MANUNGSA IKU KANGGONAN SIPATING PENGERAN

0

Manungsa iku kanggonan sipating PengeraN









Inspirasi kearifan lokal falsafah Jawa mengatakan bahwa Manungsa iku kanggonan sipating Pengeran.

Gusti iku dumunung ana jeneng sira pribadi, dene ketemune Gusti lamun sira tansah eling artinya Tuhan ada di dalam diri pribadi, dapat anda ketemukan dengan cara selalu eling.

Sifat-sifat Tuhan yg utama adalah kudus dan suci, penuh kasih dan kerahiman, pengampun, panjang sabar dan setia, murah hati, adil dan selalu baik kepada siapa pun tanpa diskriminasi. Tentu Tuhan yang Maha Kuasa dan tak terbatas serta tak tertandingi dalam semua sifatNya tak dapat terlukiskan secara tuntas dalam bahasa manusia.

Di dalam manusia terdapat sifat-sifat Tuhan.

Manungsa iku kanggonan sipating Pengeran adalah Manusia itu memiliki sifat Tuhan.

Di dalam manusia terdapat sifat-sifat Tuhan. Sifat-sifat Tuhan yang utama adalah kudus dan suci, penuh kasih dan kerahiman, pengampun, panjang sabar dan setia, murah hati, adil dan selalu baik kepada siapa pun tanpa diskriminasi. Tentu Tuhan yang Mahakuasa dan tak terbatas serta tak tertandingi dalam semua sifatNya tak dapat terlukiskan secara tuntas dalam bahasa manusia.

Namun syukur kepada Tuhan bahwa Tuhan menganugerahkan sifat-sifatNya yang positif kepada manusia sebagai makhlukNya yang diciptakan secitra dengan CitraNya. Justru karena itulah maka manusia mendapat tugas dalam kelemahan dan keterbatasanNya untuk memancarkan sifat-sifat positif Tuhan. Kearifan lokal falsafah Jawa ini dalam arti tertentu hendak mengingatkan kita untuk sadar bahwa di dalam diri manusia tedapat sifat-sifat Tuhan. Karena itu, adalah berlawanan dengan kehendak Tuhan bila kita hidup berlawanan dengan sifat-sifat Tuhan sendiri.

Demikian Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Semoga bermanfaat. Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati kita dengan segala sifat-sifatNya yang terpancar dalam hidup kita.

Nasihat luhur Gusti iku cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan, Tuhan itu dekat meski kita tidak dapat menyentuhnya dan akal kita dapat menjangkaunya.

Dengan kata lain, keberadaan Tuhan itu sangat dekat dengan manusia tapi tidak dapat di sentuh, dan jauh tetapi tidak ada jarak dengan manusia.

Dalam keheningan, dalam doa, dalam berpuasa, dalam pelayanan, dalam iman, dalam cinta pada sesama, dan juga dalam damai, kita akan menemukan-Nya.

Manusia yang sudah bisa mati rogo, mati raga, memperteguh hati dengan menolak segala macam kesenangan diri; menahan hawa nafsu, mengendalikan diri maka akan dikendalikan oleh, ada yang menyebutnya, cahaya ilahiyah, cahaya ilahi. 

Kalau sudah demikian, maka segala tindakan mencerminkan sifat Hyang Ilahi, serba pengasih dan penyayang, belas-kasih, kerahiman, kerelaan, kemurahan, kedermawanan terhadap sesama.

Bukankah, manungsa iku kanggonan sipating Pengeran, manusia itu memiliki sifat Tuhan, karena memang manusia diciptakan sebagai citra-Nya

Mungkin semua itu sulit kau pahami, muridku. Baiklah. Secara kejiwaan berpuasa memurnikan hati orang.

Dengan berpuasa, memudahkan kita berdoa.

Puasa juga dapat merupakan korban atau persembahan; mengorbankan kesenangan kita dan kita persembahkan kepada Hyang Agung.

Puasa juga bisa dikatakan sebagai doa dengan tubuh. Karena dengan berpuasa orang menata hidup dan tingkah laku rohaninya.

Dengan berpuasa, orang mengungkapkan rasa lapar akan Tuhan dan kehendakNya. Dengan berpuasa, orang mengorbankan kesenangan dan keuntungan sesaat, dengan penuh syukur atas kelimpahan karunia Tuhan.

Dengan berpuasa, orang diharapkan sadar bahwa telah melakukan kesalahan, bahwa telah berbuat yang tidak semestinya, telah berlaku serakah.

Karena itu, dengan berpuasa dan berdoa secara sungguh-sungguh orang lalu dengan sadar meninggalkan keserakahan serta menyesalinya. 

 

KEBATINAN JAWA

1.     Dumadining sira iku lantaran anane bapa biyung ira.  Artinya : Lahirnya manusia karena berkat adanya kedua orang tua.

2.     Manungsa iku kanggonan sipating Pengeran.  Artinya : Di dalam manusia terdapat sifat-sifat Tuhan.

3.     Titah alus iku ana patang warna, yakuwi kang bisa mrentah manungsa nanging ya bisa mitulungi manungsa, kapindho kang bisa mrentah manungsa nanging ora mitulungi manungsa, katelu kang ora bisa mrentah manungsa nanging bisa mitulungi manungsa, kapat kang ora bisa mrentah manungsa nanging ya ora bisa mrentah manungsa. Artinya : Makhluk halus ada empat macam, pertama; yang bisa memerintah manusia namun bisa juga menolong manusia. Kedua; yang bisa memerintah manusia namun tidak bisa menolong manusia. Ketiga; yang tidak bisa memerintah manusia namun bisa menolong manusia. Keempat; yang tidak bisa memerintah manusia namun juga tak bisa diperintah manusia.

