KISAH JAKA SENGKALA (KISAH PARA DEWA)

0

KISAH Jaka Sengkala

 (KISAH PARA DEWA)

 

 


Tersebutlah seorang raja dari Kerajaan Najran bernama Prabu Sarkil yang gemar sekali berdagang. Pada suatu hari ia berlayar menuju Tanah Hindustan namun di tengah perjalanan kapalnya hancur dihantam badai. Seluruh pengawalnya tewas tenggelam, sementara Prabu Sarkil terapung-apung pingsan di lautan.

 

Saat itu Batara Anggajali sedang duduk di atas lautan sambil membuat senjata untuk para dewa sesuai perintah Batara Guru. Tiba-tiba ia melihat Prabu Sarkil terapung-apung di bawa ombak. Ia pun menyambar tubuh raja itu dan membawanya ke daratan.

 

Beberapa waktu kemudian Prabu Sarkil sadar dari pingsan. Ia terkejut melihat seorang pria tampan di hadapannya. Batara Anggajali pun memperkenalkan diri. Prabu Sarkil sangat gembira dan mengundangnya datang ke Negeri Najran.

 

Sesampainya di Najran, Prabu Sarkil menjodohkan Batara Anggajali dengan putrinya yang bernama Dewi Saka. Keduanya pun melangsungkan pernikahan. Beberapa bulan kemudian Dewi Saka pun mengandung. Saat itu Batara Anggajali teringat pada tugasnya dan takut mendapat murka dari Batara Guru. Maka, ia pun memutuskan untuk kembali ke lautan. Sebelum berangkat, ia sempat berpesan jika putranya kelak lahir laki-laki supaya diberi nama Jaka Sengkala.

 

Beberapa waktu kemudian, ketika usia kandungan Dewi Saka menginjak sembilan bulan, namun belum juga terlihat tanda-tanda kelahiran sang bayi. Berbagai macam obat-obatan sudah dicoba, namun tidak membuahkan hasil. Prabu Sarkil sangat sedih namun hanya bisa pasrah kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

 

Akhirnya setelah usia kandungan mencapai dua tahun, dewi Saka pun melahirkan bayi laki-laki yang menunjukkan tanda-tanda kedewataan. Bayi itu memiliki mata merah dan kulit bersih tanpa dilumuri darah dan ari-ari seperti bayi lainnya. Selain itu ia juga tidak menetek pada ibunya. Dewi saka sendiri langsung sehat setelah melahirkan bayi yang diberi nama Jaka sengkala itu.

 

Jaka Sengkala tumbuh menjadi anak yang memiliki kekuatan luar biasa. Sejak kecil ia sudah bisa terbang di angkasa. Dalam membaca dan menghafalkan kitab kepandaiannya jauh melebihi para guru pengajarnya.

 

Setelah berusia 25 tahun Jaka Sengkala mendesak ibu dan kakeknya agar memberi tahu siapa ayah kandungnya. Setelah berusaha keras ia akhirnya mengetahui kalau ayah kandungnya seorang dewa pembuat senjata bernama Batara Anggajali.

 

Maka berangkatlah Jaka Sengkala terbang di angkasa menuju tempat ayahnya. Di atas lautan ia melihat seorang dewa sibuk membuat senjata. Setelah berkenalan ternyata dewa itu adalah Batara Anggajali, ayahnya sendiri.

 

Jaka Sengkala sangat kagum melihat kesaktian ayahnya. Ia memutuskan untuk berguru kepada sang ayah dan tidak mau pulang ke Najran. Batara Anggajali dipujinya sebagai orang paling sakti di dunia. Batara Anggajali menolak pujian itu, karena kesaktiannya masih kalah dibanding Batara Ramayadi, ayahnya.

 

Maka Jaka Sengkala membatalkan niat untuk berguru kepada sang ayah. Sesuai petunjuk yang diterimanya, ia pun terbang ke angkasa menuju tempat Batara Ramayadi, kakeknya sendiri. Batara Ramayadi langsung mengenali Jaka Sengkala sebagai cucunya sendiri. Jaka Sengkala sangat kagum dibuatnya, dan memuji Batara Ramayadi sebagai orang paling sakti di dunia.

 

Batara Ramayadi menolak pujian itu, karena menurutnya, yang paling sakti di dunia adalah putra Batara Guru yang bernama Batara Wisnu. Jaka Sengkala pun melesat menuju ke tempat tinggal dewa tersebut sesuai petunjuk sang kakek.

