanya dengan berdoa lantas tiba-tiba muncul pagar yang terbuat dari besi atau tembok. Pasti harus ditempuh dengan tenaga, pikiran, waktu beaya dan menggunakan material yang diperlukan. Demikian pula dalam menciptakan pagar gaib. Seringkali tidak cukup hanya dengan berdoa saja. Tetapi harus ditempuh pula dengan menggunakan tenaga, pikiran, waktu, beaya. Perbedaan signifikan terletak pada materi untuk membuat pagar.  Prinsip membuat pagar gaib berlaku pula ketika seperti pada saat orang membuat pagar rumah yang memerlukan tenaga pikiran waktu dan beaya.

 

Kita tidak perlu membiasakan pola pikir bahwa segala sesuatu yang gaib cukup diupayakan dengan modal mulut komat-kamit sembari “menyuruh” Tuhan yang mengerjakan semua itu. Sementara pekerjaan itu masih dalam lingkup tugas dan kemampuan manusia. Pola pikir demikian begitu manja tak perlu dipelihara. Itu sama halnya kita ingin selalu cari enaknya sendiri. Membuat pagar tembok hanya bermodalkan ucapan doa dan menyerahkan pekerjaan tukang batu kepada Tuhan.  Keselamatan tidak selalu cukup hanya dengan doa, tetapi perlu ada upaya nyata misalnya mengungsi dari bahaya letusan gunung atau banjir. Berlindung di dalam rumah dari hawa dingin atau panasnya matahari. Berlindung di dalam goa dari gempuran badai dan angin besar. Naik ke atas bukit untuk menghidar dari bahaya banjir dan tsunami. Tidak melewati jalanan sepi dan rawan untuk menghindari aksi perampokan. Mengenakan jaket anti peluru untuk menahan senapan.  Menabur beras dan garam agar rumah kita tidak roboh diterjang hujan dan angin besar. Mengoles parutan dlingo-bengle ke punggung dan telapak kaki bayi agar dijauhi segala makhluk halus yang energinya bisa membuat bayi rewel tidak nyaman setiap menjelang malam. Semua itu ilmiah dan sangat rasional asal kita mau berfikir dengan akal sehat. Asal kita mau menuhankan akal ketimbang menuhankan emosi. Asal kita mau membuka pola pikir untuk merangkak pada kesadaran spiritual yang lebih tinggi.

 

Jika tidak mau repot ruwatan, mudah kok. Kecuali faktor forcemajeur, untuk  mengantisipasi sukerto-sengkolo bisa dengan melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya kepada banyak orang. Asal dilakukan dengan tulus dan tidak pilih kasih  hanya mau baik kepada yang sealiran, sesuku, sebudaya, seagama, segolongan saja.  Buatlah hidup  agar lebih banyak bermanfaat untuk kehidupan lainnya. Gunakan waktu hidup kita  untuk memberikan kehidupan pada seluruh mahluk. Itu akan menciptakan pagar gaib buat diri Anda sendiri. Pagar gaib yang berasal dari sistem keseimbangan energi, bahkan dalam diri Anda akan lebih dominan energi positifnya, semakin tebal pula “tembok” gaib Anda sendiri. Kebaikan yang kita lakukan pada orang lain, akan kembali untuk diri kita sendiri.

 

 

