Jangjawokan Mantra Sunda

0

Jangjawokan Mantra Sunda



Éling éling mangka éling

Éling ka diri sorangan

Éling ka nu lian

Urang jeung alam taya antarana

Mun aya antarana urang rék cicing di mana?

Hirup ti Pamedalan nepi ka Pangbalikan

neda ampun nya paralun neda jembar pangampura

hampura sapapanjangna, hampura sapapanjangna...

Artinya :

Sadarlah sesadar-sadarnya...

Sadar akan keberadaan diri sendiri

Sadar akan keberadaan diri yang lain

Kita dan alam ini tidak terpisah

Sebab bila terpisah kita tinggal di mana?

Sejak kelahiran hingga akhir hayat

Kami mohon pengampunan (kepada seluruh yang hidup)

Pengampunan sebesar dan selamanya...


Syair itu lantunan rasa syukur karena mendapatkan hidup dari kehidupan lainnya. Untuk meminta dianugerahi pengampunan atas segala ketergantungan kami terhadap lingkungan, yang karena ketergantungan tersebut, kami sering membebani kehidupan lain.



Jangjawokan (mantra Sunda)

Jangjawokan sunda

Seureuh seuri

Pinang nanggeng

Apuna galugaet angen

Gambirna pamuket angen

Bakona galuge sari

Coh nyay, parupat nyay, loeko lenyay

Cucunduking aing taruk harendong

Cucunduking aing taruk paku hurang

Keuna asihan awaking

Asihan si leuget teureup

Maksudnya :

Kalimat diatas merupakan jangjawokan yang biasa digunakan urang sunda buhun ketika hendak nyepah (nyeupah), digerenteskeun atau di ucapkan dalam hati. Jangjawokan digunakan pada setiap kali kegiatan, bahkan menjadi tertib hidup. Misalnya untuk bergaul, bekerja sehari-hari, dan berdoa. Laku demikian dimungkinkan karena faktor masyarakat Sunda yang agraris selalu menjaga harmonisasi dengan alam. Konon pula seluruh nu kumelendang dialam dunya dianggap memiliki jiwa.

Tertib dan krama hidup misalnya berhubungan dengan padi (beras). Ada jangjawokan yang digunakan sejak menanam bibit, ngaseuk, tandur, panen, nyiuk beas, nyangu, mawa beas ticai, ngisikan, seperti salah satu contoh dibawah ini :


Jampe Nyimpen Beas

Mangga Nyi Pohaci

Nyimas Alame Nyimas Mulane

Geura ngalih ka gedong manik ratna inten

Abdi ngiringan


Ashadu sahadat panata, panetep gama

Iku kang jumeneng lohelapi

Kang ana teleking ati

Kang ana lojering Allah

Kang ana madep maring Allah

Iku wuju salamaet ing dunya

Salamet ing akherat


Asahadu anla ila haileloh

Wa ashadu anna Muhammaddarrasolullah

Abdi seja babakti kanu sakti, agung tapa

Nyanggakeun sangu putih sapulukan

Kukus kuning purba herang

Tuduh kang seseda tuhu

Datang ka sang seda herang

Tepi ka kang seda sakti

Nu sakti neda kasakten

Neda deugdeugan tanjeuran


Contoh lainnya,

Jampe Ngisikan (mencuci beras) :

Mangga Nyimas Alene Nyimas Maulene

Geura siram dibanyu mu'min

Di Talaga Kalkaosar

Abdi ngiringan

Nyi Pohaci Budugul Wulung

Ulang jail babawaan kaula

Heug


Nyi Pohaci Barengan Jati

Ulah jail kaniaya

Ka Nyi Pohaci Sukma Jati

heug


Inilah contoh tertib hidup masyarakat agraris yang menciptakan harmonisasi adapt dengan alam.

Para Sastrawan Sunda pada umumnya, seperti Wahyu Wibisana, Rus Rusyana, Ajip Rosidi menggolongkan Jangjawokan sebagai bentuk puisi sunda. Yus Rusyana menuangkannya dalam buku Bagbagan Puisi Mantra Sunda (1970), sedangkan Ajip Rosidi dalam Jangjawokan (1970). Saya piker, lepas dari benar atau salah tentang pemahaman masing-masing terhadap jangjawokan, namun dengan cara katagorisasi menjadi cabang dari puisi, paling tidak dapat terkabarkan kegenarasi berikutnya, bahwa di tatar ini pernah ada bagian dari budaya Sunda yang disebut Jangjawokan.


Menurut Wahyu Wibisana

Jangjawokan sejalan dengan maksud puisi magis yang dikemukakan Yus Rusyana dan pendapat Rachmat Subagya pada Agama Asli Indonesia. Dengan mantra orang berangsur-angsur memulangkan kuasa-kuasa imajiner yang dianggap melanggar atas wewenangnya yang imajiner kepada tempat asal wajar mereka yang imajiner juga.