 

Akhirnya, Jaka Sengkala berhasil menemukan tempat tinggal Batara Wisnu. Ia sangat kagum karena Batara Wisnu mampu mengetahui asal-usulnya, serta maksud dan tujuan kedatangannya. Atas desakan Jaka Sengkala, Batara Wisnu terpaksa memamerkan kesaktian di hadapan pemuda itu.

 

Ketika Jaka Sengkala menyatakan mantap ingin berguru, Batara Wisnu justru menjelaskan bahwa di dunia ini tidak ada orang yang memiliki kesaktiuan sempurna. Menurutnya, yang paling sempurna hanya Tuhan Yang Mahaesa. Maka Jaka sengkala pun memutuskan untuk mencari di mana Tuhan berada dan berguru kepada-Nya.

 

Batara Wisnu menjelaskan bahwa Tuhan itu tidak terbatas ruang dan waktu. Untuk mendekatkan diri dengan Tuhan yang diperlukan adalah ilmu kesempurnaan hidup, yaitu ilmu tentang asal dan tujuan kehidupan. Menurutnya, jika Jaka Sengkala ingin memiliki ilmu itu harus belajar pada sahabatnya yang bernama Pandita Usmanaji.

 

Akhirnya Jaka Sengkala berhasil bertemu Pandita Usmanaji yang tinggal di Negeri Banisrail. Kepadanya ia berguru ilmu kesempurnaan hidup sesuai ajaran Nabi Isa. Semakin lama ia semakin larut dalam pelajarannya. Pada puncaknya, Jaka Sengkala meminta untuk dipertemukan dengan Nabi isa.

 

Pandita Usmanaji menolak permintaan tersebut karena Jaka Sengkala tidak ditakdirkan bertemu dengan Nabi Isa, tetapi kelak ia akan bertemu dengan nabi penutup yang bernama Nabi Muhammad. Kelahiran nabi tersebut masih 500 tahun lagi, namun Jaka Sengkala ditakdirkan bisa mendapatkan air ajaib Tirtamarta Kamandalu sehingga bisa hidup abadi dan berumur panjang.

Tirtamarta Kamandalu adalah air suci yang muncul dalam legenda Aji Saka. Kamandalu sendiri merupakan nama kendi suci yang berisi air kehidupan (air amerta), dan merupakan salah satu atribut Dewa Brahma. 


Dalam kisah Aji Saka, air Tirtamarta Kamandalu sering kali dikaitkan dengan kedatangan peradaban ke tanah Jawa. Aji Saka dikisahkan sebagai tokoh yang membawa peradaban, menyelamatkan masyarakat dari penguasa yang kejam, dan memperkenalkan aksara Jawa. Air suci ini menyimbolkan hal-hal berikut : 

- Kesucian: Air Tirtamarta Kamandalu adalah air murni yang digunakan untuk penyucian diri.

- Keabadian dan kehidupan: Air ini melambangkan kehidupan yang kekal dan kesejahteraan.

- Berkah: Dalam upacara keagamaan di Bali (seperti yang sering disebut dalam cerita), air ini digunakan untuk membawa berkah dan mempererat hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. 


Dengan demikian, air suci Tirtamarta Kamandalu dalam konteks legenda Aji Saka melambangkan berkat, kebijaksanaan, dan kehidupan baru yang dibawa oleh Aji Saka ke tanah Jawa. 



Pandita Usmanaji menyarankan agar untuk sementara ini Jaka Sengkala pergi menemui ayahnya yang kini telah menetap di Kerajaan Surati. Kerajaan tersebut adalah hadiah dari Batara Guru karena jasa-jasa Batara Anggajali dalam menciptakan pusaka-pusaka kahyangan.

 

Dalam perjalanan menuju Negeri Surati kali ini Jaka Sengkala tidak menggunakan kesaktiannya dengan terbang di angkasa, melainkan menempuh jalur darat saja. Akhirnya ia pun menemukan negeri tersebut di mana sang ayah, Batara Anggajali, telah bertakhta di sana dengan bergelar Prabu Iwasaka.

