MAHADEWA BUDHA (KISAH PARA DEWA)

0

 MAHADEWA BUDHA (KISAH PARA DEWA)

 

 



Kisah ini menceritakan tentang Batara Guru yang menjelma sebagai seorang pertapa bernama Resi Mahadewa Buda untuk mengajarkan agama dan tata cara kehidupan kepada para penduduk Pulau Jawa. Ia kemudian mendirikan Kerajaan Medang Kamulan dan menjadi raja bergelar Sri Padukaraja Mahadewa Buda.

 

 

BATARA GURU MENDAPAT TUGAS KE PULAU JAWA

Di Kahyangan Jonggringsalaka, Batara Guru dihadap Batara Narada dan para putra, yaitu Batara Sambu, Batara Brahma, Batara Indra, Batara Bayu, dan Batara Wisnu. Mereka membicarakan tentang orang-orang Keling, Benggala, dan Siam yang telah berkembang biak di Pulau Jawa selama seratus tahun. Pada mulanya mereka yang datang bersama Empu Sengkala masih tekun beribadah sesuai ajaran Agama Dewa. Namun kini, anak keturunan mereka banyak yang tidak beriman dan hanya sibuk mencari makan atau berkembang biak saja.

 

Tidak lama kemudian Sanghyang Padawenang datang dari Kahyangan Awang-Awang Kumitir. Batara Guru menghaturkan sembah dan menceritakan keadaan Pulau Jawa yang penduduknya saat ini sudah jauh dari agama dan hidup seperti hewan saja. Sanghyang Padawenang merasa sangat prihatin mendengarnya. Maka, ia pun memerintahkan Batara Guru supaya pergi ke Pulau jawa untuk mengajarkan ilmu agama kepada para penduduk di sana. Batara Guru mematuhi perintah tersebut dan menyerahkan kepemimpinan Kahyangan Jonggringsalaka untuk sementara waktu kepada Batara Sambu dengan didampingi Batara Narada.

 

 

BATARA GURU MENJELMA MENJADI RESI MAHADEWA BUDA

Sebelum berangkat ke Pulau Jawa, Batara Guru lebih dulu berpamitan kepada sang istri, yaitu Batari Umaranti. Ia juga meninggalkan Lembu Andini di Kahyangan Jonggringsalaka untuk menemani Batari Umaranti. Setelah dirasa cukup, Batara Guru lalu menjelma menjadi seorang resi dengan menyembunyikan segala bentuk cacat tubuhnya, seperti berlengan empat, bertaring, berkaki pincang, dan berleher belang. Nama gelar yang ia pakai adalah Resi Mahadewa Buda.

 

Resi Mahadewa Buda pun berangkat ke Pulau Jawa dan mulai mengajarkan Agama Dewa. Para penduduk yang berusia tua menyambut gembira kedatangan Sang Resi, karena mereka samar-samar masih teringat tentang agama yang pernah dianut para leluhur yang dulu datang ke Pulau Jawa bersama Empu Sengkala. Sementara itu, para penduduk yang berusia muda pun belajar agama mulai dari awal.

 

Tidak hanya itu, selain bangsa manusia juga banyak pula jenis makhluk lain yang ikut belajar Agama Dewa kepada Resi Mahadewa Buda. Mereka adalah kaum raksasa, siluman, bahkan segala jenis binatang pun banyak pula yang berguru kepadanya.

 

Setelah berkelana menjelajahi Pulau Jawa untuk mengajarkan agama, Resi Mahadewa Buda lalu membangun sebuah padepokan di Gunung Kamula sebagai tempat tinggalnya. Di padepokan tersebut ia menerima murid dan pengikut yang semakin banyak jumlahnya dan juga beraneka ragam jenisnya.

 

 

RESI MAHADEWA BUDA MENDIRIKAN KERAJAAN MEDANG KAMULAN

Setelah mengajarkan ilmu agama selama empat puluh tahun, Resi Mahadewa Buda menerima kedatangan Batara Narada dari Tanah Hindustan, yang menyampaikan perintah Sanghyang Padawenang supaya mengajarkan pula tata cara pemerintahan kepada masyarakat Jawa yang sudah semakin berkembang kehidupannya itu.

