PAWELING
ꦥꦮꦺꦭꦶꦁ
Paweling adalah sarana untuk menghubungkan Hidup didalam diri anda dengan Yang Maha Hidup.
Kata-kata "Paweling" sebagai berikut :
Siji-siji, loro-loro, telu-telonono;
Siji sekti, loro dadi, telu pandito;
Siji Wahyu, loro gratrahino, telu rejeki.
MANUSIA
Manusia, seperti kita ketahui, terdiri dari Badan (Raga) dan Hidup (Nyawa, Rokh, Soul).
Raga manusia, dibentuk dari unsur unsur :
1.Tanah
2. Air
3. Hawa
4. Api
Unsur unsur itu, melalui proses bio-kimia, pada Bapak menjadi sperma (sel mani), dan pada Ibu menjadi sel telur. Pertemuan sel mani dan sel telur, membentuk Raga.Kalau penyatuan sel mani dan sel telur itu dimasuki Hidup, barulah akan berkembang menjadi mudigah (embriyo), menjadi bayi, yang akhirnya dilahirkan di dunia.
Manusia itu, Raganya terdiri dari 7 (tujuh) lapis, yaitu :
1. Rambut
2. Kulit
3. Daging (bahasa ilmiahnya otot)
4. Otot (bahasa ilmiahnya saraf)
5.Tulang
6. Sungsum
7. Darah (semua cairan tubuh)
7 lapis ini, yang dalam Ketuhanan sering disebut dengan berbagai sebutan kiasan.
Hidup, berasal dari Tuhan Yang Maha Esa disebut Rokh Suci, karena berasal dari Maha Suci. Setelah menyatu dengan Raga, disebut Hidup (Urip), karena sudah tidak suci lagi.
Raga, bagaimanapun, sejak pembuahan, sudah tidak suci. Karena kedua orang tua, betapapun kesadarannya akan fungsi meneruskan keturunan, tidak akan berbuat, kalau tidak disertai nafsu. Ini yang menyebabkan Raga, sejak asalnya sudah tidak suci. Ketidak sucian Raga, ikut mengotori Rokh Suci.
Maka, bayi yang baru lahirpun sudah tidak suci.
Bayi yang baru lahir, tahu, kalau lapar menangis, agar diberi makan (susu) oleh ibunya atau orang lain.
Siapa yang mengajari bayi itu ?
Bayi itu diajari oleh Guru Sejatinya, yaitu Hidup.
Tak ada seorang ibupun, yang mengatakan pada bayinya, agar kalau lapar, menangis.
Tangis bayi, adalah Bahasa-Hidup. Maka, tidak bisa kita bedakan, tangis bayi Jawa, Sunda, Batak, Amerika, Inggeris, semua sama. Begitu juga Gerak bayi, adalah gerak-hidup, maka semua bayi sama geraknya.
Mulailah otak bayi mendapat masukan. Pintu masukkan, melalui Panca Inderanya. Tergantung masukan yang didapat, maka akan seperti apa nantinya bayi itu jadinya manusia, kanak kanak, sampai dewasa. Masukan bisa dengan sengaja dimasukkan, berupa pendidikan dan pengajaran, bisa juga tanpa disengaja, yaitu apa saja yang ditangkap Panca Inderanya dari lingkungannya.
Masukan itu, termasuk masukan tentang standar norma dan nilai nilai baik-buruk, benar-salah, boleh-dilarang, dan sebagainya. Termasuk norma dan nilai nilai moral dan etika. Bahkan juga soal keyakinan Ketuhanan.
Semua masukan itu, terekam dalam memori/otak manusia itu, yang kemudian jadi dasar manusianya dalam bertindak, dalam mengukur segala sesuatu yang dilakukannya, yang dialaminya, bahkan sebagai standar untuk mengukur perbuatan orang lain.
Karena masukannya berbeda, maka manusia berbeda pula dalam mengukur baik buruk, benar salah dan sebagainya. Hal ini yang selalu menjadikan manusia saling berebut baik, berebut benar. Baik dan benarnya masing masing saling dipegang teguh dan bahkan menyalahkan standar yang dipakai orang lain.
Kalau kita kembali ke bayi, kita akan menyadari, bahwa tangis bayi itu sama, gerak bayi itu sama, karena tangis itu suara Hidup, gerak itu gerak hidup. Jadi sebenarnya manusia itu sama. Berbeda hanya karena masukan yang diterima berbeda.
Hidup itu sama, karena berasal dari Yang Satu, yaitu Tuhan. Yang berbeda raganya, karena berasal dari tanah, air, hawa yang berbeda pula, serta dari Bapak dan Ibu yang berbeda pula.
