KEMUKJIZATAN AL QUR'AN DARI SEGI ANGKA-ANGKA DAN PENAFSIRAN ISLAM ANGKA 0 (NOL) HINGGA 100 (SERATUS)

0

KEMUKJIZATAN AL QUR'AN DARI SEGI ANGKA-ANGKA  DAN  PENAFSIRAN ISLAM ANGKA 0 (NOL) HINGGA 100 (SERATUS)

JUGA MENGUPAS Misteri Angka Dalam Mukjizat Al-Qur'an dan Angka Keberuntungan Menurut Islam



Kedudukan Al-Qur'an sebagai mukjizat terbesar Rasulullah menjadikan kajian tentangnya tidak akan pernah habis meskipun telah banyak penelitian dilakukan. 

Salah satu dari sekian banyak kajiannya adalah mengenai diksi dan redaksi kalimat. Penemuan-penemuan yang dihasilkan oleh sejumlah pakar semakin menambah ketakjuban dan keyakinan bahwa Al-Qur'an bukan buatan atau rekayasa makhluk, melainkan kalam Ilahi.

Al-Qur'an menggunakan diksi-diksi dengan tujuan-tujuan tertentu. Seperti kata "angin" yang di satu sisi menjadi kebaikan dan rahmat, namun di sisi lain menjadi bencana dan siksa. 

Untuk menunjukkan makna kebaikan dan rahmat, Al-Qur'an menggunakan kata "الرِّيَاح", dalam bentuk plural (jamak). Sebagaimana Firman Allah

وَهُوَ ٱلَّذِي يُرسِلُ ٱلرِّيَٰحَ بُشْرَا بَينَ يَدَيْ رَحمَتِهِۦۖ (الأعراف: ٥٧)

“Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan)." (QS. Al-A’raaf: 57)

Lihatlah juga Surah Al-Furqan ayat 48, Ar-Rum ayat 46, dan An-Naml ayat 63.

Sedangkan angin yang menjadi bencana digunakan kata "الرِّيح", dalam bentuk singular (mufrad). Sebagaimana dalam Firman Allah

مَثَلُ مَا يُنفِقُونَ فِي هَٰذِهِ ٱلحَيَوٰةِ ٱلدُّنيَا كَمَثَلِ رِيحٍ فِيهَا صِرٌّ أَصَابَتْ حَرْثَ قَومٍ ظَلَمُواْ أَنفُسَهُمْ فَأَهْلَكَتْهُ (آل عمران: ١١٧)

"Perumpamaan harta yang mereka infakkan di dalam kehidupan dunia ini, ibarat angin yang mengandung hawa sangat dingin, yang menimpa tanaman (milik) suatu kaum yang menzhalimi diri sendiri, lalu angin itu merusaknya." (QS. Ali Imran: 117).

Allah juga berfirman 

وَفِي عَادٍ إِذ أَرسَلنَا عَلَيهِمُ ٱلرِّيْحَ ٱلعَقِيمَ (الذاريات: ٤١)

"Dan (juga) pada (kisah kaum) ‘Ad, ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan." (QS. Adz-Dzariyat: 41)

Hanya ada satu ayat yang bermakna angin yang baik, namun itupun disertai dengan penyebutan angin yang buruk, yakni firman Allah dalam Surah Yunus ayat 22

حَتَّىٰ إِذَا كُنتُم فِي ٱلفُلكِ وَجَرَيْنَ بِهِم بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُواْ بِهَا جَاءَتهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ ٱلـمَوجُ مِن كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّواْ أَنَّهُم أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ.

Sehingga ketika kamu berada di dalam kapal, dan meluncurlah (kapal) itu membawa mereka (orang-orang yang ada di dalamnya) dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya; tiba-tiba datanglah badai dan gelombang menimpanya dari segenap penjuru, dan mereka mengira telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa dengan tulus ikhlas kepada Allah semata (QS. Yunus: 22).

Pemilihan kata yang digunakan di dalam Al-Qur'an tidak terjadi karena kebetulan. Hal ini terbukti dengan adanya keseimbangan jumlah kata yang membuktikan kemukjizatannya. Kemukjizatan inilah yang disebut dengan "i'jaz 'adadi" atau kemukjizatan yang bersifat bilangan atau angka. Berikut ini beberapa di antaranya :

1. Kata "ad-dunya " terulang sebanyak 115 kali, sama dengan lawan katanya, "al-akhirah". 

2. Kata "al-mala’ikah" terulang sebanyak 88 kali, sama dengan kata "asy-syayathin".

3. Kata "al-hayat" (hidup) terulang sebanyak 145 kali, sama dengan kata "al-maut" (kematian).

4. Kata "al-iman" terulang 18 kali, sama dengan kata "al-kufr".

5. Kata "qalu" (mereka berkata) yang merupakan ucapan makhluk, terulang sebanyak kata "qul" (katakanlah!) yang merupakan perintah Allah kepada makhluk-nya.

6. Kata "al-harr", panas, terulang 4 kali, sama dengan kata "al-bard", dingin. 

7. Kata "iblis" disebut sebanyak 11 kali, sama dengan kalimat isti'adzah (memohon perlindungan kepada Allah) di dalam Al-Qur'an.

8. Kata "as-sayyi'at" yang menjadi kebalikan "ash-shalihat" masing-masing disebut sebanyak 180 kali. 

9.Kata "asy-syahr" yang berarti "bulan", disebut sebanyak 12 kali, sesuai jumlah bulan dalam satu tahun. 

10. Kata "al-yaum" yang berarti “hari”, dalam bentuk mufrad, disebut sebanyak 365 kali, sesuai dengan jumlah hari dalam satu tahun Syamsiyah. 

11. Kata "al-ayyam", dalam bentuk jamak, disebutkan sebanyak 30 kali, sesuai jumlah hari dalam satu bulan.

12. Kata "sa'ah (ساعة)" yang didahului oleh harf (bukan ism atau fi'l) disebutkan sebanyak 24 kali, sama dengan jumlah jam dalam satu hari. 

13. Kata "sab' (سبع)" yang artinya “tujuh” yang dikaitkan dengan "samawat” (langit), disebutkan sebanyak 7 kali. 

14. Kata sujud dan derivasinya yang dilakukan oleh mereka yang berakal, disebutkan sebanyak 34 kali, sama dengan jumlah sujud dalam shalat fardhu sebanyak 17 raka'at.

15. Kata "shalawat" disebutkan sebanyak 5 kali, sama dengan shalat fardhu sehari-semalam.

16. Kata "aqim (أقم)" atau "aqimu (أقيموا)" yang diikuti kata "shalat" disebutkan sebanyak 17 kali, sama dengan jumlah raka'at fardhu.

17. Kata "qashr" berikut turunan katanya disebut sebanyak 11 kali. Bilangan ini sama dengan jumlah raka'at shalat harian jika diringkas (qashr). 

18. Jumlah Surah Al-Qur'an yang diawali dengan huruf-huruf muqaththa'ah, seperti Alif Lam Mim, Ya Sin, dan lain-lain, adalah 29 Surah, sama dengan jumlah huruf Hijaiyah dengan memasukkan Hamzah. Ada 14 huruf yang dijadikan awal Surat, yaitu ا, ح, ر, س, ص, ط, ع, ك, ق, ل, م, ن, ھ, ي. Jumlah tersebut (14) adalah setengah dari jumlah huruf Hijaiyah tanpa menghitung Hamzah.


Makna Angka 0 sampai 100 dalam Islam

Berikut akan diuraikan keterkaitan angka 0 sampai 100 dengan Islam :

 

Angka 0, penemu angka 0 adalah orang Islam.

Secara historis, ditemukannya angka 0 pertama kali oleh Muhammad bin Ahmad merupakan sebuah hasil pemikiran mendalam untuk menjawab masalah penghitungan bilangan di masa itu. Menuliskan bilangan dalam jumlah besar, dengan menggunakan angka-angka yang demikian rumit seperti angka Romawi sangatlah sulit. Jumlah bilangan puluhan, ratusan hingga ribuan dalam angka Romawi masih bisa dituliskan dan dihafal bentuknya. Misalnya, X (10), XX (20), C (100), M (1.000). Namun, bila jumlah bilangan jutaan, milyaran, atau triliunan tentu sangat sulit menuliskannya dalam angka Romawi. Karena itu, penemuan angka 0 ini memiliki arti penting dalam penghitungan dan penulisan bilangan.

Pemikiran Muhammad bin Ahmad tersebut kemudian dilanjutkan oleh Muhammad bin Musa Al Kwarizmy, seorang tokoh penemu perhitungan Al Jabar yang menjadi dasar ilmu pasti, yang dilahirkan di Khiva (Iraq) pada tahun 780 M. Dia juga berjasa dalam ilmu ukur sudut melalui fungsi sinus dan tangent, persamaan linear dan kuadrat serta kalkulus integral. Karya-karyanya di bidang matematika terdapat dalam Kitabul Jama wat Tafriq dan Hisab al-Jabar wal Muqabla. Hasil karya Al-Khwarizmi inilah yang kemudian menjadi rujukan dan mempengaruhi pemikiran para ilmuwan Eropa, seperti Jacob Florence, serta Leonardo Fibonacci yang kemudian lebih dikenal masyarakt dunia sebagai ahli matematika Al Jabar. Penemuan angka 0 ini sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dunia karena dengan angka 0 tersebut, kini kita dapat dengan mudah menuliskan jumlah bilangan dari yang terkecil hingga yang tertinggi dengan bantuan angka.

 

Angka 1, Allah Maha Esa.

Sudah diketahui bahwa Islam adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran Surat Al-Ikhlas

Artinya :

1.      Katakanlah : Dialah Allah yang Maha Esa

2.      Allah adalah Tuhan yang bergantung pada-Nya segala sesuatu

3.      Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan

4.      Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

 

Angka 2, dua kalimat syahadat

Dalam agama Islam ada yang namanya rukun Islam, dan rukun Islam yang pertama yaitu membaca dua kalimat syahadat. Seseorang dikatakan beragama Islam jika ia sudah bersaksi dan meyakini dengan sepenuh hati bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan nabi Muhammad adalah utusan Allah.

 

Angka 3, kata Ibu disebut 3 kali dalam hadits.

Seorang ibu merupakan sosok yang sangat dimuliakan dalam Islam. Karena begitu berat tugas seorang ibu dalam mengurus anaknya. Mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkan anaknya. Bahkan, dalam Islam meninggalnya seorang ibu ketika melahirkan anaknya dikatakan mati syahid yakni dijamin masuk syurga. Begitu mulia kedudukan seorang ibu, Rasulullah saw bersabda : 

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Dimana seorang ibu memiliki tiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki yang seorang ayah tidak memilikinya yaitu mengandung, melahirkan dan menyusui. Ada banyak bukti, bahwa berbakti kepada kedua orang tua –dalam wacana Islam- adalah persoalan utama

 

Angka 4, Kitab-kitab Allah ada 4

Dalam rukun iman yang ketiga yakni iman kepada kitab-kitab Allah. Allah SWT menurunkan firman-Nya kepada para Nabi dan Rasul yaitu :

1.      Kitab Zabur.

Zabur adalah nama kitab suci yang diberikan kepada Nabi Dawud as. Zabur berasal dari kata zabara-yazburu-zabran yang berarti menulis. Bahasa yang digunakan Kitab Zabur adalah bahasa Qibti.. Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (QS. Anisa 163).

Isi kandungan Kitab Zabur adalah :

a.       Ajaran Tauhid (mengesakan Allah SWT)

b.      Kata-kata hikmah

c.       Nasihat-nasihat kebaikan

2.      Kitab Taurat.

Taurat yang dalam bahasa ibrani disebut thora adalah kitab suci yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Musa as. Untuk membimbing kaumnya Bani Israil. Jadi Kitab Taurat menggunakan bahasa Ibrani.

Isi kandungan kitab-kitab Taurat :

a.       Ajaran Tauhid (mengesakan Allah)

b.      Nasehat-nasehat kebaikan

c.       Hukum-hukum syariah.

d.      Kisah dan sejarah nabi nabi terdahulu.

3.      Kitab Injil.

Injil adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Isa as. Binti Maryam. Kitab ini pada intinya berisi ajakan kepada umat Nabi Isa as untuk hidup dengan zuhud yaitu menjahui kerakusan dan ketamakam duniawi. Hal itu bertujuan untuk meluruskan pandangan orang-orang yahudi yang bersifat materialistis Kitab Injil menggunakan bahasa Suryani. Dia Isa berkata: “Sesungguhnya aku hamba Allah. Dia memberiku Kitab Injil dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.” (QS. Maryam 30). Kitab Injil yang ada sekarang berbeda dengan Injil asli yang diturunkan Allah kepada Nabi Isa as.

Isi yang terkandung dalam kitab Injil :

a.       Ajaran Tauhid (mengesakan Allah SWT)

b.      Hukum-hukum Syariah

c.       Nasihat-nasihat kebaikan

d.      Sejarah nabi-nabi terdahulu

4.      Kitab suci Al-Qur’an diturunkan Nabi Muhammad saw.

Al Quran adalah kitab suci umat Islam yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai nabi terakhir, dinamakan Al Quran karena sebagai kitab suci yang wajib dibaca, dipelajari dan merupakan ajaran-ajaran wahyu terbaik. Al-Quran adalah kitab terakhir dan penyempurna dari kitab-kitab sebelumnya. Al Quran pertama kali diturunkan kepada Rasulullah SAW ketika beliau sedang bertafakur digua hira pada tanggal 17 Ramadan bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 632 M sejak itu, tanggal 17 Ramadhan diperingati sebagai nuzulul quran oleh umat Islam sedunia. Al Quran diturunkan secara berangsur angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Al Quran selalu dijaga kebenaranya oleh Allah SWT diterangkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hijr ayat 9: “Sesungguhnya Kamilah Yang menurunkan Al-Quran dan pasti Kami yang memeliharanya (menjaganya) “

Isi kandungan Al-Quran :

a.       Akidah (Keyakinan)

b.      Syariah (hukum) baik yang berkatan dengan ibadah atau muammalah 

c.       Akhlak (etika) 

d.      Kisah-kisah umat terdahulu 

e.       Berita-berita tentang masa yang kan datang (akherat)

f.        Prinsip dan dasar hukum-hukum yang berlaku bagi alam semesta termasuk manusia.

