SERAT JAKALODANG (Rangga Warsita Basa Kadaton - Basa Kadaton Rangga Warsita)

0

serat jakalodang

(Rangga Warsita Basa Kadaton - Basa Kadaton Rangga Warsita)

 


Imajiner Nuswantoro

Rongeh jleg tumiba

Gagaran santosa

Wartane meh teka

SIkara karoda

Tatage tan katon

Barang-barang ngerong

Saguh tanpa raga

Katali kawawar

Dadal amekasi

Tonda murang tata

 

Gambuh

Jaka Lodang gumandhul

Praptaning ngethengkrang sru muwus

Eling-eling pasthi karsaning Hyang Widhi

Gunung mendhak jurang mbrenjul

Ingusir praja prang kasor

 

Joko Lodang berayun lalu berlagak dengan sombong, sambil berkata dengan lantang. Hati-hatilah sudah menjadi kehendak Tuhan bahwa kelak gunung-gunung akan menjadi rendah, sebaliknya jurang yang curam akan timbul kepermukaan, zaman yang serba terbalik, karena kalah perang maka akan diusir dari negerinya.

 

Nanging awya kliru

Sumurupa kanda kang tinamtu

Nadyan mendak mendaking gunung wis pasti

Maksih katon tabetipun

Beda lawan jurang gesong

 

Namun jangan salah memahami. Ketahuilah kabar yang telah digariskan. Walau serendah apapun gunung akan tetap masih tampak terlihat. Berbeda dengan jurang yang curam.

 

Nadyan bisa mbarenjul

Tanpa tawing enggal jugrugipun

Kalakone karsaning Hyang wus pinasti

Yen ngidak sangkalanipun

Sirna tata estining wong

 

(Jurang) meskipun dapat timbul, namun kalau tidak ada tanggulnya akan longsor juga. Kejadian itu sudah menjadi kehendak Tuhan YME, bilamana telah menginjak masa : tahun Jawa 1850. Sirna ; 0, Tata ; 5, Esthi ; 8 dan Wong ; 1. Atau tahun 1919-1920 masehi.

 

Sinom

Sasedyane tanpa dadya

Sacipta-cipta tan polih

Kang reraton-raton rantas

Mrih luhur asor pinanggih

Bebendu gung nekani

Kongas ing kanistanipun

Wong agung nis gungira

Sudireng wirang jrih lalis

Ingkang cilik tan tolih ring cilikira

 

Segala yang dikehendaki tidak terwujud, segala yang dicita-citakan mengalami kegagalan, yang direncanakan berantakan, langkah dan keputusan salah perhitungan, ingin menang malah kalah. Datanglah hukuman dahsyat dari Tuhan. Yang tampak hanyalah perbuatan nista. Orang besar kehilangan kebesarannya, pilih menanggung malu ketimbang mati, rakyat kecil tidak memahami diri sendiri.

 

Wong alim-alim pulasan

Njaba putih njero kuning

Ngulama mangsah maksiat

Madat madon minum main

Kaji-kaji ambataning

Dulban kethu putih mamprung

Wadon nir wadorina

Prabaweng salaka rukmi

Kabeh-kabeh mung marono tingalira

 

Banyak orang berlagak sok alim (penuh kepalsuan), luarnya “putih” dalemnya “kuning”, banyak ulama gemar maksiat. Suka mabuk, main perempuan, dan berjudi. Yang sudah naik haji pun rusak moral dan kelakuannya. Perempuan kehilangan kewanitaannya, karena mengejar harta benda. Harta benda menjadi tujuan hidup semua orang.

