Ajaran Purwo Bermuara Pada Filosofi Lingga Yoni

0

 Ajaran Purwo Bermuara Pada Filosofi Lingga Yoni



Imajiner Nuswantoro


Ajaran Purwo (Purwa) dalam budaya dan spiritualitas Jawa adalah pemahaman tentang asal-mula atau awal mula kehidupan manusia. Ajaran ini juga menjadi bagian dari siklus hidup tiga dimensi, yaitu purwo (awal), madyo (tengah), dan wusono (akhir), serta mendasari ajaran kelompok penghayat kepercayaan seperti Purwa Ayu Mardi Utomo.

Konsep Tiga Dimensi Alam (Purwo, Madyo, Wusono)
Dalam falsafah Kejawen, perjalanan hidup manusia dibagi menjadi tiga tahap besar:
1. Alam Purwo (Awal/Wiwitan): Masa permulaan atau saat manusia masih berada di dalam kandungan ibu sebelum dilahirkan ke dunia.
2. Alam Madyo (Tengah): Masa ketika manusia sudah lahir dan menjalani kehidupan nyata di dunia fana.
3. Alam Wusono / Wasono (Akhir): Masa setelah kehidupan dunia berakhir atau ketika manusia kembali kepada Sang Pencipta
Aliran Penghayat Purwa Ayu Mardi Utomo (PAMU)
4. Sejarah: Organisasi kebatinan ini didirikan pada tahun 1913 di Ponorogo, Jawa Timur, oleh R.M. Djojopoernomo.
5. Tujuan: Bukan sebuah agama baru, melainkan kawruh pranataning kamanungsan (pengetahuan tentang tatanan kemanusiaan) untuk memahami asal-usul manusia dan peran hidupnya agar bisa mengenal Tuhan Yang Maha Esa.
6. Sumber Ajaran: Memakai pedoman moral berupa budi luhur, serat/suluk macapat (seperti Suluk Jaka Lonthang), serta ajaran selaras untuk menjaga kerukunan dan kelestarian budaya.

R.M. Djojopoernomo (atau Raden Mas Djojo Poernomo), yang juga dikenal sebagai Pangeran Papak Natapraja atau Pangeran Notoprojo, adalah pendiri aliran kebatinan atau penghayat kepercayaan Pirukunan Purwa Ayu Mardi Utama (PAMU). Meskipun makam utamanya berada di Banyuwangi, ajaran beliau berkembang luas di berbagai daerah termasuk Ponorogo dan Blitar.

Profil Singkat R.M. Djojopoernomo
- Nama Asli: R.M. Papak / Arya Papak
- Gelar: Pangeran Notoprojo atau Pangeran Papak Natapraja
- Pendirian PAMU: Mendirikan aliran kebatinan Purwa Ayu Mardi Utama pada tahun 1912.
- Kaitan dengan Ponorogo: Ajarannya masuk dan disebarkan di Ponorogo sekitar tahun 1949 oleh penerusnya (Ki Permadi), dan hingga kini masih memiliki pengikut serta tradisi peringatan di wilayah tersebut.

Karakteristik Ajaran di Ponorogo
- Merangkul Pluralisme: Pengikut PAMU di Ponorogo berasal dari latar belakang agama yang berbeda-beda seperti Islam, Katolik, Buddha, dan Hindu.
- Fokus Budi Luhur: Mengajarkan etika hidup bermasyarakat, ketulusan hati, pengendalian diri, serta perilaku berlandaskan budi luhur.
- Tradisi / Ritual: Komunitas penghayat di Ponorogo rutin mengadakan pertemuan serta doa bersama untuk mengenang hari besar atau wafatnya sang pendiri.


“….. Purwaning dumadine manungsa.
Tan liya saka dening Roh Suci kang sinabatumurun.
Gumelar aneng alam donya.
Kang srawa tuwuh manuwuh.
Dedalane Manunggal.
Kinentenan sarwo mijil.
Gelar gumelare manungsa.
Saka dening manunggaling rasa sejati.
Manunggaling rama klawan ibu sakarone podo rebut rasa.
Rangkul rinangkul datan pada uwal.
Uwalira namun wis mijil.
Mula sakabehing para manungsa.
Elinga purwaning dumadi.
Sun jarwani marganipun.
Nalika jenengsirakinandut ning ibunira.
Ibunira rina klawan dalu.
Tan kendat anggone anyuwun mring sihin Gustine.
Pamintanipun ibunira murih widada lan dadi.
Tulusing kang kinandut sangang sasi nandang sangsara mbenjang miyos wanita miwah kakung ingkang kagungan Urip.”