 

Maka, Batara Guru pun mengubah padepokan di Gunung Kamula menjadi sebuah pusat pemerintahan, yang diberi nama Kerajaan Medang Kamulan. Ia menjadi raja di sana dengan bergelar Sri Padukaraja Mahadewa Buda, sedangkan Batara Narada menjadi menteri utama bergelar Patih Narada.

 

 

KISAH SENA SI TUNANETRA MEMOHON KEADILAN

Pada suatu hari Sri Padukaraja Mahadewa Buda menerima kedatangan seorang penduduk bernama Sena yang menghadap memohon keadilan. Ia mengeluh mengapa Tuhan Yang Mahakuasa menciptakan dirinya tidak sempurna, yaitu menderita tunanetra sejak lahir.

 

Sri Padukaraja Mahadewa Buda menasihati agar Sena tidak mencela ciptaan Tuhan. Namun, Sena terus-menerus memohon supaya diberi mata yang lebar agar bisa melihat pemandangan dunia. Sri Padukaraja Mahadewa Buda pun mengabulkannya. Sena berterima kasih dan meninggalkan pertemuan.

 

Tidak lama kemudian, Sena kembali lagi datang menghadap Sri Padukaraja Mahadewa Buda dan mengeluh ternyata memiliki mata lebar tidaklah enak, karena mudah kemasukan debu. Ia memohon agar diberi mata yang sempit saja. Sri Padukaraja Mahadewa Buda mengabulkannya. Sena pun berterima kasih dan mohon pamit keluar ruangan.

 

Namun, baru saja berada di luar istana, Sena terjatuh karena matanya silau melihat halilintar menyambar di angkasa. Ia pun kembali menghadap dan memohon kepada Sri Padukaraja Mahadewa Buda supaya matanya dikembalikan buta saja. Sri Padukaraja Mahadewa Buda mengabulkannya dan memberikan nasihat bahwa Tuhan Yang Mahakuasa telah menciptakan setiap makhluk hidup dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Apa yang sangat diinginkan oleh seseorang belum tentu menjadi sumber kebahagiaannya, dan apa yang tidak disukai seseorang belum tentu menjadi sumber penderitannya. Jika ada bagian tubuh yang memiliki kekurangan, tentu ada bagian tubuh lain yang memiliki kelebihan.

 

Sena merenungkan nasihat tersebut dan ia pun mendapatkan pencerahan. Setelah meninggalkan istana Medang Kamulan, ia banyak belajar ilmu pengobatan dan akhirnya menjadi seorang dukun yang memberikan pengobatan kepada masyarakat luas.

 

 

SRI PADUKARAJA MAHADEWA BUDA MEMINDAHKAN MEDANG KAMULAN

Setelah lima tahun bertakhta di Gunung Kamula, Sri Padukaraja Mahadewa Buda teringat dulu ia pernah dikejar-kejar burung dara berbisa ciptaan Nabi Isa sehingga pindah ke Pulau Jawa dan membangun sebuah kahyangan baru di Gunung Mahendra. Kahyangan tersebut diberi nama Kahyangan Argadumilah, dan kini menjadi tempat kosong setelah lama ditinggalkan. Teringat pada kenangan tersebut, Sri Padukaraja Mahadewa Buda ingin sekali memindahkan pusat kerajaan Medang Kamulan dari Gunung Kamula ke Gunung Mahendra tersebut.

 

Demikianlah, Sri Padukaraja Mahadewa Buda dengan dibantu Patih Narada dan para menteri pun membangun kembali bekas Kahyangan Argadumilah di puncak Gunung Mahendra menjadi sebuah istana, yaitu pusat Kerajaan Medang Kamulan yang baru. Istana yang baru ini tentu saja jauh lebih indah dan lebih megah daripada istana lama di Gunung Kamula.

 

 

MEDANG KAMULAN DISERANG KERAJAAN GUA GOBAJRA

Pada suatu hari Sri Padukaraja Mahadewa Buda melihat cahaya kemilau dari arah Laut Selatan. Patih Narada pun dikirim untuk pergi menyelidiki. Ternyata cahaya itu berasal dari seorang pertapa raksasa bernama Begawan Danu. Ketika ditanya apa tujuannya bertapa, ia menjawab ingin dijadikan maharesi pujangga Kerajaan Medang Kamulan. Patih Narada lalu membawanya pergi menemui Sri Padukaraja Mahadewa Buda.

