KISAH KERAJAAN GILINGAYA (SALAKANAGARA) KERAJAAN TERTUA DI BUMI PULAU JAWA

0

 KISAH KERAJAAN GILINGAYA (SALAKANAGARA) KERAJAAN TERTUA DI BUMI PULAU JAWA




Kesejarahan Indonesia mempunyai banyak sisi yang belum di eksplorasi, termasuk penelusuran berbagai kerajaan yang pernah ada di nusantara. Selama ini, proses mencari jejak kerajaan-kerajaan di nusantara banyak menghasilkan informasi baik yang lama maupun yang baru, bahkan tidak jarang menimbulkan pertanyaan yang menggugah keinginan untuk menggali serta menemukan bukti historis yang bisa melengkapi mata rantai kesejarahan nusantara.


Kerajaan Salakanagara atau Kerajaan Rajatapura atau (Kota Perak) ialah salah satu kota yang tertua di Pulau Jawa, menurut Naskhah Wangsakerta. Tokoh awal yang berkuasa di sini ialah Aki Tirem. Konon, kota inilah yang disebut Argyre oleh Ptolemy pada tahun 150. Terletak di daerah Teluk Lada Pandeglang (bahagian barat provinsi Banten kini), kota ini telah menjadi pusat pemerintahan dinasti Dewawarman (dari Dewawarman I - VIII) sejak dari tahun 362.

 

Jayasingawarman, pengasas Kerajaan Tarumanagara, ialah menantu kepada Raja Dewawarman VIII. Beliau sendiri seorang Maharesi dari Salankayana di India yang melarikan diri ke Nusantara kerana daerahnya diserang dan ditaklukkan oleh Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Magada.

 

Di kemudian hari, setelah Jayasingawarman mengasaskan Tarumanagara, pusat pemerintahannya beralih dari Rajatapura ke Tarumangara. Salakanagara kemudian berkembang menjadi sebuah Kerajaan Daerah.

 

Salakanagara tidak meninggalkan arca, prasasti, maupun Candi-candi sebagaimana juga Kerajaan Sunda-Pajajaran. Sangat kontroversial karena berbeda dengan tulisan-tulisan buku sejarah resmi, karya tulis ilmiah, artikel, opini publik yang menyatakan bahwa Sunda-Pajajaran beraliran Hindu.

 

Kontroversial

Tidak didukung bukti fisik temuan artefak berupa arca dan Candi abad 2 hingga awal 4 masehi zaman Salakanagara, juga pada abad 12 - 17 masehi masa Kerajaan Sunda Pajajaran tidak ada Candi yang dibangun. Maka tulisan sejarah yang beredar selama ini menjadi sangat kontroversial.

 

Sehingga penulisan dari dalam Indonesia (Tatar Sunda) tentang Salakanagara bahkan Pajajaran pun dianggap sebagai cerita tanpa bukti, fiksi, mitos, atau hanya sebatas legenda.

 

Keterbatasan literasi para penulis serta minimnya kunjungan ke berbagai perpustakaan pada masa orde lama hingga awal Orde baru, karena faktor ketidakamanan dalam negeri, pendidikan masih terbatas, transportasi belum merata, perseteruan politik bernuansa SARA, hegemoni budaya, feodalisme cenderung fasisme, hingga kemampuan ekonomi dalam ambang batas minimum berefek pada kesimpulan singkat tersebut.

 

Salakanagara

Kerajaan Salakanagara adalah kerajaan di Nusantara yang berdiri antara 130-362 masehi. Salakanagara diyakini sebagai leluhur Suku Sunda, karena wilayah peradaban keduanya sama persis.

 

Pendiri dan raja Kerajaan Salakanagara bernama Dewawarman I, yang memerintah antara 130-168 masehi dengan gelar Prabu Darmalokapala Haji Raksa Gapura Sagara. Wilayah kekuasaan Kerajaan Salakanagara meliputi daerah Jawa bagian barat, termasuk pulau yang terletak di sebelah barat Pulau Jawa dan laut yang membentang sampai Pulau Sumatera.

 

Setelah berkuasa selama 232 tahun, Kerajaan Salakanagara berada di bawah pemerintahan Kerajaan Tarumanegara.

 

Sumber sejarah utamanya adalah Naskah Wangsakerta - Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara. Menurut naskah tersebut, Kerajaan Salakanagara diyakini sebagai kerajaan tertua di nusantara yang berdiri antara 130-362 M, sebelum Kerajaan Kutai (400-1635 M).

 

Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa (PPBJ) adalah salah satu naskah yang disusun oleh satu tim di bawah pimpinan Pangeran Wangsakerta. Beliau adalah salah seorang dari tiga putra Panembahan Ratu Carbon dari istrinya yang berasal dari Mataram.

 

Kelompok naskah PPJB yang sudah ditemukan hingga saat ini terdiri dari empat buah, semuanya dari parwa pertama. Tiga naskah pertama (sarga 1-3) merupakan kisah atau uraian mengenai sejumlah negara yang perneh berperan terutama di Pulau Jawa, sedangkan sarga keempat merupakan naskah panyangkep (pelengkap) dan isinya berupa keterangan mengenai sumber-sumber yang digunakan untuk menyusun kisah itu.

 

Secara umum, seluruh naskah karya tim di bawah pimpinan Pangeran Wangsakerta dituliskan pada jenis kertas yang sama. Dari puluhan naskah yang telah terkumpul, hingga saat ini baru sebuah naskah yang telah diuji fisiknya secara kimiawi.

 

Pengujian yang dilakukan di Arsip Nasional itu menyimpulkan bahwa kertas yang digunakan untuk menuliskan naskah umurnya sekitar 100 tahun (laporan tahun 1988). Mengingat bahwa titimangsa naskah-naskah itu berkisar antara 1677 - 1698 Masehi, maka hampir dapat dipastikan bahwa naskah-naskah yang sudah terkumpul itu merupakan salinan dari naskah lain yang lebih tua.

 

Seperti halnya naskah-naskah Pangeran Wangsakerta lainnya, naskah PPJB 1.1 ini ditulis dengan menggunakan aksara Jawa yang jenis aksaranya mirip dengan yang disebut oleh Drewes (1969:3) quadrat script. Adapun bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa yang banyak mengandung kosakata bahasa Jawa kuna dan bahasa Cirebon.

 

Karangannya berbntuk prosa, campuran antara paparan dan kisah. Cara penyajiannya memiliki ciri-ciri karangan ilmiah, yakni berupa keteranga secara tersurat mengenai sumber karangan yang digunakan dan dikemukakan apabila di antara sumber-sumber yang digunakan terdapat perbedaan informasi.

 

Salakanagara minim meninggalkan bukti fisik karena bencana perang untuk memperebutkan Tanah Sunda. Demikian juga bencana alam yang tidak mustahil menghilangkan peninggalan kerajaan awal di Pulau Jawa tersebut.

 

Sehingga dalam artikel, tulisan ilmiah maupun buku sejarah formal lebih banyak menulis Kerajaan Kutai sebagai kerajaan pertama di nusantara.

 

Dengan adanya naskah Wangsakerta, generasi sesudah sangat tertolong untuk mendeskripsikan dan menarasikan abad-abad awal masehi Nusantara dan persentuhan budaya dengan berbagai bangsa besar dunia.