 

Para sudagar ingargya

Jroning jaman keneng sarik

Marmane saisiningrat

Sangsarane saya mencit

Nir sad estining urip

Iku ta sengkalanipun

Pantoging nandang sudra

Yen wus tobat tanpa mosik

Sru nalangsa narima ngandel ing suksma

 

Para pedagang bersukaria, harta benda dipertuhan. Akibatnya penderitaan meliputi seluruh jagad, kesengsaraannya makin menjadi-jadi. Tahun Jawa menunjuk tahun 1860 ; Nir ; 0, Sad ; 6, Esthining ; 8, Urip ; 1. Tahun Masehi kurang lebih tahun 1930. Penderitaan usai bila semua orang sadar lalu bertobat, kembali kepada jalan kebenaran.

 

Megatruh

Mbok Parawan sangga wang duhkiteng kalbu

Jaka Lodang nabda malih

Nanging ana marmanipun

Ing waca kang wus pinesthi

Estinen murih kelakon

 

Mbok Perawan berpangku tangan merasa sedih. Joko Lodang berkata lagi : “Namun ketahuilah bahwa ada hukum sebab akibat, dalam ramalan yang sudah ditentukan, upayakan supaya terjadi “.

 

Sangkalane maksih nunggal jamanipun

Neng sajroning madya akir

Wiku Sapta ngesthi Ratu

Adil parimarmeng dasih

Ing kono kersaning Manon

 

Saatnya (kemerdekaan) masih dalam zaman yang sama. Di akhir pertengahan abad. Tahun Jawa 1877 Wiku ; 7, Sapta ; 7, Ngesthi ; 8, Ratu ; 1. Bertepatan dengan tahun 1945 masehi. Datanglah keadilan antara sesama manusia. Semua itu sudah menjadi kehendak Tuhan.

 

Tinemune wong ngantuk anemu kethuk

Malenuk samargi-margi

Marmane bungah kang nemu

Marga jroning kethuk isi

Kencana sesotya abyor

 

Kelak saat itu, segala sesuatu dapat diraih dengan sangat mudah, ibarat orang yang mengantuk mendapat kethuk (gong kecil) yang berada banyak dijalan. Gembira lah hati orang yang menemukan, sebab di dalam berisi emas kencana.



SERAT JAKA LODHANG

Serat Jaka Lodhang dimulai dengan Bubuka (Pendahuluan) berupa dua ‘pada’ (bait) geguritan atau sanjak. Masing-masing bait terdiri dari lima gatra (bagian). Bubuka ini ada yang menyebut dengan nama Serat Kalut (kalut=kacau) sebagai serat tersendiri.

Kata-kata dan kalimat-kalimat geguritan tersebut berdasarkan susunan dan arti harfiahnya dapat disimpulkan sebagai perlambang (lambang) berupa kata-kata bersayap yang menyelubungi sesuatu maksud tertentu.

Di dalam dua bait geguritan itu terdapat sandiasma dari pengarangnya yang dijelaskan sebagai berikut :

Dalam Geguritan ke-1 rangkaian suku kata-suku kata pertama dari tiap-tiap gatra berbunyi ronggawarsita. Rangkaian dari suku kata-suku kata terakhir dari tiap-tiap gatra berbunyi: basa kadhaton.

Dalam Geguritan ke-2 rangkaian suku kata-suku kata pertama dari tiap-tiap gatra berbunyi: basa kadhaton. Rangkaian suku kata-suku kata terakhir dari tiap-tiap gatra berbunyi: ronggawarsita.

Serat Jaka Lodhang ini adalah Serat Jangka, yaitu Ramalan, sebab dalamnya terdapat angka tahun yang berbentuk Candrasengkala. Ramalan itu menunjukkan (akan) terjadinya berbagai peristiwa.

 

BUBUKA

Geguritan 2 bait

Rongeh *) jleg tumiba, gagaran

santosa,       wartane meh

teka,

sikara karodha,

tatage tan katon.

 

– Keadaan yang menggelisahkan terjadi tiba-tiba, (itu) menjadi pedoman kuat, (akan hal yang) kabarnya hampir tiba, (yaitu) tindak sewenang-wenang, (sehingga) ketabahan hati orang tidak tampak.

