TASAWUF DJAWA

0

Tasawuf DJAWA

 




Ilmu tasawuf adalah salah satu cabang dari ilmu-ilmu Islam utama, yaitu ilmu tauhid (ushuluddin), ilmu fiqih dan  ilmu tasawuf. Ilmu tauhid untuk bertugas membahas soal-soal i’tiqad, seperti :

1. I’tiqad mengenai keTuhanan.

2. Kerasulan.

3. Hari akhirat dan lain-lain sebagainya.


Ilmu fiqih bertugas membahas soal-soal ibadah lahir, seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lain. Ilmu tasawuf bertugas membahas soal-soal yang bertalian dengan akhlak dan budi pekerti, bertalian dengan hati, yaitu cara-cara ikhlas, khusyuk, tawadhu, muraqabah, mujahadah, sabar, ridha, tawakal dan lain-lain. Ringkasnya, tauhid takluk kepada i’tiqad, fiqih takluk kepada ibadah, dan tasawuf takluk kepada akhlak.

Kepada setiap orang Islam dianjurkan supaya beri’tiqad sebagaimana yang diatur dalam ilmu tauhid (ushuluddin), supaya beribadah sebagaimana yang diatur dalam ilmu fiqih dan supaya berakhlak sesuai dengan ilmu tasawuf.

Agama kita meliputi 3 (tiga) unsur terpenting yaitu :

1. Islam.

2. Iman dan.

3. Ihsan.


Tentang Islam kita dapat temukan dalam ilmu fiqih, sasarannya syariat lahir. Umpamanya :

1. Shalat.

2. Puasa.

3. Zakat.

4. Naik haji.

5. Perdagangan.

6. Perkawinan.

7. Peradilan.

8. Peperangan.

9. Perdamaian dan lainnya.


Tentang iman kita dapat temukan dalam ilmu tauhid (ushuluddin), sasarannya  i’tiqad (akidah / kepercayaan). Umpamanya bagaimana kita (keyakinan dalam hati) terhadap Tuhan, malaikat-malaikat, rasul-rasul, kitab-kitab suci, kampung akhirat, hari kebangkitan, surga, neraka, qadha dan qadhar (takdir).


Tentang Ihsan Kita Dapat Temukan Dalam Ilmu Tasawuf.

Sasarannya akhlak, budi pekerti, batin yang bersih, bagaimana menghadapi Tuhan, bagaimana muraqabah dengan Tuhan, bagaimana membuang kotoran yang melengket dalam hati yang mendinding (hijab) kita dengan Tuhan, bagaimana takhalli, tahalli dan tajalli. Inilah yang dinamakan sekarang dengan tasawuf.

Setiap Muslim harus mengetahui tiga unsur ini sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya dan memegang serta mengamalkannya sehari-hari. Pelajarilah ketiga ilmu itu dengan guru-guru, dari buku-buku, tulisan  atau dalam jamaah, manhaj, metode atau jalan. Waspadalah jika jamaah yang menolak salah satu dari ketiga ilmu itu karena akan memungkinkan ketidaksempurnaan hasil yang akan dicapai.

Ilmu tasawuf itu tidak bertentangan dengan Alquran dan sunnah Nabi dan bahkan Alquran dan Sunnah Nabi itulah yang menjadi sumbernya. Andaikata ada kelihatan orang-orang tasawuf yang menyalahi syariat, umpamanya ia tidak shalat, tidak shalat Jumat ke masjid atau shalat tidak berpakaian, makan siang hari pada bulan puasa, maka itu bukanlah orang tasawuf dan jangan kita dengarkan ocehannya.

 

SUFISME

Sufisme ( صوفية / shufiyyah‎) atau tasawuf ( تصوف / tashawwuf‎) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlak, membangun lahir dan batin serta untuk memperoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam. Tarekat (pelbagai aliran dalam Sufi) sering dihubungkan dengan Syiah, Sunni, cabang Islam yang lain, atau gabungan dari beberapa tradisi[butuh rujukan]. Pemikiran Sufi muncul di Timur Tengah pada abad ke-8, sekarang tradisi ini sudah tersebar ke seluruh belahan dunia. Sufisme merupakan sebuah konsep dalam Islam, yang didefinisikan oleh para ahli sebagai bagian batin, dimensi mistis Islam, yang lain berpendapat bahwa sufisme adalah filosofi perenial yang telah ada sebelum kehadiran agama, ekspresi yang berkembang bersama agama Islam.

 

TATA BAHASA

Ada beberapa sumber perihal etimologi dari kata Sufi. Pandangan yang umum adalah kata itu berasal dari Suf (صوف), bahasa Arab untuk wol, merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asetik Muslim. Namun tidak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari wol. Ada juga yang berpendapat bahwa sufi berasal dari kata saf, yakni barisan dalam sholat. Suatu teori etimologis yang lain menyatakan bahwa akar kata dari Sufi adalah Safa (صفا), yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh penekanan pada Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa.

Teori lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani theosofie artinya ilmu ketuhanan.

 

Sejarah aliran sufisme

Banyak pendapat yang pro dan kontra mengenai asal usul ajaran tasawuf, apakah ia berasal dari luar atau dari dalam agama Islam sendiri. Berbagai sumber mengatakan bahwa ilmu tasawuf sangat lah membingungkan.

Sebagian pendapat mengatakan bahwa paham tasawuf merupakan paham yang sudah berkembang sebelum Nabi Muhammad menjadi Rasulullah. Dan orang-orang Islam baru di daerah Irak dan Iran (sekitar abad 8 Masehi) yang sebelumnya merupakan orang-orang yang memeluk agama non Islam atau menganut paham-paham tertentu. Meski sudah masuk Islam, hidupnya tetap memelihara kesahajaan dan menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan keduniaan. Hal ini didorong oleh kesungguhannya untuk mengamalkan ajarannya, yaitu dalam hidupannya sangat berendah-rendah diri dan berhina-hina diri terhadap Tuhan. Mereka selalu mengenakan pakaian yang pada waktu itu termasuk pakaian yang sangat sederhana, yaitu pakaian dari kulit domba yang masih berbulu, sampai akhirnya dikenal sebagai semacam tanda bagi penganut-penganut paham tersebut. Itulah sebabnya maka pahamnya kemudian disebut paham sufi, sufisme atau paham tasawuf. Sementara itu, orang yang menganut paham tersebut disebut orang sufi.

Sebagian pendapat lagi mengatakan bahwa asal usul ajaran tasawuf berasal dari zaman Nabi Muhammad SAW. Berasal dari kata beranda (suffa), dan pelakunya disebut dengan ahl al-suffa, seperti telah disebutkan diatas. Mereka dianggap sebagai penanam benih paham tasawuf yang berasal dari pengetahuan Nabi Muhammad.

Pendapat lain menyebutkan tasawuf muncul ketika pertikaian antar umat Islam pada zaman Khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, khususnya karena faktor politik. Pertikaian antar umat Islam karena karena faktor politik dan perebutan kekuasaan ini terus berlangsung dimasa khalifah-khalifah sesudah Utsman dan Ali. Munculah masyarakat yang bereaksi terhadap hal ini. Mereka menganggap bahwa politik dan kekuasaan merupakan wilayah yang kotor dan busuk. Mereka melakukan gerakan ‘uzlah, yaitu menarik diri dari hingar-bingar masalah duniawi yang sering kali menipu dan menjerumuskan. Lalu munculah gerakan tasawuf yang di pelopori oleh Hasan Al-Bashiri pada abad kedua Hijriyah. Kemudian diikuti oleh figur-figur lain seperti Sufyan ats-Tsauri dan Rabi’ah al-‘Adawiyah.

 

sufisme  MENURUT BERBAGAI PANDANGAN 

Yaitu paham mistik dalam agama Islam sebagaimana Taoisme di Tiongkok dan ajaran Yoga di India (Mr. G.B.J Hiltermann & Prof.Dr.P. Van De Woestijne).

Yaitu aliran kerohanian mistik (mystiek geestroming) dalam agama Islam (Dr. C.B. Van Haeringen).

Pendapat yang mengatakan bahwa sufisme/tasawuf berasal dari dalam agama Islam :

Asal usul ajaran sufi didasari pada sunnah Nabi Muhammad. Keharusan untuk bersungguh-sungguh terhadap Allah merupakan aturan di antara para muslim awal, yang bagi mereka adalah sebuah keadaan yang tak bernama, kemudian menjadi disiplin tersendiri ketika mayoritas masyarakat mulai menyimpang dan berubah dari keadaan ini. (Nuh Ha Mim Keller, 1995)

Seorang penulis dari mazhab Maliki, Abd al-Wahhab al-Sha'rani mendefinisikan Sufisme sebagai berikut : "Jalan para sufi dibangun dari Qur'an dan Sunnah, dan didasarkan pada cara hidup berdasarkan moral para nabi dan yang tersucikan. Tidak bisa disalahkan, kecuali apabila melanggar pernyataan eksplisit dari Qur'an, sunnah, atau ijma." [11. Sha'rani, al-Tabaqat al-Kubra (Kairo, 1374), I, 4.].

Sufi tidak lain adalah ajaran untuk mencapai maqam Ihsan (sebagaimana tersebut dalam hadist) atau mencapai status muqarrabun (orang-orang yang didekatkan kepada Allah).

Tasawuf adalah penafsiran bathin (psikologis) dari ayat-ayat Quran seperti: Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui (Quran, 29:41). Dalam Tasawuf, yang dimaksud pelindung dalam ayat ini juga termasuk pelindung secara psikologis, sebagaimana kita ketahui manusia banyak menggantungkan keberhargaan dirinya kepada dunia (seperti harta, jabatan, pasangan, teman, dan lain-lain). Dalam Tasawuf, keberhargaan diri hanya boleh digantungkan kepada Allah. Karena jika memang mereka percaya Allah adalah yang paling kuat dan berharga, maka menggantungkan kepada selain Allah adalah taghut (sesembahan). Inilah kenapa dalam tareqahnya, seorang Sufi (penempuh Tasawuf) harus bisa menjadikan Allah sebagai satu-satunya sumber kekuatan dan penghargaan dirinya. Dalam istilah lain, Tasawuf adalah ajaran untuk mencapai Tauhid secara bathin (psikologis).

Sisi psikologis (bathin) yang terdapat dalam ajaran-ajaran Kristen, Budha, dan lain-lain sebaiknya tidak menafikan keberadaan Tasawuf sebagai sisi psikologis (bathin) dalam ajaran Islam. Hal ini karena Islam adalah ajaran penyempurna sehingga tidak harus sepenuhnya baru dari ajaran-ajaran yang terdahulu. Adanya sisi bathin dalam ajaran-ajaran yang sebelumnya ada malahan memperkuat status Tasawuf karena tentunya harus ada garis merah antara agama-agama yang besar, karena kemungkinan besar ajaran-ajaran tersebut dulunya sempat benar, sehingga masih ada sisa-sisa kebenaran yang mirip dengan Tasawuf sebagai sisi bathin (psikologis) dari ajaran Islam.


Pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari luar agama Islam :

Sufisme berasal dari bahasa Arab suf, yaitu pakaian yang terbuat dari wol pada kaum asketen (yaitu orang yang hidupnya menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan). Dunia Kristen, neo platonisme, pengaruh Persi dan India ikut menentukan paham tasawuf sebagai arah asketis-mistis dalam ajaran Islam (Mr. G.B.J Hiltermann & Prof. Dr. P. Van De Woestijne).

(Sufisme) yaitu ajaran mistik (mystieke leer) yang dianut sekelompok kepercayaan di Timur terutama Persi dan India yang mengajarkan bahwa semua yang muncul di dunia ini sebagai sesuatu yang khayali (als idealish verschijnt), manusia sebagai pancaran (uitvloeisel) dari Tuhan selalu berusaha untuk kembali bersatu dengan DIA (J. Kramers Jz).


Al Quran pada permulaan Islam diajarkan cukup menuntun kehidupan batin umat Muslimin yang saat itu terbatas jumlahnya. Lambat laun dengan bertambah luasnya daerah dan pemeluknya, Islam kemudian menampung perasaan-perasaan dari luar, dari pemeluk-pemeluk yang sebelum masuk Islam sudah menganut agama-agama yang kuat ajaran kebatinannya dan telah mengikuti ajaran mistik, keyakinan mencari-cari hubungan perseorangan dengan ketuhanan dalam berbagai bentuk dan corak yang ditentukan agama masing-masing. Perasaan mistik yang ada pada kaum Muslim abad 2 Hijriyah (yang sebagian diantaranya sebelumnya menganut agama Non Islam, semisal orang India yang sebelumnya beragama Hindu, orang-orang Persia yang sebelumnya beragama Zoroaster atau orang Siria yang sebelumnya beragama Masehi) tidak ketahuan masuk dalam kehidupan kaum Muslim karena pada mereka masih terdapat kehidupan batin yang ingin mencari kedekatan diri pribadi dengan Tuhan. Keyakinan dan gerak-gerik (akibat paham mistik) ini makin hari makin luas mendapat sambutan dari kaum Muslim, meski mendapat tantangan dari ahli-ahli dan guru agamanya. Maka dengan jalan demikian berbagai aliran mistik ini yang pada permulaannya ada yang berasal dari aliran mistik Masehi, Platonisme, Persi dan India perlahan-lahan memengaruhi aliran-aliran di dalam Islam (Prof. Dr. H. Abubakar Aceh).


Paham tasawuf terbentuk dari dua unsur, yaitu :

1. Perasaan kebatinan yang ada pada sementara orang Islam sejak awal perkembangan Agama Islam.

2. Adat atau kebiasaan orang Islam baru yang bersumber dari agama-agama non Islam dan berbagai paham mistik. Oleh karenanya, paham tasawuf itu bukan ajaran Islam walaupun tidak sedikit mengandung unsur-unsur ajaran Islam. Dengan kata lain, dalam agama Islam tidak ada paham Tasawuf walaupun tidak sedikit jumlah orang Islam yang menganutnya (MH. Amien Jaiz, 1980).

Tasawuf dan sufi berasal dari kota Bashrah di negeri Irak. Dan karena suka mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu domba (Shuuf), maka mereka disebut dengan Sufi. Soal hakikat Tasawuf, hal itu bukanlah ajaran Rasulullah SAW dan bukan pula ilmu warisan dari Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu. Menurut Asy Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir rahimahullah berkata: “Tatkala kita telusuri ajaran Sufi periode pertama dan terakhir, dan juga perkataan-perkataan mereka baik yang keluar dari lisan ataupun yang terdapat di dalam buku-buku terdahulu dan terkini mereka, maka sangat berbeda dengan ajaran Al Qur’an dan As Sunnah. Dan kita tidak pernah melihat asal usul ajaran Sufi ini di dalam sejarah pemimpin umat manusia Muhammad SAW, dan juga dalam sejarah para sahabatnya yang mulia, serta makhluk-makhluk pilihan Allah Ta’ala di alam semesta ini. Bahkan sebaliknya, kita melihat bahwa ajaran Sufi ini diambil dan diwarisi dari kerahiban Nashrani, Brahma Hindu, ibadah Yahudi dan zuhud Buddha" - At Tashawwuf Al Mansya’ Wal Mashadir, hal. 28.(Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc).


Tokoh sufi dunia

Beberapa sufi yang terkenal antara lain :

1. Rabi'ah al-Adawiyyah (713–717)

2. Abu Nawas (756–814)

3. Abu Yazid Al-Busthami (804–874)

4. Junaid al-Baghdadi (830–910)

5. Al-Hallaj (858–922)

6. Imam Al-Ghazali (1056–1111)

7. Syekh Abdul Qadir Jaelani (1077–1166)

8. Moinuddin Chishti (1142–1236)

9. Ibnu Arabi (1165–1240)

10. Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam (1179–1232)

11. Abul Hasan Asy-Syadzili (1197–1258)

12. Jalaluddin Rumi (1207–1273)

13. Syekh Siti Jenar (1404–1517)

14. Sunan Bonang (1465–1525)

15. Ahmad al-Tijani (1735–1815)

16. Bawa Muhaiyaddeen (w. 1986)

 

Tokoh sufi Indonesia

Tokoh-tokoh yang memengaruhi tasawuf  lain di jaman Nusantara & Indonesia yaitu : Syeikh ‘Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad r.a (Abah Sepuh) Pendiri Pondok Pesantren Suryalaya,Syamsuddin As-Sumatrani, Hamzah Al-Fasuri, Nuruddin Ar-Raniri, Syekh Abdurrauf As-Singkili dan Syekh Yusuf Al-Makasari.

Adapun tokoh-tokoh Tasawuf yang berpengaruh di Cirebon diantaranya ialah Syekh Syarif Hidayatullah atau yang lebih populer dengan sebutan Sunan Gunungjati, Syekh Nurjati, guru dari Sunan Gunungjati, Syekh Abdullah Iman atau yang terkenal dengan sebutan Pangeran Cakrabuana, Syekh Mulyani atau yang terkenal dengan sebutan Syekh Royani yang melahirkan para ulama di Srengseng, sebuah desa yang terkenal di Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Mbah Kriyan, Syekh Tholhah yang menjadi guru dari Syeikh 'Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad r.a., Syekh Jauharul Arifin pendiri Pondok Pesantren Al-Jauhariyah Balerante, Palimanan, Kabupaten Cirebon, dan tokoh-tokoh Cirebon yang lain.

Tokoh-tokoh tasawuf di Indonesia di jamannya yang paling berpengaruh antara lain Hamzah Fansuri, Nuruddin Ar-Raniri, Syekh Abdurauf As-Singkili, Syekh Yusuf Al-Makasari, Syekh Abdul Shamad al-Palembani, Wali Songo (seperti Sunan Bonang), dan tokoh-tokoh modern seperti Buya Hamka . Mereka berperan penting dalam menyebarkan ajaran Islam dan tasawuf di Nusantara melalui karya dan dakwah mereka. 

 

Contoh ajaran

Contoh paham Sufi atau paham tasauf :

4 tingkatan spiritual (Empat tingkatan kedalaman beragama).

Syari'at dalam perspektif paham tasawuf ada yang menggambarkannya dalam bagan Empat Tingkatan Spiritual Umum dalam Islam :

- Syariat, 

- Tariq ah atau tarekat, 

- Hakikat. 

- Tingkatan keempat, ma'rifat, yang 'tak terlihat', sebenarnya adalah inti dari wilayah hakikat, sebagai esensi dari keempat tingkatan spiritual tersebut.


Sebuah tingkatan menjadi fondasi bagi tingkatan selanjutnya, maka mustahil mencapai tingkatan berikutnya dengan meninggalkan tingkatan sebelumnya. Sebagai contoh, jika seseorang telah mulai masuk ke tingkatan (kedalaman beragama) tarekat, hal ini tidak berarti bahwa ia bisa meninggalkan syari'at. Yang mulai memahami hakikat, maka ia tetap melaksanakan hukum-hukum maupun ketentuan syariat dan tarekat.

 

Paham kesatuan wujud

Paham kesatuan wujud adalah paham yang dibawa oleh Ibnu Arabi pada abad ke-3 Hijriah. Tokoh-tokohnya antara lain adalah Ibnu Arabi, Mansur al Hallaj, dan Jalaludin Rumi. Paham ini ditolak oleh Al Ghazali dan Ibnu Taymiah.

Ketika tidak ada gerak bagimu untuk dirimu sendiri maka sempurna yakinmu, dan ketika tidak ada wujudmu bagimu maka sempurna tauhidmu.

Maknanya: ketika kamu fana dari wujudmu karena tidak adanya pandanganmu terhadap wujudmu sama sekali, dengan cara kamu tidak melihat wujud bagi dirimu beserta wujud Gusti-mu Yang Maha Agung dan Mulia, maka sempuna tauhidmu. Hal itu, karena kamu telah menyatakan Gusti-mu dan kamu mempertimbangkan pandanganmu didalamnya. Maka kamu melihat wujudmu, yaitu semua amalmu dari Allah swt sebagi ciptaan, maka ketika ini, kamu tidak melihat wujud kecuali Allah swt Yang Maha Agung dan Mulia. Maka ketika itu telah sempurna tauhidmu. Karena hamba selagi melihat wujud dan amalnya sendiri, maka tidak sempurna tauhidnya menurut para muwahhidiin muhaqqiqiin para petauhid sempurna. Karena dia masih melihat dirinya dapat beramal yang amal itu keluar dari dirinya. Berbeda dengan muwahhidiin muhaqqiqiin (para petauhid sempurna), dia (mereka) telah hilang dari wujud dirinya yang majazi dan rusak dengan sebab wujud Allah swt yang Maha Ada yang kekal dan hakiki. Hal itu ketika Allah swt telah memberikan kenyataan padanya tentang hakikat-hakikat, lalu dia melihat dengan cahaya Tuhan-nya yang telah dititipkan pada relung hatinya, bahwa sesungguhnya Allah swt telah mewujudkan dirinya dengan anugerah-NYA dan menolongnya dengan kasih-NYA, kemudian dia tidak melihat dalam wujud selain Allah swt dan tidak melihat kasih selain Allah swt Yang Maha Agung dan Mulia, maka sempurnalah tauhidnya.


Menurut al-Banjari, kaum wujudiyyah (orang-orang yang memahami tentang wahdatul wujud) itu ada dua golongan :

1. Wujudiyyah mulhid dan.

2. Wujudiyyah muwahhid.


Wujudiyyah mulhid termasuk golongan yang sesat lagi zindiq. Wujudiyyah muwahhid, menurut dia, yaitu segala ahli sufi yang sebenarnya, mereka dinamakan kaum wujudiyyah karena bicaranya dan perkataannya dan itikadnya itu pada wujud Allah. Ia tidak menjelaskan isi ajaran mereka, tetapi sebagai lawan dari wujudiyyah mulhid tadi, wujudiyyah muwahhid tentu tidak menganggap bahwa Allah tidak tiada maujud melainkan di dalam kandungan wujud segala makhluk, atau bahwa Allah itu ketahuan zat (esensi)-Nya nyata kaifiat-Nya daripada pihak ada. Ia waujud pada kharij dan pada zaman dan makan, dan tidak pula membenarkan pernyataan-pernyataan seumpama “tiada wujudku, hanya wujud Allah, dan sebagainya, yang mencerminkan pandagan wujudiyyah mulhid itu. Keterangan al-Banjari mengenai ajaran kaum wujudiyyah mulhid itu kelihatan sangat mirip dengan keterangan ar-Raniri, yang dalam abad sebelumnya menyanggah penganut-penganut di Aceh.

Berdasarkan penjelasan ini, pada dasarnya sama dengan ajaran wahdah al-wujud Ibnu Arabi. Ajaran ini juga memandang alam semesta ini sebagai penampakan lahir Allah dalam arti bahwa wujud yang hakiki hanya Allah saja -alam semesta ini hanya bayangan- bayang-Nya. Dari satu segi, ajaran ini kelihatan sama dengan ajaran tauhid tngkat tertinggi. Kedua ajaran itu memandang bahwa wujud yang hakiki hanya satu-Allah, tetapi dari lain segi wujudiyyah muwahhid dan wihdah al-wujud ini tidak sama dengan pandangan “bahwa yang ada hanya Allah” dalam ajaran yang terakhir ini hanya tercapai dalam keadaan yang disebut fana, yakni terhapunya kesadaran akan wujud yang lain, sedang dalam ajaran wihdah al-wujud, pandangan tersebut kelihatan sebagai hasil penafsiran atas fenomena alam yang serba majemuk ini.

Di samping itu, pandangan tauhid tingkat tertinggi itu, tampaknya didasarkan atas asumsi bahwa esensi Allah yang mutlak itu dapat dikenali secara langsung, tanpa melalui penampakan lahir-Nya, asumsi ini dibantah oleh Ibnu Arabi, karena menurut dia Allah hanya bisa dikenal melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. (Naskah Klasik [4] Keagamaan Nusantara I Cerminan Budaya Bangsa, Departemen Agama RI, Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan, Puslitbang Lektur Keagamaan, 2005: 49-50).

 

Sufisme dan ilmu pengetahuan

Ilmu pengetahuan yang pada zaman Yunani kuno diberi citra, bahkan diidentikkan dengan filsafat. Tasawuf sebagai ilmu juga diarahkan untuk kepentingan agama (Kristiani), baru memperoleh sifat kemandiriannya semenjak adanya gerakan Renaissance dan Aufklarung. Semenjak itu pula manusia merasa bebas, tidak mempunyai komitmen dengan apa atau siapapun (agama, tradisi, sistem pemerintahan, otoritas politik dan lain sebagainya) selain komitmen dengan dirinya sendiri untuk mempertahankan kebebasannya dalam menentukan cara dan sarana menuju kehidupan yang hendak dicapai.

 

Kesenian sufi

Tairan memutar Dervish adalah salah satu kesenian Sufi yang terkenal

Sufisme telah menyumbang cukup banyak puisi dalam Bahasa Arab, Bahasa Turki, Bahasa Farsi, Bahasa Kurdi, Bahasa Urdu, Bahasa Punjab, Bahasa Sindhi, yang paling dikenal mencakup karya dari Jalal al-Din Muhammad Rumi, Abdul Qader Bedil, Bulleh Shah, Amir Khusro, Shah Abdul Latif Bhittai, Sachal Sarmast, Sultan Bahu, tradisi-tradisi dan tarian persembahan seperti Sama dan musik seperti Qawalli. Di Cirebon, kesenian yang berhubungan dengan Kesenian Sufi ini adalah Brai, Gembyung, Terbang, Genjring Santri, dan lainya. Kebanyakan Jenis Kesenian yang beredar di Cirebon terkait dengan perkembangan paham tasawuf tersebut. Jika seni dan kesenian dijadikan sebagai media dakwah, maka sangat munfisme/tasawuf yang selalu menitik beratkan pada niat baik dalam segala aktiitas yang dijalnkannya. Tasawuf itu sulit didefinisikan agar dapat dipahami dengan mudah.