Ruwatan Dalam Nilai Kearifan Budaya

Kegiatan gelar budaya ruwatan tidak sekedar latah, namun di dalamnya terkandung nilai sosial, edukatif, rasa kebersamaan dalam banyak ragam perbedaan. Dan pemberdayaan terhadap nilai-nilai potensi sumberdaya, kreatifitas manusia serta ikut melestarikan budaya bangsa khususnya budaya Ruwatan. Ruwatan mengandung makna mengevaluasi diri atas segala kesalahan yang disadari maupun tidak disadari di masa yang telah lalu. Sehingga dalam acara ruwatan memiliki makna untuk membersihkan diri, tidak hanya sekedar pembersihan lahir, lebih utama adalah membersihkan batin, membersihkan sengkala (penghalang diri) dan sukerta (kotoran dalam diri). Yang berakibat sering mengalami sebel-sial karena sengkolo dan sukerto. Maksud diadakannya ruwatan massal ini untuk meringankan beban peserta sukerto yang mampu maupun tidak mampu,  yang tidak dapat melaksanakan sendiri. Artinya, ruwatan massal dilakukan untuk meringankan beban masyarakat Kabupaten Lumajang. Tujuan pokok ruwatan, adalah untuk membuang kesialan hidup orang-orang yang sedang dalam sukerta (susah). Orang-orang sukerta ini, menurut cerita  adalah orang-orang yang akan dimangsa oleh Bathara Kala sebagai kekuatan penyeimbang hukum alam, karena orang-orang sukerta tidak selaras atau harmonis dengan hukum alam yang sangat adil (prinsip Tuhan yang Mahaadil). Dengan kata lain, para sukerta mengalami suatu peristiwa tidak sengaja, dan perbuatan yang disengaja yang tidak sesuai dengan kodrat alam yang semestinya.  Prosesi spiritual ruwatan, juga sebagai upaya melestarikan tradisi dan budaya nenek moyang masyarakat Jawa yang sudah turun temurun ribuan tahun silam. Sebagai khasanah pelestarian kekayaan ragam budaya di tanah air. Ruwatan masih merupakan bagian dari prosesi adat Jawa. Ruwatan itu adalah prosesi penyucian diri seorang manusia agar kelak dirinya terbebas dari malapetaka. Tapi hanya orang-orang tertentu yang menyandang predikat Sukerta saja yang diwajibkan untuk diruwat. Asal-muasul prosesi ruwatan diceritakan dalam kisah pewayangan lakon Murwakala, yaitu lahirnya Bathara Kala.

 

 

Kategori Sukerto

Kategori sukerto adalah orang-orang yang termasuk dalam daftar perlu diruwat.  Mengenai berapa macam sukerto, ada beberapa versi. Menurut Pakem Pangruwatan Murwakala ada 60 macam sukerto, Pustaka Raja Purwa ada 136 sukerto, Sarasilah Wayang Purwa ada 22 sukerto, sedangkan menurut Buku Murwokolo  ada 147 macam sukerto.

 

Pada garis besarnya ada 3 (tiga) macam kelompok sukerto, yaitu :

 3. Faktor Kelahiran

Sukerto karena kelahiran seperti anak tunggal, kembar; berdasarkan waktu kelahiran, misalnya anak yang dilahirkan tengah hari atau saat matahari terbenam dll.Sukerto kelompok ini adalah anak-anak yang sangat dicintai oleh orang tua mereka, keselamatan dan kebahagiaan mereka selalu dipikirkan oleh orang tua mereka.Terlebih para orang tua tersebut mengetahui bahwa anak-anak tersebut termasuk dalam daftar sukerto.

 

Menurut Pakem Ruwatan Murwa Kala Javanologi

Dalam kepustakaan Pakem Ruwatan Murwa Kala Javanologi yang berdasarkan beberapa referensi di antaranya dari Serat Centhini (Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana V) orang-orang yang harus diruwat disebut anak atau orang sukerta. Sukerta terdiri 60 kriteria penyebab malapetaka, akan tetapi di sini saya kemukakan 36 kriteria yang paling urgen untuk diruwat.

 

Ke 36 kriteria tersebut adalah sebagai berikut :

1.    Ontang-Anting;  anak tunggal laki-laki atau perempuan.

2.    Uger-Uger Lawang; dua orang anak yang kedua-duanya laki-laki.

3.    Sendhang Kapit Pancuran;  3 orang anak, yang sulung dan yang bungsu laki-laki sedang anak yang ke 2 (tengah) perempuan.

4.    Pancuran Kapit Sendhang; 3 orang anak, yang sulung dan yang bungsu perempuan sedang anak yang ke 2 (tengah) laki-laki.

5.    Anak Bungkus; anak yang pada saat kelahirannya masih terbungkus oleh selaput plasenta.

6.    Anak Kembar; dua orang kembar putra atau kembar putri atau kembar dampit yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan (yang lahir pada saat bersamaan).