 

Angka 5, rukun Islam ada 5

Rukun Islam adalah kewajiban pokok paling mendasar yang harus dilaksanakan oleh seorang muslim dan tidak boleh ditinggalkan.

Rukun Islam ada 5 yaitu:

1. Mengucap dua kalimah syahadah.

2. Mendirikan solat.

3. Menunaikan zakat

4. Berpuasa di bulan Ramadhan.

5. Menunaikan haji bagi yang mampu.

 

Angka 6, rukun iman ada 6.

Rukun iman artinya dasar-dasar atau landasan yang harus diyakini dalam hati oleh setiap muslim dan dibuktikan dalam lisan serta perbuatannya sehari-hari.

Rukun iman ada 6 yaitu :

1.      Iman kepada Allah

2.      Iman kepada Malaikat-malaikat Allah

3.      Iman kepada Kitab-kitab Allah

4.      Iman kepada Rasul-rasul Allah

5.      Iman kepada Hari Akhir

6.      Iman kepada Qada dan Qadar, yaitu takdir yang baik dan buruk

 

Angka 7, keterangan dalam Al-Qur’an langit ada 7

"Dialah (Allah), yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 29)

 

Angka 8, pada tahun 8 hijriyah terjadi Pembebasan Mekkah

Pembebasan Mekkah (Fathu Makkah) merupakan peristiwa yang terjadi pada tahun 630 masehi tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H, di mana Nabi Muhammad SAW beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah sedikitpun sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka'bah.

 

Angka 9, wali songo

Wali songo berasal dari kata wali dan songo. Wali artinya ulama yang meneruskan penyiaran agama Islam kepada umat manusia, sedangkan songo berasal dari bahasa Jawa yang artinya Sembilan. Jadi, wali songo ialah sembilan wali yang memelopori penyebaran agama Islam di pulau Jawa dan sekitarnya tepatnya pada abad 15 -16 masehi.

Berikut nama-nama dan asal-usul wali songo:

1)   Maulana Malik Ibrahim berasal dari negeri Arab.

2)   Sunan Ampel, yang waktu kecilnya bernama Raden Rahmat berasal dari Campa daerah Aceh (sekarang Jeumpa).

3)   Sunan Giri disebut juga Raden Paku. Pada waktu mudanya ia bernama Maulana Ainul Yakin.

4)   Sunan Drajat, nama kecilnya ialah Syaripuddin. Ia adalah saudara Sunan Bonang dan Sunan Ampel.

5)   Sunan Bonang, pada mulanya bernama Makhdum Ibrahim, beliau adalah salah satu putra dari Sunan Ampel.

6)   Sunan Kali Jaga, pada waktu mudanya bernama Raden Mashaid.

7)   Sunan Kudus, waktu kecil diberi nama Untung dan sewaktu ia menjadi mubaligh bernama Syekh Ja’far Shadiq.

8)   Sunan Muria nama kecilnya Raden Prawototo. Beliau adalah putra Sunan Kalijaga.

9)   Sunan Gunung Jati, sering disebut Raden Faletehan. Nama Arabnya Fatahillah dan nama yang sebenarnya adalah Syarif Hidayatullah.

 

Angka 10, jumlah 10 malaikat yang wajib diketahui dalam Islam

Angka ini menunjukan jumlah malaikat yang wajib diketahui, yaitu sebagai berikut :

1.      Jibril bertugas menyampaikan wahyu kepada para Nabi dan rasul.

2.      Mikail bertugas membagikan rizki dan menurunkan hujan.

3.      Isrofil bertugas meniup sangkakala di hari kiamat sebagai tanda datangnya hari kiamat.

4.      Izroil bertugas mencabut nyawa.

5.      Munkar bertugas menanyai manusia didalam kubur.

6.      Nakir bertugas menanyai manusia didalam kubur.

7.      Rakib bertugas mencatat amal baik manusia.

8.      Atid bertugas mencatat amal buruk manusia.

9.      Malik bertugas menjaga pintu neraka.

10.  Ridwan bertugas menjaga pintu surga.

 

Angka 11, tahun 11 hijrriyah Rasulullah wafat

Dalam tahun kesebelas hijriyah, Rosululloh menyiapkan tentara yang dikepalai oleh Usama bin Zaid, dan beliau menyuruhnya agar berangkat ke Ubna. Tetapi sebelum tentara itu berangkat, beliau telah mulai sakit hingga tidak jadi perjalanan tentara itu. Ketika sedang sakit, beliau minta izin kepada istri-istrinya agar sakitnya dirawat di rumah Aisyah. mereka mengizinkannya lalu dibawa ke rumah Aisyah. Saat itu kesehatan Rasulullah semakin memburuk beliau menyuruh Abu bakar agar ia sholat dengan orang banyak sebagai imam. Orang-orang anshar mendengar beliau sakit itu jadi berduka cita lalu berkumpul di masjid. karena berkumpulnya mereka itu, beliau kemudian keluar ke tempat mereka itu dengan berjalan merangkul Ali dan fadlil. Setelah di masjid, beliau duduk di tangga mimbar yang terbawah sambil berkhutbah kepada mereka. kemudian pada hari senin tanggal 13 Robiul awal beliau menemui Tuhannya dengan menutup mata dan pindah ke alam Baqa'.

Sebelum dimakamkan, jenazah beliau menetap di rumahnya sampai malam rabu, sehingga orang-orang Islam selesai memilih Khalifah sebagai pengganti beliau. Setelah selesai kemudian beliau dimandikan dan kemudian dikafani dengan tiga lapis kain. Kemudian orang-orang Islam mensholatinya dengan teratur. Sesudah selesai semuanya, lalu dimakamkan di rumah Aisyah.

 

Angka 12, tangggal 12 Rabiul Awal Rasulullah dilahirkan

Pada waktu umat manusia berada dalam kegelapan dan suasana jahiliyah, lahirlah seorang bayi pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah di Mekkah. Bayi yang nantinya akan membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban manusia yang diberi nama Muhammad nama yang sebelumnya belum ada dimanapun juga.  Ibunya beranama Siti Aminah dan ayahnya bernama Abdullah.

 

Angka 13, pada tahun 13 hijriyah terjadi perang yarmuk

Ketika itu suasana perang berubah, maskas laskar Islam menghadapi kesulitan yang sangat berat, sehingga panglima-panglimanya mengadakan musyawarah untuk mencari jalan keluarnya. Dalam musyawarah itu ‘Amru bin al’Ash menguslkan agar laskar Islam berkumpul pada suatu tempat untuk menghadapi kekuatan Romawi bersama-sama dengan satu pimpinan yaitu Khalid bin Walid. Tempat yang ditunjukkannya yaitu tepi sungai Yarmuk (anak sungai Sei. Yordania) bernama Wakusah, Pendapat ‘Amru binal’Ash ini disetujui oleh Khalifah. Maka berkumpullah di Wakusah 40.000 laskar Islam menghadapi 240.000 tentara Romawi. Dan pertempuran berkecamuk dengan hebatnya.

Pertempuran di Yarmuk ini berakhir dengan kekalahan di pihak Romawi dan sejumlah besar tentaranya terbunuh. Kekalahan ini mematahkan hati Heraklius dan menimbulkan rasa putus asa di kalangan tentaranya. Dan peristiwa ini membuahkan jatuhnya Siria ke tangan bangsa Arab.

 

Angka 14, pembebasan Madain tahun 14 hijriyah

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab tahun 14 hijriyah terjadi peristiwa pembebasan Madain. Madain merupakan ibu kota kerajaan persia. “Suatu saat, kaum Muslimin akan menguasai Madain” itulah janji Rasulullah saw., yang diucapkan di depan kaum Muslimin.

 Dengan perintah dari Umar bin Khattab, Saad bin AbuWaqas langsung bergerak dari Qadisiyah menuju Madain. Sesampainya di kota Madain, pasukan Muslimin langsung memasuki Istana Putih, tempat Istana Kisra berada. Saad kemudian mengumandangkan Adzan, sebagai bukti kalimat tauhid sudah berada dalam istana itu. Shalat jamaah pun seketika dilakukan kaum Muslimin. Api-api yang menjadi sesembahan orang-orang majusi, telah dipadamkan oleh Saad dan pasukannya. Perang antara pasukan Madain versus kaum Muslimin, akhirnya dimenangkan oleh kaum Muslimin. Kemudian kaum Muslimin singgah di Madain selama beberapa bulan, sebelum melanjutkan perjalanan.

Selama di Madain, kaum Muslimin telah menentukan daerah yang akan dikuasai selanjutnya yaitu Kufah dan Bashrah. Sebelum berangkat, telah ditentukan bahwa pemimpin kaum Muslimin saat itu diganti memjadi Salman al-Farisi.

 

Angka 15, pada tahun 15 hijriyah terjadi pembebasan Homs dan Qansarin

Pada perang ini, komando masih berada ditangan Abu Ubaidah. Sesampainya di kota Homs, kaum Muslimin berhasil menaklukan pasukan yang telah dikirim oleh kaisar Romawi yang bernama Heraklius. Sebagian pasukan Homs terbunuh, begitu juga para pemimpin-pemimpinnya, sedangkan sisanya ditahan. Akhirnya para penduduk dan penguasa Homs meminta berdamai dengan kaum Muslimin. Setelah menaklukkan Homs, Abu Ubaidah memerintahkan pasukan yang dipimpin Khalid Al-Walid menuju Qansarin. Hanya dengan retorika dan ketegasan Khalid Al-Walid, penduduk Qasarin pun meminta berdamai dengan kaum Muslimin dan mereka bersedia untuk membayar pajak.

 

Angka 16, tahun 16 Hijriyah terjadi perang Ajnadain dan Cadissia melawan Romawi

Pada masa Umar tahun 16 Hijriyah terjadi perang Ajnadain dan Cadissia melawan Romawi.

Sesudah jatuhnya kota Damaskus ke tangan Islam, maka jatuh pula kota-kota besar di Utara Siria, seperti Aleppo, Homs dan Antiokhia. Jendral Aretion panglima Romawi di Siria, bertahan dengan gigih beserta sisa tentaranya di Ajnadin dekat Baitul Maqdis. Di sana terjadilah pertempuran sengit antara tentara Romawi dan Arab, yang tidak kurang hebatnya dari pertempuran di Yarmuk.

Pertempuran ini berakhir dengan kemenangan ummat Islam, dan tentara Romawi yang masih tinggal melarikan diri ke Kaisarian dan Baitul Maqdis.

 

Angka 17, jumlah rokaat sholat wajib 5 waktu sehari semalam

Angka atau bilangan tujuh belas ini menunjukan jumlah rokaat sholat wajib 5 waktu sehari semalam, yaitu:

Sholat shubuh        : 2 rakaat

sholat dzuhur          : 4 rakaat

sholat ashar            : 4 rakaat

sholat maghrib       : 3 rakaat

sholat isya              : 4 rakaat.

Maka, jika dijumlahkan ada 17 rakaat.

 

Angka 18, tahun 18 hijriyah jatuhnya kota Baitul Maqdis.

Pada tahun 18 Hijriyah terjadi peristiwa jatuhnya kota Baitul Maqdis. Laskar Islam kemudian membulatkan niatnya untuk menaklukkan Baitul Maqdis, ibu kota Palestina dan kota suci orang Kristen. Kota ini dikelilingi oleh benteng-benteng yang kuat, dipertahankan oleh pasukan besar tentara pengawal kota dibawah pimpinan Arection sendiri. Empat bulan lamanya orang Arab mengepung kota itu sehingga penduduknya hampir mati kelaparan. Akhirnya keluarlah Patrik kota itu menyatakan kemauannya menyerahkan kota itu dengan syarat kepada Khalifah Umar sendiri. Maka berangkatlah Umar bin Khattab ke Baitul Maqdis menerima penyerahan kota itu serta menegaskan keamanan penduduknya dan kemerdekaan mereka menjalankan agamanya. Dengan demikian seluruh Syam dan Palestina telah jatuh ke tangan Islam, sesudah mereka berperang mati-matian lebih kurang enam tahun lamanya.

 

Angka 19, Jumlah huruf hijaiyah dalam lafadz basmallah ada 19 huruf.

Bacaan basmallah selalu ada dalam permulaan surat dalam Al-Quran, kecuali dalam Surat At-Taubah. Kitapun dianjurkan dalam melakukan sesuatu yang baik diawali dengan membaca basmallah. Misalnya ketika akan makan, bekerja, dan lain-lain.

Dalam lafadz basmallah terdapat 19 huruf hijaiyah.

 

Angka 20, sifat wajib bagi Allah ada 20.