 

Mengenal Ajaran Tasawuf Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali adalah ulama dan pemikir besar dalam Islam. Selain menjadi akademisi, Al-Ghazali kesohor sebagai ahli tasawuf. Karyanya yang bertajuk Ihya Ulumuddin merupakan warisan intelektual abadi yang terus dipelajari hingga sekarang. Di masa mudanya, Al-Ghazali amat haus pada ilmu pengetahuan. Ia dikenal sebagai sosok polimatik, pandai di berbagai disiplin pengetahuan, mulai dari Tafsir Al-Quran, Hadis, Ilmu Kalam, Filsafat, dan lain sebagainya. Pemahamannya yang kuat menjadikan Al-Ghazali sebagai sosok intelektual terkenal di Iran kala itu. Atas prestasinya di bidang akademik, pada usia 34 tahun, Al-Ghazali diangkat menjadi rektor Universitas Nizhamiyah. Nama asli Al-Ghazali adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thusi. Ia lahir di Thus, Iran pada 450 H/1058 M. Sejak kecil, Al-Ghazali sudah menjadi yatim karena ditinggal wafat ayahnya. Perjalanan hidupnya yang keras menjadikannya pembelajar tekun untuk menguasai berbagai disiplin ilmu keislaman di masa itu. Awalnya, ia menuntut ilmu di negerinya sendiri, Iran. Al-Ghazali muda belajar fikih Imam Syafi'i, serta dasar-dasar logika. Setelah dirasa cukup, ia pun merantau ke Nisapur dan belajar pada Imam Al-Haramain. Di sanalah, Al-Ghazali menyerap secara mendalam ilmu logika, filsafat, tafsir, hadis, dan lain sebagainya. Setelah Imam Al-Haramain wafat, Al-Ghazali kemudian mengunjungi menteri Nizamul Mulk dari pemerintahan Dinasti Seljuk. Karena kapasitas ilmunya yang luar biasa, Nizamul Mulk menghormati Al-Ghazali sebagai ulama besar. Pada saat bersamaan, ulama di masa itu juga mengakui ketinggian dan keahlian Al-Ghazali. Nizamul Mulk kemudian mengutus Al-Ghazali untuk mengajar di Universitas Nizhamiyah pada 484 H/1091 M. Dalam masa pengabdiannya di dunia akademik, Al-Ghazali banyak menulis karya-karya ilmiah, termasuk buku filsafat menumental bertajuk Tahafut Al-Falasifah yang menerangkan kekeliruan filosof-filosof muslim di masa itu. Namun, di tengah produktivitas akademik, Al-Ghazali malah mengalami krisis rohani. Padahal, ia sangat terkenal di masa itu dan sudah menjabat sebagai rektor Universitas Nizhamiyah, salah satu universitas tertua di dunia yang terletak di Iran. Merespons kekeringan jiwanya itu, Al-Ghazali meninggalkan Baghdad ke Syam secara diam-diam. Pekerjaan mengajarnya ia tinggalkan dan ia pun memulai hidup sederhana, zuhud, dan warak. Di masa menyepinya itu, Al-Ghazali mendalami tasawuf dan menyimpulkan bahwa kebenaran yang hakiki dapat ditempuh melalui jalan sufistik. Inti dari ajaran tasawuf yang dilakoni oleh Al-Ghazali adalah tasawuf akhlaki untuk perbaikan akhlak. 

Dikutip dari laman NU Online menuliskan bahwa konsep dari tasawuf akhlaki Al-Ghazali adalah hablum minallah (hubungan baik dengan Allah) dan hablum minannas (hubungan baik dengan manusia). Jika sudah menempuh dua jalan tersebut, menurut Al-Ghazali, seorang muslim sudah menjadi sufi, tanpa harus mengenakan atribut kesufian, seperti jubah, bertongkat, janggut lebat, dan lain sebagainya.


Berikut ini sejumlah inti dari ajaran tasawuf menurut Al-Ghazali sebagaimana dikutip dari Esoterik : Jurnal Akhlak dan Tasawuf yang ditulis oleh Ahmad Zaini.

1.     Jalan (At-Thariq). Jalan tasawuf yang dapat ditempuh seorang muslim terbagi menjadi lima jenjang (maqamat), yaitu tobat, sabar, kefakiran, zuhud, dan tawakal. Kelima jenjang itu harus harus dilakoni dengan hidup menyendiri atau setidaknya diam sejenak, mengintrospeksi diri untuk membina kalbu agar tidak tergoda pada kenikmatan duniawi.

2.     Makrifat.  Makrifat adalah pengetahuan tanpa ada keraguan sedikit pun. Dalam hal ini, pengetahuan yang dimaksud adalah zat Allah SWT dan sifat-sifatnya. Mencapai makrifat adalah esensi dari taqarrub atau pendekatan diri seorang hamba pada Tuhannya. Sarana untuk mencapai makrifat, menurut Al-Ghazali adalah kalbu yang suci, bukan dari perasaan atau akal budi. Kalbu dalam tasawuf adalah percikan rohaniah ilahiah yang merupakan inti dari hakikat manusia. Kalbu yang suci ini akan menuntun pada hati nurani yang bersih. Namun, makrifat ini tidak boleh hanya bersandar pada intuisi semata, melainkan juga harus sejalan dengan syariat (Al-Quran dan hadis), serta bertujuan untuk menyempurnakan moral dan akhlak manusia.

3.     Tingkatan Manusia Dalam tasawuf Al-Ghazali, terdapat tiga tingkatan manusia, yaitu orang awam yang cara berpikirnya sederhana sekali, kaum pilihan yang berpikir tajam dan mendalam atau golongan khawas, dan kaum ahli debat yang dapat mempersuasi orang dan mematahkan argumen (al-mujadalah). Dari tiga tingkatan tersebut, yang paling umum adalah golongan pertama dan kedua, yaitu orang awam dan orang khawas. Orang awam sering kali hanya dapat membaca tanda-tanda dan pengetahuan yang tersirat. Sementara itu, orang khawas dapat membaca yang implisit dan melihat gagasan di balik suatu peristiwa.

4.     Kebahagiaan Menurut Al-Ghazali, kebahagiaan adalah tujuan akhir dari jalan sufi, sebagai buah perkenalannya dengan Allah SWT. Dalam konsep tasawuf, kebahagiaan itu dapat hadir melalui ilmu dan amal. Ketika seorang manusia paham dan mengerti suatu konsep, serta mempraktikkannya, maka ia akan menemukan kebahagiaan. Contohnya, permainan catur akan sangat memusingkan bagi orang yang tidak paham tata aturan permainannya. Sebaliknya, pecatur yang paham teori dan konsepnya akan menikmati permainan tersebut. Kebahagiaan permainan catur hanya dapat diraih melalui pengetahuan dan praktik bermain catur tersebut. Bagi Al-Ghazali, kehidupan manusia ini pun tak berbeda dari konsep catur di atas. Jika seseorang memiliki pengetahuan dunia dan akhirat, maka ia akan sampai pada kebahagiaan yang hakiki. Selain itu, bukankah kehidupan dunia ini juga permainan belaka, sebagaimana tergambar dalam surah Muhammad ayat 36: Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau. Jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta hartamu, (QS. Muhammad [47]: 36).

 



TASAWUF JAWA

Tasawuf Jawa adalah keyakinan yang mengakar pada budaya Islam.

Tasawuf terkait dengan keyakinan hati (batin) pada Tuhan yang mendalam.

Tasawuf dan budaya Jawa merupakan penyatuan makna yang dialektis.

Dialektika tasawuf dan budaya Jawa melahirkan mistisisme kejawen.

Di Jawa, gambaran janur mlengkung dalam hiasan perkawinan, merupakan gambaran laku sangkan paraning dumadi. Janur mlengkung mewujudkan sebuah perpaduan antara Islam dan Jawa. Tasawuf Jawa juga tergambar dalam symbol telur, sebagai lukisan tingkat keyakinan mulai dari syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat. Taswuf dan mistisisme Jawa yang dipentingkan adalah pengalaman hidup, yaitu pengalaman spiritual. Tasawuf dan mistisisme Jawa sebenarnya senada, yang mengantarkan manusia menuju Tuhan secara sempurna.

Tasawuf (tasawwuf) atau sufisme adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun zahir dan batin serta untuk memperoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf dalam Islam pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi), dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam. Pemikiran Sufi muncul di Timur Tengah pada abad ke-8, sekarang tradisi ini sudah tersebar ke seluruh belahan dunia. Sufisme merupakan sebuah konsep dalam Islam, yang didefinisikan oleh para ahli sebagai bagian dari batin, dimensi mistis Islam; yang lain berpendapat bahwa sufisme adalah filosofi perennial yang eksis sebelum kehadiran agama, ekspresi yang berkembang bersama agama Islam.

Tapi sekarang, ketika orang bicara tentang sufisme, maka tidak lagi terbayang kehidupan yang “menjauhi” hal duniawi. Gambaran kehidupan sederhana yang sekedar memakai kain wol dan makanan yang secukupnya, tidak lagi mewakili cara sufi. Karena sekarang, sufisme atau tasawuf telah menerobos sekat-sekat kultural. Banyak kaum kaya dan profesional mencari kedamaian dalam tasawuf. Berbagai majelis dzikir dan pusat-pusat latihan meditasi muncul di berbagai kota. Mempertemukan tradisi industrial yang membangun alienansi dengan air bening tasawuf yang memancarkan kedamaian jiwa. Sehingga seakan-akan tengah berlangsung kebangkitan tasawuf dalam kehidupan moderen ini.

Namun, gejala kebangkitan tasawuf itu sepertinya tidak mewakili hakekat dari ajaran sufi itu sendiri. Justru yang nampak adalah “wah”nya (kesemarakannya) tasawuf dan bukan “woh”nya (buahnya) tasawuf. Apa yang nampak dengan menjamurnya majelis dzikir dan pusat-pusat meditasi itu hanyalah merupakan fenomena kemarakan tawasuf instan belaka, bukannya ajaran hakiki dari tasawuf itu sendiri.

Ya. Golongan ini sesungguhnya sama saja dengan fenomena massifikasi gerakan tarekat. Dengan mengubah ajaran tasawuf, sehingga lebih mengutamakan segi praktis, yaitu lebih mengutamakan via semedhi, wirid dan persujudan yang belum tentu benar, maka gerakan tarekat dapat diterima dan dijalankan secara massal. Padahal ini telah menggeser gerakan tasawuf yang sesungguhnya bersifat individul dari para sufi menjadi dapat dipraktekkan secara massif dan gampang oleh kaum awam. Akibatnya, nilai-nilai sufistik dari ajaran tasawuf tidak lagi tertransformasikan dengan baik. Padahal nilai-nilai sufistik itulah yang dapat diharapkan menjadi pondasi manusia untuk keluar dari kebuntuan modernitas. Tidak untuk lari dari dunia, tapi justru untuk memberikan sumbangan pemikiran dengan pandangan dunia baru yang lebih manusiawi. Dimana manusia mampu memanifestasikan sifat-sifat Tuhan dalam segenap hubungan dengan sekitarnya. Sehingga hubungan antara manusia dengan sekitarnya bukan hubungan eksploitatif, melainkan hubungan yang saling menghidupkan.

Untuk itu, seseorang yang paham makna ihsan, maka ia tidak akan memandang ibadah hanya sekedar bentuk wadag saja. Ia mengerti bahwa ibadah memiliki ruh, memiliki dimensi keluasan makna yang mengantarkannya kepada hakekat Tuhan. Dan karena itu orang yang sampai pada tingkatan ihsan ini, dalam kehidupannya seakan-akan bisa melihat Tuhan, atau setidaknya merasa selalu diawasi oleh Tuhan.  Sehingga, tasawuf itu merupakan jalan untuk sampai kepada kesempurnaan hidup. Ia adalah jalan pembersihan diri, sehingga mengantarkan manusia untuk sampai kepada Tuhannya. Yang menjadikan dirinya semakin baik dan berperilaku mulia.

Untuk itu, ada dua ajaran yang cukup menonjol di dalam tasawuf, yaitu cinta dan kearifan. Dan bagi siapa saja yang tidak memiliki cinta dan kearifan di dalam dirinya, maka akan diragukan kesufiannya. Karena kedua hal itu adalah obat yang menyembuhkan kebanggaan dan rasa sombong, serta bagi seluruh kelemahan diri lainnya. Bahkan kedua hal itu juga merupakan hasil dari tasawuf. Dan mereka yang menempuh jalan para sufi akan dikaruniai oleh Tuhan dengan kemuliaan. Lalu dengan kemuliaan itulah, ia memantulkan cahaya Tuhan ke dunia untuk diambil manfaatnya.

Selain itu, mereka yang telah benar dalam menempuh jalan tasawuf adalah mereka yang mampu membedakan berbagai hal yang tampak sama tapi sesungguhnya berbeda, antara yang samar dengan yang nyata. Sebab mereka yang memiliki cinta dan kearifan tidak bisa dibatasi oleh jangkauan mata saja, bahkan zahir semata. Mereka itu mampu menembus rahasia di luar yang terlihat dan mampu menempatkan diri di dunia ini pada keadaan penghambaan. Karena hanya dalam hubungan penghambaan saja manusia itu akan diterima oleh Tuhan. Namun keadaan itu bukan berarti meninggalkan kewajibannya di dunia ini dan lari dari kehidupan sehari-hari. Karena cinta kepada Tuhan itu tidak lantas membuat seorang sufi melalaikan tugas dan kewajibannya pada manusia. Bahkan tujuan dalam mendapatkan cahaya Tuhan itu adalah untuk kemanusiaan.


Meskipun banyak pembahasan mengenai posisi manusia dalam kajian tasawuf ini, maka pemahaman di atas bisa sedikit banyak menyingkirkan anggapan bahwa sufisme adalah gejala eskapisme (sikap hidup yang bertujuan untuk menghindarkan diri dari segala kesulitan, terutama dalam menghadapi masalah yang seharusnya diselesaikan secara wajar). Juga menolak anggapan bahwa sufisme melalaikan keberadaan dan nasib manusia.

Untuk itu, sesuai dengan judul tulisan ini, maka kita akan membahas tasawuf dalam tataran Nusantara, khususnya yang ada pada kehidupan orang Jawa. Karena sesungguhnya model kehidupan seperti yang di lakukan oleh para sufi telah ada jauh sebelum masa kemunculan Islam di tanah Arab. Orang Jawa sejak zaman awal kehidupan manusia di Bumi telah mengenal berbagai prinsip yang sekarang dikenal dengan tasawuf atau sufisme atau mistisisme. Dan itu tetap ada hingga saat ini, meski memang sudah tidak banyak lagi. Hanya saja, setelah kedatangan Islam di tanah Jawa, maka ajaran leluhur turun temurun itu menjadi semakin kaya dan lengkap.

Di dalam tradisi Jawa, maka tentang tasawuf atau kesufian ini setidaknya ada dua bahaya yang bisa mengancam cara hidup manusia khususnya saat ini, yaitu nafsu (howo nepsu) dan egoisme (pamrih). Oleh sebab itu, manusia harus mengontrol nafsunya dan melepaskan pamrihnya. Nafsu adalah perasaan kasar karena ia menggagalkan kontrol diri manusia dan membelenggunya secara buta kepada dunia. Nafsu-nafsu memperlemah manusia, karena memboroskan kekuatan-kekuatan batin tanpa guna. Nafsu yang membahayakan dalam tasawuf versi Jawa disebut Malima, yaitu lima nafsu yang dimulai dengan M (ma), di antaranya :

1.     Madat (narkoba)

2.     Madon (berzina, maksiat)

3.     Minum (mabuk-mabukkan)

4.     Mangan (serakah)

5.     Main (berjudi)

Sehingga untuk mengontrol nafsu-nafsu itu seseorang harus melakukan tirakat atau bahkan laku tapa brata, seperti mengurangi makan dan tidur, menguasai diri di bidang seksual, mengasah kemampuan batin dengan jalan meditasi, dan lain sebagainya. Sebab, tapa atau laku tirakat lahiriah bisa memperkuat kehendak dalam usaha untuk mempertahankan keseimbangan batin dan agar berkelakuan yang sesuai dengan tuntunan keselarasan sosial.


Yayi siro, perang sabil puniko ora mung lawan si kapir wae, amergo sakjroning dhodho puniko ono perang brotoyudho. Langkung rame aganti pupuh-pinupuh. Iyo lawan dhewekiro. Mulo iku utamake kang lampah tarlen amung wong bekti marang Gusti Kang Moho Agung : Dindaku. 

Aksara Jawa :

꧋ꦪꦪꦶꦱꦶꦫꦺꦴ꧈ꦥꦼꦫꦁꦱꦧꦶꦭ꧀ꦥꦸꦤꦶꦏꦺꦴꦎꦫꦩꦸꦁꦭꦮꦤ꧀ꦱꦶꦏꦥꦶꦂꦮꦌ꧈ꦄꦩꦺꦂꦒꦺꦴꦱꦏ꧀ꦗꦿꦺꦴꦤꦶꦁꦣꦺꦴꦣꦺꦴꦥꦸꦤꦶꦏꦺꦴꦎꦤꦺꦴꦥꦼꦫꦁꦧꦿꦺꦴꦠꦺꦴꦪꦸꦣꦺꦴ꧉ꦭꦁꦏꦸꦁꦫꦩꦺꦄꦒꦤ꧀ꦠꦶꦥꦸꦥꦸꦃꦥꦶꦤꦸꦥꦸꦃ꧉ꦆꦪꦺꦴꦭꦮꦤ꧀ꦝꦼꦮꦼꦏꦶꦫꦺꦴ꧉ꦩꦸꦭꦺꦴꦆꦏꦸꦈꦠꦩꦏꦺꦏꦁꦭꦩ꧀ꦥꦃꦠꦂꦭꦺꦤ꧀ꦄꦩꦸꦁꦮꦺꦴꦁꦧꦼꦏ꧀ꦠꦶꦩꦫꦁꦒꦸꦱ꧀ꦠꦶꦏꦁꦩꦺꦴꦲꦺꦴꦄꦒꦸꦁ꧇ꦣꦶꦤ꧀ꦝꦏꦸ꧉


Perang sabil itu bukan hanya melawan orang kafir saja, karena di dalam dada itu ada perang bharatayudha (perang sangat besar). Ramai sekali dan saling pukul memukul. Yaitu perang melawan diri sendiri. Untuk itu, seyogyanya laku hidup itu tiada lain hanya berbakti kepada Tuhan Yang Maha Agung.

Selanjutnya, bahaya kedua yang harus diperhatikan seseorang adalah pamrih (egoisme). Sebab, bertindak karena dasar pamrih berarti hanya mengusahakan kepentingan dirinya sendiri dan tidak memperhatikan kepentingan orang lain (masyarakat). Pamrih jelas memperlemah manusia dari dalam dan barang siapa yang mengejar pamrih-nya, ia memutlakkan keakuannya sendiri, mengisolasi dirinya sekaligus memotong diri dari sumber kekuatan batin. Karena itulah, pamrih akan jelas terlihat dalam tiga nafsu, yaitu :

1.     Nepsu menange dhewe (selalu ingin menjadi orang yang pertama atau ingin menang sendiri)

2.     Nepsu benere dhewe (menganggap diri selalu betul)

3.     Nepsu butuhe dhewe (hanya memperhatikan kebutuhan dirinya sendiri)

Sedangkan sikap-sikap lain yang tercela adalah kebiasaan untuk menarik keuntungan sendiri dari setiap situasi tanpa memperhatikan orang lain (aji mumpung) atau untuk mengira bahwa karena jasa-jasa tertentu seseorang merasa punya lebih banyak hak dari orang lain (dumeh).

Selanjutnya, setelah seseorang bisa mengetahui keburukan di atas, maka ia juga harus mampu menggali potensi yang ada di dalam dirinya. Ia harus terus mengembangkan hal-hal yang sangat penting bagi kebenaran hidupnya dan pencapaiannya pada kesempurnaan diri. Caranya dengan terus berusaha menaikkan tingkat kualitas pengkajian dirinya sendiri. Tidak mudah, tapi ia harus tetap mengusahakannya, karena itulah jalan yang semestinya. Adapun di antaranya sebagai berikut :

1.     Nanding sariro. Tahapan dimana sesorang membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain dan mendapati bahwa dirinya lebih unggul.

2.     Ngukur saririo. Tahapan dimana seseorang mengukur orang lain dengan dirinya sendiri sebagai tolak ukurnya.

3.     Tepo sariro. Tahapan dimana seseorang mau dan mampu merasakan perasaan orang lain atau memiliki tenggang rasa yang tinggi.

4.     Mulat sariro. Tahapan dimana seseorang mencoba dan mulai memahami dirinya sejujur-jujurnya.

5.     Mawas diri. Tahapan dimana seseorang telah melebihi kemampuan mulat sariro, karena ia telah menemukan identitasnya sendiri (jati diri) yang terdalam sebagai pribadi.

Untuk itu, manusia telah diberi anugerah oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun di antara manusia yang satu dengan yang lainnya mempunyai bagian yang berbeda-beda, yang disebut juga bedo-bedo panduming dumadi, sementara kesadaran akan perbedaan itu disebut narimo ing pamdum. Kesadaran ini sangat penting untuk pengendalian diri. Si miskin tidak perlu iri, dan si kaya tidak akan pernah sombong dan menghina, menghardik serta merendahkan. Karena ukuran penghargaan seseorang tak semata-mata karena hasil materi, namun lebih dititikberatkan pada aspek usaha dan prosesnya. Sehingga dengan sikap narimo ing pandum, seseorang tidak akan ngoyo di dalam mengejar harta benda. Karena baginya yang dipentingkan itu adalah kerja dan pasrah kepada Tuhan.

“Ojo koyo jaman saiki mangkin akeh poro mudha mudhi dhiri rapal makna. Amergo yen satriyo tanah Jawi kuno itu kang ginilut tri perkoro. Lilo lamun kelangan ora gegetun, trimo yen ketaman sakresik  sameng dumadi, lan legowo nelongso srah ing Gusti Pangeran: Jangan seperi zaman sekarang, dimana banyak anak muda yang hanya mengagungkan rapal dan mantra. Karena bagi kesatria tanah jawa dahulu itu yang menjadi pegangan ada tiga hal. Rela apabila kehilangan dan tidak kecewa, menerima bila mendapat cobaan karena hati ikhlas, dan menyerahkan semua urusan kepada Tuhan”

Ya. Siapa yang ingin bertindak secara bertanggungjawab hendaknya mampu memahami batasan-batasannya dan bertindak sesuai dengan kedudukannya. Sebab, segala gangguan terhadap keselarasan kehidupan ini akan merugikan semua. Manusia yang membuat rencana-rencana besar untuk memperbaiki dunia ini dan berusaha untuk melaksanakannya tanpa memperhatikan masyarakat dan alam sekitar, merupakan tanda kesombongan diri. Karena kekuasaan untuk mengubah sesuatu di dalam realitas tidaklah terletak di tangan manusia, tetapi Tuhan Sang Maha Pencipta. Sehingga, hendaknya manusia itu selalu ingat akan takdir-Nya. Segalanya sudah ditentukan seluruhnya, dan setiap makhluk itu telah dibagi nasibnya, ditarik garis hidupnya, dan tidak dapat menyeleweng daripadanya.

Karena itulah, orang yang bijaksana dibedakan dengan orang yang bodoh. Sebab orang-orang yang bijaksana itu memahami hal di atas. Ia memusatkan tenaganya pada usaha untuk mempertahankan garis hidupnya, artinya menemukan tempatnya dalam masyarakat dan membiarkan setiap unsur yang lain menemukan tempatnya sendiri-sendiri, sedangkan ia sebagai nahkodanya.

Selain itu, setiap manusia itu baik ia kecil maupun besar, tua ataupun muda, baik penting atau tidak, memiliki tugasnya yang khas dalam keseluruhan. Perdamaian dan kemakmuran masyarakat bergantung dari apakah setiap pihak telah memenuhi tugasnya yang khas tersebut. Karena siapapun yang mengerti tempatnya dalam masyarakat dan dunia, maka ia juga akan memiliki sikap batin yang tepat dan dengan demikian juga akan bertindak dengan tepat. Sebaliknya, siapa yang membiarkan diri dibawa oleh nafsu dan pamrihnya, yang melalaikan kewajibannya dan acuh tak acuh pada kerukunan serta rasa hormat, maka dengan demikian ia telah memberi kesaksian bahwa ia belum mengerti tempatnya di dalam keseluruhan alam semesta.

Sehingga dalam hal ini perlu diketahui bersama bahwa sikap-sikap khas yang perlu ditanamkan oleh setiap pribadi di antaranya yaitu :

1.     Sabar (kesabaran). Sikap penuh kehati-hatian, tenang dan berpikiran jernih, serta tidak mudah menyerah dengan keadaan.

2.     Nrimo (menerima apa adanya). Mampu bereaksi secara rasional ketika mengalami kesulitan hidup ataupun kekecewaan, tidak roboh dan menentang secara percuma.

3.     Rilo (Ikhlas). Bersedia melepaskan keakuan dan menyesuaikan diri dengan alam semesta sebagaimana sudah ditentukan.

4.     Temen (jujur). Sikap yang tidak berpura-pura dan berbohong. Karena siapa yang dapat mengandalkan janjinya. Siapa yang bersikap jujur juga akan bersikap adil dan hatinya berani dan tenteram.

5.     Prasojo (sederhana). Hidup yang merasa cukup dan sederhana, serta bersedia menganggap diri sendiri lebih rendah (andapasor) dari orang lain alis rendah hati.

Untuk itulah, siapa yang memiliki sikap-sikap di atas tentunya akan berbudi luhur. Budi luhur adalah kebalikan dari semua sifat yang buruk dan dibenci, seperti kebiasaan mencampuri urusan orang lain (open, dahweh), budi yang rendah atau iri (srei), dengki, suka main intrik (jail) dan kasar (methakil). Budi luhur berarti mempunyai perasaan tepat bagaimana cara bersikap terhadap orang lain, apa yang bisa dan apa yang tidak bisa di lakukan dan dikatakan. Siapa yang berbudi luhur akan bersikap baik tidak hanya kepada orang baik, tetapi juga kepada orang yang tidak baik. Sebagaimana kata pepatah lama; “Sopo becik den beciki, sopo olo den beciki“.

Namun lain pula halnya yang sering terjadi pada orang-orang yang biasa, yaitu mereka yang telah sangat mencintai kenikmatan sesaat duniawi. Kini, apa yang dipikirkan dan diperbuatnya hanyalah yang dapat memuaskan nafsunya saja. Ia sangat tak senang pada kemampuan orang lain, dan berkata bahwa kemampuannyalah yang lebih baik. Kesalahannya yang besar disembunyikan dalam dirinya dan disimpan rapat-rapat, hingga tak bisa terlihat. Tetapi bila ada kesalahan orang lain, walau cuma sedikit, maka dicari-carinya dan juga diungkapkan ke muka umum tanpa rasa malu.

 

kesombongan

Selain itu, hatinya sangat senang bila melihat orang lain ada dalam kesusahan. Ia iri hati terhadap orang yang mendapatkan kenikmatan dan bahkan ia menjerumuskan orang yang sedang susah itu dalam kecelakaan. Orang-orang yang sangat baik dan sangat berbudi juga di fitnahnya. Ia sangat marah bila ada yang mencelanya meskipun itu benar adanya, namun senang sekali andai disanjung. Lalu dengan berbagai cara itu ia menghina orang dan dengan rasa dengki hatinya memperkecil orang yang telah berjasa besar. Tiada sungkan-sungkan lagi ia mengecam segala perbuatan orang yang sedang asyik melaksanakan perbuatan baik.

Sungguh, demikianlah pikiran orang yang jahat karena ia suka mencari-cari kesalahan orang lain. Padahal belum ada bukti yang dapat ia perlihatkan kepada umum, dan belum tentu ia lebih baik daripada orang yang ia persalahkan. Kata-katanya sajalah yang hebat, dan ia seperti burung enggang dengan patuknya yang sangat besar. Ia sendiri tak dapat terbang, ia diam saja dalam sarangnya, sebab kemampuannya tak sepadan dengan kata-katanya sendiri. Dan sungguh demikian jadinya dengan orang yang tak henti-hantinya memperturutkan segala kehendak nafsunya. Ia tak peduli ditertawakan orang lain, sebab khawatir dan takut dikatakan kalah bijaksana. Dan karena selalu ingin dipuji dan disanjung, maka ia berkata; “Tentulah saya akan menyelamatkan dunia, karena sayalah yang terbaik” Padahal jangankan ia berhasil, karena malah sebaliknya, ia terbawa masuk ke dalam Neraka akibat dosa-dosanya sendiri.