7.    Kembang Sepasang; dua orang anak yang kedua-duanya perempuan.

8.    Kendhana-Kendhini; dua orang anak sekandung terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.

9.    Saramba; terdiri 4 orang anak yang semuanya laki-laki.

10.                       Srimpi; terdiri 4 orang anak yang semuanya perempuan.

11.                       Mancalaputra atau Pandawa; terdiri 5 orang anak yang semuanya laki-laki.

12.                       Mancalaputri; terdiri 5 orang anak yang semuanya perempuan.

13.                       Pipilan; 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang anak perempuan dan 1 orang anak laki-laki.

14.                       Padangan; 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang laki-laki dan 1 orang anak perempuan.

15.                       Julung Pujud/caplok ; anak yang lahir saat matahari terbenam.

16.                       Julung Wangi/kembang ; anak yang lahir bersamaan dengan terbitnya matahari.

17.                       Julung Sungsang ; anak yang lahir tepat jam 12 siang.

18.                       Tiba Ungker ; anak yang lahir, kemudian meninggal.

19.                       Jempina; anak yang baru berumur 7 bulan dalam kandungan sudah lahir.

20.                       Tiba Sampir/kalung usus; anak yang lahir berkalung usus.

21.                       Margana; anak yang lahir dalam perjalanan.

22.                       Wahana; anak yang lahir di halaman atau pekarangan rumah.

23.                       Siwah atau Salewah; anak yang dilahirkan dengan memiliki kulit dua macam warna, misalnya hitam dan putih.

24.                       Bule; anak yang dilahirkan berkulit dan berambut putih (bule).

25.                       Kresna; anak yang dilahirkan memiliki kulit hitam (cemani).

26.                       Walika; anak yang dilahirkan berwujud bajang atau kerdil.

27.                       Wungkuk; anak yang dilahirkan dengan punggung bengkok.

28.                       Dengkak; yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung menonjol seperti punggung onta.

29.                       Wujil; anak yang lahir dengan badan cebol atau pendek.

30.                       Lawang Menga; anak yang dilahirkan bersamaan keluarnya Candikala yaitu ketika warna langit merah kekuning-kuningan.

31.                       Made; anak yang dilahirkan oleh ibunya tanpa alas (tikar).

32.                       Orang yang ketika menanak nasi, merobohkan Dandhang (tempat menanak nasi).

33.                       Memecahkan Pipisan dan mematahkan Gandik (alat landasan dan batu penggiling untuk menghaluskan ramu-ramuan obat tradisional).

34.                       Anak-anak yang hari weton lahirnya sama dengan saudara sekandungnya.

35.                       Anak yang hari wetonnya sama dengan orangtuanya.

36.                       Orang yang suka mengaku/menyerobot hak orang lain. Sering mencelakai, menyakiti hati orang lain.

 

 

Catatan ;

Komposisi anak yang termasuk dalam kriteria di atas, dengan catatan bukan karena ada yang meninggal. Misalnya jumlah anak ada 6 semuanya laki-laki, tetapi meninggal satu menjadi 5 laki-laki semua. Komposisi ini tidak termasuk pendawa lima, atau mencala putra, tidak perlu diruwat.

 

1. Sukerto karena berbuat kesalahan

Meski tidak sengaja seperti : memecahkan gandhik, alat pembuat jamu; menjatuhkan dandang (tempat untuk menanak nasi) waktu sedang masak nasi. Namun ada yang lebih urgent, yakni orang-orang yang terkena sebel-sial akibat sukerto-sengkolo karena ia sering menyakiti hati atau mencelakai orang lain. Walaupun dilakukannya tanpa sadar dan tanpa kesengajaan.  Orang yang bersiul saat tengah hari, itu tidak patut/ora ilok.