Jadi, kalau Manusia mau memakai ukuran atau standarnya Hidup, pasti akan sama dalam menilai segala hal.
Raga bersifat materiil, jadi tidak kekal. Satu saat harus hancur dan kembali menjadi tanah, air, hawa dan api.
Hidup, adalah immateriil, bersifat kekal, berasal dari Yang Maha Kekal. Asalnya dari Tuhan, jadi seyogyanya kalau berpisah dengan raganya, langsung kembali ke Tuhan. Tidak mengembara (“nglambrang”) jutaan tahun. Dalam pengertian di sini, otak dengan pekerjaannya (psyche, jiwa) juga tergolong Raga, karena itu masih merupakan kerjanya organ tubuh yang bersifat materiil. Jadi akal pikiran (logika dan ratio), termasuk emosi juga ter-golong raga.
Hidup, kuasanya Gerak, letaknya di Rasa. Maka, kalau makhluk-hidup ditinggalkan Hidupnya berhenti segala geraknya, dan kehilangan Rasa-nya (pada tumbuh-tumbuhan gerak akar dan gerak tumbuhnya yang berhenti). “Urip iku kuwasane obah, lenggahe ono ing Roso Jati”.
Manusia, kemudian juga menerima masukan berupa pendidikan dan pengalaman.
Masukan ini yang mendorong manusia berencana, bercita-cita, dan berusaha meraih apa yang diinginkannya. Keinginan manusia selalu sesuai dengan masukan yang pernah dia terima.
KUNCI PAWELING
Gusti Ingkang Moho Suci, kulo nyuwun pangapuro dumateng
Gusti Ingkang Moho Suci,
Sirolah, Dhatolah, Sipatolah
Kulo sejatine satriyo / wanito
Nyuwun wicaksono
Nyuwun panguwoso
Kangge tumindake satriyo/ wanito sejati
Kulo nyuwun kangge anyirnakake tumindak ingkang luput
PAWELING
Siji-siji, loro-loro, telu-telonono
Siji-sakti, loro dadi, telu pandito
Siji wahyu, loro grat rahino, telu rejeki
SINGKIR
Gusti Ingkang Moho Suci, kulo nyuwun pangapuro dumateng
Gusti Ingkang Mojo Suci
Sirolah, Dhatolah, Sipatolah
Kulo sejatine satriyo / wanito
Hananiro, Hananingsun, wujudiro wujudingsun
Siro (………..) sirno mati dening satriyo / wanito sejati
Ketiban iduku putih sirno layu dening (ASMO SEJATI)
ASMO
Konthowarno/ konthorupo/kanthiwarni/kanthirupi
(Asmo, hanya dapat diberikan oleh kadang yang memang sudah diijinkan/“Kepareng” memberikan ASMO)
MIJIL
(ASMO) Jeneng siro mijilo, panjenengan Ingsun Kagungan Karso
Raganiro arso………….(diisi dengan tindakan yang akan dilakukan,
Apa saja asal baik dan benar / waton becik lan bener)
MANUNGGAL
NUWUN KANJENG RAMA SEJATI, GUSTI PRABU HERUCAKRA,
KULA RAGA (…………….) SAKING (…………….)
MARAK SOWAN BADHE NDEREK MANUNGGAL, NYUWUN ASMO
SEJATI (………………..) NYUWUN SABDA, DIPUN MIJILAKEN
KANGGE TUMINDAKING ROGO, BADHE NGATURAKEN SUNGKEM
Moco kunci : 7X
PAWELING (PAWELINGAN)
Paweling (atau Pawelingan) adalah istilah dalam budaya Jawa yang merujuk pada tradisi doa khusus, sering kali diucapkan oleh tokoh agama atau orang tua, untuk membantu arwah orang yang telah meninggal agar lebih cepat mencapai surga dan membebaskan mereka dari penderitaan duniawi, mencerminkan keyakinan spiritual dan ajaran Katolik tentang perantaraan doa untuk arwah. Selain itu, "Paweling" juga dapat merujuk pada lagu Campursari Jawa populer dengan judul tersebut.
Makna dan Konteks Paweling (Doa Arwah) :
- Tujuan Utama : Menolong jiwa-jiwa di api penyucian (purgatorium) agar segera naik ke surga melalui doa, puasa, dan amal saleh.
- Pelaksana : Biasanya dilakukan oleh rohaniwan (imam/pastor), biksu Benediktin, atau orang tua yang dianggap bijaksana.