 

Karena satu naskah Wangsakerta berjudul Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa 1.1 menuturkan peristiwa sejarah masa lampau tentang raja dan kerajaan yang terletak di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

 

Uraiannya banyak tertumpu pada karya mahakawi (pujangga besar) Mpu Khanakamuni dari Majapahit, beliau menjabat sbagai dharmadhyaksa (pejabat tinggi keagamaan) urusan agama Buddha. Selain itu kitab ini mencontoh beberapa karya pujangga besar yang telah menggubah kisah kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa.

 

Selain itu dilengkapi pula uraian tentang kerajaan Mataram, Banten, raja-raja daerah Parahyangan, serta para penguasa daerah lainnya. Penyusun kitab ini terdiri dari 12 orang, yaitu tujuh orang menteri (jaksa pepitu) kerajaan Carbon, seorang pujangga dari Banten, Sunda, Arab, dan seorang lagi.

 

Mereka semua dipimpin oleh Pangeran Wangsakerta.Kitab ini mulai dikerjakan pada tahun Saka sruti-sirna-ewahing-bhumi (1604 Saka = 1682 Masehi), ditulis di keraton Carbon oleh Pangeran Wangsakerta atau Panembahan Carbon Tohpati bergelar Abdul Kamil Mohammad Nasarudin.

 

Menurut Naskah Wangsakerta - Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, sejarah berdirinya Kerajaan Salakanagara bermula ketika seorang pedagang dari India yang bernama Dewawarman menetap di Jawa, lebih tepatnya di Teluk Lada, Pandeglang.

 

Dewawarman kemudian menikahi putri dari Aki Tirem, kepala daerah setempat. Pada 130 masehi, Dewawarman mendirikan Kerajaan Salakanagara dengan ibu kota di Rajatapura. Setelah menjadi raja dengan gelar Prabu Darmalokapala Aji Raksa Gapura Sagara, ia melakukan ekspansi untuk memperluas daerah kekuasaan.

 

Wilayah kekuasaan Kerajaan Salakanagara meliputi daerah Jawa bagian barat, termasuk pulau yang terletak di sebelah barat Pulau Jawa dan laut yang membentang sampai Pulau Sumatera. Letaknya yang strategis, membuat perahu yang melintas terpaksa harus singgah dan memberi upeti kepada Dewawarman.

 

Raja Dewawarman I berkuasa selama 38 tahun, antara 130-168 masehi. Setelah itu, takhta kerajaan diteruskan oleh putranya, Dewawarman II yang bergelar Sang Prabhu Digwijayakasa Dewawarman.

 

Rajatapura

Teluk Lada Rajatapura disebutkan dalam Naskah Wangsakerta sebagai pusat pemerintahan Salakanagara yang terletak di Teluk Lada (Pandeglang, Banten). Dalam naskah tersebut, Rajatapura disebut sebagai kota.

 

Dari sinilah kedelapan Raja Dewawarman memerintah dan menguasai perdagangan di seluruh Jawa. Condet Condet terletak di Jakarta Timur, yang berjarak 30 kilometer dari pelabuhan Sunda Kelapa.

 

Daerah ini dipercaya sebagai ibu kota Kerajaan Salakanagara karena memiliki aliran sungai bernama Sungai Tiram. Kata "Tiram" berasal dari nama Aki Tirem, mertua Dewawarman I, pendiri Salakanagara.

 

Gunung Salak Gunung Salak di Bogor adalah gunung yang ketika siang berwarna keperak-perakan karena tersinari oleh terangnya matahari. Dalam Bahasa Sunda, Salakanagara berarti Kerajaan Perak.

 

Selain itu, pendapat ini juga dilandasi oleh kemiripan nama antara Salaka dan Salak.

 

Salakanagara Selama 232 tahun berdiri, diyakini ada 11 raja yang memerintah Kerajaan Salakanagara.

 

Berikut nama raja-raja yang pernah berkuasa :

1.      Dewawarman I atau Prabu Darmalokapala Haji Raksa Gapura Sagara (130-168 M)

2.      Dewawarman II atau Prabu Digwijayaksa Dewawarmanputra (168-195 M)

3.      Dewawarman III atau Prabu Singasagara Bimayasawirya (195-238 M)

4.      Dewawarman IV (238-252 M)

5.      Dewawarman V (252-276 M) Mahisa Suramardini Warmandewi (276-289 M)

6.      Dewawarman VI (289-308 M)

7.      Dewawarman VII (308-340 M) Sphatikarnawa Warmandewi (340-348 M)

8.      Dewawarman VIII (348-362 M)

9.      Dewawarman IX (362 M)

 

Setelah pemerintahan Dewawarman VIII, Kerajaan Salakanagara berada di bawah pemerintahan Kerajaan Tarumanegara.

 

Raja Jayasinghawarman, pendiri Kerajaan Tarumanegara adalah menantu dari Raja Dewawarman VIII.

 

Meski hanya berdiri selama dua abad, garis turunan penguasa Salakanagara dipercaya melahirkan raja-raja Pajajaran, Sriwijaya, dan Majapahit. 

 

Dengan rinci Teks naskah Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa 1.1 memulai uraiannya dengan keadaan di Pulau Jawa sejak sudah adanya pemukiman manusia. Dikemukakan pula tentang kesuburan tanah dan kemakmuran di Pulau Jawa, disusul uraian mengenai kedatangan orang-orang dari luar Nusantara yang kemudian menyebar dan menetap di Pulau Jawa dan wilayah lain di Nusantara.

 

Para pendatang itu banyak yang berasal dari wangsa Salankayana dan wangsa Pallawa di bumi Bharatanagari. Mereka datang menaiki beberapa puluh perahu yang dipimpin oleh Sang Dewawarman dari wangsa Pallawa.

 

Sang Dewawarman sudah bersahabat dengan penduduk daerah pesisir Jawa Barat, Nusa Apuy, dan Pulau Sumatra bagian selatan. Sang Dewawarman bersahabat pula dengan penghulu penduduk setempat, akhirnya bermukim di sini dan lamakelamaan menjadi raja kecil di daerah pesisir bagian barat dari bumi Jawa Barat.

 

Sang Dewawarman kemudian beristrikan anak penghulu penduduk wilayah desa itu. Sang penghulu kemudian menganugerahkan pemerintahan wilayah desa kepada menantunya. Pada tahun 52 Saka (= 130 Masehi) Sang Dewawarman dinobatkan menjadi raja. Kerajaannya diberi nama Salakanagara, ibukotanya diberi nama Rajatapura.

 

Ia bergelar Sang Prabhu Dharmalokapala Dewawarma Haji Raksagapurasagara, dan menjadi raja sampai dengan tahun 90 Saka (= 168 Masehi). Kemudian ia digantikan oleh anaknya yang bergelar Sang Prabhu Dhigwijayakasa Dewawarmanputra, yang menjadi Dewawarman II. Ia menjadi raja Salakanagara pada tahun 90 – 117 Saka (168 – 195 Masehi).

 

Dewawarman II beristrikan seorang putri dari keluarga Maharaja Singhalanagari. Dari pernikahannya ini lahir di antaranya seorang yuwaraja. Ia menggantikan ayahnya menjadi raja di Salakanagara pada tahun 117 Saka (= 195 Masehi), dengan gelar Prabhu Singhanagara Bhimayasawirya dan menjadi Dewawarman III. Ia menjadi raja sampai dengan tahun 160 Saka (= 238 Masehi).

