SEJARAH BABAD CARINGIN BOGOR & BABAD CARINGIN

0

SEJARAH BABAD CARINGIN BOGOR 

BABAD CARINGIN

 


Bedasarkan penuturan beberapa sumber tulisan mengenai Sejarah Caringin (Bogor) yang khususnya untuk memenuhi wawasan tentang kebudi-luhuran para karuhun (Sesepuh atau Pendahulu) yang telah mengorbankan jiwa dan raganya dalam peperangan fisik maupun batin di Caringin (Bogor).

Pertama-tama, saya selaku penulis sangat menerima saran untuk memperbaiki berbagai ketidak-sempurnaan tulisan karena Sejarah tidak boleh dibelokan dan dileburkan untuk kepentingan tertentu. Saya yakin pembaca disini sangat haus akan wawasan para leluhur atau para pendahulu. Oleh sebab itu, saya akan membagikan tulisan Sejarah Babad Caringin kepada pembaca dalam bentuk tulisan.

Banyak yang bertanya, kenapa dinamai caringin? Beberapa cerita dari turun-temurun menyebutkan bahwa Tanah Caringin merupakan Tempat yang dinaungi Pohon-pohon Caringin/Waringin/Beringin yang besar. Bahkan ada yang menyebut bahwa Caringin (Bogor) sebagai Caringin Kurung karena di kurung oleh dua gunung besar yang memiliki kebudi-luhuran tinggi. (Konon Cerita) Ada yang menyebut bahwa yang mengurung Caringin adalah dua tangkal caringin (Dua Pohon Beringin) yang tertanam di tempat berbeda. Fakta ini dapat dihubungkan dengan Buku Sejarah Babad Misteri Kabut Caringin Kurung (Abad 400 SM - 200 M) yang bukunya tidak dapat diperjual-belikan atau dibaca dengan sembarangan.

Membicarakan caringin tentu harus berbicara tentang Kecamatan Caringin yang berada di wilayah Kabupaten Bogor. Secara historis, cikal bakal Kabupaten Bogor adalah Ketika pada tahun 1745, berdiri sembilan kelompok masyarakat yang disatukan oleh Gubernur Baron Van Inhof. Pada waktu itu, Bupati Demang Wartawangsa berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat kabupaten bogor.

Kecamatan Caringin merupakan salah satu kecamatan dari 40 (Kecamatan) yang berada di Kabupaten Bogor dengan luas wilayah 5.729,9 Ha dan terletak pada ketinggian 556 MDPL dengan kelembapan suhu rata-rata 27-30 Celsius serta curah hujan 3.183 mm/tahun.

 

Adapun batas-batas wilayah Kecamatan Caringin, yaitu :

Sebelah Utara adalah Kecamatan Ciawi

Sebelah Selatan adalah Kecamatan Cigombong

Sebelah Barat adalah Kecamatan Cijeruk

Sebelah Timur adalah Gunung Pangrango/Sukabumi

 

Terdiri dari 12 Desa, 40 Dusun, 81 RW dan 348 RT dan Wilayah Caringin juga memiliki empat aspek penting, diantaranya :

Sosial-budaya dengan tingkat toleransi yang tinggi

Ekonomi mandiri yang mapan

Ketentraman dan keterteban yang kondusif

Politik dan pemerintahan yang relatif kondusif

 

Aspek penting diatas ternyata memiliki potensi yang mejanjikan, diantaranya :

Potensi Sumber Mata Air dan Air Bawah Tanah

Potensi Agrobisnis

Potensi Peternakan dan Perikanan

Potensi Tata Ruang untuk Industri non polutif dan Permukiman

Potensi Ekowisata

Potensi Wisata Boga

Potensi Wisata Jasa

Potensi Wisata Budaya

 

Hal diatas merupakan kesempatan dan tantangan bagi kami selaku Generasi Penerus yang berdiam di Kawasan Caringin untuk membangun kembali kejayaan masa lalu dimana Visi Kecamatan Caringin yaitu Terwujudnya Kecamatan yang maju dan mandiri.

Dengan rahmat Yang Maha Esa atas nama-Nya Semoga para leluhur memperoleh keselamatan dan anugerah serta semoga kami pantas untuk mengemban segala warisan-n-nya.

 

SILSILAH CARINGIN

Ini adalah trah dan sarasilah para leluhur di Kawasan Caringin yang sejarahnya telah mewarnai corak kehidupan di tempat ini dan kehadiaran-nya dirasakan melalui pengucapan nama penuh hormat serta diketahui melalui segala petilasan peninggialan mereka (Berbagai Tokoh dan Nama Keturunan) yang telah hadir di Kawasan Caringin. Baik Ulama maupun Prajurit, Orang Saleh maupun Trah Jawara dari Trah Kalijaga dan Trah Ngampel Denta juga dari darah agung Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja) dan tidak ketinggalan pula Para Pahlawan perkasa dari Mataram disertai banyak Para Tokoh dari Wetan (Timur) lain-nya. (Mereka) semua telah meninggalkan jejaknya di Bumi Caringin yaitu jejak dan tapak yang pantas dipelihara juga diikuti. Demikianlah kini akan diuraikan secara rapi berurutan para nenek moyang yang dahulu telah membuat sejarah di Kecamatan Caringin.

 

Dari Trah Kalijaga

Datang Eyang Sapujagad, yaitu Kyai Langlang Buwana yang menikah dengan Setiyadiningsih atau Hadityaningsih yaitu putri yang berada di Petilasan Cileungsi disebut Kembang Cempaka Putih dan Pada petilasan Babakan diberi gelar Dewi Kembang Kuning maka kedua suami istri inilah yang telah menurunkan Kyai Elang Bangalan dan seterusnya menetap di daerah Lemah Duhur.

Kemudian daripada itu, Kyai Elang Bangalan menurunkan empat orang anak. Salah satu yang tertua adalah Arya Sancang di Pameungpeuk, Kabupaten Garut diikuti oleh Eyang Badigul Jaya Pancawati, Ayah Ursi Pancawati dan Eyang Ragil Pancawati maka ketiga anak yang lebih muda itu turut menjadi cikal bakal Caringin serta meninggalkan kenangan di Pasir Karamat yang diluhurkan.

