SERAT SABDHA JATI R.Ng Ronggowarsito

0

 SERAT SABDHA JATI

R.Ng Ronggowarsito



https://syehhakediri.blogspot.com/2024/10/serat-sabdha-jati-rng-ronggowarsito.html


Raden Mas Ngabehi Ronggowarsito. Demikian nama salah seorang pujangga terkenal yang pernah menorehkan jejak gemilang dalam kesusastraan Jawa di abad 19. Namanya senantiasa dikenang sebagai pujangga besar yang karya-karyanya tetap abadi hingga kini.

Dari tangan pujangga asal Keraton Surakarta ini lahir berbagai karya sastra bermutu tinggi yang sarat nilai kemanusiaan. Buku-bukunya antara lain membahas falsafah, ilmu kebatinan, primbon, kisah raja, sejarah, lakon wayang, dongeng, syair, adat kesusilaan, dan sebagainya. Namun sebagian masyarakat Jawa, terutama rakyat jelata, sering mengidentikkan Ronggowarsito dengan karangan-karangan yang memadukan kesusastraan dengan ramalan yang penuh harapan, perenungan dan perjuangan.

Dilahirkan pada 15 Maret 1802 dengan nama asli Bagus Burham. Ayahnya seorang carik Kadipaten Anom yang bernama Raden Mas Pajangswara. Ibunya Raden Ayu Pajangswara merupakan keturunan ke-9 Sultan Trenggono dari Demak. Bakat dan keahliannya dalam bidang kesusastraan semakin terasah dengan bimbingan kakeknya Raden Tumenggung Sastronegoro. Semenjak kecil, ia dibekali ajaran Islam dan pengetahuan yang bersandar pada ajaran kejawen, Hindu, Budha, serta ilmu kebatinan.

Karya-karya besarnya yang terkenal sampai saat ini adalah Serat Kalatidha yang berisi gambaran zaman penjajahan yang disebut “zaman edan”. Ada kitab Jaka Lodhang yang berisi ramalan akan datangnya zaman baik, serta Sabdatama yang berisi ramalan tentang sifat zaman makmur dan tingkah laku manusia yang tamak.


Menjelang akhir hayatnya, Ronggowarsito menulis buku terakhir Sabdajati yang di antaranya berisi ramalan waktu kematiannya sendiri. Buku ini pun berisi ucapan perpisahan dan permohonan pamit karena Ki Pujangga akan segera meninggalkan dunia fana ini.

Pada 24 Desember 1873, pujangga besar dari tanah Jawa itu meninggal dunia dengan tenteram. Tempat peristirahatan terakhirnya terletak di Palar, sebuah desa kecil di wilayah Klaten-Jogjakarta. 



SERAT SABDHA JATI

MEGATRUH

1. 

Hawya pegat ngudiya Ronging budyayu

Margane suka basuki

Dimen luwar kang kinayun

Kalising panggawe sisip

Ingkang taberi prihatos

Artinya : 

Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan,

agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala cita-cita,

terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar prihatin.


2. 

Ulatna kang nganti bisane kepangguh

Galedehan kang sayekti

Talitinen awya kleru

Larasen sajroning ati

Tumanggap dimen tumanggon

Artinya :

Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama,

intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati, agar mudah menanggapi sesuatu.


3. 

Pamanggone aneng pangesthi rahayu

Angayomi ing tyas wening

Eninging ati kang suwung

Nanging sejatining isi

Isine cipta sayektos

Artinya :

Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan,

mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini kosong namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati.


4. 

Lakonana klawan sabaraning kalbu

Lamun obah niniwasi

Kasusupan setan gundhul

Ambebidung nggawa kendhi

Isine rupiah kethon

Artinya :

Segalanya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran.

Sebab jika bergeser (dari hidup yang penuh kebajikan)

akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul,

yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak.


5. 

Lamun nganti korup mring panggawe dudu

Dadi panggonaning iblis

Mlebu mring alam pakewuh

Ewuh mring pananing ati

Temah wuru kabesturon

Artinya :

Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan,

sudah jelas akan menjadi sarang iblis, senantiasa mendapatkan kesulitas-kesulitan, kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan itikad hati yang baik,

seolah-olah mabuk kepayang.


6. 

Nora kengguh mring pamardi reh budyayu

Hayuning tyas sipat kuping

Kinepung panggawe rusuh

Lali pasihaning Gusti

Ginuntingan dening Hyang Manon

Artinya :

Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan yang menuju kepada kebajikan. Segala yang baik-baik lari dari dirinya, sebab sudah diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek.

Sudah melupakan Tuhannya. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping.


7. 

Parandene kabeh kang samya andulu

Ulap kalilipen wedhi

Akeh ingkang padha sujut

Kinira yen Jabaranil

Kautus dening Hyang Manon

Artinya :

Namun demikian yang melihat, bagaikan matanya kemasukan pasir, tidak dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga yang jahat disukai dianggap utusan Tuhan.