Maknanipun :
".... Awal mula keberadaan manusia. Selain melalui Roh Kudus yang turun. Berdengung di dunia. Ia tumbuh dewasa. Jalan menuju penyatuan. Kenyataannya, itu adalah sebuah keajaiban. Sebuah anugerah bagi umat manusia. Terlahir dari penyatuan rasa yang sejati. Penyatuan ayah dan ibu pun merupakan sebuah rasa. Pelukan erat yang seolah ingin melepaskan diri. Meski akhirnya terlepas, namun takdir telah ditetapkan. Maka bagi seluruh umat manusia. Ingatlah akan asal-usulmu. Aku telah menjelaskan alasannya. Saat nama ibumu menjadi bagian dari dirimu. Ibumu, siang dan malam. Jangan berhenti memohon belas kasih Tuhan. Harapan ibumu adalah agar engkau pulang dan menemukan jati dirimu. Dengan ketulusan, ia yang mengandung selama sembilan bulan menanggung segala derita, hingga melahirkan sosok yang memiliki kehidupan."

“Tes putih soko bopo tes abang soko biyung, wujute gedong cagak 4 lawang 9 isen-isene sukma sejati kang gumantung tanpo cantolan, lungguhe ono batinku kang sekti kang kanggonan wekasan urip sejati yoiku….. arane, ora ono ingsun kejobo Gusti ora ono Gusti kejobo ingsun.
Duuuhh sejatine ...… weneono pituduh lamun mripat durung nganti weruh, weneono krungu lamun kuping durung nganti krungu, wenenono roso lamun kulit durung nganti kroso, weneono tombo lamun rogo lagi nandang lara.
Mandio pangucapku keturutono karepku kasembadanono opo sing dadi karepku.”

Maknanipun :
“ Tes putih dari sang ayah dan esensi merah dari sang ibu membentuk sebuah struktur sebuah kediaman dengan empat pilar dan sembilan pintu yang menaungi Jiwa Sejati yang menggantung tanpa kait; ia bersemayam di dalam diri batinku yang penuh daya, mewujudkan kebenaran hakiki akan eksistensi: tiada 'Aku' selain Sang Ilahi, dan tiada Sang Ilahi selain 'Aku'. Oh, sesungguhnya... karuniakanlah penglihatan di mana mataku belum pernah melihat; karuniakanlah pendengaran di mana telingaku belum pernah mendengar; karuniakanlah sensasi di mana kulitku belum pernah merasakan; karuniakanlah kesembuhan saat tubuhku didera rasa sakit. Biarlah kata-kataku penuh daya, biarlah hasratku dikabulkan, dan biarlah kehendakku terlaksana.”


Aksara Jawanipun :