Untuk itulah, tutur kata yang jujur, halus, manis dan hati-hati akan dihargai orang lain. Begitu pun kesopanan bisa mengawetkan persahabatan. Karena ada pepatah lama yang berbunyi Ajining dhiri soko lathi yang berarti harga diri itu berasal dari ucapan. Sehingga, kata-kata yang manis disertai kejujuran akan menyenangkan orang lain, dan sebaliknya, kata-kata yang kasar mudah melukai perasaan orang lain, yang tentunya tidak akan pernah disukai siapapun.

Sehingga berusahalah untuk selalu berteman dengan orang-orang yang baik budi bahasanya dan sabar hatinya. Dan jangan berteman dengan orang yang jahat serta tidak dapat dipercaya, sebab tentu saja akan membawa pada musibah dan bencana. Lihatlah si angsa yang berteman dengan burung gagak, seluruh keluarganya habis mati. Demikian pula dengan orang yang tidak berhati-hati akan menemui bencana yang amat tak terhingganya.

Untuk itu, ilmu manusia itu setidaknya terbagi dalam dua jenis. Yang pertama adalah ilmu kamanungsan (kemanusiaan) yang lahir dari jalan inderawi dan melalui laku kamanungsan (perilaku manusiawi). Yang kedua adalah ilmu kesempurnaan yang lahir melalui pembelajaran langsung dari Sang Khalik. Untuk jenis kedua ini, ia terjadi melalui dua cara, yaitu dari luar dan dari dalam diri. Yang dari luar dilalui dengan belajar, sedangkan yang dari dalam dilalui dengan cara menyibukkan diri dengan jalan ber-tafakur (suatu perenungan dengan melihat, menganalisa, meyakini secara pasti untuk mendapatkan keyakinan terhadap sesuatu).

Adapun ber-tafakur secara batin itu sepadan dengan belajar secara lahir. Belajar memiliki arti pengambilan manfaat oleh seorang murid dari gerak gurunya. Sedangkan tafakur memiliki makna batin, yaitu sukma seorang murid yang mengambil manfaat dari sukma sejati, yaitu jiwa sejati. Sukma sejati dalam olah ilmu memiliki pengaruh yang lebih kuat dibandingkan berbagai nasehat dari ahli ilmu dan nalar. Ilmu-ilmu seperti itu tersimpan kuat pada pangkal sukma, bagaikan benih yang tertanam dalam tanah, atau mutiara yang berada di dasar laut.

Ketahuilah saudaraku, bahwa kewajiban orang hidup itu tidak lain adalah selalu berusaha menjadikan daya potensial yang ada di dalam dirinya menjadi bentuk perbuatan yang bermanfaat. Sebagaimana engkau juga wajib mengubah daya potensial yang ada dalam dirimu menjadi perbuatan, melalui belajar. Sejatinya di dalam belajar, sukma sang murid menyerupai dan berdekatan dengan sukma sang guru. Sebagai yang memberi manfaat, guru laksana bumi, dan sebagai yang meminta manfaat, maka murid itu laksana petani.

 

ILMU DAN BENIH KEKUATAN 

Ketahuilah juga bahwa ilmu merupakan kekuatan seperti benih atau tepatnya tumbuh-tumbuhan. Apabila sukma sang murid sudah matang, maka ia akan menjadi seperti pohon yang berbuah lebat, atau seperti mutiara yang sudah dikeluarkan dari dasar samudera. Jika kekuatan badaniah mengalahkan jiwa, berarti murid masih harus terus menjalani laku prihatin dalam olah ilmu dengan cara menyelami kesulitan demi kesulitan dan kepenatan demi kepenatan, dalam rangka menggapai manfaat. Karena jika cahaya rasa mengalahkan macam-macam indera, berarti murid lebih membutuhkan sedikit tafakur ketimbang banyak belajar. Sebab, sukma yang cair atau dalam bahasa Arab disebut dengan nafs al-qabil, akan berhasil menggapai manfaat walau hanya dengan berpikir sesaat, ketimbang proses belajar setahun yang di lakukan oleh sukma yang beku (nafs al-jamid).

Jadi, engkau bisa mendapatkan ilmu dengan cara belajar, dan bisa juga mendapatkannya dengan cara ber-tafakur. Walau pun sebenarnya dalam belajar itu juga memerlukan proses tafakur. Dan dengan tafakur engkau tahu bahwa manusia itu hanya bisa mempelajari sebagian saja dari keseluruhan ilmu dan tidak bisa semuanya. Lalu dengan ber-tafakur seseorang juga bisa berhasil menguak berbagai rahasia Tuhan. Sehingga dengan begitu terbukalah asumsi dasar dari keilmuan yang menyebabkan persoalan tidak berlarut-larut dan segera tersingkaplah kebodohan yang sering menyelimuti kalbu.

Untuk itu, jika pintu sukma terbuka, maka seseorang akan tahu bagaimana cara ber-tafakur dengan benar dan selanjutnya ia bisa memahami bagaimana merealisasikan apa yang diinginkannya. Karena itu hati pun menjadi lapang, pikiran jadi terbuka dan daya potensial yang ada di dalam diri akan lahir menjadi aksi (perbuatan) yang berkelanjutan dan tidak mengenal lelah dan putus asa.

Makanya, segala situasi itu harus bisa dirasakan, dan terhadap perasaan orang lain, manusia yang sejati harus menunjukkan rasa hormat, harus membangun suatu modal rasa cinta yang bisa diperbanyak, sebagai kesanggupan yang makin besar untuk merasakan realitas kehidupan ini. Inilah jalan tasawuf dan perilaku sufi yang diajarkan dalam masyarakat Jawa. Karena makin halus perasaan seseorang, maka semakin mendalam pengertiannya, semakin pula luhur sikap moralnya dan semakin indah segi luar dan dalam dirinya. Dan dari rasa yang tepat itulah, dengan sendirinya akan mengalir sikap yang tepat terhadap hidup, masyarakat dan terhadap kewajiban dirinya sendiri, terutama tentang Tuhan. Sehingga ia akan otomatis membawa kebaikan yang tidak untuk dirinya sendiri, tetapi juga kepada siapapun yang berada di sekitarnya. Sebab, sebelumnya ia telah menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun zahir dan batin serta sudah memperoleh kebahagian yang abadi, yaitu menatap Wajah-Nya dalam cinta dan kerinduan.

 

Kejawen Itu Islam Tasawuf Jawa

Kejawen mengalami minimal dua kali ekslusi dari rahim Islam. Pertama, eksklusi dari pihak muslim puritan. Kedua, ekslusi dari kaum yang mengidentifikasi dan diidentifikasi sebagai santri. Apakah Kejawen bukan bagian dari Islam dan/atau kurang bernuansa santri? Tulisan ini memberi jawaban negatif untuk pertanyaan itu, dan menghadirkan tesis: "Kejawen adalah Islam Tasawuf Jawa".

Dasar argumen tulisan ini adalah buku Damar Shashangka berjudul Induk Ilmu Kejawen: Wirid Hidayat Jati (Jakarta: Dolphin, 2014). Di buku tersebut, Shashangka mendefisikan Kejawen dengan terlebih dahulu membedakannya dari Jawa Dipa dan Jawa Buda.

Yang dimaksud dengan Jawa Dipa adalah ajaran asli Jawa yang jejaknya dapat dilihat dalam berbagai upacara Jawa (seperti tumpengan dll.) dan kepercayaan Jawa (seperti kepercayaan tentang roh leluhur, tempat-tempat keramat dan perhitungan primbon). (Shashangka, Induk Ilmu Kejawen, h. 21-22)

Sebagian orang, seperti Agus Sunyoto dan B. Wiwoho, menyebut ajaran asli Jawa itu sebagai 'Kapitayan'. Sebutan Kapitayan terkait dengan kepercayaan pada kekuatan gaib yang disebut dengan Taya. Manifestasi Taya disebut TU. Ketika TU hadir dalam kebaikan yang terang, Ia disebut TU-han. Ketika TU muncul dalam keburukan yang gelap, Ia disebut sebagai han-TU. 

Daya gaib TU dipercaya tersimpan di wa-Tu (batu), TU-k (mata air), TU-ban (air terjun) dan lain-lain. Maka, untuk-Nya, persembahan diberikan antara lain dalam bentuk TU-mpeng. TU positif yang diserap manusia disebut dengan TU-ah, sedangkan TU buruk yang diserap manusia disebut TU-lah. Manusia yang menerima TU secara paripurna pun disebut ra-Tu. (Wiwoho, Islam Mencintai Nusantara, h. 62-63).  

Menurut Shashangka, Kapitayan, yang berisi keyakinan tersebut, merupakan terjemahan dari kata Kepercayaan, yang populer di dekade 1980-an, seiring dengan keberadaan Penghayat Aliran Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Indonesia. Tapi apakah kepercayaan Jawa asli itu bernama Kapitayan atau Jawa Dipa (artinya pelita Jawa), tidak bisa dipastikan. Yang jelas, Kejawen bukan seratus persen Kapitayan atau Jawa Dipa. (Shashangka, Induk Ilmu Kejawen, h. 22).

Kejawen juga bukan Jawa Budha. Sebab, Jawa Budha adalah campuran dari Jawa Dipa dengan agama Siwa dan agama Buddha Mahayana/Tantrayana/Wajrayana, yang berkembang pesat di masa Kerajaan Majapahit, lalu berpindah ke Bali. Di tangan Danghyang Dwijendra (rohaniawan Bali), Siwa-Jawa dan Buddha-Jawa dipisahkan dari rahim agama Jawa Buda, di mana unsur Siwa-Jawa yang lebih ditonjolkan, dan menjadi agama Tirtha, yang kemudian lebih dikenal sebagai agama Hindu Bali. (Shashangka, Induk Ilmu Kejawen, h. 22-23).

Mengapa Kejawen bukan Jawa Dipa murni dan bukan Jawa Buda? Sebab, inti dari Kejawen adalah Wirid Hidayat Jati . Rujukan utama Kejawen itu berisi wejangan Sunan Kalijaga (separuhnya), delapan wali yang lain dan Ranggawarsita. Ajaran itu tidak ada di zaman Majapahit, apalagi sebelumnya. Kemunculannya setelah Majapahit tumbang. 

Penyusunnya yang pertama Sunan Kalijaga, yang kedua Sultan Agung, yang ketiga Raggawarsita, yang berikutnya Raden Tanaya. Isinya Islam Tasawuf berbalut budaya Jawa. Oleh karena itu, Kejawen Bukan Jawa Dipa murni, bukan pula Jawa Buda, pelepasan Islam Tasawuf Jawa yang menghubungkan mistisisme Islam dengan Jawa Dipa dan Jawa Buda. (Shashangka, Induk Ilmu Kejawen, h.23-28)

Ajaran tersebut berjangkar pada isi Wirid Hidayat Jati. Permulaan buku itu adalah pemaparan tentang guru dan murid. (Bab 1-2) yang notabene ajaran tasawuf Islam ( mrid ) yang selaras dengan ajaran Jawa Buda ( santri ). Selanjutnya, Wirid Hidayat Jati mengisi hal ihwal tentang wirid, yang tidak melulu terkait dengan doa, pelepasan wejangan yang bisa memancangkan pikiran malah diri kepada Tuhan.

Wirid Hidayat Jati memaparkan bahasan tentang Tuhan, manusia, alam semesta, relasi manusia dengan Tuhan dan semesta, dan beberapa doa dan ritual. Di situ, ajaran Islam tasawuf tingkat tinggi diintegrasikan dengan budaya Jawa, yang bernuansa Jawa Dipa dan Jawa Buda.

Misalnya, Jawa Dipa dan Jawa Buda semedi: menyatukan diri dengan kekuatan semesta. Di pihak lain, tingkat tertinggi relasi manusia dengan Tuhan versi Islam adalah i sn, yaitu merasa 'dilihat' dan 'melihat' Tuhan. Di Kejawen, yang tercatat di Wirid Hidayat Jati, tirakat tertinggi dalam hubungan dengan Tuhan disebut sebagai Salat Daim.

Secara Sejenis, Salat Daim (salat abadi) selaras dengan ayat Al-Quran (QS Al-Ma'arij: 23). Tapi pengertian Salat Daim versi Kejawen tidak bisa menjalankan shalat lima waktu dan shalat-shalat sunnah, pelan senantiasa mengingat Tuhan tanpa putus bangun tidur nyenyak lagi, yang dimulai dengan niat berbicara di sini. 

Apakah Salat Daim ala Kejawen itu ibadah kepada Tuhan tingkat tinggi? Jika orang Kejawen melakukan ibadah tingkat tinggi yang selaras dengan Islam dan salam pada wejangan yang penuh ajaran tasawuf Islam, layakkah orang kejawen dieklusikan dari Islam?

 

Ajaran Tasawuf Walisongo

(Ora dhahar ora guling / anyegah ing hawa /  ora sare ing wengine/ ngibadah maring Pangeran/ fardhu sunat tan katinggal /  sarwa nyegah haram makruh / tawajuhe muji ing Allah.)

(Artinya : Tidak makan tidak tidur, mencegah hawa nafsu/tidak tidur malam untuk beribadah kepada Tuhan/ fardhu dan sunnah tidak ketinggalan/ serta mencegah yang haram maupun yang makruh/ tawajuh memuji Allah)

Bahkan di dalam satu keterangan di dalam Babad Tanah Jawi naskah Drajat, Sunan Ampel mengajarkan ilmu tasawuf dengan laku suluk menurut ajaran tarekat Naqsyabandiyah.

Sementara itu, Sunan Giri dalam melakukan dakwah Islam di tengah-tengah masyarakat lebih di bidang pendidikan. Ia merupakan salah satu wali yang mengembangkan sistem pesantren yang kemudian diikuti oleh hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Dalam menyampaikan dakwah Islam, Sunan Giri melanjutkan dengan cara-cara yang lunak dengan mengikuti ajaran Islam yang diterima sebagai ajaran. Titik tolok dakwah yang dikembangkan pada dasarnya adalah menanamkan pendidikan budi pekerti luhur kepada masyarakat.

Sunan Bonang dikenal sebagai guru tasawuf yang diyakini memiliki kekuatan keramat sebagaimana lazimnya seorang wali.

Sebuah naskah primbon asal Tuban, yang menurut Schrieke dalam Het Boek Van Bonang (1916) adalah tulisan Sunan Bonang sendiri, merupakan ikhtisar bebas dari Kitab Iḥyā' 'Ulūm al-Dīn karya al-Ghazālī dan Kitab al-Tamhīd Fī Bayān al-Tawḥīd karya Abu Syakur bin Syu'aib al-Kasi al-Hanafi al-Salimi.

Sunan Kalijaga dikenal sebagai guru ruhani yang mengajarkan tarekat Syattariyah dari Sunan Bonang sekaligus tarekat Akmaliyah dari Syekh Siti Jenar. Pelajaran tarekat dalam bentuk laku ruhani yang disebut mujahadah, muqarabah, dan musyahadah secara arif disampaikan Sunan Kalijaga baik secara tertutup diberikan kepada murid-murid ruhani sebagaimana layaknya proses pembelajaran di dalam sebuah tarekat.

Sementara itu, pelajaran yang disampaikan secara terbuka, dilakukan melalui pembabaran esoteris kisah-kisah simbolik dalam pergelaran wayang, sehingga menjadi pesona tersendiri bagi masyarakat dalam menikmati pergelaran wayang yang digelar Sunan Kalijaga.

Sunan Drajat dikenal sebagai penyebar Islam yang berjiwa sosial tinggi dan sangat memperhatikan nasib kaum fakir miskin serta lebih mengutamakan kesejahteraan sosial masyarakat.

Setelah memberikan perhatian penuh, baru Sunan Drajat memberikan pemahaman tentang ajaran Islam. Ajarannya lebih pada empati dan etos kerja berupa kedermawanan, pengentasan kemiskinan, usaha menciptakan kemakmuran, solidaritas sosial, dan gotong royong.

Secara umum, ajaran Sunan Drajat dalam menyebarkan dakwah Islam dikenal masyarakat sebagai pepali pitu (dasar tujuh ajaran), yang mencakup tujuh falsafah yang dijadikan pijakan dalam kehiduapan sebagai berikut :

1.     Pertama,  memangun resep tyasing suasama  (kita selalu membuat senang hati orang lain)

2.     Kedua,  jroning suka kudu eling lan waspodo  (dalam suasana gembira tetap ingat Tuhan dan selalu waspada)

3.     Ketiga,  laksitaning subrata tan nyipta marang pringga bayaning lampah  (dalam upaya mencapai cita-cita luhur janggan tantangan dan rintangan)

4.     Keempat,  meperhardaning pancadriya  (senantiasa berjuang menekan gejolak nafsu-nafsu inderawi)

5.     Kelima,  heneng-hening-henung  (dalam diam akan mencapai keheningan dan di dalam hening akan mencapai jalan kebebasan mulia)

6.     Keenam,  mulya guna panca waktu  (pencapaian kemuliaan lahir batin dicapai dengan menjalankan salat lima waktu)

7.     Ketujuh,  menehono teken marang wong kang wuto. Menehono mangan marang wong kang luwe. Menehono busana marang wong kang wuda. Menehono pangiyup marang wong kang kaudanan  (berikan tongkat kepada orang buta. Berikan makan kepada orang yang lapar.berikan pakaian kepada orang yang tidak memiliki pakaian. Berikan tempat teduh yang kehujanan)

Beberapa contoh dari dakwah Wali Songo di atas terutama yang berkaitan dengan tasawuf (laku suluk) dapat memberikan deskripsi bahwa sesungguhnya dakwah yang dikembangkan Wali Songo pada hakikatnya adalah dakwah yang selaras dengan firman Allah :

1.     Hendaklah Anda mengajak orang ke jalan Allah dengan hikmah, dengan peringatan yang ramah tamah serta bertukar pikiran dengan mereka melalui cara yang sebaik-baiknya.

2.     Penanaman nilai-nilai ajaran Islam melalui keteladanan yang baik sebelum mengucapkan kata, bukan dengan cara propaganda dan cara yang tidak bijak lainnya, menjadikan dakwah yang diajarkan Wali Songo mendapatkan simpati di hati masyarakat.

3.     Ajaran ajaran semacam ini yang selalu digaungkan dalam ajaran Islam dan bahkan lebih dianjurkan karena sesuai dengan dalil normatif al-Qur'an dan Sunnah.

Jika demikian model dakwah yang dikembangkan oleh Wali Songo, maka kita akan menemukan kecocokan model dakwah atau ajaran tasawuf Wali Songo dengan tipologi tasawuf Akhlaki yang diserukan oleh al-Ghazālī.

Nampaknya tawaran tasawuf al-Ghazālī lebih mendapat simpati bagi Wali Songo untuk diajarkan kepada masyarakat secara luas. Ini bisa dengan data yang sudah menjelaskan tentang ajaran tasawuf Sun Bonang dan Sunan Kalijaga yang menjadikan buku-buku al-Ghazālī sebagai rujukan utama.

Proposisi lain yang mungkin dapat diperdebatkan adalah selain dari ajaran Wali Songo Di atas terdapat pula ajaran Syekh Siti Jenar, di mana pemikiran-pemiknya masuk dalam tipologi tasawuf falsafi?

Syekh Siti Jenar pernah mengungkapkan pemikirannya yang memiliki kesamaan dengan ajaran Ibn 'Arab yang monistik sebagai berikut :

(…Seh Lemah Abang ngandika/ aja na kakeyan semu/ iya ingsun iki Allah/ nyata ingsun kang sajati/ jejuluk Prabu Satmata/ tana ana liyan jatine/ ingkang aran bangsa Allah/ molana Maghrib mujar/ iku jisim aranipun/ Seh Lemah Bang angandika/ kawula amedhar ngelmi/ angraosai katunggalan/ dede jisim sadangune/ mapan jisim nora nana/ dene kang kawicara/ mapan sajati ning ngelmu/ sami amiyak warana)

Syekh Lemah Abang berujar, 'Marilah kita berbicara dengan terus terang bahwa Aku ini Allah. Akulah yang sejatinya disebut Prabu Satmata, tidak ada yang lain yang ilahi', Maulana Maghrib mencela, 'tapi itu jisim namanya disebut,' Syekh Lemah Abang menyahut, 'Saya menyampaikan ilmu yang bukan tubuh, karena tubuh pada hakikatnya tidak ada. Yang kita bincang adalah ilmu sejati. Kepada semuanya saja, kita buka tabir rahasia ilmu sejati'.

Dengan demikian, benih-benih tasawuf falsafi di Indonesia sedari awal memiliki kekuatan yang sama besar dengan tasawuf akhlaki. Sangat penting ajaran Syekh Siti Jenar, sebagai wali dengan kapasitas keilmuan yang sangat mumpuni, mendapat banyak tempat di hati masyarakat. Hal ini menunjukkan model kedua tasawuf pernah ada dan tumbuh bahkan pada taraf menjadi suatu arus utama di Nusantara. Pernyataan di atas bisa menjadi benar, jika dakwah dan ajaran Syekh Siti Jenar tidak mendapatkan resistensi dari para anggota wali lainnya. Pada kenyataannnya di dalam sejarah yang dibuktikan bahwa usaha-usaha pemakzulan terhadap paham yang cenderung pada ajaran filosofis-panteistis yang diajarkan Syekh Siti Jenar. Bahkan diberitahukan bahwa Sunan Giri (anggota Wali Songo) dikabarkan kuliah Siti Jenar yang berpandangan panteisme. Sebuah debat langsung digelar di hadapan Raden Fatah, sultan pertama kerajaan Islam di Jawa yang berakhir dengan pengadilan yang menjatuhkan hukuman mati kepada Siti Jenar dan para pendukungnya. Siti Jenar dianggap salah telah mempercayai bahwa Tuhan tidak berwujud kecuali dalam bentuk nama, Dia mengalir dalam diri insān kāmil (manusia paripurna), yang terkenal dengan ajaran'manunggaling kawula Gusti' (union whit the One). Terlepas dari benar-benar tidaknya cerita tersebut, makna yang ingin diambil adalah bahwa Wali Songo tidak membuka ruang terhadap pemikiran filosofis Ibn 'Arabī, al-Ḥallāj, dan sebagainya, yang memiliki tendensi ke arah panteisme. Sebaliknya Wali Songo lebih simpatik terhadap karya-karya al-Ghazālī dan al-Qusyairī yang memiliki orientasi pada pembentukan karakter dan budi pekerti yang baik dalam hal mu'amalah. Implikasi dari adanya usaha membendung arus pemikiran panteistis di Indonesia, akan menguasai pikiran tasawuf akhlaki sebagai pikiran tasawuf yang diridhoi dan direstui dan dijadikan sebagai dasar utama pemikiran tasawuf di Indonesia.

 

Tokoh-Tokoh Tasawuf Pulau Jawa

1.  Wali Songo

Kita ketahui bahwa sebagian ahli sejarah berkata bahwa agama islam masuk ke Indonesia tidak langsung dari tanah Arab tetapi melalui negeri Persia dan India, dibawa kemari oleh pedagang atau oleh mereka yang memang khusus datang untuk menyiarkan agama islam. Jika kita memperhatika, bahwa agama Islam masuk ke Indonesia sekitar abad keempat dan kelima Hijriyah, maka paham-paham sufi dan tasawuf yang sedang tersiar luasdan mendapat perhatian umum dalam negara-negara Islam ketika  itu. Oleh karena itu, sejak saat itu sebenarnya sudah terdapat pertentangan paham gerakan ilmu lahir dan ilmu batin, golongan yang dinamakan syariat dan golongan yang dinamakan hakikat. Terutama di Jawa oleh wali songo itu, sangat mempengaruhi kehidupan Islam di Jawa, dan sampai sekarang masih kelihatan gemanya dalam gerakan-gerakan batin yang tumbuh dibeberapa tempat. Mungkin kita perlu mengetahui serba sedikit, baik rentang kehidupan maupun ajaran ajaran-ajaran wali songo di Jawa, sebelum kita memasuki pembicaraan khusus mengenai tokoh-tokoh tasawuf yang ada di Indonesia. Karena dari merekalah ajaran agama Islam maupun tasawuf mulai tersiar dikalangan rakyat di Jawa Timur, yang mula-mula hanya terdapat di kota-kota pelabuhan atau pantai, tetapi tidak lama kemudian penyiaran itu sambung-menyambung sampai ke daerah-daerah di pulau Jawa. Disinilah mulai terlihat bagaimana bijaksananya mubaligh-mubaligh dalam masa permulaan Islam di Jawa hingga penyebaran ajaran tasawuf di kalangan rakyat Jawa yang dalam segala usahanya disesuaikan dengan perasaan dan cara hidup orang-orang yang ada pada waktu itu. Mungkin sebagian orang masih ada yang berani mengambil kesimpulan bahwa taktik inilah yang menyebabkan bangunan-bangunan masjid masih disesuaikan dengan rumah-rumah peribadatan Buddha, seperti yang sisanya sekarang masih terdapat di Kudus, cerita-cerita Islam yang masuk ke dalam wayang begitu juga pengaruh Islam maupun ajaran tasawuf dalam kesenian, seperti dalam gamelan dan lainnya, yang agaknya sengaja diciptakan oleh wali songo, agar tidak begitu kaget penguasa-penguasa Hindu melihatnya dan rakyat umum menerimanya. Oleh karena itu sampai sekarang kebijaksanaan para wali itu menjadi buah bibir dari rakyat Jawa. Wali-wali itu dianggap sebagai orang yang mula-mula menyiarkan agama islam di jawa dan biasa dinamakan wali Sembilan atau wali songo. Kebanyakan para wali itu datangnya dari negeri asing, dari sebelah barat, dari negeri atas angin, dari sumatera, bahkan lebih jauh lagi, acap kali juga asal-usulnya tidak diketahui orang. Bahwa mereka dengan tiba-tiba telah ada ditanah jawa ditengah-tengah rakyat, dengan cara yang aneh, adalah hal-hal yang acap kali di ceritakan dengan cara yang lebih menarik dan mengagumkan. Umumnya orang kita lebih tertarik mendengar hal-hal yang ajaib dari seorang asing dari pada mendengar cerita itu dari bangsa sendiri yang biasanya mengemukakan keadaan-keadaan yang lama, yang umumnya sudah didengarnya berulang-ulang. Dapat diduga bahwa wali-wali itu dalam menyiarkan agamanya tidaklah berupa pidato atau ceramah didepan umum seperti yang berlaku dengan penyiaran agama sekarang ini, tetapi dalam kumpulan-kumpulan yang terbatas, bahkan kebanyakan secara rahasia, dibawah empat mata, yang kemudian diteruskan dari mulut kemulut. Ketika pengikutnya mulai bertambah banyak, maka terjadilah tabligh-tabligh itu diadakan di dalam rumah-rumah, yang biasa dinamakan madrasah atau pondok. Pendidikan atau cara memberi pengajaran semacam ini pada waktu itu sudah tidak asing lagi, karena dalam masa itu disana-sini sudah terdapat juga mandala-mandala hindu-jawa, denga lanjutannya yang kemudian dinamakan pesantren, yaitu tempat berkumpul santri-santri yang belajar agama Islam.