 

2. Sukerto Sebel-Sial

Seseorang yang dalam hidupnya merasa sering mengalami banyak musibah, kesialan,  penyakit, dan sering diancam mara bahaya. Ada orang yang dalam menjalani hidup ini selalu tertimpa sial misalnya sering terkena musibah, bencana dan sering sekali terancam bahaya. Dalam melakukan pekerjaan  banyak salah, sering merasa apes, dalam usaha mengalami kegagalan. Terlibat banyak urusan yang tidak enak, sering mengalami kesulitan yang tidak ada jalan keluar, terkena bermacam-macam penyakit, hidupnya terasa tidak menyenangkan. Ada yang bilang bahwa waktu dan kondisi selalu tidak berpihak kepadanya. Ada sesuatu yang salah, sehingga orang tersebut perlu diruwat.

 

Dalam pemahaman kuno, orang-orang yang termasuk tiga kelompok sukerto itu perlu diruwat secara tradisional. Mereka diruwat supaya tidak menjadi mangsa Bethara  Kala, terbebas dari gangguan dan bencana yang merupakan ancaman Kala.

Kala artinya waktu. Yakni waktu yang menjadi ancaman dan menimbulkan resiko musibah dan bencana adalah waktu yang tidak baik, tidak tepat (tali wangke dan sampar wangke). Secara umum setiap orang tentu mengharapkan perjalanan waktu  selalu berpihak kepadanya. Sehingga hidup kita selalu berada dalam naungan keselamatan, sehat jasmani dan ruhani, berkecukupan dalam bidang materi, tentram hatinya, berkembang dan maju karier, pekerjaan dan usahanya, sukses selalu dalam genggaman, dan berkah agung selalu terlimpah dari Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Gusti Sang Jagadnata.

 

 


 



Kisah Murwokolo Dalam Pewayangan

Kisah ini menceritakan Batara Kala mencari mangsa berupa para manusia yang tergolong Sukerta dan Sengkala. Namun usahanya digagalkan oleh Batara Wisnu yang menyamar sebagai Ki Dalang Kandabuwana. Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa karya Ngabehi Ranggawarsita yang dipadukan dengan buku Murwakala Cerita Religius karya Wijanarko dengan sedikit pengembangan.

 

 

BATARA GURU MENETAPKAN JENIS MANGSA BATARA KALA

Batara Guru di Kahyangan Jonggringsalaka dihadap Batara Narada dan para dewa lainnya. Mereka membicarakan perkembangan Pulau Jawa yang saat ini hanya memiliki dua orang penguasa saja, yaitu Batara Indra di Kahyangan Suralaya dan Sri Maharaja Balya di Kerajaan Medang Siwanda.

 

Tidak lama kemudian datanglah Batara Baruna, dewa penguasa lautan yang datang bersama Batara Kala, penguasa Pulau Nusakambangan. Batara Baruna melaporkan perbuatan Batara Kala yang terus-menerus memangsa ikan di laut, sehingga banyak binatang air menjadi korban. Batara Baruna meminta Batara Kala berhenti memangsa ikan karena jika hal itu terus dilakukan, maka jumlah ikan di lautan akan habis. Lagipula Batara Kala terlahir dari buih samudera, sehingga tidak sepantasnya memangsa sesama penghuni laut.

 

Atas laporan itu, Batara Kala pun memohon keadilan kepada Batara Guru untuk diberikan jenis makanan lain, karena jika ia tidak boleh memangsa ikan lantas bagaimana caranya untuk mengisi perut dan menambah tenaga?

 

Batara Guru pun memutuskan supaya Batara Kala memangsa manusia saja, yaitu mereka yang termasuk golongan Sukerta dan Sengkala. Sukerta adalah manusia yang boleh dimangsa karena kelahirannya, sedangkan Sengkala adalah manusia yang boleh dimangsa karena salah perbuatan.