(Kitab Paramayoga)

 

 

 SILSILAH JAKA SENGKALA ATAU AJISAKA


SISILAH JAKA SENGKALA / AJISAKA

 

PRABU SAKIL BERTEMU BATARA ANGGAJALI

Tersebutlah seorang raja keturunan Nabi Ismail bernama Prabu Sakil yang memerintah Kerajaan Najran. Raja ini suka sekali berdagang ke seberang lautan dengan berdandan sebagai saudagar. Pada suatu hari, kapal yang ditumpangi Prabu Sakil dan para pengikutnya hancur dihantam badai. Seluruh penumpang tewas, kecuali Prabu Sakil yang terapung-apung di lautan dengan berpegangan pada sebilah papan kayu.

 

Batara Anggajali saat itu sedang duduk di atas ombak laut sambil mengerjakan perintah Batara Guru untuk membuat senjata-senjata pusaka kahyangan. Ketika melihat Prabu Sakil terapung-apung, ia pun bergegas menolong dan membawanya naik ke daratan.

 

Setelah sadar dari pingsan, Prabu Sakil berterima kasih atas pertolongan Batara Anggajali. Mereka pun berkenalan dan saling menceritakan asal-usul masing-masing. Sebagai ungkapan terima kasih, Prabu Sakil memohon dengan sangat agar Batara Anggajali sudi singgah di Kerajaan Najran barang beberapa hari.

 

Batara Anggajali tidak tega untuk menolak. Maka dengan kesaktiannya, ia pun menggendong Prabu Sakil dan membawanya terbang di udara, sehingga dalam sekejap saja mereka sudah sampai di ibu kota Kerajaan Najran.

 

 

BATARA ANGGAJALI MENIKAHI DEWI SAKA

Prabu Sakil sangat menyukai pribadi Batara Anggajali dan berterus terang ingin menjadikannya menantu. Saat itu ia telah memiliki seorang putri remaja bernama Dewi Saka yang hendak dijodohkan dengan dewa pembuat senjata tersebut.

 

Batara Anggajali menerima lamaran Prabu Sakil dengan senang hati. Maka dilangsungkanlah pernikahan antara dirinya dengan Dewi Saka. Namun ia juga tidak bisa lama-lama meninggalkan tugas yang diberikan Batara Guru. Setelah sang istri mengandung, Batara Anggajali pun mohon pamit kembali ke tengah lautan untuk melanjutkan pembuatan senjata-senjata pusaka.

 

 

Batara Anggajali


 

 

KELAHIRAN JAKA SENGKALA

Sudah lebih dari sembilan bulan mengandung, namun Dewi Saka belum juga melahirkan. Segala macam pengobatan sudah diusahakan oleh Prabu Sakil namun belum juga berhasil. Sampai akhirnya, usia kandungan mencapai dua tahun, barulah Dewi Saka melahirkan bayi laki-laki berkulit putih bersih, dengan mata berwarna merah berkilat-kilat. Bayi itu diberi nama Jaka Sengkala, karena kelahirannya tergolong aneh dan tidak seperti bayi-bayi lain pada umumnya.

 

Sejak kecil Jaka Sengkala sudah memiliki keistimewaan. Ia tidak minum air susu ibunya, tetapi menghisap ujung jari sendiri. Ketika berusia delapan tahun ia sudah menamatkan semua ilmu yang diajarkan para ulama. Setelah tumbuh dewasa ia pun memiliki berbagai macam kesaktian, antara lain mampu terbang di angkasa.

 

Pada suatu hari Jaka Sengkala meminta ibunya untuk menceritakan siapa sebenarnya ayah kandungnya. Setelah didesak terus-menerus, Dewi Saka akhirnya bercerita, bahwa Jaka Sengkala sebenarnya adalah cucu seorang dewa pembuat senjata, bernama Batara Anggajali, yang saat ini berada di atas Samudera Hindia.

 

Jaka Sengkala sangat penasaran ingin bertemu ayahnya dan tidak bisa ditahan lagi. Ia pun mohon pamit kepada kakek dan ibunya untuk pergi mencari Batara Anggajali. Dengan berat hati Prabu Sakil dan Dewi Saka pun melepas kepergian Jaka Sengkala yang sangat mereka kasihi itu dan mendoakannya supaya selalu mendapatkan perlindungan Tuhan Yang Mahakuasa.

