Kanjeng Raden Ayu Adipati Sedahmirah (RA Mayangsari) pujangga ayu kesayangan Paku Buwana IV, penulis Kitab Ponconiti

0

 Kanjeng Raden Ayu Adipati Sedahmirah (RA Mayangsari) pujangga ayu kesayangan Paku Buwana IV, penulis Kitab Ponconiti


Ilustrasi foto Nyai Sedah Mirah (Imajiner Nuswantoro)



Banyak versi dan pendapat tentang Nyai Sedah Mirah berikut versi-versi tersebut :

- Nyai Sedah Mirah garwo ampil Mas Jolang Sedo Krapyak 

- Nyai Sedah Mirah adalah seorang pujangga sekaligus garwa ampil (selir) Pakubuwånå IV yang cantik dan pintar. Dari buah pikirnya melahirkan Kitab Ponconiti. Dari rahim beliau pula dilahirkan Sinuwun Bangun Tapa yang lebih dikenal dengan nama Pakubuwånå VI.

- Sedah Mirah dikenal sebagai perempuan yang pandai.

- Semasa hidup Sedah Mirah dikenal cantik, pandai diplomasi dengan gaji yang cukup.

- Banyak yang percaya jika mereka beruntung biasanya akan ditemui oleh sosok B.Ray. Sedah Mirah yang sangat cantik dan anggun.

- Saat ini banyak peziarah datang ke makam B.Ray. Sedah Mirah untuk ngalap berkah.

- Banyak peziarah yang datang untuk ritual meminta berkah dengan bekal hati yang bersih sopan santun.

- Banyak yang percaya jika mereka beruntung biasanya akan ditemui oleh sosok B.Ray. Sedah Mirah yang sangat cantik dan anggun.

- BRAy Adipati Sedah Mirah mengatakan jika beliau sesungguhnya adalah garwa ampil atau selir dari ISKS Paku Buwono IV (1768-1820), dari pernikahannya dengan PB IV ini kemudian beliau menurunkan ISKS PB VI (1807-1846) yang mendapat julukan Sinuhun Bangun Tapa karena kegemaran beliau melakukan tapa brata.

- Makam Nyai Sedah Mirah sendiri terletak di sebuah kompleks yang dibatasi pagar dengan makam lainnya dan di sekitarnya dimakamkan abdi-abdi beliau. Saat ini citra beliau di kalangan masyarakat cukup buruk karena terkenalnya beliau dengan ilmu pengasihan dan kanuragan-nya dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan ritual di makam beliau untuk maksud dan tujuan yang kurang baik.


Karya-karya dan penghargaan, tugas serta amanah yang diembannya selain sebagai pujangga dan penulis sastra Nyai BRAy Sedah Merah dan linuwih, kepintaran kecerdasannya antara lain :

1. BRAy Adipati Sedah Mirah adalah seorang pujangga, beliaulah penulis Kitab Ponconiti. 

2. Selain itu beliau juga dikenal sebagai pemegang babon serat yasan dalem Susuhunan seperti kitab Wulang Reh yasan dalem PB IV, dan serat babad Centhini yang ditulis semasa PB V. 

3. Kepandaiannya dalam bidang olah kanuragan atau ilmu beladiri pencak silat, membuat sang Raja berkenan menganugerahkan gelar padanya sebagai seorang Adipati. 

4. Berkat kepiawaian beliau banyak bidang khususnya spiritual, BRAy Adipati Sedah Mirah dipercaya oleh Keraton untuk mengemban tugas sebagai pemimpin upacara dan ritual sakral yakni Adhang Dhandhang Kyai Duda atau menanak nasi menggunakan alat berupa kukusan dan dhandhang yang terbuat dari tembaga. 

Dhandhang Kyai Duda adalah pusaka peninggalan Ki Ageng Tarub dan istrinya yang seorang bidadari Dewi Nawang Wulan. 