Pengertian imajiner berpusat pada pemikiran yang berhubungan dengan makhluk gaib yang dianggap mempunyai kekuasaan dan kewenangan dan berada di tempat tertentu. Dengan demikian, hal ini ada pada tataran keyakinan dan kepercayaan bahwa dengan cara tertentu, kekuasaan dan kewenangan makhluk gaib itu dapat dimanfaatkan manusia untuk tujuan-tujuan yang dikehendakinya. Cara itulah dengan menggunakan mantra serta segala ketentuannya.


Mengapa Istilah Jangjawokan ?

Wahyu Wibisana dalam Sastra Lagu : Mencari Hubungan Larik dan Lirik menjelaskan "Dua buah bentuk puisi sunda yang dapat dikatakan bersifat arkais ialah ajimantra dan bentuk puisi pada cerita pantun. Istilah ajimantra diambil dari naskah kuno Siksa Kandang Karesyan. Sedangkan puisi pada pantuan ada tahun 1518, sama artinya dengan istilah mantra sekarang. Sedangkan puisi pada cerita pantun ada dua yakni rajah dan nataan"

Jangjawokan suatu arti kata lain dari ajimantra. Istilah ajimantra digunakan dalam Naskah Siksa Kanda Ng Karesyan, ditulis pada tahun 1518 M. Tapi istilah Jangjawokan tidak diketahui sejak kapan. Namun Urang Sunda Tradisional lebih banyak menggunakan istilah Jangjawokan atau ajian ketimbang ajimantra. Mungkin kedua sebutan yang memiliki kesaman makna ini menandakan adanya adaptasi pemahaman, menganggap Jangjawokan (Sunda Buhun) eufimisme dari ajimantra (Sanksekerta).

Ajip Rosidi dalam buku Jangjawokan lebih menekankan pada istilah ini ketimbang menggunakan kalimat ajimantra, dengan alasan : Istilah ajimantra berasal dari India dan dalam bahasa Sunda tidak pernah digunakan. Dilihat dari segi isinya, Jangjawokan itu berupa permintaan atau perintah agar keinginan sipengguna jangjawokan dilaksanakan oleh nu gaib "makhluk gaib"

Tapi tanpa mengoreksi paradigma diatas, timbul pertanyaan, apakah benar Jangjawokan itu ajimantra yang dimintakan kepada Makhluk Gaib ?


Adaptasi bahasa atau keyakinan ?

Sebenarnya untuk mentraslate makna tujuan permohonan dari pelaku jangjawokan perlu juga ditelusuri melalui pemahaman tentang Hyang Tunggal ; Hyang Keresa atau Ketuhanan Yang Maha Esa serta sdejarah diri dalam Paradigma Sunda. Karena pemahaman istilah nu gaib tidak selamanya berkonotasi pada makhluk gaib, seperti jin atau makhluk halus, akan tetapi ada juga semacam cara membangkitkan spiritulitas dalam dirinya, seperti paradigma tentang raga ; bathin dan kuring.


Negasi terhadap paradigma diatas dapat dicontohkan, sebagai berikut :

Ka Indung nu ngandung

Ka Rama nu ngayuga

Ka Indung nu teu ngandung

Ka Rama nu ngayuga

Kadulur opat kalima pancer

Pangnepikeun ieu hate

Ka Indungna anu nagnadung

Ka Ramana anu ngayuga

Ka Indungna nu teu ngandung

Ka Ramana nu ngayuga

Kadulur opat kalima pancer

Kalawan kanu ngurus jeung ngaluis si ...... (anu) ......

Dst.......


Saya tidak melihat adanya eksistensi nu gaib dari luar dirinya. Dalam kasus lain, bisa jadi ditujukan untuk memperkuat bathinnya, atau semacam ada perintah ingsun kepada bathinnya untuk berkomunikasi dengan ingsun orang lain.

Jika saja yang dimaksud dalam kandungan jangjawokan sama dengan yang dimaksud dalam Pantun Sunda, mengingat keduanya juga dikatarogikan sebagai puisi arkais, hemat saya dapat pula diperbandingkan dengan referensi dari Buku Jakob Sumardjo tentang "Khasanah Pantun Sunda", terutama tentang "arkeologi pemkiran" Urang Sunda Buhun terhadap "rias Politik Sunda". Tanpa pemahaman yang jelas niscaya "Urang Sunda" akan kehilangan sejarah pemikirannya yang hakiki.

Signal dari paradigma dan muara pernmohonan bisa pula dikaitkan dengan strata pengabdian dalam hirarki pemerintahannya. Misalnya Wado tunduk kepada Mantri ; Mantri tunduk kepada nangganan ; nangganan tunduk kepada mangkubumi ; mangkubumi, tunduk kepada ratu ; ratu tunduk kepada dewata ; dewata tunduk kepada Hyang. Dengan demikian Hyang lah yang tertinggi.