8. 

Yeng kang uning marang sejatining dawuh

Kewuhan sajroning ati

Yen tiniru ora urus

Uripe kaesi-esi

Yen niruwa dadi asor

Artinya :

Namun bagi yang bijaksana, sebenarnya repot didalam pikiran

melihat contoh-contoh tersebut. Bila diikuti hidupnya akan

tercela akhirnya menjadi sengsara.


9. 

Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung

Anggelar sakalir-kalir

Kalamun temen tinemu

Kabegjane anekani

Kamurahane Hyang Manon

Artinya :

Itu artinya tidak percaya kepada Tuhan, yang menitahkan bumi dan langit, siapa yang berusaha dengan setekun-tekunnya akan mendapatkan kebahagiaan. Karena Tuhan itu Maha Pemurah adanya.


10. 

Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun

Yen temen-temen sayekti

Dewa aparing pitulung

Nora kurang sandhang bukti

Saciptanira kelakon

Artinya :

Segala permintaan umatNya akan selalu diberi, bila dilakukan dengan setulus hati.

Tuhan akan selalu memberi pertolongan, sandang pangan tercukupi segala cita-cita dan kehendaknya tercapai.


11. 

Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur

Saka pengunahing Widi

Ambuka warananipun

Aling-aling kang ngalingi

Angilang satemah katon

Artinya :

Sambil memberi petuah Ki Pujangga juga akan membuka selubung yang termasuk rahasia Tuhan, sehingga dapat diketahui.


12. 

Para jalma sajroning jaman pakewuh

Sudranira andadi

Rahurune saya ndarung

Keh tyas mirong murang margi

Kasekten wus nora katon

Artinya :

Manusia-manusia yang hidup didalam jaman kerepotan,

cenderung meningkatnya perbuatan-perbuatan tercela,

makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan

diatas riil kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak tampak.


13. 

Katuwane winawas dahat matrenyuh

Kenyaming sasmita sayekti

Sanityasa tyas malatkunt

Kongas welase kepati

Sulaking jaman prihatos

Artinya :

Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin, merasakan ramalan tersebut,

senantiasa merenung diri melihat jaman penuh keprihatinan tersebut.


14. 

Waluyane benjang lamun ana wiku

Memuji ngesthi sawiji

Sabuk tebu lir majenum

Galibedan tudang tuding

Anacahken sakehing wong

Artinya :

Jaman yang repot itu akan selesai kelak bila sudah mencapat tahun 1877

(Wiku=7, Memuji=7, Ngesthi=8, Sawiji=1. Itu bertepatan dengan tahun Masehi 1945).

Ada orang yang berikat pinggang tebu perbuatannya seperti orang gila, hilir mudik menunjuk kian kemari, menghitung banyaknya orang.


15. 

Iku lagi sirap jaman Kala Bendu

Kala Suba kang gumanti

Wong cilik bisa gumuyu

Nora kurang sandhang bukti

Sedyane kabeh kelakon

Artinya :

Disitulah baru selesai Jaman Kala Bendu. Diganti dengan jaman Kala Suba.

Dimana diramalkan rakyat kecil bersuka ria, tidak kekurangan sandang dan makan seluruh kehendak dan cita-citanya tercapai.


16. 

Pandulune Ki Pujangga durung kemput

Mulur lir benang tinarik

Nanging kaseranging ngumur

Andungkap kasidan jati

Mulih mring jatining enggon

Artinya :

Sayang sekali “pengelihatan” Sang Pujangga belum sampai selesai, bagaikan menarik benang dari ikatannya.

Namun karena umur sudah tua sudah merasa hampir

datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini.


17. 

Amung kurang wolung ari kang kadulu

Tamating pati patitis

Wus katon neng lokil makpul

Angumpul ing madya ari

Amerengi Sri Budha Pon

Artinya :

Yang terlihat hanya kurang 8 hari lagi, sudah sampai waktunya, kembali menghadap Tuhannya. Tepatnya pada hari Rabu Pon.


18. 

Tanggal kaping lima antarane luhur

Selaning tahun Jimakir

Taluhu marjayeng janggur

Sengara winduning pati

Netepi ngumpul sak enggon

Artinya :

Tanggal 5 bulan Sela

(Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu,

Windu Sengara (atau tanggal 24 Desember 1873)

kira-kira waktu Lohor, itulah saat yang ditentukan

sang Pujangga kembali menghadap Tuhan.


19. 

Cinitra ri budha kaping wolulikur

Sawal ing tahun Jimakir

Candraning warsa pinetung

Sembah mekswa pejangga ji

Ki Pujangga pamit layoti

Artinya :

Karya ini ditulis dihari Rabu tanggal 28 Sawal tahun Jim, akhir 1802.

(Sembah=2, Muswa=0, Pujangga=8, Ji=1) bertepatan dengan tahun masehi 1873).




Imajiner Nuswantoro 


Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)