Ajaran Tasawuf Sunan Kalijaga Tentang Cupu Manik Astagina

0

 Ajaran Tasawuf Sunan Kalijaga Tentang Cupu Manik Astagina




Salah satu peninggalan dari nenek moyang kita, yang perlu diuraikan agar menjadi pedoman hidup menuju masyarakat yang sejahtera adalah Asta-brata. Asta artinya delapan, brata artinya tindakan. Jadi, Asta-brata dapat diartikan sebagai delapan macam tindakan. Asta-brata ini diambil dari inti sari wasiat Cupu Manik Asta Gina, atau pegangan hokum bagi para dewa. Konon dengan berpegang pada hokum ini, para dewa dapat memimpin umat manusia menuju kesejahteraan dan kedamaian.

Kalau setiap orang, terutama para pemimpin, berpegang pada asta-brata, maka masyarakat yang sejahtera tidak mustahil terwujud di bumi ini. Adapun asta-brata secara mudah dan jelas digambarkan atau diwujudkan dalam rupa :

1. Wanita: wanita,

2. Garwa; jodoh

3. Wisma : rumah

4. Turangga : kuda tunggangan

5. Curiga : keris, atau senjata

6. Kukila : burung berkutut

7. Waranggana : ronggeng- penari wanita

8. Pradangga : gamelan-bebunyian berirama

Orang atau pemimpin yang utama harus memiliki (mengalami) delapan hal tersebut diatas.Banyak orang yang salah paham, berusaha mempunyai delapan rupa tersebut dalam wujud sebenarnya. Hal demikian ini takkan terwujud. Sesungguhnya delapan hal tersebut sekadar kiasan, dan bukan berarti setiap orang harus memiliki barangnya, tetapi memiliki atau mengalami arti dan wangsitnya.

Wanita, artinya seorang perempuan, yang elok dan cantik, siapapun yang melihat pasti ingin memilikinya. Maka yang dimaksud dengan wanita ini adalah suatu keindahan, sebuah cita-cita yang tinggi. Agar cita-cita itu dapat tercapai, maka orang perlu berusaha sekuat tenaga, belajar, tirakat dan sebagainnya, sebagaimana seorang pemuda yang ingin menggaet dan memiliki gadis cantik.

Garwa, artinya jodoh, suami istri, yang sehati. Garwo sering diartikan sigaraning nyawa, belahan jiwa, jiwa satu dibelah dua atau dua badan satu nyawa. Jadi garwa mengandung arti bahwa setiap orang harus dapat menyesuaikan diri, bisa bergaul dengan siapapun, semua orang dianggap sebagai kawan, hidup rukun dan damai, mencintai sesama, tidak membeda-bedakan orang. Semuanya dianggap sebagai garwa, teman sehidup semati.

Wisma, artinya rumah. Rumah adalah tempat berlindung memiliki ruangan yang luas berpetak-petak untuk menyimpan aneka macam barang. Semuannya dapat dimasukkan kedalam rumah. Demikianlah, setiap orang hendaknya bersifat rumah, yakni dapat menerima siapapun dan membutuhkan perlindungan, sanggup menyimpan dan mengatur segala sesuatu, pun dapat mengeluarkan pikiran dan bertindak bijaksana dan teratur menurut tempat, waktu dan kedaannya.

Turangga, berarti kuda tunggangan, yang kuat dan bagus. Kuda tunggangan bisa berlari cepat, bisa berlari pelan, bisa berjalan sambil menari-nari. Sebaliknya kuda tunggangan juga bisa berlari cepat dengan arah yang tak menentu, bisa terguling kedalam jurang, tergantung orang yang memegang tali kekang. Demikian halnya diri: badan jasmaniah, panca indra dan nafsu kita merupakan kuda tunggangan. Sedangkan jiwa adalah pengendaranya. Bila jiwa dapat menguasai, mengatur dan mengekang diri, maka pergaulan hidup kita akan teratur dengan baik. Sebaliknya, bila jiwa tak dapat menguasai diri, maka hidup kita akan seperti kuda tunggangan yang liar, berlari kesana kemari dan akhirnya tergelincir.

Curiga, artinya keris, senjata tajam yang dipuja-puja. Maka perlulah tiap orang terutama para pemimpin memiliki persenjataan hidup yang lengkap, kepandaian, keuletan, ketangkasan dan lain-lain. Begitu pula pikiran harus tajam, mampu menebak dengan dengan tepat, agar dapat bertindak tepat pula untuk kebahagiaan masyarakat.