4.     Lelembut iku ana rong warna, yakuwi kang nyilakani lan kang mitulungi.  Artinya : Makhluk halus ada dua macam; yang mencelakai dan yang menolong.

5.     Guru sejati bisa nuduhake endi lelembut sing mitulungi lan endi lelembut kang nyilakani. Artinya : Guru Sejati bisa memberikan petunjuk  makhluk halus yang bisa menolong dan mana yang mencelakakan.

6.     Ketemu Gusti iku lamun sira tansah eling. Artinya : Bertemu Tuhan dapat dicapai dengan cara selalu eling.

7.     Cakra manggilingan. Artinya : Kehidupan manusia akan seperti roda yang selalu berputar, kadang di bawah kadang di atas. Hukum sebab akibat dan memungkinkan terjadi penitisan.

8.     Jaman iku owah gingsir. Artinya : Zaman akan selalu mengalami perubahan.

9.     Gusti iku dumunung ana atining manungsa kang becik, mulo iku diarani Gusti iku bagusing ati.  Artinya : Tuhan berada di dalam hati manusia yang baik, oleh sebab itu disebut Gusti (bagusing ati).

10.                        Sing sapa nyumurupi dating Pengeran iku ateges nyumurupi awake dhewe. Dene kang durung mikani awake dhewe durung mikani dating Pengeran. Artinya : Siapa yang mengetahui zat Tuhan berarti mengetahui dirinya sendiri. Sedangkan bagi yang belum memahami jati dirinya sendiri maka tidak mengetahui pula zat Tuhan.

11.                        Kahanan donya ora langgeng, mula aja ngegungake kesugihan lan drajat ira, awit samangsa ana wolak-waliking jaman ora ngisin-ngisini. Artinya : Keadaan dunia tidaklah abadi, maka jangan mengagungkan kekayaan dan derajat pangkat, sebab bila sewaktu-waktu terjadi zaman serba berbalik tidak menderita malu.

12.                        Kahanan kang ana iki ora suwe mesthi ngalami owah gingsir, mula aja lali marang sapadha-padhaning tumitah. Artinya : Keadaan yang ada sekarang ini tidak akan berlangsung lama pasti akan mengalami perubahan, maka dari itu janganlah lupa kepada sesama makhluk hidup ciptaan Tuhan.

13.                        Lamun sira kepengin wikan marang alam jaman kelanggengan, sira kudu weruh alamira pribadi. Lamun sira durung mikan alamira pribadi adoh ketemune.  Artinya : Bila kamu ingin mengetahui alam di zaman kelanggengan. Kamu harus memahami alam jati diri (jagad alit), bila kamu belum paham jati dirimu, maka akan sulit untuk menemukan (alam kelanggengan).

14.                        Yen sira wus mikani alamira pribadi, mara sira mulanga marang wong kang durung wikan.  Artinya : Jika kamu sudah memahami jati diri, maka ajarilah orang-orang yang belum memahami.

15.                        Lamun sira wus mikani alamira pribadi, alam jaman kelanggengan iku cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan.  Artinya : Bila kamu sudah mengetahui sejatinya diri pribadi, tempat zaman kelanggengan itu seumpama dekat tanpa bersentuhan, jauh tanpa jarak.

16.                        Lamun sira durung wikan alamira pribadi mara takono marang wong kang wus wikan. Artinya : Bila anda belum paham jati diri pribadi, datang dan tanyakan kepada orang yang telah paham.

17.                        Lamun sira durung wikan kadangira pribadi, coba dulunen sira pribadi.  Artinya : Bila anda belum paham saudaramu yang sejati, carilah hingga ketemu dirimu pribadi.

18.                        Kadangira pribadi ora beda karo jeneng sira pribadi, gelem nyambut gawe.  Artinya : Saudara sejati mu tidak berbeda dengan diri pribadimu, bersedia bekerja.

19.                        Gusti iku sambaten naliko sira lagi nandang kasangsaran. Pujinen yen sira lagi nampa kanugrahaning Gusti. Artinya : Pintalah Tuhan bila anda sedang menderita kesengsaraan, pujilah bila anda sedang menerima anugrah.

20.                        Lamun sira pribadi wus bisa caturan karo lelembut, mesthi sira ora bakal ngala-ala marang wong kang wus bisa caturan karo lelembut.  Artinya : Bila anda sudah bisa bercakap-cakap dengan makhluk halus, pasti anda tidak akan menghina dan mencela orang yang sudah bisa bercakap-cakap dengan makhluk halus.

21.                        Sing sapa nyembah lelembut iku keliru, jalaran lelembut iku sejatine rowangira, lan ora perlu disembah kaya dene manembah marang Pengeran. Artinya : Siapa yang menyembah lelembut adalah tindakan keliru, sebab lelembut sesungguhnya temanmu sendiri.

22.                        Weruh marang Pengeran iku ateges wis weruh marang awake dhewe, lamun durung weruh awake dhewe, tangeh lamun weruh marang Pengeran. Artinya : Memahami Tuhan berarti sudah memahami diri sendiri, jika belum memahami jati diri, mustahil akan memahami Tuhan.

23.                        Sing sapa seneng ngrusak katentremane liyan bakal dibendu dening Pengeran lan diwelehake dening tumindake dhewe.  Artinya : Siapa yang gemar merusak ketentraman orang lain, pasti akan dihukum oleh Tuhan dan dipermalukan oleh perbuatannya sendiri.