Anak tertua Eyang Badigul Jaya adalah Ayah Iming, yaitu Kyai Haji Sulaiman yang makamnya masih dapat ditemukan di Kebun Tajur. Namun, anak kedua dinamakan Umaenah, yaitu istri Eyang Ranggawulung atau Rangga Agung maka suaminya itulah yang menjadi leluhur di Tarik Kolot, Cimande. maka Anak Ketiga dinamakan Romiah yang dinikahi oleh Eyang Buyut Umang (Sebagaimana disebut di Caringin) karena di Cinagara beliau disebut Aki Degle adapun Eyang Buyut Umang adalah putra Ki Kastiwa dan cucu dari Ki Kaswita serta cicit Suwita dan turunan pahlawan Jaka Sembung (yaitu) Suami Rojiah dengan gelar Bajing Ireng sedangkan Eyang Buyut Umang sendiri juga telah menurunkan dua anak, yaitu Aki Eming yang dipusarakan di makam Gede (Di Tonggoh) dan Aki yang dipusarakan di Cipopokol Hilir, Pasirmuncang. Selanjutnya, Anak Keempat Eyang Badigul Jaya adalah Samsiah yang menikah dengan Aki Kartijan dan Anak Kelimanya adalah Amsiah yang menikah dengan Bayureksa (disebut juga Reksa Buawana) yaitu putra Radyaksa, cucu dari Jayadiningrat (Mataram) ialah pahlawan perkasa yang petilasan-nya terdapat di Tanjakan Ciherang. Maka Bayu Reksa dan Amsiah menurunkan Ki Ranggagading serta Ki Kumpi yang kedua-duanya dimakamkan di Kawasan Cigintung dan Caringin. Akhirnya, Anak kelima Aki Badigul Jaya adalah Ibu Esah yang menikah dengan Aki Bangala yaitu putra Aki Jepra atau Ki Kartaran dan cucu Aki Kahir (Tokoh Dunia Persilatan).

 

Trah Raden Rahmatullah Ngampel Denta

Diturunkanlah Ki Karmagada yang menurunkan Ki Karmajaya, yaitu Ayahanda Ki Kartawirya yang berasal dari Jampang, Surade. Beliau telah datang ke Lemah Duhur untuk menetap di Legok Antrem adapun Ki Kartawirya (Haji Akbar) menurunkan Marunda. Kemudian Marunda menurunkan Murtani seterusnya Murtani menurungkan Si Pitung (Sang Jagoan Silat dari Rawa Belong).

Diriwayatkan pula bahwa Ki Kartawirya memiliki istri bernama Nyi Antrem yang namanya diabadikan dalam nama Legok Antrem. Maka Nyi Antrem itu pun berasal dari satu keturunan dengan suaminya sebab leluhurnya, yaitu Syekh Japarudin juga berasal dari Trah Ngampel Denta. Kemudian Syekh Japarudin menurunkan Ki Kartaji seterusnya Ki Kartaji menurunkan Aji Tapak Ireng selanjutnya Aji Tapak Ireng menurunkan lima orang anak, diantaranya :

Aji Wisa Ireng (Haji Aleman)

Aji Wisa Kuning

Mbah Ambani

Ki Anom

Bu Ucu yang diperistri oleh Ayah Haji Abdul Somad (Leluhur di Tarik Kolot, Cimande)

Turunan inilah yang menjadi asal-usul masyarakat di Curug Dengdeng. Maka dari Aji Wisa Ireng menurunkan Ibu Antrem yang telah dipusarakan di Kawasan Legok Antrem.

Adapun Ki Karmagada juga menurunkan anak lelaki (Adik Ki Karmajaya) yang kemudian menurunkan Ki Jaka Kadir, yaitu Tokoh yang dipusarakan di Leuweung Ki Maun (terletak di atas Kawasan Legok Antrem) seterusnya Ki Jaka Kadir menurunkan Ki Jaka Bledek (Leluhur kampung Bendungan di Kampung Tajur). Demikian tentang para leluhur dan pendahulu yaitu mereka semua yang berasal dari Trah Ngampel Denta.

 

Trah Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja)

Sang Ratu Jaya Dewata Prabu Siliwangi menikah dengan Nyi Ratu Subangkarancang dan menurunkan tiga orang anak, diantaranya:

Pangeran Arya Santang (Panembahan Cakrabuwana)

Nyi Rara Santang (Ibunda Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah)

Kian Santang (Prabu Sagara atau Sunan Rahmat Suci di Gunung Godog, Garut) yang disebut Syekh Kuncung Putih di Cibadak-Pangasahan maka itulah leluhur seorang tokoh bernama Elang Sutawinata.

 

Adapun Elang Sutawinata menurunkan tujuh orang anak, diantaranya :

Jaka Sembung yang menikah dengan Rojjah (Gelar Baji Ireng)

Jaya Perkosa (Patih Prabu Geusan Ulun di Sumedang Larang) dan Salah seorang anaknya pernah hadir di Caringin yaitu Aki Palasara disebut Aki Kabayan atau Aki Jambrong.

Elang Sutawinata (Aki Kahir)

Eyang Ranggawulung (Tarik Kolot, Cimande)

Aki Dato (Bantar Jati dan Pondonk Pinang)

Syekh Sake (Petilasannya di Citeureup)

Pangeran Papag (Menikah dengan Sari[w]uni, putri Ki Hambali)

Sembilan nama dan sembilan petilasan dimiliki anak ketiga Elang Sutawinata (Aki Kahir) di Tanah Sareal, Bogor. Syekh Majagung di Cirebon. Pangeran Jayasakti di Batu Tulis. Gentar Bumi di Pelabuhan Ratu. Aki Euneur di Pangasahan, Cikidang, Cipetir dan Eyang Pasareyan di Cidahu, Cibening, Ciampea serta yang kesembelian terkahir adalah Ki Jambrong di Cirebon.

Maka Aki Kahir menurunkan anak lelaki bernama Ki Kartaran yang berganti sebutan menjadi Ki Jepra sekembalinya dari pertempuran di Tegal Jepara beliau dipusarakan pada dua petilasan di dua tempat (Kebun Raya Bogor dan Cimande Hilir). Beliau menurunkan empat orang anak, diantaranya:

Aki Bangala yang menikah dengan Uwak Esah.