Berkat dhandhang pusaka ini pula bidadari Dewi Nawang Wulan menanak nasi cukup hanya satu butir beras tetapi nasinya bisa dimakan orang banyak. 

5. Selanjutnya BRAy Adipati Sedah Mirah memimpin acara labuh semua bekas acara ritual adhang dhandhang Kyai Duda ke pantai selatan tepatnya di pantai Parangkusumo. 

Acara ini cukup langka karena diadakan hanya setiap 8 tahun atau sewindu sekali.

6. Yang pasti, Adipati Sedah Mirah adalah seorang yang serba bisa, termasuk kecakapannya dalam ilmu pengobatan tradisional Jawa. 

Begitulah beliau menjelaskan bagaimana kehidupannya di zaman dulu pada saat masih hidup dengan raga. 

Sekarang beliau telah hidup tanpa raga dan mencapai tataran kamulyan sejati karena amal perbuatannya sewaktu hidup, beliau mengabdikan hidupnya agar berguna untuk banyak orang.



Anyakrawati

Anyakrawati (bahasa Jawa: ꦱꦸꦱꦸꦲꦸꦤꦤꦢꦶꦥꦿꦧꦸꦮꦚꦏꦿꦮꦠꦶ, translit. Susuhunan Adi Prabu Anyakrawati; meninggal 1613) adalah susuhunan (pemimpin) kedua dari Mataram yang memerintah pada tahun 1601-1613. Ia tercatat mewarisi kepiawaian ayahnya dalam strategi perang dan berburu, maka dalam gelarnya juga disematkan gelar senapati ing ngalaga yang bermakna orang yang pandai berperang.

Silsilah 
Susuhunan Anyakrawati atau Sunan Nyakrawati memiliki nama asli Raden Mas Jolang, dia adalah putra dari Panembahan Senapati yang lahir dari permaisuri bernama Waskita Jawi yang bergelar sebagai Kanjeng Ratu Mas (putri dari Ki Panjawi).
Raden Mas Jolang tumbuh sangat dekat dengan ayahnya, Panembahan Senapati. Ia memiliki watak yang sama seperti ayahnya yang gemar mengembara dan ahli dalam memanah, dia juga memiliki kebiasaan berburu. Sebagai seorang raja, dia memiliki selera tinggi terutama dalam menata lingkungan karaton, yang belum begitu sempurna sepeninggalan Panembahan Senapati.
Masa pemerintahnya relatif pendek. Dia memerintah selama dua belas tahun. Pada 1601-1613. Anyakrawati wafat pada tahun 1613 karena kecelakaan sewaktu berburu rusa di hutan Krapyak. Dari peristiwa itu ia dikenal dengan gelar anumerta Panembahan Seda ing Krapyak (Panembahan yang Meninggal di Krapyak).
Sebelum peristiwa tragis yang mengakibatkan mangkatnya Anyakrawati, ia pernah berwasiat kepada Patih Mandaraka untuk mengusulkan Raden Mas Jatmika, dalam melanjutkan tapuk kepemimpinan negara.
Wasiat yang pernah disampaikan Anyakrawati itu rupanya menimbulkan persoalan serius. Sebab, dia pernah berjanji mengangkat Raden Mas Wuryah sebagai calon raja. Raden Mas Wuryah anak dari permaisuri pertama. Ibunya bergelar Ratu Tulungayu, dari Ponorogo.
Sedangkan Raden Mas Jatmika lahir dari Ratu Mas Adi yang bernama Dyah Banawati, putri Pangeran Benawa dari Pajang. Saat itu status ibunya belum menjadi permaisuri. Anyakrawati masih menjadi pangeran. Sebaliknya, Raden Mas Wuryah lahir ketika Anyakrawati sudah bertakhta. Usia keduanya terpaut jauh. Saat Anyakrawati wafat, Wuryah baru berumur 8 tahun dan Jatmika telah berumur 20 tahun.

