ANAK SHOLEH

0
ANAK SHOLEH
By. R. Syehha A M























Dalam agama Islam diajarkan bahwa ada tiga amalan yang akan terus mengalir pahalanya walau pemiliknya telah tinggalkan dunia fana yaitu ;
1.ilmu yang bermanfaat
2.amal jariyah dan
3.doa anak sholeh
Ini bermakna bahwa orang tua diminta untuk mendidik anaknya agar menjadi anak yang sholeh yang kelak diharapkan akan terus mendoakan orang tuanya. Pesan dari ajaran tersebut adalah pesan tentang pendidikan, pendidikan kepada anak, yang ganjarannya begitu menggiurkan karena pahalanya akan terus mengalir meski kita sudah meninggal.

Ada sebuah doa yang dikenal dengan nama ‘Doa Anak Sholeh’ dan yang diajarkan oleh hampir semua orang tua muslim kepada anak-anak mereka dengan harapan agar anak-anak mereka mau mendoakan mereka dengan doa ini. Begini bunyinya :
“ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO”
Artinya dalam Bahasa Indonesia : “ Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil ”
Doa ini begitu populernya sehingga hampir semua anak di sekolah hafal dengan doa ini. Doa ini juga cukup pendek dan sangat mudah dihafalkan oleh anak-anak. Dalam jangka waktu singkat anak balita bisa mengingat dan menghafalnya. Akan sungguh mengggemaskan jika kita mendengar anak balita yang masih cedal membacakan doa ini. Kalau anak kita bisa membaca doa ini rasanya hati orang tua langsung ‘mak nyes’, adem dan bahagia!
Meski kita berusaha mengajarkan doa ini kepada anak-anak kita, pernahkah kita benar-benar memperhatikan dan memahami makna dari doa ini? Sebagai seorang pendidik saya sungguh takjub dengan pesan yang hendak disampaikan oleh doa ini. Coba perhatikan kalimatnya baik-baik dan pikirkan mengapa doanya seperti itu. Mengapa anak-anak kita diminta untuk berdoa agar orang tuanya disayangi ‘sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil’? Mengapa redaksinya bukan ‘sebagaimana mereka menyayangiku selama ini’, umpamanya. Mengapa justru ditekankan ‘sewaktu aku masih kecil’? Apakah doa ini hanya berlaku bagi anak yang masih kecil saja dan jika sudah lebih dewasa maka redaksinya akan diubah menjadi. :”Sewaktu aku ABG, atau sewaktu dewasa’, umpamanya? Tidak. Doa itu redaksinya tidak berubah redaksinya meski kita mendoakan orang tua kita ketika kita sendiri telah tua. Redaksinya tidak berubah dan tidak perlu diubah.
Lantas mengapa begitu redaksinya?
R. Syehha Agem Manumayasya
Menurut saya, doa ini mengandung pesan pendidikan yang sungguh dalam bagi para orang tua. Jadi sebenarnya doa ini memang pesannya UNTUK ORANG TUA dan bukan untuk si anak. Melalui doa ini terkandung pesan untuk meminta agar orang tua mendidik dan menyayangi anaknya dengan sebaik-baiknya, khususnya SEWAKTU KECIL. Para orang tua diminta untuk mencurahkan kasih sayangnya sepenuh-penuhnya kepada anaknya sewaktu kecil karena sewaktu kecil itulah anak-anak kita membutuhkan kasih sayang yang tak terhingga sebagai bekal bagi mereka mengarungi hidup sewaktu