Dalam Islam kita mengenal 20 sifat wajib bagi Allah, yaitu sebagai berikut :

1.      Wujud artinya ada

2.      Qidam artinya dahulu

3.      Baqa artinya kekal.

4.      Mukholafatul lil hawaditsi artinya bahwa Allah berbeda dengan makhluk-Nya.

5.      Qiyamuhu binafsihi artinya berdiri sendiri

6.      Wahdaniyah artinya esa, satu.

7.      Qudrat artinya berkuasa.

8.      Iradat artinya berkehendak.

9.      Ilmu artinya mengetahui.

10.  Hayat artinya hidup.

11.  Sama’ artinya mendengar.

12.  Bashar artinya melihat.

13.  Kalam artinya berfirman

14.  Kaunuhu Qadiran artinya terbukti Allah yang Maha Kuasa dan Mustahil Allah tidak Kuasa.

15.  Kaunuhu Muridan artinya terbukti Allah yang Maha berkehendak dan mustahil Allah tidak mempunyai kehendak.

16.  Kaunuhu ‘Aliman artinya terbukti Allah yang Maha Mengetahui dan mustahil Allah yang bodoh.

17.  Kaunuhu Khayyan artinya terbukti Allah yang Hidup dan mustahil Allah mati.

18.  Kaunuhu Sami’an artinya terbukti Allah yang Maha Mendengar dan mustahil Allah yang tuli.

19.  Kaunuhu Bashiran artinya artinya terbukti Allah yang Maha Melihat dan mustahil Allah yang buta.

20.  Kaunuhu Mutakalliman artinya terbukti Allah yang Berfirman, dan mustahil Allah yang bisu.

 

Angka 21, terjadi perang Nahawand tahun 21 hijriyah.

Pada tahun 21 hiriyah terjadi perang Nahawand. Hal ini disebabkan oleh Berita kesuksesan perang terhadap pembebasan negeri Persia yang terjadi di Nahawand ini telah tersebar luas di banyak daerah. Oleh sebab itu, perang ini disebut sebagai Fathul Futuh (pembuka berbagai kemenangan).

Kisra Yazdayird III tidak bisa mengumpulkan tentaranya dengan cepat, ia memerlukan waktu empat tahun untuk menghimpun kekuatan, maka terkumpullan balatentara yang berjumlah 150.000 orang untuk menghadapi tentara Islam. Pada tahun 21 H. Yazdayird III mengerahkan angkatan perangnya itu dan Khalifah Umar mengirimkan bantuan laskar untuk membantu Sa’ad. Maka terjadilah peperangan yang sanat hebat diantara keduanya di Nahawand. Pertempuran itu berakhir dengan kemenangan di pihak Islam, walaupun orang Persia telah berperang mati-matian membela negaranya. Peperangan ini dikenal dengan sebutan ‘Fathul Futuh’ yang berarti ‘Pembebasan dari segala pembebasan’.

 

Angka 22, peristiwa jatuhnya kota Iskandariah tahun 22 hijriyah

Setelah kota Alexandria maka sempurnalah tentara Islam menaklukan Mesir, khususnya sebagai daerah di pegunungan maupun di selat. Kemudian, tentara Islam bergerak ke Tripoli dan Barca. Tentara Islam berhasil menaklukan kota-kota tersebut secara damai dan penduduknya membayar pajak. Dan kemudian datanglah perintah Umar agar tentara Islam sebaiknya berdiam diri terlebih dahulu di daerah-daerah Mesir yang telah berhasil ditaklukan sebelumnya.

 

Angka 23, Jumlah rakaat sholat tarawih ada 20 ditambah sholat witir 3 rakaat.

Dari Yazid Bin Ruman, beliau berkata: "Orang-orang pada masa Umar melakukan Qiyamullail di Bulan Ramadhan dengan 23 rakaat". (HR. Malik dalam Al-Muwaththo' hal. 106).

 

Angka 24, tahun 24 hijriyah Utsman bin Affan dibai’at menjadi khalifah

Pemilihan terhadap Usman tersebut berlangsung pada penguhjung bulan Zulhijjah tahun 23 H/644 M dan diresmikan pada awal muharram 24 H/644 M, dengan dilakukannya pembai’atan kalifah Usman bin Affan oleh seluruh umat muslim.

 

Angka 25, Rasul yang wajib diketahui ada 25

Dalam rukun iman yang ke 4, yaitu iman kepada rasul-rasul Allah. Nabi dan rasul yang wajib kita ketahui ada 25, yaitu sebagai berikut :

1.      Nabi Adam as

2.      Nabi Idris as

3.      Nabi Nuh as

4.      Nabi Hud as

5.      Nabi Shaleh as

6.      Nabi Ibrahim as

7.      Nabi Luth as

8.      Nabi Ismail as

9.      Nabi Ishaq as

10.  Nabi Yaqub as

11.  Nabi Yusuf as

12.  Nabi Ayyub as

13.  Nabi Syuaib as

14.  Nabi Harun as

15.  Nabi Musa as

16.  Nabi Zulkifli as

17.  Nabi Daud as

18.  Nabi Sulaiman as

19.  Nabi Ilyas as

20.  Nabi Ilyasa as

21.  Nabi Yunus as

22.  Nabi Zakaria as

23.  Nabi Yahya as

24.  Nabi Isa as

25.  Nabi Muhammad saw

 

Angka 26, pembukuan Al-Qur’an pada tahun 26 hijriyah.

Pada tahun 26 hijriyah kepemimpinan Utsman bin Affan lebih menitikberatkan pada penulisan Al-Quran. Beliau membentuk panitia yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit yang merupakan sekretaris Rasulullah dan seorang penghafal Al-Qur’an. Sebagai anggota kemudian ditunjuk Abdullah bin Zubair, Sa’ad bin Abi Waqash dan Abdurrahman bin Harits. Tim ini kemudian membukukan Al-Qur’an. Pembukuan tersebut dikenal dengan “Mushaf atau Al-Mushaf” yang ditulis sejumlah lima buah. Empat buah dikirim ke daerah-daerah Islam, satu disimpan di Madinah dan dipegang oleh khalifah Utsman sendiri. Al-Mushaf yang dipegang oleh khalifah Utsman bin Affan disebut Mushaf Utsman atau Mushaf Al-Iman.

 

Angka 27, tanggal 27 Rajab terjadi peristiwa isra’ mi’raj.

Isra` secara bahasa berasal dari kata ‘saro’ bermakna perjalanan di malam hari. Adapun secara istilah, Isra` adalah perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Jibril dari Mekkah ke Baitul Maqdis (Palestina), berdasarkan firman Allah dalam QS.Al-Isra’ ayat 1:

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha “.(Al Isra’:1)

Mi’raj secara bahasa adalah suatu alat yang dipakai untuk naik. Adapun secara istilah, Mi’raj bermakna tangga khusus yang digunakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk naik dari bumi menuju ke atas langit, berdasarkan firman Allah dalam surat An Najm ayat 1-18.

Peristiwa inilah pertama kali adanya perintah sholat wajib 5 waktu.

 

Angka 28, tahun 28 hijriyah terjadi perluasan Islam daerah-daerah ma’waraan nahri

Perluasan Islam di masa Utsman telah bertambah dengan perluasan ke laut, kaum muslimin telah mempunyai angkatan laut. Kemudian negeri-negeri Armenia dan beberapa bagian thabaristan. Bahkan kemajuan tentara Islam telah sampai dan melampaui sungai jihun (ama daria). Jadi daerah-daerah ma’waraan nahri” (negeri-negeri seberang sungai jihun telah masuk di wilayah Negara Islam. Negeri Harah, Kabul dan Ghazbah di Turkistan telah diduduki kaum muslimin dengan mempergunakan angkatan laut yang dipimpin oleh Muawiyah bin Abi Sofyan tahun 28 H.  

 

Angka 29, tahun 29 hijriyah Utsman mengangkat Abdullah bin Amim bin Kuraiz, sebagai gubernur Bashrah

Di bawah pimpinan Abdullah bin Amir, pasukan Islam berhasil menguasai kota Maru, Sarkhas, dan Kabul pada tahun 31 Hijriyah. Abdullah bin Amir mengirim Al-Ahnaf bin Qais ke Balkha pada tahun 31 H, dan dia berhasil menaklukannya. Akan tetapi Al-Ahnaf tidak berhasil menaklukan kota Khawarizmi

 

Angka 30, juz dalam Al-Qur’an ada 30.

Al-Qur’an merupakan kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui malaikai jibril secara berangsur-angsur sebagai pedoman hidup umat Islam dan membacanya termasuk ibadah. Jumlah juz dalam Al-Qur’an ada 30 juz, terdiri 114 surat.

 

Angka 31, tahun 31 hijriyah pertempuran “Dzatis Sawari”

Salah satu pertempuran yang penting di laut pada masa Usman ialah pertempuran “Dzatis Sawari” (Pertempuran Tiang Kapal). Pertempuran ini terjadi pada tahun 31 H di laut tengah dekat kota Iskandariyah, antara tentara Romawi di bawah pimpinan kaisar Constantine dengan bala tentara Islam di bawah pinmpinan Abdullah ibnu Abi Sarah, yang menjadi gubernur di Mesir. Pertempuran ini dinamakan Dzatis Sawari karena banyaknya kapal-kapal perang yang ikut dalam peperangan ini. Konon kabarnya kapal-kapal tersebut ada 1000, 200 kepunyaan kaum Muslim dan sisanya adalah kepunyaan bangsa Romawi. Dalam pertempuran ini kaum Muslimin telah berhasil mengalahkan tentara Romawi.

 

Angka 32, tahun 32 hijriyah Muawiyah berhasil menembus Romawi.