- Waktu : Sering dilakukan pada Hari Arwah (All Souls' Day, 2 November), tetapi juga bisa sewaktu-waktu saat ada kematian.
- Dasar Kepercayaan : Adanya ikatan spiritual antara yang hidup dan yang meninggal, serta kekuatan doa untuk membantu orang lain.
Paweling sebagai Lagu :
Sebuah lagu Jawa yang populer, sering kali dalam genre Campursari atau Dangdut Jawa, yang dibawakan oleh musisi seperti Dedy Pitak.
Jadi, "Paweling" bisa berarti ritual doa untuk arwah atau sebuah lagu Jawa, tergantung konteksnya.
PAWELING MARANG PUTRAKU
Ngger, cah bagus......
Gucengana lan pedomanana paweling iki
Titahing jalma manungsa ing marcapada
Tan ono jalmo linuwih
Kajobo mung linuwihe Gusti ...
Tan ono jalmo luput
Kajobo mung kaluputane dewe
Eling mring paweling
Aja rumangsa bisa
Ning bisa'a rumangsa
Ngulat sariro hangroso wani
iku luwih pinuji.....
PAWELING KANGGO PUTRAKU
Putraku .....
Sun kudang bisa'a nggayuh lintang
Aja tumoleh yen durung biso ngranggeh
Tebahna dadha ... jembarna paseduluran
Aja keladuk sesongaran
Mundak karoban mungsuh.....
Elinga,.....?!
Sepira dohe urip lan mati kuwi ?
Mung sak nyari
Sakwise kuwi kabeh padha ketriwal
Bandha donya ... Lunga
Drajat pangkat ... Minggat
Kadang kinasih ... sedulur sinarawedi
Memule pamrih ... ngoncati
Kari roh sing arep nyawiji marang gusti
Mula piwelingku,........
Aja gampang kebidhung ngoyak ibere sulung,
Lamun kebacut mlebu geni, mundhak keduwung !!!
PAWELING LELUHUR TANAH JOWO
Peweling Leluhur Nuswantoro Paweling Leluhur Tahan Jawa.
Angidungo piweling kaki,
Sabdopalon pamong nuswantoro,
Ameco sengsarane,
Rakyate nuswantoro gung,
Nampi sasmitaning hyang widdhi,
Kalambangan wong anyabrang,
Prapteng tengah tempuh,
Songko bantere kang beno,
Yoiku ‘ gapuro-sapto-ngesti-aji’
Keh jalmo kang praloyo.
Nandang rekoso wong tanah jawi
Kadyo kersaning sang murbeng alam
Meruhno pro kawulane
Lamunto jagad puniku
Pangeran kang mengku adil
Nuju becik lan olo
Kang nandur kang ngunduh
Nanduro wohing priyonggo
Den alami kinaryo amertandani.
Sarananing peparing warni-warni
Sangkan paran wujuding beboyo
Angrusak tonggo jawine
Wong aglidig datan cukup
Nyambut karyo datan nyekapi
Priyayi akeh kaliren
Sodagar do ambruk
Tatanan akeh kang sirno
Rinusak ing homo katerak ing paceklik
Abot uriping jalmo.
Raharjaning bumi ilang yekti
Mubale hardo sakkelangkung ndodro
Tuhu agung karusakane
Keh padung wanci dalu
Datan tentrem uripe jalmi
Ing rahina akeh begal
Podo rebut ducung
Mbalelo tindak durjono
Nagri kawedan anggenira ngadili
Jalaran tan cilik pidono.
Kalampahan dangune tigang warsi
Jalmo taksih jroning huru-horo
Rebutan sandang pangane
Lali sanak sedulur
Margo tanpa ono sihing ati
Lali angering projo
Amung mburu nafsu
Gyo katunggko praptaniro
Pageblug kang anyar ing tanah jawi
Keh jalma kang praloyo.
Dadyo rusak pro umat sami
Kesandung bae temah praloyo
Tigang wujud dadine
Udan barat angagung
Kayu gung samyo rebah sami
Mlasah sami rebah
Kali beno nggegirisi satuhu
Kadya benaning samudra
Kang katerak datan saged nanggulangi
Larut kableber sirna.
Tanda ingkang sanget anggegirisi
Alun samyo minggah ing daratan
Angrusak tepis wiring
Karyo getering kalbu
Kang dumunung ing kanan kering
Kayu-kayu keh kang kendang
Podo sirno larut
Selo ageng samyo brosto
Gumalundung mblasah katut iline kali
Gumludug swaraniro.