 

Pada masa pemerintahannya Salakanagara diserang perompak, namun dapat dibinasakan olehnya. Dewawarman III kemudian digantikan oleh menantunya ialah Sang Prabhu Dharmastyanagara yang menjadi Dewawarman IV. Ia memerintah pada tahun 160 – 174 Saka (= 238-252 Masehi). Dewawarman IV digantikan oleh anak perempuannya , yaitu Rani Mahisasuramardini Warmandewi. Ia memerintah bersama suaminya, Sang Prabhu Amatyasarwajala Dharmasatyajaya Warunadewa.

 

Sang Rani memerintah pada tahun 174 – 211 Saka (= 252-289 Masehi), tetapi suaminya hanya memerintah selama 24 tahun, karena gugur di tengah laut ketika berperang melawan perompak. Kemudian yang menjadi raja di Salakanagara adalah putranya, Sang Prabhu Ghanayanadewa Linggabhumi yang menjadi Dewawarman VI. Ia memerintah pada tahun 211 – 230 Saka (= 289-308 Masehi).

 

Ia menikah denga putri dari Bharatanagari. Dari perkawinannya itu lahir beberapa orang anak, di antaranya yang tertua ialah Sang Prabhu Bhimadigwijaya Satyaganapati yang menjadi Dewawarman VII. Ia memerintah pada tahun 230 – 262 Saka (= 308 – 340 Masehi). Dewawarman VII gugur pada tahun 262 Saka karena serangan balatentara yang dipimpin oleh seorang panglima bernama Khrodamaruta, yang masih bersaudara dengan Sang Prabhu.

 

Kemudian Sang Khrodamaruta menjadi raja di Salakanagara. Ia tidak disukai oleh penduduk dan keluarga keraton. Ia tidak lama menjadi raja, hanya tiga bulan, karena ketika ia berburu di tengah hutan, ia tertimpa batu dari puncak gunung. Sang Prabhu Khrodamaruta tewas. Kemudian permaisuri Dewawarman VII, Sang Rani Spatikarnawa Warmandewi menjadi raja Salakanagara. Ia memerintah selama tujuh tahun sampai dengan tahun 270 Saka (= 348 Msehi).

 

Pada tahun 270 Saka itu, Sang Rani menikah dengan Sang Prabhu Dharmawirya Dewawarman Salakabhuwana. Sang Rani dan suaminya adalah saudara sepupu satu kakek. Selanjutnya Sang Prabhu Dharmawirya menjadi raja Salakanagara, menjadi Dewawarman VIII. Ia memerintah tahun 270 – 285 Saka (= 348- 363 Masehi). Selanjutnya teks naskah ini menguraikan pula keadaan politik di Bharatanagari dan peperangan antara wangsa Maurya dengan wangsa Pallawa dan Salankayana.

 

Akhirnya kerajaan wangsa Pallawa dan Salankayana dikalahkan oleh kerajaan wangsa Maurya. Banyak penduduk dan keluarga raja dari kerajaan mengungsi menyeberangi lautan. Salah satu kelompok wangsa Pallawa yang mengungsi ke Pulau Jawa dipimpin oleh seorang yang kemudian menjadi Dewawarman VIII, yaitu Sang Prabhu Dharmawirya Dewawarman Salakabhuwana. Diceritakan pula bahwa pada tahun 270 Saka (= 348 Masehi), ada seorang Maharesi dari Salankayana disertai para pengikutnya, penduduk dan balatentara, datang mengungsi ke Nusantara dan sampailah di Jawa Barat.

 

Ia bersama pengikutnya berjumlah beberapa ratus orang. Kedatangannya disambut oleh penduduk pribumidengan senang hati, karena Sang Maharesi adalah seorang dang accarya (guru) dan seorang mahapurusa (orang penting). Selanjutnya, mereka semuanya bermukim di tepi sungai dan membuat desa.

 

Karena ia disetujui oleh para penghulu dari desa-desa di sekitarnya, kemudian ia mendirikan sebuah kerajaan di situ dan diberi nama Tarumanagara. Desa yang didirikan Sang Maharesi itu kemudian menjadi sebuah kota yang besar dan diberi nama Jayasinghapura. Sang Maharesi kemudian terkenal dengan nama Sang Jayasinghawarman Ghurudharmapurusa dan Rajadhirajaghuru, yaitu raja Tarumanagara dan guru agama.

 

Ia kemudian menikah dengan putri Dewawarman VIII, yaitu Sang Parameswari Iswari Tunggalprethiwi Warmandewi atau Dewi Minawati namanya. Selanjutnya diceritakan pula anak Dewawarman yang lainnya yang menjadi putra mahkota. Setelah Sang Dewarman mangkat, putra mahkota menggantikannya menjadi raja. Tetapi desa-desa wilayahnya ada di bawah perintah kerajaan Tarumanagara.

 

Ada pula anak Dewawarman yang lainnya lagi, seorang laki-laki yang bermukim di Bakulapura. Ia terkenal dengan nama Aswawarman. Ia menikah dengan anak sang penghulu penduduk Bakulapura, yaitu Sang Kudungga namanya.

 

Masa pemerintahan Sang Maharesi Rajadhirajaghuru lamanya 24 tahun, dari tahun 280 Saka (= 358 Masehi) sampai dengan tahun 304 Saka (= 382 Masehi). Ia mangkat pada usia 60 tahun. Ia terkenal sebagai Sang Lumah ri Ghomati. Selanjutnya ia digantikan oleh putranya yang terkenal dengan nama Rajaresi Dharmayawarmanghuru.

Kerajaan Salakanagara merupakan sebuah kerajaan bercorak Hindu-Budha yang didirikan pada tahun 130 M oleh Maharaja Dewawarman I. Terletak di sekitar Gunung Pulosari, Pandeglang sebagai kelanjutan dari kekuasaan Aki Tirem sang Aki Luhur Mulia, penguasa pesisir Jawa Bagian barat pada saat itu. Kerajaan Salakanagara bukan kerajaan tertua di Jawa bagian barat karena masih ada kerajaan yang lebih tua, selain Kerajaan Salakanagara yaitu, Kerajaan Sagara Pasir di Bekasi (Sekitar Abad 1 SM) dan Kerajaan Caringin Kurung di Gunung Salak (Sekitar tahun 400 SM).


Ibukota kerajaan ini bernama Rajatapura yang artinya kota perak, sekarang terletak di wilayah Teluk Lada, Pandeglang) atau dalam catatan Yunani disebut dengan sebutan Algire. Wilayah daratan yang menjadi kekuasaan Salakanagara, yaitu Jawa bagian barat dan semua pulau di sebelah barat Jawa. Sementara kekuasaan lautnya yaitu laut diantara pulau Jawa dan Sumatera. Setiap pesisir pantai yang menjadi kekuasaan Salakanagara dijaga oleh pasukan, sampai perahu-perahu yang datang dari timur ataupun barat harus berhenti dan membayar upeti kepada Salakanagara. Walaupun tercatat sebagai negara maritim, tapi Salakanagara juga mempunyai sistem pertanian yang memakai cara berladang.


Pelabuhan-pelabuhan yang dimiliki Salakanagara ialah Nusa Mandala (Pulau Sangiang), Nusa Api (Krakatau), serta pesisir Sumatera bagian selatan. Semua pelabuhan itu dilindungi oleh pasukan kerajaan.


Untuk urusan politik kerajaan, Salakanagara sering mengadakan hubungan diplomatik dengan Kerajaan di Cina dan Kerajaan-kerajaan di India.