Al kisahnya : Pengepungan Konstantinopel oleh bangsa Arab untuk pertama kalinya, yang berlangsung mulai tahun 674 sampai tahun 678, adalah salah satu konflik besar dalam Perang Arab-Romawi Timur, dan merupakan puncak pertama dari usaha perluasaan wilayah yang dilancarkan terhadap Kekaisaran Romawi Timur oleh Khilafah Bani Umayyah di bawah pimpinan Khalifah Muawiyah I. Khalifah Muawiyah I, yang naik takhta pada tahun 661 seusai Perang Saudara Kaum Muslim I, kembali memerangi Kekaisaran Romawi Timur selepas jeda beberapa tahun, dengan harapan dapat menaklukkan seluruh negara kekaisaran itu dengan cara merebut ibu kotanya, Konstantinopel. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh penulis tawarikh Romawi Timur, Teofanis Sang Pengaku Iman, serangan-serangan bangsa Arab dilakukan secara seksama dan terencana. Selama kurun waktu 672–673, armada Arab mendirikan pangkalan-pangkalan di sepanjang pesisir Asia Kecil, kemudian memasang blokade yang tidak begitu ketat di sekitar Konstantinopel. Bangsa Arab menjadikan Semenanjung Kizikos yang tidak begitu jauh letaknya dari Konstantinopel sebagai pangkalan selama musim dingin, dan kembali menyerang benteng kota Konstantinopel pada musim semi. Kekaisaran Romawi Timur, di bawah pimpinan Kaisar Konstantinus IV, akhirnya berjaya menghancurkan armada Arab dengan senjata temuan baru berupa zat pembakar cair yang dikenal dengan sebutan Api Yunani. Kekaisaran Romawi Timur juga berhasil mengalahkan pasukan darat Arab di Asia Kecil, sehingga bangsa Arab terpaksa menghentikan pengepungan. Kemenangan Kekaisaran Romawi Timur sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup negara itu, karena ancaman bangsa Arab sirna untuk sementara waktu. Sebuah perjanjian damai ditandangani tak lama kemudian, dan setelah pecahnya Perang Saudara Kaum Muslim II, Kekaisaran Romawi Timur bahkan mampu mendesak mundur Khilafah Bani Umayyah. Peristiwa pengepungan ini terabadikan dalam legenda-legenda Dunia Islam yang baru muncul, tetapi dicampuradukkan dengan riwayat-riwayat penyerbuan lain atas Konstantinopel, yang dilakukan beberapa tahun sebelumnya, di bawah pimpinan Khalifah Yazid I. Akibatnya, kebenaran riwayat Teofanis digugat pada tahun 2010 oleh peneliti Oxford, James Howard-Johnston, yang lebih mengutamakan sumber-sumber berbahasa Arab dan Suryani. Sumber-sumber tersebut tidak meriwayatkan apa-apa tentang peristiwa pengepungan ini, tetapi meriwayatkan rangkaian aksi militer, dan hanya beberapa riwayat yang berlanjut sampai ke Konstantinopel. Di lain pihak, kabar mengenai pengepungan dan perjanjian damai yang disepakati sesudahnya bahkan tersiar sampai ke Tiongkok, sehingga kelak termaktub pula dalam catatan-catatan sejarah Dinasti Tang. Peta perpolitikan Eropa dan Mediterania sekitar 650 M. Kekaisaran Romawi Timur (ungu) dan Khilafah Bani Umayyah (hijau) sekitar tahun 650 M. Setelah kalah dalam pertempuran Yarmuk pada tahun 636, Kekaisaran Romawi Timur menarik mundur sisa-sisa kekuatan tempurnya dari Syam ke Asia Kecil yang terlindung di balik Pegunungan Taurus, benteng alam yang mampu membendung gerak ekspansi kaum Muslim. Tindakan ini membuka peluang bagi Khilafah Rasyidin, yang baru saja terbentuk, untuk menuntaskan aksi penaklukan kaum Muslim atas Syam, dan selanjutnya juga atas Mesir. Kaum Muslim melancarkan serangan-serangan dadakan ke daerah-daerah di tapal batas Kilikia bahkan masuk sampai ke Asia Kecil semenjak tahun 640, yang berlanjut di bawah kepemimpinan Mu'awiyah bin Abu Sufyan, Wali Negeri Syam. Mu'awiyah juga merintis pembentukan angkatan laut kaum Muslim, yang dalam beberapa tahun saja sudah cukup kuat dikerahkan untuk menduduki Pulau Siprus, dan untuk melancarkan serangan-serangan dadakan sampai ke Pulau Kos, Pulau Rodos, dan Pulau Kreta di Laut Aegea. Angkatan laut kaum Muslim yang belum lama terbentuk ini akhirnya berjaya mengalahkan angkatan laut Kekaisaran Romawi Timur dalam pertempuran Foinikos pada tahun 655. Setelah Khalifah Utsman bin Affan tewas terbunuh dan Perang Saudara Kaum Muslim I meletus, serangan bangsa Arab terhadap Kekaisaran Romawi Timur terhenti. Pada tahun 659, Mu'awiyah bahkan menandatangani kesepakatan gencatan senjata dengan Kekaisaran Romawi Timur, yang mewajibkan kaum Muslim untuk membayar upeti kepada Kekaisaran Romawi Timur. Gencatan senjata berlanjut sampai Mu'awiyah beserta kaum kerabatnya memenangkan perang saudara kaum Muslim pada tahun 661, dan mendirikan Khilafah Bani Umayyah. Setahun kemudian, kaum Muslim kembali menyerang. Tekanan terhadap Kekaisaran Romawi Timur semakin meningkat karena bala tentara kaum Muslim mulai melewatkan musim dingin di wilayah kekaisaran, yakni di sebelah barat gugus pegunungan Taurus, sehingga kian mengganggu perekonomian kekaisaran. Aksi-aksi penyerangan kaum Muslim di darat adakalanya dibarengi dengan aksi-aksi penyerangan dari laut ke daerah-daerah pesisir di kawasan selatan Asia Kecil. Pada tahun 668, bangsa Arab mengirim bala bantuan kepada Saborios, Strategos Tema Armeniakon, yang memberontak melawan Kekaisaran Romawi Timur, dan mempermaklumkan dirinya sendiri sebagai kaisar. Perang sudah usai ketika pasukan Umayyah di bawah pimpinan Fadhalah bin 'Ubaid tiba di medan tempur, karena Saborius sudah wafat setelah terjatuh dari kuda tunggangannya. Pasukan Umayyah akhirnya melewatkan musim dingin di daerah Heksapolis, yakni di sekitar kota Melitene, sambil menunggu kedatangan pasukan-pasukan tambahan. Pada musim semi tahun 669, setelah pasukan-pasukan tambahan datang bergabung, Fadhalah memimpin pergerakan pasukan Umayyah sampai ke Kalsedon, bandar di pesisir benua Asia yang berseberangan perairan Selat Bosporus dengan Konstantinopel, ibu kota Kekaisaran Romawi Timur. Serangan bangsa Arab atas Kalsedon dapat dipatahkan, dan sebagian besar prajurit Arab tewas akibat kelaparan dan terserang penyakit. Untuk membantu Fadhalah, Mu'awiyah mengerahkan pasukan lain di bawah pimpinan putranya, Yazid, yang di kemudian hari menjadi Khalifah berikutnya. Keterangan mengenai pergerakan pasukan Umayyah selanjutnya berbeda-beda dari satu catatan sejarah ke catatan sejarah lainnya. Penulis tawarikh Romawi Timur, Teofanis Sang Pengaku Iman, meriwayatkan bahwa pasukan Umayyah tetap bertahan di depan kota Kalsedon selama beberapa waktu sebelum pulang ke Syam. Dalam perjalanan pulang, mereka merebut Amorion dan menempatkan garnisun di kota itu. Dengan menempatkan pasukan penjaga di Amorion, untuk pertama kalinya bangsa Arab berusaha mempertahankan benteng yang telah berhasil direbutnya di pedalaman Asia Kecil, di luar masa perang. Kemungkinan besar tindakan ini dilakukan karena pasukan Umayyah bermaksud kembali menggempur Konstantinopel pada tahun berikutnya, sehingga Amorion perlu dipertahankan agar nantinya dapat dijadikan pangkalan kekuatan tempur mereka. Namun, kota Amorion direbut kembali oleh Kekaisaran Romawi Timur pada musim dingin berikutnya. Di lain pihak, sumber-sumber Arab melaporkan bahwa sebelum pulang ke Syam, bala tentara kaum Muslim sempat menyeberang ke daratan Eropa dan menggempur Konstantinopel, kendati berakhir dengan kegagalan. Karena serangan ini tidak disebut-sebut dalam sumber-sumber Romawi Timur, maka mungkin sekali para penulis tawarikh Arab sengaja "mendongkrak" serangan terhadap Kalsedon menjadi serangan terhadap Konstantinopel, mengingat Yazid hadir di tengah-tengah bala tentara kaum Muslim kala itu, dan mengingat Kalsedon adalah salah satu kota penyangga Konstantinopel. Kepingan nomisma keluaran Konstantinus IV. Aksi militer tahun 669 membuat bangsa Arab sadar bahwa mereka sebenarnya berpeluang untuk melancarkan serangan secara langsung terhadap Konstantinopel, dan bahwasanya mereka perlu memiliki pangkalan logistik yang tidak terlampau jauh dari kota itu. Pangkalan logistik didirikan di Semenanjung Kizikos, yang terletak di pesisir selatan Laut Marmara, tempat armada tempur di bawah pimpinan Fadhalah bin 'Ubaid berlabuh sepanjang musim dingin tahun 670 atau 671. Mu'awiyah pun mulai berancang-ancang melancarkan serangan penghabisan terhadap ibu kota Kekaisaran Romawi Timur. Berbeda dari aksi militer yang dipimpin oleh Yazid, Mu'awiyah berencana mendatangi Konstantinopel lewat jalur pesisir. Pelaksanaannya harus seksama dan bertahap. Pertama-tama kaum Muslim harus menguasai titik-titik penting, dan mendirikan pangkalan-pangkalan di sepanjang daerah pesisir. Selanjutnya dari pangkalan mereka di Kizikos, kaum Muslim harus memblokade Konstantinopel di darat maupun di laut, sehingga tidak dapat lagi menerima pasokan bahan pangan dari daerah-daerah pertanian di pedalaman. 

Pada tahun 672, tiga armada besar kaum Muslim akhirnya dikerahkan untuk mengamankan jalur-jalur laut dan mendirikan pangkalan-pangkalan di antara Syam dan Kepulauan Aegea. Armada yang dipimpin oleh Muhammad bin Abdullah berlabuh sepanjang musim dingin di Smirna, sementara armada yang dipimpin oleh Qais (mungkin Abdullah bin Qais) berlabuh sepanjang musim dingin di Likia dan Kilikia. Armada ketiga yang dipimpin oleh seorang bernama Khalid akan menyusul dan bergabung kemudian. Menurut laporan Teofanis, Kaisar Konstantinus IV (memerintah 661-685) mulai menyiagakan armadanya begitu mendengar kabar kedatangan armada-armada Arab. Armada tempur Romawi Timur diperkuat pula dengan sejumlah kapal pengangkut tangki dan pipa yang akan digunakan untuk mengoperasikan senjata pembakar terbaru, yakni api Yunani. Pada tahun 673, armada Arab lain di bawah pimpinan Junadah bin Abu Umayyah merebut Tarsus di Kilikia, dan Rodos. Pulau Rodos, yang terletak di antara Syam dan Konstantinopel, dijadikan pangkalan pasokan terdepan sekaligus pusat serangan laut kaum Muslim. Garnisun pangkalan yang beranggotakan 12.000 orang prajurit secara teratur dirotasi kembali ke Syam, satu armada kecil disiagakan untuk menjaga pangkalan sekaligus untuk dikerahkan dalam aksi-aksi serangan dadakan. Orang-orang Arab bahkan membuka lahan-lahan gandum dan mendatangkan ternak untuk digembalakan di pulau ini. Kekaisaran Romawi Timur berusaha menghalang-halangi rencana bangsa Arab dengan melancarkan serang laut terhadap Mesir, tetapi gagal. Selama kurun waktu ini, aksi-aksi serangan dadakan di daratan Asia Kecil terus berlanjut, bahkan pasukan Umayyah melewatkan musim dingin di dalam wilayah Kekaisaran Romawi Timur. Gapura Kencana di tembok Teodosius, kota Konstantinopel. Pada tahun 674, armada bangsa Arab bertolak dari pangkalan-pangkalannya di kawasan timur Laut Aegea menuju Laut Marmara. Menurut catatan Teofanis, pada bulan April, pasukan Umayyah mendarat di pantai Trakia, tak jauh dari kota Hebdomon, pada bulan April, dan terus-menerus bertempur melawan bala tentara Romawi Timur sampai dengan bulan September. Teofanis melaporkan bahwa "pertempuran berlangsung setiap hari, dari pagi hingga malam, di antara tembok pertahanan luar Gapura Kencana dan benteng Kiklobion, adakalanya maju mendesak lawan dan adakalanya membendung desakan lawan". Pasukan Umayyah selanjutnya bertolak menuju Kizikos, yang mereka rebut dan ubah menjadi lahan perkemahan berbenteng untuk mereka tinggali sepanjang musim dingin. Mereka menyiapkan pola serangan yang terus berlanjut sepanjang pengepungan. Setiap musim semi, pasukan Umayyah melintasi Laut Marmara dan menyerang Konstantinopel dan berbalik ke Kizikos untuk menghabiskan waktu musim dingin. Yang sebenarnya terjadi, "pengepungan" Konstantinopel adalah serangkaian pertempuran di sekitar kota yang bahkan dapat direntangkan dengan memasukkan serangan Yazid pada tahun 669. Baik penulis sejarah dari Arab dan Romawi Timur mencatat pengepungan ini berlangsung selama tujuh tahun alih-alih lima tahun. Catatan ini dapat dikompromikan dengan cara memasukkan aksi militer pembuka pada tahun 672–673 atau dengan menghitung tahun hingga mundurnya pasukan Umayyah dari pangkalan mereka untuk terakhir kalinya pada tahun 680. Penggambaran penggunaan api Yunani dari Skylitzes Matritensis. Api Yunani digunakan untuk pertama kalinya selama pengepungan pertama Konstantinopel oleh Arab pada tahun 677 atau tahun 678.

Keterangan perihal bentrokan di sekitar Konstantinopel tidak jelas karena Teofanis menulis pengepungan dalam catatan tahun pertamanya secara singkat dan penulis Arab tidak menyebutkan pengepungan sama sekali, tetapi hanya menulis nama pemimpin dari ekspedisi yang namanya tidak spesifik ke wilayah Kekaisaran Romawi Timur. Jadi, dari sumber-sumber Arab hanya mengetahui bahwa Abdullah bin Qais dan Fadhalah bin 'Ubaid menyerang Kreta dan menghabiskan musim dingin di sana pada tahun 675, manakala pada tahun yang sama Malik bin Abdullah memimpin serangan ke Asia Kecil. Sejarawan Arab Ya'qubi dan Ibnu Jarir ath-Thabari melaporkan bahwa Yazid berikut bala bantuannya dikirim oleh Mu'awiyah ke Konstantinopel pada tahun 676, dan catatan bahwa sasaran aksi militer yang dipimpin Abdullah bin Qais pada tahun 677 tidak diketahui. Pada saat yang sama, karena terlalu mementingkan kesiagaan dalam menghadapi ancaman serangan bangsa Arab, kesiagaan Kekaisaran Romawi Timur dalam menghadapi ancaman di daerah lain justru menurun. Di Italia, orang Lombardi memanfaatkan kesempatan ini untuk merebut sebagian besar Calabria, termasuk Tarentum dan Brundisium, sementara di Semenanjung Balkan, sebuah koalisi yang beranggotakan suku-suku Slavia menyerang Thessaloniki dan melancarkan serangan laut lewat kapal layar di Aegea yang bahkan berhasil menembus Laut Marmara. Akhirnya, pada musim gugur 677 atau awal 678 Konstantinus IV memutuskan untuk menghadapi pengepung dari Arab dalam pertempuran langsung. Armadanya yang dilengkapi dengan api Yunani mengarahkan senjata baru mereka kepada armada Arab. Bisa jadi kematian Laksamana Yazid bin Syagharah yang dilaporkan oleh penulis Arab pada 677/678 berkaitan dengan serangan ini. Pada waktu yang hampir bersamaan, pasukan Muslim di Asia Kecil dikomandoi Sufyan bin 'Auf dikalahkan oleh pasukan Romawi Timur yang dipimpin Jenderal Floros, Petron dan Kiprian; menurut Teofanis, sekitar 30.000 prajurit Muslim gugur. Kekalahan ini memaksa pasukan Umayyah untuk menghentikan aksi pengepungan mereka pada tahun 678. Dalam perjalanan pulang ke Syam, pasukan Umayyah nyaris binasa diamuk badai di dekat Sillyon. Garis besar dari catatan Teofanis dapat diperkuat dengan satu-satunya rujukan semikontemporer dari Kekaisaran Romawi Timur mengenai pengepungan ini yaitu puisi perayaan oleh Teodosius Grammatikus yang tidak dikenal, yang awalnya diyakini merujuk kepada pengepungan kedua Konstantinopel oleh Arab pada 717–718. Puisi Teodosius memperingati kemenangan besar angkatan laut yang menentukan di depan tembok kota dengan rincian yang menarik bahwa armada Arab takut dengan kapal bersenjatakan api Yunani dan membuat rujukan kepada "ketakutan akan bayangan mereka yang kembali", yang ditafsirkan sebagai pembenaran atas serangan Arab yang berulang setiap musim semi dari pangkalan mereka di Kizikos. Konstantinopel adalah kota terpenting di negara Kekaisaran Romawi Timur. Andaikata kota ini runtuh, provinsi-provinsi Romawi Timur yang tersisa tidak mungkin bersatu, dan akan menjadi sasaran empuk bagi pasukan Umayyah. Pada saat yang sama, kegagalan serangan Arab di Konstantinopel merupakan peristiwa yang sangat penting bagi bangsa Arab. Aksi militer ini adalah puncak dari serangkaian aksi militer Mu'awiyah yang dilakukan secara terus menerus sejak tahun 661. Sumber daya dalam jumlah besar dicurahkan bagi pelaksanaan aksi militer ini, termasuk untuk membentuk armada yang besar. Kegagalan ini memiliki dampak yang sama pentingnya dan turut andil pada pukulan yang hebat pada kewibawaan khalifah. Sebaliknya, wibawa Kekaisaran Romawi Timur kembali terangkat, khususnya di Barat. Konstantinus IV menerima utusan dari Avar dan bangsa Slav Balkan yang datang mempersembahkan hadiah, ucapan selamat, dan pengakuan atas kedaulatan Romawi Timur. Perdamaian selanjutnya juga memberikan kelonggaran yang amat diperlukan dari penyerangan terus-menerus ke Asia Kecil dan memungkinkan Kekaisaran Romawi Timur untuk memulihkan keseimbangan dan memperkokoh kekaisarannya mengikuti perubahan yang dahsyat dari dasarwarsa-dasawarsa sebelumnya. nKegagalan pasukan Umayyah bersamaan dengan meningkatnya aktivitas kaum Mardaitai, masyarakat Kristen di gunung-gunung kawasan Syam yang menolak tunduk di bawah kekuasaan kaum Muslim dan menyerbu kawasan dataran rendah. Berhadapan dengan ancaman baru ini, dan setelah kerugian yang sangat besar sebagai dampak dari upaya pengepungan Konstantinopel, Mu'awiyah memulai perundingan untuk menetapkan gencatan senjata, dan kedua negara ini saling bertukar utusan. Perundingan ini ditunda hingga 679 untuk memberikan waktu kepada pihak Arab untuk serangan terakhir yang dipimpin 'Amru bin Murrah ke Asia Kecil, yang bisa jadi dimaksudkan untuk memberi tekanan kepada Kekaisaran Romawi Timur. Sebuah perjanjian damai yang berlangsung selama 30 tahun akan dilakukan, asalkan khalifah bersedia membayar upeti tahunan sebanyak 3.000 keping nomismata, 50 ekor kuda, dan 50 orang budak belian. Garnisun Arab ditarik dari pangkalan mereka di daerah pesisir wilayah Kekaisaran Romawi Timur termasuk dari Rodos pada 679–680. Segera selepas Arab mundur dari ibu kotanya, Kaisar Konstantinus IV mengerahkan bala tentara untuk memerangi suku bangsa Slav di daerah Thessaloniki, membatasi aksi-aksi perompakan mereka, dan menegakkan kembali kedaulatan kekaisaran di Thessaloniki. Selepas berakhirnya perdamaian, Kaisar Konstantinus IV maju memerangi orang Bulgar yang kian merajalela di Jazirah Balkan, tetapi pasukan besar yang terdiri dari keseluruhan pasukan kekaisaran mampu dilumpuhkan secara meyakinkan. Kekalahan Romawi Timur berujung pada pembentukan Kekaisaran Bulgar di kawasan timur laut Jazirah Balkan. Di Dunia Islam, berbagai kekuatan oposisi di dalam negara khilafah mulai menampakkan dirinya setelah Mu'awiyah mangkat pada tahun 680. Pembagian kekhalifahan selama Perang Saudara Kaum Muslim II ini tidak saja memungkinkan Kekaisaran Romawi Timur untuk meraih perdamaian, tetapi juga menjadikannya sebagai kekuatan yang paling unggul di perbatasan timurnya. Armenia dan Iberia kembali tunduk di bawah kedaulatan Kekaisaran Romawi Timur, dan Siprus menjadi kondominium antara Kekaisaran Romawi Timur dan khilafah. Perdamaian berlangsung sampai putra sekaligus penerus Konstantinus IV, Yustinianus II (m. 685–695, 705–711), menggantikannya pada tahun 693, dengan konsekuensi yang buruk. Kekaisaran Romawi Timur dikalahkan, Kaisar Yustinianus digulingkan, dan periode anarki dua puluh tahun bermula. Kaum Muslim kian gencar menyerang, yang mengarah ke upaya Arab kedua dalam menaklukkan Konstantinopel pada kurun waktu 717–718, yang juga terbukti gagal.