Nini Sarinem (Ciherang dan Limus Nunggal) disebut Sri Asih (Cirebon).

Nini Sarem (Cileungsi) suaminya adalah Kyai Ajiwijaya dari Plered, Purwakarta.

Nini Sayem (Ciherang dan Limus Nunggal) yang menikah dengan Ki Puspa dari Cirebon, yaitu Tokoh yang dihubungkan dengan Kuda Puspagati dari Petilasan Pasir Kuda di Lemah Duhur.

Nini Sarimpen (Garut) yaitu istri Banaspati yang merupakan Panglima Sabakingkin dari Banten.

 

Selanjutnya dikisahkan pula bahwa Rangga Wulung (Anak Keempat Elang Sutawinata) menurunkan lima orang anak yang masing masih disebut sebagai berikut :

Para leluhur dari pihak ibunya adalah sebagai berikut :

Elang Sutawinata menurunkan Ranggawulung yang menurunkan Ki Ace, Kemudian Ki Ace menurunkan Ayah Haji Abdul somad serta kemudian Ayah Haji Abdul Somad menurunkan Haji Ajid dan Kemudian Haji Ajid menurunkan Hajjah Kuraisin (Istri Ki Lurah Uji) yang menurunkan ibu Enen (Anak Angkat Haji Atap atau Istri Bapak Ubeh Subandi).

 

Sedangkan para leluhur dari pihak ayahnya adalah sebagai berikut :

Eyang Sutawinata menurunkan Aki Kahir kemudian Akhir Kahir menurunkan Ki Jepra lalu Ki Jepra menurunkan Nini Sayem serta Nini Sayme menurunkan Ki Rasiun yang menurunkan Ki Sarian yang menurunkan Ki Jaian dan Ki Jaiin seterusnya Ki Jaiin menurunkan Ki Haji Muat yang menurunkan Ki Kaeji Haji Akhmali (Dahulu memiliki Legok Antrem dan Mendirikan Persatuan Pencak Silat Hibar Karuhun) Maka Haji Akhmali itu dahululah yang membawa pengaruh Tarik Kolot ke sekitar Cikalang dan Ia adalah Ki Haji Barnas (Bapak Ubeh  Subandi dan adik-adiknya).

 

Selanjutnya dari Desa Cinagara bersemayam Mbah Dalem Cinagara dan Mbah Dalem Asihan. (Banyak yang menyebut) Beliau berasal dari Jawa Timur dengan sebutan Eyang Adeg Daha namun dalam versi yang lain menceritakan bahwa Silsilah Mbah Dalem sebagai berikut :

Dari Trah Brawijaya, melalui Trah Kalijaga diturunkan Raden Tresna yang disebut juga Pandewulung dari Kudus ia menurunkan Syekh Japarudin dari Mataram yang menurunkan Syekh Abdul Muhi dari Pamijahan yang selanjutnya menurunkan Syekh Mohammad Abdul Sobirin (Mbah Dalem Cinagara pepunden Masyarakat di Dukuh Kawung).

Demikianlah Sejarah Babad Caringin yang sebagaimana diuraikan oleh Ki Jumanta dari Cikodok. Sekarang diurutkan pula nama-nama tempat yang menjadi leluhur Tanah Caringin, diantarnya:

 

Di Lemah Duhur dan Pancawati :

Eyang Kartasinga, Ki Sarian dan Ki Rasiun di Tarik Kolot, Cimande.

Eyang Ranggwulung dan putra-putranya, beserta Ayah Haji Abdul Somad di Tarik Kolot, Cimande.

Eyang Badigul Jaya, Ayah Ursi dan Eyang Ragil di Pancawati.

Eyang Rasiyem di Legok Mahmud.

Aki Anyar dan Nini Siti Mastiyah di Tanjakan Saodah.

Pangeran Jayakarta, putra Wijayakrama yang memiliki petilasan di Pulo Gadung, berputra Eyang.

Sagiri yang petilasan-nya terdapat di Bojong Katon.

Eyang Bangalan di Cikodok dan Kampung Legok.

Ki Jaka Kadir dan Ki Jaka Bledek di Legok Antrem.

Nyi Antrem dan Ki Kartawirya di Legok Jambrong.

Ajengan Kuningan, Haji Sulaiman ayah Iming, uwak Esah anak Badigul Jaya, Aki Age, Setyawati Kusuma dari Mataram dan Ki Jambrong anak Jaya Perkosa semuanya di Kebun Tajur.

 

Di Pancawati :

Aki Ariyam dan Ki Suwita di Legok Nyenang.

 

Di Ciherang Pondok :

Nini Amsiah di Tengah Kawasan Desa.

Haji Abdul Kohar atau Mbah Angeng di Perbatasan Ciawi.

Nini Sarinem di Blitung dan Cikeretek.

Hadikusuma, putra Tubagus Gelondong di Cibolang.

 

Di Muara Jaya :

Batara Kresna dan Aki Arya Kusuma di Rawayan.

Adipati Wirasembada dan Mbah Muhi di Kampung Nyenang

 

Di Pasir Muncang :

Aki Wirakerta dari Kuningan dan Nini Antri, putri Ki Anyar, cucu Syekh Asnawi di Cipopokol Girang.

Aki Aliyun di Cipopokol Hilir.

Suryadiningrat, cucu Syekh Malik Ibrahim di Ciburial.

 

 

Di Cinagara :

Raden Suryapadang di Kampung Curuk Kalong.

Mbah Dalem Cinagara dan Mbah Dalem Asihan di Dukuh Kawung.

 

Di Tangkil :

Aki Degel, Haji Muid dan Ni Jabon, istri Suryadiningrat di Kampung Loji.

Nini Rasa dan Ki Jambrong di Legok Batong yang juga disebut Aki Palasara.

 

Di Pasir Buncir :

Batara Karang atau Pangeran Jayataruna dari Ponogoro.

 

Di Ciderum :

Bango Samparan dari Ponorogo, kakak dalang Asmorondono dan Ki Kaswita.

 

Di Caringin :

Galuh Pakuan atau Walasungsang atau Cakrabuwana, Ki Kartaji, Aji Tapak Ireng dan Aji Wisa Ireng dan Aji Wisa kuning di Kampung Curug Dengdeng.