Sakhatahing redi mbledos sami
Nggegirisi urubing dahono
Gumleger sru swarane
Muntah lahar lan watu
Mlabar ngelepi kanan kering
Nrajang wono lan deso
Manungso keh lampus
Kebo sapi gusis samyo
Rojo kayadatan ono sawiji
Tan wonten monggo puliho.
Wasono sebel horoging bumi
Ono lindhu ping pitu sedino
Karyo ngrusak jalmane
Anelo sitinipun
Brekasakan sami kaeksi
Nyeret sagunging jalmo
Ginaruk waluku
Nlisip selo-seloniro
Yoiku jalmo kang weruh sahadat jati
Wisiking hyang suksmo.
Lamun mangke tetenger wus kaeksi
Ingkang prapti ing tanah jowo
Manjat ing tengah rakyate
Kinanthi anak putu
Wujud brekasakan lan demit
Sun sebar kawruh nyoto
Agomo satuhu
Meruhno ing makripat
Gami budhi nenggih kawruh kang sejati
Kinaryan wisik hyang suksmo.
Papesthene nuso tekan janji
Yen wus jangkep pitung atus warso
Kapetung jaman Islame
Musno bali maringsun
Gami budhi madeg sawiji
Sopo kang ngemohno
Yekti nompo bendu
Sun pakakno putuning wong
Nedyo pratondho wastane linun demit
Gegilo meyang leloro.
Dateng weweko tendon demit
Ojo siro samyo angedirno
Anedyo lawan demite
Yekti sira diguyu
Para demit ya putu mami
Ojo anantang yudho
Ngedirno ngelmu
Myang srono marupi-rupi
Kabeh moro tan pasrah ing awak demit
Balik nyabet mring siro.
Jangkane nuso wus akeh wangsit
Wineco ing jalmo kang waskitho
Ing primbon joyoboyone
Janmo tan panggah-pungguh
Wineco sirnaning sepalih
Dene ingkang waluyo
Perlu samyo weruh
Takokno guru kang sejati
Kang wus putus kawruhyo
Wikan manjing alus
Biso ngajal jroning gesang
Wuninga marang sangkan paraning dumadi
Perlu siro upoyo.
Nyatakno yen siro wis wiwit
Kabeh wasitane gurunira
Meruhno makripate
Manungso urip iku
Suket aneng wono petani
Yen wus tekane mongso
Ginaruk waluku
Ingkang mleset seloniro
Iku jalmo kang weruh sahadat jati
Wisiking hyang suksmo.
Menawi siro anyulayani
Marang geguritaniro gesang
Lamun abot pinangkane
Urip iku satuhu
Nggowo sarengate hyang widhi
Kurdo nyidro mring karso
Karsaning hyang Agung
Marang geguritane gesang
Gesang mbabar sangkan paraning dumadi
Waskiyo madyo padho.
Gegelare sahadat sejati
Kerso lamun iku tinggal
Tunggal kabeh myang uripe
Kabeh urip myang lampus
Pratondo yen Agung Hyang Widhi
Kuwoso nganakne jagad
Meyang kuwoso ngukut
Paraniro kabeh sipat
Marang sangkan paraning dumadi
Yekti sumber purnoniro.
Mbabar gesang wujuding dumadi
Gelar wawaraning Kawruh
Waroto poro umate
Tumeko janjinipun
Poro umat ngungkurno kawruh
Tan taksih ngrasuk agomo
Tan weruh kang satuhu
Amung anggondeli sarengat
Agami tan wuningo ing ati
Ngrusakke sang kawulo.
Thathit kliweran ing nuso jawi
Pratondo mring wong nuduhno
Sampurnakno agamane
Yeku kawruh nyoto
Ngelmu nyoto kang sampurno
Duk jaman browijoyo
Ingsun datan purun
Angrasuk agomo islam
Margo ingsun uningo agomo niki
Nlisik saking kang nyoto.
Ngelingono he poro umat sami
Yen siro tan ngetut kersaning wong
Yekti abot panandange
Ingsun pikukuhipun
Nuswantoro ing saindenging
Bawono kang sisih wetan
Asia puniku
Kasigegan swasono
Sabdo kasabdakno mring bawono wadag iki
Lumantar sri Buwono.
Semut ireng ngendog jroning geni
Ono merak memitran lan boyo
Keyong sak kenong matane
Tikuse podo ngidung
Kucing gering kang nunggoni
Kodok newu segoro
Oleh bantheng sewu
Precil-precil kang anjogo
Semut ngangrang angrangsang gunung merapi
Wit ranti woh delimo.
Imajiner Nuswantoro