24.                        Lamun ana janma ora kepenak, sira aja lali nyuwun pangapura marang Pengeranira, jalaran Pengeranira bakal aweh pitulungan. Artinya : Walaupun mengalami zaman susah, namun janganlah lupa mohon ampunan kepada Tuhan, sebab Tuhan akan memberikan pertolongan.

25.                        Gusti iku dumunung ana jeneng sira pribadi, dene ketemune Gusti lamun sira tansah eling. Artinya : Tuhan ada di dalam diri pribadi, dapat anda ketemukan dengan cara selalu eling.

 

KETUHANAN

1.     Pengeran iku siji, ana ing ngendi papan langgeng, sing nganakake jagad iki saisine, dadi sesembahane wong sak alam kabeh, nganggo carane dhewe-dhewe. (Tuhan itu tunggal, ada di mana-mana, yang menciptakan jagad raya seisinya, disembah seluruh manusia sejagad dengan caranya masing-masing)

2.     Pengeran iku ana ing ngendi papan, aneng siro uga ana Pengeran, nanging aja siro wani ngaku Pengeran. (Tuhan ada di mana saja, di dalam dirimu juga ada, namun kamu jangan berani mengaku sebagai Tuhan)

3.     Pengeran iku adoh tanpa wangenan, cedhak tanpa senggolan. (Tuhan itu berada jauh namun tidak ada jarak, dekat tidak)

4.     Pengeran iku langgeng, tan kena kinaya ngapa, sangkan paraning dumadi. (Tuhan itu abadi dan tak bisa diperumpamakan, menjadi asal dan tujuan kehidupan)

5.     Pengeran iku bisa mawujud, nanging wewujudan iku dudu Pengeran. (Tuhan itu bisa mewujudkan namun perwujudannya bukan Tuhan)

6.     Pengeran iku kuwasa piranti tanpa, akarya alam saisine, kang katon lan kang ora kasat mata. (Tuhan berkuasa tanpa alat dan pembantu, mencipta alam dan seluruh isinya, yang tampak dan tidak tampak)

7.     Pengeran iku ora mbedak-mbedakake kawulane. (Tuhan itu tidak membeda-bedakan (pilih kasih) kepada seluruh umat manusia)

8.     Pengeran iku maha welas lan maha asih, hayuning bawana marga saka kanugrahaning Pengeran. (Tuhan Maha Belas-Kasih, bumi terpelihara berkat anugrah Tuhan)

9.     Pengeran iku maha kuwasa, pepesthen saka karsaning Pengeran ora ana sing bisa murungake. (Tuhan itu Mahakuasa, ditentukan atas kehendak Tuhan, tiada yang bisa mengalahkan Tuhan)

10.                        Urip iku saka Pengeran, bali marang Pengeran. (Kehidupan berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan)

11.                        Pengeran iku ora sare. (Tuhan tidak pernah tidur)

12.                        Beda-beda pandumaning dumadi. (Tuhan membagi anugrah yang berbeda-beda)

13.                        Pasrah marang Pengeran iku ora ateges ora gelem nyambut gawe, nanging percaya yen Pengeran iku maha Kuwasa. Dene kasil orane apa kang kita tuju kuwi saka karsaning Pengeran. (Pasrah kepada Tuhan bukan berarti enggan bekerja, namun percaya bahwa Tuhan Menentukan)

14.                        Pengeran nitahake sira iku karena biyung ira, mulo kudu ngurmat biyung ira. (Tuhan mencipta manusia dengan media ibumu, oleh karena itu hormatilah ibumu)

15.                        Bernyanyi bisa dadi utusaning Pengeran iku ora mung jalma manungsa wae. (Yang bisa menjadi utusan Tuhan bukan hanya manusia saja)

16.                        Purwa madya wasana. (zaman awal/ sunyaruri, zaman tengah/ mercapada, zaman akhir/ keabadian)

17.                        Owah gingsiring kahanan iku saka karsaning Pengeran kang murbeng jagad. (Berubah keadaan itu atas kehendak Tuhan yang mencipta alam)

18.                        Ora ana kasekten sing madhani pepesthen awit pepesthen iku wis ora ana sing bisa murungake. (Tak ada kesaktian yang menyamai takdir Tuhan, sebab takdir itu tidak ada yang bisa terjadi)

19.                        Bener kang asale saka Pengeran iku lamun ora darbe sipat angkara murka lan seneng gawe sangsaraning liyan. (Bener yang menurut Tuhan itu tidak memiliki sifat angkara murka dan gemar membuat kesengsaraan orang lain)

20.                        Ing donya iki ana rong warna sing diarani bener, yakuwi bener mungguhing Pengeran lan bener saka kang lagi kuwasa. (Kebenaran di dunia ada dua macam, yakni benar menurut Tuhan dan benar menurut penguasa)

21.                        Bener saka kang lagi kuwasa iku uga ana rong warna, yakuwi kang cocok karo benering Pengeran lan kang ora cocok karo benering Pengeran. (Benar menurut penguasa juga memiliki dua macam yakni cocok dengan kebenaran menurut Tuhan dan tidak cocok dengan kebenaran Tuhan)

22.                        Yen cocok karo benering Pengeran iku ateges bathara ngejawantah, nanging yen ora cocok karo benering Pengeran iku ateges titisaning brahala. (Kebenaran yang sesuai dengan kebenaran menurut Tuhan, itu berarti tuhan yang mewujud, namun bila tidak sesuai dengan kebenaran menurut Tuhan, berarti penjelmaan angkara)

23.                        Pengeran iku dudu dewa utawa manungsa, nanging sakabehing kang ana iki uga dewa lan manungsa asale saka Pengeran. (Tuhan itu bukan dewa atau manusia, namun segala yang ada (dewa dan manusia) adanya berasal dari Tuhan).