Kenaikan takhta
Pada tahun 1601 Panembahan Senapati mangkat, selanjutnya Raden Mas Jolang, menggantikan posisi ayahnya sebagai raja Mataram. Ia melanjutkan gelar ayahnya sebagai panembahan kemudian gelarnya saat jumeneng (naik takhta) sebagai Sunan Prabu Anyakrawati.
Raden Mas Jolang adalah putra Panembahan Senapati dengan permaisuri Kanjeng Ratu Mas (Waskita Jawi) yang berasal dari Pati. Bagi Panembahan Senapati, Raden Mas Jolang adalah putra ke sepuluh, tetapi dia merupakan putra keempat dari permaisuri Kanjeng Ratu Mas, asal pesisir Pati. Raden Mas Jolang merupakan putra pertama bagi Panembahan Senapati yang tidak meninggal pada usia belia. Dia juga memiliki banyak saudara laki-laki dan perempuan.
Di antara saudaranya itu adalah Raden Mas Tembaga dan Raden Mas Kedawung, dalam perjalanan waktu saudaranya kemudian menjadi Pangeran Puger dan Pangeran Demang Tanpa Tangkil. Meski bukan putra sulung, Raden Mas Jolang ditunjuk oleh Panembahan Senapati sebagai penggantinya karena dia anak dari permaisuri.
Pengangkatan Raden Mas Jolang sebagai calon raja dilaksanakan semasa Panembahan Senapati masih hidup. Bahkan sebelum menerima takhta secara resmi, Raden Mas Jolang harus menjalani ujian yang cukup berat, yaitu menghadapi pemberontakan Adipati Pragola. Tugas kenegaraan menghadang Adipati Pragola yang membawa seluruh kekuatan pasukannya ke Mataram, ternyata nyaris membuatnya terbunuh dalam pertempuran itu.

Meredamkan pemberontakan
Sebelum menjadi raja, semasa muda Raden Mas Jolang pernah ditugaskan oleh ayahnya untuk menghadapi pemberontakan pamannya dari pihak ibu.
Ibu Raden Mas Jolang yaitu Waskita Jawi merupakan kakak perempuan Adipati Pragola yang dijadikan permaisuri utama oleh Panembahan Senapati bergelar Kanjeng Ratu Mas, sedangkan Raden Mas Jolang sebagai putra mahkota.
Pada tahun 1590 Adipati Pragola ikut membantu Mataram menaklukkan Madiun. Pemimpin Madiun saat itu bernama Rangga Jumena (putra bungsu Sultan Trenggana) melarikan diri ke Surabaya. Putrinya yang bernama Retna Dumilah diambil Panembahan Senapati sebagai permaisuri kedua.
Peristiwa ini membuat Adipati Pragola sakit hati karena khawatir kedudukan kakaknya (Kanjeng Ratu Mas) terancam. Pemberontakan pun terjadi. Daerah-daerah di sebelah utara Pegunungan Kendeng mulai ditaklukan oleh Adipati Pragola.
Panembahan Senapati mengirim Raden Mas Jolang untuk menghadapi pemberontakan Adipati Pragola. Kedua pasukan bertemu dekat Prambanan. Adipati Pragola menolak untuk melawan keponakannya sendiri, dan ia meminta Panembahan Senapati sendiri yang menghadapinya. Namun, Raden Mas Jolang menolaknya. Untuk membuat keponakannya itu mengurungkan niatnya, Adipati Pragola memukulkan gagang tombak hingga mengenai pelipis keponakannya hingga berdarah.
Pasukan Mataram dipukul mundur oleh pasukan Adipati Pragola. Akhirnya Panembahan Senapati sendiri yang harus menghadapi. Perang kemudian terjadi kembali di dekat sungai Dengkeng di mana pasukan Mataram dipimpin langsung oleh Senapati sendiri dan berhasil meredamkan pemberontakan itu.


Kematian

Pasarean Mataram, makam dari Panembahan Seda ing Kajenar dan Panembahan Seda ing Krapyak.