besar nantinya. Dengan kasih sayang yang berlimpah dan pendidikan yang baik pada waktu kecil (bukan berarti memanjakannya) maka sang anak akan punya fondasi mental dan spiritual yang kuat dalam menghadapi hidup mereka di masa dewasa nantinya. Dengan doa ini seolah hendak dikatakan kepada para orang tua,:”Wahai para orang tua, sayangilah anak-anakmu sebaik-baiknya pada saat mereka masih kecil. Berikan semua yang terbaik darimu kepada anak-anakmu ketika mereka masih kecil. Janganlah sampai mereka mendapati hal yang buruk dan tidak baik darimu ketika mereka masih kecil. Janganlah sampai engkau menunjukkan sikap kasar, keras dan kejammu pada anakmu waktu masih kecil karena Tuhanmu akan mengganjarmu sesuai dengan perbuatanmu pada anakmu ketika masih kecil (dan bukan pada masa yang lain)”
Secara alami orang tua memang sangat menyayangi anak-anak mereka ketika masih kecil. Itu masa-masa ketika orang tua sangat menyayangi dan melindungi anak-anak mereka. Mereka melimpahinya dengan berbagai pujian dan hadiah. Pelukan dan ciuman datang tak henti-hentinya. Kata-kata lembut dan panggilan sayang berhamburan. Rasanya apa saja yang diminta oleh anak sewaktu ia masih kecil segera dituruti dan diusahakan dengan sungguh-sungguh. Para orang tua biasanya menolerir semua kesalahan anak-anak mereka dan tidak marah meskipun anak memecahkan barang orang tua yang paling disayangi.
Hal ini tentu berbeda dengan ketika anak sudah cukup besar. Pada saat itu orang tua sudah mulai kurang toleran. Pujian semakin berkurang dan hukuman semakin banyak. Raut muka dan tutur kata sudah mulai berubah. Pendek kata kasih sayang orang tua sudah berbeda dengan ketika anak masih kecil. Itulah sebabnya doa tersebut menyebutkan secara spesifik WAKTU TERINDAH dalam hubungan anak dan orang tua, yaitu ‘sewaktu masih kecil’. Orang tua akan dimintakan ganjaran kepada Tuhan pengampunan dosa dan balasan kasih sayang yang terbaik dari Allah sebagaimana mereka melakukan hal yang terbaik kepada anak mereka sewaktu mereka masih kecil.
Jadi dengan redaksi doa itu kita sebenarnya diminta untuk menyayangi anak-anak kita ‘habis-habisan’ ketika mereka masih kecil karena upaya kita pada saat itulah yang akan menjadi perhitungan untuk balasannya dari Allah kelak. Hal itu juga sesuai dengan kebutuhan anak yang memerlukan kasih sayang yang berlimpah ketika masih kecil karena mereka benar-benar masih sangat bergantung pada orang tua pada saat itu. Hal itu juga sesuai dengan fitrahnya orang tua yang masih benar-benar ‘all-out’ dalam menyayangi anaknya ketika masih kecil. Doa itu memang mengandung pesan pendidikan luar biasa!
Jadi jika Anda masih punya anak kecil yang akan Anda jari doa tersebut jangan lupa bahwa doa itu sebenarnya pesan dari Tuhan kepada Anda. Berikan yang terbaik dan terindah dari Anda kepada anak-anak Anda yang masih kecil tersebut. Dengan demikian doa mereka akan sungguh-sungguh dan menghasilkan buah pahala yang tidak putus-putusnya.