24.                        Ala lan becik iku gandengane, kabeh kuwi saka karsaning Pengeran. (Keburukan dan penghargaan merupakan satu kesatuan, semua itu menjadi rumus/kehendak Tuhan)

25.                        Manungsa iku saka berkencan dengan Pengeran mula uga darbe menyeruput Pengeran. (Manusia berasal dari zat Tuhan, maka manusia memiliki sifat-sifat Tuhan)

26.                        Pengeran iku ora ana sing Padha, mula aja nggambar-nggambarake wujuding Pengeran. (Tidak ada yang menyerupai Tuhan, maka janganlah melukiskan dan menggambarkan wujud tuhan)

27.                        Pengeran iku kuwasa tanpa piranti, mula saka kuwi aja darbe pangira yen manungsa iku bisa dadi wakiling Pengeran. (Tuhan berkuasa tanpa perlu pembantu, maka jangan menganggap manusia menjadi wakil Tuhan di bumi)

28.                        Pengeran iku kuwasa, dene manungsa iku bisa. (Tuhan itu Mahakuasa, sementara itu manusia hanya bisa)

29.                        Pengeran iku bisa ngowahi kahanan apa wae tan kena kinaya ngapa. (Tuhan mampu mengubah keadaan apa saja tanpa bisa dibayangkan/perumpamakan)

30.                        Pengeran bisa ngrusak kahanan kang wis ora diperlokake, lan bisa gawe kahanan anyar kang diperlokake. (Tuhan mampu merusak keadaan yang tidak diperlukan lagi, dan bisa membuat keadaan baru yang diperlukan)

31.                        Watu kayu iku darbe berpacaran dengan Pengeran, nanging dudu Pengeran. (Batu dan kayu adalah milik zat Tuhan, namun Tuhan)

32.                        Manungsa iku bisa kadunungan berkencan dengan Pengeran, nanging aja darbe pangira yen manungsa mau bisa diarani Pengeran. (Di dalam manusia dapat bersemayam zat tuhan, tetapi jangan merasa bila manusia boleh disebut Tuhan)

33.                        Titah alus lan titah kasat mata iku kabeh saka Pengeran, mula aja nyembah titah alus nanging aja ngina titah alus. (Makhluk halus dan makhluk kasar/wadag semuanya berasal dari tuhan, maka dari itu jangan menyembah makhluk halus, namun juga jangan menghina makluk halus)

34.                        Samubarang kang katon iki kalebu titah kang kasat mata, dene liyane kalebu titah alus. (Semua yang tampak oleh mata termasuk makhluk kasat mata, sedangkan lainnya termasuk makhluk halus)

35.                        Pengeran iku menangake manungsa senajan kaya ngapa. (Tuhan memenangkan manusia walaupun seperti apa manusia itu)

36.                        Pengeran maringi kawruh marang manungsa bab anane titah alus mau. (Tuhan memberikan pengetahuan kepada manusia tentang eksistensi makhluk halus)

37.                        Titah alus iku ora bisa dadi manungsa lamun manungsa dhewe ora darbe penyuwun marang Pengeran supayaah alus mau ngejawantah. (Makhluk halus tidak bisa menjadi manusia bila manusia tidak punya permintaan kepada Tuhan agar makhluk halus menyenangkan diri)

38.                        Nyanyikan sapa wani ngowahi kahanan kang lagi ana, iku dudu sadhengah wong, nanging minangka utusaning Pengeran. (Siapa yang berani mengubah keadaan yang terjadi, sembarang orang, namun sebagai “utusan” Tuhan)

39.                        Nyanyikan sapa gelem nglakoni kabecikan lan ugo gelem lelaku, ing tembe bakal tampa kanugrahaning Pengeran. (Siapa saja yang senang berprestasi dan juga mau “lelaku” prihatin, kelak akan memperoleh anugrah Tuhan)

40.                        Sing sapa durung ngerti lamun piyandel iku kanggo pathokaning urip, iku sejatine durung ngerti lamun ana ing donyo iki ono sing ngatur. (Siapa yang belum mengerti, lalu menganggap sipat kandel itu sebagai rambu-rambu hidup, yang demikian itu sesungguhnya bila di dunia ini tidak memahami)

41.                        Sakabehing ngelmu iku asale saka Pengeran kang Mahakuwasa. (Semua ilmu berasal dari Tuhan yang Mahakuasa)

42.                        Nyanyikan sapa mikani anane Pengeran, kalebu urip kang sempurna. (Siapa yang mengetahui adanya Tuhan, termasuk hidup dalam kesempurnaan).

 

KEBATINAN

1.     Dumadining sira iku karena anane bapa biyung ira. (Lahirnya manusia karena berkat adanya kedua orang tua)

2.     Manungsa iku kanggonan menyeruput Pengeran . (Di dalam manusia tedapat sifat-sifat Tuhan)

3.     Titah alus iku ana patang warna, yakuwi kang bisa mrentah manungsa nanging ya bisa mitulungi manungsa, kapindho kang bisa mrentah manungsa nanging ora mitulungi manungsa, katelu kang ora bisa mrentah manungsa nanging bisa mitungat kanungsa, atau manungsa nanggsa bisa mitulungi manungsa bisa mrentah manungsa. (Makhluk halus ada empat macam, pertama ; yang bisa memerintah manusia namun juga bisa membantu manusia. Kedua; yang bisa memerintah manusia namun tidak bisa membantu manusia. Ketiga ; yang tidak bisa memerintah manusia namun bisa membantu manusia. Keempat ; yang tidak bisa memerintah anusia namun juga tak bisa diperintah manusia.