 

 

JAKA SENGKALA BERTEMU AYAHNYA

Jaka Sengkala terbang meninggalkan Kerajaan Najran dan sampai di atas Samudera Hindia. Di tengah lautan ia melihat Batara Anggajali sedang duduk tenang di atas ombak lautan sambil tangannya bekerja membuat senjata-senjata pusaka. Jaka Sengkala yakin orang itu adalah ayah kandungnya dan ia pun segera memperkenalkan diri. Mengetahui pemuda itu adalah anak Dewi Saka, Batara Anggajali sangat gembira dan menerimanya sebagai putra.

 

Jaka Sengkala sangat kagum melihat kesaktian sang ayah dalam membuat senjata yang tidak menggunakan api, namun cukup jarinya memijat-mijat besi saja. Ia pun menyatakan ingin tinggal bersama sang ayah. Namun Batara Anggajali berkata bahwa sebaiknya Jaka Sengkala pulang ke Najran saja supaya bisa hidup mulia di sana sebagai raja yang kelak menggantikan kakeknya. Jaka Sengkala mengaku tidak suka kemewahan dan ingin hidup sebagai murid sang ayah saja. Karena baginya, Batara Anggajali adalah yang paling sakti di dunia.

 

Batara Anggajali menolak anggapan itu. Ia mengatakan bahwa ayahnya, atau kakek dari Jaka Sengkala yang bernama Batara Ramayadi jauh lebih sakti darinya. Jika membuat senjata, Batara Ramayadi tidak perlu menggunakan tangan tapi cukup dengan memandang saja, besi baja akan lunak dengan sendirinya.

 

Jaka Sengkala pun mengurungkan niat untuk berguru kepada ayahnya dan menyatakan ingin berguru kepada sang kakek saja. Batara Anggajali melepaskan kepergian putranya itu dan menunjukkan arah yang harus ditempuh jika ingin bertemu Batara Ramayadi.

 

 

JAKA SENGKALA BERTEMU KAKEKNYA

Jaka Sengkala akhirnya berhasil menemukan Batara Ramayadi yang sedang duduk di atas awan mega sedang sibuk membuat berbagai senjata pusaka. Tanpa perlu Jaka Sengkala memperkenalkan diri, ternyata Batara Ramayadi sudah dapat menebak kalau ia adalah cucunya sendiri, yaitu putra Batara Anggajali.

 

Jaka Sengkala menyampaikan niatnya ingin berguru kepada sang kakek yang dianggapnya paling sakti di dunia. Kini ia melihat dengan mata sendiri bagaimana sang kakek membuat senjata tanpa perlu menggunakan tangan. Cukup dengan dipandang saja, segala macam besi dan baja akan lunak dengan sendirinya. Namun, Batara Ramayadi menolak sebutan paling sakti tersebut, karena ia hanyalah seorang empu pembuat senjata. Para dewa di Kahyangan Tengguru jauh lebih sakti, dan yang paling sakti adalah Batara Guru, sang raja para dewa. Adapun dewa lainnya yang memiliki kesaktian setara dengan Batara Guru adalah putra bungsunya yang bernama Batara Wisnu.

 

Jaka Sengkala terlihat kecewa karena kakeknya ternyata bukan yang paling sakti. Ia kemudian mohon pamit untuk berangkat menemui Batara Wisnu. Batara Ramayadi mengizinkan dan menunjukkan arah yang harus ditempuh menuju tempat tinggal Batara Wisnu tersebut.

 

 

JAKA SENGKALA BERTEMU BATARA WISNU

Berkat petunjuk sang kakek, Jaka Sengkala berhasil menemukan Gunung Tengguru dan tiba di kahyangan tempat tinggal Batara Wisnu. Tanpa harus memperkenalkan diri, Batara Wisnu dapat menebak asal-usul Jaka Sengkala sekaligus mengetahui perasaan kecewa dalam hati pemuda itu terhadap ayah dan kakeknya yang ternyata bukan manusia paling sakti di dunia. Jaka Sengkala sangat senang melihat kepandaian Batara Wisnu dalam menebak asal-usul serta isi hatinya. Ia pun menyatakan ingin berguru kepadanya. Batara Wisnu mengatakan jika Jaka Sengkala ingin menjadi murid maka harus bisa menyesuaikan diri dengan perilaku kehidupannya.