Ki Umang, Aki Ranggading dan Ki Kumpi di Cigintung.

 

Di Cimande Hilir :

Reksabuwana atau Bayureksa di tanjakan Ciherang dan Eyang Bangala.

 

Demikianlah telah selesai diurutkan silsilah keturunan para leluhur Caringin beserta tempat pusaranya. Selanjutnya akan diceritakan kembali Sejarah Babad Caringin Bogor melalui eksistensi para leluhur terhadap Tanah Caringin yang ditinggalkan-nya.

 

Sejarah Babad Caringin

Ucapkanlah Segala puji bagi Yang Maha Kuasa dan Memohon Keberkahan bagi Para Leluhur yang dahulu telah meninggalkan eksistensinya terhadap Tanah Caringin. Sebagaimana disusun dalam Sasaka Antrem:

 "Kertajaga Bumi Kawastu, Mugi Rahayu di Legok Antrem, Mugi Jaya di Tegal Laga, Mejangkeun teras hibar Karuhun"

Inilah riwayat Sejarah Babad Caringin yang telah disampaikan dari turun-turun antara yang tua kepada yang muda:

Dari Ketinggian di Sasaka Jati Pasir Karamat memandang ke Bumi Pakuan memohon dan memperoleh terang batin :"Surya Padang Caang Narawangan" menghargai dengan hormat Bukit Baduga di Rancamaya menyaksikan dengan kagum Mandala Keratuan di Batu Tulis lalu melayangkan pikiran ke Watu Gigilang yang kini terletak di Negeri Banten. Menelitilah di daratan yang berada diantara kedua gunung.

Disinilah pernah terjadi gejolak dan gemuruh peperangan ketika terdengar kabar berlangsungnya perang antara Padjajaran dan Banten jugra ketika kemudian tentara Banten melewati daerah menuju Cikundul untuk menyerbu begitu pula para Prajurit, Perwira dan Tokoh-tokoh persilatan yang turut mengalami api perubahan jaman dan bergantinya masa. Seterusnya menanamkan ciri dan corak keperkasaan ketika bermukim di Kawasan Caringin. Karena membanggakan keberanian dan kejantanan di samping ketakwaan dan kesalehan yaitu semangat keprajuritan sebagaimana terkandung dalam sasmita-kata :

 "Bojong Katon Pasir Bedil Lemah Duhur Pangapungan Pancawati Denda"

Ratusan tahun yang lalu berdiri sebuah tangsi (Barak Militer) Tentara Mataram yaitu di Tempat yang sekarang disebut Pasar Caringin yaitu pada jalan yang menuju ke Maseng, Pasir Bogor, lalu Cihideung dan Kota Bogor (Jauh) sebelum jalan mulai menanjak dan berkelok-kelok disitulah bersemayam Tumenggung Wiranegara yang merupakan pemimpin pasukan dari wetan yang gagah perkasa juga sedang berusaha keras menahan pengaruh dari kota di utara.

Kapan dan bagaimana para perwira Mataram tiba tentunya ditanyakan peristiwanya oleh banyak orang walaupun benar dan tidaknya itu masih sulit ditentukan tetapi beberapa bukti menunjukan kemungkinan.

Pada tahun 1628 dan 1629 tentara Mataram dan Sunda datang menyerbu kedudukan Belanda di Batavia (Jakarta). Pada kedua peristiwa itu, Mereka (Belanda) dipukul mundur karena kalahnya persenjataan dan terbakarnya gudang-gudang makanan yang ingin kembali ke timur jalan laut maka terpaksa mereka mengambil jalan darat di sepanjang pegunungan tengah pada peristiwa tersebut mereka meninggalkan nama dan bekas. Rawa Bangke tempat gugurnya ribuan pasukan Mataram merupakan tempat mereka bermukim beberapa lama di Ragunan (Kemungkinan) nama tersebut berasal dari nama Wiragunan yang merupakan perwira Mataram.  Selain peristiwa tersbeut, Maka kedatangan Tentara Mataram ke Caringin menjadi Mungkin karena adanya beberapa makam dan petilasan di kawasan Caringin seperti Bayurekso-Reksobuwono di Tanjakan Ciherang.

Kembali kepada Sejarah Babad Caringin (Kurung) yang katanya Tangsi (Barak) Tentara Mataram itu dikurung tembok dan di dalamnya terdapat Pohon Caringin/Waringin/Beringin dan Kawasan itu melahirkan nama Caringin Kurung.

Menurut kisahnya, Kawasan Caringin Kurung (Bogor) pernah digadaikan kepada Belanda. Kemudian, banyak dari mereka (Belanda) menerima. Namun, ketika ingin ditebus, Mereka (Belanda) menolak tebusan tersebut. Oleh sebab itu, Caringin muncul  sengketa yang berkepanjangan hingga berakhir pertempuran.

Dikisahkan pula, Semua Kekuatan pribumi baik Nyata maupun Ghaib dikerahkan untuk merebut Caringin Kurung (Bogor) dan mengembalikan hak Wiranegara. Maka dari Kampung Gembrong di Belakang Maseng ada Arya Wirya Kusuma yang membantu. Ada pula Suryakancana yang diluhurkan Di Bogor. Dari Muara Jaya tegak berdiri Batara Kresna. Sedangkan dari Curug Dengdeng ikut membantu Ki Kartaji, Aji Tapak Ireng dan Aji Wisa Ireng. Tidak ketinggalan pula dari Galuh Pakuan yaitu Jaka Kadir dan Jaka Bledek menahan jalan di Legok Antrem. Ada pula Eyang Bangala di Cimande Hilir. Dari Pancawati ada Ranggawulung. Di Cigintung dan Caringin ada Ki Ranggagading dan Ki Rumpi.

Hanya ada satu tokoh pribumi yang memihak kepada Belanda, yaitu Tubagus Gelondong di Cikeretek-Cibolang. Dalam peperangan tersebut, Kehendak yang maha kuasa menentukan. Pasukan Pribumi tak berhasil mencapai maksudnya bersama perjalanan waktu yang mengikis perbendaan. Akhirnya, lenyap pula tembok tangsi (Barak) Tentara Mataram yang di dalamnya terkurung Pohon Caringin/Waringin/Beringin.