Anyakrawati meninggal dunia pada tahun 1613 karena kecelakaan sewaktu berburu rusa di hutan Krapyak. Oleh karena itu, ia pun diberi gelar anumerta sebagai Panembahan Seda ing Krapyak. Ia dimakamkan di Pasarean Mataram.
Putra yang ditunjuk sebagai raja selanjutnya adalah Raden Mas Jatmika. Namun, sebelumnya ia pernah berjanji mengangkat Raden Mas Wuryah sebagai calon raja kepada Ratu Tulungayu, maka Raden Mas Wuryah pun lebih dahulu diangkat sebagai raja selama satu hari.
Melihat kondisi Raden Mas Wuryah yang tidak dimungkinkan untuk melanjutkan tapuk kepemimpinan, setelah memerintah selama satu hari, Raden Mas Wuryah kemudian digantikan oleh Raden Mas Jatmika, yang kemudian di periode kepemimpinannya membawa Mataram berada di puncak kejayaannya.


Susuhunan Hanyakrawati (memerintah 1601–1613) adalah raja kedua Kesultanan Mataram Islam.

Nama kecil Raden Mas Jolang. Beliau adalah putra dari pendiri Mataram, Panembahan Senopati, dan permaisurinya, Waskita Jawi (Kanjeng Ratu Mas).
Ayah dari Raden Mas Jolang (Panembahan Hanyakrawati) adalah Panembahan Senapati (Danang Sutawijaya), pendiri Kesultanan Mataram.
Danang Sutawijaya (wafat 1601) adalah pendiri sekaligus raja pertama Kesultanan Mataram Islam (1587-1601) yang bergelar Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama. Putra Ki Ageng Pamanahan ini memerdekakan Mataram dari Pajang, memperluas wilayah Jawa, serta menetapkan Kotagede sebagai pusat pemerintahan.

Naik tahta menggantikan ayahnya pada tahun 1601 dan memerintah selama 12 tahun.
Gelar anumerta Panembahan Seda ing Krapyak (baginda yang wafat di Krapyak). Kematian Hanyakrawati wafat pada tahun 1613 akibat kecelakaan saat berburu rusa di hutan Krapyak, Yogyakarta. Kemudian digantikan oleh putranya, Raden Mas Jatmika, yang kemudian dikenal sebagai Sultan Agung.

Terkait dengan wilayah Blambangan, meskipun ia berkuasa pada kurun waktu tersebut, penaklukan dan upaya intensif menduduki Blambangan secara penuh sering kali dikaitkan dengan masa pemerintahan putranya, Sultan Agung, terutama pada pertempuran-pertempuran besar di sekitar tahun 1630-an hingga 1640-an. 

Menurut Imajiner Nuswantoro, diperkirakan hubungan asmara Mas Jolang Anyakrawati Sedo Krapyak + Bray Adipati Sedah Mirah di abad XVI - XVI, Mas Jolang lahir tahun 1587, sebelum meninggal sewaktu berburu +/- 1587 - 1613 (kira-kira umur 16-17 tahun sudah mempersunting Putri Kerajaan Blambangan Putri Sedah Mirah sekitar tahun 1594.



Ilustrasi foto Nyai Sedah Mirah (Imajiner Nuswantoro)


Makam BRaY Sedah Mirah Di Situs Kartosuro.

Situs Keraton Kartasura (1680 – 1745) kini hanya tinggal puing-puing saja, dengan pagar tembok/benteng Baluwarti terbuat dari batu bata merah setebal 2-3 meter dan tinggi kurang lebih 3 meter. Petilasan ini membuktikan keberadaan Keraton Kartasura Hadiningrat memang pernah ada sebelumnya di masa lalu. Di dalam situs antara lain terdapat ; alun-alun, kolam segaran yang sekarang berubah menjadi tanah lapang, gudang mesiu yang sekarang berubah menjadi gedong obat. Tembok berlubang sebagai saksi bisu atas terjadinya peristiwa Geger Pacinan, Sumur Madusaka digunakan untuk memandikan pusaka-pusaka kerajaan, genthong batu, lingga dan yoni, tombak Kyai Jangkung dan Tombak Kyai Slamet. Dan terdapat beberapa makam keramat di antaranya adalah Makam Mas Ngabehi Sukareja, Makam B.R.Ay Adipati Sedah Mirah, Makam KPH Adinegoro, Makam Ki Nyoto Carito dalang Keraton yang terkenal pada masanya, serta masjid tua yang dibangun Sunan Paku Buwono II.

