WAHYU KAMULYAN JATI

0

WAHYU KAMULYAN JATI

(Krisis Kepemimpinan)

 

Dalam cerita Wahyu Kamuyan Jati tersebut digambarkan suatu keadaan Negara yang mengalami krisis kepemimpinan yang berdampak pada sikap ketidak percayaan masyarakat terhadap pemimpin yang ada dan mempengaruhi situasi politik secara nasional menjadi hangat, karena pemimpin yang ada sungguh-sungguh tidak memiliki sifat kemulyaan, sebaliknya hanya mengumbar emosi atau nafsu pribadi ataupun kelompoknya saja.

Kerinduan masyarakat akan hadirnya seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat kemulyaan akhirnya terobati, dengan hadirnya seorang tokoh yang bernama “ BIMA “.

Masyarakat berpendapat bahwa Bima akan mampu mewujudkan impian nya untuk dapat meraih perbaikan kesejahteraan yang lebih baik, dimana hal itu tergambar pada sifat-sifat kemulyaan ( Kepahlawanan, Kejuangan, Senasib Seperjuangan, Merakyat dll ) yang dimiliki oleh tokoh Bima.

 

Penyebab adanya krisis kepemimpinan itu ia melanjutkan, karena ketidakpahaman syarat mutlak menjadi seorang pemimpin. Dengan menghadirkan sosol Petruk yang melakukan kritik pedas kepada Pemerintahan yang sah, sang dalang yang memainkan lakon Wahyu Kamulyan memberikan gambaran bagaimana layaknya seorang pemimpin menurut pitutur Jawa.

 

Para pemimpin itu jangan hanya mengumbar emosi dan nafsu pribadi. Para pemimpin yang ada tersebut hanya mengumbar kepentingan kelompoknya, tidak memperhatikan kepentingan rakyat itu bukan kebudayaa kita.

 

Cerita mengalami titik puncak ketika tokoh Petruk dirasuki oleh Dewa Ruci dan menjabarkan Hasta Brata, yang memiliki makna 8 nilai kepimpinan. Ajaran Hasta Brata yang dijelaskan oleh Petruk yaitu berisi 8 ajaran perilaku yang harus dipunyai seorang pemimpin,

1.      Watak Surya atau matahari dimana memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan yang membuat semua makhluk tumbuh dan berkembang sebagai gambaran keadilan. Yang kedua Watak Candra atau Bulan diteladani memancarkan sinar kegelapan malam. Cahaya bulan yang lembut mampu menumbuhkan semangat dan harapan-harapan yang indah.

2.      Seorang pemimpin hendaknya mampu memberikan dorongan atau motivasi untuk membangkitkan semangat rakyatnya, tanpa ada kekerasan atau ancaman.

3.      Watak Kartika atau Bintang diteladani memancarkan sinar indah kemilau, mempunyai tempat yang tepat di langit hingga dapat menjadi pedoman arah.

4.      Watak Angkasa yaitu Langit diteladani ke luasan tak terbatas, hingga mampu menampung apa saja yang datang padanya.

5.      Watak Maruta atau Angin diteladani selalu ada di mana-mana, tanpa membedakan tempat serta selalu mengisi semua ruang yang kosong.

6.      Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan rakyat, tanpa membedakan derajat dan martabatnya, bisa mengetahui keadaan dan keinginan rakyatnya.

7.      Watak Samudra yaitu Laut atau Air diteladani seorang pemimpin hendaknya menempatkan semua orang pada derajat dan martabat yang sama, sehingga dapat berlaku adil, bijaksana, dan penuh kasih sayang terhadap rakyatnya.

8.      Watak Dahana atau Api diteladani Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan harus bisa menegakkan kebenaran dan keadilan secara tegas dan tuntas tanpa pandang bulu. Dan terakhir watak Bumi yaitu Tanah diteladani mempunyai sifat kuat dan bermurah hati. Selalu memberi hasil kepada siapa pun yang mengolah dan memeliharanya dengan tekun. Seorang pemimpin hendaknya berwatak sentosa, teguh dan murah hati, senang beramal dan senantiasa berusaha untuk tidak mengecewakan rakyatnya.

 

 


 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)