Dengan semangat yang tidak pernah pudar setelah peperangan, para leluhur mewarisi kata-kata untuk membangkitkan kebanggaan dan kecintaan kepada Kawasan Caringin.

 "Lamun geus ngadeg Caringin Kurung, didieu bakal rame, didieu bakal makmur"

Demikianlah Sejarah Babad Caringin Bogor yang jarang diketahui oleh generasi-generasi penerus. Benar atau tidaknya hanya Sang Pemilik Alam Semesta-lah yang mengetahui segalanya. Caringin adalah Tanah Perjuangan, Tanah Keperwiraan dan Tanah Keperkasaan. Ini merupakan Tanah Orang yang beribadah, bekerja keras dan membangun kemuliaan. Oleh karena itu, Bangkitlah untuk Caringin, Bangkitlah untuk tanah air dan Bangkitlah untuk masa depan.

 

 

 

BABAD CARINGAN

Sebelas Sarasilah dan Babad Caringin

Dengan rakhmat Tuhan Yang Maha Esa dan Atas nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang Semoga para leluhur memperoleh keselamatan dan anugerah dan semoga kami pantas untuk mengemban segala warisannya

 

Sarasilah Caringin

Ini adalah trah dan sarasilah para leluhur di kawasan Caringin yang sejarahnya telah mewarnai corak kehidupan di tempat ini dan kehadirannya dirasakan melalui pengucapan nama penuh hormat serta diketahui melalui segala petilasan peninggalan mereka Berbagai tokoh dan nama keturunan telah hadir di Caringin baik ulama maupun prajurit, orang saleh maupun jawara dari trah Kalijaga dan Ngampel Denta, juga dari darah agung Siliwangi dan tidak ketinggalan pula para pahlawan perkasa dari Mataram disertai dengan banyak para tokoh dari wetan lainnya Mereka semua telah meninggalkan jejaknya di Bumi Caringin yaitu jejak dan tapak yang pantas dipelihara dan diikuti Demikianlah kini akan diuraikan secara rapi berurutan para nenek moyang yang dahulu telah membuat sejarah di kecamatan ini.

Dari trah Kalijaga datanglah Eyang Sapujagad, yaitu Kyai Langlangbuwana yang menikah dengan Setiyadiningsih atau Hadityaningsih yaitu putri yang di petilasan Cileungsi disebut Kembang Cempaka Putih dan pada petilasan Babakan diberi gelar Dewi Kembang Kuning maka kedua suami istri inilah yang telah menurunkan Kyai Elang Bangalan yang telah datang dan seterusnya menetap di daerah Lemah Duhur.

Kemudian daripada itu Elang Bangalanpun menurunkan empat orang anak yang tertua adalah Arya Sancang di Garut-Pameungpeuk diikuti oleh Eyang Badigul Jaya Pancawati, Ayah Ursi Pancawati dan Eyang Ragil Pancawati maka ketiga anak yang lebih muda itu turut menjadi cikal bakal Caringin serta meninggalkan kenangan di Pasir Karamat yang diluhurkan.

Anak tertua Eyang Badigul Jaya adalah Ayah Iming, yaitu Kyai Haji Sulaiman yang makamnya masih dapat ditemukan di Kebun Tajur Anak yang kedua dinamakan Umaenah, yaitu istri Eyang Ranggawulung atau Rangga Agung maka suaminya itulah yang menjadi leluhur di Cimande-Tarik Kolot Anak yang ketiga dinamakan Romiah yang dinikahi oleh Eyang Buyut Umang, yaitu sebagaimana ia disebut di Caringin,  karena di Cinagara ia disebut Aki Degle adapun Eyang Buyut Umang itu adalah putra Ki Kastiwa, cucu Ki Kaswita, cicit Suwita, dan turunan pahlawan Jaka Sembung, yaitu suami Roijah gelar Bajing Ireng sedangkan Eyang Buyut Umang sendiri juga telah menurunkan dua orang anak, yaitu Aki Eming yang dipusarakan di makam Gede di Tonggoh dan Aki yang dipusarakan di Cipopokol Hilir, Pasir Muncang Selanjutnya, anak keempat Badigul Jaya adalah Samsiah, yang menikah dengan Aki Kartijan dan anak kelima adalah Amsiah yang menikah dengan Bayureksa yang disebut juga Reksabuwana, yaitu putra Radyaksa, cucu Jayadiningrat dari Mataram ialah pahlawan perkasa yang petilasannya terdapat di Tanjakan Ciherang maka Bayureksa dan Amsiah menurunkan Ki Ranggagading dan Ki Kumpi yang kedua-duanya dimakamkan di kawasan Cigintung-Caringin Akhirnya, anak kelima Aki Badigul Jaya adalah ibu Esah, yang menikah dengan Aki Bangala yaitu putra Aki Jepra atau Ki Kartaran, dan cucu Aki Kahir, tokoh dunia persilatan.

Selanjutnya, dari trah Raden Rakhmatullah Sunan Ngampel Denta diturunkanlah Ki Karmagada yang menurunkan Ki Karmajaya, yaitu ayahanda Ki Kartawirya yang berasal dari Jampang-Surade dan telah datang ke Lemah Duhur, untuk menetap di Legok Antrem adapun Ki Kartawirya itu disebut pula Haji Akbar ia menurunkan Marunda dan Marunda menurunkan Murtani dan seterusnya Murtani menurunkan Pitung, jago silat dari Rawa Belong.

Diriwayatkan pula bahwa Ki Kartawirya memiliki istri bernama Nyi Antrem yang namanya telah diabadikan dalam nama Legok Antrem sasaka kami Maka Nyi Antrem itu pun berasal dari satu keturunan dengan suaminya sebab leluhurnya, yaitu Sekh Japarudin, juga berasal dari trah Ngampel Denta Sekh Japarudin menurunkan Ki Kartaji dan Ki Kartaji menurunkan Aji Tapak Ireng selanjutnya Aji Tapak Ireng menurunkan lima orang anak Pertama adalah Aji Wisa Ireng yang juga disebut Haji Aleman Kedua Aji Wisa Kuning, ketiga mbah Ambani, keempat Ki Anom dan kelima ibu Ucu yang diperistri oleh Ayah Haji Abdul Somad, leluhur di Cimande-Tarik Kolot Keluarga dan turunan inilah yang menjadi asal-usul masyarakat di Curuk Dengdeng maka dari Aji Wisa Irenglah ibu Antrem diturunkan ke dunia yaitu ibu Antrem yang telah dipusarakan di kawasan Legok Antrem.