 

Adapun yang termasuk golongan Sukerta antara lain :

1.    Ontang-anting, yaitu anak tunggal tanpa saudara

2.    Kedana-kedini, yaitu dua bersaudara laki-laki perempuan

3.    Uger-uger lawang, yaitu dua bersaudara laki-laki

4.    Kembang sepasang, yaitu dua bersaudara perempuan

5.    Gotong mayit, yaitu tiga bersaudara jenis kelamin sama

6.    Sendang kapit pancuran, yaitu tiga bersaudara yang perempuan di tengah

7.    Pancuran kapit sendang, yaitu tiga bersaudara yang laki-laki di tengah

8.    Saramba, yaitu empat bersaudara laki-laki semua

9.    Serimpi, yaitu empat bersaudara perempuan semua

10.                       Pandawa, yaitu lima bersaudara laki-laki semua

11.                       Pandawi, yaitu lima bersaudara perempuan semua

12.                       Pipilan, yaitu lima bersaudara dengan satu laki-laki

13.                       Padangan, yaitu lima bersaudara dengan satu perempuan

14.                       Wungkus, yaitu anak yang lahir dalam bungkus

15.                       Wungkul, yaitu anak yang lahir tanpa ari-ari

16.                       Tiba sampir, yaitu anak yang lahir berkalung tali pusar

17.                       Tiba ungker, yaitu anak yang lahir tercekik tali pusar

18.                       Jempina, yaitu anak yang lahir sebelum waktunya

19.                       Margana, yaitu anak yang lahir dalam perjalanan

20.                       Wahana, yaitu anak yang lahir dalam keramaian

21.                       Julungwangi, yaitu anak yang lahir saat matahari terbit

22.                       Julungsungsang, yaitu anak yang lahir tengah hari

23.                       Julungsarab, yaitu anak yang lahir saat matahari terbenam

24.                       Julungpujud, yaitu anak yang lahir petang hari

25.                       Siwah, yaitu anak dengan keterbelakangan mental

26.                       Kresna, yaitu anak yang lahir berkulit hitam gelap

27.                       Wungle, yaitu anak yang lahir berkulit putih bule

28.                       Walika, yaitu anak yang memiliki taring

29.                       Wungkuk, yaitu anak yang punggungnya bungkuk

30.                       Dengkak, yaitu anak yang mendongak ke depan

31.                       Butun, yaitu anak yang mendongak ke belakang

32.                       Wujil, yaitu anak yang terlahir kerdil

33.                       Kembar, yaitu dua anak yang lahir sehari dengan kelamin sama

34.                       Dampit, yaitu dua anak yang lahir sehari dengan kelamin beda

35.                       Gondang kasih, yaitu dua anak lahir sehari berkulit putih dan hitam

36.                       Tawang gantungan, yaitu dua anak yang lahir beda hari

37.                       Sukrenda, yaitu dua anak yang lahir terbungkus

 

38.                       Sementara itu yang dimaksud golongan Sengkala, antara lain:

39.                       Orang yang tidak menutup pintu dan jendela pada saat senja

40.                       Orang yang tidur di dipan tanpa tikar

41.                       Orang yang tidur di kasur tanpa seprei

42.                       Orang yang punya sumur tepat di depan rumah

43.                       Orang yang punya sumur tepat di belakang rumah

44.                       Orang yang punya tanah pekarangan miring

45.                       Orang yang menggulingkan dandang saat menanak nasi

46.                       Orang yang menaruh dandang di tungku padahal belum mencuci beras

47.                       Orang yang mematahkan cobek

48.                       Orang yang tidak menyisakan beras di lumbung

49.                       Orang yang menyapu di malam hari

50.                       Orang yang mengelap kotoran dengan kain yang dipakai

51.                       Orang yang membuang sampah di kolong

52.                       Orang yang sering telanjang

53.                       Orang yang berdiri di depan pintu

54.                       Orang yang bergelantungan di pintu

55.                       Orang yang sering bertopang dagu

56.                       Orang yang sering berdiri dengan satu kaki

57.                       Orang yang suka bersiul

58.                       Orang yang suka menggigit kuku

59.                       Orang yang memotong kuku malam hari

60.                       Orang yang makan sambil berjalan

61.                       Orang yang makan sambil tiduran

62.                       Orang yang duduk di atas bantal

63.                       Orang yang berjalan bertiga pada saat tengah hari tanpa bercakap-cakap

64.                       Dan banyak lagi yang lainnya.

 

Batara Kala sangat senang mendengar betapa banyak jenis manusia yang bisa dimangsanya itu. Batara Guru lalu menyerahkan sebuah pusaka berwujud golok, bernama Bedama yang harus digunakan Batara Kala untuk membunuh mangsanya terlebih dahulu sebelum dimakan. Batara Kala menerima senjata itu, kemudian mohon pamit kembali ke Pulau Jawa untuk mencari mangsa.

