Serat Gugontuhon

0

Serat Gugontuhon

 


Membedah mitos dan fakta tentang Pamali Jawa

Gugontuhon atau biasa disebut pamali merupakan suatu larangan yang diajarkan secara lisan di kalangan masyarakat Jawa. Ajaran lisan ini sudah turun temurun sejak nenek moyang. Jika kalian pernah mendengan istilah, *aja lungguh nek ngarep Lawang, mundak gemblonge mandek* (jangan duduk di depan pintu nanti lamarannya tidak jadi) atau aja lungguh nek dhuwur bantal mundak udunen (jangan duduk di atas bantal nanti bisulan). Nah, kalimat semacam itu yang disebut Gugontuhon.

Gugontuhon adalah tuturan terhadap perilaku-perilaku yang tidak etis dilakukan dan biasanya jika dilanggar akan menimbulkan kesialan. Akan tetapi, Generasi Z sekarang ini hampir tidak tahu apa makna dibalik Gugontuhon ini. Tidak lain ialah penyampaian moral dan ajaran sopan santun yang disampaikan secara estestis dan tentu saja ditakuti oleh anak-anak zaman dulu, sehingga mereka akan terus mengingatnya.

Mengikuti perkembangan zaman, saya rasa kita perlu tahu alasan logis dibalik Gugontuhon masyarakat Jawa.

Nasihat leluhur pada zaman dahulu kepada putra putrinya. Dihimpun dan ditulis oleh Raden Prawirawinarsa di Jogjakarta. Dicetak di percetakan firma papirus Betawi.

BIJGELOOF BIJ DE JAVANEN DOOR RADEN PRAWIRAWINARSA TE DJOCJAKARTA

BATAVIA DRUKKERIJ PAPYRUS EERTIJDS H. M. VAN DORP & Co 1911.

Tujuan lainnya ialah pitutur leluhur di zaman dulu kepada putra putrinya saat ini sudah tidak diketahui oleh orang Jawa sendiri apa maksud dan tujuannya. Hal tersebut dikarenakan orang tua saat melarang hanya diembel-embeli : ora ilok, ora becik, disapu malaikat, (tidak boleh, tidak baik, disapu malaikat) dan seterusnya. Tentu saja hal tersebut susah dipahami dimana letak kelogisannya. Beberapa Gugontuhon ada yang sudah diketahui khalayak, akan tetapi banyak yang belum. Padahal yang belum tersebut sangat bermanfaat pula bagi orang Jawa.

Oleh karena itu saya lantas merasa tergugah untuk menghimpun dan menerangkan kembali, sebisa mungkin, saya teragkan maksud dan tujuannya agar mampu memberikan pengetahuan bagi yang belum memahami.

Jika dalam menerangkan ada yang kurang dan tidak tapat, saya mohon dengan berbesar hati para pembaca memaafkan.

 

Prawirawinarsa

1. Aja sok lungguh ing bantal, mundhak wudunên. Jangan duduk di bantal, nanti bisulan.

Bantal merupakan benda untuk menaruh kepala ketika tidur. Maka menurut orang Jawa, kepala itu tinggi derajatnya. Sedangkan pantat merupakan anggota badan yang tabu. Sehingga bantal tempat bersandar kepala akan nampak tabu bila digunakan untuk duduk (berbeda dengan bantal sofa, fungsinya dan konteksnya sudah beda) sehingga disebut tidak sopan.

 

2. Aja sok nêkuk bantal, mundhak ora ilok. Jangan menekuk bantal, tidak baik.

Ketika tidur, jika bantal yang digunakan ditekuk, akan menyebabkan kepala menjadi lebih tinggi dari yang sewajarnya sehingga rasanya tidak nyaman. Ketika tidur kepalanya dengklek atau sehingga kurang baik. Hal ini jika seandainya tidur pulas karena kecapaian, dan tidak bergerak posisinya, akan menyebabkan sakit leher jika atau biasa disebut tengengen karena salah posisi tidur. Apalagi jika tidur seperti itu sering menyebabkan mengorok karena pernapasannya tidak lancar. Dan akibat lain, jika bantal ditekut menyebabkan bantal mudah rusak dan kusut.

 

3. Aja sok jagjagan ana ngambèn Utawa paturon,mundhak ora ilok. Jangan loncat loncat di ranjang, tidak baik.

Ranjang gunanya untuk tidur atau duduk beristirahat. Sedangkan jika digunakan untuk loncat-loncat hal tersebut tidak etis dan membuat ranjang cepat rusak, apalagi jika kakinya kotor. Hal ini sebagian sudah tidak berlaku bagi yang rumahnya sudah berkeramik atau ranjangnya berupa sofa.

 

4. Yèn mapan turu aja nganti gupak upa, mundhak ngimpi ditampêl lintah. Jangan tidur dengan sisa nasi di wajah, nanti mimpi ketempelan lintah.

Lintah terkenal sebagai hewan yang menjijikan (meskipun bermanfaat untuk terapi), dilihat dari postur tubuhnya yang liat berjoget tanpa tulang, apalagi jika sudah menyerap darah (Uwuwwww, sungguh menggelikan). Anak-anak banyak yang takut, dan orang tua pun merasa jijik. Saat tidur, begitu terngiang-ngiang karena merasa jijik sehingga benar-benar bermimpi ditempeli lintah, mesti ketakutan. Sehingga pada akhirnya baik anak-anak akan mengingat-ingat nasihat ini bahkan sampai mereka tua. Padahal sebenarnya tidak seperti itu, nasi sisa makanan (upa) terasa lengket dan meninggalkan bekas kotor di wajah apalagi jika kebawa tidur. Jadi tujuan lain ialah agar kita senantiasa menjaga kebersihan.

