WEJANGAN KEJAWEN

0

WEJANGAN KEJAWEN

 


Kata Kejawen berasal dari kata Jawa, yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa (Kejawaan). Penamaan kejawen bersifat umum, biasanya karena bahasa pengantar ibadahnya menggunakan bahasa Jawa. Dalam konteks umum, Kejawen sebagai filsafat yang memiliki ajaran-ajaran tertentu terutama dalam membangun Tata Krama (aturan berkehidupan yang mulia), Kejawen sebagai agama itu dikembangkan oleh pemeluk agama Kapitayan jadi sangat tidak arif jika mengatasnamakan Kejawen sebagai agama di mana semua agama yang dianut oleh orang Jawa memiliki sifat-sifat kejawaan yang kental.

Kejawen dalam opini umum berisikan tentang seni, budaya, tradisi, ritual, sikap, serta filosofi orang-orang Jawa. Kejawen juga memiliki arti spiritualistis atau spiritualistis suku Jawa, laku olah spiritualis kejawen yang utama adalah Pasa (Berpuasa) dan Tapa (Bertapa).

Penganut ajaran kejawen biasanya tidak menganggap ajarannya sebagai agama dalam pengertian seperti agama monoteistik, seperti Islam atau Kristen, tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku (mirip dengan ibadah). Ajaran kejawen biasanya tidak terpaku pada aturan yang ketat dan menekankan pada konsep keseimbangan. Sifat Kejawen yang demikian memiliki kemiripan dengan Konfusianisme (bukan dalam konteks ajarannya). Penganut Kejawen hampir tidak pernah mengadakan kegiatan perluasan ajaran, tetapi melakukan pembinaan secara rutin.

Simbol-simbol laku berupa perangkat adat asli Jawa, seperti keris, wayang, pembacaan mantra, penggunaan bunga-bunga tertentu yang memiliki arti simbolik, dan sebagainya. Simbol-simbol itu menampakan kewingitan (wibawa magis) sehingga banyak orang (termasuk penghayat kejawen sendiri) yang dengan mudah memanfaatkan kejawen dengan praktik klenik dan perdukunan yang padahal hal tersebut tidak pernah ada dalam ajaran filsafat kejawen.

Ajaran-ajaran kejawen bervariasi, dan sejumlah aliran dapat mengadopsi ajaran agama pendatang, baik Hindu, Buddha, Islam, maupun Kristen. Gejala sinkretisme ini sendiri dipandang bukan sesuatu yang aneh karena dianggap memperkaya cara pandang terhadap tantangan perubahan zaman.

Masyarakat Jawa tidak bisa lepas dari yang namanya ngelmu, karena ngelmu adalah warisan para leluhur, sesepuh, dan para wali yang masih membudaya sampai saat ini.

Artikel ini merupakan kumpulan tulisan dari berbagai pemikiran orang lain, yang dihimpun penulis menjadi rangkaian pengetahuan spiritual Jawa. Adapun acuannya berasal dari saduran kitab Jawa kuno, kutipan beberapa penulis, pengalaman pribadi, informasi dari wawancara beberapa informan, wejangan khusus dari Sesepuh, dan lainnya. Buku ini mengungkap apa sebenarnya ngelmu, bagaimana mendapatkannya, dan wejangan apa saja yang diwariskan oleh para Guru.

Adapun uraian ngelmu dalam buku meliputi 13 Bab :

1. Ilmu batin;

2. Wejangan;

3. Shalat daim & zikir nafi isbat;

4. Salira atau sarira;

5. Wejangan tentang nanding salira;

6. Wejangan tentang ngukur salira;

7. Wejangan mengenai tepa salira;

8. Shalat daim mulat salira;

9. Ilmu budi pekerti luhur;

10. Ilmu batin (olah rasa);

11. Makna kematian menurut Ki Ageng Pengging;

12. Ilmu-ilmu tua;

13. Perenungan wejangan penutup “suluk besi”.

Ngelmu kejawen diantaranya : “Mulo wong urip iku, den padha akarep marang nglemu, olo becik nglemu den kawruhi, karono atunggal wujud, mung kacek emel lan batos.” (Maka orang hidup itu, janganlah berhenti belajar, baik dan buruk itu harus diketahui, karena sebenarnya adalah satu, hanya berbeda lafal dan batinnya). “Wong Jawa kuwi nggone rasa, mulo gulanen ing qalbu.” (Orang jawa itu tempatnya rasa, oleh karena itu carilah, pelajarilah, dan latihlah serta rasakan rasa itu di dalam hati sanubari).