4.     Lelembut iku ana rong warna, yakuwi kang nyilakani lan kang mitulungi. (Makhluk halus ada dua macam; yang mencelakai dan yang menolong)

5.     Guru sejati bisa nuduhake endi lelembut sing mitulungi lan endi lelembut kang nyilakani. (Guru Sejati bisa memberikan petunjuk mana makhluk halus yang bisa membantu dan mana yang mencelakakan)

6.     Ketemu Gusti iku lamun sira tansah eling . (“Bertemu” Tuhan dapat dicapai dengan cara selalu eling)

7.     Cakra manggilingan. (Kehidupan manusia akan seperti roda yang selalu berputar, kadang di bawah kadang di atas. Hukum sebab akibat dan memungkinkan terjadi penitisan)

8.     Jaman iku owah gingsir. (Zaman akan selalu mengalami perubahan)

9.     Gusti iku dumunung ana atining manungsa kang becik, mulo iku diarani Gusti iku bagusing ati. (Tuhan berada di dalam hati manusia yang baik, oleh sebab itu disebut Gusti (bagusing ati)

10.                        Nyanyikan sapa nyumurupi pacaran Pengeran iku ateges nyumurupi bangun dhewe. Dene kang durung mikani terjaga dhewe durung mikani berkencan dengan Pengeran. (Siapa yang mengetahui zat Tuhan berarti mengetahui dirinya sendiri. Sedangkan bagi yang belum memahami jati dirinya sendiri maka tidak mengetahui pula zat Tuhan)

11.                        Kahanan donya ora langgeng, mula aja ngegungake kesugihan lan drajat ira, awit samangsa ana wolak-waliking jaman ora ngisin-ngisini. (Keadaan dunia abadi, maka jangan mengagungkan kekayaan dan derajat pangkat, sebab bila sewaktu-waktu terjadi zaman serba berbalik tidak menderita malu)

12.                        Kahanan kang ana iki ora suwe mesthi ngalami owah gingsir, mula aja lali marang sapadha-padhaning tumitah. (Keadaan yang ada sekarang ini tidak akan berlangsung lama pasti akan mengalami perubahan, maka jangan lupa untuk sesama makhluk hidup ciptaan Tuhan)

13.                        Lamun sira kepengin wikan marang alam jaman kelanggengan, sira kudu weruh alamra pribadi. Lamun sira durung mikan alamira pribadi adoh ketemune. (Bila kamu ingin mengetahui alam di zaman kelanggengan. Kamu harus memahami alam jati diri), bila kamu belum memahami jati dirimu, maka akan sulit untuk menemukan (alam kelanggengan)

14.                        Yen sira wus mikani alamira pribadi, mara sira mulanga marang wong kang durung wikan . (Jika kamu sudah memahami jati diri, maka jarilah orang-orang yang belum memahami)

15.                        Lamun sira wus mikani alamira pribadi, alam jaman kelanggengan iku cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan. (Bila sudah mengetahui sejatinya diri pribadi, tempat zaman kelanggengan itu seumpama dekat tanpa kamu, jauh tanpa jarak)

16.                        Lamun sira durung wikan alamira pribadi mara takono marang wong kang wus wikan . (Bila anda belum paham jati diri pribadi, datang dan cinta kepada orang yang telah mengerti)

17.                        Lamun sira durung wikan kadangira pribadi, coba dulunen sira pribadi. (Bila anda belum paham saudaramu yang sejati, carilah hingga ketemu dirimu pribadi)

18.                        Kadangira pribadi ora beda karo jeneng sira pribadi, gelem nyambut gawe. (“Saudara sejati” mu tidak berbeda dengan diri Anda sendiri, bekerja)

19.                        Gusti iku sambaten naliko sira lagi nandang kasangsaran. Pujinen yen sira lagi nampa kanugrahaning Gusti . (Pintalah Tuhan bila anda sedang menderita kesengsaraan, pujilah bila anda sedang menerima anugrah)

20.                        Lamun sira pribadi wus bisa caturan karo lelembut, mesthi sira ora bakal ngala-ala marang wong kang wus bisa caturan karo lelembut. (Bila anda sudah bisa bercakap-cakap dengan makhluk halus, pasti anda tidak akan menghina dan mencela orang yang sudah bisa bercakap-cakap dengan makhluk halus)

21.                        Sing sapa nyembah lelembut iku keliru, jalaran lelembut iku sejatine rowangira, lan ora perlu disembah kaya dene manembah marang Pengeran . (Siapa yang memuji lelembut adalah tindakan keliru, sebab lelembut sesungguhnya teman Anda sendiri)

22.                        Weruh marang Pengeran iku ateges wis weruh marang bangun dhewe, lamun durung weruh bangun dhewe, tangeh lamun weruh marang Pengeran. (Memahami tuhan berarti sudah memahami diri sendiri, jika belum memahami jati diri, akan memahami Tuhan)

23.                        Sing sapa seneng ngrusak katentremane liyan bakal dibendu dening Pengeran lan diwelehake dening tumindake dhewe. (Siapa yang gemar merusak ketentraman orang lain, pasti akan dihukum oleh Tuhan dan dipermalukan oleh perbuatannya sendiri)