Menurut Edi S Ekajati, dalam Kebudayaan Sunda - Agama dan kepercayaan "Kekuasaan tertinggi berada pada Sahyang Keresa (Yang Mahakuasa) atau Nu Ngersakeun (Yang Menghendaki). Dia disebut Batara Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa), Batara Jagat (Penguasda Alam), dan Batara Seda Niskala (Yang Gaib). Jadi dalam pemahaman saya, yang membedakan masalah Keesaan Tuhan dalam Paradigma Urang Sunda Wiwitan dengan yang berikutnya terletak pada Syariatnya. Hal ini wajar, mengingat masing-masing ageman memiliki sejarah dan perkembangannya sendiri."

Dalam tradisi Jangjawokan selanjutnya ditemukan ada sebutan Allah kepada yang dimohonkan. Urang sunda biasanya membaca dengan Alloh. Konsonan "O" nya mani lekoh - khas. Bahkan ada jangjawokan dari Urang Baduy yang menggunakan istilah yang digunakan para pemeluk agama islam, seperti dalam Sawer Panganten, seperti dibawah ini :


Bismillahirohmanirohim.

Panggpunten kasadaya,

Kau nu tua ka nu anom,

Sumawon kanu sepuh mah,

Kaula bade nyembahkeun,

Nyi panganten sareng ki panganten.

Atau dalam Sadat Islam :

Sadat Islam aya dua,

Ngislamkeun badan kalawan nyawa,

Dat hirup tangkal iman,

Ngimankeun badan sakujur,

Hudang subuh banyu wulu,

Parentah Kangjeng Gusti,

Nabi Adam pangyampurnakeun badan awaking,

Sir suci,

Sir adam,

Sir Muhammad,

Muhammad Jaka lalana,

Nu aya di saluhuring alam.


Istilah dalam jangjawokan yang banyak disebut-sebut urang sunda Buhun, seperti Allah - Adam dan Muhammad tentunya tidak bisa dilepaskan dari paradigma tentang Dzat - Sifat - dan Manusia itu sendiri. Mungkin juga menandakan adanya unsur kesatuan yang hakiki antara raga, bathin dan kuring-na manusa. Memang menjadi sulit bagi saya membedakan jika masih ada istilah : Jangjawokan itu suatu permohonan (hanya) kepada Makhluk Gaib, bukan kepada Yang Maha Gaib. Tapi syah-syah saja jika digunakan dalam rangka katagorisasi puisi arkais.


Contoh lainnya do'a untuk belajar, atau agar dicerahkan pikiran. Contoh ini saya dapatkan dari Almarhum Bapak Nunung Setiya, demikian :

Allahuma hujud bungbang

Nu hurung dina jajantung

Nu ruhay dina kalilipa

Remet meteng dina angen

Bray padang.. Alllah.

Pangmukakeun kareremet nu aya didiri kula

Bray padang,

Brya caang,

Caangna salalawasna

Lawasna Saumur kula.


Setelah Bapak Nunung meninggal kemudian saya coba telusuri dari mana asal jangjawokan itu, dan bagaimana pula bahasa aslinya. Pada akhirnya saya menemukan dari salah satu sumber, konon dahulunya berisi, demikian :


Hujud bungbang

Nu hurung dina jajantung

Nu ruhay dina kalilipa

Remet meteng dina angen

Bray padang,

Pangmukakeun kareremet nu aya didiri kula

Bray padang,

Brya caang,

Caangna salalawasna

Lawasna Saumur kula.


Jika saja yang kedua diatas diyakini bersumber dari jangjawokan yang pertama dan tidak ditemukan kalimat Tauhid, namun dalam bentuk dibawah pun tidak ditemukan adanya unsur yang memintakan kepada makhluk gaib dalam arti diluar (kekuatan) dirinya. Kecuali jika indung mu ngandung dan nu teu ngandung ; bapak nu nungayuga kalawan nu teu ngayuga ; dulur opat kalima pancer dianggap makhluk gaib ?

Saya justru menafsirkan, dengan dicantumkannya kalimat Tauhid didalam jangjawokan tersebut, justru dikembangkan oleh urang sunda berikutnya, bertujuan memintakan legitimasi dan ijin dari yang Maha Gaib. Setidak-tidaknya bertujuan untuk mengurangi tudingan menduakan Tuhan. Tapi ada benarnya jika urang tua dulu berujar "antara Gusti jeung makhlukna euweuh watesna, leuwih deukeut jeung naon wae, malah masih jauh antara hate jeung urat beuheung".


Ciri-ciri Janjawokan

Jangjawokan didalam koridor satra puisi arkais didefinisikan, sebagai : permintaan atau perintah agar keinginan (orang yang menggunakan jangjawokan) dilaksanakan oleh nu gaib "makhluk gaib" sebatas ini mudah dipahami, yakni para pengguna jangjawokan menggunakan makhluk gaib untuk mencapai keinginannya. Namun tidak dapat dipungkiri jika ditemukan pula jangjawokan yang menggunakan bacaan sebagaimana lajimnya digunakan oleh urang sunda yang beragama islam (lihat Sadat Buhun), dikatagorikan do'a, bukan jangjawokan. Namun apakah tidak ada jangjawokan bukan do'a ?.