2.  ‘Abd Al-Karim Banten

Diantara murid-murid Syekh Sambas yang paling berpengaruh adalah Abdul Al-Karim Banten, yang ditunjuk oleh Syekh Sambas sebagai penggantinya. Dilahirkan pada tahun 1840, beliau dibesarkan di desa lampuyang di daerah tanara, jawa barat, daerah yang sama yang melahirkan seorang alim pula yaitu Nawawi Al-Banteni. Ia pergi ke mekah ketika masih muda, dan mempunyai kesempatan belajar disana dan mengabdi dirumah Syekh Sambas. Setelah beberapa tahun, ia menerima sebuah ijazah berkenaan dengan keanggotaan penuh didalam tarekat gurunya. Abd. Al-Karim, sejak awal mudanya, telah mengikuti ajaran Syekh Sambas dan mencapai reputasinya sebagai ulama tasawuf. Tugas pertamanya adalah menjadi pelayan seorang guru tarekat di Singapura, sebuah posisi yang dilakoni beberapa tahun. Pada tahun 1872, ia pulang kerumahnya, desa lampuyang, dan menetap disana untuk sekitar 3 tahun. Yang akhirnya, pada tahun 1876, ia pergi ke mekah untuk melaksanakan tugasnya sebagai pengganti Syekh Sambas. Terdapat 5 cabang tarekat qodiriyyah wanaksabandiyah di pulau jawa yang silsilah mereka kembali kebeliau. Khotbah haji Abdul Al-Karim mempunyai pengaruh yang kuat terhadap warga populasi banten. Beliau mengatakan bahwa ada suatu kebutuhan untuk pemurnian yang intensif tentang kepercayaan-kepercayaan dan praktik-praktik keagamaan. Baginya, dzikir harus menjadi fokus dalam revitalitas iman. Dibanyak tempat, dzikir banyak dilakukan didalam masjid-masjid, dan di langgar-langgar, ketika ada peristiwa khusus, diadakan dzikir malam hari. Masyarakat percaya bahwa beliau adalah wali Allah yang teleh diwarisi kemuliaan tertentu, mempunyai kekuasaan untuk melakukan keajaiban (keramat). Dikemudian hari, beliau menjadi kyai yang lebih dikenal sebagai kyai agung. Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah H. Sangadeli Kaloran, H. Asnawi Bendung Lampuyang, H. Abu Bakar Pontang, H. Tubagus Ismail, Gulatjir, dan H. Mardzuki Tanara. Dari nama-nama diatas, yang paling berpengaruh adalah nama yang terakhir, H. Mardziki (Marzuki). Dilahirkan di tanara, abnten timur, jawa barat tahun 1820, beliau pergi ke mekah untuk pertama kali pada tahun 1858, dan belajar dengan guru yang sama seperti yang telah dilakukan Nawawi Al-Banteni. Beliau manjadi seorang qadiri disana, melalui Syekh Abdul Al-karim Banten. Ia mengajar  nahwu dan sarraf (sitaksis dan tata bahas arab) dan juga fiqih di mekah. Di kota asalnya tanara, ia mendirikan sebuah sekolah tradisional islam (pesantren). Ia menempuh perjalanan secara ekstensif ke asia tenggara, Malaysia, dan sematera ia diterima dengan baik oleh sultan Deli disiam seperti halnya di bali. Dari februari 1870 sampai juni 1888, beliau mengajar di tanara dan mengunjungi ulama-ulama dan anggota-anggota qadiriyah disana. 2 ulama penting banten, Wasid dan Tubagus Ismail, sering merundingkan dengan dia permasalahan dan isu religious yang timbul dari kolonialisme.

3. Syekh Muslih ‘Abd al-Rahman

Kyai Muslih Ibn ‘Abd al-Rahman al-Maraqi (1917-1981), pendiri TQN cabang meranggen, dilahirkan didwsa meranggen, di semarang timur utara (jawa tengah). Beliau menerima pendidikan agama awalnya dir rumah, karena bapaknya kyai Abd. Al-Rahmad menjalankan sebuah pesantren modern yang ia telah dirikan sendiri di tahun 1905, dan beliau adalah seorang keturunan sunan kalijaga. Fokus utama studi kyai Muslih adalah pada tata bahasa tradisional (nahwe), ilmu pokok yang ia ajarkan bersamaan dengan fiqih di [esantren bapaknya di meranggen, pada tahun 1960-an dan 1970-an, beliau meimimpin jaringan tarekat yang paling tersebar luas di jawa tengah, seperti di Kalimantan barat dan Kalimantan selatan. Sebagian dari teman-teman seperjuangannya, yang mempunyai jaringan yang serupa dengan tarekat yang sama berasal dari garis Syekh Sambas, adalah kyai Musta’in Romli Rejoso (Jombang, Jawa timur dan KH. Sohibul Wafa Tajul Arifin Suryalaya, Tasik Malaya, jawa barat. Sekarang, pondok pesantrennya, podok pesantren Al-Futuhiyah Meranggen dijalankan oleh keluarganya sendiri, terutama oleh 2 putra Kyai Muslih, Kyai Lutfi Hakim, dan Kyai Muhammad Hanif. Perihal kepemimpinan ini diamanatkan kepada Kyai Lutfi Hakim saudara Kyai Muslih, walaupun Kyai Ahmad Mutohhar juga bertindak sebagai seorang mursyid. Tareka mempunyai banyak khalifah, sebagian dari mereka tentu saja masih ada hubungan kuluarga, dan ada juga yang bukan. Selain itu untuk mengoprasikan suatu sistem pendidikan tradisional, pondok pesantren futuhiyah telah menerapkan sebuah system madrasah dalam wujud Ibtidaiyyah (sekolah dasar islam), Tsanawiyyah (Sekolah menengah pertama islam) dan madrasah ‘Aliyah (sekolah menengah lanjutan islam), dan juga ad ataman kanak-kanak, sekolah menengah pertama dan sekolah menegah lanjutan.

4.  KH. Romli Tamim dan Pesantren Darul ‘Ulum Jombang Jawa Timur

Nama kiai Romly Tamim merupakan nama paling lekat hubungannya dengan pondok pesantren Darul Ulum. Pesantren ini diantara yang paling terkenal diJombang, Jawa Timur, yang lainnya Tebuireng, Tambakberas, dan Denanyar. Empat institusi ini sering menjadi laporan pokok media massa yang berusaha untuk menginformasikan kepada publik yang haus akan informasi atas berbagai aktivitasnya. Ini tidak lain adalah satu indikasi bagaimana Islam tradisional, terutama di Jawa Timur, dan di Indonesia pada umumnya, masih menjadi sebuah fenomena yang penting. Ini tidak untuk menyiratkan, bagaimanapun, bahwa mereka adalah seragam dalam kaitannya dengan karakter ataukeanggotaan politik. Pendiri pesantren Darul Ulum adalah Kiai Tamim Irsyad, ayah Kiai Romly. Aslinya dari Madura, Kiai Tamim mulai dengan membangunn mushalla untuk shalat pada tahun 1880. Segera setelah itu, seorang kiai muda Demak, Kholil, datang untuk mengajar disana dan menikahi putri kiai Tamim. Saudara kiai Kholil, kiai Syafawi, juga bergabung dengan mereka untuk mengabdi di pesantren itu.pada tahun 1904, kiai Syafawi meninggal, seperti halnya kiai Tamim sepuluh tahun kemudian. Kemudian kiai Kholil dan iparnya, kiai Romly, melanjutkan para para pendiri tahun 1938. Para putra kiai Kholil, kiai Dahlan dan kiai Maksum yang kembali dari studi mereka di Mekkah yang memutuskan untuk menegaskan dan memajukan kembali pesantren Darul Ulum, untuk menghormati almamater mereka sebelumnya di Mekkah. Sebagai tambahan terhadap sistem tradisional, pesantren Darul Ulum mulai untuk mennerapkan sistem madrasah pada tahun 1933 dan tahun 1948, dimulai penerimaan santri putri, yangpda akhirnya didirkanlah Madrasah Mu’allimattahun 1954. Mulai saat itu, Darul Ulum memulai menetapkan berbagai pendidikan dasar dan sekolah menengah, semuanya nergabung pada Departemen Pendidikan dan Departemen Agama Republik Indonesia. Setelah sukses mendirikan universitas juga, pesantren melanjutkan untuk mengoperasikan pengajian (lingkaran religius) dan  mempunyai kurikulum sendiri berdasarkan pada teks Islam.

3. KH. A. ShohibulwafaTajul ‘Arifin dan Pengambangan Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya, jawa Barat (Abah Anom)

Ajaran tarekat qadiriyyah nsqsyabandiyyah (TQN) di Suryalaya dikembangkan oleh dua tokoh utama yaitu Abah Sepuh, dua penerus beliau yakni putranya sendiri, KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul ‘Arifin (Abah Anom). Abah sepuh menjelaskan ajaran TQN melalui ceramah-ceramah beliau di masjid-masjid dan pertemuan-pertemuan nonformal dirumah murid-muridnya. Jadi jelaslah bahwa ajara TQN belum tertulis dengan rinci pada masa tersebut. Sementara itu, pada zaman Abah Anom ajaran TQN mulai ditulas dan kemudian dicetak dalam kita yang berjudul Miftah al-Sudur. Menurut Abah Anom tujuan dari kitab ini adalahuntuk menyamoaikan kepada murid-muridnya tentang teori dan praktik ajaran TQN, untuk mencapai ketenangan dalam kehidupan didunia dan kebahagiaan nanti di akhirat. Gelar Abah Anom adalah dari bahasa Sunda yang berarti bapak/kyai muda dianugerahkan kepada beliau ketika masih muda. Beliau lahir pada tanggal 1 januari 1915 di Suryalaya, Jawa Barat, putra kelima dari Abah Sepuh, ibunya bernama Hj. Juhriyah. Menurut saudara perempuan beliau, Didah, Abah Anom punya nama lain yaitu Mumum Zakarmudji (H.Shohib), sebagaimana dia tuliskan dalam tulisannya tentang biografi ayahhandanya, Abah Sepuh. Abah Anom masuk sekolah dasar Belanda di Ciamis antara tahun   1923-1929, kemudian meneruskan ke sekolah menengah di Ciawi, Tasikmalaya (1929-1931). Pada usia 18 tahun beliau sudah menjdi wakil talqin, mewakili ayahnya untuk membai’at mereka yang masuk TQN. Kemudian Abah Anom belajar bermacam-macam ilmu agama Islam dibeberapa pesantren di jawa Barat seperti Cicariang, kemudian di pesantren Gentur dan Jambudipa (Kabupaten Cianjur), lalu dipesantren Cireungas, Cimalati (Kabupaten Sukabumi). Tempat beliau belajar ilmu hikmah dan tarekat, dan seni beladiri silat. Abah Anom juga melakukan latihan spiritual (riyaadah) dibawah bimbingan ayahnya sendiri, Abah Sepuh. Abah Anom sering mengunjungi atau berziarah ke makam wali pada waktu belajar dipesantren Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah. Beliau pergi ke Bangkalan, ditemani kakaknya H. A. Dahlan dari wakil Abah Sepuh lainnya, yaitu KH. Paqih dari Talaga Majalengka. Abah Anom menikah dengan etnis Ru’yanah pada tahun 1938 pada usia duapuluh tiga tahun. Pada tahun yang sama beliau pergi ke Mekkah ditemani oleh keponakannya, Simri Hasanuddin dan tinggal di Mekkah selama tujuh bulan untuk belajar. Beliau belajar tasawuf dan tarekat dengan Syekh Romly dari Garut, wakil Abah Sepuh yang tinggal di Jabal Qubesy, dekat Mekkah. Sepulangnya dari Mekkah pada tahun 1939, belliau membantu ayahnya mengajar pesantren Suryalayadan kemudian membantunya dalam perang kemerdekaan (1945-1949). Pada tahunn 1953 beliau ditunjuk untuk memimpin pesanren Suryalaya dan bertindak mewaili Abah Sepuh. Selama tahun 1953-1962, Abah Anom aktif menolong tentara Indonesia melawan dan melawan pembeontakkan Kartosuwiryo. Selama tahun 1962-1995, beliau membantu pemerintah didaerah Suryalaya dalam hal pertanian, pendidikan, lingkungan, sosial, kesehatan, koperasi, dan politik. Beliau banyak menerima penghargaan dari pemerintah seperti Sataya Lencana Bhakti Sosial (Penghargaan Indonesia untuk Dedikasi Sosial) dan Kalpataru (sebuah penghargaan yang diberikan bagi merekayang berjasa untuk pelestarian lingkungan), dan lain-lain. Abah Anom juga berhasil menyebarkan TQN di Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam dan Thailand. Dan sejak tahun 1980beliau telah membangun dua puluh  dua pondok Inabah untuk penanggulangan korban penyalah guna obat dan narkotika, dari selama lebih dari dua puluh tahun Inabah ini telah menyembuhkan 9.000 anak muda yang kecanduan obat terarang tersebut. Padahal Inabah sendiri juga didirikan di Singapura dan Malaysia. Dari perkawinannnya sengan ibu Euis Ru’yanahbeliau mempunyai tiga belas putra dan puteri: Dudun Nursaidudin, Aos Husni Falah, Nonong, Didin Hidir Arifin, Noneng Hesyati, Endang Ja’far Sidik, Otin Khadijah, Kankan Zulkarnaen, Memen Ruhimat, Ati Unsuryati, Ane Utiya Rohyane, Baban Ahmad Jihad, dan Nur Iryanti, melalui istrinya yang kedua, Yoyoh Sofiah, beliau mendapat seorang putra bernama Ahmad Masykur Firdaus, lahir tahun 1986. Suksesi yang diterima Abah Anom pada tahun 1956 berjalan dengan mulus. Beliau telah dipersiapkan dengan hati-hati oleh ayahhandanya selama bertahun-tahun. Ketika hampir baliau menduduki kedudukan tersebut, Suryalaya dalam keadaan yang kurang aman karena serangan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia), gerakan yang dipimpin oleh Kartosuwiryo. Kejadian ini hampir memakan waktu selama dua belas tahun (1950-1962), secara khusus berbahaya karena kartosuwiryo tau bahwa Abah Anom dan kakaknya H. A. Dahlan (Kepala Kampung Tanjung Kerta), melawan gerakan DI/TII yang masih hidup adalah H. Dudun Nursaidudin (putra Abah Anom). Pada tahun 1962 Abah Anom menerima sebuah penghargaan lain dipersembahkan kepada beliau pada tahun 1961 oleh Gubernur Jawa Barat, Mashudi untuk karya pionirnya dalam penggunaan teknologi pertanian. Pada tahun 1962-1966, Suryalaya menerima tamu-tamu dari banyak pejabat tinggi, intelektual, dan tokoh-tokoh publik. Mereka menunjukkan penghormatan kepada Abah Anom atas kesuksesannya , walaupun beliau menghadapi banyak tantangan dan kesulitan, dan juga tentang macam-macam tanda kemajuan yang berhubungan dengan perubahan situasi negara. Pada tahun 1961 pesantren Suryalaya telah membentuk sebuah yayasan yang bernama yayasan Serab Bhakti untuk memacu terus kemajuan masa depan. Pendirian yayasan Serba Bhkati sebenarnya memenuhi sebuah saran yang disampaikan oleh H. Sewaka, yang menjadi Gubernur Jawa Barat selama tahun 1947-1952, dan sebagai menteri pertahanan pada tahun 1952-1953, yang juga adalah seorang ikhwan TQN.Yayasan Serba Bhakti pondok pesantren Suryalaya telah memainkan peran yang sangat penting dalam memajukan pendidikan, politik, sosial, dan ekonomi daerah. Yayasan memajukan usaha-usaha yang telah dirintis pesantren dibidang-bidang tersebut, dan juga merefleksikan kepribadian Abah Anom, seorang pemimpn yang mempunyai wawasan intelektual yang luas, pengetahuan yang banyak dan ketaqwaan yang mendalam. Beliau juga mengalami banyak kesulitan dalam kehidupannya. Tetapi, ia sangat sabar, berani, dan rendah hati. Beliau dikenal konsisten dan setia terhadap ajaran Abah Sepuh dan juga sebagai seorang pemimpin yang suka bekerja keras.

 

Tasawuf Yang Diajarkan Walisongo

Terdapat berbagai peran dan ajaran tasawuf yang diajarkan oleh para walisongo. Bahkan mereka rata-rata berdakwah dengan menggunakan ajaran tasawuf tersebut. Adapun perannya adalah sebagai berikut :

Berdakwah dengan Pendidikan, kelembagaan dan Ilmu Hikmah Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama. Kiai-kiai dan ulamaulama. Di Pesanren atau pondok mereka mendapat pendidikan agama. Pendidikan merupakan salah satu perhatian sentral masyarakat Islam baik dalam Negara mayoritas maupun minoritas. Dalam ajaran agama Islam pendidikan mendapat posisi yang sangat penting dan tinggi. Karenanya, umat Islam selalu mempunyai perhatian yang tinggi terhadap pelaksanaan pendidikan untuk kepentingan masa depan umat Islam. Besarnya arti pendidikan, kepentingan Islamisasi mendorong umat Islam melaksanakan pengajaran Islam kendati dalam system yang sederhana, pengajaran diberikan dengan sistem halaqah yang dilakukan di tempat-tempat ibadah semacam masjid, musallah bahkan juga di rumah-rumah ulama.

Di Jawa, umat Islam mentransfer lembaga keagamaan Hindu-Budha menjadi pesantren, di Minangkabau mengambil Surau sebagai peninggalan adat masyarakat sional. Menurut Manfred, Pesantren berasal dari masa sebelum Islam serta mempunyai kesamaan dengan Budha dalam bentuk asrama. Bahwa pendidikan agama yang melembaga berabad-abad berkembang secara pararel. Pesantren berarti tempat tinggal para santri. Sedangkan istilah santri berasal dari bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji. Menurut Robson, kata santri berasal dari bahasa Tamil sattiri yang diartikan sebagai orang yang tinggal di sebuah rumah miskin atau bangunan keagamaan secara umum. Meskipun terdapat perbedaan dari keduanya, namun keduanya perpendapat bahwa santri berasal dari bahasa Tamil. Santri dalam arti guru mengaji, jika dilihat dari penomena santri. Santri adalah orang yang memperdalam agama kemudian mengajarkannya kepada umat Islam, mereka inilah yang dikenal sebagai guru mangaji. Santri dalam arti orang yang tinggal di sebuah rumah miskin atau

bangunan keagamaan, bisa diterima karena rumusannya mengandung cirri-ciri yang berlaku bagi santri. Ketika memperdalam ilmu agama, para santri tinggal di rumah miskin, ada benarnya. Kehidupan santri dikenal sangat sederhana. Sampai Tahun 60-an, pesantren dikenal dengan nama pondok, karena terbuat dari bambu. Pada abad ke XV, pesantren telah didirikan oleh para penyebar agama Islam, diantaranya Wali Songo. Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam mendirikan masjid dan asrama untuk santri-santri. Di Ampel Denta, Sunan Ampel telah mendirikan lembaga pendidikan Islam sebagai tempat ngelmu atau ngaos pemuda Islam. Sunan Giri telah ngelmu kepada Sunan Ampel mendirikan lembaga pendidikan Islam di Giri. Dengan semakin banyaknya lembaga pendidikan Islam pesantren didirikan, agama Islam semakin tersebar sehingga dapat dikatakan bahwa lembaga-lembaga ini merupakan ujung tombak penyebaran Islam di Jawa. Kehadiran pesantren sebagai upaya untuk mendakwahkan agama bagi orang-orang Jawa ternyata lambat laun mengalami perluasan peran. Ia kemudian menjelma menjadi lembaga pendidikan yang bermanfaat untuk mendidik orang Islam menjadi alim dan cerdas dalam dan pengetahuan agamanya, peran pendidikan tidak sekedar mengalihkan ilmu-ilmu keagamaan yang berkenaan dengan penanaman aspek penghayatan agama yang bersifat kesalehan personal / etika(melalui pengenalan dan praktek tasawuf, melainkan juga melebar kepengajaran ilmu ilmu syariat yang bekaitan dengan aturan atau tata pergaulan kemasyarakatan. Dengan mengambil model institusi pondok, perlahan-lahan ia menjelma menjadi lembaga keagamaan yang mengalami pergeseran makna yang bernuansa Islam, bahkan menjadi institusi Islam. Dalam hal ini pondok atau pesantren memainkan peran penting dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa, oleh karena itu dari segi historis, pesantren tidak hanya identik dengan makna keIslaman, tetapi juga mengandung identitas keaslian. Sebab lembaga ini sebenarnya sudah ada sejak masa Hindu-Budha. Meskipun pada mulanya pesantren berfungsi sebagai lembaga pendidikan yang bercorak keagamaan, dan menjadi pusat pertumbuhan dari system zawiyah (qilda) yang dikembangkan oleh kaum sufi dengan berbagai aliran tarekatnya, justru dalam pertumbuhannya yang tidak disadari, pesantren malah berubah menjadi markas gerakan yang bernuansa politik. Dengan demikian, kedua orientasi tersebut terdapat di pesantren tersebut ternyata membawa dampak bagi santri untuk mengartikulasikan ajaran agamanya di tengah-tengah masyarakat Jawa. Selain fiqih, mistisisme yang diajarkan dan dipraktikkan di pesantren melalui kitab-kitab tasawuf menemukan lahannya yang subur di Jawa. Tuhan dalam mitisisme Jawa yang besifat imanen sangat cocok dengan imanensi Allah dalam tradisi tasawuf. Interelasi Islam dan kebudayaan jawa di bidang pendidikan tidak lupa dari perjuangan Walisongo dalam mengislamkan tanah jawa dan perkembangan pendidikan pesantren di tanah Jawa. Secara historis, asalusul pesantren tidak dapat di pisahkan dari sejarah pengaruh Walisongo abad 15-16. Pesantren merupakan Lembaga pendidikan ini telah berkembang, khususnya di Jawa selama berabad-abad dan merupakan lembaga pendidikan yang unik di Indonesia. Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan keagamaan di jawa, tempat anak-anak muda bisa belajar dan memperoleh pengetahuan keagamaan yang tingkatnya lebih tinggi. Alasan pokok munculnya pesantren ini adalah untuk mentransmisikan Islam tradisional, karena disitulah anak-anak muda akan mengkaji lebih dalam kitab-kitab klasik berbahasa arab yang ditulis berabad abad yang lalu. Seorang ahli sejarah yang mengatakan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan yang merupakan kelanjutan dari lembaga pendidikan praIslam, yang disebut mandala. Mandala telah ada sejak sebelum majapahit dan berfungsi sebagai pusat pendidikan semacam sekolah dan keagamaan. Bangunan mandala dibangun di tas tanah perdikan yang memperoleh kebebasan sangat luas dari beban-beban penyerahan pajak, kerja rodi, dan campur tangan pihak kraton serta pemilik tanah yang tidak berkaitan dengan keagamaan. Mandala adalah tempat yang di anggap suci karena disitu tempat tinggal para pendeta atau para pertapa yang memberikan kehidupan yang patut di contoh masyarakat sekitar karena kesalehannya, dan lain-lain. Pesantren dan mandala mempunyai persamaan-persamaan, diantaranya :

a.     Sama-sama memiliki lokasi jauh dari keramaian di pelosok yang berada pada tanah perdikan atau desa yang telah memperoleh hak istimewa dari penguasa. Banyak pertapaan atau mandala di bagian timur jawa di masa Hindu yang dihuni para resi yang menjalankan latihan rohani sambil bertani. Persamaan itu ia contohkan sebagaimana sunan kalijaga yang sering bersemedi dan melakukan tirakat di pertapaan mantingan yang sepi, yang hal itu juga dilakukan oleh para resi dalam tradisi praIslam.

b.     Lembaga pendidikan keagamaan Hindu Budha mandala dan lembaga pendidikan keagamaan Islam pesantren sama-sama memiliki tradisi ikatan guru murid. Ikatran guru murid ini merupakan ciri yang umum dalam kehidupan di mandala, yaitu murid yang jauh dari orang tuanya diserahkan pendidikannya kepada guru sebagai pengganti orang tua di lembaga pendidikan pra Islam. Hubungan guru murid juga menjadi ciri dalam pendidikan Islam, terutama karena perkembangan lembaga tarekat-tarekat yang berada di pesantren.

c.      Tradisi menjalin komunikasi antardharma, yang juga dilakukan anatar pesantren dengan perjalanan rohani atau lelana. Pengembaraan rohani dalam islam sangat berkaitan dengan perjalanan ilmiah yang ingin dicapai dalam tradisi pesantren, yaitu untuk menambah ilmu. Perjalanan ilmiah atau yang sebut rihlah ilmiah memunculkan santri (berarti siswa atau murid sebuah pesantren) yang terus menerus ingin menambah ilmunya.d. Metode pengajarannya yang disebut halaqah (lingkaran). Dalam halaqoh kiai biasanya duduk dekat tiang, sedangkan para murid duduk di depannya membentuk lingkaran. Tokoh sejarawan lain yang menduga bahwa pesantren merupakan kelanjutan dari lembaga pendidikan keagamaan Hindu Budha mandala di tanah Jawa adalah pendapat Simanjuntak. Ia menyatakan bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan Islam telah mengambil model dan tidak mengubah struktur organisasi dari lembaga pendidikan mandala pada masa Hindu. Pesantren hanya mengubah isi agama yang dipelajari, bahasa yang menjadi sarana bagi pemahaman pelajaran agama, dan latar belakang para santrinya. Demikian pula Abdurrahman Mas’ud berpendapat bahwa pesantren sebagai institusi pendidikan Islam memiliki kesinambungan dengan lembaga pendidikan gurucula yang telah ada di masa pra Islam di Jawa. Pesantren memiliki akar budaya, ideologis, dan historis dari lembaga pendidikan Hindu Budha yang dilestarikan dengan memberikan modifikasi substansi yang bernuansa islami.