Kerajaan Salakanagara adalah leluhur Nusantara Banyak kerajaan-kerajaan besar yang diturunkan oleh Kerajaan Ini yakni, Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Kutai dan Kerajaan Sriwijaya. Kemudian Kerajaan Tarumanegara menurunkan Kerajaan besar yaitu, Kerajaan Sunda-Galuh, Kerajaan Kalinga, Kerajaan Mataram Kuno, dan bahkan Kerajaan Majapahit juga yang kekuasaan nya di Kali Brantas, Jawa Timur adalah keturunan dari raja-raja Sunda.



SEJARAH KERAJAAN SALAKA NAGARA 

Kerajaan Salakanagara telah Ada Sejak Abad Ke 1. Raja pertama Kerajaan itu adalah Dewawarman. Dewawarman adalah duta dari Kerajaan India yang diutus ke Nusantara (Pulau Jawa), lalu Dewawarman dinikahkan oleh Aki Tirem Luhur Mulia dengan Putrinya yang bernama Larasati Sri Pohaci, maka sesudah Dewawarman menjadi menantu dari Aki Tirem Luhur Mulia diangkatlah Dewawarman menjadi Raja pertama yang memegang kekuasaan Kerajaan Salakanagara. Ketika menjadi Raja Dewawarman I dinobatkan dengan nama Prabhu Dharmalokapala Dewawarman Haji Raksagapurasagara. Kerajaan Salakanagara berpusat di Rajatapura yang sampai tahun 363 menjadi pusat Pemerintahaan Raja-raja Dewawarman (dari Dewawarman I-VIII)


Kerajaan Salaka Nagara merupakan salah satu mata rantai kerajaan di nusantara. Penelusuran jejak Salaka Nagara pernah dilakukan berbagai pihak dan dari berbagai perspektif seperti yang dapat di baca pada artikel ini. Keberadaan kerajaan ini pernah tercatat di tahun 150 oleh seorang ahli ilmu bumi Yunani, Claudius Ptolemaeus dalam bukunya Geographike Hypergesis. Ptolemaeus menyebutnya sebagai Argyre, atau perak yang terletak di ujung barat Pulau Iabadious (Dalam mitologi Roma dan Yunani, Argyre dikatakan mythical island of silver). Nama Iabadiou disamakan dengan nama dalam bahasa sansekerta, Yawadwipa, yang artinya Pulau Jelai atau Pulau Jawa.


Hingga kini, terbatasnya informasi mengenai Salaka Nagara menimbulkan berbagai pertanyaan yang hanya bisa di jawab dengan terus melakukan penggalian sejarah, mencari kaitan-kaitan historis yang akhirnya bisa semakin memperjelas latar belakang kerajaan Salaka Nagara ini.



LOKASI

Kerajaan ini berada di wilayah Pandeglang yang kini bagian dari Propinsi Banten yang dulunya merupakan kerajaan yang sangat besar bernama Kerajaan Gilingaya, atau Salaka Nagara. Menurut naskah Pustaka Rayja-rayja I Bhumi Nusantara, Salaka Nagara di dirikan tahun 52 Saka, atau 130/131 Masehi. Lokasi di perkirakan ada di Teluk Lada, kota Pandeglang, kota yang terkenal hasil logamnya. Di kabupaten Lebak dan Pandeglang serta Serang memang sejak dulu terkenal dengan tambang logam mulia. Sementara wilayah Cikotok dan sekitarnya sejak jaman penjajahan Belanda sudah menjadi wilayah pertambangan emas dan bahan galian lain seperti perak. Di sana juga di temukan bahan galian logam seperti galena (biji timah hitam /Pb), serta berbagai bahan non-logam seperti andesit, basalt, tras, zeolit, feldspar, bentonit, pasir kuarsa, batu sempur, batu mulia dan batubara, serta minyak bumi dan gas di daerah Ujung Kulon. Tidak mengherankan jika sejak jaman dulu Salaka Nagara sudah di kenal sebagai Negeri Perak karena hasil buminya.


Perjalanan sejarah kerajaan Salaka Nagara memiliki riwayat perjalanan yang cukup panjang. Ada sumber yang mengatakan bahwa Salaka Nagara, atau nama lainnya Gilingaya sudah ada sejak jaman Kala Brawa. Nama Salaka Nagara juga muncul pada penelitian sejarah kerajaan awal nusantara, dan di sebut sebagai cikal bakal kerajaan Tarumanegara. 



KERAJAAN GILINGAYA ATAU SALAKA NAGARA

Pendiri Kerajaan Gilingaya adalah Sang Prabu Budawaka yang merupakan titisan dari Sang Hyang Batara Ismaya. Setelah masanya berakhir, Sang Prabu Budawaka moksa di Gunung Karang di candi yang berada diatas Gunung Karang di daerah Watu Lawang.

Setelah itu dilanjutkan oleh Sang Prabu Bramakadi yang merupakan titisan dari Sang Hyang Batara


Brama. Setelah lengser keprabon, sang prabu menjadi pertapa di puncak Gunung Krakatau dan digantikan oleh putranya yang bernama Sang Prabu Dewaesa yang merupakan titisan dari Sang Hyang Batara Bayu. Prabu Dewaesa adalah raja terakhir dari Kerajaan Gilingaya ketika keraton tersebut masih menjadi pusat kerajaan. Karena sesudah sang prabu dan ayahandanya Prabu Bramakadi moksha, terjadi goncangan alam yang sangat besar, sehingga mayoritas bumi terendam air. Air baru surut pada masa akhir Kerajaan Medang Galungan di Kuningan saat di perintah oleh Prabu Satmata. Kerajaan Gilingaya yang menguasai jagad pada jaman Kala Brawa di jaman besar Kali Tirtha, di kenal juga dengan nama Salakanagri atau Salaka Nagara. Setelah surut dari kerjaan induk, sampai di jaman masa surutnya Majapahit, tetap bernama Gilingaya atau Salaka Nagara, tetapi statusnya sudah menjadi Kadipaten. 


Perjalanan Salaka Nagara dari masa ke masa selanjutnya mengalami pasang surut sejalan dengan berkembangnya kerajaan-kerajaan lain di nusantara. Mengingat bahwa kerajaan ini termasuk yang tertua di nusantara, maka hingga kini belum banyak penemuan yang bisa mengungkapkan secara lebih jelas lagi tentang Salaka Nagara. Namun demikian di tahun 1677, Pangeran Wangsakerta salah satu anggota keluarga Keraton Cirebon bersama-sama dengan tim nya, menyusun naskah Pustaka Rajya Rajya Bhumi Nusantara yang menjelaskan sejarah kepulauan nusantara, Pulau Jawa dan Tatar Sunda. Dalam salah satu naskah itu lah nama Salaka Nagara muncul dan disebut sebagai cikal bakal kerajaan Tarumanegara.



CIKAL BAKAL TARUMANEGARA

Dalam naskah Wangsakerta, diceritakan bahwa Salaka Nagara merupakan sebuah wilayah di Teluk Lada. Masyarakat Salaka Nagara di masa itu memiliki sistem religi Pitarapuja, atau pemujaan roh leluhur dan Aki Tirem adalah tokoh pemimpin masyarakatnya. Di katakana pula, Dewawarman yang kelak menjadi Raja Salaka Nagara, adalah seorang duta keliling, pedagang dan perantau dari India yang tiba di Teluk Lada hingga menetap dengan Dewi Pwahaci Larasati, putri Aki Tirem, sang penguasa setempat.