 

Angka 33, mebaca zikir 33 kali

Bacaan dzikir yang biasa kita baca yaitu masing-masing sebanyak 33 kali. Bacaan dzikir terdiri dari tasbih, tahmid, takbir dan tahlil.

 

Angka 34, dalam shalat 5 waktu 34 kali sujud.

Banyaknya kita sujud dalam sholat 5 waktu yaitu sebanyak 34 kali. Dalam satu rakaat kita melakukan sujud 2 kali, sedangkan jumlah rakaat sholat wajib sehari semalam ada 17 rakaat. Maka, jumlah rakaat tersebut dikali 2 (dalam 1 rakaat 2 kali sujud) sama dengan 34 kali sujud.

 

Angka 35, tahun 35 hijriyah khalifah Utsman bin Affan wafat.

Pagi Jum’at 12 Dzulhijjah, 35 H, di saat sebagian besar sahabat menunaikan ibadah haji, pengepungan berlanjut. Hari itu ‘Utsman berpuasa, setelah di malam harinya bertemu Rasulullah, dan dua sahabatnya: Abu Bakar serta ‘Umar, dalam mimpi yang membahagiakan. Di mimpi itu Rasulullah bersabda: “Wahai ‘Utsman, berbukalah bersama kami.” Utsman pun terbangun dengan merasa bahagia dan berpuasa.

Pagi itu Utsman berada di rumah bersama sejumlah sahabat yang terus bersikukuh hendak membela beliau dari kezaliman bughat. Di antara mereka adalah Al-Hasan bin ‘Ali, ‘Abdullah bin Umar, Abdullah bin Az-Zubair, Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah, dan sejumlah sahabat lainnya. Dengan sangat, Utsman bin ‘Affan meminta mereka untuk keluar dari rumah, menjauhkan diri dari fitnah. Amirul Mukminin melarang para sahabat melakukan pembelaan dengan peperangan. Beliau tidak ingin terjadi pertumpahan darah di tengah-tengah kaum muslimin hanya dengan sebab beliau. Beliau tidak ingin ada sahabat-sahabat lain terbunuh dalam fitnah ini. Setelah permintaan Utsman yang sangat kepada para sahabat, akhirnya mereka meninggalkan rumah Amirul Mukminin hingga tidak ada yang tersisa kecuali keluarga Utsman termasuk istri beliau, Na’ilah bintu Furafishah.

Amirul Mukminin, Utsman bin ‘Affan tetap di atas wasiat Rasul untuk tidak melepaskan kekhilafahan, baju yang telah Allah pakaikan untuknya. Beliau pun tetap meminta sahabat untuk tidak melakukan perlawanan, mengingat besarnya fitnah dan khawatir darah kaum muslimin tertumpah. Inilah sikap yang terbaik: kesabaran, keyakinan, dan keteguhan di atas petunjuk Rasulullah.

Utsman, beliau duduk bersimpuh di hadapan mushaf. Beliau membacanya dalam keadaan berpuasa di hari itu. Tubuh yang telah tua, rambut yang telah memutih, kulit yang telah mengeriput, usia yang telah dihabiskan untuk Allah, berjihad menegakkan kalimat Allah di muka bumi, kini duduk mentadaburi kalam Rabbul ‘Alamin. Beliau perintahkan untuk membuka pintu rumah dengan harapan para pengepung tidak berbuat sekehendak hati mereka ketika menyaksikan beliau beribadah kepada Allah, membaca Al-Qur’an.

Tetapi mereka ternyata orang yang telah keras hatinya. Dalam suasana pengepungan dan kekacauan, masuklah seseorang hendak membunuh khalifah. Orang ini datang dan menarik jenggot Ustman. Ustman dengan tenang berkata’ "Jangan sentuh jenggotku karena sesungguhnya ayahmu dulu menghormati jenggot ini." Kemudian pemberontak itu melepaskannya karena dia ingat bahwa bukan hanya ayahnya yang menghormati, tapi juga Rasulullah S.A.W. dan setiap orang menghormati Ustman. Utsman pun berkata mengingatkan: “Wahai fulan, di antara aku dan dirimu ada Kitabullah!” Diapun pergi meninggalkan Utsman, hingga datang orang lain dari bani Sadus. Dan ketika Ustman R.A. melihat nya datang, dia segera mengencangkan tali pengikat celananya, karena dia tidak ingin auratnya terlihat di saat-saat terakhirnya.

Dengan penuh keberingasan, dia cekik leher khalifah yang telah rapuh hingga sesak dada beliau dan terengah-engah nafas beliau, lalu dia tebaskan pedang ke arah Utsman bin ‘Affan. Amirul Mukminin menlindungi diri dari pedang dengan tangannya yang mulia, hingga terputus bercucuran darah. Saat itu Utsman berkata:

“Demi Allah, tangan (yang kau potong ini) adalah tangan pertama yang mencatat surat-surat mufashshal.”

Beliau adalah pencatat wahyu Allah dari lisan Rasulullah. Namun ucapan Utsman yang sesungguhnya nasihat –bagi orang yang memiliki hati– tidak lagi dihiraukan. Darah mengalir pada mushaf tepat mengenai firman Allah:

“Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Al-Baqarah: 137)

Kemudian istrinya, Na'ilah berlari untuk melindungi Utsman. Bukan hanya itu, jari jemari Na’ilah bintu Furafishah terpotong saat melindungi suaminya dari tebasan pedang kaum bughat. Subhanallah, cermin kesetiaan istri shalihah menghiasi tragedi berdarah di negeri Rasulullah.

Kemudian mereka menghujam dalam perut Ustman r.a dengan pedang! Lalu salah satu pemberontak menerjang dada Ustman r.a dan menusuknya 6 kali. Dengan demikian wafatlah Ustman r.a pada umur 83 tahun.

Terwujudlah sabda Rasulullah puluhan tahun silam. Ketika itu, Rasulullah bersama dengan Abu Bakr, Umar, dan Utsman di atas Uhud, tiba-tiba Uhud bergoncang. Rasul pun bersabda:

“Diamlah wahai Uhud, yang berada di atasmu adalah seorang nabi, seorang shiddiq, dan dua orang syahid.”

Allahu Akbar! Berbukalah Utsman bin Affan bersama Rasulullah sebagaimana mimpinya di malam itu. Ta’bir mimpi pun tersingkap sudah. Wafatlah khalifah Ar-Rasyid, di hari Jum’at, dalam usia 83 tahun. Pergilah manusia termulia saat itu menemui ridha Allah dan ampunan-Nya. Menuju jannah-Nya.

 

Angka 36, tahun 36 hijriyah terjadi jatuhnya perang jamal

Pada. Muawiyah bin Abi Sufyan, gubernur Syam, tidak membaiat Ali sebagai khalifah. Dia menuntut darah Utsman pada Ali. Sedangkan ali tidak menjadikan masalah ini sebagai perioritas karena kondisinya yang sangat labil. Oleh karenanya orang syam taat pada kekhalifahan Ali dan Muawiyah menyatakan memisahkan diri dari kekhalifahannya. Berangkatlah Ali dengan pasukannya dari kufa, dia telah memindahkan pemerintahan dari madinah ke kufah. Pada saat itu juga Aisyah bersama Zubair dan Thalhah serta kaum mulimin dari mekah juga menuju bashrah untuk menetap di sana. Merka berhasil menguasai bashrah dan menangkap para pembunuh Utsman. Mereka mengirimkan surat kebeberapa wilayah untuk melakukan hal yang sama. Ali pun mengubah rute perjalanannya dari Syam ke bashrah. Ali mengirimkan beberapa utusan ke pada Aisyah dan menerangkan dampak negatif dari apa yang mereka lakukan. Mereka puas dengan apa yang dikatakan Ali dan mereka kembali ke base pasukan untuk kesepakatan damai. Kedua belah pihak hampir saja melakukan kesepakatan damai. Namun Abdullah bin Saba’ dan pengikutnya yang menyimpang mereka ketakutan dan mereka melihat pertempuran harus terjadi. Kembali mereka berhasil mengobarkan api perang di antara kedua pasukan Islam. Terjadilah peperangan ini, pertempuran ini terjadi di depan unta yang membawa tandu Aisyah. Sehingga perang ini di sebut Perang Jamal (perang unta) yang terjadi pada tahun 36 H. dalam pertempuran ini pasukan Bashrah kalah.  Thalhah dan Zubair terbunuh ketika hendak melarikan diri, sedangkan Aisyah di kembalikan ke Madinah. Dalam peperangan ini banyak kaum muslimin yang terbunuh. Sebagian sejarawan menyebutkan ada sekitar 10.000 yang terbunuh. Ada sejarawa yang lain menyebutkan sebanyak 20.000 kaum mislimin gugur. Maka sejak itu Bashrah masuk secara penuh dalam pemeritahan Ali. Perang unta ini menjadi sangat penting dalam catatan sejarah Islam, karena peristiwa itu melibatkan sesuatu yang baru dalam Islam, yaitu untuk pertama kalinya seorang khalifah turun kemedan perang untuk memimpin langsung angkatan peranag, dan justru bertikai melawan saudara sesame muslim.

 

Angka 37, tahun 37 hijriyah terjadinya perang shiffin.

Setelah Khalifah Ali menundukkan pasukan berunta di Basrah, beliau bersama pasukannya menuju Kufah. Dari Kufah beliau mengirim Jabir bin Abdullah Al Bajali untuk meminta Muawwiyah mengurungkan niatnya menentang beliau, dan mengajak agar Muawwiyah menyatakan bai’ahnya terhadap Khalifah Ali bin Abi Tholib. Utusan Ali diterima oleh Muawwiyah. Ia memberi jawaban :

1.              Ia tidak akan memberi bai’ah, sebelum kematian Usman diselesaikan dengan tuntas.

2.              Kalau Ali mengabaikan pengusutan terhadap pembunuhan Usman, bukan bai’ah yang dilakukan. Tetapi Muawwiyah akan mengangkat senjata untuk melawan Ali.