“…꧉꧉ꦥꦸꦂꦮꦤꦶꦁꦣꦸꦩꦣꦶꦤꦺꦩꦤꦸꦁꦱ꧉
꧋ꦠꦤ꧀ꦭꦶꦪꦱꦏꦣꦼꦤꦶꦁꦫꦺꦴꦃꦱꦸꦕꦶꦏꦁꦱꦶꦤꦧꦠꦸꦩꦸꦫꦸꦤ꧀꧈
ꦒꦸꦩꦺꦭꦂꦄꦤꦺꦁꦄꦭꦩ꧀ꦝꦺꦴꦚ꧉
ꦏꦁꦱꦿꦮꦠꦸꦮꦸꦃꦩꦤꦸꦮꦸꦃ꧉
ꦣꦼꦣꦭꦤꦺꦩꦤꦸꦁꦒꦭ꧀꧈ꦏꦶꦤꦼꦤ꧀ꦠꦺꦤꦤ꧀ꦱꦂꦮꦺꦴꦩꦶꦗꦶꦭ꧀꧈
ꦒꦼꦭꦂꦒꦸꦩꦺꦭꦫꦺꦩꦤꦸꦁꦱ꧉
ꦱꦏꦣꦼꦤꦶꦁꦩꦤꦸꦁꦒꦭꦶꦁꦫꦱꦱꦼꦗꦠꦶ꧉
꧋ꦩꦤꦸꦁꦒꦭꦶꦁꦫꦩꦏ꧀ꦭꦮꦤ꧀ꦆꦧꦸꦱꦏꦫꦺꦴꦤꦺꦥꦺꦴꦣꦺꦴꦉꦧꦸꦠ꧀ꦫꦱ꧉
ꦫꦁꦏꦸꦭ꧀ꦫꦶꦤꦁꦏꦸꦭ꧀ꦝꦠꦤ꧀ꦥꦣꦈꦮꦭ꧀꧈
ꦈꦮꦭꦶꦫꦤꦩꦸꦤ꧀ꦮꦶꦱ꧀ꦩꦶꦗꦶꦭ꧀꧈
ꦩꦸꦭꦱꦏꦧꦺꦲꦶꦁꦥꦫꦩꦤꦸꦁꦱ꧉
ꦄꦼꦭꦶꦔꦥꦸꦂꦮꦤꦶꦁꦣꦸꦩꦣꦶ꧉
ꦱꦸꦤ꧀ꦗꦂꦮꦤꦶꦩꦂꦒꦤꦶꦥꦸꦤ꧀꧈
꧋ꦤꦭꦶꦏꦗꦼꦤꦼꦁꦱꦶꦫꦏꦶꦤꦤ꧀ꦝꦸꦠ꧀ꦤꦶꦁꦆꦧꦸꦤꦶꦫ꧉
ꦆꦧꦸꦤꦶꦫꦫꦶꦤꦏ꧀ꦭꦮꦤ꧀ꦝꦭꦸ꧉
꧋ꦠꦤ꧀ꦏꦼꦤ꧀ꦝꦠ꧀ꦄꦁꦒꦺꦴꦤꦺꦄꦚꦸꦮꦸꦤ꧀ꦩꦿꦶꦁꦱꦶꦲꦶꦤ꧀ꦒꦸꦱ꧀ꦠꦶꦤꦺ꧉
꧋ꦥꦩꦶꦤ꧀ꦠꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦆꦧꦸꦤꦶꦫꦩꦸꦫꦶꦃꦮꦶꦣꦝꦭꦤ꧀ꦝꦣꦶ꧉
꧋ꦠꦸꦭꦸꦱꦶꦁꦏꦁꦏꦶꦤꦤ꧀ꦝꦸꦠ꧀ꦱꦔꦁꦱꦱꦶꦤꦤ꧀ꦝꦁꦱꦁꦱꦫꦩ꧀ꦧꦼꦚ꧀ꦗꦁꦩꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦮꦤꦶꦠꦩꦶꦮꦃꦏꦏꦸꦁꦆꦁꦏꦁꦏꦒꦸꦔꦤ꧀ꦈꦫꦶꦥ꧀꧈”