Pemilahan jangjawokan dengan do'a dimungkinkan terjadi jika jangjawokan dikatagorikan sebagai bagian dari puisi sunda (arkais), serta dibahas dalam kacamata sastra. Indikator jangjawokan ditentukan berdasarkan kacamata sastra. Namun boleh saja jika jangjawokan dilihat dari kacamata lainnya. Karena ketika seseorang mengucapkan jangjawokan tentu tujuannya bukan untuk membaca puisi.

Jangjawokan diyakini memiliki kekuatan magis. Kemungkinan kekuatan dari kandungan magis yang dirasakan nyaman menyebabkan jangjawokan ditularkan secara turun temurun. Jangjawokan tidak mungkin bisa bertahan dan terkabarkan hingga sekarang jika tidak dirasakan manfaatnya dan diyakini kekuatannya. Yang jelas ada harmoni manusia dengan alamnya ketika jangjawokan itu dibacakan.

Peran jangjawokan bisa diasumsikan keberadaanya sebelum kemudian diserahkan kepada para penyembuh modern, seperti dokter ; psikolog ; atau profesi apapun yang terkait dengan masalah penyembuhan fisik dan psikis. Jangjawokan digunakan pula dalam keseharian, sebagai bagian dari tertib hidup, seperti pada kegiatan sebelum buang air dan kegiatan lainnya.

Jangjawokan dalam jenis ini bisa ditemukan dalam Jampe Kahampangan (Jampi hendak buang air kecil) ; Jampe Kabeuratan (hendak buang air besar) ; Jampe Neda (Jampi sebelum makan) ; Jampe Masamon (Jampi bertamu) dll. Konon kabar, kekuatan dari magisnya terletak pada kebersihan hati si pelafalnya dan kesungguhan bagi para penggunannya. Namun saya tidak bisa terlalu jauh masuk untuk mengetahui pengaruhnya, biarlah ini merupakan bagian dari bidang l.ainnya.

Wahyu Wibisana, mengkatagorikan: 'ajimantra (baca : Jangjawokan) merupakan sastra arkais yang pernah muncul kemudian setelah sastra sunda kuno. Dikatakan 'pernah digunakan' dan 'pernah muncul' karena memang saat ini kebanyakan orang sunda sudah tidak menggunakan dan sekaligus tidak mempercayai ajimantra. Hanya saja, sebagai karya sastra (yang umumnya berbentuk lisan) tetap merupakan genre tersendiri dalam sastra Sunda seperti juga pada sastra daerah lainnya di Nusantara.

Dari pernyataan diatas, saya yakin Kang Wahyu masih menganggap bahwa masih ada masyarakat Sunda yang menggunakan jangjawokan. Kitapun lantas tidak bisa menafsirkan masyarakat pengguna jangjawokan sebagai masyarakat ketinggalan jaman, karena realitasnya masih nyaman untuk digunakan. Dengan dimasukannya ajimantra sebagai bagian dari puisi maka masih bisa ditelusuri dan terkabarkan beritanya kepada generasi berikutnya. Setidak-tidaknya katagorisasi ini dapat menyelamatkan jangjawokan sebagai asset budaya bangsa, sekalipun hanya dinikmati sebagai karya seni, tidak pada unsur magisnya.


Ciri-ciri Jangjawokan.

Jangjawokan menurut Wahyu Wibisana memiliki ciri-ciri, yakni :

  • menyebutkan nama kuasa imajiner, seperti : Pohaci Sanghiyang Asri, Batara, Batari dll.
  • dalam kalimat atau frase yang menyatakan si pengucap janjawokan berada pada posisi yang lebih kuat, otomatis berhadapan dengan pihak yang lemah.
  • berhubungan dengan konsvensi puisi, merupakan kelanjutan dari gaya Sastra Sunda Buhun dan cerita Pantun, yakni adanya desakan atau perintah, disamping himbauan, tegasnya bersifat imperative dan persuasif.
  • masih berhubungan dengan konvensi puisi, adanya rima-rima dalam jangjawokan. Rima-rima dimaksud memiliki fungsi estetis ; membangun irama ; fungsi magis ; fungsi membuat ingatan orang yang mengucapkan.
  • adanya lintas kode bahasa pada ajimantra yang hidup di Priangan dan Baduy. Bahasa jangjawokan tersebut diserap seutuhnya atau disesuaikan dengan lidah pengucapnya.
  • terkesan sebagai sastra arkais yang pernah muncul kemudian setelah sastra sunda.

Ciri-ciri diatas tentunya dilihat dari katagori Jangjawokan sebagai bagian dari puisi arkais sunda. Jadi wajar jika ada tekanan tujuan dari materi jangjawokan ; gaya sastra dan gaya bahasa ; rima-rima ; dan kelahirannya paska sastra sunda.