 

5. Aja sok turu malang-megung, mundhak ora ilok. Jangan tidur malang melintang, tidak baik.

Tidur yang mana tidak dengan posisi lurus alias malang-melintang menyebabkan ranjang penuh, dilihat pun kurang etis karena tidak tertata. Apalagi jika ada teman seranjang yang ikutan tidur, tentu saja membuat tidak nyaman.

 

6. Aja sok turu nganggo bantal dhuwur, iku anggêdhèake kamuktèn, besuk bojone mundhak brewok. Yèn tumrap dhatêng lare jalêr: besuk bojone mundhak kopèk.

Jangan tidur dengan batal tinggi, membesarkan kesenangan, besok suaminya brewokan. Jika terhadap pria, besok istrinya berpayudara gelambir.

Pitutur ini seperti pada bagian 2, hanya bedanya menekuk dan menumpuk bantal. Atau jika teman tidurnya tidak kebagian bantal.

 

7. Aja sok mangan anak paturon, mundhak lara gudhigên. Jangan makan di ranjang, nanti sakit kudis.

Harapannya supaya bisa menjaga kebersihan. Karena makan di ranjang jika makanannya tercecer menyebabkan kotor dan dikerubuti semut. Sebaiknya kalo makan di ruang makan atau tempat yang biasa digunakan makan.

 

8. Aja mêmangan karo turonan, mundhak adoh malaekate. Jangan makan dengan tiduran, nanti malaikat (pembawa rezeki) menjauh.

Hal ini hampir sama dengan bab 7, selain itu dinilai kurang etis, apalagi jika makannya sambil tengkurap/rebahan, makanan yang masuk ke perut kurang lancar dan lambung pun kursng maksimal dalam memproses makanan.

 

9. Aja sok mangan nyangga ajang, pincuk, takir, godhong lan sêjene, mundhak kêmaga.

Jangan makan dengan mengangkat piring, pincuk, takir, daun pisang atau sejenisnya, nanti kecewa.

Sebenarnya maksud pitutur tersebut ialah : makan dengan mengangkat piring, selain kurang sopan, piring tersebut jika tersenggol sesuatuz mudah jatuh, sehingga menyebabkan tumpah ruah, dan tidak jadi makan. Alhasil kecewa.

 

10. Yèn nêngah-nêngahi madhang aja sok ngombe, iku dibasakake anggêdhèkake kamuktèn.

Di tengah-tengah makan jangan minum, ibaratnya membesarkan kesenangan.

 

Siapapun yang tersendat di tengah-tengah makan, jelas harus minum. Tapi maksud para sesepuh tersebut jika makan sebisa mungkin jangan sampai tersendak. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang makannya tersendak biasanya makannya terburu-buru, sehingga makanan yang dikunyah kurang lembut. Orang yang makannya tersendak biasanya menyebabkan cegukan, akan tidak etis jika dilakukan di hadapan banyak orang.

 

21. Aja lungguh, ngadêk, andhodhok ana tengah lawang, mundhak jodhange bali ing dalan. Tumrapipun dhatêng lare jalêr : mundhak sinyal olèhe golèk bojo.

Jangan duduk, berdiri, jongkok di tengah pintu nanti lamarannya batal di tengah jalan. Bagi laki-laki nanti dapat sial saat mencari jodoh.

 

22. Yèn nyapu ora rêsik, besuk bojone mundhak ala.

Jika menyapu tidak bersih, kelak pasangannya jadi jelek.

Harapan orang tua, semua pekerjaan harus sempurna. Jika menyapu tidak bersih, nanti dua kali kerja, dilihat juga kurang enak di mata. Apalagi jika sudah menjadi kebiasaan menyapu kurang bersih, bekerja apapun pasti kurang optimal. Hal ini diperparah pula dengan jargon : dahlah ngapain.

 

23. Yèn nyapu aja ngêndhégake uwuh ana ing tengah dalan. Mundhak jodhange bali ing dalan. Tumrapipun dhatêng lare jalêr : mundhak sinyal olèhe golèk bojo.

Jika menyapu sampahnya jangan ditinggal ditengah-tengah nyapu. Bagi laki-laki nanti dapat sial saat mencari jodoh.

Harapannya sama dengan nomor 22, jadi sampah tersebut sebaiknya dibuang di tempat sampah. Tentu menjadi tidak bersih dan tidak enak dipandang jika sampahnya masih menumpuk di tempat yang tidak seharusnya.

 

24. Aja sok mundhak wong tuwa, mundhak marahi lalèn.

Jangan berkebiasaan merangkul orang tua di bagian leher/pundaknya, menyebabkan lupa.

Pundak atau bahu yang berada di bawah kepala bagi orang Jawa merupakan bagian tubuh yang dihargai. Maka jika anak berani bergelayutan atau merangkul di pundak orang tuanya hal tersebut dikatakan kranyak, kurang sopan dan menghormati orang tua.

 

25. Aja sok malerok, besuk ana kanane, matane mundhak dicukil malaekat, andolèh (moler) têkan ing githok.

Jangan suka mlerok, besok di alam akhirat, matanya dicukil malaikat, memanjang hingga ke tengkuk.

Pitutur tersebut kebanyakan ditujukan kepada anak perempuan. Meskipun terhadap anak laki-laki, juga kurang baik. Karena: mlerok tersebut termasuk tanda yang mudah dimengerti. Tujuannya ada dua jenis, pertama : marah, karena tidak terpenuhi keinginannya, kedua : mengharapkan hubungan seks pada pria. Yang seperti itu terhadap anak perempuan sungguh tidak elok, apalagi jika terlanjur memiliki kebiasaan mlerok, dikiranya lantas seseorang yang genit terhadap pria atau seperti wanita liar.

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)