 KIAT MEMPUNYAI ANAK SHOLEH

Siapa pun pasti mengidam-idamkan anaknya kelak menjadi anak yang sholeh. Untuk mewujudkan keinginan ini hendaknya dilakukan beberapa hal: Pertama, hendaknya sejak anak masih berada di dalam kandungan, ibunya harus selalu mengkonsumsi makanan yang halal. Jangan sekali-kali memakan dan meminum sesuatu yang syubhat atau bahkan haram. Nabi Muhammad SAW. bersabda:
 “Setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, neraka lebih berhak baginya.”
Jika seseorang itu hartanya tergolong syubhat misalnya, maka hendaknya diupayakan agar harta syubhat itu tidak sampai dimakan, tapi dipergunakan untuk kebutuhan yang lain, sebab makanan yang shubhat atau bahkan haram itu pasti dapat menimbulkan dampak negatif pada jiwa orang yang mengkonsumsinya. Diceritakan, “Suatu ketika Abu Yazid Al Busthami mengadu pada ibunya perihal dirinya yang sudah beribadah kepada Allah SWT. selama kurang lebih 40 tahun, tapi belum dapat merasakan nikmatnya beribadah. Beliau lalu bertanya kepada ibunya, jangan-jangan ibunya pada waktu mengandung atau menyusui dirinya dulu pernah mengkonsumsi makanan yang tidak halal. Ternyata kekhawatiran Abu Yazid ini terbukti, ibunya tadi mengakui, bahwa pada masa menyusui Abu Yazid dulu, saat naik ke loteng dia pernah meminum air susu satu gelas tanpa mencari tahu dulu siapa yang memilikinya.”
Kedua, orang tua hendaknya senang dan cinta terhadap orang-orang yang sholih, agar anaknya kelak tertulari kesholihan orang-orang sholeh tersebut.
Ketiga, hendaknya orang tua selalu berdo’a kepada Allah subhanahu Wata’ala agar anaknya ditakdir menjadi anak yang baik. Ada sebuah ijazah do’a dari Kiai Romli, beliau mendapat ijazah dari Kiai Kholil Bangkalan, Madura, yaitu:
“Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami termasuk orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang baik. Dan janganlah Engkau jadikan kami dan mereka termasuk orang-orang yang sengsara.”
Keempat, hendaknya orang tua mengajarkan anaknya untuk mengenal Allah SWT, dimengertikan tentang tata cara beribadah, halal-haram, hal-hal yang menyebabkan kemurtadan, dan lain-lain. Setelah itu anaknya mau disekolahkan ke mana pun, terserah. Yang penting orang tua sudah menanamkan pendidikan dasar agama yang kokoh.
Dalam persoalan mendidik anak ini, orang tua jangan hanya memikirkan dan menghawatirkan anaknya dalam urusan dunia saja. Sebab jika begini, sepertinya yang akan mati hanya orang tuanya semata. Justru yang harus selalu diperhatikan dan dipikirkan oleh orang tua adalah bekal apakah yang akan dibawa dirinya dan anaknya nanti ketika menghadap Allah SWT. sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub AS. menjelang ajalnya. Allah mengisahkan peristiwa ini dalam Surah Al Baqarah, ayat 133:Ø£“Adakah kamu hadir ketika Ya`qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah: 133).
Sebagai orang tua, kita jangan hanya memikirkan:
“Apa yang engkau makan setelah kepergianku?”
Jika orang tua memiliki anak yang sholeh, maka dia tak ubahnya seseorang yang mempunyai usia panjang, meski umurnya pendek sekalipun, karena setiap saat dia akan selalu memperoleh kiriman amal.


Al Qur’an dan Pendidikan Anak Sholeh 

 Semua orang Islam (muslim) berkeinginan memiliki anak sholeh, berakhlak mulia, yang dapat mendoakan kedua orang tuanya, birrul walidain. Islam memberi petunjuk bahwa anak adalah amanah yang dibebankan kepada masing-masing orang tua agar dididik sebaik-baiknya.
Menunaikan amanah itu ternyata tidak mudah. Kesulitan itu dirasakan oleh hampir semua orang. Tidak sulit menemukan kelu¬han orang tua, seperti misalnya anaknya sering membolos, berani kepada orang tua, serba menuntut yang berlebihan, sholat lima waktu tidak tertib, belum dapat membaca al Qur^an secara lan¬car, dan bahkan lebih dari itu, tidak sedikit anak-anak diten¬garai melakukan perilaku menyimpang seperti terlibat minum obat terlarang, dan sebagainya.

Problem seperti itu, kian hari bukanlah semakin berkur¬ang, malah sebaliknya justru berkembang. Jika kita sempat mengikuti hasil penelitian tentang kehidupan remaja, surat kabar, majalah, atau bahkan juga perbincangan informal dalam berbagai kesempatan, kehidupan anak-anak dan remaja semakin memprihatinkan. Kenakalan anak, remaja, dan bahkan yang mengin¬jak dewasa, terjadi di mana dalam bentuk yang beraneka ragam. Menghadapi persoalan ini, timbul pertanyaan, apa yang salah dalam pelaksanaan pendidikan kita, baik yang ada di rumah tangga, di sekolah, atau di masyarakat.

Disinyalisasi bahwa faktor yang berpengaruh terhadap pendidikan cukup banyak. Di antaranya, informasi yang semakin terbuka luas, pengaruh oleh budaya materialisme dan hedonisme, nilai-nilai religius ataupun budaya luhur yang semakin terabaikan dan bahkan ditinggalkan, ditambah pendidikan yang sulit ditingkatkan kualitasnya. Itu semua ditengarai berpengaruh terhadap perilaku anak-anak atau remaja yang sedang berkembang, terutama dari kejiwaannya.