 

Sri Padukaraja Mahadewa Buda menerima Patih Narada yang datang membawa Begawan Danu. Setelah memberikan beberapa ujian kecerdasan, Sri Padukaraja tertarik dan menyukai ilmu pengetahuan yang dimiliki Begawan Danu. Maka, pertapa raksasa itu pun dikabulkan keinginannya, yaitu diangkat menjadi maharesi pujangga Kerajaan Medang Kamulan.

 

Tidak lama kemudian tiba-tiba datang serangan dari Kerajaan Gua Gobajra yang dipimpin raja raksasa bernama Prabu Danuka, anak Begawan Danu. Rupanya telah terjadi salah paham, di mana Prabu Danuka mengira ayahnya ditangkap Patih Narada untuk dimasukkan penjara.

 

Ketika pertempuran ramai tersebut berlangsung, Begawan Danu muncul dan langsung melerai. Setelah segala kesalahpahaman dijelaskan, Prabu Danuka sangat malu dan memohon ampun kepada Sri Padukaraja Mahadewa Buda.

 

 

SRI PADUKARAJA MAHADEWA BUDA MENDAPATKAN SEPASANG RAKSASA KEMBAR

Di antara pasukan Prabu Danuka ada dua orang raksasa kembar bernama Ditya Cingkarabala dan Ditya Balaupata yang menarik perhatian Sri Padukaraja Mahadewa Buda. Kedua raksasa kembar itu adalah putra Patih Gopatana, menteri utama pengikut Prabu Danuka. Rupanya Sri Padukaraja Mahadewa Buda sangat terkesan melihat kekuatan dan kesaktian sepasang raksasa kembar tersebut saat bertempur melawan pasukannya tadi. Ia pun meminta mereka supaya tetap tinggal di Gunung Mahendra sebagai penjaga pintu gerbang Kerajaan Medang Kamulan.

 

Patih Gopatana sangat senang dan mengizinkan jika kedua putranya diterima menjadi abdi Sri Padukaraja Mahadewa Buda. Kedua raksasa kembar itu pun menurut dan patuh terhadap perintah tersebut. Maka, sejak saat itu mereka pun menjadi sepasang abdi penjaga pintu gerbang Kerajaan Medang Kamulan.

 

 

 

Kisah Sri Maharaja Dewa Buda

Seratus tahun telah berlalu sejak tanah Jawa diisi oleh Mpu Sangkala. Pada mulanya masyarakat Jawa menjalani hidup dengan baik dan tertib. Namun lama kelamaan mereka larut dalam kesibukan pekerjaan saja, melupakan persembahan kepada Tuhan yang telah memberikan semuanya kepada mereka. Kehidupan mereka tak beda seperti binatang yang hanya berburu untuk mencari makan. Tidak ada tata aturan yang mengatur kehidupan mereka.

 

Batara Guru di Kahyangan Jonggring Salaka menjadi prihatin melihat hal ini. Maka ia memutuskan untuk pergi ke tanah Jawa mengajarkan kembali tata cara menyembah Tuhan. Ia menyamar sebagai pandita yang bergelar Resi Mahadewa Buda sedangkan masyarakat Jawa menyebutnya sebagai Sang Jawata yang artinya guru orang Jawa.

 

Resi Mahadewa Buda kemudian mendirikan candi sebagai tempat pamujan di sebelah barat Gunung Candramuka dan Gunung Candrageni. Bangunan batu ini sangat besar dan diberi nama Candi Marabuda.  Hal ini ditiru oleh rakyatnya. Sejak itulah banyak yang mendirikan sanggar sebagai tempat ibadah. Inilah pertama kalinya masyarakat di Pulau Jawa mengenal tempat ibadah.

 

Empat puluh tahun kemudian Resi Mahadewa Buda mengangkat dirinya sebagai raja yang menguasai seluruh tanah Jawa. Ia bergelar Sri Maharaja Dewa Buda, dan patihnya bergelar Resi Narada. Ibukota kerajaannya berada di kaki Gunung Kamula (Gunung Pangrango) dan diberi nama Kerajaan Medang Kamulan. Ini adalah kerajaan pertama yang ada di Pulau Jawa.