Dimulailah perang besar di dataran Siffin dengan dahsyatnya antara Ali dengan Muawwiyah. Pertempuran berkecamuk hingga 4 hari lamanya. Dalam pertempuran tersebut tentara Muawwiyah mula-mula menang, tetapi kemudian kalah, dan akhirnya hendak melarikan diri. Tiba-tiba amru mengambil siasat damai dengan memerintahkan kepada seluruh tentaranya mengacungkan Mushaf Al-Qur’an pada pucuk tombaknya serta menyeru “Marilah damai dengan hukum Kitabullah”. Melihat situasi yang demikian, pasukan Ali pecah menjadi dua golongan satu golongan menerima perdamaian, mengingat pertempuran yang dilakukan sesama muslim, satu golongan yang lain berpendapat perang terus hingga nyata siapa nanti yang menang, dengan dugaan mereka bahwa mengangkat Kitabullah hanyalah semata-mata tipu daya musuh. Khalifah Ali terpaksa mengikuti golongan pertama yang lebih banyak, yaitu menghentikan pertempuran yang sedang berkobar dan menantikan keputusan yang akan dirundingkan tanggal 15 Rajab 37 H. Perundingan tersebut dikenal dengan perdamaian Daumatul Jandal, karena terjadi di daerah Daumatul Jandal. Dalam perundingan itu, pihak Muawwiyah mengangkat Amr bin Ash sebagai kepala utusan, dari pihak Ali mengangkat Abu Musa Al Asy’ari. Tanya jawab diadakan dan akhirnya setuju untuk mempersiapkan jawaban agar Ali dan Muawwiyah diturunkan dari keKhalifaan. Kemudian diserahkan kepada umat untuk memilih Khalifah yang disukainya, demi persatuan dan kesatuan umat Islam. Mula-mula Abu Musa berdiri, kemudian memutuskan mencabut Ali dari keKhalifaan. Setelah itu Amr bin Ash juga berdiri dan memutuskan memecat Ali seperti yang dikatakan Abu Musa dan menetapkan Muawwiyah menjadi Khalifah atas pemilihan umat.

 

Angka 38, tahun 38 hijriyah Mesir terlepas dari kekuasaan Ali bin Abi Thalib.

Pada tahun 38 hijriyah terjadi kekacauan, dimana pada tahun ini khalifah Ali bin Abi Thalib kehilangan kekuasaan terhadap Mesir. Ketika itu khalifah Ali telah menunjuk Muhammad bin Abu Bakar sebagai gubernur Mesir setelah memberhentikan Qays bin Sa’ad. Karena Muhammad bin Abu Bakar mulai berurusan dengan para pemberontak yang mendorong kasus pembunuhan Khalifah Utsman di Harbata, di Mesir pun terjadi revolusi dan kekacauan. khalifah Ali kemudian mengirim Asytar Nakha’I untuk memperbaiki keadaan disana. Ketika Muawiyyah mengetahui Asytar Nakha’I yang akan pergi ke Mesir, dia menyuruh orang untuk membunuhnya dengan meracuninya. Kemudian, dia memberikan tambahan pasukan kepada Amr bin Ash dan mengirimnya ke Mesir.

Muhammad bin Abu Bakar tidak memiliki kesiapan untuk berperang dengan kekuatan pasukan Amr bin Ash. Karena itu, dia mengumpulkan tentara hingga berjumlah dua ribuan orang dan menyerang Amr. Amr pun terpaksa meminta bantuan. Permintaan Amr kepada Muawiyah itu terpenuhi sehingga seluruh kekuatan pasukan Muhammad bin Abu Bakar sia-sia. Ia terpaksa bersembunyi. Akan tetapi, setelah tertangkap dan dilempar ke sebuah kendaraan diapun tewas. Dengan begitu, pada tahun tiga puluh delapan hijriyah, khalifah Ali kehilangan Mesir.

 

Angka 39, tahun 39 hijriyah Muawiyyah melakukan penyerangan terhadap khalifah Ali.

Setelah terjadinya perang Nahrowan, pada tahun 39 hijriyah, Muawiyyah mulai menyerang khalifah Ali dari segala arah. Dia mengirim tentara ke Hijaz, Irak dan setiap arah. Permasalahan khalifah Ali pun bertambah. Muawiyah mengirim Numan bin Basyir ke Ainut Tamr, Sufyan bin Auf ke Anbar dan Madain, Abdullah bin Mas’adah ke Taimah dan Dahhak bin Qays ke Bashrah untuk melakukan tekanan. Dia sendiri pun pergi menuju ke wilayah sungai Tigris. Dia telah membuat semua orang taat padanya. Khalifah Ali tidak tinggal diam dengan pergerakan Muawiyah ini. Diapun bergerak dan membubarkan seluruh kekuatan Muawiyah di sekitar daerah ini dan telah menguasai Iran. Khalifah pun telah mengirimkan kekuatannya hingga wilayah Bombai, India.

 

Angka 40, Nabi Muhammad pertama kali menerima wahyu pada umur 40 tahun

Nabi Muhammad pertama kali menerima wahyu di gua hira pada umur 40 tahun. Surat yang pertama diturunkan yaitu QS.Al-Alaq ayat 1-5.

 

Angka 41, tahun 41 hiriyah terjadi pertempuran antara Hasan dan Muawiyah.

Ketika Khalifah Ali ra. wafat karena dibunuh oleh seorang Khawarij, para pengikut Ali ra. kemudian mengangkat Hasan, putra Ali, sebagai khalifah baru. Mereka yang mendukung Hasan ini terdiri dari masyarakat Arabia, Irak, dan Persia. Sementara Muawiyah juga mengklaim dirinya sebagai khalifah yang sah sesuai dengan hasil tahkim. Disamping itu, Muawiyah juga merasa dirinya sebagai pewaris kekhalifahan Utsman yang dibunuh oleh pemberontak beberapa tahun sebelumnya.

Hasan yang tidak ingin membuka kran konflik dengan Mu’awiyah, disamping tidak berambisi untuk menjadi khalifah, tiga bulan setelah dibaiat oleh pendukungnya segera mengikat perjanjian damai dengan Muawiyah. Hasan bersedia mengakui kekhalifahan Muawiyah dengan beberapa syarat Di antara syarat-syarat yang diajukan Hasan adalah: Muawiyah tidak menaruh dendam kepada orang-orang yang dulunya mendukung Hasan, seperti masyarakat Irak dan Suriah, serta Muawiyah mau memaafkan dan menjamin keselamatan mereka; kursi kekhalifahan setelah Muawiyah harus diserahkan kepada pilihan umat, nukan diwariskan kepada keturunannya; pajak dari Ahwaz, salah satu distrik di Persia, diperuntukkan bagi Hasan; dan Muawiyah harus membayar kompensasi sebesar lima juta dirham dari bendahara Kufah, memberi satu juta dirham setiap tahun untuk Hasan, dan dua juta dirham untuk saudaranya, Husein.

Syarat-syarat tersebut disetujui oleh Muawiyah, pada tahun 41 H./661 M., Muawiyah datang ke Kuffah guna menandatangani perjanjian damai sekaligus menerima penyerahan kekuasaan dari tangan Hasan. Tahun itu kemudian dinamakan sebagai ”tahun persatuan” (‘am al-jama’ah), karena tidak ada lagi dualisme kepemimpinan seperti sebelumnya. Perjanjian damai ini dinilai oleh Muawiyyah sebagai bentuk pengakuan atas kekhalifahannya.

 

Angka 42, tahun 42 hijriyah terjadi Peperangan di Sijistan

Peperangan di Sijistan oleh Abdurahman bin Samuroh.

 

Angka 43, tahun 43 hijriyah terjadi Penaklukan Kuur

Penaklukan Kuur oleh Uqbah bin Nafi’, ia adalah seorang panglima dan dikenal sebagai "Mrank Afrika" atau sebagai Penakluk Afrika.

 

Angka 44, tahun 44 hijriyah menaklukan kota Makran, Kisy, Qishdar, dan lainnya.

Penaklukan pertama di negeri Sind telah dimulai sejak masa pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan, saat sebagian dari pasukan Bashrah yang dipimpin oleh Muhalab bin Abu Shufrah, pada tahun 44 H, melakukan serangan terhadap wilayah perbatasan negeri Sind. Saat itu, ia berhasil menaklukan kota Makran, Kisy, Qishdar , dan lainnya. Namun secara administratif wilayah-wilayah tersebut belum dimasukan ke dalam pemerintahan Umayah.

 

Angka 45, Pertempuran Muawiyah bin Hudaij di Afrika pada tahun 45 hijriyah.

 

Angka 46, tahun 46 hijriyah ar Robi’ bin Ziyad dipilih sebagai gubernur di Sijistan

Muawiyah mengangkat ar Robi’ bin Ziyad sebagai pengganti Abdurahman bin Samurah untuk gubernur di Sijistan.

 

Angka 47, tahun 47 hijriyah di negri Qaiqan dipimpin abdullah bin Suwar al Abdiy

Peperangan yang dilancarkan oleh abdullah bin Suwar al Abdiy di negri Qaiqan dan beliau wafat disana.

 

Angka 48, tahun 48 hijriyah terjadi penaklukan konstatinopel.

Pada tahun 48 Hijriyah, Muawiyah bin Abu Sufyan menyiapkan sebuah pasukan besar, baik melalui darat maupun laut, untuk menaklukan Kontantinopel. Namun, pada akhirnya, kaum muslimin tidak berhasil menembus benteng Konstantinopel karena beberapa sebab, yaitu:

1.      Pertama: Cuaca yang sangat dingin dan masa pengepungan yang terlalu lama.

2.      Kedua: Kokohnya tembok dan benteng kota Konstantinopel.

3.      Ketiga: Pasukan Romawi menggunakan senjata peluntar api buatan Yunani yang digunakan untuk membakar kapal-kapal kaum muslimin.

Semua fakta ini membuat kaum muslimin tidak mempunyai pilihan lain kecuali mundur dan menghentikan pengepungan.

 

Angka 49, tahun 49 hijriyah Mu’awiyah mempersiapkan ekspedisi untuk membebaskan Konstantinopel

Mu’awiyah memulainya dengan mengutus Sufyan bin ‘Auf ke arah Konstantinopel. Sufyan bin ‘Auf pun berhasil membebaskan negeri-negeri di Asia Kecil dan juga benteng-benteng di wilayah Anadol, bahkan ekspedisi darat yang dipimpinnya telah sampai di pesisir laut Marmara. Mu’awiyah kemudian mengirimkan pasukan bantuan yang dipimpin oleh putranya Yazid bin Mu’awiyah untuk membantu Sufyan bin ‘Auf, sekaligus ditunjuk sebagai komandan pasukan ekspedisi tersebut. Pasukan bantuan tersebut terdiri dari beberapa sahabat Rasulullah saw terkemuka seperti: Abdullah bin ‘Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Az-Zubair, dan Abu Ayyub Al-Anshari, seorang sahabat Anshar yang dengan senang hati menjadikan rumahnya sebagai tempat tinggal sementara Rasulullah saw saat tiba di Madinah. Ekspedisi ini terdiri dari pasukan darat dan laut. Pasukan laut tersebut merupakan buah dari keberhasilan pasukan Islam menguasai kapal-kapal pada saat perang Dzatu Ash-Shawari yang terjadi pada tahun 34 H/ 654 M.

 

Angka 50, tahun 50 hijriyah Wafatnya Ka’ab bin Malik as Salimiy.

Ka’ab bin Malik as Salimiy, salah satu dari tiga orang sahabat yang tertinggal pada perang tabuk. Tobat mereka telah diabadikan oleh Allah dalam surat At-Taubah: 118.

 

Angka 51, Wafatnya sahabat ahli Badr Abu Ayyub al Anshoriy pada tahun 51 hijriyah.

 

Angka 52, tahun 52 hijriyah Wafatnya Imron bin Husain, Abu Nujaiyd.

Wafatnya Imron bin Husain, Abu Nujaiyd. Masuk Islam pada tahun khoibar.

 

Angka 53, tahun 53 hijriyah Wafatnya Fadholah bin Ubaid al Anshoriy

Fadholah bin Ubaid al Anshoriy, Qodhi di negeri Damaskus. Beliau adalah sahabat terkecil yang menyaksikan perjanjian Hudaibiyah.

 

Angka 54, tahun 54 hijriyah Wafatnya Usamah bin Zaid bin Haritsah

Wafatnya Usamah bin Zaid bin Haritsah (menurut pendapat yang rojih) pada tahun 54 hijriyah. Beliau adalah orang yang sangat dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ibunya adalah Ummu Aiman, wanita yang dulu pernah mengasuh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di masa kecil.

 

Angka 55, tahun 55 hijriyah Wafatnya Sa’d bin Abi Waqqosh

Sa’d bin Abi Waqqosh, termasuk dari 10 sahabat pemetik janji syurga.

 

Angka 56, tahun 56 hijriyah terjadi Pertempuran di Samarqand

Pertempuran di Samarqand yang dipimpin oleh Sa’id bin Utsman bin Affan.

 

Angka 57, tahun 57 hijriyah Wafatnya Ummul Mu’minin, Aisyah Radhiallahu ‘Anha

Wafatnya Ummul Mu’minin, Aisyah Radhiallahu ‘Anha (menurut al Waqidiy: 58 H). Istri tercinta Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan anak sahabat yang paling dicintai pula.

Angka 58, tahun 58 hijriyah Wafatnya Uqbah bin Amir al Juhaniy.

Wafatnya Uqbah bin Amir al Juhaniy, Amir di Mesir. Beliau termasuk sahabat yang faqih.