 

 

BATARA WISNU MENDAPAT TUGAS MENJADI JURU RUWAT

Setelah Batara Kala meninggalkan kahyangan, Batara Narada pun mengajukan keberatan atas apa yang menjadi keputusan Batara Guru tadi. Jika semua orang dengan ketentuan Sukerta dan Sengkala tersebut dimangsa oleh Batara Kala, maka penduduk Pulau Jawa akan berkurang banyak, bahkan seluruh manusia di dunia juga akan ikut habis.

 

Batara Guru menyadari kekeliruannya. Ia pun memanggil Batara Wisnu dan Batara Brahma untuk bersama-sama Batara Narada meruwat para manusia di Pulau Jawa yang termasuk golongan Sukerta dan Sengkala supaya terhindar dari ancaman Batara Kala. Batara Wisnu segera mengubah wujudnya menjadi seorang dalang bernama Ki Dalang Kandabuwana, sedangkan Batara Brahma menjadi penabuh gender wanita bernama Nyai Seruni, dan Batara Narada menjadi penabuh kendang bernama Panjak Kalunglungan.

 

Batara Wisnu juga mengajak serta adik-adiknya yang lahir dari Batari Umaranti, yaitu Batara Mahadewa, Batara Cakra, dan Batara Asmara untuk menyamar sebagai para penabuh gamelan. Bersama-sama mereka lalu berangkat ke Pulau Jawa.

 

 

BATARA KALA MEMBERI NAMA KALABANG DAN KALAJENGKING

Sesampainya di Pulau Jawa, Batara Kala merasa letih dan beristirahat di bawah pohon asam. Ketika sedang tidur, tiba-tiba kakinya digigit seekor lipan. Seketika ia pun terbangun namun tidak marah melihat binatang itu, bahkan menjadikannya sebagai anak buah. Ia lalu memberi nama baru untuk lipan, yaitu Kalabang, artinya “kala yang berwarna merah”.

 

Batara Kala melanjutkan tidur. Tiba-tiba kakinya dicapit seekor ketunggeng yang kemudian menyuntikkan ekornya yang tajam. Batara Kala terbangun namun tidak marah, dan menjadikan ketunggeng sebagai anak buah. Ia lalu memberi nama baru untuk ketunggeng, yaitu Kalajengking, artinya “kala yang menungging.”

 

 

BATARA KALA HENDAK MEMANGSA BATARA GURU

Batara Kala memandang ke atas dan tiba-tiba melihat Batara Guru dan Batari Umaranti mengendarai Lembu Nandini sedang terbang di angkasa untuk meninjau keadaan Pulau Jawa. Kebetulan saat itu sedang tengah hari, dan mereka bertiga juga tidak bercakap-cakap, sehingga termasuk golongan Sengkala. Maka, Batara Kala pun segera terbang menghadang mereka bertiga.

 

Batara Guru heran mengapa Batara Kala ingin memakan dirinya. Batara Kala mengaku tidak peduli meskipun Batara Guru adalah ayahnya, yang jelas saat ini sudah masuk ke dalam golongan Sengkala sehingga boleh dimangsa. Batara Guru pasrah jika memang dirinya harus dimangsa oleh anak sendiri. Namun sebelumnya, ia ingin bermain tebak-tebakan lebih dulu dengan Batara Kala. Yang ia tanyakan adalah makna kalimat “Hong, eka egul, eka wancah, dwi srogi, tri nabi, sapta trisu cahya, astha pada.”

 

Batara Kala tidak bisa menjawabnya. Batara Guru pun menjelaskan makna kalimat tersebut secara panjang lebar, yaitu “satu ekor, satu tali hidung, dua tanduk, tiga pusar, tujuh mata, dan delapan kaki” yang tidak lain dalah penggambaran Batara Guru, Batari Umaranti, dan Lembu Nandini.