24.                        Lamun ana janma ora kepenak, sira aja lali nyuwun pangapura marang Pengeranira, jalaran Pengeranira bakal aweh pitulungan. (Walaupun mengalami zaman susah, namun jangan lupa mohon ampunan kepada Tuhan, sebab Tuhan akan memberikan pertolongan)

25.                        Gusti iku dumunung ana jeneng sira pribadi, dene ketemune Gusti lamun sira tansah eling. (Tuhan ada di dalam diri pribadi, dapat anda ketemukan dengan cara selalu eling)

 

FILSAFAT KEMANUSIAAN

1.     Rame ing gawe sepi ing pamrih, memayu hayuning bawana . (Giat bekerja/membantu dengan tanpa pamrih, memelihara alam semesta /mengendalikan nafsu)

2.     Manungsa sadrema nglakoni, kadya wayang umpamane . (Manusia sekedar menjalani apa adanya, seumpama wayang)

3.     Ati suci marganing rahayu . (Hati yang suci menjadi jalan menuju keselamatan jiwa dan raga)

4.     Ngelmu kang nyata, karya reseping ati . (Ilmu yang sejati, membuat tenteram di hati)

5.     Ngudi laku utama kanthi sentosa ing budi . (Menghayati perilaku mulia dengan budi pekerti luhur)

6.     Jer basuki mawa beya. (Setiap usaha memerlukan beaya)

7.     Ala lan becik dumunung ana terjaga dhewe . (Kejahatan dan terletak di dalam diri pribadi)

8.     Nyanyikan sapa lali marang kebecikaning liyan, iku kaya kewan. (Siapa yang lupa akan amal baik orang lain, bagaikan binatang)

9.     Titikane aluhur, alusing solah tingkah budi bahasane lan legawaning ati, darbe sipat berbudi bawaleksana . (Ciri khas orang mulia yakni, perbuatan dan sikap batinnya halus, tutur kata santun, lapang dada, dan sikap wibawa luhur budi pekertinya)

10.                        Ngunduh wohing pakarti . (Orang dapat menerima akibat dari ulahnya sendiri)

11.                        Ajining dhiri saka lathi lan budi . (Berharganya pribadi tergantung ucapan dan akhlaknya)

12.                        Nyanyikan sapa weruh sadurunge winarah lan diakoni sepadha-padhaning tumitah iku kalebu utusaning Pengeran . (Siapa yang mengetahui sebelum terjadi dan diakui sesama manusia, ia termasuk utusan tuhan)

13.                        Nyanyikan sapa durung wikan anane jaman kelanggengan iku, aja ngaku dadi janma linuwih. (Siapa yang belum paham adanya zaman keabadian, jangan mengaku menjadi orang linuwih)

14.                        Tentrem iku saranane urip aneng donya . (Ketenteraman adalah sarana menjalani kehidupan di dunia)

15.                        Yitna yuwana lena kena . (Eling waspdha akan selamat, yang lengah akan celaka)

16.                        Ala ketara becik ketitik. (Yang jahat maupun yang baik pasti akan terungkap juga)

17.                        Dalane waskitha saka niteni . (Cara agar menjadi awas, adalah berawal dari sikap cermat dan teliti)

18.                        Janma tan kena kinira kinaya ngapa. (Manusia sulit dilupakan dan dikira)

19.                        Tumrap wong lumuh lan keset iku prasasat wisa, pangan kang ora bisa ajur iku kena diarani wisa, jalaran mung bakal nuwuhake lelara. (Bagi manusia, fakir dan malas menjadi bisa/racun, makanan yang tak bisa hancur dapat disebut sebagai bisa/racun, karena hanya akan menimbulkan penyakit)

20.                        Klabang iku wisane ana ing sirah. Kalajengking iku wisane mung ana pucuk buntut. Yen ula mung dumunung ana ula kang duwe wisa. Nanging durjana wisane dumunung ana ing sekujur badan. (Racun bisa Lipan terletak di kepala, racun bisa kalajengking ada di ujung ekor, racun bisa ular hanya ada pada ular yang berbisa, namun manusia durjana racun bisanya ada di sekujur badan)

21.                        Geni murub iku panase ngluwihi panase srengenge, ewa dene umpama ditikelake loro, kalah panas tinimbang guneme durjana. (Nyala api panasnya melebihi panas matahari, namun demikian umpama panas dilipatgandakan, masih kalah panas dari ucapan orang durjana)

22.                        Tumprape wong linuwih tansah ngundi keslametaning liyan, metu saka atine dhewe. (Bagi orang linuwih selalu berupaya menjaga keselamatan untuk sesama, yang keluar dari niat suci diri pribadi)

23.                        Pangucap iku bisa dadi jalaran kebecikan. Pangucap uga dadi jalaraning pati, kesangsaran, pamitran . Pangucap uga dadi jalaraning wirang. (Ucapan itu dapat menjadi sarana kebaikan, sebaliknya ucapan bisa pula menyebabkan kematian, kesengsaraan. Ucapan bisa menjadi penyebab penyebab malu)

24.                        Sing bisa gawe mendem iku: 1) rupa endah; 2) bandha, 3) dharah luhur; 4) umure. Arak lan kekenthelan uga gawe mendem sadhengah wong. Yen ana wong sugih, endah warnane, akeh kapinterane, tumpuk-tumpuk bandhane, luhur dharah lan isih enom umure, mangka ora mendem, yakuwi aran wong linuwih. (Penyebab orang menjadi lupa adalah : gemerlap hidup, harta, kehormatan, darah muda. Arak dan minuman juga membuat mabuk sementara orang. Namun ada orang kaya, tampan rupawan, hartanya melimpah, baik, dan usia muda, namun semua itu tidak membuat lupa diri, itulah orang linuwih)