 

Angka 59, tahun 59 hijriyah Wafatnya Sa’id bin al Ash bin Sa’id bin al Ash bin Umaiyah

Sa’id bin al Ash bin Sa’id bin al Ash bin Umaiyah. Beliau adalah gubernur Kufah dalam pemerintahan Utsman, Menaklukan Thabaristan, terpuji, lemah lembut, orang yang cerdik dll. Beliau lahir sebelum perang Badr

 

Angka 60, tahun 60 hijriyah Diangkatnya Yazid putra Muawiyah sebagai khalifah

Karena merasakan ajal sudah semakin dekat, Muawiyah kemudian menunjuk anaknya, Yazid, sebagai penggantinya. Cara penunjukan ini tidak dikenal dalam sistem pemilihan pemimpin Islam. Karena itu, banyak masyarakat yang menolak rencana tersebut, termasuk empat orang tokoh berpengaruh, yaitu Husein bin Ali, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Umar, dan Abdurrahman bin Abu Bakar). Kelimanya menolak untuk memberikan baiat atas pengangkatan Yazid.

 

Angka 61, tahun 61 hijriyah Wafatnya Al-Husain bin Abi Thalib

Pada tahun 61 H, Wafatnya cucu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Raihanahnya, Abu Abdillah al Husain bin Ali bin Abdil Muthalib. Beliau wafat di negeri Karbala (daerah Iraq) pada usia 56 tahun. Beliau dibunuh oleh pasukan utusan Ubaidullah bin Ziyad atas perintah Yazid bin Muawiyah karena kekhawatiran Yazid yang mendengar kabar bahwa penduduk kufah ingin membai’at al Husain dan berlepas diri dari pemerintahan Yazid. Al Husain kemudian berangkat menuju kufah untuk tabayun terhadap kabar dari kufah. Saat dikepung, al Husain bertanya kepada mereka, “Negeri apa ini?”. Mereka menjawab, “Karbala”. Lalu al Husain berkata, “Qarubal bala’ (bala’ telah dekat)”. Beliau dibunuh dan kepala beliau dipenggal kemudian diserahkan kepada Ubaidullah bin Ziyad.

 

Angka 62, tahun 62 hijriyah Wafatnya Abu Muslim al Khaulani

Abu Muslim al Khaulani termasuk di kalangan mukhodrom (hidup di zaman nabi namun tidak sempat bertemu dengan beliau). Dia juga seorang yang zuhud dan termasuk petinggi di kalangan tabi’in. Al Kisah: Dahulu beliau pernah ditangkap oleh pasukan al Aswad al Ansiy (nabi palsu). Mereka lalu membakar Abu Muslim dengan api yang besar akan tetapi beliau selamat dengannya. al Ansi melepaskan beliau karena khawatir pengikutnya akan terpengaruh dengan Abu Muslim karena karomah beliau.

 

Angka 63, Rasulullah wafat pada usia 63 tahun.

 

Angka 64, tahun 64 hijriyah bangunan Ka’bah berdasarkan bentuk semula

Abdullah bin Zubair mengembalikan bangunan Ka’bah berdasarkan bentuk semula seperti di zaman nabi Ibrohim ‘Alaihissalam dan memperbaiki bangunan ka’bah yang sebagiannya yang telah terbakar akibat serangan pasukan Yazid dengan manjaniq pada waktu yang bertepatan dengan pertempuran Harroh. Terbakar pula tanduk kibas yang dahulu dijadikan oleh Allah sebagai pengganti Ismail ‘Alaihissalam.

 

Angka 65, tahun 65 hijriyah Wafatnya Khalifah Marwan bin Hakam

Wafatnya Khalifah Marwan bin Hakam di bulan Ramadhan. Dahulu dia adalah seorang yang faqih, juru tulis rahasia penting di zaman utsman bin affan.

 

Angka 66, tahun 66 hijriyah, datangnya wabah penyakit di Mesir

 

Angka 67, tahun 67 hijriyah terjadi Peperangan Khozir

Peperangan Khozir, yaitu pertempuran yang terjadi oleh ahli Syam dengan jumlah 40.000 pasukan. Pertempuran dimenangkan oleh pihak Ibrohim al Asytar. Mereka berhasil membunuh para pembesar musuh, yakni: Abdullah bin Ziyad bin Abihi, Husain bin Numair yang dahulu telah memblokade Abdullah bin Zubair dan Syurohbil bin Dzul Kila’. Kepala-kepala mereka dipenggal kemudian dipamerkan di Mekah dan Madinah.

 

Angka 68, tahun 68 hijriyah Abdullah bin al Abbas sepupu Rasulullah saw.

Wafatnya Sang pembimbing umat dan Hibrul ummah, Abdullah bin al Abbas sepupu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di Tha’if pada umur 71 tahun. Keutamaan beliau sangat banyak, di antaranya: Termasuk keluarga nabi, Turjuman Al-Qur’an, ulama sahabat dll. Muhammad al Hanafiy turut mengurus jenazahnya.

 

Angka 69, tahun 69 hijriyah Wafatnya al Qadhi Bashrah Abul Aswad ad Du’aliy

Al Qadhi Bashrah Abul Aswad ad Du’aliy Sang pencetus ilmu nahwu pertama kali. Abul Aswad Ad-Du'aliy merupakan penggagas ilmu nahwu dan pakar tata bahasa bahasa Arab dari Bani Kinanah dan dijuluki sebagai bapak bahasa Arab. Nama aslinya adalah Zhalim bin Amr, lebih dikenal atau dengan julukannya Abu Al-Aswad Ad-Du’ali (atau Ad-Dili), orang yang diambil ilmunya dan yang memiliki keutamaan, dan Hakim (Qadhi) di Basyrah. Dia dilahirkan pada masa kenabian Muhammad saw. Ia dianggap sebagai orang yang pertama kali mendefinisikan tata bahasa Arab. Dan yang pertama kali meletakkan titik pada huruf hijaiyah. Dia meninggal karena wabah ganas yang terjadi pada tahun 69 H (670-an M) dalam usia 85 tahun.

 

Angka 70, tahun 70 hijriyah Wafatnya Ashim bin Umar bin Khatab

Ashim bin Umar bin Khatab merupakan anak dari umar bin khattab, beliau dilahirkan di saat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam masih hidup.

 

Angka 71, tahun 71 hijriyah Wafatnya Abdullah bin Abi Hadrad al Aslamiy

Abdullah bin Abi Hadrad al Aslamiy, Beliau termasuk salah satu yang ikut pada bai’at di bawah pohon (bai’at Ridwan)

 

Angka 72, tahun 72 hijriyah terjadi Tragedi pertempuran yang terjadi di Iraq

Tragedi pertempuran yang terjadi di Iraq ketika Abdul Malik berupaya untuk merebut Iraq (yang saat itu dikuasai oleh Mush’ab – pihak Ibnu Zubair). Di Samping itu pula Mush’ab ingin merebut negri Syam. Maka terjadilah pertempuran dahsyat antara pasukan Abdul Malik dengan pasukan Mush’ab. Sebagian pasukan Mush’ab berkhianat kepadanya. Setelah berhasil mengalahkan pasukan Mush’ab, Abdul Malik mempersiapkan pasukan al Hajjaj bin Yusuf untuk menggempur Ibnu Zubair di mekah

 

Angka 73, tahun 73 hijriyah terjadi peperangan anatara Pasukan al Hajjaj bin Yusuf dengan Abdullah bin Zubair

Pasukan al Hajjaj bin Yusuf turun ke mekah dan mengepung Abdullah bin Zubair. Peperangan berlangsung beberapa waktu hingga terbunuhlah khalifah Abdullah bin Zubair bin Awwam. Beliau adalah penunggang kuda di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, banyak puasa dan sholat malam, pemberani, fasih dan memiliki pemahaman tajam. Beliau wafat pada bulan Jumadil awal. Beliau disalib dan setelah itu kepala beliau digorok kemudian diarak di Mesir dan lainnya.

Korban-korban lain yang wafat dalam penggempuran oleh Hajjaj di antaranya: Abdullah bin Shafwan bin Umaiyah rois Mekah, Abdullah bin Muthi’ bin Aswad, Abdurahman bin Utsman bin Ubaidillah at Taimiy yang masuk Islam pada hari Hudaibiyah, dan lain-lain.

 

Angka 74, tahun 74 hijriyah Wafatnya Rafi’ bin Khadij al Anshari

Dahulu Rafi’ bin Khadij al Anshari. pernah terkena tombak ketika perang uhud. Mata anak panahnya masih bersarang di tubuh beliau sampai wafatnya, Radhiallahu ‘Anhu.

 

Angka 75, tahun 75 hijriyah Wafatnya Bisyr bin Marwan al Umawiy

Bisyr bin Marwan al Umawiy gubernur Iraq setelah Mush’ab.

 

Angka 76, tahun 76 hijriyah peperangan pasukan Al Hajjaj dengan Syabib Sang Khawarij

Al Hajjaj mengirim pasukan Zaidah bin Qudamah untuk memerangi Syabib Sang Khawarij. Syabib berhasil membunuh Zaidah dan keadaan semakin genting.

 

Angka 77, tahun 77 hijriyah Wafatnya Abu Tamim al Jaisyaniy Abdullah bin Malik

Abu Tamim al Jaisyaniy Abdullah bin Malik, Beliau adalah ulama ahli Mesir.

 

Angka 78, tahun 78 hijriyah Wafatnya Abu Umaiyah Syuraih bin al Harits al Kindiy al Qadhiy

Abu Umaiyah Syuraih bin al Harits al Kindiy al Qadhiy, Seorang Qadhi di Kufah di zaman Umar dan yang setelahnya. Beliau hidup lebih dari 100 tahun.

 

Angka 79, tahun 79 hijriyah Penduduk Syam ditimpa penyakit tha’un

Penduduk Syam ditimpa penyakit tha’un yang hampir-hampir membinasakan semua penduduk karena dahsyatnya (disebutkan oleh Ibnu Jarir).

 

Angka 80, tahun 80 hijriyah Wafatnya Aslam maula Umar bin Khatab

Umar membelinya pada zaman Abu Bakr. Beliau adalah orang yang faqih.

 

Angka 81, tahun 81 hijriyah peperangan Hajjaj dan Abdurrahman bin al-Asy’ats

Hajjaj berhasil menuntaskan banyak pergolakan yang terjadi di wilayah Irak, seperti pemberontakan Abdurrahman bin al-Asy’ats yang dibaiat menjadi khalifah oleh penduduk Irak. Awalnya Ibnu al-Asy’ats tidak menginginkan menjadi khalifah, ia hanya tidak senang dengan perlakuan Hajjaj yang teramat zalim, namun situasi kian memanas, dan orang-orang pun membaiatnya menjadi khalifah. Akibat peperangan Hajjaj dan Abdurrahman bin al-Asy’ats ini, ribuan jiwa tewas.

 

Angka 82, tahun 82 hijriyah Wafatnya Bisyr bin Marwan al Umawiy

Pertempuran Tasta'ir di Iraq antara pasukan al Hajjaj dengan Ibnu Asy'ats. Hampir-hampir Ibnu Asy'ats dapat menguasai Iraq. Pasukannya mencapai 33.000 pasukan berkuda dan 120.000 pasukan berjalan kaki.


Angka 83, tahun 83 hijriyah Wafatnya Abu al Bakhtariy Sa'id bin Fairuz

Abu al Bakhtariy Sa'id bin Fairuz, dia termasuk pembesar fuqaha' di Kufah.


Angka 84, tahun 84 hijriyah, masa dinasti Umayyah Musa bin Nashir berhasil menguasai Eropa dari Maghrib


Angka 85, tahun 85 hijriyah Pertempuran antara kaum muslimin dengan Romawi Kaum muslimin terbunuh sekitar seribu orang.


ANGKA 86, tahun 86 hijriyah Muslim al Bahiliy menjadi pemimpin di Khurasan

Muslim al Bahiliy menjadi pemimpin di Khurasan dan menguasai negri Shaghan dari kekuasaan Turki dengan damai.


 Angka 87, tahun 87 hijriyah terjadi Penaklukan Sirdaniyah dari Al Maghrib

 ANGKA 88, tahun 88 hijriyah terjadi Emperium Bizantium

Pada masa Khalifah Walid bin Abdul Malik, gerakan pembebasan beberapa wilayah yang masif pun dimulai. Hal ini tidak terlepas dari jasa ayahnya Abdul Malik bin Marwan yang mampu menstabilkan kondisi internal dan kembali menyatukan Daulah Umayyah. Hal ini menyebabkan Emperium Bizantium terpaksa sekali lagi kembali mengambil sikap bertahan. Pada awal pemerintahannya, Walid bin Abdul Malik berhasil membebaskan benteng Thiwanah tahun 88 H/707 M yang merupakan pintu masuk antara Syam dan Selat Bosfor setelah memberikan pengalaman pahit bagi Bizantium dengan gugurnya lima puluh ribu pasukannya. Pada tahun berikutnya 89 H/708 M, ia berhasil membebaskan ‘Amuriyyah dan Herikliyah. Sejak saat itu, dimulailah persiapan untuk kembali mengepung dan membebaskan Konstantinopel.

 

Angka 89, tahun 89 hijriyah pembebasan ‘Amuriyyah dan Herikliyah

Khalifah Walid bin Abdul Malik pada tahun berikutnya 89 H/708 M, ia berhasil membebaskan ‘Amuriyyah dan Herikliyah. Sejak saat itu, dimulailah persiapan untuk kembali mengepung dan membebaskan Konstantinopel


 Angka 90, Masa Kedaulatan Umayyah selama 90 tahun

Masa Kedaulatan Umayyah berlangsung selama lebih kurang 90 tahun yaitu dari tahun 661 Masehi hingga 750 Masehi. Beberapa orang Khalifah besar Bani Umayyah ini adalah Muawiyah bin Abi Sufyan (661-680 M), Abdul Malik bin Marwan (685- 705 M), Al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M), Umar bin Abdul Aziz (717- 720 M) dan Hasyim bin Abdul Malik (724- 743 M).


