SINAU SANGKAN PARAN

0

SINAU SANGKAN PARAN




Akal bukan pikiran, tapi dia dapat berpikir. Akal bukan hati, tapi dia mampu memahami. Akal tidak terletak pada mata dan telinga, tapi dia bisa melihat dan mendengarkan.

Akal bukan tangan dan kaki, namun dia dapat meraba, dapat menggenggam, dapat pula diam ditempat ataupun memutuskan melangkah. Tidak pula berbentuk brangkas, namun didalamnya tersimpan banyak hal berharga.

Akal adalah ketajaman spiritual untuk menangkap dimensi-dimensi eksplisit pengetahuan yang terbentang di semesta, kemudian dengan kekuatannya berhasil mewujudkan transformasi pengetahuan menjadi ilmu.

Sedang ilmu sendiri itu adalah nur, maka dengan akal tiap-tiap manusia akan bangkit dari kegelapan menuju cahaya terang.

Demikian juga., akal dipandang lebih berharga dari harta benda, lebih bernilai dari paparan teori yang tertulis dibuku-buku, adalah bagian dari cakrawala kehidupan yang mampu menenggelamkan kebodohan.

Maka manusia yang berakal adalah insan yang cerdas, jika kecerdasannya berdaulat disebut sebagai cendikiawan.

Zaman dahulu para cendikiawan oleh Trah Jawa disebut sebagai Bhattara, Brahmana, Susuhunan, Ki Ageng, Ajengan, Bhendara, Kanjeng Agung, Pangersa, Pra Minulya, Pra Panitis, Pra Pujangga dsb.

Mereka adalah para Adi Linuwih, para Sekti Mandra Guna, dimana kecerdasannya secara level berada di atas rata-rata.

Melalui akal, manusia akan sampai pada dimensi rasa penghambaan kepada Tuhan dengan penuh khidmat. Karena dalam mengenali Tuhan oleh mereka yang berakal tidak bertumpu skriptual semata, akan tetapi ada nilai penghayatan yang lebih dalam, secara spritulitas dikaji dengan berpikir (lelaku), direnungkan dengan dzikir (manembah), diyakini dengan bukti (maneges) dikemas dalam perilaku (ngawula). Susuhunan Lemah Abang dalam tulisannya:

"Hyang Tunggal, Atunggal, Hangrasa Manunggal Luhur Muksa Saisiningrat, Datan Dadya Nir Srakah Gungira, Kang Reraton Kanistan Mungguhing Hyangira"

(Gusti Pengeran Maha Esa, Tiada Tuhan Selain Dia, Merasakan Keluhuran Bersama-Nya Akan Menghilangkan Segala Penderitaan, Hal Ini Tidak Akan Terlaksana Jika Kamu Serakah Menyombongkan Diri, Karena Kesombongan Dan Keserakahan Adalah Sendi-sendi Kenistaan Dalam Pandangan Tuhan-mu)

Dalam hal ini bisa di ambil pelajaran bahwasannya, cendikiawan Trah Jawa pada masa lalu dalam memantik kehidupan akalnya pada bab ilmu tauhid, teologi, ke-Tuhanan. Secara cerdas, ringkas, jelas dapat merumuskan hal-hal yang menjadi penghambat keimanan, penghambaan, keajaiban bermusyahadah.

Utamanya pada tataran tentang pentingnya mengasah akal sehingga menemukan kesejatian sifat Tuhan itu sendiri.

Gamblang dituturkan musuh akal itu sendiri adalah kesombongan dan keserakahan. Secara tegas kenistaan manusia berupa kesombongan dan keserakahan itulah sebenarnya sumber penyakit kebodohan dalam mengenali ke-Agungan Tuhan.

Selagi sombong dan serakah musykil manusia meraih kecerdasan dalam merasakan kebenaran Tuhan. Bahwa benar adanya orang bodoh itu mulut lebih lincah dari akalnya, kesombongan lebih mahir dari kecerdasannya dan keserakahan bergerak lebih cepat dari kesadaran mengakui kenistaannya.

Parahnya kefanatikan menutup akses untuk mengenali Tuhan yang sebenarnya. Akhirnya menyembah ke-Akuan diluar sadar.

Kesimpulannya! Jika teori para cendikiawan terdahulu bersepakat :

"Akal Akan Melahirkan Kecerdasan, Kecerdasan Akan Melahirkan Ilmu, Ilmu Akan Menangkap Sekaligus Menyebarkan Nur."

Bisa jadi kegelapan bumi yang terasa sekali saat ini gulitanya, pemicu salah satunya adalah kebanyakan di antara kita kaya dengan pengetahuan, namun jarang yang memiliki akal, sehingga gagal menata kehidupan secara cerdas. Maka marak terjadi berbagai kekisruhan, perdebatan, permusuhan hingga perang yang menumpahkan darah-darah penghuni bumi. 


Pitutur Luhur
SANGKAN PARAN
Lha piye maneh?! Wong nyatane urip kudu ngene alur ceritane. Kadang susah, kadang bungah, kadang ngguyu, kadang nangis, rak ya kabeh mau mung kadang-kadang to?!
Mula aja banget-banget sambat nalika nandang pacoban. Uga aja banget-banget kegeden rasa nalika nampa senenge kahanan. Sak perlune, sak cukupe wae! Wong akhire ya kadang-kadang.
Sing perlu dicekel bakoh lan tansah dirumat kanti tenanan kuwi kepara sabare lan syukure. Tegese! Yen ta pas nemoni petenge urip, lawan sabar isa agawe ati jembar. Semono uga yen ta pas nemoni padange urip, lawan syukur isa agawe urip sansaya makmur merga eling mring sangkan paran.
Menungsa yen kelangan sabar lan syukur, paribasan kaya dene kelangan gaman ampuh. Ewandene urip tanpa keduwe gaman ampuh bakal ajur mumur, mosak-masik, ketula-tula, sansaya nandang perih lan lara. Mamula mboh kepiye kedadiane urip perlu digamani arupa sabar lan syukur.
Aku mung isa dedonga, moga-moga jumbuh kang ginayuh, wujud kang dikarep, nyata kang den seja, bagas waras jiwa lan raga. Utamane urip agawe guna mring sapada-pada.
Bismillah..


Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)