Orang tua, para tokoh masyarakat, dan juga pemuka agama akhir-akhir ini merasa terpanggil untuk mencari jalan keluar dari persoalan semua itu. Rupanya pendidikan dipandang sebagai faktor yang dianggap menjadi variabel yang harus memperoleh perhatian serius. Jika demikian maka pertanyaan yang segera muncul adalah, pendidikan seperti apa yang relevan dengan tantangan saat ini, baik dari tataran konsep maupun operasionalnya.

Mencandra Pendidikan Saat ini

Mengamati pendidikan yang berkembang saat ini, maka akan diperoleh gambaran, bahwa dalam beberapa hal, kurang menyenang¬kan. Pendidikan, selain bersifat parsial, prakmatis, tetapi dalam banyak hal bersifat paradoks. Fenomena yang tampak par¬sial, pendidikan terlihat lebih sebatas mengembangkan intelektual dan ketrampilan. Padahal kehidupan seseorang tak cukup jika hanya dibekali dengan ilmu dan ketrampilan. Cukup banyak bukti, bahwa seseor¬ang yang memiliki kekayaan ilmu dan ketrampilan, jika tidak dilengkapi dengan kekayaan akhlak atau moral, maka justru ilmu dan ketrampilan yang dimiliki akan melahirkan sikap-sikap individualistik dan materialistik. Dua sifat ini jika tumbuh dan berkembang pada diri seseorang akan menampakkan perilaku yang kurang terpuji seperti serakah, tidak mementingkan orang lain, kurang peduli pada etika, dan akan menghilangkan sifat-sifat manusiawi yang seharusnya lebih dikembangkan.

Pendidikan yang berorientasi praktis dan prakmatis tampak dengan jelas dari orientasi yang dikembangkan. Isu pendidikan lebih banyak terkait dengan lapangan kerja. Muncullah kemudian konsep-konsep yang terkait dengan lulusan siap pakai, siap kerja, siap latih, dan sejenisnya. Selain itu orang mengukur hasil pendidikan dengan ukuran-ukuran yang sederhana, seperti misalnya berapa lama kuliah dapat diselesaikan, berapa indeks prestasi yang dapat dicapai, berapa nilai UN, dan sejenisnya. Pendi¬dikan disebut berhasil jika lulusannya cepat diterima di lapan¬gan kerja, dan bergaji tinggi. Padahal, bukankah ukuran-ukuran seperti itu, sesungguhnya adalah jauh dari konsep yang lebih luhur, misalnya agar bertaqwa, beriman, berbudi luhur, berpen¬getahuan luas, dan seterusnya. Jika ukuran-ukuran yang selama ini dikembangkan masih bersifat sederhana seperti yang disebutkan itu, maka makna pendidikan belum menyentuh aspek yang lebih substansi atau yang lebih bersifat hakiki.

Kelemahan lainnya ialah pendidikan berjalan secara parad¬oks. Jika pendidikan sesungguhnya adalah proses peniruan, pembiasaan, dan penghargaan maka yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari justru sebaliknya. Uswah hasanah yang seharusnya didapatkan oleh anak-anak ternyata tidak mudah diperoleh. Sekali lagi contoh atau uswah hasanah masih sulit didapat oleh anak. Orang tua demikian mudah beralasan tatkala meninggalkan kegiatan yang juga dianjurkan agar dilaksanakan oleh anak-anaknya. Selain uswah hasanah yang juga sulit diwujudkan adalah proses pembiasaan yang bernuansa pendidikan Islam. Kegiatan seseorang biasanya terpola oleh kebiasaan yang dilakukan. Jika seseorang terbiasa ke masjid setiap mendengar adzan, maka ia akan merasa tidak enak jika meninggalkan kebiasaan itu, dan sebaliknya. Kenyataan yang banyak kita saksikan adalah justru terbiasa meninggalkan panggilan adzan itu.

Manusia Seutuhnya

Konsep manusia seutuhnya pernah dijadikan jargon pembangu¬nan. Pendidikan, misalnya, harus mampu mengantarkan anak manu¬sia menjadi manusia yang utuh. Begitu pula, pembangunan nasion¬al diarahkan agar mampu meningkatkan kualitas manusia seutuhn¬ya. Tetapi yang patut dipertanyakan adalah, apakah yang dimak¬sud dengan manusia seutuhnya itu. Benarkah konsep itu telah dipahami sepenuhnya ?