Hubungan antara Aki Tirem dengan Demawarman sudah terjalin jauh sebelum Demawaman menetap di Teluk Lada. Mereka berdua telah bekerja sama mengatasi perompak yang mengganggu wilayah sekitar perairan Salaka Nagara dan sekitarnya. Aki Tirem mempunyai putri yang kemudian di nikahkan dengan Demawaman. Kelak Aki Tirem menyerahkan kekuasaan pada Demawarman.


Kerajaan Salaka Nagara baru berdiri setelah meninggalnya Aki Tirem, yakni pada kisaran tahun 130 Masehi. Demawarman mendirikan kerajaan Salaka Nagara dengan ibu kota Rajatapura dan menjadi Raja Salaka Nagara pertama, bergelar Prabu Dharmaloka Demawarman Aji Raksa Gapura Sagara. Wilayah-wilayah di sekitarnya menjadi daerah kekuasaan Raja Dermawarman, termasuk kerajaan Agnynusa (Negeri Api) di Pulau Krakatau. Jaman sekarang ini wilayah kuno Salaka Nagara mencakup Banten, Jawa Barat bagian barat, pesisir Jawa Barat, Nusa Mandala atau Pulau Sangiang dan pesisir Sumatera bagian selatan. Demawarman membuka hubungan diplomatic dengan Cina dan India; dan ketika kerajaan itu menggalang kerja sama mengatasi gangguan perompak, termasuk para perompak dari Cina.


Raja Dewawarman I berkuasa selama 38 tahun, dan pada kisaran tahun 168 masehi di gantikan puteranya Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra. Senapati Bahadur harigana Jayasakti, adik Prabu Dewawarman I menjadi raja di daerah Mandala Ujung Kulon. Sedangkan Sweta Liman Sakti, adiknya yang lain dijadikan raja di daerah Cianjur selatan



TAHUN 363 M (AKHIR KERAJAAN SALAKA NAGARA)

Kerajaan Salaka Nagara hanya sampai + tahun 363 dengan Prabu Dharmawirya sebagai Prabu Dewawarman VIII / terakhir karena Salaka Nagara sudah menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Tarumanegara. Kehidupan masyarakat Salaka Nagara sangat harmonis, makmur dan sentosa, perekonomian berjalan baik.


Prabu Darmawirya Dewawarman VIII, mempunyai menantu Jayasinghawarman, seorang maharesi dari Calankayana di India. Jayasanghawarman mengungsi ke Nusantara setelah daerahnya di serang Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Maurya. Setelah Jayasinghawarman mendirikan Kerajaan Tarumanagara, pusat pemerintahan beralhi dari Rajatapura ke Tarumanagara, dan setelah itu Salaka Nagara statusnya berubah menjadi Kerajaan Daerah. Hingga saat ini, belum di temukan prasasti atau bukti sejarah yang bisa membuktikan keberadaan Kerajaan Salaka Nagara sebelum era Tarumanagara ini. Oleh karena itu, hingga kini banyak pihak masih meragukan dan memperdebatkan soal Kerajaan Salaka Nagara sebagai cikal bakal Tarumanagara. 



PENINGGALAN SALAKA NAGARA 

Posisi Kerajaan Gilingaya kira-kira terdapat di kecamatan Mandalawangi yang di kelilingi oleh 4 (empat) gunung, yakni Gunung Pulosari (stratovolcano), Gunung Karang (stratovolvano) dan Gunung Aseupan, serta Gunung Parakasak (volcano). Oleh karena itu beberapa peninggalan dapat di jumpai lokasi sekitar bekas kerajaan Salaka Nagara. Beberapa literatur penelitian (Yoseph Iskandar, 1997, Sejarah Jawa Barat), Ayat Rohaedi, 2005, Sundakala : Cuplikan Sejarah Sunda berdasarkan naskah-naskah Panita Wangsakerta Cirebon) mengungkap adanya bukti-bukti peninggalan kerajaan, tersebar di sekitar Gunung Pulosari dan Pulau Panaitan.


Berdasarkan naskah Pustaka Raja Raja I Bhumi Nusantara, situs Cihunjuran adalah salah satu bukti peninggalan kerajaan Salaka Nagara. Ada pula batu menhir dan dolmen yang oleh masyarakat setempat di sebut Batu Alami. Ada pula batu berlubang, pada jaman itu digunakan sebagai tempat membuat ramuan obat-obatan.


Situs Batu Goong Citaman, Batu goong, peninggalan megalitik Salaka Nagara bentuknya menhir yang di kelilingi batu-batu berbentuk gamelan atau gong dan batu pelinggih. Situs ini terletak di atas bukit tidak jauh dari pemandian Citaman. 


Konon, situs citaman dulunya adalah situs tempat Sang Prabu Budawaka menerima wahyu sehingga dibangun menjadi Taman Punakawan, karena di situ tempat beliau bertemu untuk pertama kalinya dengan Ki Lurah Semar yang waktu itu bernama Ki Lurah Lengser. 

Situs Batu Ranjang, salah satu peninggalan yang masih terletak di kawasan Pulosari. Bentuknya rata di bagian atas sehingga disebut batu ranjang. Batu yang di perkirakan dari jaman logam, diperkuat dengan 4 tiang penyangga yang berukir. Konon kabarnya, dahulu Situs Batu Ranjang merupakan situs dari pesanggrahan Sang Prabu Dewaesa saat memanggil Pangeran Makukuhan dan menobatkan Pangeran Makukuhan menjadi Mahaprabu dan terkenal dengan gelar Sang Mahaprabu Kano yang merupakan titisan dari Sang Hyang Batara Indra yang lalu memindahkan pusat pemerintahannya ke Gunung Mahendra. 

Situs Batu Tumbung merupakan sebuah batu besar yang terdapat banyak guratan-guratan.


Guratan pada batu menggambarkan tentang gunung yang meletus pada masa itu, jumlah guratan menandakan sejumlah itu pula gunung-gunung di pulau Jawa yang meletus secara bersamaan di sekitar masa pergantian jaman dari Kala Brawa ke Kala Tirtha.



ASAL-USUL BATU TUMBANG 

Pada saat itu Pangeran Makukuhan putra Sang Prabu Dewaesa yang menjadi Adipati di Purwacarita (Purwacarita di daerah Magetan di lereng Gunung Mahendra red sekarang Gunung Lawu) dipanggil datang ke pesanggrahan yang ada di Situs Batu Ranjang. Saat itu Prabu Dewaesa berkeinginan untuk lengser keprabon dan menghendaki Pangeran Makukuhan yang akan menggantikan beliau menjadi Raja. Tapi Pangeran Makukuhan tidak mau menerima karena kawatir dengan banyaknya Kadipaten yang akan memberontak ketika dia menjadi Mahaprabu.


Maka Pangeran Makukuhan mencari cara agar prabu Dewaesa tidak lengser keprabon dengan mengatakan Dumateng Arcapada menika pukulun mboya wonten bagaskara kembar. Pernyataan itu membuat marah Prabu Dewaesa dan mengatakan kalau begitu yang kamu inginkan maka Prabu Dewaesa dan Mpu Bramakadi akan moksa dan menghancurkan semua Kadipaten yang berpotensi mbalelo. Maka diperintahkanlah untuk membuat perahu dan memperbesar istana Balekambang untuk menyelamatkan rakyat. Tertegun dan sedih mendapat jawaban tersebut maka Pangeran Makukuhan meminta rakyat membuat apa yang diinginkan Prabu Dewaesa. Kemudian setelah semua selesai Prabu Dewaesa dan Mpu Bramakadi moksa di Gunung Krakatau dibarengi dengan datangnya meteor yang menghantam Bumi dan meletusnya sejumlah gunung serta naiknya air laut sampai sepertiga Gunung Karang. Air laut baru surut pada saat penobatan Prabu Satmata di jaman Kerajaan Medang Galungan.