Penyebutan Kuasa Imajiner

Pengertian imajiner berpusat pada pemikiran yang berhubungan dengan makhluk gaib yang dianggap mempunyai kekuasaan dan kewenangan dan berada di tempat tertentu. Pada tataran keyakinan dan kepercayaan bahwa dengan cara tertentu, kekuasaan dan kewenangan makhluk gaib itu dapat dimanfaatkan manusia untuk tujuan-tujuan yang dikehendakinya, sebagaimana dalam Jangjawokan.

Nama-nama kuasa imajiner yang dimaksudkan tentunya sangat terkait dengan istilah-istilah yang digunakan urang Sunda Buhun. Seperti Pohaci Sanghyang Asri ; Batara dan Batari ; Sri Tunggal Sampurna ; Malaikat Incer Putih ; Raden Angga Keling ; Ratu Teluh ti Galunggung ; Sang Ratu Babut Buana. Penyebutan kuasa imajiner tersebut, seperti contoh dibawah ini :


Jampe Masamoan

Nu ngariung jiga lutung

Nu ngarendeng jiga monyet

Nya aing mandaha !

Maung pundung datang turu

Badak galak datang depa

Galudra di tengah imah

Kakeureut kasieup ku pohaci awaking.


Jampe masamoan diatas bertujuan agar memiliki kekuatan yang tersinari pohaci yang ada didalam dirinya. Bahkan ada semacam perintah bathin kepada siapapun yang ada ditempat pasamoan tersebut untuk tunduk dan menerima kehadirannya. Mungkin juga dapat ditafsirkan adanya perintah bathin orang yang hendak bertamu kepada bathin pihak "nu dipasamoan".


Contoh perintah bathin ini dapat dilihat dari asihan asihan seperti dibawah ini, sebagai berikut :

Ka Indung anu ngandung

Ka Rama anu ngayuga

Ka Indung nu teu ngandung

Ka Rama anu teu ngayuga

kadulur opat kalima pancer

Pang nepikeun ieu hate

Ka Indung na anu ngandung

Ka Rama na anu ngayuga

Ka Indung na nu teu ngandung

Ka Rama na anu teu ngayuga

Kadulur na opat kalima pancer

Kalawan kanu ngurus ngaluis hirup jeung huripna... (sianu) .......

Pamugi sing 


Jangjawokan diatas terasakan adanya perintah bathin (rasa) dari pembaca jangjawokan kepada bathin (rasa) orang yang dituju untuk melaksanakan apa yang dikehendakinya. Perintah dan urusan koridor bathin ini sangat nampak ketika pemohon memerintahkan bathinnya untuk menyampaikan kepada bathin tujuannya. Seperti ada eksistensi indung dan bapak anu ngandung kalawan nu teu ngandung. Kemudian disebut pula eksistensi dari saudara yang empat dan pancernya.

Dalam konteks yang sama ditemukan pula istilah-istilah spiritual yang lajim digunakan orang sunda penganut agama islam. Sehingga kuasa imajiner jika ditafsirkan sebagai sesuatu yang gaib atau makhluk terasa menjadi rancu jika kita membaca jangjawokan seperti dibawah ini.


Jampe Unggah

Ashadu sahadat bumi

Ma ayu malebetan

Bumi rangsak tanpa werat

Lan tatapakan ing Muhammad

Birahmatika ya arohmana rohomin


Jampe Turun

Allohuma ibu bumi

Medal tapak tatapakan

Turun wawayanging ing Muhamad

Birahmatika ya arohma rohimin.


Jika saja ditelaah lebih lanjut dari kedua jangjawokan terakhir, saya sendiri menjadi maklum, bahwa permohonan bathin kepada sesuatu "Yang Gaib" dimintakan ijin terlebih dahulu kepada "Yang Maha Gaib", atau dapat juga disimpulkan bahwa atas kehendak yang Maha Gaib maka Yang Gaib itu bisa diperintahka.

Istilah "Nu Gaib" disini tentunya menimbulkan pertanyaan, Nu Gaib anu mana ?. Mungkin alangkah lebih bijaknya jika mendefinisikan jangjawokan dengan cara menggunakan paradigma dari para penggunanya, yakni masyarakat Sunda Buhun. Dalam paradigma masyarakat Sunda Buhun, terutama ketika mengkaji dan menemukan sejarah diri akan terungkap ada tiga unsur yang menyebabkan manusa hirup jeung hurip, yakni unsur lahir (raga) ; bathin (hidup) dan kuring (aku). Kuring atau aku bertindak sebagai driver bagi lahir dan bathin, bagi raga jeung hirupna. Aku pula yang memanaje raga dan bathin.

Dari paradigma tersebut tentunya dapat disimpulkan, bahwa nu gaib itu bukan sesosok makhluk yang ada diluar dirinya, melainkan nu ngancik dina dirina.