 

Pendekatan pendidikan yang digunakan Walisongo diantaranya yaitu sebagai berikut :

a.     Pendekatan Modelling. Modelling diartikan sebagai model, contoh, panutan. Artinya dalam menyampaikan ajaran Islam tidak hanya sekedar memberitahu hal-hal yang sifatnya hanya kognitif semata, tetapi juga dengan cara memberikan contoh. Islam adalah ajaran nilai yang mana tidak akan berguna jika hanya digunakan sebatas pada pengetahuan kognitif saja. Dengan kata lain inti dari pendidikan Islam adalah internalisasi nilai-nilai ke-Islaman. Oleh karena itu perlu adanya sebuak objek yang bisa dijadikan teladan atau panutan. Yang perlu ditegaskan adalah bahwa modelling mengikuti seorang tokoh pemimpin merupakan bagian penting dalam filsafat Jawa. Walisongo sebagai penyebar ajaran Islam yang juga menjadi kiblat kaum santri sudah barang tentu berkiblat pada para guru besar dan kepimpinan muslimin, Nabi Muhammad SAW. Kekuatan modelling ditopang dan sejalan dengan sistem nilai Jawa yang mementingkan paternalisme (system kepemimpinan sional, berdasarkan hubungan bapak dan anak) dan patron-client relation (hubungan pelindung-klien / yang dilindungi) yang sudah mengakar dalam budaya masyarakat Jawa.

b.     Pendekatan Substantif. Di zaman serba modern seperti sekarang ini, pendidikan mempunyai kedudukan amat penting di dalamnya. Sebab tanpa pendidikan manusia tidak dapat mencapai prestasi yang begitu tinggi dalam membangun peradaban. Suatu peradaban yang maju dan berkembang adalah peradaban yang di dalamnya menjunjung tinggi pendidikan. Pendekatan substantif adalah pendekatan yang dalam pengajarannya lebih mengutamakan materi pokok / inti pokok pengajaran. Dalam Islam ajaran tauhid adalah satu materi pokok yang disjikan sejak awal. Karena lebih mengutamakan pendekatan substantive maka jika terlihat pendekatan Walisongo sering menggunakan elemen-elemen non-Islam, sesungguhnya hal ini adalah means atau a matter of approach, atau alat untuk mencapai tujuan yang tidak mengurangi substaisi dan signifikansi ajaran yang diberikan. Dengan kata lain, wisdom dan mau`idhah hasanah adalah cara yang dipilih sesuai dengan ajaran Al-Quran (An-Nahl : 125).

c.      Tidak bersifat diskriminatif. Manusia adalah makhluk yang memiliki potensi sejak lahir. “aliran nativisme berpendapat bahwa perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa manusia sejak lahir; pembawaan yang telah terdapat pada waktu dilahirkan itulah yang menentukan hasil perkembangannya. Sementara aliran emprisme berpendapat berlawanan dengan kaum nativisme karena berpendapat bahwa dalam perkembangan anak menjadin manusia dewasa itu sama sekali ditentukan oleh lingkungannya atau oleh pendidikan dan pengalaman yang diterimanya sejak kecil. Dalam Islam dikenal dengan istilah “fitrah”. Secara etimologis, asal kata fitrah dari bahasa Arab yaitu “fitratun” jamaknya “fitarun”, artinya perangai, tabiat, kejadian asli, agama, ciptaan. Fitrah juga terambil dari akar-akar “Al-Fathr” yang berarti belahan. Dari makna ini lahir aknamakna lain, antara lain pencipta atau kejadian. Sehubungan dengan kata fitrah tersebut ada sebuah hadits shohih diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah: “tidak ada satu anak pun yang dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menyebabkannya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (HR : Bukhori dan Muslim) Meskipun dikatakan sebagai pendidikan yang merakyat, namun pendidikan Islam Walisongo juga ditujukan pada penguasa. Keberhasilan Walisongo terhadap pendekatan yang terakhir ini biasanya terungkap dalam istilah poluler Sabdo Pandito Ratu yang berarti menyatunya pemimpin agaa dan pemimpin Negara. Dengan kata lain, dikotomi atau gap antara ulama dan raja tidak mendapatkan tempat dalam ajaran dasar Walisongo. Ajaran ini adalah warlsan Sunan Kalijaga, tokoh yang mewariskan system kabupaten di Jawa.

d.     Understandable and applicable  maksudnya adalah mudah dipahami dan dilaksanakan. Konsep pendidikan yang tidak muluk-muluk dan cara penyampaian yang sederhananamun mengena, lebih mudah untuk ditangkap oleh masyarakat yang sebagian besar masih rendah tingkat pemahamannya. Hal ini selaras dengan ajaran Nabi wa khatibinnas `ala qadri `uqulihim. Proses penyampaian tidak hanya dengan ceramah tetapi juga menggunakan metode dan media lain. Seperti media pewayangan misalnya. Wayang sebenarnya tidak berasal dari Islam, namun dengan mengganti substansi wayang tersebut dengan inti ajaran Islam, maka proses pendidikan Islam masih dapat dilaksanakan. Ajaran rukun Islam dengan demikian dapat ditemukan dalam cerita pewayangan seperti syahadatain yang sering dipersonifikasikan dalam tokoh puntadewa, tokoh tertua diantara Pandawa dalam kisah Mahabarata. Puntadewa yang memiliki pusaka Jamus Kalimasada (Kalimasada : Kalimah Syahadat) digambarkan sebagai raja adil yang tulus ikhlas bekerja untuk kesejahteraan rakyatnya, yakni pemimpin yang konsisten antara kata dan perbuatannya. Tingkah laku yang tidak munafik ini (beriman) adalah refleksilips of faith.

e.      Pendekatan kasih sayang. Mendidk bukanlah sekedar transfer ilmu pengetahuan dari seorang guru kepada muridnya. Terlalu naïf jika masih ada guru yang menganggap demikian pada zaman sekarang ini. Bagi walisongo, mendidik adalah tugas dan panggilan agama. Mendidik murid sama halnya dengan mendidik anak kandung sendiri. Pesan mereka dalam konteks ini adalah ayangi, hormati, dan jagalah anak didikmu, hargailah tingkah laku mereka sebagaimana engkau memperlakukan anak turunmu. Beri mereka pakaian dan makanan hingga mreka dapat menjalankan syariat Islam, dan memegang teguh ajaran agama tanpa keraguan. Bila dewasa ini di Indonesia kita masih menemukan pola pendidikan yang menindas, seperti guru yang selalu merasa paling benar, baik dalam kata, tulis, maupun tingkah laku sehari-hari (apalagi dalam kelas), tindakan hukuman pada anak didik yuang lebih didorong oleh emosi pribadi dan bukan pertimbangan edukatif, maka ini semua adalah warisan penjajah yang lahir jauh setelah zaman Walisongo.

 

Menggunakan kebijaksanaan dan melakukan akulturasi ajaran Islam dengan kebudayaan setempat

Wali Songo sebagai figur agamis menjadi simbol kesalihan masyarakat pada saat itu. Sehingga apa yang dilakukan oleh para wali menjadi contoh yang baik bagi masyarakat. Dalam kehidupan Wali Songo mengembangkan sikap hidup sederhana, tidak berlebih-lebihan, peduli terhadap fakir miskin, bahkan menjadi pelopor dalam memberantas kemiskinan dan kebodohan. Dalam memilih tempat tinggal, Wali Songo lebih memilih tempat terpencil, mereka lebih suka hidup di gunung dan perkampungan daripada di perkotaan. Hal ini sesuai dengan salahsatu ajaran tasawuf yang disebut dengan ‘uzlah (mengasingkan diri). Pada masa Sunan Giri ajaran tasawuf diadopsi menjadi norma yang harus dipegang oleh masyarakat, diantara isi dari norma tersebut adalah Meper Hardaning Pancadriya (kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu) Heneng - Hening -Henung (dalam keadaan diam kita akan memperoleh keheningan dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita -cita luhur). Mulyo guno Panca Waktu (suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan salat lima waktu). Wali Songo juga mengajak masyarakat untuk selalu berzikir mengingat Allah SWT dan menumbuhkan kesadaran kehambaan, yang dikemas dalam bentuk karya seni sesuai dengan budaya setempat, seperti :

-         Tembang Tombo Ati.

-         Tembang Lir Ilir.

-         Suluk Wijil yang dipengaruhi kitab alShidiq.

-         Perseteruan Pandawa Kurawa yang ditafsirkan sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan.

-         Isbah (peneguhan) dan lain-lain.

 

Mengakulturasi kesenian dengan ajaran tasawuf

Para walisongo mentransfer tasawuf dengan cara akulturasi kesenian. Jadi dengan cara memasukkan ajaran tasawuf melalui kesenian. Saluran Islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang, wayang sebagai hasil budaya Jawa di dalamnya memuat nilainilai edukatif yang lengkap. Tidak hanya contoh kepahlawanan saja, tetapi juga pendidikan moral, kesetiaan dan kejujuran. Pada tahun 1443 saka, bersamaan dengan pergantian pemerintah Jawa yang berdasarkan Agama Budha (majapahit) kepemerintahan berdasarkan Islam (Demak) misalnya dalam wayang Beber, wujud wayang ini kemudian diubah menjadi wayang kulit yang tokohnya terperinci satu persatu, yang melakukan pengubahan ini adalah para wali. Dalam hal ini para pemuka Islam telah dapat menghilangkan unsur-unsur kemusrikan. Dalam Islam terdapat tiga macam hukum mengenai gambar-gambar yaitu mubah, makruh dan musyrik. Para wali mengubah wayang kulit itu bukan sekedar untuk memberantas kemusyrikan, tetapi juga lebih untuk mengenalkan agama Islam, sehingga orang bersedia memeluk dan mengenalkan ajaranajarannya. Dalam setiap lakon dapat diambil suri tauladan atau makna yang tersirat dan tersurat dalam setiap lakon agar manusia dapat mengambil hikmahnya. Dengan demikian, peranan wayang lebih sebagai dasar filosofi manusia Jawa. Disamping ajaran-ajaran yang disampaikan oleh para pujangga Jawa dikatakan, sunan Kalijaga tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang. Dia mengarang lakon-lakon wayang yang baru, dan menjadi dalang pagelaran wayang yang mementaskan “kalimat syahadat” ia bersedia memainkan lakon wayang dengan syarat pihak penyelenggara pagelaran sudi mengucapkan syahadat sebagai tanda kerelaan memeluk Islam, dan dia juga tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi ia meminta para penonton juga untuk mengikutinya mengucapkan kalimat sahadat. Wayang bisa dipakai sebagai sumber nilai hidup, didalam memuat nilai-nilai keluhuran juga memuat nilai-nilai ketidak luhuran, nilai-nilai keluhuran diharapkan untuk ditiru karena mencerminkan kebaikan. Disamping itu dalam berbagai lakon maupun gambaran para tokohnya menunjukkan nilai-nilai etis, misalnya nilai kebenaran sejati, kedudukan nilai kebenaran sejati dalam wayang dibuktikan oleh kenyataan bahwa semua kesatria yang baik dalam wayang selalu berusaha menjadi manusia kebenaran yang dilambangkan oleh tindakan mereka untuk melenyapkan ketidak kebenaran (sura dira jaya ningrat lebur dening pangastuti). Ajaran tentang kebenaran dalam wayang merupakan ajaran pokok Resi Wiyasa dalam lakon wahyu purba sejati mengajarkan kepada manusia untuk percaya kepada enam hal yaitu :

-         Manembah (menyembah kepada Tuhan).

-         Menepi (tidak boleh bertengkar).

-         Maguru (berguru).

-         Mengabdi kepada anak isteri, dan.

-         Makarya (bekerja) tanpa pamrih, maka perlahanlahan ceritanya diarahkan kepada cerita yang mengenalkan ajaran Islam.

Para wali itulah yang mula-mula memberikan pengaruh Islam kepada

cerita-cerita mereka. Pertunjukan wayang yang jalannya ceritanya banyak digubah dari kitab aslinya yaitu kitab Mahabarata semuanya mempunyai tujuan utama, yaitu memberikan petunjuk kepada manusia kejalan yang baik dan benar, kejalan yang dikehendaki oleh Tuhan Yang Maha Esa. Untuk memacu cipta rasa dan karsa manusia agar tergugah untuk ikut memperindah bebrayan agung untuk ikut mahayu hayuning bawana. Dengan demikian, pertunjukan wayang tidak hanya sebagai tuntunan dan alat penghibur, tetapi juga memuat tuntunan kehidupan manusia. Semua itu apabila kita telaah dengan teliti adalah merupakan perjuangan dan hasil kerja keras yang dilakukan oleh para walisongo untuk menyebarkan agama Islam di pulau Jawa.


Tokoh Tasawuf Indonesia dan DuniA


JALALUDDIN RUMI  (Tokoh Tasawuf Cinta). 

Biografi Singkat Jalaluddin Rumi Jalaluddin Rumi lahir di Balkh (sekarang Afghanistan) pada tahun 604 H/1207 M. Ayahnya bernama Baha Walad, beliau seorang da’I terkenal, ahli fiqih sekaligus seorang sufi yang menempuh jalan rohani. Sebagai seorang ahli fiqih sekaligus seorang sufi, Baha memiliki pengetahuan eksoterik yang berkaitan dengan hukum Islam (syariah) maupun pengetahuan eksoterik yang berkaitan dengan tarekat (tasawuf). Dia mengajarkan kepada setiap muslim tentang bagaimana caranya menjalankan kewajiban-kewajiban agama serta bagaimana caranya menjalankan disiplin-disiplin tertentu untuk menyucikan diri dan meraih kesempurnaan rohani.

Pada tahun 1220 ketika kerajaan Khawarizmi direbut oleh tentara Mongol, keluarga Rumi mengungsi ke Baghdad. Setelah itu mereka hijrah pula ke Mekkah, kemudian Damaskus dan akhirnya tinggal di Konya, Turki. Di Nisyafur, keluarga Rumi bertemu dengan Fariduddin ‘Attar yang usianya sudah tua. Saat itu Rumi baru berusia 7 tahun. ‘Attar sangat terkesan pada Rumi kecil dan meramalkan bahwa kelak Rumi akan menjadi orang besar. Sebagai kenang-kenangan ‘Attar memberikan hadiah buku karangannya, Asrar Namah, kepada Rumi, dengan pesan agar kelak dibacanya apabila sudah dewasa.

Pada tahun 1232, ketika keluarga Rumi telah tinggal di Konya, datanglah ke kota itu seorang sufi terkenal bernama Syekh Burhanuddin al-Muhaqqiq al-Tirmidhi. Dia mendapatkan sambutan hangat dari penduduk yang ingin mempelajari tasawuf. Rumi yang baru satu tahun menggantikan ayahnya sebagai pemimpin madrasah, juga tertarik untuk mempelajari tasawuf. Di bawah bimbingan Syekh Burhanuddin al-Tirmidhi, Rumi mempelajari tasawuf secara tekun dan penuh minat. Setelah itu Rumi pergi ke Aleppo dan memperdalam pengetahuannya di Madrasah Tinggi Halawiyah. Dalam usia ke 33 tahun, Rumi telah menguasai berbagai cabang ilmu secara luas seperti Tafsir Alquran, hadits, usuluddin, fiqih, tasawuf, bahasa dan sastra Arab, sejarah Islam, falsafah dan lain-lain.

Pada tahun 1241, ketika kembali ke Konya, ia telah masyhur sebagai guru agama dan ulama yang pengetahuannya luas dan mendalam. Madrasah yang dipimpinnya mempunyai lebih dari seribu murid. Untuk murid-murid secara umum, ia hanya mengajarkan ilmu fiqih dan usuluddin. Tetapi untuk murid-muridnya yang terpilih, ia mengajarkan ilmu tafsir, ilmu tasawuf, dan falsafah.

Setelah beberapa tahun mengajar ilmu syariat dan fiqih, Rumi merasa bosan karena pengetahuan formal yang ia ajarkan kepada murid-muridnya ternyata tidak dapat mengubah sikap dan alam pikiran mereka mengenal dunia, manusia, dan Tuhan. Menurutnya, manusia akan berubah sikap dan pikirannya menjadi luas, apabila pikiran dan jiwanya tenang, serta memiliki perasaan positif terhadap segala sesuatu. Memeluk agama apa pun, kebiasaan dan tabiatnya tidak akan berubah, kecuali jika mereka menyadari potensi tersembunyi sebagai makhluk spiritual, yang jauh di dalam dirinya sebenarnya terpancar cahaya ketuhanan.

Sejak itulah, Rumi menyadari bahwa pelajaran tentang hukum agama, pemikiran falsafah dan pengetahuan formal tidak cukup untuk mendidik seseorang. Maka ia pun merasa jemu mengajar ilmu-ilmu formal seperti fiqih dan syariah. Ia kian menyadari bahwa dalam diri manusia ada kekuatan tersembunyi, yang apabila diberdayakan secara sungguhsungguh, akan dapat memberi kebahagiaan dan pengetahuan yang tidak terkira luasnya. Kekuatan tersebut adalah Cinta Illahi.

Rumi juga berpendapat bahwa seseorang yang ingin memahami kehidupan dan asal usul ketuhanan dari dirinya, ia dapat melakukannya melalui jalan cinta, tidak semata-mata melalui jalan pengetahuan. Cinta adalah asas penciptaan alam semesta dan kehidupan. Cinta adalah keinginan yang kuat untuk mencapai sesuatu, untuk menjelmakan diri. Rumi malahan menyamakan cinta dengan pengetahuan intuitif.

Secara teologis, cinta diberi makna keimanan, yang hasilnya adalah haqq al-yaqin, keyakinan yang penuh kepada Yang Haqq. Cinta adalah penggerak kehidupan dan perputaran alam semesta. Cinta sejati, kata Rumi, dapat membawa seseorang mengenal alam hakikat yang tersembunyi dalam bentukbentuk lahiriah kehidupan. Karena cinta dapat membawa kita menuju kebenaran tertinggi. Rumi berpendapat bahwa cintalah sebenarnya yang merupakan sarana terpenting dalam transendensi diri. Cintalah sayap yang membuatnya dapat terbang tinggi menuju Yang Satu.

Jalaluddin Rumi wafat pada tahun 1274 M di Konya yang sampai hari ini masih menjadi pusat ziarah umat manusia dari berbagai aliran agama. Pada saat pemakamannya, sebagian besar golongan agama hadir dalam penuh kedukaan karena telah kehilangan Sang Pujangga Cinta abadi ini.

 

Ajaran-ajaran Tasawufnya

Cinta Ilahi merupakan tema sentral yang menjadi pusat perbincangan Jalaluddin Rumi mengenai hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya.

1. Keterbatasan Akal

Jalaluddin Rumi menilai akal melalui dua perspektif. Pertama, akal merupakan kapasitas yang memiliki tugas yang menakjubkan. Kedua, pada level yang lebih tinggi untuk mendekat kepada Tuhan, akal memiliki kelemahan tersendiri. Pada level pertama, akal adalah sebuah anugerah ketuhanan yang sangat berharga yang mampu membedakan manusia dari binatang. Manusia dapat mengendalikan dorongan-dorongan rendah hawa nafsu dengan menggunakan akalnya dan menjadi seorang makhluk yang unggul dengan mengekang hasrat-hasrat liar jasmaninya. Menurut Rumi, akal juga merupakan sebuah cahaya sakral yang mengalir dalam hati, sehingga kebenaran dan kepalsuan dapat dibedakan melalui serpihan lenteranya. Namun pada level yang lebih tinggi, akal tidak mampu membawa kita memasuki misteri ketuhanan, memasuki gerbang cinta Tuhan. Dalam perspektif Rumi, keterbatasan akal terungkap secara simbolis melalui kisah Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Ketika sampai di hadapan kehadiran Tuhan.

2. Kekuatan Cinta

Dalam perspektif Rumi, cinta bersama keindahan dan suka cita yang mengiringinya merupakan jantung dan sumsum agama, tema sentral segenap spiritualitas. Hampir di setiap karya-karyanya, Rumi memperbincangkan tentang keistimewaan cinta dengan berbagai ungkapan metaforis. Sebab cinta merupakan ranah pengalaman jiwa manusia yang amat sublime, yang tidak bisa diuraikan ke dalam kata-kata. Bahasa manusia terlalu miskin untuk mewakili pengalaman indah cinta.

Menurut Rumi ada dua macam bentuk cinta: cinta imitasi (isyq majazi) dan cinta sejati (isyq haqiqi). Cinta imitasi adalah cinta kita kepada lawan jenis dan segala bentuk keindahan lainnya selain Tuhan. Sedangkan cinta sejati adalah cinta kita kepada Tuhan Semata. Jika cinta imitasi bersifat semu, sementara, dan menorehkan kekecewaan bagi siapa pun yang mendekapnya, cinta sejati justri bersifat hakiki, abadi, dan membuahkan kebahagiaan bagi siapa pun yang mereguknya.

Dalam kajian Rumi, karena Tuhanlah satu-satunya keindahan sejati dan semua bentuk keindahan lain di alam semesta yang hanya merupakan pantulan secercah keindahan-Nya, maka ketika banyak manusia melabuhkan cinta mereka kepada berbagai bentuk keindahan lain, sesungguhnya mereka mencintai Wajah Tuhan, namun mereka telah keliru dalam melabuhkan perasaan cinta mereka. Dalam Fihi Ma Fihi, Rumi telah menyingkap rahasia cinta tersebut dengan anggun.

Dalam pandangan Rumi, kekuatan cinta yang sanggup penangkap pengalaman ketuhanan secara utuh adalah melalui wadah hati dengan dua fungsi utama.

Pertama, hati sebagai cermin yang harus digosok supaya mengkilap yakni hati harus menjalani asketisme keras untuk jangka waktu yang lama. Pada akhirnya, dalam cermin itu akan terlihat refleksi bercahaya Tuhan sehingga pencinta dan Yang Dicinta seakan-akan menjadi cermin bagi satu sama lain. Kedua, cinta Tuhan akan menyapa kita, bila kita melakukan penyucian hati; mengosongkan rumah kalbu dari segala sesuatu selain-Nya semata. Jalaluddin Rumi menggunakan perumpaan ‘pedang’ atau ‘sapu’ la (tidak), sebagai kata pertama dalam kalimat tauhid la ilaha illallah, tiada Tuhan selain Allah. Layaknya pedang, la pada awal kalimat tauhid itu seolah memenggal segala sesuatu yang bukan Tuhan. Begitu pula rumah kalbu harus dibersihkan dengan sapu sakral ini (la) sehingga Sang Kekasih Hakiki sajalah yang bisa bertahta di dalamnya.

 

AL-GHAZALI Tokoh Tasawuf Takhalli, Tahalli, Tajalli

Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad bin Muhammad bin Ta’us Ath-Thusi Asy-Syafi’i Al-Ghazali, yang secara singkat dipanggil Al-Ghazali atau Abu Hamid Al-Ghazali, lahir di kota bersejarah Ghazlah, Thus Khurusan, sebuah kota di Iran pada tahun 450 H/1058 M, tiga tahun setelah kaum Saljuk mengambil alih kekuasaan di Baghdad. Ayah Al-Ghazali merupakan seorang muslim yang taat dan meninggal saat putranya masih bayi. Al-Ghazali dan saudaranya, Ahmad, kemudian dibesarkan oleh ibu mereka yang memastikan mereka menerima pendidikan yang baik.

Sebelum menginjak usia lima belas tahun, Al-Ghazali menguasai bahasa dan tata bahasa Arab, Alquran, hadits, fikih, serta aspek-aspek pemikiran dan puisi sufi. Selanjutnya, dia melakukan studi rinci mengenai fiqih di bawah bimbingan Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Radhkani di Thus dan Abul Qasim Ismail bin Mas’ada Al-Ismaili, seorang ahli terkemuka dalam bidang ini dalam seminar Jurjan. Pada usia tujuh belas tahun, Al-Ghazali berhasil menyelesaikan pendidikannya dalam bidang fiqih dan pulang ke Thus untuk melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi.

Menjelang usia dua puluhan, Al-Ghazali berangkat menuju Naishabur untuk mengejar pelajaran lanjutan dalam ilmu ilmu keislaman. Dia mempelajari teologi islam dan fikih di bawah bimbingan "Imam Al-Haramain" Abdul Ma'ali Abdul Malik al-Juwaini (w. 478 H/1086 M). Al-Juwaini mengajar di madrasah Nizamiyyah yang terkenal di Naishabur dan AlGhazali menjadi salah seorang murid favoritnya. Al-Juwaini sangat terkesan dengan kecemerlangan intelektual dan kemampuan analisis Al-Ghazali, sehingga ia mencalonkan AlGhazali sebagai asisten pengajarnya.

Al-Ghazali berguru kepada Imam Al-Juwaini hingga menguasai ilmu manthiq, kalam, fiqh-ushul fiqh, filsafat, tasawuf, dan retorika perdebatan. Ilmu-ilmu yang didapatkannya dari Al-Juwaini benar-benar ia kuasai, termasuk perbedaan pendapat dari para ahli ilmu tersebut, hingga ia mampu memberikan sanggahan-sanggahan kepada para penentangnya. Karena kemahirannya dalam masalah ini, AlJuwaini menjuluki Al-Ghazali dengan sebutan bahr mu’riq (lautan yang menghanyutkan). Kecerdasan dan keluasan wawasan berpikir yang dimiliki Al-Ghazali membuatnya menjadi populer. Bahkan, ada riwayat yang menyebutkan bahwa diam-diam di hati Al-Juwaini timbul rasa iri.

Begitu Al-Ghazali mulai mengajarkan fikih, kalam, dan hadist di Nizamiyyah, nama dan ketenarannya mulai tersebar di seluruh wilayah Islam. Sebagai pelindungnya, Nizam Al-Mulk secara rutin mengkonsultasikan semua isu agama dan politik penting saat itu. Kuliah-kuliah harian Al-Ghazali di Nizamiyyah menjadi begitu terkenal sampai-sampai dihadiri oleh tiga ratus orang murid dalam sekali perkuliahannya. Namun ketika AlGhazali mengira telah mencapai semuanya dalam usia yang begitu muda, tiba-tiba dia merasa dirinya terdampar di tengahtengah krisis intelektual.

Pada titik ini Ghazali meragukan semua ilmu yang telah dimilikinya. Keraguan itu mengalami titik kulminasinya yang menyebabkan Ghazali tidak mampu lagi mengajar, tidak mampu lagi menyuguhkan argumentasi naqliah dan akliah, bahkan begitu akutnya sampai-sampai ia nyaris tidak bisa lagi berbicara. Dia mengalami gangguan syaraf serius yang sangat memengaruhi kesehatan fisiknya. Al-Ghazali mendambakan wawasan ketuhanan yang bersifat pasti melalui pengalaman intuitif secara langsung, bukan hanya berdasarkan dalil-dalil naqli bayaniyah dan argumen-argumen spekulatif-filosofis.

Setelah memperoleh kebenaran hakiki pada akhir hidupnya, tidak lama kemudian ia menghembuskan napas terakhirnya di Thus pada tanggal 19 Desember 1111 M, atau pada Senin 14 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah, dengan banyak meninggalkan karya tulis. Karya-karya tulis yang ditinggalkan Al-Ghazali menunjukkan keistimewaannya sebagai seorang pengarang produktif. Dalam seluruh masa hidupnya, baik sebagai penasihat kerajaan maupun sebagai guru besar di Baghdad, baik sewaktu mulai dalam skeptis di Naishabur maupun setelah berada dalam keyakinan yang mantap, ia tetap aktif mengarang.

 

Ajaran-ajaran Tasawufnya

Dalam tasawufnya, Al-Ghazali memilih tasawuf sunni yang berdasarkan Alquran dan As-Sunnah Nabi Muhammad saw. ditambah dengan doktrin Ahlu As-Sunnah wa Al-Jamaah. Al-Ghazali menjauhkan tasawufnya dari paham ketuhanan Aristoteles, seperti emanasi dan penyatuan sehingga dapat dikatakan bahwa tasawuf Al-Ghazali benar-benar bercorak Islam.