Adapun Ki Karmagada juga menurunkan anak lelaki adik Ki Karmajaya yang kemudian menurunkan Ki Jaka Kadir, yaitu tokoh yang dipusarakan di Leuweung Ki Maun, yang terletak di atas Legok Antrem  Seterusnya Ki Jaka Kadir menurunkan Ki Jaka Bledek, leluhur kampung Bendungan di Kampung Tajur Demikianlah itu tentang para leluhur dan pendahulu yaitu mereka semua yang berasal dari trah Ngampel Denta.

Seterusnya sebagaimana diriwayatkan oleh mereka yang mengerti sejarah mengalir pula darah leluhur Siliwangi pada diri para leluhur di Caringin mewarnai jalan kehidupan masyarakat dan memancarkan kesejatian rasa membangkitkan kesucian sikap dan menaikkan kebajikan laku Maka inilah keluarga para jawara yang menghubungkan Siliwangi dan Caringin menghubungkan masa lalu dan masa kini serta mengarahkan masa depan.

Sang Ratu Jaya Dewata Prabu Siliwangi menikah dengan Nyi Ratu Subangkarancang dan menurunkan tiga orang anak, yaitu dua orang lelaki dan seorang wanita anak yang tertua adalah Pangeran Arya Santang, Panembahan Cakrabuwana anak yang kedua adalah Nyi Rara Santang ibunda Syarif Hidayatulah dan anak yang ketiga adalah Kian Santang atau Prabu Sagara atau Sunan Rakhmat Suci di gunung Godog yang disebut Sekh Kuncung Putih di Cibadak-Pangasahan maka ia itulah leluhur seorang tokoh bernama Elang Sutawinata.

Adapun Elang Sutawinata yang disebut di atas menurunkan tujuh orang anak pertama adalah Jaka Sembung yang menikah dengan Roijah gelar Bajing Ireng kedua adalah Jaya Perkosa yang menjadi patih Prabu Geusan Ulun di Sumedang Larang seorang istrinya bernama Mulantri dan salah seorang anaknya pernah hadir di Caringin yaitu yang disebut Aki Palasara, disebut Aki Kabayan, disebut Ki Jambrong yang memiliki petilasan di Kebon Tajur, di atas Legok Antrem, lalu di Legok Jambrong dan juga memiliki petilasan di Legok Batang, di kawasan Citaman, di desa Tangkil Selanjutnya anak ketiga Elang Sutawinata adalah Aki Kahir yang nama-nama dan petilasan-petilasannya akan diuraikan di bawah anak keempat adalah Eyang Ranggawulung leluhur di Tarik Kolot anak kelima Aki Dato di Bantar Jati dan Pondok Pinang anak keenam Sekh Sake di petilasan di Citeureup dan anak ketujuh Pangeran Papag yang menikah dengan Sari(w)uni, putri Ki Hambali.

Sembilan nama dan sembilan petilasan dimiliki anak ketiga Elang Sutawinata Aki Kahir di Bogor-Tanah Sareal, Sekh Majagung di Cirebon Pangeran Jayasakti di Batu Tulis, Gentar Bumi di Pelabuhan Ratu Aki Euneur di Pangasahan, Cikidang, Cipetir dan Eyang Kartasinga-Wirasinga di Tarik Kolot Aki Dalem Macan di Citeureup, Eyang Pasareyan di Cidahu, Cibening, Ciampea dan yang kesembilan dan terakhir adalah Ki Jambrong di Cirebon.

Maka Aki Kahir menurunkan anak lelaki bernama Ki Kartaran yang berganti sebutan menjadi Ki Jepra sekembalinya dari pertempuran di Tegal Jepara ia dipusarakan pada dua petilasan di dua tempat sebuah di Kebun Raya Bogor dan sebuah lagi berupa makam putih di Cimande Hilir Ia menurunkan empat orang anak, seorang lelaki dan tiga orang wanita yang tertua adalah Aki Bangala yang menikah dengan uwak Esah yang kedua dalah Nini Sarinem di Ciherang-Limus Nunggal disebut Sri Asih di Cirebon dan Nini Sarem di Cileungsi suaminya adalah Kyai Ajiwijaya dari Plered-Purwakarta yang ketiga adalah Nini Sayem di Ciherang-Limus Nunggal yang menikah dengan Ki Puspa dari Cirebon yaitu tokoh yang dihubungkan dengan Kuda Puspagati dari petilasan Pasir Kuda di Lemah Duhur dan yang keempat adalah Nini Sarimpen di Garut yaitu istri Banaspati, seorang panglima Panembahan Sabakingkin dari Banten.

Selanjutnya dikisahkan pula bahwa Rangga Wulung, anak keempat Elang Sutawinata menurunkan lima orang anak yang masing-masing disebut sebagai berikut :

Aki Ondang, Aki Buyut, Aki Anom, Aki Suma dan Aki Ace dan diriwayatkan pula bahwa ketika Eyang Rangga Wulung memasuki Caringin ia diiringi oleh Ajengan Kuningan dan Ki Age yang keduanya dimakamkan di Kebun Tajur, di sebelah atas Legok Antrem Kemudian daripada itu berniatlah kami kini untuk mengurutkan garis keturunan Arifin yaitu seorang rekan pengawas di Bina Kertajaga Siliwangi Anom baik dari garis ayahnya maupun dari garis ibundanya.

 

Para leluhur dari pihak ibunya adalah sebagai berikut :

Elang Sutawinata menurunkan Ranggawulung, yang menurunkan Ki Ace, yang kemudian menurunkan Ayah Haji Abdul Somad, yang kemudian menurunkan Haji Ajid, yang menurunkan Hajjah Kuraisin, istri Ki Lurah Uji, yang menurunkan ibu Enen, anak angkat Haji Atap, istri bapak Ubeh Subandi.