 

Sri Maharaja Dewa Buda memerintah sebagai seorang raja sekaligus hakim. Ia juga menggunakan kesaktiannya untuk mengabulkan permintaan rakyatnya. Misalnya seorang yang tunanetra bernama Sena yang meminta agar diberi mata yang lebar, karena saat lahir ia tidak mempunyai bola mata. Ketika permintaan itu dikabulkan ternyata Sena menderita karena matanya mudah terkena debu. Lalu Sena meminta agar diberi mata yang sempit. Setelah dikabulkan ternyata mata yang sempit mudah silau. Akhirnya ia meminta agar matanya dibutakan kembali.

 

Sri Maharaja Dewa Buda mengabulkannya dan menasehati Sena agar ia menjadi seseorang yang bersyukur. Karena segala sesuatu itu telah dibuat sesuai dengan perbuatannya di masa lampau. Sena pun menyadari kesalahannya. Setelah kembali ke rumahnya, ia menjadi orang yang waskita dan bijaksana sehingga banyak orang yang meminta nasihatnya.

 

Enam tahun lamanya Sri Maharaja Dewa Buda bertahta di kaki Gunung Kamula. Ia kemudian memindahkan istananya ke Gunung Mahendra (Gunung Lawu). Gunung ini tidak lain adalah bekas kahyangannya sewaktu mengungsi dulu, yaitu Kahyangan Arga Dumilah.

 

Sri Maharaja Dewa Buda bertahta di Medang Kamulan yang telah dipindah ke Gunung Mahendra. Kekuasaannya tidak hanya meliputi bangsa manusia saja, melainkan juga menguasai bangsa hewan, gandarwa dan raksasa.

 

 

 

 

Siwa Mahadewa Dewa Yang Agung

Siwa adalah Dewa yang agung, Mahadewa. Dia adalah Cahaya Tuhan yang abadi yang meresap ke dalam mahluk hidup. Mahadewa dikenal sebagai Penakluk Kematian, Mrtyunjaya. Dewa yang Agung adalah sumber hidup abadi. Mahadewa berinkarnasi dalam perwujudan dan ada di lintasan perjalanan hidup setiap mahluk. Mahadewa tidak termanifestasikan dalam perwujudan universalnya melainkan dalam setiap tubuh perseorangan baik pada manusia, binatang maupun tumbuh-tumbuhan. Di setiap tingkatan manifestasi sifat ketuhanan dan keabadian dari Dewa Yang Agung itu terbukti. Mahadewa hadir sebagai sebab utama dari eksistensi/keberadaan dan kekuatan rahasia yang disebut Hidup atau prana.

 

Mahadewa disebut Rudra dan Siva di dalam tradisi India. Mahadewa digambarkan dengan Agni ataupun sebaliknya. Agni disebut memiliki dua aspek yakni Rudra didalam wujudnya yang mengerikan dan Siva dalam wujudnya yang memberikan ketenangan. Agni disebut Dewa Abadi (Amritadeva). Para pemikir Veda mengungkapkan konsep mereka tentang Dewa Yang Agung dalam tiga rumusan: pertama, Agni adalah Rudra kedua, Agni adalah sumber keabadian dari semua mahluk fana, ketiga, Agni adalah sumber hidup yang disebut Prana yang ada di dalam tubuh fana Sebagai contoh, disebut di dalam Rig veda : "Oh Agni, Engkaulah Rudra" didalam Satapatha Brahmana disebut " Rudra adalah sama dengan Agni", dai di dalam Taittiriya brahmana "bahwa Agni adalah Rudra".

 

Identifikasi Rudra-Siva dengan Agni adalah dasar prinsip keberadaan alam semesta menurut Veda. Agni terbentuk sebagai dewa utama yang pada dirinya semua dewa melekat menjadi satu pribadi. Agni dipahami sebagai pranagni, sumber hidup atau kesadaran yang meliputi manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Agni adalah juga api kasat mata yang dihasilkan dari minyak ataupun getah kayu pada altar persembahan, namun itu hanyalah sebagai sebuah simbol. Sebagaimana api yang tersembunyi dalam minyak dan kayu dapur demikianlah misteri api dalam hidup yang bersthana di dalam tubuh. Api itulah yang benar-benar baik untuk persembahan kepada Tuhan, Yajnasya Dedam; dia terwujud bagi kesempurnaan persembahan yang tertuju kepada Tuhan.