Gelar dari Pangeran Makukuhan adalah Sang Mahaprabu Kano. Nama Kano, mempunyai arti perahu itu melekat karena pada saat moksanya ayahanda dan kakek dari Pangeran Makukuhan, siti hinggil kraton dipindah sementara ke dalam sebuah perahu besar yang dibangun di Istana Balekambang Gilingaya.


Peristiwa moksanya Sang Prabu Dewaesa dan Mpu Bramakadi, mengakibatkan terpisahnya daratan Sumatera dengan daratan Jawa, akibat meletusnya gunung-gunung juga gunung yang berada di kutub selatan sehingga es mencair dan air laut naik dan menenggelamkan hampir sebagian besar daratan di bumi pada saat itu. 



ARCA KI LURAH LENGSER DAN BATU LUMPANG 

Di kediaman Bapak Nurdin yang berjarak sekitar 2 km dari Situs Batu Tumbung, terdapat arca Ki Lurah Lengser dan Batu Lumpang serta ada patung lingga yang dipakai sebagai ganjal rumah.



PENINGGALAN KERAJAAN SALAKA NAGARA 

Menhir Cihunjuran


Adalah Menhir sebanyak 3 buah berada di sebuah mata air, yang pertama ditemukan di wilayah Desa Cikoneng. Menhir kedua ditemukan di Kecamatan Mandalawangi lereng utara Gunung Pulosari. Menhir ketiga ditemukan di Kecamatan Saketi lereng Gunung Pulosari, Kabupaten Pandeglang. Tanpa memberikan presisi dimensi dan lokasi administratif, naun dalam peta tampak terdapat di lereng sebelah barat laut gunung Pulosari, tak jauh dari kampung Cilentung, Kecamatan Saketi. Batu itu menyerupai batu prasasti Kawali II di Ciamis dan Batu Tulis di Bogor. Tradisi setempat menghubungkan batu tersebut sebagai tempat Maulana Hasanuddin menyabung ayam dengan Pucuk Umum.


Dolmen


Terdapat di kampung Batu Ranjang, Desa Palanyar, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang. Memiliki bentuk sebuah batu datar panjang 250 cm, dan lebar 110 cm, disebut Batu Ranjang. Terbuat dari batu andesit yang dikerjakan sangat halus serta permukaan yang rata dengan pahatan pelipit melingkar ditopang oleh 4 buah penyangga yang tingginya masing-masing 35 cm. Di tanah sekitarnya dan di bagian bawah batu terdapat ruang kosong. Di bawahnya ada fondasi dan batu kali yang menjaga supaya tiang penyangga tidak terbenam ke dalam tanah. Dolmen ditemukan tanpa unsur megalitik lain, kecuali 2 buah batu berlubang yang ada di sebelah timurnya.


Batu Magnit


Terdapat di puncak Gunung Pulosari, pada lokasi puncak Rincik Manik, Desa Saketi, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang. Yakni sebuah batu yang cukup unik, karena saat dilakukan pengukuran arah dengan kompas, walaupun ditempatkan di sekeliling batu dari berbagai arah mata angin, jarum kompas selalu menunjuk pada batu itu.


Batu Dakon

Terdapat di Kecamatan Mandalawangi, tepatnya di situs Cihunjuran. Batu ini mempunyai beberapa lubang di tengahnya dan berfungsi sebagai tempat meramu obat-obatan



Air Terjun Curug Putri


Terdapat di lereng Gunung Pulosari Kabupaten Pandeglang. Menurut cerita rakyat, air terjun ini dahulunya adalah tempat pemandian Nyai Putri Rincik Manik dan Ki Roncang Omas. Di lokasi itu, ada aneka macam batuan dalam bentuk persegi, yang berserak di bawah cucuran air terjun.





Pemandian Prabu Angling Dharma


Terdapat di situs Cihunjuran Kabupaten Pandeglang. Menurut cerita rakyat, pemandian ini dulunya dipakai oleh Prabu Angling Dharma atau Aki Tirem atau Wali Jangkung.



KEBENARAN KERAJAAN SALAKA NAGARA

Kerajaan Salakanagara merupakan sebuah kerajaan awal di daerah Tatar Sunda. Referensi yang menceritakan tentang keberadaan kerajaan Salakanagara adalah salah satu Kitab Naskah Wangsakerta yang bernama Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa, Kitab ini disusun oleh satu tim di bawah pimpinan Pangeran Wangsakerta antara tahun 1677 – 1698 Masehi. Pangeran Wangsakerta adalah salah seorang dari tiga putra Panembahan Ratu Carbon dari istrinya yang berasal dari Mataram. Nama lain Pangeran Wangsakerta adalah Panembahan Carbon Tohpati bergelar Abdul Kamil Mohammad Nasarudin.


Kitab Naskah Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa yang sudah ditemukan hingga saat ini terdiri dari empat buah, semuanya dari parwa pertama. Tiga naskah pertama (sarga 1-3) merupakan kisah atau uraian mengenai sejumlah negara yang perneh berperan terutama di Pulau Jawa, sedangkan sarga keempat merupakan naskah panyangkep (pelengkap) dan isinya berupa keterangan mengenai sumber-sumber yang digunakan untuk menyusun kisah itu.


Naskah Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa ini ditulis dengan menggunakan aksara Jawa di pesisir barat (Cirebon) atau aksara Jawa yang mirip dengan yang disebut oleh Drewes (1969:3) quadrat script. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa kuna dan bahasa Jawa Cirebon. Tulisannya berbentuk prosa, campuran antara paparan dan kisah.


Cara penyajiannya memiliki ciri-ciri karangan ilmiah, yakni berupa keterangan secara tersurat mengenai sumber karangan yang digunakan. Atau minimal memeberi informasi awal kepada generasi kita, untuk pengkajian sejarah dari sumber aslinya atau sumber primer. Tidak seperti sejarawan kebanyakan, kalau tidak sesuai dengan penulis sejarah penguasa, dianggap tidak valid atau diragukan. Keraguan itu awal dari kebenaran, jika kita mau mengkajinya. Bukan seperti sejarawan kebanyakan, banyak memvonis, tetapi tujuannya untuk melegitimasi pembenaran.


Harusnya cara berpikir kebanyaan penulis sejarah itu berhipotesa, dengan adanya kisah yang ditulis oleh Wangsakerta itu, menjadi awal pencarian yang serius. Kemungkinan ada sumber yang lebih tua, yang kita harus selidiki. Jangan hanya seperti kata si fulan dan si anu, yang tidak berkesudahan. Kesalahan dalam penulisan sejarah adalah hal yang mungkin, tetapi tidak mungkin salah semua. Karena itu harusnya para sejarawan harus punya prinsip, dengan informasi yang sedikit, merupakan awal dari pencarian.


Karena setidaknya, bahwa naskah naskah yang ditulis dalam Naskah ini banyak kesesuian dengan prasasti prasasti yang ditemukan. Meskipun ada penyebutan jawa kulwon, jawa wetan atau jawa tengah mengindikasikan bahwa naskah ini ditulis relatif baru. Tetapi yang perlu diacungi jempol adalah info awal yang sangat bermamfaat. Karena kalau sebuah karangan biasa tidak mungkin bisa bercerita begitu detail, apalagi menyangkut sejarah.