Sedangkan para leluhur dari pihak ayahnya adalah sebagai berikut :

Elang Sutawinata menurunkan Aki Kahir, yang menurunkan Ki Jepra, yang kemudian menurunkan Nini Sayem di Limus Nunggal Selanjutnya Nini Sayem menurunkan Ki Rasiun, yang menurunkan Ki Sarian, yang menurunkan Ki Jaian dan Ki Jaiin Seterusnya Ki Jaiin menurunkan Ki Haji Muat  yang menurunkan Ki Kaeji Haji Akhmali, yang dahulu memiliki Legok Antrem dan juga mendirikan  persatuan pencak silat Hibar Karuhun Maka Haji Akhmali itu dahululah yang membawa pengaruh Tarik Kolot  ke sekitar desa Cikalang dan dia adalah ayah Ki Haji Barnas, bapak Ubeh Subandi dan adik-adiknya Selanjutnya, dari Cikalang di desa Caringin kami mengalihkan uraian ke pemakaman tua di desa Cinagara, yang terletak dibawah pohon rindang di situ disemayamkan Mbah Dalem Cinagara dan Mbah Dalem Asihan, istrinya Seseorang meriwayatkan kepada kami tentang Mbah Dalem yang dikatakan berasal dari Jawa Timur dan disebut dengan nama Eyang Adeg Daha tetapi seseorang lainnya mengisahkan silsilah Mbah Dalem sebagai berikut:

Dari trah Brawijaya, melalui trah Kalijaga diturunkan Raden Tresna yang disebut juga Pandewulung dari Kudus Ia menurunkan Sekh Japarudin dari Mataram yang menurunkan Sekh Sekh Abdul Muhi dari Pamijahan yang selanjutnya menurunkan Sekh Mohammad Abdul Sobirin, yaitu Mbah Dalem Cinagara pepunden masyarakat di Dukuh Kawung.

Demikianlah itu Sarasilah Caringin sebagaimana telah diuraikan oleh Ki Jumanta dari Cikodok, yang sangat tekun mendalami sejarah sekarang diurutkan pula nama-nama tempat dan desa tempat para Karuhun di pusarakan dalam damai.

 

Di Lemah Duhur dan Pancawati :

Eyang Kartasinga, Ki Sarian dan Ki Rasiun di Tarik Kolot.

Eyang Ranggawulung dan putra-putranya, beserta ayah Haji Abdul Somad di Tarik Kolot.

Eyang Badigul Jaya, ayah Ursi dan Eyang Ragil di Pancawati.

Eyang Rasiyem di Legok Mahmud.

Aki Anyar dan Nini Siti Mastiyah di Tanjakan Saodah.

Pangeran Jayakarta, putra Wijayakrama, yang memiliki petilasan di Pulo Gadung, berputra Eyang.

Sagiri, yang petilasannya terdapat di Bojong Katon.

Eyang Bangalan di Cikodok, Kampung Legok.

Ki Jaka Kadir dan Ki Jaka Bledek di Legok Antrem.

Nyi Antrem dan Ki Kartawirya di Legok Jambrong.

Ajengan Kuningan, Haji Sulaiman ayah Iming, uwak Esah anak Badigul Jaya,  Aki Age, Setyawati Kusumah  dari Mataram dan Ki Jambrong anak Jaya Perkosa, semuanya di Kebun Tanjur.

 

Di Cimahi Jaya :

Tidak ada yang tercatat telah dipusarakan di tempat ini.

 

Di Pancawati :

Aki Ariyam dan Ki Suwita di Legok Nyenang.

 

Di Ciherang Pondok :

Nini Amsiah di tengah kawasan desa.

Haji Abdul Kohar atau Mbah Ageng di perbatasan Ciawi.

Nini Sarinem di Blitung-Cikeretek.

Hadikusuma, putra Tubagus Gelondong di Cibolang.

 

Di Muara Jaya :

Batara Kresna, Aki Arya Kusuma di Rawayan.

Adipati Wirasembada di Kampung Nyenang, dan mbah Muhi.

 

Di Pasir Muncang :

Aki Wirakerta dari Kuningan, Nini Antri, putri Ki Anyar, cucu Sekh Asnawi di Cipopokol Girang.

Aki Aliyun di Cipopokol Hilir.

Suryadiningrat, cucu Sekh Malik Ibrahim di Ciburial.

 

Di Cinagara :

Raden Suryapadang di Kampung Curuk Kalong.

Mbah Dalem Cinagara dan Mbah Dalem Asihan di Dukuh Kawung.

 

Di Tangkil :

Aki Degel, Haji Muid, dan Ni Jabon, istri Suryadiningrat di Kampung Loji.

Nini Rasa dan Ki Jambrong di Legok Batong, yang juga disebut Aki Palasara.

 

Di Pasir Buncir :

Batara Karang atau Pangeran Jayataruna dari Ponorogo.

 

Di Ciderum :

Bango Samparan dari Ponorogo, kakak dalang Asmorondono, dan Ki Kastiwa.

 

Di Caringin :

Galuh Pakuan atau Walasungsang atau Cakrabuwana; Ki Kartaji; Aji Tapak Ireng; Aji Wisa Ireng, dan Aji

Wisa Kuning di Kampung Curuk Dendeng.

Ki Umang, Aki Ranggading, dan Ki Kumpi di Cigintung.

 

Di Cimande Hilir :

Reksabuwana atau Bayureksa di tanjakan Ciberang, dan Eyang Bangala.

Demikianlah selesai kami urutkan

sarasilah, nama tokoh dan petilasan di Caringin

 

Babad Caringin

Ucapkanlah Asma Yang Maha Agung di Pasir Karamat kagumilah alam pada batu besar di Pancawati hormatilah peninggalan yang sangat tua di Pasir Kuda bersemadilah pada goa dengan air terjun di jurang Citaman pergilah menapak tilas kelima tempat Siliwangi di sepanjang Cisalada hingga ke Curuk Merot pelajarilah warisan Cimande pada guru yang rendah hati Kunjungilah Bumi Kawastu untuk merundingkan perjuangan datanglah ke Legok Antrem untuk mempererat persaudaraan dan dengarkanlah dengan teliti isi kisah babad Caringin yaitu Caringin Kurung dari masa lalu dan Caringin Kurung dari masa yang akan datang Kemudian dengan tekad membaja dan semangat membantu negara bersama-sama mengucapkan manggala, sebagaimana telah disusun di Sasaka Antrem:

“Kertajaga Bumi Kawastu, Mugi rahayu di Legok Antrem, Mugi jaya di Tegal Laga, Mejangkeun teras hibar Karuhun”

Semoga semua rela menata dengan jujur, Semoga memperoleh harta rohani dalam bejana budi pekerti yang mendatangkan ketentraman, yang mendatangkan kesejahteraan.