Al-Ghazali berpendapat bahwa sosok sufi adalah menempuh jalan kepada Allah Swt, dan perjalanan hidup mereka adalah yang terbaik, jalan mereka adalah jalan yang paling benar, dan moral mereka adalah yang paling bersih.

Sebab, gerak dan diam mereka, baik lahir maupun batin diambil dari cahaya kenabian. Al-Ghazali menolak paham hulul dan ittihad. Untuk itu, ia menyodorkan paham baru tentang makrifat, yaitu pendekatan diri kepada Allah Swt. (taqarrub ila Allah) tanpa diikuti penyatuan dengan-Nya. Jalan  makrifat adalah perpaduan ilmu dan amal, sementara buahnya adalah moralitas.

Perjalanan menuju tasawuf menurut Al-Ghazali diawali dengan penyucian hati (tathir al-qalb), serta melepaskan diri dari ketergantungan kepada selain Allah Swt. Menurut AlGhazali, hati (qalb) memang perlu disucikan karena ia adalah media untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Menurutnya, hati memiliki dua pintu; salah satunya menghadap ke luar, dan yang lainnya menghadap ke dalam. Pintu yang menghadap ke dunia luar dapat menangkap pengetahuan melalui panca indera. Sementara pintu yang menghadap ke dalam, akan menangkap pengetahuan-pengetahuan yang berasal dari alam ghaib.

Inilah yang disebut Al-Ghazali sebagai ma’rifah. AlGhazali menganggap ma’rifah merupakan tujuan akhir yang harus dicapai manusia sekaligus merupakan kesempurnaan tertinggi yang mengandung kebahagiaan hakiki. Ma’rifah diartikan Al-Ghazali sebagai ilmu yang tidak menerima keraguan. Selain itu ia juga mengatakan bahwa ma’rifah merupakan ilmu yang meyakinkan sehingga dengannya dapat diketahui rahasia Allah dan peraturan-peraturan-Nya tentang segala yang ada.

Proses menuju ma’rifah diharuskan melalui beberapa tahapan yang di dalam terminologi sufisme dikenal dengan almaqamat. Beberapa tahapan atau al-maqamat yang dimaksud adalah taubat, sabar, kefakiran, zuhud, tawakkal, dan cinta.

1. Tobat

Dengan pandangan Ghazali, makna tobat secara ideal harus mencakup kesadaran terhadap bahaya dosa yang menimbulkan penyesalan dan segera diikuti dengan tindakan-tindakan konkret dengan meninggalkan semua perbuatan dosa tersebut serta mengisinya dengan berbagai kebajikan sebagai penggantinya. Bahkan lebih jauh, bagi ghazali, secara hakiki setiap kita harus bertobat dalam setiap keadaan.

2. Sabar

Menurut Al-Ghazali sabar adalah menangnya penggerak agama (ba'itsud din) atas penggerak hawa nafsu (ba'itsul hawa) yang berada di dalam diri kita. Bagi AlGhazali, sabar juga merupakan perbuatan kebajikan yang bersumber dari keyakinan bahwa perbuatan maksiat membawa mudharat dan perbuatan taat membawa manfaat. Sehingga tidak mungkin meninggalkan maksiat dan rajin melakukan ketaatan kecuali dengan kesabaran yakni menggunakan penggerak agama dalam menundukkan penggerak hawa nafsu.

3. Kefakiran

Menurut Al-Ghazali, kefakiran diartikan sebagai kekurangan harta yang dibutuhkan. Menurutnya, banyak harta (kaya) sering mendorong manusia untuk melakukan kejahatan, atau paling tidak akan membuatnya tertambat kepada sesuatu kepada selain Allah. Ia juga mengaitkan kefakiran dengan ilmu, pembawaan, dan amal.

4. Zuhud

Secara umum, zuhud diartikan sebagai pengabaian dunia demi kepentingan akhirat. Dunia yang diabaikan itu terutama berkaitan dengan hal-hal yang dibolehkan syariat (mubahat).

5. Tawakkal

Secara etimologis, tawakkal berasal dari kata wakalayakilu yang berarti mewakilkan, dan dari kata ini jugaterbentuk kata wakil yang bisa diterjemahkan dengan pelindung. Menjadikan Allah sebagai Wakil (mewakilkan kepada Allah), dengan makna bahwa menyerahkan segala persoalan kepada-Nya.

6. Cinta

Cinta (mahabbah) merupakan sifat terpuji yang tertinggi bagi seorang sufi sebelum mencapai ma’rifah. Paling tidak, menurut al-Ghazali setiap orang wajib mencintai Allah lebih dari apapun yang lain. Mencintai di sini terutama berkaitan dengan ketaatan dan kepatuhan manusia kepada-Nya. Al-Ghazali menilai bahwa ma’rifah dalam artian mengenal Allah secara hakiki baru akan didapat setelah seseorang mencintai Allah sepenuhnya.

Klaim bahwa Allah merupakan puncak tujuan cinta seorang hamba bukan hanya monopoli kaum sufi saja melainkan setiap manusia harus memprioritaskan Allah dalam kecintaannya.

Adapun beberapa cara untuk merealisasikan dalam bertasawuf menurut Al-Ghazali diantaranya : Takhalli (pengkosongan diri terhadap sifat-sifat tercela), Tahalli (menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji) dan Tajalli(tersingkapnya tabir).

 

1. Takhalli

Takhalli berarti mengkosongkan atau membersihkan diri dari sifat-sifat tercela dan dari kotoran penyakit hati yang merusak. Hal ini akan dapat dicapai dengan jalan menjauhkan diri dari kemaksiatan dengan segala bentuk dan berusaha melepaskan dorongan hawa nafsu jahat.

2. Tahalli

Tahalli berarti berhias. Maksudnya adalah membiasakan diri dengan sifat dan sikap serta perbuatan yang baik. Berusaha agar dalam setiap gerak perilaku selalu berjalan di atas ketentuan agama, baik kewajiban luar maupun kewajiban dalam, atau ketaatan lahir maupun batin. Ketaatan lahir maksudnya adalah kewajiban yang bersifat formal, seperti salat, puasa, zakat, haji, dan lain sebagainya. Sedangkan ketaatan batin seperti iman, ihsan, dan lain sebagainya.

3. Tajalli

Setelah seseorang melalui dua tahap tersebut, maka tahap ketiga yakni tajalli, seseorang hatinya terbebaskan dari tabir (hijab) yaitu sifat-sifat kemanusian atau memperoleh nur yang selama ini tersembunyi (ghaib) atau fana segala selain Allah ketika nampak (tajalli) wajah-Nya.

Tajalli bermakna pencerahan atau penyingkapan. Tajalli berarti Allah menyingkapkan diri-Nya kepada makhlukNya. Penyingkapan diri Tuhan tidak pernah berulang secara sama dan tidak pernah pula berakhir. Penyingkapan diri Tuhan itu berupa cahaya batiniyah yang masuk ke hati. Apabila seseorang bisa melalui dua tahap takhalli dan tahalli, maka dia akan mencapai tahap yang ke tiga, yakni tajalli, yang berarti lenyap atau hilangnya hijab dari sifat kemanusiaan atau terangnya nur yang selama itu tersembunyi atau fana`.

Pengertian hubungan makhluk dan Khalik disebut makrifat. Di sinilah letak perjalanan itu. Kalau sudah bisa menggapainya niscaya akan merasakan tajalli. Tajalli itu artinya meraih kemuliaan di sisi Allah, atau keluhuran. Saat mencapai tingkatan itu, hati akan merasa sepi. Yaitu, sepi ing pamrih rame ing gawe. Namun yang sebenarnya, makna tajalli sangat luas. Ini bahasa tasawuf dalam tarekat. Kalau hati bisa meletakkan sepi selain Allah itu artinya akan menemukan satu takhalli. Yaitu satu kenikmatan, kelezatan, satu kemanisan karena bisa melepaskan semua selain Allah dan Rasul-Nya.

 

SAID NURSI Tokoh Tasawuf Syari’at & Biografi Singkat Said Nursi

Said Nursi lahir pada tahun 1877 M, di sebuah desa bernama Nurs di sebelah Anatoli Timur. Ayahnya bernama Mirza, seorang sufi yang sangat wira’i dan diteladani sebagai seorang yang tidak pernah memakan barang haram dan hanya memberi makan anak-anaknya dengan yang halal saja. Begitu juga dengan ibunya, Nuriye seorang wanita yang saleha. Ia pernah berkata bahwa dirinya hanya menyusui anak-anaknya dalam keadaan suci dan berwudhu. Said Nursi menimba ilmu dengan mempelajari Alquran dari bilik ayahnya sendiri dan saudara lelakinya, Abdullah. Seperti pelajar muslim lainnya, Nursi mulai mengkaji bidang nahwu dan sharf.

Pada tahun 1888, dengan ketekunannya yang luar biasa, ia masuk di sekolah Bayazid yang ditempuhnya hanya dalam waktu tiga bulan. Pada tahun 1989 M, Nursi berguru pada seorang ulama terkenal, Molla Fethullah Efendi yang karena kejeniusannya menyematkan gelar Bediuzzaman (Keajaiban Zaman) terhadap dirinya yang membuat dirinya menjadi terkenal dengan julukan tersebut. Telah lebih dari delapan puluh kitab induk tentang ilmu-ilmu keislaman yang dia hafal. Selain kitab, ia pun menghafal kamus al-Qamus al-Muhith, karya al-Fairuz Abadi sampai pada huruf Sin.

Secara spesifik, Nursi memang sangat dikenal secara luas sebagai seorang pembaharuan dalam tasawuf sebagaimana dinyatakan oleh Ahmad M. Al-Gali, seorang guru besar di United Arab Emirate. Dalam sudut pandang Ahmad al-Gali, Nursi bukan hanya mempelajari wacana-wacana tasawuf dari para guru besar klasik hingga era modern, tapi ia juga mengkonstruksi wacana-wacana tasawuf yang bersifat orisinil dengan menimba inspirasi secara langsung dari Alquran dan sunnah.

 

Ajaran-ajaran Tasawufnya

Dalam karya-karyanya, ketika membahas tasawuf, Nursi tidak pernah mendefinisikan pengertian tasawuf secara etimologis. Ia hanya menguraikan makna tasawuf secara umum melalui pandangannya sendiri. Dalam pandangan Nursi, secara umum tasawuf merupakan perjalanan batiniah (inner journeying) melalui penyucian kalbu dari segala bentuk penyakit hati, seperti egois, takabur, dan lainnya untuk mencapai hakikat kebenaran atau Tuhan.

Dalam pandangan Nursi, tasawuf yang berupa perjalanan batiniah menuju Tuhan sejatinya sudah terangkum dalam syariah. Nursi tidak memaknai syariah sebagai produk ulama klasik yang termaktub dalam hukum-hukum fiqih, melainkan sebagai kumpulan prinsip-prinsip, perintah, dan larangan Ilahi yang berasal dari Tuhan dan ditujukan secara langsung kepada umat manusia melalui nabi. Dengan pengertian syariah secara demikian, Nursi menganggap bahwa segala bentuk perjalanan spiritual dalam tasawuf atau tarekat masih berada dalam lingkaran syariah.

Bagi Nursi, syariah bukan hanya dimensi eksternal dari Islam, sedangkan tarekat bagian dalamnya, dan hakikat merupakan inti atau esensinya. Syariah justru berkembang dalam berbagai tingkatan sesuai dengan tingkatan manusia yang berbeda-beda, yaitu untuk setiap tingkatan terdapat perbedaan tingkat keterkaitan pemahaman dan pelaksanaan syariah. Semakin baik atau semakin meningkat seseorang dalam memahami, melaksanakan, dan mengenyam syariah, maka semakin meningkat derajatnya sebagai seorang muslim.

Dengan alasan inilah Nursi tidak sepakat jika menganggap pemahaman dan pelaksanaan orang awam sebagai syariah, dan tingkatan syariah yang dijalankan orang-orang saleh sebagai tarekat dan hakikat. Tarekat pada dasarnya adalah nama sebuah disiplin syariah dengan cara yang lebih baik, dan syariah memiliki banyak sekali tingkatan pemahaman dan pelaksanaan sesuai dengan perbedaan tingkat manusia.

Oleh karena itu, Nursi mengakui bahwa ada banyak jalan spiritual dalam mendekat kepada Tuhan yang didapatkan dari Alquran. Pada titik inilah, Nursi mengkonstruksi jalanjalan spiritual menuju Tuhan yang ditimbanya secara langsung dari Alquran sehingga menghasilkan empat langkah yaitu pengakuan atas ketidakberdayaan diri, kefakiran, kasih sayang, dan refleksi.

 

HASAN AL-BASHRI Tokoh Tasawuf Sunni & Biografi Singkat Hasan Al-Bashri

Hasan Al Bashri yang nama lengkapnya Abu Sa’id Al Hasan bin Yasar adalah seorang zahid yang amat masyhur di kalangan tabi’in. Ia dilahirkan di Madinah pada tahun 21 H (632 M). Ia dilahirkan dua malam sebelum Khalifah Umar bin

Khattab wafat. Ia dikabarkan bertemu dengan 70 orang sahabat yang turut menyaksikan peperangan Badr dan 300 sahabat lainnya.

Beliau lahir dari ibu yang bernama Khairah, seorang hamba sahaya milik Ummu Salamah, istri Nabi Muhammad saw. Ayahnya bernama Yasar, keturunan Persi beragama Nasrani, ayahnya adalah seorang budak yang ditangkap di Maisan, yang di kemudian hari dimerdekakan oleh Zaid bin Tsabit, sekretaris Rasulullah saw. yang sekaligus juru tulis wahyu. Karena itulah, Yasar biasa dipanggil Yasar Maula Zaid bin Tsabit. Kelahiran Hasan al-Bashri membawa keberuntungan bagi kedua orang tuanya karena kedua orang tuanya terbebas dari status hamba sahaya menjadi merdeka.

Hasan al Bashri tumbuh di kalangan orang-orang yang shaleh, yang memiliki pengetahuan agama yang mendalam, yaitu di keluarga Nabi. Dia melanjutkan pendidikannya di Hijaz. Dia berguru pada ulama-ulama di sana sehingga memiliki ilmu agama yang kepandaiannya diakui oleh para sahabat. Dialah yang mulanya menyediakan waktunya untuk memperbincangkan ilmu-ilmu kebatinan, kemurnian akhlak, dan usaha menyucikan jiwa di Masjid Bashrah. Ajaranajarannya tentang kerohanian senantiasa didasarkan pada sunnah Nabi. Sahabat-sahabat Nabi yang hidup pada zaman itupun mengakui kebesarannya. Bahkan, ketika ada orang yang datang kepada Anas bin Malik untuk menanyakan persoalan agama, Anas memerintahkan orang itu agar menghubungi Hasan. Mengenai kelebihan lain Hasan, Abu Qatadah pernah berkata, “Bergurulah kepada syekh ini. Saya sudah saksikan sendiri (keistimewaannya). Tidak ada seorang tabi’in pun yang menyerupai sahabat Nabi selainnya.”

Setelah melalui kehidupan yang dipenuhi untaian kalimat lembut dan indah, juga berbagai nasihat yang baik sepanjang zaman, pada malam Jum’at awal bulan Rajab Tahun 110 Hijriah, Hasan Al Bashri memenuhi panggilan Rabb-nya.

Pada pagi hari, tersebarlah berita wafatnya di tengah orangorang sehingga Bashrah bersedih karena kematiannya. Hasan wafat pada usia lanjut 86 tahun dan dimakamkan di Bashrah.

Salat jenazahnya tidak bisa dilaksanakan di masjid karena sebagian besar masyarakat Bashrah datang untuk memberi penghormatan kepada salah satu cendekiawan dan reformis paling berpengaruh pada dunia muslim.

 

Ajaran-ajaran Tasawufnya

Hasan Al Basri adalah seorang sufi angkatan tabi’in, seorang yang sangat takwa, wara’ dan zuhud pada kehidupan dunia, yang di kala masanya, banyak dari kalangan masyarakt khususnya dari kalangan atas yang hidup berfoya-foya. Yang mana kezuhudan itu masih melekat ajarannya dari para ulamaulama lainnya pada masa sahabat. Yang mana ajaran beliau masih kental ataupun berdasarkan Alquran dan hadis Nabi, untuk itu beliau termasuk golongan Tasawuf Sunni.

Abu Na’im Al-Ashbahani telah menyimpulkan pandangan tasawuf Hasan Al Bashri sebagai berikut, “Sahabat takut (Khauf) dan pengharapan (Raja’) tidak akan dirundung kemuraman dan keluhan, tidak pernah tidur senang karena selalu mengingat Allah Swt.” Pandangan tasawufnya yang lain adalah anjuran kepada setiap orang untuk senantiasa bersedih hati dan takut kalau tidak mampu melaksanakan seluruh perintah Allah Swt. dan menjauhi seluruh larangan-Nya.

Sya’rani pernah berkata, “Demikian takutnya sehingga seakanakan ia merasa bahwa neraka itu hanya dijadikan untuk ia”.

Khauf adalah ibadah hati. Tidak dibenarkan khauf ini kecuali kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Khauf adalah syarat pembuktian keimanan seseorang. Apabila khauf kepada Allah Swt. berkurang dalam diri seseorang, maka ini sebagai tanda mulai berkurangnya pengetahuan dirinya terhadap Rabb-nya, sebab orang yang paling tahu tentang Allah adalah orang yang paling takut kepada-Nya. Ayat tentang khauf diantaranya yaitu :

1. QS. Az Zumar: 13


قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Artinya:

Katakanlah, “Sesungguhnya aku takut akan azab pada hari yang besar, jika aku durhaka kepada Tuhanku”20

2. QS. Al Insan: 10


اِنَّا نَخَافُ مِنۡ رَّبِّنَا يَوۡمًا عَبُوۡسًا قَمۡطَرِيۡرًا

Artinya:

Sungguh kami takut akan (azab) Tuhan pada hari

(ketika) orang-orang berwajah masam penuh

kesulitan. Raja’ adalah bergantungnya hati dalam meraih sesuatu di kemudian hari. Raja’ merupakan ibadah yang mencakup kerendahan dan ketundukan, tidak boleh ada kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Memalingkan kepada selain Allah Swt. adalah kesyirikan, bisa berupa syirik besar ataupun syirik kecil tergantung apa yang ada dalam hati orang yang tengah mengharap. Raja’ tidaklah menjadikan pelakunya terpuji kecuali bila disertai amalan.

Ayat tentang raja' diantaranya, yaitu :

1. QS. Al Isra’: 57

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ يَبْتَغُوْنَ اِلٰى رَبِّهِمُ الْوَسِيْلَةَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ وَيَرْجُوْنَ رَحْمَتَهٗ

 

وَيَخَافُوْنَ عَذَابَهٗۗ اِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوْرًا

Artinya:

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendirimencari jalan kepada Tuhan siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka mengharapkan

rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sungguh, azab Tuhanmu itu sesuatu yang (harus) ditakuti.

2. QS. Al Baqarah: 218


اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۙ اُولٰۤىِٕكَ

يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orangorang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

 

ABU YAZID AL-BUSTAMI Tokoh Tasawuf Fana dan Baqa’ & Biografi Singkat Abu Yazid Al-Bustami

Abu Yazid Al Bustami adalah seorang sufi terkemuka pada abad III H. Ia disebut sebagai seorang sufi yang memperkenalkan konsep Fana, Baqa, dan Iittihad dalam pengertian tasawuf. Dalam literatur-literatur tasawuf namanya sering ditulis Bayazid Al Bustami. Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Thaifur bin ‘Isa bin Surusyan Al Bustami, lahir di daerah Bustam (Persia) tahun 188 H/ 801 M. Nama kecilnya adalah Taifur. Nama kakeknya adalah Surusyan, penganut agama Zoroaster, kemudian masuk dan memeluk Islam di Bustam. Keluarga Abu Yazid termasuk keluarga yang berada namun lebih memilih hidup sederhana. Abu Yazid dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat beragama. Saat remaja, Abu Yazid terkenal sebagai murid yang pandai dan patuh dalam mengikuti perintah agama serta berbakti kepada kedua orang tua. Perjalanan Abu Yazid untuk menjadi seorang sufi memerlukan waktu puluhan tahun.

Sebelum menjadi seorang sufi, ia lebih dulu menjadi seorang faqih dari madzhab Hanafi. Salah seorang gurunya yang terkenal yaitu Abu Ali As-Sindi yang mengajarkan padanya ilmu tauhid, ilmu hakikat, dan ilmu lainnya. Sedangkan ilmu tasawuf, ia belajar dari orang sufi yang berasal dari Kurdi. Dalam menjalani kehidupan zuhud selama 13 tahun, Abu yazid mengembara di gurun-gurun pasir di Syam, hanya sedikit tidur, makan dan minum.27 Dari kehidupan zuhud yang dijalaninya, timbullah cinta atau mahabbah yang semakin meluas dan mendalam hingga menghanyutkan dirinya hingga tenggelam dalam lautan zuhud. Abu Yazid melihat bahwa pengalaman tasawuf tidak dibenarkan untuk meninggalkan perintah Tuhan. Seorang pengenal tasawuf haruslah memiliki pembimbing atau guru. Barang siapa yang tidak mempunyai guru, maka imamnya adalah setan.

Abu Yazid digolongkan ke dalam kelompok sufi malamatiyat, yaitu sufi yang cenderung bersikap rendah diri, menghinakan serta mencercanya dalam rangka memurnikan pendekatan hubungan kepada Tuhan. Ajaran tasawufnya dikembangkan oleh para pengikutnya dengan membentuk suatu aliran tarekat yang bernama Taifuriyah yang dinisbatkan pada namanya. Pengaruh tarekat ini masih didapati di berbagai wilayah Islam seperti Zoustan, Maghrib, yang meliputi Maroko, Al-Jazair, dan Funisia, bahkan tersebar sampai Chittagon, Bangladesh, yang merupakan tempat-tempat suci yang dibangun untuk memuliakannya.

Abu Yazid meninggal dunia di Bustam pada tahun 261 H/874 M. Makamnya bersebelahan dengan Al-Hujwiri, Nashir Kusrow dan Yaqud. Pada tahun 713 H/1313 M dibangun sebuah kubah di atas makamnya atas perintah Sultan Mongol

Muhammad Khudabanda untuk memenuhi saran penasihat agama Sultan yaitu Syekh Syarifuddin yang mengaku keturunan Abu Yazid. Hingga akhir hayatnya, Abu Yazid rupanya tidak meninggalkan karya tulis yang dapat dipelajari. Akan tetapi, ia mewariskan sejumlah ucapan yang diungkapkan mengenai pengalaman spiritual yang disampaikan oleh muridmuridnya.

 

Ajaran-ajaran Tasawufnya

Ajaran tasawuf Abu Yazid Al Bustami adalah fana’ dan baqa’. Dari segi bahasa, fana’ berasal dari kata faniya yang berarti musnah atau lenyap. Dalam istilah tasawuf, fana’ adakalanya diartikan sebagai keadaan moral yang luhur. Dalam hal ini, Abu Bakar Al-Kalabadzi (387 H/988 M) mendefinisikan hilangmya semua keinginan hawa nafsu seseorang, tidak ada pamrih dari segala perbuatan manusia, sehingga ia kehilangan segala perasaannya dan dapat membedakan sesuatu secara sadar dan ia telah menghilangkan semua kepentingan ketika berbuat sesuatu.

Adapun baqa’ berasal dari kata baqiya, dari segi bahasa berarti tetap, sedangkan berdasarkan istilah tasawuf, baqa’ berarti mendirikan sifat-sifat terpuji kepada Allah Swt. Paham baqa’ tidak dapat dipisahkan dengan paham fana’. Keduanya merupakan pasangan. Jika seorang sufi sedang mengalami fana’, maka ketika itu pula ia sedang mengalami baqa’. Dalam menerangkan kaitan antara fana’ dan baqa’, Al Qusyairi menyatakan bahwa, “Barang siapa meninggalkan perbuatan perbuatan tercela, ia sedang fana’ dari syahwatnya. Tatkala fana’ dari syahwatnya, ia baqa’ dalam niat dan keikhlasan beribadah”. Adanya konsep fana’ dan baqa’ ini dapat dipahami dari isyarat yang terdapat dalam QS. Ar-Rahman: 26-27 :


كُلُّ مَنۡ عَلَيۡهَا فَانٍ    وَّيَبۡقٰى وَجۡهُ رَبِّكَ ذُو الۡجَلٰلِ وَالۡاِكۡرَامِ‌ۚ

Artinya:

26. Semua yang ada di bumi itu akan binasa,

27. tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.33

 

RABI’AH AL-‘ADAWIYAH Tokoh Tasawuf Mahabbah & Biografi Singkat Rabi’ah ‘Adawiyah

Rabiah Al-'Adawiah adalah seorang sufi yang mempelopori dan mengembangkan ajaran tasawuf mahabbah. Ia lahir di Basrah pada tahun 714 M. Kelahirannya diliputi bermacam cerita aneh-aneh. Pada malam ketika ia lahir, di rumahnya tidak ada apa-apa, bahkan minyak untuk menyalakan lampu pun tidak ada, juga tidak ditemui sepotong kain pun untuk membungkus bayi yang baru dilahirkan itu. Ibunya meminta ayah Rabiah agar meminjam minyak dari tetangga. Ini merupakan suatu cobaan bagi si ayah yang malang. Ayah ini telah berjanji kepada Allah untuk tidak mengulurkan tangannya meminta tolong kepada sesamanya.

Namun begitu, ia pergi juga ke rumah tetangganya, mengetuk pintu, tetapi tidak mendapat jawaban. Ia merasa lega dan mengucap syukur kepada Tuhan, karena tidak perlu ingkar janji. Ia pulang dan tidur. Malam itu ia bermimpi, Nabi

Muhammad memberikan tanda kepadanya dengan mengatakan bahwa anaknya yang baru lahir itu telah ditakdirkan menduduki tempat spiritual yang tinggi. Rabiah kehilangan kedua orang tuanya waktu ia masih kecil. Ketiga orang kakak perempuannya juga mati ketika wabah kelaparan melanda Basra. Ia sendiri jatuh ke tangan orang yang kejam, dan orang ini menjualnya sebagai budak belian dengan harga yang tidak seberapa. Majikannya yang baru juga tidak kurang bengisnya. Si kecil Rabiah menghabiskan waktunya dengan melaksanakan segala perintah majikannya. Malam hari dilaluinya dengan berdoa.

Pada suatu malam, majikannya melihat tanda kebesaran rohani Rabiah, ketika Rabiah berdoa kepada Allah "Ya Rabbi, Engkau telah membuatku menjadi budak belian seorang manusia sehingga aku terpaksa mengabdi kepadanya.

Seandainya aku bebas, pasti akan kupersembahkan seluruh waktu dalam hidupku ini untuk berdoa kepada-Mu.” Tiba-tiba tampak cahaya di dekat kepalanya. Dan

melihat hal itu, majikannya menjadi sangat ketakutan. Esok harinya Rabiah dibebaskan.