 

Jaka Sengkala menyatakan siap untuk menyesuaikan diri dengan perilaku Batara Wisnu. Batara Wisnu pun menguji Jaka Sengkala. Dalam sekejap tubuh Batara Wisnu sudah menghilang dari pandangan dan kemudian amblas ke dalam perut bumi, setelah itu terbang ke angkasa, dan mendarat di Kutub Utara, kemudian menuju ke Kutub Selatan dalam waktu sekejap. Anehnya, ke mana pun Batara Wisnu pergi, Jaka Sengkala selalu dapat menyertainya.

 

Batara Wisnu mengatakan bahwa Jaka Sengkala tidak perlu lagi belajar kesaktian karena pada dasarnya ia telah sakti sejak lahir. Batara Wisnu juga menjelaskan bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang memiliki kesaktian paling sempurna, karena yang sempurna hanyalah  Tuhan Yang Mahasempurna. Maka, ilmu yang paling tinggi derajatnya bukanlah ilmu kesaktian yang membuat manusia tidak terkalahkan, tetapi ilmu pengetahuan yang membuat manusia semakin dekat dengan Tuhan Yang Mahakuasa. Itulah ilmu kesempurnaan yang seharusnya dipelajari dan diamalkan.

 

Jaka Sengkala pun memohon supaya Batara Wisnu mengajarkan ilmu kesempurnaan tersebut agar ia dapat mendekati Tuhan Yang Mahakuasa. Batara Wisnu menyarankan supaya Jaka Sengala berguru kepada sahabatnya saja yang bernama Pendeta Usmanaji di Kerajaan Bani Israil. Jaka Sengkala menurut dan berangkat menuju arah yang ditunjukkan kepadanya.

 

 

JAKA SENGKALA MENJADI MURID PENDETA USMANAJI

Jaka Sengkala akhirnya bertemu dengan Pendeta Usmanaji dan menceritakan apa yang disampaikan Batara Wisnu kepadanya. Pendeta Usmanaji berkenan menerimanya sebagai murid dan mengajarinya berbagai macam ilmu pengetahuan dan hakikat kebenaran.

 

Setelah mempelajari semua ilmu dari sang guru, Jaka Sengkala berubah menjadi sosok rendah hati dan tidak lagi angkuh seperti sebelumnya. Pendeta Usmanaji meramalkan bahwa kelak Jaka Sengkala akan menjadi manusia yang dipilih Tuhan untuk mengisi Pulau Jawa dengan penduduk manusia. Jaka Sengkala juga diramalkan kelak berhasil memperoleh keabadian berkat meminum Tirtamarta Kamandanu di Tanah Lulmat, namun waktunya masih lama.

 

Pendeta Usmanaji menyarankan agar saat ini Jaka Sengkala pergi ke Kerajaan Surati untuk bertemu ayahnya sambil menunggu takdir Tuhan lebih lanjut. Rupanya Pendeta Usmanaji mendapatkan berita bahwa Batara Guru sangat senang melihat hasil kerja Batara Anggajali dalam menciptakan senjata-senjata kahyangan, sehingga ayah Jaka Sengkala itu pun mendapatkan hadiah berupa Kerajaan Surati.

 

Jaka Sengkala menuruti nasihat sang guru. Dengan berat hati ia pun mohon pamit. Pendeta Usmanaji melepas kepergian muridnya itu dan meramalkan kelak mereka akan bertemu lagi di Pulau Jawa yang terletak di seberang tenggara.

 

 

JAKA SENGKALA TIBA DI KERAJAAN SURATI

Dari Kerajaan Bani Israil menuju Kerajaan Surati, Jaka Sengkala tidak lagi terbang di angkasa seperti yang sudah-sudah, tetapi lebih memilih berjalan kaki menyusuri jalur darat. Sesampainya di tempat yang dituju, ia disambut dengan hangat oleh sang ayah, yaitu Batara Anggajali. Adapun saat itu Batara Anggajali telah menjadi raja dengan bergelar Prabu Iwasaka.

 

Jaka Sengkala pun diangkat sebagai pangeran mahkota Kerajaan Surati dengan bergelar Raden Ajisaka.

 

 

Catatan :

Kisah ini menceritakan kelahiran dan kehidupan masa muda Jaka Sengkala, putra Batara Anggajali. Ia kelak bergelar Ajisaka, yaitu orang yang mengisi Pulau Jawa dengan penduduk dari bangsa manusia.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber dari Serat Paramayoga karya Ngabehi Ranggawarsita dengan sedikit pengembangan.

 

 

 

Koleksi Artikel Imajiner Nuswantoro

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)