Inilah riwayat babad Caringin, babad yang telah disampaikan dari yang tua kepada yang muda:

Dari ketinggian di Sasaka Jati Pasir Karamat memandang ke bumi Pakuan memohon dan memperoleh terang batin: “Surya Padang Caang Narawangan” menghargai dengan hormat Bukit Baduga di Rancamaya menyaksikan dengan kagum Mandala Keratuan di Batu Tulis melayangkan pikiran ke Watu Gigilang, yang kini terletak di negeri Banten meneliti perjalanan sejarah di dataran yang berada di antara kedua gunung.

Di sini pernah terjadi gejolak dan gemuruh peperangan ketika terdengar kabar berlangsungnya perang antara Pajajaran dan Banten juga ketika kemudian tentara Banten meliwati daerah menuju Cikundul untuk menyerbu Begitu pula para prajurit, perwira dan tokoh-tokoh persilatan yang turut mengalami api perubahan jaman dan bergantinya masa; seterusnya menanamkan ciri dan corak keperkasaan ketika bermukim di Caringin membanggakan keberanian dan kejantanan di samping ketakwaan dan kesalehan yaitu semangat keprajuritan sebagaimana terkandung dalam sasmita-kata :

 

“Bojong Katon Pasir Bedil Lemah Duhur Pangapungan Pancawati Denda”

Ratusan tahun yang lalu berdiri sebuah tangsi tentara Mataram yaitu di tempat yang sekarang disebut Pasar Caringin yaitu pada jalan yang menuju ke Maseng, Pasir Bogor, lalu Cihideung dan Kota Bogor Jauh sebelum jalan mulai menanjak dan berbelok-belok di situlah bersemayam Tumenggung Wiranegara pemimpin pasukan dari wetan yang gagah perkasa yang sedang berusaha keras menahan pengaruh dari kota di utara sebagai perwira Mataram dan sebagai kusuma bangsa sebagai tokoh perjuangan yang tak lelah berkarya.

Kapan dan bagaimana para perwira Mataram tiba tentunya ditanyakan peristiwanya oleh banyak orang walaupun benar dan tidaknya itu masih sulit ditentukan tetapi beberapa bukti menunjukkannya sebagai kemungkinan.

Pada tahun 1628 dan 1629 tentara Mataram dan Sunda datang menyerbu kedudukan Belanda di Negeri Betawi pada kedua peristiwa itu mereka akhirnya dipukul mundur Karena kalahnya persenjataan dan terbakarnya gudang-gudang makanan ingin kembali ke timur jalan laut terhalang armada kompeni maka terpaksa mengambil jalan darat di sepanjang pegunungan tengah pada peristiwa itulah mereka meninggalkan nama dan bekas.

Rawa Bangke tempat gugurnya ribuan pasukan Matraman tempat mereka bermukim beberapa lama Ragunan yang bukan tidak mungkin berasal dari nama Wiragunan lalu adanya beberapa makam dan petilasan Kuno di Caringin seperti Bayurekso-Reksobuwono di tanjakan Ciherang ia di pusarakan dan ia disebut sebagai anak Radyaksa, cucu Jayadiningrat dari Kartasura.

Kembali kepada periwayatan babad Caringin Kurung katanya tangsi tentara Mataram itu dikurung tembok dan di dalamnya ditanam pohon Caringin atau Beringin yang dengan demikian melahirkan nama Caringin Kurung Menurut kisahnya tempat itu pernah digadaikan kepada Belanda yang menolak untuk menyerahkan kembali ketika hendak ditebus karena itu muncul sengketa yang berkepanjangan yang akhirnya pecah menjadi suatu pertempuran panjang.

Semua kekuatan pribumi baik yang gaib maupun nyata dikerahkan untuk merebut Caringin Kurung dan mengembalikan hak Wiranegara dari kampung Gembrong di belakang Maseng Arya Wiryakusuma membantu juga Suryakancana yang di luhurkan di kabupatian Bogor di Pasir Muncang-Muara Jaya tegak berdiri Batara Kresna Ki Kartaji, Aji Tapak Ireng dan Aji Wisa Ireng di Curuk Dengdeng tidak ketinggalan pula Galuh Pakuan yang dihadirkan untuk memperkuat seluruh pasukan-pasukan pribumi Jaka Kadir dan Jaka Bledek menahan jalan di Legok Antrem Eyang Bangala di Cimande Hilir, Ranggawulung di Pancawati serta Aki Ranggagading dan Ki Kumpi di Cigintung-Caringin hanya satu tokoh pribumi memilih untuk memihak Belanda yaitu Hadikusuma, putra Tubagus Gelondong, di Cikeretek-Cibolang Dalam adu senjata di hibar Caringin pada medan laga di bumi Pakuan itu karena kehendak Yang Maha Kuasa pasukan pribumi tak berhasil mencapai maksudnya Bersama dengan perjalanan waktu yang mengikis dunia kebendaan lenyap pula tempat dilingkup tembok dimana terdapat pohon beringin itu tetapi rupanya tetap dikenang lalu dilontarkan ke masa depan dijadikan ramalan melalui kata-kata orang tua :

“Lamun geus ngadeg Caringin Kurung, didieu bakal rame, didieu bakal makmur”

Demikianlah babad Caringin Kurung menurut penuturan Ki Jumanta benar tidaknya kiranya hanyalah Tuhan yang mengetahui tetapi satu hal saja hendaknya jangan dilupakan oleh para pewaris ini adalah tanah perjuangan, tanah keperwiraan dan tanah keperkasaan Ini adalah tanah orang yang beribadah, bekerja keras dan membangun kemuliaan Karena itu bangkitlah untuk Caringin, untuk tanah air dan untuk masa depan.

 

Semoga menerima berkat Yang Maha Kuasa

Semoga memperoleh restu para pendahulu

Semoga mewarisi semangat para leluhur

Tags

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)