 

Setelah menerima penjelasan tersebut, Batara Kala bersiap memangsa mereka bertiga, akan tetapi saat itu matahari sudah agak condong ke barat sehingga Batara Guru berkata bahwa dirinya bertiga sudah bukan lagi golongan Sengkala sehingga tidak boleh dimangsa. Batara Kala merasa kalah cerdik dan tertunduk malu. Pada saat itulah Batara Guru secara cepat menuliskan rajah pada dahi, rongga mulut, dada, dan punggung Batara Kala. Ia kemudian berpesan bahwa barangsiapa bisa membaca tulisan rajah tersebut maka Batara Kala harus menghormatinya sebagai perwakilan Batara Guru.

 

Batara Kala mematuhi pesan tersebut dan kemudian berangkat melanjutkan perjalanan.

 

 

BATARA KALA MENGEJAR JAKA JATUSMATI

Tersebutlah seorang pemuda bernama Jaka Jatusmati, yang merupakan anak tunggal Nyai Prihatin dari Desa Medangkawit. Pada suatu hari ia mandi di Telaga Nirmala untuk menghilangkan nasib buruknya. Tiba-tiba muncul Batara Kala hendak memangsanya karena tahu kalau ia anak tunggal. Jaka Jatusmati pun berlari sekencang-kencangnya, dan Batara Kala selalu mengejar ke mana pun ia pergi.

 

Dalam pelariannya, Jaka Jatusmati banyak melewati orang-orang Sengkala, antara lain ada orang yang memasang atap rumah tapi tiangnya belum dikuatkan, ada orang yang merobohkan dandang saat menanak nasi, ada pula orang yang mematahkan cobek saat menggiling bumbu. Batara Kala yang tetap mengejar Jaka Jatusmati tidak memangsa orang-orang itu, tetapi mengutuk mereka akan kehilangan harta benda. Dengan demikian, menjadi mangsa Batara Kala tidak berarti harus mati badan, tetapi juga bisa mati sandang pangan.

 

Sampai akhirnya, ia pun melihat ada sebuah pertunjukan wayang di Desa Medangwantu, yang dimainkan oleh Ki Dalang Kandabuwana.

 

Orang yang mengadakan hajatan menanggap wayang tersebut bernama Buyut Wangkeng yang ingin mendamaikan anak dan menantunya, yaitu Rara Primpen dan Buyut Geduwal. Awalnya, Rara Primpen sejak menjadi pengantin tidak pernah mau melayani suaminya, bahkan sampai minta bercerai. Buyut Wangkeng pun menasihatinya dengan sabar, sehingga Rara Primpen akhirnya bersedia melanjutkan rumah tangga dengan Buyut Geduwal, asalkan sang ayah menanggap wayang untuknya. Maka, Buyut Wangkeng pun mengundang Ki Dalang Kandabuwana untuk mendalang di rumahnya.

 

 

BATARA KALA TUNDUK KEPADA KI DALANG KANDABUWANA

Jaka Jatusmati yang tiba di rumah Buyut Wangkeng segera menyusup ke atas panggung wayang dan berbaur dengan para penabuh gamelan. Batara Kala yang datang menyusul menjadi bengong karena tertarik melihat pertunjukan wayang, sehingga lupa kepada buruannya. Sebaliknya, para penonton langsung ketakutan dan berlarian ke segala arah begitu melihat ada raksasa tinggi besar tiba-tiba muncul di antara mereka.

 

Ki Dalang Kandabuwana pun menghentikan pentas dan menemui Batara Kala. Batara Kala meminta supaya pentas dilanjutkan karena ia sudah terlanjur suka. Ki Dalang Kandabuwana bersedia melanjutkannya asalkan Batara Kala membayar tebusan dengan cara menyerahkan senjata Bedama. Batara Kala pun menyerahkan senjata itu kepada Ki Dalang Kandabuwana.

 

Tiba-tiba Batara Kala melihat Jaka Jatusmati ikut menabuh gamelan dan ia pun menangkap pemuda itu untuk dimangsa. Akan tetapi, begitu teringat pada pesan Batara Guru, ia segera meminta kembali senjata Bedama dari tangan Ki Dalang Kandabuwana untuk menyembelih Jaka Jatusmati. Ki Dalang Kandabuwana bersedia menyerahkan Bedama, asalkan ditukar dengan Jaka Jatusmati. Batara Kala setuju, dan ia pun menyerahkan Jaka Jatusmati dan menerima Bedama.