Barang-barang ngerong, saguh

tanpa raga,

katali kawawar,

dhadhal amekasi,

tondha murang tata.

 

– Apa (dan siapa) pun yang bersembunyi, sanggup bertekad mati, (sekalipun) dibelenggu dipecah-pecah, (sebab percaya peristiwa itu) akhirnya (akan) hancur, (karena) nyata-nyata melanggar tata (kemanusiaan).

*) Perkataan rongeh, penulisannya dengan huruf Jawa umumnya (sekarang) adalah: ro+ngeh, tetapi perkataan itu di sini harus memenuhi kepentingan sandiasma; ronggawarsita. Oleh karenanya penulisannya dengan huruf Jawa adalah; rong+eh.

 

ISI SERAT JAKA LODHANG

BAGIAN I

Tembang Gambuh 3 bait

Jaka Lodhang *) gumandul, aneng ngepang ngethengkrang srumuwus, eling-eling pasthi karsaning Hyang Widdhi, gunung mendhak jurang mbrenjul, ingusir praja prang kasor.

– Jaka Lodhang (Ki Pujangga) bergantungan di pohon, di atas dahan duduk santai (lalu) berkata keras, ingat-ingatla (semua) kehendak Tuhan sudah pasti, gunung-gunung (yang tinggi) merendah (runtuh), jurang-jurang (yang dalam) membusut (bergundukan), (ada orang-orang) terusir dari negerinya (karena) kalah perang.

*) Jaka Lodhang berasal dari kata jaka = jejaka, lelaki muda+lodhang atau ludhang = rampung, selesai, sudah selesai dengan suatu pekerjaan = bebas dari suatu kewajiban. Jaka Lodhang berperan di dalam Serat ini sebagai juru bicara pengarangnya, atau sebagai nama samaran pengarangnya dalam karya ini.

Nanging aywa keliru, sumurupa kandha kang tinamtu, nadyan mendhak mendhaking gunung wus pasthi, masih katon tabetipun, beda lawan jurang gesong.

– Tetapi janganlah keliru (terima), ketahuilah kata-kata yang benar, meskipun menjadi rendah (tetapi) rendahnya gunung sudah pasti, masih kelihatan bekasnya, berbeda dengan jurang yang menggeronggong.

Nadyan bisa mbarenjul, tanpa tawing enggal jugrugipun, kalakone karsaning Hyang wus pinasthi, yen ngidak sangkalanipun, Sirna tata esthining wong. *)

– Meskipun (jurang) membusut, tanpa kekuatan dinding (tentu) cepat runtuh, (keadaan demikian itu) terjadi karena kehendak Allah telah pasti (yaitu) setelah menginjak waktunya dengan Candrasengkala: Sirna tata esthining wong.

*) Sirna tata esthining wong = Musnahlah tata (cara) tujuan orang. Candrasengkala itu berarti tahun Jawa 1850. Tahun Jawa 1850 ialah dari tanggal 1 Sura (Jum’at Wage) sampai dengan 29 Besar (Selasa Kliwon) 1850 = tahun Masehi tanggal 26 September 1919 sampai dengan 14 September 1920.

 

BAGIAN II

Tembang Sinom 3 Bait

Sasedyane tanpa dadya, sacipta-cipta tan polih, kang raraton-raton rantas, mrih luhur asor pinanggih, bebendu gung nekani, kongas ing kanisthanipun wong agung nis gungira, sudireng wirang jrih lalis, ingkang cilik tan tolih ring cilikira.

– (Mulai tahun 1850 tersebut) semua cita-cita (orang) tak ada yang berhasil, apapun yang dikehendaki tak ada yang tercapai, yang membuat gerombolan bubar semuanya, mengusahakan derajat luhur memperoleh kehinaan, kutuk Tuhan yang keras tibalah, menonjollah kerendahan budi orang, orang bermartabat tinggi hilang martabatnya, berani malu takut mati, yang (golongan) kecil tak mau tahu diri.