Manusia utuh berarti tidak partial, frakmental, apalagi split personality. Utuh artinya lengkap, meliputi semua hal yang ada pada diri manusia. Manusia memerlukan pemenuhan kebu¬tuhan jasmani, rokhani, akal, dan juga pengembangan ketrampli¬lan. Manusia membutuhkan saluran pengembangan intelektrualnya agar memiliki kepintaran dan kecerdasan. Manusia membutuhkan jasmani yang sehat, oleh karena itu diperlukan gizi, olah raga, dan zat lain untuk menyegarkan tubuh. Selain itu, manusia juga memerlukan pemenuhan kebutuhan spiritual ---berkomunikasi atau berdialog dengan Dzat Yang Maha Kuasa. Manusia memerlukan keindahan atau aestetika. Lebih dari itu semua, manusia juga memerlukan penguasaan ketrampilan tertentu agar ia dapat berkarya baik untuk memenuhi kepentingan diri maupun orang lain.

Semua kebutuhan itu harus dapat dipenuhi secara seimbang. Tidak dapat sebagian saja dipenuhi dengan meninggalkan kebutu¬han yang lain. Orang tidak cukup hanya sekedar cerdas dan terampil, tetapi dangkal sepiritualitasnya. Begitu pula seba¬liknya, tidak cukup seseorang memiliki kedalaman sepiritual, tetapi tidak memiliki kecerdasan dan keterampilan. Tegasnya, istilah manusia utuh adalah manusia yang dapat mengembangkan berbagai potensi positif yang ada pada dirinya itu.

Jika pemahaman terhadap manusia seutuhnya seperti itu yang dijadikan pegangan maka pendidikan harus mengembangkan berbagai aspek itu. Pendidikan tak dibolehkan hanya mengembangkan satu aspek, tetapi melupakan aspek lainnya. Artinya, tidak selayakn¬ya pendidikan hanya memprioritaskan pengembangan keagamaan dengan maksud meningkatkan budi pekerti atau akhlak, tetapi mengesampingkan pengembangkan intelektualitasnya. Hal yang sama tidak dibolehkan jika pendidikan hanya mengedepankan pengemban¬gan kecerdasan dan ketrampilan dan mengabaikan pengembangan sepiritualitasnya lewat pendalaman dan penghayatan agama.

Di Indonesia ini terjadi dualisme dalam penyelenggaraan pendidikan. Terdapat sekolah yang diselenggarakan oleh Diknas yang disebut dengan sekolah umum. Selain itu terdapat sekolah yang berada di bawah Departemen Agama, berupa madrasah dan pondok pesantren. Pada sekolah umum sekalipun diajarkan agama, namun jumlah jam pelajaran yang disediakan amat kecil. Demikian pula sebaliknya di pondok pesantren, lebih mengutakan pendidi¬kan agama, dan dalam banyak kasus tidak memberikan pengetahuan umum. Sedangkan madrasah, akhir-akhir ini sudah dilakukan perbaikan kurikulum dengan memberikan pengetahuan umum dan agama secara seimbang, atau sama banyak jumlahnya. Hanya saja, menyangkut terakhir ini, belum ditemukan pola pendidikan agama yang lebih produktif. Kegiatan yang terjadi baru berupa penga¬jaran agama, belum memberikan nuansa pendidikan yang lebih komprehensif.

Sebetulnya, sedikitnya porsi pendidikan agama di sekolah tidak mengapa, asalnya kekurangan itu dapat ditambal oleh kegiatan di keluarga atau di masyarakat. Hanya saja dalam kenyataannya, pendidikan agama di keluarga ataupun di masyara¬kat sudah semakin melemah. Atas dasar alasan-alasan kesibukan orang tua atau juga keterbatasan pemahaman agama yang dialami, pendidikan agama di keluarga tak dapat dimaksimalkan. Demikian pula pendi¬dikan agama di masyarakat, bahwa kegiatan mengaji di langgar, musholla, masjid, tampaknya sudah semakin berkurang, tidak saja di perkotaan tetapi juga di pedesaan.