 

Begitu menerima Bedama, Batara Kala baru ingat kalau Jaka Jatusmati sudah lepas dari tangannya. Ia pun meminta supaya pemuda itu diserahkan kepadanya. Ki Dalang Kandabuwana bersedia menyerahkannya asalkan ditukar dengan Bedama. Batara Kala lalu menyerahkan Bedama tersebut, dan ia pun menerima Jaka Jatusmati, begitu seterusnya.

 

Batara Kala semakin bingung. Ketika ia lengah dan mulutnya ternganga, tiba-tiba saja Ki Dalang Kandabuwana membaca tulisan rajah di rongga mulutnya, juga rajah-rajah lainnya di dahi, punggung, dan dada. Batara Kala heran ternyata orang yang dihadapinya ini bisa membaca tulisan-tulisan tersebut. Ki Dalang Kandabuwana juga menjelaskan nama-nama rajah tersebut, yaitu pada dahi disebut Sastra Carakabalik, pada rongga mulut disebut Sastra ing Telak, pada dada disebut Sastra Bedati, dan pada punggung disebut Sastra Trusing Gigir.

 

Seketika Batara Kala teringat bahwa jika ada orang yang bisa membaca tulisan rajah pada tubuhnya, maka ia harus dihormati sebagai wakil Batara Guru. Oleh sebab itu, Batara Kala lalu duduk bersimpuh di hadapan Ki Dalang Kandabuwana dengan sikap pasrah dan lemas tak bertenaga.

 

Ki Dalang Kandabuwana menjelaskan bahwa dirinya memang mendapat tugas untuk meruwat orang-orang yang termasuk golongan Sukerta dan Sengkala. Mereka yang sudah diruwat tidak boleh dimangsa oleh Batara Kala. Batara Kala menyatakan patuh terhadap ketentuan tersebut. Ia lalu mohon pamit kembali ke Pulau Nusakambangan.

 

 

KI DALANG KANDABUWANA MENGADAKAN RUWATAN MASSAL

Setelah Batara Kala pergi, Ki Dalang Kandabuwana dan para pengikutnya lalu mengadakan upacara Ruwatan terhadap orang-orang yang termasuk golongan Sukerta dan Sengkala. Setelah meruwat mereka, ia juga mengajarkan mantra penolak gangguan jahat Batara Kala yang berbentuk Tembang Prawiralalita, berbunyi:

Yamaraja – Jaramaya, Yamarani – Niramaya, Yasilapa – Palasiya, Yamidora – Radomiya, Yamidosa – Sadomiya, Yadayuda – Dayudaya, Yasiyaca – Cayasiya, Yasihama – Mahasiya.

 

Selain itu ia juga mengajarkan laku brata sebanyak lima perkara kepada masyarakat Jawa untuk menghindari ancaman Batara Kala, yaitu:

§  Puasa, menahan makan dan minum

§  Berjaga, tidak tidur sampai orang lain tidur

§  Membisu, mengurangi banyak bicara

§  Wahdat, mengurangi persetubuhan dengan jarak seratus hari, atau paling tidak empat puluh hari

§  Bersabar, mengurangi marah.

 

Setelah mengajarkan itu semua, Ki Dalang Kandabuwana kembali ke wujud Batara Wisnu dan kembali ke Kahyangan Jonggringsalaka bersama para dewa lainnya untuk melaporkan bahwa tugas telah selesai dilaksanakan. Batara Guru menerima laporan tersebut dengan senang hati dan berpesan agar Batara Wisnu tetap waspada karena setiap saat Batara Kala bisa datang kembali untuk membuat kekacauan di Pulau Jawa.

 

 

ESTETIKA PEDALANGAN Ruwatan Murwakala Kajian Estetika dan Etika Budaya Jawa



   




Koleksi Artikel Imajiner Nuswantoro

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)