25.                        Nyanyikan sapa lena bakal cilaka. (Siapa terlena akan celaka)

26.                        Mulat salira, tansah eling kalawan waspada . (Jadi orang harus selalu mawas diri, eling dan waspadha)

27.                        Andhap asor . (Bersikap sopan dan santun)

28.                        Sakbegja-begjane kang lali luwih begja kang eling klawan waspada. (Seberuntungnya orang lupa diri, masih lebih beruntung orang yang eling dan waspadha)

29.                        Nyanyikan sapa salah seleh. (Siapapun yang akan merusak celaka)

30.                        Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake. (Bertanding tanpa bala bantuan)

31.                        Sugih ora nyimpen . (Orang kaya namun dermawan)

32.                        Sekti tanpa maguru. (Sakti tanpa berguru, alias menjalani menjalani prihatin yang panjang)

33.                        Menang tanpa ngasorake. (Menang tanpa penghinaan)

34.                        Rawe-rawe rantas malang-malang putung. (Yang mengganggu akan lebur, yang menahan akan hancur)

35.                        Mumpung anom ngudiya laku utama . (Selagi muda berusahalah selalu berbuat baik)

36.                        Yen sira dibeciki ing liyan, tulisen ing watu, supaya ora ilang lan tansah kelingan. Yen sira gawe kebecikan marang liyan tulisen ing lemah, supaya enggal ilang lan ora kelingan . (Jika kamu menerima orang lain, tulislah di atas batu agar tidak hilang dari ingatan. Namun bila kamu berbuat baik kepada orang lain, ditulis di atas tanah, agar segera hilang dari ingatan)

37.                        Nyanyi sapa temen tinemu . (Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil)

38.                        Melik nggendhong lali. (Pamrih menyebabkan lupa diri)

39.                        Kudu sentosa ing budi . (Harus selamat ke dalam jiwa)

40.                        Nyanyikan prasaja. (Menjadi orang harus sabar sabar)

41.                        Balilu tau pinter durung nglakoni. (Orang bodoh yang sering mempraktekan, pandai dengan orang pinter namun belum pernah mempraktekan)

42.                        Tumindak kanthi duga lan Prayogo. (Bertindak dengan penuh hati-hati dan teliti/tidak sebrono)

43.                        Percaya marang dhiri pribadi . (Bersikaplah percaya diri)

44.                        Nandur kebecikan. (Tanamlah selalu nikmat)

45.                        Janma linuwih iku bisa nyumurupi anane jaman kelanggengan tanpa ngalami pralaya dhisik. (Manusia linuwih adalah dapat mengetahui adanya zaman keabadian tanpa harus mati lebih dulu)

46.                        Sapa kang mung ngakoni barang kang kasat mata wae, iku durung weruh jatining Pengeran. (Siapa yang hanya mengakui hal-hal kasat mata saja, itulah orang yang tidak memahami sejatinya Tuhan)

47.                        Yen sira kasinungan ngelmu kang marakake akeh wong seneng, aja sira malah rumangsa pinter, jalaran menawa Gusti mundhut bali ngelmu kang marakake sira kaloka iku, sira uga banjur kaya wong sejene, malah bisa aji godhong jati aking. (Bila anda mendapat anugrah ilmu yang membuat banyak orang senang, janganlah kamu merasa pintar, karena jika Tuhan mengambil lagi ilmu yang menyebabkan anda terkenal itu, anda akan menjadi orang biasa lagi, malah lebih bermanfaat daun yang kering)

48.                        Sing sapa gelem gawe seneng marang liyan, iku bakal oleh wales kang luwih gedhe katimbang apa kang wis ditindakake. (Barang siapa yang gemar membuat orang lain bahagia, anda akan mendapatkankan balasan yang lebih besar dari apa yang telah anda lakukan)

 

Pepatah Jawa Kuno

1.     Bibit, bebet, bobot. (Menilai kualitas secara mendetail berdasar asal muasal, peranan, dan kiprah yang telah diperbuat)

2.     Beda-beda pandumaning dumadi. (Tuhan Yang Maha Adil memberikan anugerah yang adil kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya)

3.     Cakra manggilingan. (Kehidupan itu dinamis seperti roda yang berputar, tidak tinggi ketika dipuji tidak jatuh ketika dimaki. Tetap berbuat baik, benar serta senantiasa mengingat Tuhan)

4.     Ana catur mungkur.”(Adu mulut pertentangan, percekcokan sebisa mungkin untuk dihindari agar senantiasa bisa menyelesaikan masalah secara bijak)

5.     Bener saka kang Kuwasa iku ana rong warna, yakuwi kang cocok karo benering Pangeran lan bener kang ora cocok karo benering Pangeran. (Kebenaran di alam semesta itu ada dua jenis, kebenaran yang selaras dengan ajaran Tuhan dan kebenaran yang bertentangan dengan ajaran Tuhan. Benar ketika selaras dengan tuntunan/ajaran Tuhan dan salah ketika bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Tuhan)

6.     Anak polah bapa kepradah. (Tingkah laku anak mempunyai imbas bagi orang tua, tingkah laku anak yang buruk orang tua ikut terdampak buruk, begitu pula sebaliknya, jika perilaku anak baik, orang tua pun akan ikut terdampak baik)

7.     Crah agawe bubrah. (Pertentangan atau konflik menyebabkan perpecahan/kerusakan)

8.     Dhuwur wekasane, endhek wiwitane. (Kesengsaraan yang membuahkan kemuliaan)

9.     Dumadining sira iku lantaran anane bapa biyung ira. (Terjadinya dirimu karena diciptakannya ibu bapakmu sehingga kedua orang tua harus dimuliakan)