Wong alim-alim pulasan, njaba putih njeru kuning, ngulama mangsah maksiyat, madat madon minum main, kaji-kaji ambanting, dulban kethu putih mamprung, wadon nir wadonira, prabaweng salaka rukmi, kabeh-kabeh mung marono tingalira.

– Orang (yang mengaku) pandai (sebenarnya) palsu, di luarnya tampak suci (putih) di dalamnya kotor (kuning), ahli agama Islam melanggar larangan Tuhan, madat melacur minum-minuman keras dan berjudi, haji-haji meninggalkan, sorban kopiah putihnya beterbangan, wanita hilang kewanitaannya, (karena) daya pengaruh perak dan emas, semua orang hanya memperhatikan harta benda.

Para sudagar ingargya, jroning jaman keneng sarik, marmane saisining rat, sangsarane saya mencit, Nir sad esthining urip *) iku to sangkalanipun, pantoging nandhang sudra, yen wis tobat tanpa mosik, sru nalangsa narima ngandel ring Suksma.

– Para saudagar yang (mestinya) dihormati, (hidup) dalam jaman yang terkutuk (oleh Tuhan), maka seisi dunia, sengsaranya makin memuncak, (perhatikanlah) Nir sad esthining urip, itulah waktunya (Candrasengkalanya), puncaknya menderita hingga, (yaitu) bilamana (orang) sudah bertobat tanpa gerak (batinnya), amat menyesali diri (dan) sadar percaya kepada (kekuasaan) Tuhan.

*) Nir sad esthining urip = Hilang kering cita-cita hidup, adalah kalimat Candrasengkala yang berarti tahun Jawa 1860.

Tahun Jawa 1860 ialah mulai tanggal 1 Sura (Ahad Pon) sampai dengan 29 Besar (Kamis Pahing) 1860 = tahun Masehi tanggal 9 Juni 1929 sampai dengan 1930. Sad = enam; sebagai kata bersayap, dapat diartikan sebagai: sat = asat = kering, habis.

 

BAGIAN III

Tembang Megatruh 3 bait

Mbok Parawan sangga wang duhkiteng kalbu, Jaka Lodhang nabda malih, nanging ana parmanipun, ing weca ji, nag wus pinasthi, esthinen murih kalakon.

– Mbok Parawan bertopang dagu (karena) sedih, Jaka Lodhang berkata lagi, tetapi ada kasih-sayang (Tuhan), (yaitu) di dalam ramalan yang sudah dipastikan, usahakanlah agar (itu) terjadi.

Sangkalane maksih nunggal jamanipun, neng sajroning madya akir, Wiku sapta ngesthi ratu *), ngadil parimarmeng dasih, ing kono karsaning Manon.

– (Terjadinya ramalan itu) waktunya masih dalam zaman, di pertengahan-akhir (abad), (Candrasengkalanya) Wiku sapta ngesthi ratu, yang adil kasih-sayang kepada rakyatnya, di sanalah kehendak Tuhan.

*) wiku sapta ngesthi ratu = Tujuh orang pendeta menghendaki seorang raja. Candrasengkala ini berarti tahun Jawa 1877. Tahun Jawa 1877 ialah mulai tanggal 1 Sura (Kamis Paing) sampai dengan 29 Besar (Ahad Paing) 1877 = tahun Masehi tanggal 6 Desember 1945 sampai dengan 25 Nopember 1946.

Tinemune wong ngantuk anemu kethuk, malenuk samargi-margi, marmane bungah kang nemu, marga jroning kethuk isi, kancane sosotya abyor.

Terjadilah orang mengantuk menemukan kethuk, terdapat di sepanjang jalan, maka senanglah yang menemukannya, karena kethuk itu berisi, emas intan berlian (serba) gemerlapan.





Imajiner Nuswantoro 



Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)