Kukila, artinya burung, burung berkutut yang dipelihara di Jawa, untuk didengarkan suaranya, yang merdu, enak didengar, menentramkan sanubari. Demikianlah, setiap kata yang keluar dari mulut hendaknya enak didengar, lemah lembut, menentramkan orang yang mendengarkannya. Setiap kata yang keluar harus tegas dan bersifat memperbaiki dan membangun, agar siapapun yang mendengar bisa terpikat dan mengindahkannya.

Waranggana, artinya tandak atau ronggen, untuk pandangan waktu menari. Pada zaman dewa-dewa, ini disebut Lenggot-bawa. Peraturannya seperti ini : seorang warangga menari di tengah kerumunan orang, bersama seorang lelaki yang ikut menari. Diempat penjuru ada penari laki-laki yang menari, seakan-akan ikut menggoda si waranggana agar memalingkan mukanya dari yang lelaki yang tengah menari.

Makna gambaran di atas adalah : dalam usaha meraih cita-cita yang muliah (waranggana), pasti akan banyak kita jumpai godaan yang mencoba menghalang-halangi pencapaian cita-cita tersebut.

 

Kisah Cupu Manik Astagina Dunia Pewayangan.

Alkisah disebutkan bahwa benda ajaib ini (Cupu MAnik Astagina) sempat menjadi rebutan 3 (tiga) bersaudara; Anjani, Subali dan Sugriwa, anak-anak dari Resi Gutama dan Dewi Indradi. Anjani yang memeroleh benda tersebut dari sang ibu, lalai menjaga rahasia dan terjadilah perebutan bersama kedua adiknya. Berhubung benda ajaib itu harus dijaga kerahasiaan asal-usulnya, Dewi Indradi hanya tutup mulut ketika suaminya menanyakan dari mana benda tersebut berasal. Resi Gutama murka dan mengutuk istrinya menjadi tugu, yang kemudian dilemparkan jauh hingga jatuh di negeri Alengka.

Sementara, cupu manik astagina sendiri dilemparkan oleh Resi Gutama, jauh ke tengah hutan. Resi Gutama mengatakan, agar ketiga anaknya berlomba mengejar benda itu dan siapapun yang berhasil mendapatkannya, dialah pemiliknya. Segera Anjani, Subali dan Sugriwa berlari demi memerebutkan benda itu. Tak ketinggalan, paman mereka, Jembawan, turut serta mengadu untung.

Cupu manik astagina ternyata berubah menjadi telaga di tengah belantara. Mereka berempat mengira benda itu jatuh ke dalamnya. Segera mereka menceburkan diri, mencari cupu tersebut. Sementara Anjani hanya membasuh muka dan tubuhnya di tepi telaga.

Betapa terkejutnya, ketika usai membasuh, seluruh tubuh dan wajahnya berbulu lebat. Demikian juga dengan Subali,Sugriwa dan Jembawan. Mereka ternyata, berubah wujud menjadi kera. Tak disangka, perebutan benda ajaib itu justru menimbulkan malapetaka.


Sendang Cupu Manik Astagina yang ada di Dusun Karangjoho Kacamatan Bawen Kabupaten Semarang.

Ajaran Sunan Kalijaga yang bernama Cupu Manik Astagina (wanita, garwa, wisma, turangga, curiga, kukila, waranggana dan pradangga), yang di dalamnya mengandung nilai-nilai tasawuf yang dapat dijadikan acuan pedoman hidup masyarakat di era modern. 

Nilai-nilai tasawuf seperti sabar, zuhud, wara’, tahalli, tawakkal, muraqabah, khusnudzon yang ada dalam ajaran tersebut tentunya sangat penting untuk diterapkan masyarakat di tengah krisisnya pedoman hidup masyarakat karena derasnya arus globalisasi dan teknologi informasi yang memiliki dampak negatif yang membahayakan kehidupan. Selain itu, isi dari ajaran tersebut, secara implementatif masih cukup dipahami serta dipraktikkan di dalam kehidupan masyarakat baik secara individu maupun secara sosial, khususnya bagi masyarakat yang terlibat dan dekat dengan sendang Cupu Manik Astagina yang ada di Dusun Karangjoho Kacamatan Bawen Kabupaten Semarang, yakni dari pelaku ritual yang masih ada dan masyarakat sekitar, seperti menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, ketenangan dalam jiwa, kesabaran, menerima, dan selalu bersyukur dengan apa yang dimiliki dan yang diberikan oleh alam agar bisa dimanfaatkan, serta selalu Memayu Hayuning Bawana.


Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)