꧋“ꦠꦺꦱ꧀ꦥꦸꦠꦶꦃꦱꦺꦴꦏꦺꦴꦧꦺꦴꦥꦺꦴꦠꦺꦱ꧀ꦄꦧꦁꦱꦺꦴꦏꦺꦴꦧꦶꦪꦸꦁ꧈ꦮꦸꦗꦸꦠꦺꦒꦼꦣꦺꦴꦁꦕꦒꦏ꧀꧇꧔꧇ꦭꦮꦁ꧇꧙꧇ꦆꦱꦺꦤ꧀ꦆꦱꦺꦤꦺꦱꦸꦏ꧀ꦩꦱꦼꦗꦠꦶꦏꦁꦒꦸꦩꦤ꧀ꦠꦸꦁꦠꦤ꧀ꦥꦺꦴꦕꦤ꧀ꦠꦺꦴꦭꦤ꧀‌ꦭꦸꦁꦒꦸꦲꦺꦎꦤꦺꦴꦧꦠꦶꦤ꧀ꦏꦸꦏꦁꦱꦼꦏ꧀ꦠꦶꦏꦁꦏꦁꦒꦺꦴꦤꦤ꧀ꦮꦼꦏꦱꦤ꧀ꦈꦫꦶꦥ꧀ꦱꦼꦗꦠꦶꦪꦺꦴꦮꦶꦏꦸ…꧉꧉ꦄꦫꦤꦺ꧈ꦎꦫꦎꦤꦺꦴꦆꦁꦱꦸꦤ꧀ꦏꦼꦗꦺꦴꦧꦺꦴꦒꦸꦱ꧀ꦠꦶꦎꦫꦎꦤꦺꦴꦒꦸꦱ꧀ꦠꦶꦏꦼꦗꦺꦴꦧꦺꦴꦆꦁꦱꦸꦤ꧀꧈
꧋ꦣꦸꦈꦈꦃꦲ꧀ꦱꦼꦗꦠꦶꦤꦺ꧉꧉꧉…ꦮꦼꦤꦼꦎꦤꦺꦴꦥꦶꦠꦸꦣꦸꦃꦭꦩꦸꦤ꧀ ꦩꦿꦶꦥꦠ꧀ꦝꦸꦫꦸꦁꦔꦤ꧀ꦠꦶꦮꦼꦫꦸꦃ꧈ꦮꦼꦤꦼꦎꦤꦺꦴꦏꦿꦸꦔꦸꦭꦩꦸꦤ꧀ꦏꦸꦥꦶꦁꦣꦸꦫꦸꦁꦔꦤ꧀ꦠꦶꦏꦿꦸꦔꦸ꧈ꦮꦼꦤꦼꦤꦺꦴꦤꦺꦴꦫꦺꦴꦱꦺꦴꦭꦩꦸꦤ꧀ꦏꦸꦭꦶꦠ꧀ꦝꦸꦫꦸꦁꦔꦤ꧀ꦠꦶꦏꦿꦺꦴꦱꦺꦴ꧈ꦮꦼꦤꦼꦎꦤꦺꦴꦠꦺꦴꦩ꧀ꦧꦺꦴꦭꦩꦸꦤ꧀ꦫꦺꦴꦒꦺꦴꦭꦒꦶꦤꦤ꧀ꦝꦁꦭꦫ꧉
꧋ꦩꦤ꧀ꦝꦶꦪꦺꦴꦥꦔꦸꦕꦥ꧀ꦏꦸꦏꦼꦠꦸꦫꦸꦠꦺꦴꦤꦺꦴꦏꦫꦺꦥ꧀ꦏꦸꦏꦱꦺꦩ꧀ꦧꦣꦤꦺꦴꦤꦺꦴꦎꦥꦺꦴꦱꦶꦁꦣꦝꦶꦏꦫꦺꦥ꧀ꦏꦸ꧉”




Lingga Yoni

Manusia bisa disebut "homo simbolicus", makhluk pengguna simbol-simbol sebagai alat untuk menggambarkan fenomena-fenomena abstrak maupun nyata. Simbol-simbol tersebut ada yang dapat digunakan sebagai alat peningkat kesadaran manusia. Di antara simbol peningkat kesadaran, Lingga digunakan sebagai simbol dari Energi Maskulin, "Yang", Pria dan Yoni dipakai sebagai simbol dari Energi Feminim, "Yin", Wanita. Lingga dan Yoni adalah jalur energi Ilahi di tubuh manusia dan di alam semesta. Penyatuan Lingga dan Yoni melahirkan sesuatu yang baru, yaitu penciptaan. Perpaduan lingga dan yoni tersebut melambangkan penciptaan dunia dan kesuburan. Tanpa penyatuan tak ada generasi yang berkelanjutan.

Pengertian Lingga adalah menyerupai alat kelamin laki-laki karena bentuknya seperti Phallus lambang kesuburan pada masa Tradisi Megalithik, dan dalam perkembangan Hindu merupakan simbol dari Dewa Siwa. Lingga berfungsi sebagi penyalur air pembasuh arca. Dalam manifestasinya Lingga terdapat 2 bentuk, yaitu : 1. Lingga Cala adalah Lingga yang merupakan simbol Dewa Siwa, sifatnya dapat dipindahkan karena bentuknya yang tidak permanen. Contohnya Arca Lingga. 2. Lingga Acala adalah Lingga yang diperkirakan sebagai tempat hunian bagi Dewa Siwa, sifatnya permanen sehingga tidak dapat dipindahkan. Contoh Gunung adalah tempat pemujaan bagi Sang Hyang Acalapati yang merupakan Dewa gunung. Dan Gunung pada masa prasejarah diyakini tempat suci, karena kepercayaan akan semakin tinggi semakin suci.

Pengertian Yoni adalah menyerupai vagina alat kelamin dari wanita, yang merupakan lambang kesuburan pada masa prasejarah. Pada masa perkembangan Hindu Yoni merupakan simbol dari Dewi Parvati istri dari Dewa Siwa. Yoni adalah tumpuan bagi lingga atau arca. Bersatunya Lingga dan Yoni adalah pertemuan antara laki-laki (Purusa) dan wanita (Pradhana) yang merupakan lambang kesuburan, sehingga muncul kehidupan baru (kelahiran). Oleh sebab itu pemujaan akan lingga dan yoni yang merupakan bersatunya Dewa Siwa dan Dewi Parvati adalah suatu berkah bagi masyarakat masa lampau, sehingga biasanya lingga-yoni ini diletakkan di wilayah pertanian atau pemujaan para petani kala itu.