 

Dimanapun keberadaan Agni, dewa-dewa yang lain datang bersekutu. Ini adalah fenomena bahwa kita menyaksikan dalam hidup sehubungan dengan persoalan dasar-dasar kehidupan. Dimana kekuatan misteri ilahi dari Hidup ini, semua kekuatan hidup lainnya yang dikenal sebagai dewa-dewa haruslah ada. Para pendeta kuno menjadikan Agni sebagai simbol dan dasar dari rumusan metafisika mereka. Agni yang abadi telah meresap ke dalam mahluk fana, dan demikianlah kekuatan penakluk kematian Rudra-Siva sebagai Mrityunjaya berimplementasi dalam seluruh tradisi Indir.

 

Arti Istimewa Mahadewa. Konsep Siwa seharusnya tetap ditelusuri detngan tujuan agar dapat memahami mitologi yang berkembang dari kumpulan nama dan bentuknva. Agni dalam berbagai versi menjadi kekuatan utama, kekuatan pertama yang menginisiasi kesadaran dan generasi. Oleh karena itulah ia disebut Agri, yang terutama, yang menurut etimologi esoteris menjadi Agni. Bagaimanpun para ahli pastilah menjabarkan kata ini, secara khusus kata Agni dirumuskan menjadi cukup berarti sebagai hal yang menunjukkan dan menuntun kita kepada sifat asal Agni sebagai penyebab pertama dari segala mahluk.

 

Pencipta Utama yang dikenal sebagai Prajapati adalah dirinya sendri yang terbentuk sebagai Agni yang padanya dibangun altar perapian. Alam semesta merupakan altar perapian dan tubuh manusia juga berhubungan dengan alam semesta sebagai altar di mana api kehidupan menyala dan tetap teus menyala sepanjang waktu keberadan-nya tersebutkan.

 

Agni adalah dua sisi, yakni panas dingin, yang terdahulu adalah yang meleburkan dan yang kemudian adalah yang mengalirkan kebaikan; jadi Dewa Siwa yang berwujud menakutkan atau Bhairava, penuh kengerian dan meleburkan setiap kesatuan; namun dalam wujud ini Siva memberikan ketenangan dan keberkelanjutan proses kehidupan. Dalam aspeknya yang terdahulu Agni menjadi penghancur dalam korban dan berkelana dengan sebuah mangkuk pengemis pada tangannya, meminta-minta makanan.

 

Arti Wujud Bhairava dalam Rudra-Agni. Penguasa Hidup yang selalu menginginkan makanan. Apabila makanan diberikan Agni menjadi tenang; tanpa makanan Agni menjadi monster yang menakutkan yang siap melahap setiap tubuh yang sudah tidak menjadi sthana. Ini adalah kebenaran yang jelas yang terbukti dalam stiap tubuh atau wujud kediaman fisik Agni.

 

Agni tanpa makanan atau minyak akhirnya menjadi padam dan abu hitam (bhasma), tetapi apabial Agni diberikan makanan sedap hari atu persembahan yang setara menjadi nyala api hidup yang bercahaya. Makanan itu disebut Soma dan Soma merupakan wanita atau kekuatan ibu dimana Agni merupakan laki-laki atau kekuatan Ayah. Ketika Agni terpuaskan oleh Soma demikianlah sebenarnya runutan Yajna. Di dalam mitologi Rudra-Siva, konsep ini tergambar Ardhanarisvara, unsur setengah laki-laki dan setengah wanita pada Siva, atau bentuk Siva-Parvati dalam ikonografi.

 

Siva disebut sebagai Dewa di Kailasa. Para Ahli Antropologi mengatakan bahwa Siva adalah Dewa Gunung. Mengingat asalnya, pengertian ini mungkin sebagian benar, namun di dalam Rig Veda, Rudra disebut ayah para Marut; bala tentara marut dikatakan sebagai putra-putra Rudra (Rudriyah). mereka juga dihubungkan dengan Indra yang menunjukkan sebuah kesatuan dari Rudra dan Indra, keduanya adalah perwujudan api yang dipahami identik. Di dalam Rig Veda Indra adalah Penari Agung sebagaimana Siva yang adalah Nataraja di dalam Purana.