Setelah bebas, Rabiah pergi ke tempat-tempat yang sunyi untuk menjalani hidup dengan bermeditasi, dan akhirnya sampaikan ia ke sebuah gubuk dekat Basrah. Di sini ia hidup seperti pertapa. Sebuah tikar butut, sebuah kendil dari tanah, dan sebuah batu bata, merupakan keseluruhan harta yang ia punya.

 

Ajaran-ajaran Tasawufnya

Dalam ajaran Tasawuf Mahabbah dikaitkan dengan ajaran yang disampaikan oleh seorang sufi wanita bernama Rabiah Al-'Adawiah. Mahabbah adalah paham tasawuf yang menekankan perasaan cinta kepada Tuhan. Mahabbah artinya cinta. Hal ini mengandung maksud cinta kepada Tuhan. Lebih luas lagi, bahwa mahabbah memuat pengertian yaitu :

1.     Memeluk dan mematuhi perintah Tuhan dan membenci sikap yang melawan pada Tuhan.

2.     Berserah diri kepada Tuhan.

3.     Mengosongkan perasaan di hati dari segalanya kecuali dari Zat Yang Dikasihi.


Tuhan bukanlah Zat yang harus ditakuti, tapi sebaliknya, Zat yang harus dicintai dan didekati. Untuk dapat mencintai dan dekat dengan Tuhan, maka sekarang harus banyak melakukan peribadatan dan meninggalkan kesenangan

duniawi. Mahabbah yang diajukan Rabi’ah Al-Adawiyah ini tidak berubah-rubah, tidak bertambah dan tidak berkurang pula karena bertambah dan berkurangnya nikmat. Sebab Rabi’ah tidak memandang sesuatu yang ada di balik nikmat. Adapun al-hubb anta ahl lahu adalah cinta yang tidak didorong kesenangan indrawi, tetapi didorong Zat yang dicintai. Cinta yang kedua ini tidak mengharapkan balasan apa-apa. Kewajiban-kewajiban yang dijalankan Rabi’ah timbul karena perasan cinta kepada Zat yang dicintai.

Mahabbah adalah suatu keadaan jiwa yang mencintai Tuhan sepenuh hati, sehingga sifat sifat yang dicintai (Tuhan) masuk dalam diri yang dicintai. Tujuannya adalah untuk memperoleh kesenangan batiniah yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, tetapi hanya dapat dirasakan oleh jiwa. Tentang mahabbah dapat dijumpai di dalam Alquran antara lain :

1. Surat Ali Imran ayat 31


قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya:

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah,

ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni

dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha

Penyayang.38

2. Surat Al Maidah ayat 54


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓ ۙاَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَاۤىِٕمٍ ۗذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.

 

AL-QUSYAIRI Tokoh Tasawuf Akhlaki & Biografi Singkat Al-Qusyairi

Nama lengkapnya adalah Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik bin Thalhah bin Muhammad An-Naisaburi. Ia lebih dikenal dengan nama Abdul Thalhah Al-Qusyairi karena ia dikenal dari keturunan kabilah Arab Al-Qusyairi bin Ka’ab yang pindah ke Khurasan pada masa Dinasti Umawi. Al-Qusyairi lahir tahun 376 Hijriah di Istiwa, kawasan Nishafur yang merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan pada masanya. Di sinilah ia bertemu dengan gurunya, Abu Ali Ad-Daqqaq, seorang sufi terkenal. Ia selalu menghadiri majelis dan menempuh jalan tasawuf. Sang guru menyarankan ia untuk mempelajari ilmu syari’at, oleh karena itu Al-Qusyairi mempelajari fiqh kepada seorang faqih, Abu Bakar Muhammad bin Abu Bakar Ath-Thusi, juga mempelajari ilmu kalam dan ushul fiqh kepada Abu Bakar bin Faruq. Tidak hanya itu, ia juga menjadi salah satu murid Abu Ishaq Al-Isfarayani dengan menelaah karya-karya Al-Baqillani. Dari situlah Al-Qusyairi berhasil menguasai doktrin Ahl As-Sunnah wa Al-Jama’ah yang telah dikembangkan Al-Asy’ari bersama muridnya. Al-Qusyairi wafat tahun 456 Hijriah, ia adalah orang yang mampu mengompromikan syariat dengan hakikat.

Al-Qusyairi merupakan salah seorang tokoh sufi utama dari abad V Hijriah. Kedudukannya sangat penting mengingat karya-karyanya tentang para sufi dan tasawuf aliran Sunni abad III dan IV Hijriah.

 

Ajaran-ajaran Tasawufnya

Pandangan dan ajaran Al-Qusyairi tentang tasawuf tertuang dalam karya monumentalnya Risalah Al-Qusyairiyyah. Kitab ini merupakan kitab yang banyak dikutip dalam membicarakan tasawuf. Jika karya Al-Qusyairi dikaji lebih dalam, maka akan nampak jelas jika ia cenderung mengembalikan tasawuf ke atas landasan doktrin Ahl As-Sunnah.

Dalam salah satu ungkapan Al-Qusyairi terkandung penolakan terhadap para sufi syatahi yang mengucapkan ungkapan penuh kesan terjadinya perpaduan antara sifat-sifat ketuhanan, khususnya sifat terdahulu-Nya dan sifat-sifat kemanusiaan. Khususnya sifat barunya, bahkan dengan konotasi lain Al-Qusyairi secara terang-terangan mengkritik mereka. Selain itu, Al-Qusyairi pun mengancam keras para sufi pada masanya yang gemar menggunakan pakaian orang-orang miskin, sedangkan tindakan mereka bertentangan dengan pakaian mereka. Ia menekankan bahwa kesehatan batin, dengan berpegang teguh pada Alquran dan sunnah, lebih penting dibandingkan dengan pakaian lahiriah. Dalam konteks yang berbeda, Al-Qusyairi mengemukakan suatu penyimpangan lain dari para sufi abad V Hijriah baik dari segi akidah maupun moral, dengan ungkapan yang pedas dan tampak berlebihan. Karena itulah, Al-Qusyairi menyatakan bahwa ia menulis risalahnya karena dorongan perasaan sedihnya ketika melihat hal-hal yang menimpa tasawuf. Menurut Al-Qusyairi bahwa pengembalian arah tasawuf dapat dilakukan dengan merujuknya pada doktrin Ahl As-Sunnah wa Al-Jama’ah, yaitu dengan mengikuti para sufi Sunni abad III dan IV Hijriah.

Dalam hal ini, jelaslah sudah bahwa Al-Qusyairi adalah pembuka jalan bagi kedatangan AL-Ghazali yang berafiliasi pada aliran yang sama, yaitu Al Asy’ariyyah yang nantinya merujuk pada gagasan Al-Qusyairi itu serta menempuh jalan yang dilalui Al-Muhasibi maupun Al-Junaid, serta melancarkan kritik keras terhadap para sufi yang terkenal dengan ungkapan yag ganjil.

 

IBNU ARABI Tokoh Tasawuf Falsafi & Biografi Singkat Ibnu Arabi

Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Ahmad bin Abdullah Ath-Tha’I Al-Haitami Al-Andalusia. Ia terkenal dengan panggilan Muhyiddin Ibnu Arabi. Ia lahir di Murcia, Andalusia, Spanyol, tahun 560 Hijriah (1164 M) dari keluarga terpandang dan wafat pada tahun 638 Hijriah. Orang tuanya sendiri adalah seorang sufi yang memiliki kebiasaan berkelana. Pada usia 8 tahun, Ibnu Arabi sudah merantau ke Lisabon untuk belajar agama dari seorang ulama yang bernama Syaikh Abu Bakar bin Khalaf.  Setelah selesai belajar ilmu Alquran dan hukum Islam, ia pindah lagi ke Sevilla yang pada masa itu merupakan pusat pertemuan para sufi di Spanyol. Di sana ia mempelajari Alquran, hadis, dan fiqh dari seorang ulama Andalusia terkenal, yaitu Ibnu Hazm Azh-Zhahiri. Ia menetap selama 30 tahun untuk memperluas pengetahuan di bidang hukum Islam dan ilmu kalam serta mulai belajar tasawuf.

Mesir adalah negeri pertama yang ia singgahi untuk beberapa lama, tetapi ternyata di daerah itu aliran tasawufnya tidak diterima masyarakat. Oleh karena itu, ia melanjutkan pengembaraannya melalui Jerussalem dan menetap di Mekah untuk beberapa waktu. Akan tetapi ia tidak menetap di kota suci tersebut, karena pengembaraannya berakhir di Damaskus sebagai tempat menetapnya sampai ia meninggal tahun 638 Hijriah (1240 M) dan dimakamkan di kaki Gunung Qasiyun. Ia mempunyai dua orang anak, pertama namanya Sa’duddin yang dikenal sebagai penyair sufi dan anak keduanya bernama Imaduddin, mereka dimakamkan berdekatan dengan Ibnu Arabi.

Ibnu Arabi adalah penulis produktif. Menurut Browne, ada 500 judul karya tulis dan 90 judul di antaranya asli tulisan tangannya yang disimpan di perpustakaan Mesir. Di antara karya monumentalnya adalah Al-Futuhat Al-Makkiyah, Tarjuman Al-Asyuwaq, dsb.

 

Ajaran-ajaran Tasawufnya

1. Wahdah Al-Wujud

Ajaran sentral Ibnu Arabi adalah tentang wahdah alwujud (kesatuan wujud). Istilah ini sebenarnya tidak berasal dari dirinya, melainkan dari Ibnu Taimiyah yang merupakan seorang tokoh yang paling keras dalam mengecam dan mengkritik ajaran tersebut. Namun, Ibnu Taimiyah yang telah berjasa dalam mempopulerkan ajaran ini di tengah masyarakat Islam.

Menurut Ibnu Arabi, kata wujud hanya diberikan kepada Tuhan. Pada kenyataannya, Ibnu Arabi juga menggunakan kata wujud untuk sesuatu selain Tuhan. Namun, ia mengatakan bahwa wujud yang ada pada alam adalah wujud Tuhan yang dipinjamkan kepadanya. Untuk memperjelas perkataannya itu, Ibnu Arabi memberikan contoh bahwa cahaya adalah milik matahari, namun cahaya itu dipinjamkan kepada para penghuni bumi.

Dalam kitabnya Ibnu Arabi, Al-Futuhat Al-Makkiyah menuturkan bahwa Allah adalah wujud mutlak, yaitu Zat yang mandiri, yang keberadaannya tidak disebabkan oleh suatu sebab apapun itu. Allah adalah pencipta alam semesta, dan proses penciptaannya dapat dilihat pada Fushush Al-Hikam. Menurut Ibnu Arabi, ada lima tingkatan tajalli atau tamazzul Zat Tuhan, diantaranya adalah :

a.     Tajalli Zat Tuhan dalam bentuk al-a’yan as-sabitah yang disebut dengan ‘alam al-ma’ani.

b.     Tamazzul Zat Tuhan dari a’lam al-ma’ani kepada realitas rohaniah yang disebut dengan ‘alam arwah.

c.      Tamazzul Zat Tuhan dalam rupa realitas annafsiyyah yang disebut dengan an-nafsiyyah.

d.     Tamazzul Zat Tuhan dalam bentuk jasad tanpa materi yang disebut dengan ‘alam mitsal.

e.      Tamazzul Zat Tuhan dalam bentuk jasad bermateri yang disebut dengan ‘alam al-ajsam al-madiyyah atau ‘alam al-hissi atau ‘alam asy-syahadah.

Dalam teori Ibnu Arabi, terjadinya alam ini tidak dapat dipisahkan dengan ajaran tentang hakikat Muhammadiyah atau nur Muhammad. Ibnu Arabi mengatakan bahwa nur Muhammad adalah sesuatu yang pertama wujud dari nur Ilahi.42 Nur Muhamamad itu adalah qadim dan merupakan sumber tanazzul (emanasi) dengan berbagai kesempurnaan ilmiah dan amaliah yang terealisasikan pada diri nabi semenjak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad, setelah itu terealisasikan pula dari Nabi Muhammad kepada para pengikutnya, wali, dsb.

2. Insan Kamil

Insan kamil adalah nama yang dipergunakan oleh kaum sufi untuk menanamkan seorang muslim yang telah sampai ke tingkat tertinggi. Tingkat tertinggi itulah menurut sebagian sufi ketika seseorang telah sampai pada fana’ fillah. Menurut Ibnu Arabi, manusia terhimpun rupa Tuhan dan rupa alam semesta. Manusia adalah wujud Dzat yang suci dengan segala sifat dan asma-Nya. Ia adalah sebuah cermin di mana Tuhan menampakkan diri-Nya.

Dalam pandangan Ibnu Arabi, insan kamil tidak dapat dipisahkan kaitannya dengan nur Muhammad. Menurutnya, ada beberapa jalan yang harus dilalui untuk mencapai ke tingkat insan kamil melalui pengembangan daya institusi atau dzauq, yakni :

a.     Fana, yaitu sirna di dalam wujud Tuhan hingga kaum sufi menjadi satu dengan-Nya.

b.     Baqa, yaitu kelanjutan wujud bersama Tuhan sehingga dalam pandangannya wujud Tuhan ada pada kesegalaan ini.

 

ABDUL KARIM AL-JILLI Tokoh Tasawuf Falsafi & Biografi Singkat Abdul Karim Al-Jilli

Nama lengkapnya adalah Abdul Karim bin Ibrahim AlJilli, lahir tahun 1365 M di Jilan (Gilan), sebuah provinsi sebelah selatan Kasfia dan wafat pada tahun1417 M. Ia adalah sufi terkenal dari Baghdad. Ia belajar tasawuf di bawah bimbingan Abdul Qadir Al-Jailani, pendiri dan pemimpin tarekat Qadiriyyah yang sangat terkenal. Tidak hanya itu, ia juga berguru kepada Syaikh Syarafuddin Isma’il bin Ibrahim AlJabarti di Zabid (Yaman) tahun 1393-1403 M.

 

Ajaran-ajaran Tasawufnya

Ajaran tasawuf Abdul Karim yang terpenting adalah paham insan kamil. Menurutnya, insan kamil adalah nuskhah atau copy Tuhan. Al-Jilli berpendapat bahwa nama dan sifat Ilahiah pada dasarnya merupakan milik insan kamil sebagai suatu kemestian yang inheren dengan esensinya. Adapun perumpamaan yang dikemukakan oleh Al-Jilli ini adalah Tuhan dengan insan kamil bagaikan cermin. Seseorang tidak dapat melihat bentuk dirinya sendiri, melalui cermin. Demikian pula dengan Tuhan yang mengharuskan diri-Nya agar semua sifat dan nama-Nya dilihat, maka Tuhan menciptakan insan kamil sebagai cermin bagi diri-Nya. Dari sinilah tampak hubungan antara Tuhan dan insan kamil.

Menurut Al-Jilli, insan kamil merupakan proses tempat beredarnya segala sesuatu yang wujud (aflak al-wujud) dari awal hingga akhir. Ia adalah satu sejak diwujudkan dan untuk selamanya. Ia dapat muncul dan menampakkan dirinya dalam berbagai macam. Nama aslinya adalah Muhammad, nama kehormatannya Abu Al-Qasim, dan gelarnya Syamsudin. Dari uraian tersebut, Al-Jilli menunjukkan penghormatan dan apresiasi yang tinggi kepada Nabi Muhammad sebagai insan kamil yang sempurna, sebab walaupun beliau telah wafat, nurnya akan tetap abadi dan mengambil bentuk pada diri orang-orang yang masih hidup. Adapun pendapatnya mengenai insan kamil, Al-Jilli merumuskan beberapa maqam yang harus dilalui seorang sufi. Dalam istilahnya, maqam itu disebut martabah (jenjang atau tingkatan), diantaranya :

1. Islam.

Islam yang didasarkan pada lima rukun dalam pemahaman kaum sufi tidak hanya dilakukan secara ritual, tetapi harus dipahami dan dirasakan lebih dalam, misal puasa. Menurutnya, puasa merupakan syarat untuk menghindari tuntutan kemanusiaan agar orang yang berpuasa memiliki sifat-sifat ketuhanan, yaitu dengan cara mengosongkan jiwanya dari tuntutan-tuntutan kemanusiaan dan mengisinya dengan sifat-sifat ketuhanan.

2. Iman.

Artinya, membenarkan dengan sepenuh keyakinan akan rukun iman dan melaksanakan dasar-dasar Islam. Iman merupakan tangga pertama untuk mengungkap tabir alam ghaib dan alat yang membantu seseorang mencapai tingkat atau maqam yang lebih tinggi. Iman menunjukkan sampainya hati untuk mengetahui sesuatu yang jauh di luar jangkauan akal, sebab sesuatu yang diketahui akal tidak selalu membawa keimanan.

3. Shalah.

Pada maqam ini kaum sufi mencapai tingkatan ibadah yang terus menerus kepada Allah dengan perasaan khauf dan tujuan ibadah pada maqam ini adalah mencapai nuqthah Ilahi pada lubuk hati sehingga menaati syariat dengan baik.

4. Ihsan.

Pada maqam ini menunjukkan bahwa kaum sufi mencapai tingkat menyaksikan efek nama dan sifat Tuhan, sehingga dalam ibadahnya merasa seakan-akan berada di hadapan-Nya.

5. Syahadah.

Pada maqam ini, kaum sufi telah mencapai iradat yang bercirikan mahabbah kepada Tuhan tanpa pamrih, mengingat-Nya terus menerus, dan meninggalkan hal-hal yang menjadi keinginan pribadi.

6. Shiddiqiyyah.

Istilah ini menggambarkan tingkat pencapaian hakikat ma’rifat yang diperoleh secara bertahap dari ‘ilm al-yaqin. Menurut Al-Jilli, kaum sufi yang telah mencapai derajat shiddiq mampu menyaksikan hal-hal yang ghaib kemudian melihat rahasia-rahasia Tuhan sehingga mengetahui hakikat diri-Nya setelah mengalami fana, ia akan memperoleh baqa Ilahi. Inilah batas pencapaian ‘ilm al-yaqin.

7. Qurbah.

Ini merupakan maqam yang memungkinkan kaum sufi dapat menampakkan diri dalam sifat dan nama Tuhan.

 

IBNU SAB’IN Tokoh Tasawuf Falsafi & Biografi Singkat Ibnu Arabi

Nama lengkapnya adalah Abdul Haqq bin Ibrahim Muhammad bin Nashr. Ia merupakan kelompok sufi yang juga filsuf dari Andalusia. Ia terkenal di Eropa karena tanggapannya atas pernyataan Raja Frederik II, penguasa Sicilia. Ibnu Sab’in lahir pada tahun 614 H (1217-1218 M) di kawasan Murcia, Spanyol. Ibnu Sab’in mempunyai asal-usul dari kalangan Arab. Ia mempelajari bahasa dan sastra Arab pada gurunya. Ia mempelajari ilmu agama dari Mahzab Maliki, ilmu logika, dan filsafat. Di antara guru-gurunya adalah Ibnu Dihaq, yang dikenal dengan Ibnu Al-Mir’ah, pensyarah karya Al-Juwaini. Ibnu Sab’in memiliki karya sebanyak 41 judul, yang menguraikan tasawufnya secara teoritis maupun praktis, dengan cara yang ringkas maupun panjang lebar. Karyakaryanya menggambarkan bahwa pengetahuan Ibnu Sab’in cukup luas dan beragam. Ia mengenal berbagai aliran filsafat Yunani, Persia, India, dan hermetisisme. Di samping itu, ia juga menelaah karya-karya filsuf Islam bagian Timur, seperti AlFarabi dan Ibnu Sina. Pengetahuannya tentang aliran tasawuf begitu mendalam. Ini semua tampak jelas dari kritiknya terhadap para filsuf, dan sufi sebelumnya. Dia juga menguasai aliran-aliran fiqh, karena itu dia juga seorang fakih.

 

Ajaran-ajaran Tasawufnya

Ibnu Sab’in adalah seorang penggagasan sebuah paham dalam kalangan tasawuf Falsafi, yang dikenal dengan paham kesatuan mutlak. Dalam paham ini, Ibnu Sab’in menempatkan ketuhanan pada tempat pertama. Wujud Allah menurutnya adalah segala yang ada pada masa lalu, masa kini, dan masa depan. Sementara itu, wujud materi yang tampak justru ditujukan pada wujud mutlak yang rohaniah. Dengan demikian, paham ini menafsirkan wujud bercorak spiritual dan bukan material. Ibnu Sab’in mengembangkan pahamnya tentang kesatuan mutlak ke berbagai bidang bahasan filosofis. Menurutnya, jiwa dan akal budi tidak mempunyai wujud sendiri, tetapi wujud keduanya berasal dari yang satu dan yang satu tersebut justru tidak terbilang. Menurutnya, latihan-latihan rohaniah praktis yang dapat mengantar pada moral luhur, tunduk di bawah konsepsinya tentang wujud misal dzikir.

 

IBNU MASARRAH Tokoh Tasawuf Akhlaki & Biografi Singkat Ibnu Masarrah

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abdullah bin Masarrah (269-319 H). Ia merupakan seorang sufi sekaligus filsuf dari Andalusia, Spanyol. Menurut Musthafa Abdul Raziq mengatakan bahwa Ibnu Masarrah termasuk sufi Ittihadiyyah. Awalnya Ibnu Masarrah merupakan penganut aliran Mu’tazilah, tetapi ia berpaling pada madzhab Neo-Platonisme. Oleh karena itu, ia dianggap mencoba untuk menghidupkan kembali filsafat Yunani Kuno. Walau demikian, Ibnu Masarrah tergolong seorang sufi yang memadukan paham sufistiknya dengan pendekatan filosofis.

 

Ajaran-ajaran Tasawufnya

Diantara ajaran-ajaran Ibnu Masarrah adalah sebagai berikut:

1.     Jalan menuju keselamatan adalah menyucikan jiwa, zuhud, dan mahabbah, yang merupakan asal dari semua kejadian.

2.     Dengan penakwilan ala Philun atau aliran Isma’iliyyah terhadap ayat-ayat Alquran, ia menolak adanya kebangkitan jasmani.

3.     Siksa neraka bukanlah dalam bentuk yang hakikat.

 

SYAIKH HAMZAH AL-FANSURI Tokoh Tasawuf Indonesia & Biografi Singkat Syaikh Hamzah Al-Fansuri

Hamzah Al-Fansuri lahir di Sumatera Utara, akhir abad XVI, awal abad XVII. Tokoh ini menganut paham wahdah alwujud yang dicetuskan Ibnu Arabi. Ia juga dikenal sebagai penyair pertama yang memperkenalkan syair ke dalam sastra Melayu. Karya tulis Al-Fansuri dapat dikatakan sebagai peletak dasar peranan bahasa Melayu sebagai bahasa keempat di dunia Islam setelah bahasa Arab, Persia, dan Turki. Karya-karyanya tersebar berkat jasa Sultan Iskandar Muda yang mengirimkan kitab-kitabnya, antara lain ke Malaka, Kedah, Sumatera Barat, Kalimantan, Banten, Gresik, Kudus, Makassar, dan Ternate.

 

Ajaran-ajaran Tasawufnya

Pemikiran Hamzah Al-Fansuri tentang tasawufnya banyak dipengaruhi oleh Ibnu Arabi dalam paham wahdah alwujudnya. Sebagai seorang sufi ia mengajarkan bahwa Tuhan lebih dekat daripada leher manusia sendiri. Tuhan juga tidak bertempat, sekalipun sering dikatakan bahwa Dia ada di manamana. Ketika menjelaskan ayat fa ainama tuwallu fa tsamma wajhullah (QS. Al-Baqarah ayat 115). Ia katakan bahwa kemungkinan untuk memandang wajah Allah di mana-mana merupakan wahdah al-wujud. Para sufi menafsirkan “wajah Allah” sebagai sifat-sifat Tuhan seperti Pengasih, Penyayang, Jalal dan Jamal. Adapun ajaran tasawuf Al-Fansuri yang lain, yakni berkaitan dengan hakikat wujud dan penciptaan. Menurutnya, wujud itu hanyalah satu walaupun kelihatan banyak. Ia menggambarkan wujud Tuhan bagaikan lautan dalam yang tidak bergerak, sedangkan alam semesta merupakan gelombang lautan wujud Tuhan. Pengaliran dari zat yang mutlak ini diumpamakan gerak ombak yang menimbulkan uap dan awan yang kemudian menjadi dunia gejala. Itulah yang disebut dengan ta’ayyun dari Zat yang la ta’ayyun. Itu pulalah yang disebut dengan tanazul.

Kemudian segala sesuatu akan kembali lagi kepada Tuhan yang digambarkan seperti uap dan awan yang membentuk hujan lalu airnya jatuh ke sungai dan akhirnya kembali lagi ke lautan.

 

SYAIKH NURUDDIN AR-RANIRI Tokoh Tasawuf Indonesia & Biografi Singkat Syaikh Nuruddin Ar-Raniri

Nuruddin Ar-Raniri dilahirkan di Ranir, sebuah kota pelabuhan tua di Pantai Gujarat, India. Nama lengkapnya adalah Nuruddin Muhammad bin Hasanjin Al-Hamid AsySyafi’I Ar-Raniri. Tahun kelahirannya tidak diketahui dengan pasti, tetapi kemungkinan besar menjelang abad XVI. Ibunya keturunan Melayu, sementara ayahnya berasal dar keluarga imigran Hadramaut.

Ar-Raniri merupakan syaikh tarekat Rifa’iyyah yang didirikan oleh Syaikh Ahmad Ar-Rifa’i. Ar-Raniri pun juga memiliki tarekat Al-Aydrusiyyah dan tarekat Qadiriyyah. Ia merantau di Aceh pada tahun 1637 M. Ia memilih Aceh karena wilayah itu berkembang menjadi pusat perdagangan, kebudayaan, politik, dan agama Islam di kawasan Asia Tenggara yang menggantikan posisi Malaka setelah dikuasai Portugis. Ar-Raniri menjadi seorang mufti Kesultanan Aceh pada masa Sultan Iskandar Tsani. Ar-Raniri pun dikenal sebagai seorang ulama yang memiliki cakrawala keilmuan yang amat luas, dan memiliki pengaruh besar dalam pengembangan Islam di wilayah Nusantara, dan merupakan ulama penulis yang produktif.

 

Ajaran-ajaran Tasawufnya

Pemikiran Nuruddin Ar-Raniri tentang tasawuf diklasifikasikan menjadi beberapa bidang pembahasan yakni :

1. Tentang Tuhan.

Pendirian tentang Ar-Raniri dalam masalah ketuhanan pada umumnya bersifat kompromis. Ia berupaya menyatakan paham mutakalliman dengan paham para sufi yang diwakili oleh Ibnu Arabi, bahwa alam ini merupakan tajalli Allah. Namun, dalam tafsirannya membuat terlepas dari label panteisme Ibnu Arabi.