Kepercayaan Jawa yang asli menyatakan bahwa Dzat Tuhan yang disebut dengan Sang Hyang Wenang (Sang Hyang Wisesa, Sang Hyang Widdhiwasa, Hyang Agung) adalah“tan kena kinayangapa” artinya tidak bisa dibayangkan dengan akal, rasa, dan daya spiritual manusia. Namun ada dan menciptakan jagad seisinya dari antiga (telur, wiji/benih) di alam suwung. Penciptaannya dengan meremas (membanting) antiga tersebut hingga tercipta tiga hal :

1.     Langit dan bumi (alam semesta).

2.     Teja dan cahya, teja merupakan cahaya yang tidak bisa diindera sedangkan cahya merupakan cahaya yang bisa diindera.

3.     Manikmaya, yaitu “Dzat Urip” atau “Sejatining Urip” (Kesejatian Hidup, Suksma, Roh).

Ketiganya masing-masing merupakan derivate (turunan, emanasi, pancaran, tajali, titah) Tuhan. Melingkupi seluruh semesta yang tiada batas ini.

Menurut Kejawen (Mitologi Jawa), maka seluruh semesta seisinya adalah ciptaan Sang Hyang Wisesa di dalam haribaan-Nya sendiri. Artinya, Tuhan murba wasesa (melingkupi dan memuat serta menguasai dan mengatur) seluruh semesta yang luasnya tiada batas dan seluruh isinya.

Di dalam kesemestaan tersebut ada materi (bumi dan langit), ada sinar dan medan kosmis (teja dan cahya), dan ada Dzat Urip (Manikmaya, Sejatining Urip, Kesejatian Hidup) sebagai derivate (emanasi, pancaran, tajali) Dzat Tuhan.

Dalam Kejawen, Dzat Tuhan “tan kena kinayangapa”, yang mampu dihampiri akal, rasa dan daya sepiritual (kebatinan) adalah Dzat Urip, yang kemudian disebut : Pangeran, Gusti, atau Ingsun. Keterangan tentang hal itu bisa disimak lewat wejangan pertama dalam “wirid wolung pangkat ” sebagai berikut:

 

Wejangan pituduh wahananing Pangeran :

Sajatine ora ana apa-apa, awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dhihin iku Ingsun, ora ana Pangeran anging Ingsun sajatining kang urip luwih suci, anartani warna, aran, lan pakartining-Sun (dzat, sipat, asma).

Selanjutnya, marilah kita renungkan kesemestaan yang ada. Maka sungguh Maha Sempurna Tuhan yang telah menciptakan semesta ini. Luasnya tiada terhingga dan semuanya teratur, selaras, dan sempurna. Disebut dalam mitologi Jawa, bahwa semesta tercipta dalam keadaan hayu (elok, indah, selaras dan sempurna).

Dalam tata semesta yang hayu tadi, bisa kita sadari kalau planet bumi yang kita tempati hanya bagian yang sangat kecil dari kesemestaan alam ciptaan Tuhan. Manusia hanyalah salah satu titah dumadi (mahluk hidup) yang ditempatkan di planet bumi bersama milyaran titah dumadi lainnya. Semua titah dumadi disemayami dzat urip sebagai derivate dzat Tuhan. Kiranya bisa disimak wejangan kedua “wirid 8 pangkat Kejawen” sebagai berikut :

Wejangan pambuka kahananing Pangeran:

Satuhune Ingsun Pangeran Sejati, lan kawasa anitahake sawiji-wiji, dadi ana padha sanalika saka karsa lan pepesthening-Sun, ing kono kanyatahane gumelaring karsa lan pakartining-Sun kang dadi pratandha:

Kang dhihin, Ingsun gumana ing dalem alam awang-uwung kang tanpa wiwitan tanpa wekasan, iya iku alaming-Sun kang maksih piningit.

Kapindho, Ingsun anganakake cahya minangka panuksmaning-Sun dumunung ana ing alam pasenedaning-Sun.

Kaping telu, Ingsun anganakake wawayangan minangka panuksma lan rahsaning-Sun, dumunung ana ing alam pambabaring wiji.

Kaping pat, Ingsun anganakake suksma minangka dadi pratandha kauripaning-Sun, dumunung ana alaming herah.

Kaping lima, Ingsun anganakake angen-angen kang uga dadi warnaning-Sun ana ing sajerone alam kang lagi kena kaupamakake.

Kaping enem, Ingsun anganakake budi kang minangka kanyatahan pencaring angen-angen kang dumunung ana ing sajerone alaming badan alus.

Kaping pitu, Ingsun anggelar warana (tabir) kang minangka kakandhangan paserenaning-Sun. Kasebut nem prakara ing ndhuwur mau tumitah ing donya, yaiku Sajatining Manungsa.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia : Ajaran membuka pemahaman keadaan Pangeran : Sesungguhnya Aku adalah Pangeran Sejati, dan berkuasa menita.

 

 


Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)