10.                        Gupak pulut ora mangan nangkane. (Tidak turut menikmati manisnya keberuntungan, tetapi ikut terseret ketika datang kesengsaraan atau penderitaan)

11.                        Ana dina, ana upa. (Tiap perjuangan selalu ada hasil yang nyata)

12.                        Adhang-adhang tetese embun. (Berharap sesuatu dengan hasil apa adanya, seperti berharap pada tetes embun)

13.                        Gliyak-gliyak tumindak, sareh pakoleh. (Upaya yang dilakukan perlahan, tetapi akhirnya tujuannya akan tercapai)

14.                        Kena iwake aja nganti buthek banyune. (Berusahalah mencapai tujuan tanpa menimbulkan kerusakan)

15.                        Sepi ing pamrih, rame ing gawe. (Melakukan suatu pekerjaan tanpa merasa pamrih)

16.                        Ngundhuh wohing pakerti. (Apa pun yang kita lakukan akan membuahkan hasil yang sepadan)

17.                        Mikul dhuwur mendhem jero. (Seorang anak yang menjunjung tinggi derajat orang tua)

18.                        Sabar sareh mesthi bakal pikoleh.”(Pekerjaan apa pun jangan dilakukan dengan tergesa-gesa agar berhasil)

19.                        Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah.(Hidup rukun pasti akan hidup sentosa, sebaliknya jika selalu bertikai pasti akan bercerai)

20.                        Tuna satak bathi sanak.(Merugi harta, tetapi mendapatkan sahabat)

21.                        Satria yudha wicaksana.(Satria yang berani berperang membela kebenaran, menegakkan keadilan dengan berlandaskan prinsip kebijaksanaan)

22.                        Jaman iku owah gingsir.(Ruang, waktu, serta zaman akan selalu dinamis dan berubah)

23.                        Kakehan gludhug, kurang udan.(Terlalu banyak berbicara tapi minim usaha, satu aksi lebih baik daripada satu juta kata-kata)

24.                        Kaya banyu karo lenga.(Tidak pernah rukun ibarat air dan minyak)

25.                        Kebo nyusu gudel.(Kaum tua menimba ilmu atau berguru kepada kaum muda)

26.                        Lamun sira durung wikan alamira pribadi, mara takona marang wong kang wus wikan.(Jikalau engkau belum memahami alam pribadimu, hendaknya engkau bertanya kepada yang telah memahaminya)

27.                        Manunggaling kawula klawan Gusti.(Manunggalnya atau bersatunya antara kawula (hamba) dengan sifat-sifat Tuhannya)

28.                        Manungsa iku kanggonan sipating Pangeran.(Manusia itu memiliki sifat Tuhan)

29.                        Nabok nyilih tangan.(Memanfaatkan atau mempergunakan tangan orang lain untuk melakukan suatu kejahatan)

30.                        Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake. (Menyerbu tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan lawan, sifat kesatria yang bertanggung jawab dan berbudi pekerti luhur)

 

tembang Jawa

Tak uwisi gunem iki Kita akhiri pembicaraan ini

Niyatku mung aweh wikan Kita hanya ingin memberi tahu

Kabatinan akeh lire kabatinan banyak macamnya

Lan gawat ka liwat-liwat dan artinya sangat gawat

Mulo dipun prayitno maka itu berhati-hatilah

Ojo keliru pamilihmu Jangan kamu salah pilih

Lamun mardi kebatinan kalau belajar kebatinan

Maknanya :

Tembang ini menggambarkan nasihat seorang tua (pinisepuh) kepada mereka yang ingin mempelajari kabatinan cara kejawen. Kiranya perlu dipahami bahwa tujuan hakiki dari kejawen adalah berusaha mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai hidup sejati, dan berada dalam keadaan harmonis hubungan antara kawula (manusia) dan Gusti (Pencipta) ( jumbuhing kawula Gusti ) /pendekatan kepada Yang Maha Kuasa secara total.

Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang yang percaya kepada Tuhan, yang mempunyai moral yang baik, bersih dan jujur. beberapa laku harus dipraktekkan dengan kesadaran dan ketetapan hati yang mantap. Pencari dan penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi semua orang serta melalui kebersihan hati dan tindakannya. Cipta, rasa, karsa dan karya harus baik, benar, suci dan ditujukan untuk mamayu hayuning bawono. Ati suci jumbuhing Kawulo Gusti : hati suci itu adalah hubungan yang serasi antara Kawulo dan Gusti, kejawen merupakan aset dari orang Jawa tradisional yang berusaha memahami dan mencari makna dan hakekat hidup yang mengandung nilai-nilai.

Dalam budaya Jawa dikenal adanya simbolisme, yaitu suatu faham yang menggunakan lambang atau simbol untuk membimbing pemikiran manusia kearah pemahaman terhadap suatu hal secara lebih dalam. Manusia mempergunakan simbol sebagai media penghantar komunikasi antar sesama dan segala sesuatu yang dilakukan manusia merupakan perlambang dari tindakan atau bahkan karakter dari manusia itu selanjutnya. Ilmu pengetahuan adalah simbol-simbol dari Tuhan, yang diturunkan kepada manusia, dan oleh manusia simbol-simbol itu ditelaah dibuktikan dan kemudian diubah menjadi simbol-simbol yang lebih mudah difahami agar bisa diterima oleh manusia lain yang memiliki daya tangkap yang berberda-beda.

 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)