 Angka 91, tahun 91 hijriyah Thariq bin Malik untuk menyeberang menuju Andalusia.

Musa bin Nusair, gubernur Afrika pada masa itu, juga telah mulai berpikir secara teknis tentang penaklukan Andalusia. Untuk itulah pada tahun 91 H ia mengirimkan sebuah pasukan kecil yang beranggotakan 500 prajurit yang dipimpin oleh Thariq bin Malik untuk menyeberang menuju Andalusia.

 

Angka 92, tahun 92 hijriyah Dikuasainya wilayah Al-Andalus (Spanyol) oleh pasukan Thoriq maula Musa

Andalus adalah nama Arab yang diberikan kepada wilayah-wilayah bagian semenanjung Liberia yang diperintah oleh orang Islam selama beberapa waktu mulai tahun 711 sampai 1492 M. Pada 28 Ramadan tahun ke-92 H, panglima Islam bernama Tariq bin Ziyad dikirim pemerintahan Bani Umayyah untuk menawan Andalus.

Tariq memimpin armada Islam menyeberangi laut yang memisahkan Afrika dan Eropa. Setelah pasukan Islam mendarat, Tariq membakar kapal-kapal tentara Islam agar mereka tidak berpikir untuk mundur. Akhirnya pasukan Tariq berhasil menguasai Andalus dan menyelamatkan rakyat Andalus yang dizalimi. Islam bertapak di Andalus selama delapan abad.

 

Angka 93, tahun 93 hijriyah Qutaibah melakukan penaklukan di beberapa negara.

Qutaibah menguasai beberapa negeri dan berhasil mengalahkan Turki. Kemudian dia menguasai beberapa daerah Samarqand (kota di Uzbekistan) dengan pasukan yang besar maka datanglah bala bantuan Turki untuk bersekutu dengan Samarqand dan terjadilah pertempuran besar-besaran. Turki berhasil dipukul mundur.


 Angka 94, tahun 94 hijriyah pembebasan ibukota Bizantium, Konstantinopel

Walid bin Abdul Malik pun segera memperkuat armada laut Islam dan membangun sinergi antara pasukan darat dan pasukan laut, serta membuat suatu kalender yang baik untuk operasi perang. Hingga pada tahun 94 H/712 M mulailah Walid bin Abdul Malik mempersiapkan pasukan Islam untuk membebaskan ibukota Bizantium, Konstantinopel. Ia mempersiapkan sebuah ekspedisi yang terdiri dari pasukan darat dan laut yang dipimpin oleh saudaranya sendiri, Maslamah bin Abdul Malik.

Kabar persiapan Walid bin Abdul Malik untuk membebaskan Kosntantinopel ternyata didengar oleh penguasa Bizantium sehingga mereka pun mulai memperkuat sarana-sarana dan senjata-senjata yang mampu mempertahankan tembok-tembok Konstantinopel. Mereka juga memperkuat persenjataan pertahanan laut sebagai persiapan menghadapi pengepungan yang berlangsung lama seperti yang terjadi pada pengepungan yang kedua. Akan tetapi, wafatnya Walid bin Abdul Malik mengakibatkan penundaan keberangkatan ekspedisi tersebut. Lalu tatkala saudaranya Sulaiman bin Abdul Malik diangkat sebagai khalifah, maka ia pun mempersiapkan pasukan-pasukan tersebut bergerak menuju Konstantinopel.

 

Angka 95, tahun 95 hijriyah wafatnya Al Hajjaj bin Yusuf Ats Saqafiy

Al Hajjaj bin Yusuf Ats Saqafiy wafat pada umur 55 tahun. Dia berkuasa di Hijaz selama dua tahun dan di Iraq selama 20 tahun. Dahulu dia adalah seorang yang pemberani, cerdas sekaligus penumpah darah kaum muslimin.


Angka 96, tahun 96 hijriyah Terbunuhnya Qutaibah bin Muslim

Beliau adalah panglima perang Islam yang terkenal, yang dicatat dan dikenang oleh sejarah. Melalui kedua tangannya direbut dan dikuasai kota yang sekarang dinamakan dengan Al-jumhuriyat Al-Islamiyyah, yang memisahkan diri dari persatuan sufyet, pembukaan kota berlangsung hingga perbatasan negara Cina, yang dengannya banyak penduduk kota tersebut memeluk agama Islam. Terbunuhnya Qutaibah bin Muslim di negeri Khurasan. Dia juga menjadi gubernur disana selam sepuluh tahun. Dia dipecat oleh Sulaiman bin Abdil Malik lalu dia dibunuh.

 

Angka 97, tahun 97 hijriyah Wafatnya Abu Abdirrahman Musa bin Nashir al A’raj al Amir

Abu Abdirrahman Musa bin Nashir al A’raj al Amir yang telah berhasil menguasai Spanyol dan beberapa daerah di Maroko. Beliau wafat dalam rombongan haji bersam al khalifah Sulaiman bin Abdil Malik


 Angka 98, tahun 98 hijriyah pembebasan ibukota Bizantium, Konstantinopel yang ke tiga

Usaha Pertemparan pasukan Maslamah melawan Konstatinopel. Merupakan tradisi bahwa usaha pembebasan Konstantinopel sejak era Mu’awiyah bin Abi Sufyan adalah memberangkatkan setiap panglima perang bersama pasukan yang berjumlah besar. Ekspedisi yang dipimpin Maslamah bin Abdul Malik pun berangkat dengan armada laut yang besar, yaitu sekitar depalan belas ribu kapal. Maslamah berangkat bersama seratus dua puluh ribu pasukan menuju kota Atiqah tahun 98 H/716 M untuk memulai pengepungan ketiga. Pengepungan Konstantinopel ketiga ini menurut sebagian sejarawan merupakan titik pergeseran penting berkaitan hubungan umat Islam dan umat lainnya.


Angka 99, jumlah asma’ul husna ada 99

Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al –Baqarah ayat 31: “Dia telah mengajari Adam seluruh nama”. Dan dalam surat Al-A`raaf ayat 180: “Milik Allahlah nama-nama yang indah, dan mohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama tersebut”.

Rasulullah bersabda, “Allah mempunyai 99 nama, seratus kurang satu; barang siapa memahaminya akan masuk surga.” (Shahiih Bukhaari, Shahiih Muslim). Tentunya dalam memahaminya tidak hanya dengan ucapan saja tetapi juga dengan perbuatan dan tingkah laku kita.


Angka 100, bilangan 100 disebut dalam QS Al Anfal ayat 66

Bilangan 100, menunjuk kepada orang, QS Al Anfal ayat 66, “Sekarang Allah telah meringankan kamu karena Dia mengetahui bahwa ada kelemahan padamu. Maka jika di antara kamu ada seratus orang yang sabar, niscaya mereka mengalahkan dua ratus (orang musuh), dan jika ada di antara kamu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Allah beserta orang-orang yang sabar.”

 

Misteri Angka Dalam Mukjizat Al-Qur'an

Apa yang terbetik dalam benak kita begitu mendengar angka tujuh ?

Kebanyakan orang tidak memiliki kesan apa-apa pada angka itu, sebab biasanya angka yang dibicarakan orang adalah 1, 13, atau 9.

Tapi sebenarnya bila mau jujur, bagi kita umat Islam justru angka 7 lah yang paling terasa spesial. Kenapa?

Karena kalau diselidiki, bangunan Al-Quran terdiri dari angka 7, misalnya saja jumlah surat dalam Al-Quran ada 114 sementara jumlah ayatnya ada 6236. Bila kedua angka itu dideretkan maka akan didapat angka 1146236 maka jumlah bilangannya ada 7 digit dan angka itu juga merupakan kelipatan angka 7. Atau fakta bahwa bahwa ayat yang mengkisahkan penciptaan langit dan bumi selama 6 hari berada tepat dalam 7 ayat, dan masih banyak contoh lain yang berkaitan dengan keajaiban angka 7 yang dibahas disini.

Buku ini juga menjadi salah satu dari sekian jenis buku yang membahas angka-angka dalam Al-Quran, seperti pembahasan angka 11, 12, 19, dan 365 sekaligus di dalamnya juga ada sedikit pembahasan tentang kesalahan seorang peneliti angka yang membuat hubungan antara Al-Quran dan angka 19 dan kesalahan metode Hisab al-Jummal dalam menghitung nama surat.

Selain itu, penulisnya juga memberikan argumen mengapa satu kata memiliki arti sama, terkadang ditulis dalam mushaf dengan bentuk huruf yang berbeda serta berbagai masalah lain untuk menunjukkan keagungan Al-Quran dan membuktikan kebenarannya sebagai firman Allah dengan merujuk angka 7 sebagai basis bagi penyusunan Al-Quran.

Terdiri dari 11 bab, penulis memulai pembahasan dari struktur angka 7 dalam kata-kata sekaligus memperkenalkan sistem perhitungan yang digunakannya. Lalu setelah itu berlanjut dalam pembahasan Basmallah, Surat Al-Fatihan, huruf-huurf istimewa dan kaitan-kaitan beberapa ayat lain, tidak lupa juga dibahas tentang keajaiban Asmaul Husna, lalu beberapa pengulangan ayatdan terakhir ditutup oleh keajaiban angka 7 dalam kisah-kisah para Nabi.

Dengan pembahasan yang sangat teliti dan berargumen maka tidak ditemukannya celah untuk sebuah kesalahan, sungguh suatu karya yang brilian dan tidak bsia dipungkiti kalau ini adalah metode baru dalam mendakwahkan Al-Quran dengan cara yang dipahami manusia, apapun bahasa mereka. Dengan metode yang dapat dipertanggung jawabkan penulisnya menyodorkan berbagai fakta ilmiah tentang keterkaitan antara satu ayat dengan ayat lainnya, antara satu surah dan surah lainnya, melalui penyelidikannya terhadap angka 7

Jadi setelah membacanya, bisa dipastikan para pembaca akan memiliki pengertian lebih dalam tentang sebuah angka 7.

 

Angka Keberuntungan Menurut Islam

Menurut beberapa kepercayaan, setiap angka memiliki arti yang berbeda-beda dan memberi pengaruh terhadap kehidupan manusia. Ada angka keberuntungan, ada pula angka yang diyakini membawa malapetaka.

Dalam kepercayaan feng shui, misalnya. Mengutip buku Angka dan Makna tulisan Timotius Tirsan, angka 1 dianggap sebagai keberuntungan yang bisa membawa rezeki. Lain dengan angka 3 yang disebut angka cekcok karena dipercaya sering menyebabkan perkelahian dan ketidakharmonisan.

Selain itu, ada banyak mitos seputar angka 13 dan 4. Angka-angka ini dianggap membawa pengaruh negatif bagi kehidupan seseorang. Itulah mengapa banyak yang menghindari kedua angka tersebut.

Islam menentang segala bentuk takhayul dalam masyarakat, termasuk soal angka. Tidak ada angka keberuntungan ataupun pembawa sial dalam Islam.

Semua angka atau bilangan, genap maupun ganjil, itu baik dalam ajaran Islam. Sial atau beruntung juga tidak bisa ditentukan oleh sebuah angka. Jika seseorang mendapatkan keberuntungan, itu mutlak datang atas karunia Allah SWT.

“Maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi.” (QS. Al-Baqarah: 64)

Meski begitu, ada beberapa angka yang dianggap istimewa oleh umat Muslim. Apa saja?

1.      Angka Ganjil. Mengutip buku Misteri Angka di Balik Al-Qur’an oleh Mohammad Sondan Arfando, angka-angka ganjil sangat disukai Allah. Ini terlihat dari nama-nama baik Allah atau Asmaul Husna yang terdiri dari 99 nama. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda : “DanAllah memiliki sembilan puluh sembilan nama seratus kurang satu, barang siapa menghitungnya (menghafal dan mentafakurinya) akan masuk surga. Dia itu witir (ganjil) dan menyukai yang ganjil.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat lain, dari Ali r.a. berkata, “Shalat witir itu tidak diharuskan sebagaimana shalat fardhu, tetapi Rasulullah SAW selalu mengerjakannya serta bersabda, ‘Sesungguhnya Allah itu witir (esa/ganjil) dan suka pada yang ganjil.” (Hadits Hasan diriwayatkan oleh Abu Daud dan Turmudzi).

2.      Angka 5. Beberapa umat Muslim percaya bahwa lima adalah angka yang suci. Sebab, angka ini berkaitan dengan ibadah dan fikih Islam. Di antaranya, umat Muslim wajib sholat lima waktu sehari, ada lima unsur utama dalam rukun Islam, serta ada lima nabi pembawa kitab suci.

3.      Angka 24. Menurut laman NU Online, Syekh Muhammad Syatha Dimyathi dalam Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya menjelaskan, angka 24 menunjukkan jumlah jam dalam satu hari. Jumlah ini sama dengan jumlah huruf pada lafal La ilaha illallah Muhammad Rasuulullah. Barang siapa yang membaca setiap huruf dalam kalimat tersebut, maka dosanya dapat melebur selama satu jam.

4.      Angka 40. Banyak yang menganggap angka ini mengandung keistimewaan. Bukan tanpa sebab, angka 40 memang sering disebutkan dalam Alquran dan hadits. Salah satunya dalam surat Al-Araf ayat 142 yang artinya: “Dan telah Kami janjikan kepada Musa sesudah berlalu waktu 30 malam (turunnya Taurat), dan Kami sempurnakan malam itu dengan 10 malam lagi, maka sempurnalah waktu yang ditentukan Tuhannya itu menjadi 40 malam…”


Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)