Pengguna Jangjawokan sebagai pemberi perintah

Dalam jangjawokan, si pengguna bertindak sebagai pemberi perintah bathin, paling tidak sebagai pihak yang "menginginkan " sesuatu. Oleh para sastrawan diposisikan sebagai pihak yang lebih kuat terhadap penerima perintah. Misalnya :


Nu ngariung jiga lutung

Nu ngarendeng jiga monyet

Nya aing mandahna

..........................

kakeureut ka sieup ku pohaci awaking

Atau :

Curuk aing curuk angkuh

Bisa ngangkuh putra ratu

.................

mangka reret soreang

soreang ka badan awaking


Sipemberi perintah hemat saya tidak selamanya memposisikan diri sebagai pihak yang lebih kuat, karena ada juga kecenderungan kalimat yang dapat ditafsirkan sebagai permohonan atau himbauan, bukan perintah. Jika perhadapkan dengan yang kuat dan yang lemah, maka sangat tepat jika ia sebagai pihak yang lebih rendah dan sedang menginginkan sesuatu.


Tipe jangjawokan semacam diatas, seperti dibawah ini :

Jampe nyimpen Beas

Mangga Nyi Pohaci

Nyimas Alane Nyimas Mulane

Geura ngalih ka gedong manik ratna inten

Abdi ngiringan

............................


Dari kalimat tersebut lebih jauh dari unsure memerintah. Sekalipun menaruh harapan besar untuk melakukan. Namun lebih tepay jika dikatagorikan membujuk untuk melakukan. Contoh lainnya, seperti dalam Jampe ngisikan : Mangga Nyimas Alene Nyimas Mulane - Geura siram dibanyu mu'min - Di Talaga Kalkaosar - Abdi ngiringan .....dst.....

Saya menemukan beberapa kasus. Untuk jenis jangjawokan tertentu, seperti pangabaran atau asihan, penyatuan bathin dan kandungan jangjawokan dilakukan melalui proses "kuru cileuh kentel peujit". Mungkin ini untuk menumbuhkan kesungguhan dan keteguhan hati serta keyakinan agar tujuan tersebut bisa dicapai. Dalam temuan saya (mungkin suatu kebetulan), dilakukan pula oleh masyarakat yang bukan penganut ajaran Sunda Buhun.

Cara-cara dan budaya demikian bukan hanya dilakukan oleh "urang sunda buhun" bahkan sampai sekarang masih ada yang melakukannya. Misalnya melakukan dengan cara berpuasa dalam jumlah hari tertentu ; melakukan wirid ; atau melakukan shalat malam. Sedangkan ukuran keberhasilannya tidak sama dengan peta pengalaman seperti makan rawit, langsung terasa pedasnya, atau bisa dinikmati.


Penekanan perintah

Dalam jangjawokan sering ditemukan pengulangan perintah atau semacam "penegasan perintah untuk dilaksanakan". Perintah ini bersifat imperatif atau persuasif, misalnya :


Bray padang, Bray caang

Caangna salalawasna,

lawasna Saumur kula

.................................

mangka langgeng mangka tetep

mangka hurip kajayaan


Kalimat ini tentunya bukan sekedar penegasan, namun dapat juga diartikan sebagai kesungguhan untuk mencapai apa yang dikehendakinya.

Penutup aptisme Sebenarnya sangat sulit mendifinisikan jangjawokan, kecuali dari kandungan keinginan yang termaktub didalam jangjawokan itu sendiri. Jika dinyatakan meminta kepada makhluk gaib, namun yang ditemukan adalah upaya menguatkan bathinnya, bahkan ada negasi tentang eksistensi Tuhan. Kemudian, jika saja dinyatakan sebagai perintah, itupun sulit diderfinisikan, mengingat ada pula janjawokan yang isinya memohon atau menghimbau.

Jangjawokan adalah hasil cipta, karsa dan rasa manusia Sunda. Memiliki akar kesejarahan yang mandiri. Sejalan dengan perkembangan dan sejarah pemahaman tentang keyakinan dan sejarah diri, bahkan pernah dirasakan manfaatnya. Jangjawokan bukan sekedar puisi yang dapat dinikmati kata-katanya, namun sebagai sesuatu yang diyakini memiliki kekuatan. Biarlah jangjawokan "diampihan" sebagai puisi, agar tidak hilang dan dapat terkabarkan dikemudian hari. Pulsa303 Mun seug tea mah aya nu nyungsi rusiah jangjawokan, dipaluruh nepi ka wates wangenna. Tinangtu bakal panggih jeung sajatining hirup jeung huripna. Nu gaib lain makhluk nu misah tina ingsunna. Nu ngulon, ngaler, ngetan jeung ngidul, lain nu nyengkal tina pancerna. Sakabehna aya na hate jeung rasana, aya dina uteuk jeung pikiranana. Ibarat gula jeung amisna, uyah jeung asinna, ngajirim ngajadi hiji, kalawan tinekenan bakal kabuka rusiah, saha ari urang ? timana ari urang ? jeung rek kamana ari urang ?. Sabab mun manusa geus wawuh jeung dirina tinangtu bakal wawuh ka Gunti na.