 

Siva adalah dewa yang mengawali pikiran. Di dalam tradisi Yoga, Siva adalah Dewa dari teratai yang berkelopak seribu yang berada di dalam pikiran. Indra juga di satu sisi disebut manasvan, yaitu dewa pikiran.

 

Indra tetap bertentangan dengan naga Vritra-Ahi dan Siva dikaitkan dengan lilitan ular pada tubuhnya. Indra disebut Kerbau Agung, Vrishabha, pemanah yang menyebarkan benih ke seluruh bagian alam semesta unuk membuahi keberadaan keibuan; kerbau yang sama tergambar pada Kama-deva yang ditaklukkan oleh Siva dan dijadikan panglima pasukan (bala tentara gana). kerbau nandi yang mempakan Kama-deva mencerminkan prinsip ananda atau kebahagiaan yang adalah sumber segala ciptaan.

 

Racun pada kerongkongan Siva mewakili kekuatan kematian yang termasuk dalam tingkatan bentuk fisik. Energi prana menyatu dalam bentuk fisik menjadi berwarna hitam oleh kematian dan menjadi mangsa pengurai. Kerongkongan adalah simbol akasa atau ruang yang tak terbatas dimana racun diperkenankan berdiam di sana tanpa mempengaruhi tubuh fana.

 

Adalah dewa bulan pada dahi Siwa dan juga Gangga, sungai pada rambutya yang tergulung. Bulan melambangkan kekuatan intelegensi dan kesadaran yang lebih tinggi, sejenis cahaya murni yang menjadikan yang tertinggi satu dewa yang terutama turun kepada tingkatan manifestasi materialnya.

 

Gangga adalah Sungai Kehidupan, banjir hebat yang turun dari Nirwana yang kekal kepada kefanaan Bumi. Rambut Siva yag terggelung mewakili dunia atau ciptaan dalam berbagai kualitas dan bentuknya yang tak terhingga. Rambut-rambut yan tergelung begitu lebat dan rum: sebagaimana aneka persoalan dunia Sungai kehidupan mengaliri setiap pojok dan ciptaan duniawi. Ada banjir energi prana yang tetap terselebung sampai dilepaskan oleh kemurahan Siwa dan sebagai hasil kekuatan tapa yang dijalankan oleh umat manusia. Sungai itu bernama Gangga yang berasal dari kekuatan gerakannya, atau aliran yang tiada henti dari awal hingga akhir masa bagikan arus hebat yang memuaskan segenap tubuh ataupur bentuk materi yang ada oleh airnya.

 

Senjata Siwa, trisula, adalah simbol pola tiga bentuk ciptaan. Trisula diidentikkan dengan senjata Indra, wajra, yang memurnikan setiap obyek atau ciptaan yang keberadaanya bertentangan. Tiga pucuk tajam pada senjata yang sangat ampuh ini terkait dengan tiga guna atau tiga kekuatan yang memberikan alam semesta pada eksistensinya dan'juga menghentikan ketika terjadi kekacauan.

 

Ciptaan dikatakan berhubungan dengan sakti yang agung atau energi yang luar biasa dari Siwa. Sekalian alam semesta diciptakan oleh sakti Siwa. Energi ini bagaikan samudra yang memenuhi segenap ruang. Sakti adalah dewi penguasa mandala atau lingkaran dimana Siwa menari adalah penarinya Siwa sebagai penari menampilki. kehebatan tandawanya. Gerak-gerik tari menghadirkan ayunan sakti atau energi. Pada dua sisi dalam Brahmasutra atau garis tengah dari atas kebawah, gerak-gerak ritmis adalah langkah dalam tarian tersebut. Gerak memutar yang dalam ini dapat dilihat di jagat raya sebagai kekuatan hebat yang terlihat pada getaran matahari dan putaran yang maha kuat pada rasi bintang serta komet.

 

 

 

 

 

Imajiner Nuswantoro

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)