2. Tentang alam.

Ia berpandangan bahwa alam ini diciptakan Allah melalui tajalli. Ia menolak teori al-faidh (emanisasi) AlFarabi karena hal itu dapat memunculkan bahwa alam ini qadim sehingga dapat menjerumuskan pada kemusyrikan. Alam dan falak merupakan wadah tajalli asma dan sifat-sifat Allah dalam bentuk yang konkret.

3. Tentang manusia.

Manusia merupakan makhluk Allah yang paling sempurna, karena merupakan khalifah Allah di bumi ini yang dijadikan sesuai dengan citra-Nya. Konsep Insan

Kamil yang dinyatakan Ar-Raniri hampir sama dengan apa yang digariskan Ibnu Arabi.

4. Tentang wujudiyyah.

Inti ajaran ini berpusat pada wahdah al-wujud yang disalahartikan kaum wujudiyah dengan arti kemanunggalan Allah dengan alam.

5. Tentang hubungan syariat dan hakikat.

Ar-Raniri sangat menekankan syariat sebagai landasan esensi dalam tasawuf (hakikat). Untuk menguatkan argumentasinya, ia mengajukan pendapat pemuka sufi, di antaranya adalah Syaikh Abdullah Al-Aydrusi yang menyatakan bahwa jalan menuju Allah melalui syariat yang merupakan pokok Islam.

 

SYAIKH ABDUR RA’UF AS-SINKILI Tokoh Tasawuf Indonesia & Biografi Singkat Syaikh Abdur Rauf As-Sinkili

Syaikh Abdur Rauf As-Sinkili adalah tokoh sufi dari Aceh. Ia adalah guru para Sufi Indonesia. Nama lengkapnya adalah Abdur Ra’uf bin Ali Al-Fansuri As-Sinkili, lahir pada tahun 1024 H (1615 M). Awalnya As-Sinkili mendapatkan pendidikan di desa kelahirannya, Singkel, dari ayahnya yang terkenal alim. Pada masa itu, Fansur merupakan pusat pengkajian Islam serta titik penghubung antara Islam Melayu dan Islam Barat juga Asia Selatan. Kemudian ia berguru kepada Syamsuddin As-Sumatrani dan Hamzah Al-Fansuri. Tahun 1642 M, As-Sinkili pergi ke Arab untuk menuntut ilmu dari para ulama, seperti Syaikh Ahmad Al-Kusasi dan Syaikh Ibrahim Al-Kurani. Selama di sana ia mempelajari berbagai cabang ilmu, khususnya ilmu tasawuf dan tarekat. Ia bahkan menginisiasi para pelajar dari Jawa ke tarekat Syattariyyah.

As-Sinkili merupakan tokoh ulama Indonesia yang sangat berpengaruh dalam penerapan paham-paham sufi di Indonesia. Tidak hanya itu, ia juga dikenal sebagai seorang ulama pengarang. Cukup banyak karya-karyanya yang sudah ia buat. Baik itu di bidang fiqh, ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu kalam, dan ilmu tasawuf. As-Sinkili terkenal dengan nama Syaikh Kuala karena ia juga tinggal di Kuala, Aceh. Namanya telah terabdikan melalui karya-karyanya, dan murid-muridnya pun telah memiliki reputasi gemilang dalam bidang tasawuf, seperti Syaikh Burhanuddin Ulakan di Minangkabau dan Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan di Tasikmalaya.

 

Ajaran-ajaran Tasawufnya

Ajaran tasawuf yang dikembangkan oleh As-Sinkili sama dengan Syamsuddin dan Nuruddin, yaitu menganut paham satu-satunya wujud hakiki, yaitu Allah. Alam ciptaanNya bukanlah merupakan wujud hakiki, tetapi bayangan dari  yang hakiki. Menurutnya, jelaslah bahwa Allah berbeda dengan alam. Walaupun demikian, antara bayangan (alam) dan yang memancarkan bayangan (Allah) tentu memiliki keserupaan. Dengan demikian, sifat-sifat manusia adalah bayanganbayangan Allah, seperti yang hidup, yang tahu, dan yang melihat. Pada hakikatnya, setiap perbuatan adalah perbuatan Allah. Dalam pandangannya, zikir merupakan usaha untuk melepaskan diri dari sikap lalai dan lupa. Maka dengan berzikir, hati akan selalu mengingat Allah. Ajaran tasawuf As-Sinkili yang lain berhubungan dengan martabat perwujudan Allah. Menurutnya, ada tiga martabat perwujudan Tuhan. Pertama, martabat ahadiyyah atau la ta’ayyun, yaitu alam pada waktu itu masih merupakan hakika gaib yang masih berada dalam ilmu Tuhan. Kedua, martabat wahdah atau ta’ayyun awwal, yaitu telah terciptanya hakikat muhammadiyah yang berpotensi terciptanya alam. Ketiga, martabat wahdiyyah atau ta’yyun tsani yang disebut juga dengan a’yan tsabitah dan dari sinilah alam tercipta. Tuhan adalah cermin bagi insan kamil dan sebaliknya. Namun, Dia bukan sesuatu yang lainnya, bagi As-Sinkili jalan untuk menegaskan Tuhan adalah dengan zikir la ilaha illallah sampai terciptanya fana.

 

SYAIKH ABDUSH SHAMAD AL-FALIMBANI Tokoh Tasawuf Indonesia & Biografi Singkat Syaikh Abdush Shamad AlFalimbani

Abdush Shamad Al-Falimbani berasal dari keturunan Arab Yaman. Ia menerima pelajaran agama pertama kali di negeri kelahirannya kemudian melanjutkan ke Masjid AlHaram, Mekah Al-Mukarramah. Al-Falimbani menghabiskan hampir seluruh umurnya di Mekah dan Madinah untuk menuntut ilmu dan menulis. Gurunya antara lain, Syaikh Muhammad As-Saman Al-Madani, pendiri tarekat Sammaniyyah-Khalwatiyyah. Ia memperoleh ijazah dari syaikh ini untuk pertama kali memperkenalkan dan mengajarkan tarekat ini di Palembang. Karya-karyanya cukup menjadi saksi bagi orientasi sufistiknya. Apabila Ahl As-Sunnah wa Al-Jama’ah dan tasawuf Sunni berhasil memantapkan kedudukan dan pengaruhnya di Indonesia, tokoh yang menjadi faktor penentu dalam keberhasilan tersebut adalah Abdush Shamad. Hal ini disebabkan tasawuf falsafi yang dimotori oleh Hamzah Al-Fansuri berhembus sedemikian pula. Namun demikian tetap tidak ada kejelasan mengenai corak pemikiran tasawufnya, apakah cenderung Falsafi atau Sunni. Terlepas apakah ia pengikut tasawuf Sunni Al-Ghazali atau wahdah al-wujud Ibnu Arabi., nyatanya kitab-kitab yang pernah dterjemahkannya digemari oleh muslim Muangthai, Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Terlebih lagi kitab-kitab tersebut sampai sekarang masih dijadikan pegangan dalam pengajaran agama.

 

Ajaran-ajaran Tasawufnya

Corak pemikiran tasawuf Abdush Shamad Al-Falimbani tentang dalam karya-karyanya dalam bidang tasawuf yang jumlahnya cukup banyak. Sebagian besar pemikirannya banyak dipengaruhi oleh karya-karya Al-Ghazali. Corak tasawufnya dapat dikatakan menggabungkan unsur-unsur ajaran Al-Ghazali dan Ibnu Arabi, yang telah diolah dan disajikan dalam suatu sistem ajaran tasawuf tersendiri. Al-Falimbani disebut sebagai orang pertama yang mengenalkan tarekat Samaniyyah di Indonesia dan mengikuti tarekat Khalwatiyyah melalui Syaikh Muhammad Abdul Karim Saman Al-Madani. Ia juga memiliki pengaruh penting dalam penyebaran Islam dengan pendekatan tasawuf. Ia memiliki banyak murid yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Pendekatan tasawuf yang ia kembangkan lebih spesifik pada pengalaman Ratib Shamad di masyarakat. Ratib-nya ini mengandung pendekatan ritual-vertikal kepada Tuhan dan pendekatan horizontal dalam rangka memerangi kekufuran dan ketidakadilan yang dilakukan oleh colonial ketika itu.

 

SYAIKH YUSUF AL-MAKASARI Tokoh Tasawuf Indonesia & Biografi Singkat Syaikh Yusuf Al-Makasari

Syaikh Yusuf Al-Makasari adalah seorang ulama, mufti, pendiri tarekat, pejuang, dan penulis yang berasal dari Makassar. Ia lahir di Moncong Loe, Goa, Sulawesi Selatan tahun 1626 M, dua puluh tahun sebelum Islam diterima sebagai agama resmi di Kerajaan Goa. Nama aslinya Muhammad Yusuf. Ia dibesarkan di istana karena ia diangkat oleh raja sebagai anak angkat. Al-Makasari belajar di berbagai tempat, seperti di Banten, Aceh, Yaman, dan Arab Saudi. Selama hidupnya, ia dikenal sebagai tokoh penyebar agama Islam yang meiliki  peranan yang cukup besar dalam proses Islamisasi di Sulawesi Selatan yang dirintis sebelumnya oleh tiga mubaligh dari Minangkabau, yaitu Abdul Makmur Khatib Tunggal yang bergelar Datuk Ri Bandang, Sulaiman Khatib Sulung yang bergelar Datuk Ri Patimang, dan Abdul Jawad Khatib Bungsu yang bergelar Datuk Ri Tiro. Di samping itu, ia juga berjasa dalam menyebarluaskan Islam di Banten, Srilanka, dan Afrika Selatan.

Al-Makasari adalah pejuang yang gigih. Sewaktu di Makassar, ia bersama Sultan Hasanuddin ikut berperang melawan Belanda. Setelah ditangkap oleh Belanda, ia diasingkan ke Banten. Di sana ia berdakwah bersama Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan. Dua ulama yang memiliki keramahan tinggi

ini sering bertemu. Al-Makasari juga berjuang bersama Sultan Abdul Fatah yang bergelar Sultan Ageng Tirtayasa. Al Makasari dikenal dengan karya tulisannya tentang berbagai aspek agama yang jumlahnya kurang lebih sekitar 22 judul dan menyebar di kalangan masyarakat. Karya-karyanya dicetak dalam bahasa Arab dan Melayu.

 

Ajaran-ajaran Tasawufnya

Al-Makasari mengungkapkan paradigma sufistiknya bertolak dari asumsi dasar bahwa ajaran Islam meliputi dua  aspek, yaitu aspek lahir (syariat) dan aspek batin (hakikat). Syariat dan hakikat harus diamalkan sebagai suatu kesatuan. Al-Makasari mengembangkan istilah alihathah (peliputan) dan alma’iyyah (kesertaan). Kedua istilah itu menjelaskan bahwa Tuhan itu turun (tanazul), sedangkan manusia naik (taraqii), suatu proses spiritual yang membawa keduanya semakin dekat. Al-Makasari menggarisbawahi bahwa proses ini tidak akan mengambil bentuk kesatuan wujud antara manusia dan Tuhan. Sebab, alihathah dan alma’iyyah Tuhan terhadap hamba-Nya adalah secara ilmu. Al-Makasari juga berbicara tentang insan kamil dan proses penyucian jiwa. Ia mengatakan bahwa seorang hamba akan tetap hamba walaupun telah naik derajatnya dan Tuhan akan tetap Tuhan walaupun turun pada diri hamba. Mengenai proses penyucian jiwa, ia menempuh cara yang moderat.

Menurunya, kehidupan dunia bukanlah untuk ditinggalkan dan hawa nafsu tidaklah harus dimatikan. Sebaliknya, hidup diarahkan untuk menuju Tuhan. Gejolak hawa nafsu harus dikendalikan melalui tertib kehidupan dan disiplin diri atas dasar orientasi ketuhanan yang senantiasa melindungi manusia. Adapun cara-cara yang dapat ditempuh untuk menuju Tuhan, ia membaginya dalam tiga tingkatan, yakni :

1.     Tingkatan ahyar (orang-orang terbaik), yaitu memperbanyak shalat, puasa, membaca Alquran, naik haji, dan berjihad di jalan Allah.

2.     Tingkatan mujahaddah asy-syawaq (orang-orang yang berjuang melawan kesulitan), yaitu berlatih keras untuk melepaskan perilaku buruk dan menyucikan pikiran dengan memperbanyak amalan lahir dan batin.

3.     Tingkatan ahl adz-dzikir (ahli dzikir), yaitu mencintai Tuhan, baik lahir maupun batin. Tingkatan yang ketiga ini merupakan jalan bagi orang yang telah kasyaf untuk berhubungan dengan Allah.

 

SYAIKH NAWAWI AL-BANTANI Tokoh Tasawuf Indonesia & Biografi Singkat Syaikh Nawawi Al-Bantani Syaikh Nawawi Al-Bantani lahir di Desa Tanara

Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten, Provinsi Banten pada tahun 1230 H (1814 M). Al-Bantani merupakan putra kedua dari KH. Umar, ulama yang memimpin masjid dan pendidikan Islam (pesantren) di Tanara. KH. Umar adalah keturunan dari Maulana Malik Hasanuddin, sultan Banten yang pertama. Al-Bantani merupakan keturunan ke-12 dari Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Sementara itu, Maulana Syarif Hidayatullah merupakan keturunan dari putra Maulana Hasanuddin yang bernama Pangeran Sunyararas (Tajul Arasy). Mengenai riwayat pendidikan Al-Bantani, H. Rafiuddin menyatakan ia termotivasi oleh pernyataan Imam Syafi’i dalam salah satu syairnya. Dari sanalah, Al-Bantani termotivasi untuk mencari berbagai macam ilmu agama, diantaranya ilmu hadis, ilmu tafsir, dan ilmu fiqh; baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Al-Bantani bersama saudaranya, Tamim dan Ahmad, berguru kepada ayahnya. Setelah itu, belajar kepada Kiai Sahal di Banten. Tidak lama kemudian Al-Bantani bersama saudaranya menunaikan ibadah haji di Mekah dan menetap selama 3 tahun yang mereka pergunakan untuk menuntut ilmu agama kepada guru ulama di sana. Dengan pengetahuan yang cukup komprehensif mengenai ilmu agama, Al-Bantani kemudian berkiprah dalam bidang pendidikan dan pengajaran di Mekkah. Antara lain ia mengajar di Masjid Al-Haram dan di rumahnya sendiri. Ia mempunyai banyak murid yang di antaranya berasal dari Malaysia, Muangatai, Philipina, Pakistan, Afrika, dan Arab Saudi. Selain mengajar, ia juga aktif menulis buku dalam berbagai disiplin ilmu. Namanya pun semakin dikenal, bahkan masuk ke dalam kamus bahasa Arab, Al-Munjid karya tulis Nasrani. Karena kedalaman ilmu dan amalnya serta pengabdiannya terhadap Islam, ia mendapatkan beberapa gelar kehormatan, diantaranya Sayyid Ulama Al-Hizaz.

 

Ajaran-ajaran tasawufnya

Sebagaimana Syaikh Ahmad Khatib Sambas, Nawawi adalah penganut tasawuf Ghazali. Ia menyarankan ke masyarakat untuk mengikuti salah satu tasawuf, seperti Imam Sa’id bin Muhammad Abu Qasim Al-Junaidi.  Dalam dimensi sosiokultural, Al-Bantani dan Al-Ghazali sangat dihormati oleh komunitas pesantren. Buku-bukunya sangat bermanfaat. Dalam masyarakat ini, praktik-praktik tarekat berkembang pesat. Andaikata Hipotesis Strenbink dapat dipercaya, komunitas pesantren yang secara historis dan ideologis mengedepankan perkembangan tarekat, tidak akan melupakan nama Al-Bantani. Terbukti bahwa pada akhir abad XIX Masehi di Jawa terlihat adanya Kemajuan tasawuf “popular”, khususnya tarekat Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah. Al-Bantani menekankan kesempurnaan individu sebagai makhluk yang membutuhkan petunjuk dari Tuhan. Ia menyatakan bahwa banyak orang yang merusak keimanandengan ucapan yang tidak berguna. Mereka diwajibkan untuk kembali kepada syariat dan hakikat. Syariat dan tarekat merupakan bidayah (titik tolak), sedangkan hakikat merupakan nihayah (tujuan) sekaligus buah dari syariat dan tarekat. Nawawi menggunakan metafora mengenai syariat ibarat kapal, tarekat ibarat laut, dan hakikat ibarat mutiara yang berada di laut. Al-Bantani juga membahas individu sebagai bagian dari masyarakat. Seeorang memang harus senantiasa berupaya sebaik mungkin untuk mendapat rahmat Tuhan, tetapi tidak dapat mengabaikan kehidupan sosial.

Dengan kata lain, Al-Bantani mengingatkan antara hak Allah dan hal adami seharusnya memperoleh penghargaan yang sebanding.

 

SYAIKH AHMAD KHATIB SAMBAS Tokoh Tasawuf Indonesia, & Biografi Singkat Syaikh Ahmad Khatib Sambas

Nama lengkapnya adalah Syaikh Muhammah Khatib bin Abdul Ghaffar As-Sambasi Al-Jawi. Ia lahir di Kampung Asam, Sambas, Kalimantan Barat. Ahmad Khatib Sambas adalah tokoh sufi asli Indonesia yang mendirikan tarekat Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah. Ia lahir pada tahun 1217 H (1802 M). Setelah menyelesaikan pendidikan agama di tingkat dasar di kota asalnya, ia pergi ke Mekah untuk melanjutkan studi dan menetap di sana hingga wafat pada tahun 1289 H (1872 M). Bidang studi yang dipelajarinya mencakup berbagai ilmu pengetahuan Islam, termasuk tasawuf. Di mana pencapaian spiritualnya menjadikannya terhormat pada zamannya dan berpengaruh di seluruh Indonesia.

 

Ajaran-ajaran Tasawufnya

Menurut Naguib Al-Attas, Khatib Sambas adalah seorang syaikh dari tarekat, yaitu Qadiriyyah dan Naqsyabandiyyah. Ia tidak mengajarkan kedua tarekat ersebut secara terpisah tetapi mengombinasikan keduanya. Tarekat kombinasinya ini merupakan tarekat yang baru, berbeda dengan tarekat aslinya. Hurgronje juga mengakui bahwa Khatib Sambas adalah ulama yang andal dan unggul di dalam setiap cabang pengetahuan Islam. Kunci dari penyebaran tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah adalah karya Khatib Sambas yang berjudul Fath Al-‘Arifin, karyanya yang paling termahsyur dan paling diutamakan. Fath Al-‘Arifin menjelaskan tentang unsurunsur dasar doktrin sufi sebagai janji setia (baiat), mengingat Tuhan (zikir), kewaspadaan (muraqabbah), dan rantai spiritual

(silsilah). Khatib Sambas dipandang sebagai orang yang telah memformulasikan pokok-pokok ajaran tarekat Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah. Beberapa ajaran yang dikembangkan bertalian langsung dengan metode mendekatkan diri kepada Allah. Ajaran-ajaran tersebut, yaitu tentang kesempurnaan

suluk, adab, dzikir, dan muraqabbah.

1.     Kesempurnaan suluk. Kesempurnaan ini berada dalam tiga dimensi, yaitu iman, Islam, dan ihsan. Ketiga term tersebut biasa dikemas dalam ajaran yang termahsyur yaitu syari’at, thariqat, dan haqiqat.

2.     Adab para murid. Secara garis besar, adab yang dipraktikkan ada empat, yaitu adab kepada Allah dan Rasul-Nya, adab kepada syaikh, adab kepada ikhwan, dan adab kepada diri sendiri.

3.     Dzikir. Dzikir dalam tarekat adalah aktivitas lidah, baik lidah fisik maupun lidah batin untuk menyebut dan mengingat nama Allah, baik berupa jumlah (kalimat) maupun isim mufrad (kata tunggal).

4.     Muraqabbah. Dalam tasawuf, istilah ini berarti kontemplasi kesadaran seorang hamba yang secara terus menerus diawasi Allah di setiap keadaan. Muraqabbah dilaksanakan dalam rangka latihan psikis untuk dapat menerima limpahan karunia dari Allah, sehingga menjadi mukmin yang sesungguhnya.

 

KH. HASYIM ASY’ARI Tokoh Tasawuf Indonesia & Biografi Singkat KH. Hasyim Asy’ari

KH. Hasyim Asy’ari lahir di desa Gedang 2 kilometer sebelah utara kota Jombang, Jawa Timur pada hari selasa tanggal 24 Dzulhijjah 1289 (14 Februari 1871). Ia wafat di Tebuireng, Jombang tanggal 7 Ramadhan 1366 (25 Juli 1947), pada usia 76 tahun. Ayahnya bernama KH. Asy’ari dari Demak, keturunan Raja Majapahit (Brawijaya VI) dari garis keturunan Jaka Tingkir. Ibunya bernama Nyai Halimah atau Winih, putri Kiai Utsman dari Pesantren Gedang, Jombang. Sejak usia 15 tahun, Hasyim sudah berpisah dengankeluarganya untuk menuntut ilmu. Pendidikannya antara lain di Pesantren Wonoboyo, Probolinggo; Pesantren Langitan, Babad, Lamongan; Pesantren Bangkalan, Madura; dan Pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo. Guru yang berpengaruh dalam wacana pemikiran Hasyim adalah Sayyid Alawi bin Ahmad As-Saqqaf, Sayyid Hussain Al-Habsyi, dan Syaikh Mahfudz At-Tirmasi. Hasyim juga mendapatkan ijazah untuk mengajarkan kitab Shahih Al-Bukhari dari Syaikh Mahfudz AtTirmasi dan di bawah bimbingannya Hasyim mempelajari tarekat Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah yang diperolehnya dari Syaikh Nawawi Al-Bantani dari Syaikh Ahmad Khatib Sambas. Hasyim mempelajari fiqh madzhab Syafi’i di bawah bimbingan Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang juga ahli dalam ilmu falak, ilmu hisab, dan aljabar. Ahmad Khatib adalah ulama moderat yang memperkenalkan Hasyim untuk mempelajari Tafsir Al-Manar. Hasyim sangat menguasai ilmu hadis. Ia juga terkenal sebagai seorang sufi sekalipun tidak memimpin tarekat. Di samping itu, Hasyim juga dikenal sebagai ulama penulis. Selain itu, KH. Hasyim Asyari juga dikenal sebagai pendiri Pesantren Tebuireng, Jombang, dan juga pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia yang didirikan pada 31 Januari 1926, bersama tokoh-tokoh kiai pesantren, seperti KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syamsuri, KH. Ma’shum Lasem, dan KH. A. Halim Leuwimunding Cirebon. Hasyim juga mengeluarkan fatwa untuk melawan penjajah Belanda. Fatwa yang dikeluarkan olehnya sebagai rais akbar NU dan dikenal dengan Resolusi Jihad. Fatwa itu disampaikan pada 22 Oktober 1945 dan membangkitkan perlawanan senjata bangsa Indonesia, khususnya di Surabaya yang terkenal dengan peristiwa 10 November 1945. Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan.

 

Ajaran-ajaran Tasawufnya

Pemikiran tasawufnya tertuang dalam beberapa kitab karyanya. Pertama, Ad-Durar Al-Muntasyirah fi Masa’il Tis’ah ‘Asyarah (mutiara-mutiara tercecer yang membahas tentang sembilam belas masalah). Kitab ini berisi tentang tarekat, wilayah (kewalian), serta hal-hal yang berhubungan dengan masalah tarekat dan tasawuf. Kedua, dalam kitabnya yang berjudul Tamyiz Al-Haqq min Al-Bathil (pembedaan yang Hak dari yang bathil). Buku ini membahas penyimpangan penyimpangan terhadap perilaku tasawuf dan tarekat. Ketiga, Risalah Jam’iyyah Al-Maqashid. Kitab ini membahas mengenai akidah, syariah dan tasawuf. Dalam masalah tarekat, Hasyim Asy’ari sangat selektif mengenai pemberian predikat wali kepada seorang mursyid, dan Hasyim sangat menentang dan tidak pernah mengenal kompromi. Hasyim Asy’ari tidak segan-segan untuk mengkritik secara tajam terhadap aliran atau paham tarekat yang dalam pengamalannya dianggap menyalahi ajaran prinsip tasawuf itu sendiri. Misal, ajaran tarekat yang memberikan otoritas berlebihan kepada guru atau mursyidnya.

Hasyim Asy’ari merupakan seorang sufi moderat.

Meskipun ia pengikut tasawuf, dalam beberapa hal ia tetap kritis. Ia ingin tasawuf berjalan sesuai dengan syariat dan nilainilai pokok ajaran Islam.

 

BUYA HAMKA Tokoh Tasawuf Indonesia & Biografi Singkat Buya Hamka

HAMKA adalah kependekan dari Haji Abdul Malik

Karim Amrullah. Ia lahir di Maninjau, Sumatera Barat tanggal 16 Februari 1908 yang bertepatan dengan 13 Muharram 1326 Hijriah. Ia adalah anak seorang ulama pembaharu Minangkabau, Dr. Haji Abdul Karim Amrullah, yang dikenal dengan Haji Rasul. Ketika tinggal di tanah Jawa, Hamka aktif dalam berbagai organisasi. Setelah menikah, ia aktif sebagai pengurus Cabang Muhammadiyah Padang Panjang. Lewat kekayaannya itulah ia memberi subangan kepada masyarakat. Hamka 100 adalah ulama yang pintar berceramah dan menulis. Ia juga pemimpin majalah Panji Masyarakat. Prof. Dr. Hamka meninggal pada tahun 1984 di Jakarta dengan meninggalkan lembaga pendidikan yang dikelolanya, yaitu perguruan Al-Ahzar.

 

Ajaran-ajaran Tasawufnya

Beberapa pemikirannya Hamka yang berkenan dengan tasawuf, antara lain sebagai berikut. Tasawuf pada hakikatnya adalah usaha yang bertujuan memperbaiki budi dan membersihkan batin. Hamka berpendapat, tasawuf yang bermuatan zuhud itu benar. Begitu pula dengan tasawuf yang dilaksanakan atas dasar iktikad yang benar dan berfungsi sebagai media pendidikan moral keagamaan yang efektif. Dari segi struktur, tasawuf yang ditawarkan Hamka berbeda dengan tasawuf pada umumnya (tasawuf tradisional). Jalannya menuju sikap zuhud dan tidak perlu terus-menerus menjauhi kehidupan normal.

Secara garis besar, konsep dasar tasawuf Hamka adalah tasawuf yang berorientasi “ke depan” yang meliputi prinsip tauhid untuk menjaga hubungan transenden dengan Tuhan sekaligus merasa dekat dengan Tuhan. Dalam konteks tasawuf, selain kita melaksanakan perintah agama, kita dituntut untuk mencari hikmahnya. Setelah mengetahui hikmah tersebut, maka kita diharapkan memiliki sikap yang positif. Semua itu, berjalan beriringan tanpa harus menggeser yangyang lainnya. Konsep dasar tasawuf modern milik Hamka berlawanan dengan konsep dasar tasawuf tradisional. Tasawuf modern jika dihadapkan dengan peranan mengisi kekosongan “makna” (pencarian makna kemanusiaan) untuk zaman modern ini, tampaknya relevan.




Imajiner Nuswantoro 


Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)