Jangjawokan Mantra Sunda (jampi, asihan, singlar, jangjawokan, rajah, ajian, dan pelet)




Mantra sebagaimana dikemukakan Poerwadarminta (1988: 558) adalah :

1) perkataan atau ucapan yang mendatangkan daya gaib (misal dapat menyembuhkan, mendatangkan celaka, dan sebagainya); 2) susunan kata berunsur puisi (seperti rima, irama) yang dianggap mengandung kekuatan gaib, biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang lain.


Sejalan dengan pembagian jenis mantra, Rusyana (1970) membagi mantra berdasarkan tujuannya menjadi 7 bagian, yaitu jampe ‘jampi’, asihan ‘pekasih’, singlar ‘pengusir’, jangjawokan ‘jampi’, rajah ‘kata-kata pembuka ‘jampi’, ajian  ‘ajian/jampi ajian kekuatan’, dan pelet ‘guna-guna’. Diketahui bahwa ketujuh bagian tersebut dapat dikelompokkan ke dalam mantra putih ‘white magic’ dan mantra hitam ‘black magic’. Pembagian tersebut berdasarkan kepada tujuan mantra itu sendiri, yakni mantra putih digunakan untuk kebaikan sedangkan mantra hitam digunakan untuk kejahatan.

Adanya pembagian antara mantra putih (white magic) dan mantra hitam (black magic) sebenarnya sulit untuk diukur dalam pengertian tidak ada pembeda secara nyata di antara keduanya, karena sering terjadi penyimpangan tujuan dari mantra putih ke mantra hitam tergantung kepada siapa dan bagaimana akibat yang ditimbulkan oleh magic tersebut. Dapat dicermati bahwa mantra putih di antaranya bertujuan untuk menguasai jiwa orang lain, agar diri dalam keunggulan, agar disayang, agar maksud berhasil dengan baik, agar perkasa dan awet muda, berani, agar selamat, untuk menjaga harta benda, mengusir hantu atau roh halus, menaklukan binatang, menolak santet, untuk menyembuhkan orang sakit. Adapun kategori mantra hitam diantaranya bertujuan untuk mencelakai orang agar sakit atau mati, membalas perbuatan jahil orang lain, dan memperdayakan orang lain karena sakit hati.

Kehadiran mantra putih maupun mantra hitam itu sendiri berpangkal pada kepercayaan masyarakat pendukung di dalamnya yang memunculkan fenomena yang semakin kompleks di jaman sekarang. Sejumlah penilaian, sikap, dan perlakuan masyarakat Sunda terhadap mantra semakin berkembang. Ada sebagian masyarakat yang begitu mengikatkan secara penuh maupun sebagian dirinya terhadap mantra dalam kepentingan hidupnya. Sebagian masyarakat lainnya secara langsung atau tidak langsung menolak kehadiran mantra dengan pertimbangan bahwa menerima mantra berarti melakukan perbuatan syirik. Pada bagian masyarakat yang  disebutkan pertama dapat digolongkan ke dalam masyarakat penghayat atau pendukung mantra, sedangkan bagian masyarakat yang lainnya digolongkan ke dalam masyarakat bukan penghayat mantra.

Bagi masyarakat penghayat mantra, kegiatan sehari-hari kerap kali diwarnai dengan pembacaan mantra demi keberhasilan dalam mencapai maksud. Misalnya, para petani ingin sawahnya subur, terhindar dari gangguan hama, ingin panen hasilnya melimpah; para pedagang ingin dagangannya laris. Mantra diterima oleh masyarakat penghayatnya sebagai kebutuhan penunjang setelah kehidupan agamanya dijalani secara sungguh-sungguh.

Adanya kebutuhan terhadap mantra sebagai warna yang menghiasi kehidupan sehari-hari. Kegiatan yang tidak terlepas kepada keadaan alam dan mata pencaharian, menghasilkan tiga kelompok besar sehubungan dengan penggunaan mantra, yaitu mantra yang digunakan untuk perlindungan, kekuatan, dan pengobatan.


Salah satu contoh mantra perlindungan dapat disimak berikut ini.

Rarakan Nyi Pohaci

Hihid kekeper iman

Nyiru tamprak ning iman

Dulang ketuk ning iman

Parako bengker ning iman

Hawu dungkuk ning iman

Suluh solosod ning iman

Seeng kukus ning iman.


Secara simbolik, benda-benda yang disebutkan merupakan perwakilan dari hakekat manusia yang senantiasa harus menjalani hidup dengan dibekali iman yang kuat.

Fungsi lain yang menyiratkan adanya permohonan kepada Sang Pencipta, tampak pada sejumlah mantra kekuatan, begitu erat dengan kebutuhan hidup masyarakat yang dalam satu segi membutuhkan kekuatan lahir maupun batin untuk melaksanakan maksud tertentu. Semua mantra tersebut sepenuhnya disandarkan kepada Allah. Mereka tinggal menunggu keputusan dari Yang Maha Menentukan atas usaha yang dijalankan manusia. Betapa manusia merasa kecil dan tak berdaya sehingga memohon dilindungi, ditopang, diberi kemurahan pada setiap langkah, mohon ditetapkan iman dan Islam. Begitu juga dengan mantra kekuatan lainnya, dengan berbekal keyakinan dan bersandar sepenuhnya kepada Allah, mantra diucapkan untuk tujuan keunggulan, agar disayangi, agar segala perbuatan menghasilkan sesuatu yang diharapkan, agar perkasa, awet muda, untuk menaklukan siluman, dan lain-lain. Salah satu contoh mantra kekuatan yang termasuk ke dalam pelet ‘guna-guna’ dapat dilihat dalam contoh berikut ini.