Dalam Kitab ini juga disebutkan Daftar Pustaka dalam pengambilan naskah ini, berasal dari delapan kitab, yaitu :


· Pustaka Nagara Nusāntara

· Pararatwan Sundawamsatilaka

· Serat Ghaluh i Bhumi Sagandhu

· Pustaka Tarumarajyaparwa-warnana

· Pustaka mengenai Warmanwamsatilaka i Bhumi Dwipāntara;

· Pustaka Serat Raja-raja Jawadwipa

· Serat Pûrnawarmanah Mahāprabhāwo Rājā i Tarumanagara;

· Pustaka Sang Resi Ghuru.


Kerajaan Salakanagara adalah kerajaan yang berada di tatar sunda, lokasinya berada di daerah Pandeglang Banten sekarang,. Sebelum menjadi wilayah salakanagara pada awalnya di perintah oleh penguasa setempat yang bernama Aki Tirem.


Dalam naskah Wangsakerta, dengan mengutip dari Kitab Pustaka Nusāntara, bahwa sejak awal abad pertama tahun Saka, telah terjadi kontak antara penduduk di Nusantara dengan pedagang pedagang yang datang dari India (Bhratanagari). Dan semakin lama semakin banyak yang datang ke negeri negeri Nusantara, karena berbagai hal, diantaranya:


Jasa dan Perdagangan. Kontak perdagangan diyakini merupakan awal dari hubungan negeri negeri di Nusantara dengan India.



DORONGAN POLITIK AGAMA 

Menghindarkan diri dari bahaya, karena negeri negerinya dikalahkan atau dikuasai oleh lawan lawan politiknya.


Mengharapkan kesejahteraan yang lebih baik.

Dan arus kedatangan besar besaran terjadi, ketika negeri negeri mereka berasal, dikalahkan atau dikuasai oleh lawan lawan politiknya. Dan menurut naskah ini, kebanyakan yang datang ke negeri nusantara adalah wangsa Salankayana, dan wangsa Pallawa. Dua wangsa inilah, yang sangat banyak datang di sini,


Seperti halnya yang dipimpin oleh Dewawarman 1. Ia berasal dari wangsa Palawa,. Ia berangkat dari tanah India dengan menaiki beberapa puluh perahu besar kecil untuk menuju Nusantara. Sang Dewawarman datang di sini dengan membawa banyak pengikut dan harta benda serta berbagai senjata yang disiapkan.


Mereka datang dengan tujuan berdagang dan menjual jasa dengan penduduk setempat. Mereka membawa barang dagangan berupa pakaian, berbagai perhiasan, emas, perak, permata, obat-obatan, dan berbagai barang lainnya. Barang-barang yang dibelinya di sini adalah rempah-rempah, hasil bumi, dan lain-lain. Di antara pendatang kemudian banyak yang bermukim dan memperistri penduduk setempat, serta tidak kembali ke negeri asalnya. Mereka hidup akrab dan bersaudara.


Sang Dewawarman sudah bersahabat dengan penduduk daerah pesisir Tatar Sunda, Nusa Apuy, dan Pulau Sumatra bagian selatan. Sang Dewawarman bersahabat pula dengan penghulu penduduk setempat, akhirnya bermukim di sini dan lama kelamaan menjadi raja kecil di daerah pesisir bagian barat dari Tatar Sunda.


Setelah menikah dengan anak Aki Tirem, Dewawarman kemudian membangun dasar dasar kerajaan, yang menjelma menjadi kerajaan Salakanagara. Pada tahun 52 Saka (= 130 Masehi) Sang Dewawarman dinobatkan menjadi raja. Kerajaannya diberi nama Salakanagara, ibukotanya diberi nama Rajatapura.


Selanjutnya diuraikan mengenai pendatang-pendatang baru dari Singhanagari, Salihwahananagari, dan Bhumi Ghaudi, dari Bharatawarsa (India). Mereka datang di Pulau Jawa pada awal tarikh Saka. Mereka datang dengan memakai perahu ke berbagai negeri di Nusantara. Dan kemudian berinteraksi dengan masyarakat pribumi.


Profil Penguasa / Raja Raja Kerajaan Salakanagara

Aki Tirem (....- 130 M)

Sebelum menjadi kerjaan, wilayah salakanagara pada awalnya di perintah oleh penguasa setempat yang bernama Aki Tirem.


Aki Tirem atau lengkapnya Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya. Sang Aki Tirem adalah putra dari Ki Srengga, Ki Srengga putra Nay Sariti Warawiri, Nay Sariti putri dari Aki Bajul Pakel.


berkuasa di suatu kota yang bernama Pulosari. Aki Tirem menikahkan putrinya yang bernama Pohaci Larasati dengan Dewawarman, pangeran yang berasal dari Palawa di India kidul, yang kemudia menggantikannya.


Setelah aki Tirem meninggal pada tahun 130 M, kekuasaannya kemudian diteuskan oleh menantunya, Dewawarman I, yang dinobatkan sebagai raja pertama salakanagara.



LOKASI KERAJAAN SALAKA NAGARA 

Kerajaan ini berada di wilayah Pandeglang yang kini bagian dari Propinsi Banten yang dulunya merupakan kerajaan yang sangat besar bernama Kerajaan Gilingaya, atau Salaka Nagara. Menurut naskah “Pustaka Rayja-rayja I Bhumi Nusantara”, Salaka Nagara di dirikan tahun 52 Saka, atau 130/131 Masehi. Lokasi di perkirakan ada di Teluk Lada, kota Pandeglang, kota yang terkenal hasil logamnya. Di kabupaten Lebak dan Pandeglang serta Serang memang sejak dulu terkenal dengan tambang logam mulia.


Sementara wilayah Cikotok dan sekitarnya sejak jaman penjajahan Belanda sudah menjadi wilayah pertambangan emas dan bahan galian lain seperti perak. Di sana juga di temukan bahan galian logam seperti galena (biji timah hitam /Pb), serta berbagai bahan non-logam seperti andesit, basalt, tras, zeolit, feldspar, bentonit, pasir kuarsa, batu sempur, batu mulia dan batubara, serta minyak bumi dan gas di daerah Ujung Kulon. Tidak mengherankan jika sejak jaman dulu Salaka Nagara sudah di kenal sebagai Negeri Perak karena hasil buminya.


Perjalanan sejarah kerajaan Salaka Nagara memiliki riwayat perjalanan yang cukup panjang. Ada sumber yang mengatakan bahwa Salaka Nagara, atau nama lainnya Gilingaya sudah ada sejak jaman Kala Brawa . Nama Salaka Nagara juga muncul pada penelitian sejarah kerajaan awal nusantara , dan di sebut sebagai cikal bakal kerajaan Tarumanegara.



SILSILAH RAJA-RAJA KERAJAAN SALAKA NAGARA 

Maharaja Dewawarman I (130 – 168)

Sebelum mendirikan kerajaan Salakanagara, beliau adalah seorang utusan dari Maharaja Palawa. Dalam menjalankan tugasnya sebagai utusan raja tersebut, beliau pernah mengunjungi kerajaan-kerajaan di Ujung Mendini, Bumi Sopala, Yawana, Syangka, Cina, dan Abasid (Mesopotamia).

Raja ini memiliki dua orang istri, yang pertama merupakan putri dari Benggala (India) dan yang kedua adalah puteri dari Aki Tirem yang bernama Pohaci Larasati.