Kenyatan seperti itu menjadikan pendidikan yang utuh semakin sulit diperoleh. Yang terjadi adalah pendidikan berja¬lan secara terpragmentasi atau perpilah-pilah yang mengedepan¬kan sebagian dan mengabaikan bagian lainnya. Fenomena seperti ini berakibat pada rendahnya pemahaman dan pengahayatan agama oleh sebagian banyak orang yang tak mengenyam pendidikan agama. Akibat lemahnya pemahaman agama itu, mereka tidak merasa geli¬sah bahkan tak merasa perlu terhadap kitab suci, walaupun dia mengaku seorang yang beragama.


Al Qur^an dan Pendidikan Anak

Al Qur^an sebagaimana disebutkan dalam berbagai ayat, adalah merupakan petunjuk, penjelas, pembeda, sumber in¬spirasi bagi manusia dan lain-lain sebagaimana disebutkan sendiri oleh Al Qur’an. Kitab suci ini diturunkan agar dijadikan petunjuk untuk mencapai derajad taqwa. Predikat taqwa adalah yang tertinggi bagi kehidupan manusia. Orang yang bertaqwa tidak saja selamat di dunia, tetapi juga selamat di akhirat.

Ukuran keberhasilan hidup sebagaimana yang disebutkan dengan konsep taqwa ini, ternyata dalam kehidupan sehari-hari kurang dihayati. Kalaupun digunakan, sifatnya formal. Misalnya, seorang calon pejabat pemerintah dipersyaratkan bertaqwa kepada Tuhan. Persyaratan seperti itu dalam prakteknya tidak jelas. Ukuran-ukuran tentang ketaqwaan itu tak pernah dirumuskan, sehingga semua orang dianggap telah bertaqwa.

Orang mengukur keberhasilan hidup dengan bermacam-macam ukuran sesuai dengan tradisi atau budaya masyarakatnya. Orang Jawa misalnya, seseorang disebut sukses dalam hidupnya secara gradual jika telah bekerja, kawin, memiliki rumah, kendaraan, simbul-simbul kekuatan, dan mampu menyalurkan hobi (kukilo). Maslow membagi kebutuhan manusia menjadi beberapa tingkat, mulai kebutuan yang bersifat fisiologis, rasa aman, kebutuhan memiliki dan sosial, penghargaan dan status, dan aktualisasi diri.

Akhir-akhir ini, entah oleh sebab apa, sementara orang mulai sadar bahwa kebahagiaan tidak cukup diraih hanya karena berhasil mengumpulkan harta atau meraih jabatan tinggi. Sekalipun kelebihan di bidang terse¬but tetap dianggap penting, tetapi usuran itu bukan segalanya. Sementara orang, sementara ini sudah mulai cenderung merasakan betapa pentingnya kekayaan lain, berupa budi pekerti dan kedalaman sepiritual. Dalam berbagai pertemuan dengan orang tua, saya pernah mengajukan pertanyaan mana yang lebih dipentingkan jika kita harus memilih, memiliki anak yang cerdas tetapi berperilaku kurang terpuji atau anak yang akhlaknya terpuji tetapi kurang cerdas. Opsi cerdas dan terpuji sengaja tak dimunculkan, sebab semua orang tua pasti memilih alternatif itu. Ternyata, semua orang yang saya tanya lebih memilih anak berakhlak terpuji sekalipun kurang cerdas. Pilihan seperti ini menunjukkan bahwa faktor budi pekerti, akhlak, atau ketaqwaan lebih diutamakan dari lainnya.