Pelet

Bismillah

Kum awewe

Wataji kulhu absar

Wahuwa Latiful Khabil

Sabulan sang ratu nu colalang

Sabulan mangrupi

Dua putri mananjo

Tujuh bulan kolot

Salapan bulan sang goledah

Gereleng putih

Jig ka cai ngadon ceurik

Jig ka darat ngadon midangdam

Jig ka imah asa jobong koong

Kop cai asa tuak bari

Kop dahar asa tatal bobo

Kaula nyaho ngaran sia…si…….


Asihan

Samping aing kebet lereng

ditilik ti gigir lenggik

diteuteup ti hareup sieup

mikaeunteup mikasieup

mangka eunteup mangka sieup

ka awaking

awaking ratu asihan

ti luhur kuwung-kuwungan

ti handap teja mentrangan

ditilik ti tukang lenggik

di tilik ti gigir sieup

mangka eunteup mangka sieup

asih…asih… asih….

asih ka badan awaking.


Pembagian mantra lainnya, yaitu mantra pengobatan. Mantra pengobatan dipakai untuk mengobati si sakit. Melalui warisan nenek moyang, pemanfaatan alam pun tampak, yaitu digunakannya daun-daunan untuk mengobati perut kembung, tampak dalam jampe beunghak beuteung ‘jampi perut kembung’. Jampi tersebut harus disertai dengan menggosokkan daun eurih ke perut si sakit. Salah satu contoh mantra pengobatan dapat disimak berikut ini.


Jampe Beunghak Beuteung

Cakakak di leuweung

Injuk talina

Dihakan dibeuweung

Hitut jadina

Plong blos plong blong………


Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, bahwa mantra terdiri atas mantra putih dan mantra hitam. Mantra hitam (black magic) yang lebih dikenal secara umum oleh masyarakat Jawa barat sebagai teluh pada kenyataannya di lapangan diperoleh dalam jumlah yang sangat sedikit, itu pun ada yang berasal dari mantra putih (white magic). Hal ini dapat dipahami karena fungsi utama mantra, yaitu yang terkandung dalam mantra putih lebih mendominasi kehadirannya. Mantra hitam (black magic) tidak mendapat tempat di masyarakat. Ini terbukti dari hasil inventarisasi yang hanya ditemukan kurang lebih 10 buah mantra hitam (black magic). Mantra hitam (black magic) yang dimaksudkan adalah mantra pendendam dan mantra perdayaan. Mantra pendendam adalah mantra pembalasan atas perbuatan jahat orang yang mengirimkan mantra untuk mencelakai si pembalas.


Mantra ini diklasifikasikan sebagai mantra hitam karena ada motif mendendam dan ingin mencelakai orang yang mencoba mencelakainya. Simak teks yang dimaksud di bawah ini :

Panolak Teluh

Siriwi kula siratin

Mina haji kurawul kabuli badan

Papag papupang-pulang

Cunduk nyungcung datang rahayu

Anu runtuh sira nu gempur

Nu ngadek sira nu paeh

Nu nyimbeuh sira nu baseuh

Nu nyundut sira nu tutung

Nya aing Ceda Wisesa

Panca buana di buana panca tengah

Tiis ti peuting ngeunah ti beurang

Ngeunah ku Allah Taala

Ya Allah hurip waras (3 X)


Adapun dalam mantra hitam yang benar-benar dilatarbelakangi oleh hasrat ingin mencelakai orang lain tampak dalam mantra di bawah ini :

Paneluh Galunggung

Ratu teluh ti Galunggung

Sang Ratu cedacawal

Ratu teluh ti Gunung Agung

Sang Ratu murba Sakama

Sang Ratu Talaga Bodas

Nu kumawasa pusering talaga

Sang Ratu Cedacawal

Nya aing Sang Ratu Cedacawal

Pur geni pur braja

Seuseup getihna

Cokcrok ototna

Sebit atina

Bedol tikorona

Sayab nyawana

Tuh Singsieunan si …………


Mantra tidak mendapat tempat di sebagian masyarakat karena muatan teks dan perilaku magis lainnya yang menurutnya bertentangan dengan akidah Islam.

Antipati mereka terhadap perilaku magis ini masih dalam batas kewajaran. Mereka satu sama lainnya (dengan masyarakat penghayat mantra putih) masih dapat menjalin hubungan dan memfungsikan dirinya sebagai anggota masyarakat yang baik, tetapi tidak ada toleransi untuk penghayat mantra hitam (black magic).



Imajiner Nuswantoro




Imajiner Nuswantoro



Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)