Setelah mendirikan Salakanagara, beliau bergelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Raksa Gapura Sagara (selanjutnya disebut Dewawarman I). Sedangkan Pohaci Larasati (permaisurinya) bergelar Dewi Dwani Rahayu.D


Maharaja Dewawarman III (195 – 238)

Pada saat dinobatkan menjadi raja, beliau diberi gelar Dewawarman III. Di masa kekuasaanya, para bajak laut mulai muncul kembali setelah sekian lama menghilang ditumpas oleh ayahnya (Dewawarman I). Melalui pertempuran, bajak laut yang berasal dari Cina berhasil ditumpas oleh Dewawarman III bersama pasukannya.

Untuk urusan politik kerajaan, Dewawarman III mengadakan hubungan diplomatik dengan Kerajaan di Cina dan India.


Kemungkinan karena tidak memiliki trah atau garis keturunan dari Aki Tirem, maka saat Dewawarman III turun tahta, tampuk kekuasaan diserahkan pada Darma Satyanagara, seorang raja daerah Ujung Kulon yang merupakan menantu dari Dewawarman II.


Maharaja Dewawarman IV (238 – 251)

Nama asli dari raja ini yaitu Darma Satyanagara. Pada awalnya dia merupakan raja dari Kerajaan Ujung Kulon (kerajaan bawahan Salakanagara). Namun setelah beliau menikah dengan Tirta Lengkara (puteri sulung Dewawarman II), maka beliau dipercayakan sebagai penerus tahta Kerajaan Salakanagara.

Dari pernikahannya dengan Tirta Lengkara, lahirlah seorang puteri yang bernama Mahisa Saramhardini Warmandewi.


Maharaja Dewawarman V (251 – 276)

Saat Dewawarman IV turun tahta, lagi-lagi Salakanagara tidak memiliki putra mahkota seorang laki-laki. Tradisi kerajaan yang mengharuskan laki-laki sebagai raja, tidak dapat terpenuhi. Untuk mengatasi keadaan ini, maka suami dari putri sulung Dewawarman IV (Mahisa Saramhardini Warmandewi) yang bernama Darmasatyajaya dinobatkan sebagai raja dan diperkenankan memakai gelar Dewawarman V.

Disamping bertindak sebagai raja, Dewawarman V memiliki jabatan lain yaitu sebagai Senapati Sarwajala (panglima angkatan laut Salakanagara). Dalam menjalankan tugasnya sebagai panglima angkatan laut, beliau gugur di saat perang menghadapi bajak laut.


Mahisa Suramardini Warmamdewi (276 – 289)

Beliau meneruskan tahta suaminya yang gugur di pertempuran, sambil menunggu putra sulungnya dewasa. Dengan demikian, sang ratu ini tercatat sebagai wanita pertama yang memegang tampuk kekuasaan tertinggi di suatu kerajaan yang ada di barat Jawa.


Maharaja Dewawarman VI (289 – 308)

Raja ini merupakan putra sulung dari pasangan Dewawarman V dan Mahisa Saramhardini Warmandewi. Beliau memiliki nama asli yaitu Prabu Ganayanadewa Linggabumi.


Maharaja Dewawarman VII (308 – 340)

Dewawarman VII merupakan putera sulung dari Dewawarman VI. Saat penobatannya sebagai raja Salakanagara, beliau bergelar Prabu Bima Digwijaya Satyaganapati.

Beliau memiliki hubungan kekerabatan dengan Kerajaan Bakulapura (Kutai, Kalimantan). Kekerabatan ini berdasarkan kakak permaisuri dari Dewawarman VII menikah dengan Atwangga (raja Bakulapura). Pernikahan antara kakak ipar Dewawarman dengan raja Bakulapura itu, lahirlah Kudungga (kelak menjadi raja pertama Kerajaan Kutai). Dewawarman VII memiliki putri sulung yang bernama Spatikarnawa Warmandewi.


Senopati Krodamaruta (340)

Krodamaruta adalah anak dari Gopala Jayangrana (putra ke-4 dari Dewawarman VI yang bertugas sebagai menteri di Calankayana). Krodamaruta merebut tahta Salakanagara persis disaat Dewawarman VII wafat.


Spartikarnawa Warmandewi (340 – 348)

Untuk mengisi kekosongan kekuasan, akhirnya dengan terpaksa puteri ini mengambil alih tahta Salakanagara meskipun saat itu ia belum menikah. Beliau terkenal cantik, pintar serta bijaksana.

Di saat kekuasaannya tepatnya pada tahun 346, ibukota Rajatapura kedatangan pengungsi dari Kerajaan Palawa karena kerajaan tersebut telah dikuasai oleh Kerajaan Samudragupta (India). Diantara para rombongan pengungsi itu terdapat bibi dari Spatikarnawa Warmandewi yang bernama Sri Gandari Lengkaradewi (puteri ke-5 dari Dewawarman VI).

Spatikarnawa Warmandewi berkuasa hingga saat beliau menikah dengan saudara sepupunya (anak laki-laki dari Sri Gandari Lengkaradewi).


Maharaja Dewawarman VIII (348 – 362)

Sebelum menjadi suami dari Spatikarnawa Warmandewi, beliau merupakan panglima angkatan laut Kerajaan Palawa. Di saat dinobatkan sebagai raja Salakanagara, beliau diberi gelar Prabu Darmawirya Dewawarman.

Pada masa kekuasaannya inilah, Salakanagara mencapai puncak keemasannya. Kehidupan penduduk makmur sentosa, dan sang raja memajukan kehidupan keagamaan. Mayoritas penduduk saat itu memeluk agama Ganapati yang memuja Ganesha. Sedangkan sisanya ada yang memuja Wisnu, Siwa, Siwa-Wisnu, dan kepercayaan asli leluhur.


Maharaja Dewawarman IX (362-?)

Di masa pemerintahannya, pamor kekuasaan Salakanagara menurun drastis, hal ini bertolak belakang dengan prestasi dari ayahnya (Dewawarman VIII) yang membawa Salakanagara dalam kemakmuran. Salakanagara semakin kehilangan “gaungnya” dan akhirnya terlampaui oleh Kerajaan Tarumanagara, bahkan menjadi wilayah kekuasaan dari kerajaan baru itu.

Setelah menjadi wilayah kekuasaan Tarumanagara, riwayat raja-raja yang berkuasa di Salakanagara tidak tercatat dalam sejarah. Namun yang pasti, Salakanagara termasuk kerajaan sekutu dari Tarumanagara saat menghadapi beberapa pemberontakan di Tarumanagara.




Daftar pustaka :

- Agung Bimo Sutejo & Timmy Hartadi (Tim Laku Becik), Kraton Gilingaya : sebuah ekspedisi. Januari 2009

- Ayat Rohaedi: Sundakala, Cuplikan Sejarah Sunda Berdasar Naskah-naskah “Panitia Wangsakerta” Cirebon. Pustaka Jaya, 2005

- Team Fisip IKOM A1 NR-Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Megalitikum di Banten Selatan Sekitar Gunung Pulosari, 2008

Ayatrohaedi. (2017). Sundakala: Cuplikan Sejaraj Sunda Berdasarkan Naskah-naskah Panitia Wangsakerta Cirebon. Jakarta: Pustaka Jaya

Transliterasi Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa (PPBJ), Museum Sri Baduga. Bandung




Koleksi artikel Imajiner Nuswantoro 




Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)