Al Qur’an memberikan tuntunan tentang bagaimana pendidikan seharusnya dijalankan. Al Qur’an memberikan tuntunan bagaimana pendidikan dijalankan, ternyata sangat komprehensif dan menarik. Jika kehadiran Rasulullah dipandang sebagai pembawa ajaran untuk menyelamatkan umat manusia dalam pengertian luas, atau tegasnya sebagai pendidik, maka tugas itu dijelaskan dalam al Qur’an. Tugas itu, pertama, ialah mengajak umatnya melakukan tilawah. Yang diserukan oleh Rasulullah adalah membaca, yang dalam hal ini adalah membaca jagad raya. Rasulullah atas petunjuk Allah swt., memahami betul tentang jagad raya ini. Bahkan ia tahu tidak saja benda-benda di bumi, melalui isro’ dan mi’raj, Ia mengetahui berbagai planit di jagad raya ini. Rasulullah melalui wahyu mengetahui tentang perputaran bumi, bulan dan matahari. Dalam perputaran benda-benda alam ini, siapa mengelilingi apa, berputar pada apa, semua diketahui oleh rasulullah lewat wahyu yang diterimanya. Umat Islam melalui wahyu yang diterimanya diajak memahami itu semua. Sekarang ini anak-anak di sekolah diajari físika, biologi, kimia, matemática, ilmu sosial, bahasa dan seterusnya. Jika pelajaran ini dipandang sebagai usaha memenuhi tutunan agar melakukan tilawah sebagaimana ajaran Rasulullah, akan menghasilkan semangat dan sekaligus kekaguman sehingga berdampak pada tumbuhnya keimanan. Sayang sekali, anak-anak saat ini belajar pengetahuan itu, kadangkala sebatas agar lulus ujian akhir

Kedua, tugas Rasulullah sebagai pendidik adalah melakukan tazkiyah, artinya mensucikan. Agar anak manusia menjadi baik, luhur dan mulia maka ia harus disucikan baik lahir maupun batinnya. Secara lahir, anak harus dijaga makanannya, tidak saja makanan itu sebatas memenuhi syarat empat sehat lima sempurna. Lebih dari itu, makanan yang masuk dalam tubuh harus baik dan halal. Makanan seperti itu yang menjadikan jasmani menjadi sehat. Akan tetapi manusia sebagai makhluk yang memiliki akal, jiwa dan hati, harus disucikan. Melakukannya melalui upaya-upaya mendekatkan diri pada Allah, melalui kegiatan spiritual seperti banyak berdzikir, mengingat asma Allah, sholat lima waktu, dan sholat sunnah lainnya, berpuasa, hají, bergaul dengan orang-orang sholeh dan lain-lain. Aktivitas itu semua menjadikan jiwa raga kita bersih dan kemudian menjadi sehat. , Ketiga, taklim, yaitu mengajari Kitab Suci. Pendidikan hendaknya mampu membawa anak didik memahami kitab suci. Tradisi di masyarakat kita, belum tumbuh kesadaran secara merata bahwa memahami kitab suci adalah sebagai hal penting. Sementara ini baru sampai menganggap penting membaca kitab suci, yakni membaca al Qur’an. Kegiatan itu disebut mengaji. Jika anak sudah mau mengaji dianggap sudah beruntung, sekalipun tidak disertai pemahaman yang cukup. Padahal sesungguhnya, dalam petuah yang di-jawa-kan saja, dianjurkan agar semua orang mau “moco Qur’an angan-angan sakmanane, artinya petuah itu : membaca al Qur’an sambil menghayati maknanya. Keempat, Rasulullah mengajarkan hikmah atau kearifan. Seorang beragama harus arif dan bijak. Dalam melakukan sesuatu, dilihat dari berbagai sudut dan sisinya harus tepat. Apa yang diputuskan dan dilakukan selalu menguntungkan, menyelamatkan dan membahagiakan, dan sebisa-bisa tidak merugikan dan mencelakakan orang lain. Orang yang memiliki hikmah dan kearifan akan selalu menjadikan orang lain tentram dan terlindungi.

Guru sebagai pendidik, menurut Islam sebagaimana yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah, tidak sebatas menjadikan anak didik tahu dan mengerti sesuatu yang diajarkan. Lebih dari itu, pendidik dituntut mampu menjadikan anak didik memiliki pengetahuan, karakter, pribadi dan perilaku yang mulia. Jika konsep ini yang kita kembangkan, maka tugas guru atau pendidik tidak sebatas menunaikan kewajiban, yaitu memberikan mata pelajaran di kelas, melainkan lebih luas dan komprehensif dari sebatas itu. Jika pemahaman pendidikan Islam seperti itu cakupannya, maka rasa-rasanya apa yang dilakukan oleh para Kyai di pesantren lebih sempurna daripada peran yang dilakukan guru di sekolah selama ini. Allahu a’lam. 

 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)