Dalam kebudayaan Hindu, seks juga disimbolkan dengan lingga-yoni. Itulah lambang reproduksi lelaki dan perempuan (phallus dan vagina). Kamus Jawa Kuna-Indonesia mendefinisikan "lingga (skt) tanda, ciri, isyarat, sifat khas, bukti keterangan, petunjuk; lingga, lambang kemaluan lelaki (terutama lingga Siwa dibentuk tiang batu), patung dewa, titik tugu pemujaan, titik pusat, pusat poros, sumbu". Adapun "yoni (skt) rahim, tempat lahir, asal Brahmana, Daitya, dewa, garbha, padma, naga, raksasa, sarwa, sarwa batha, sudra, siwa, widyadhara, dan ayonia (PJ Zoetmulder, SC Robson, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994, 601, 1494).

Lingga, dalam mitologi Hindu, adalah alat kelamin pria (phallus), lambang Siwa sebagai dewa semesta, kebalikan dan yoni adalah alat kelamin perempuan sebagai Tara atau timbalan dan linggam merupakan lambang shakti atau prakrti yang dijabarkan dalam bentuk unsur kewanitaan " (Ensiklopedia Indonesia Ikhtisar Baru, Jakarta: Van Hove, 1990, 2.020 dan 3.993).

Maka jika tafsir seks yang disimbolkan dengan "hanya" penyatuan lingga-yoni dengan mengejar kenikmatan sesaat, bisa dipastikan tumbuh dari lingkungan yang menganggap seks itu kotor dan rendah, sudah dipastikan tak mampu menikmati seks dengan kondisi kejiwaan yang bebas, karena dikejar-kejar rasa bersalah. Kondisi jiwa bebas dan bersih adalah ketika melakukan tanpa rasa bersalah dan menyakiti orang lain. Maka menikah (vivaha) mutlak untuk pencapaian spiritualitas seks dengan pengertian lebih dalam.

Lingga adalah simbolisasi atma atau roh, sedangkan yoni adalah simbolisasi shakti, kekuatan dan kesadaran atma. Maksud wujud lingga yang melakukan penetrasi ke liang yoni adalah kembalinya kesa-daran, kembalinya kekuatan atma yang selama ini terselimuti dan tidur nyenyak oleh pengaruh maya, pengaruh prakrti, pengaruh alam materi. Atma yang kehilangan shakti, kehilangan kesadaran, menjadi awidya, alias bodoh! Ia mengelirukan diri sebagai suksma sarira (badan halus). Bahkan ada atma yang mengelirukan diri sebagai sthula sarira (badan kasar). Menyangka diri sekadar produk mekanik, seperti robot. Rusak sthula sarira, tamat sudah diri. Begitu asumsi atma yang dilanda kebodohan.

Dalam terminologi Hindu Lingga Yoni disebut pembangkitan kundalini, proses kenaikan shakti dari satu cakra ke cakra di atasnya, dari satu kesadaran ke kesadaran di atasnya, harus melalui jaringan fisiologis fisik manusia yang melingkar-lingkar, mirip tubuh ular. Maka shakti atau kesadaran atma disebut juga kundalini, yang dilambangkan sebagai yoni atau vagina. Karena lembut penuh kasih, begitu kundalini bangkit, segala kekotoran yang menyumbat kesadaran terkikis habis, tanpa sisa.

Dialah sumber energi sejati, dia bagai ibu, dia bagai wanita cemerlang. Wanita yang merindukan pertemuan dengan kekasih sejati, yaitu atma atau roh kita. Karena itu, atma dilambangkan sebagai lingga atau penis atau lelaki yang dirindui yoni atau kundalini. Dan, bila kundalini berhasil naik melalui cakra per cakra dan di puncak bertemu atma, pertemuan itu disimbolisasikan dalam wujud liang yoni yang dimasuki lingga. Lingga dan yoni. Bila atma dan shakti-nya bertemu, sensasinya benar-benar nikmat. Mirip sensasi persetubuhan. Namun jauh lebih nikmat dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Di sanalah terbuka ranah spiritualitas seks sesungguhnya.




Imajiner Nuswantoro 



Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)