Peninggalan sejarah yang masih dapat dijumpai di situs Keraton Kartasura berupa reruntuhan bangunan dan nama-nama tempat atau toponim. Sedangkan luas kota Kartasura di masa lampau diperkirakan mencakup seluruh wilayah Kecamatan Kartasura saat sekarang, ditambah beberapa kawasan yang masuk wilayah Kabupaten Boyolali dan Karanganyar. Saat sekarang, Keraton Kartasura yang terletak di Kelurahan Siti Hinggil, menjadi kota kecamatan seperti pada umumnya.

Di antara makam-makam di Astana Wanakerta (petilasan Keraton Kartasura), makam Ratu Sedah Mirah paling dikeramatkan. Setiap Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, makam ini selalu dipadati peziarah yang hendak ngalap berkah.

Orang-orang yang datang hendak ngalap berkah di makam Ratu Sedah Mirah berasal dari berbagai penjuru tanah air. Baik dari kota-kota di Jawa maupun luar Jawa. Malah ada pula yang datang dari Singapura dan Malaysia.

Tujuan mereka bermacam-macam. Ada yang menginginkan agar lekas naik pangkat, mencari kewibawaan, usahanya lancar, dan masih banyak lagi.

Ratu Sedah Mirah hanyalah garwa ampil. Selir dari Pakubuwono, raja Surakarta. Namun karena keanggunan dan kecantikannya tak terhingga, maka ketika meninggal, ratu ini tetap dikenang. Malah banyak pula yang memitoskan.



Makam Raden Ayu Sedah Mirah atau RA Mayangsari yang dimakamkan di kompleks Petilasan Keraton Kasunanan Kartasura pada 1826. 

Sedah Mirah adalah garwa ampil (selir) Pakubuwana. Namun karena konon ia menguasai ilmu persilatan dan pintar bermain pedang maka Sinuwun Paku Buwono memberi gelar adipati kepadanya. Sedah Mirah yang cantik juga dikenal pandai berdiplomasi dan memiliki aji pengasihan.

B.R.Ay Adipati Sedah Mirah pada masa hidupnya memiliki segudang prestasi besar. Selain dikenal berparas cantik, juga pandai berdiplomasi serta memiliki ilmu pengasihan tinggi sehingga beliau sebagai wanita mempunyai kharisma dan wibawa luar biasa. Sebagai pemimpin, beliau pemimpin yang dicintai rakyatnya, pemimpin yang disayangi rajanya, dihormati kawan, sekaligus disegani lawan. BRAy Adipati Sedah Mirah adalah seorang pujangga, beliaulah penulis Kitab Ponconiti. Selain itu beliau juga dikenal sebagai pemegang babon serat yasan dalem Susuhunan seperti kitab Wulang Reh yasan dalem PB IV, dan serat babad Centhini yang ditulis semasa PB V. Kepandaiannya dalam bidang olah kanuragan atau ilmu beladiri pencak silat, membuat sang Raja berkenan menganugerahkan gelar padanya sebagai seorang Adipati. Berkat kepiawaian beliau banyak bidang khususnya spiritual, BRAy Adipati Sedah Mirah dipercaya oleh Keraton untuk mengemban tugas sebagai pemimpin upacara dan ritual sakral yakni Adhang Dhandhang Kyai Duda atau menanak nasi menggunakan alat berupa kukusan dan dhandhang yang terbuat dari tembaga. Dhandhang Kyai Duda adalah pusaka peninggalan Ki Ageng Tarub dan istrinya yang seorang bidadari Dewi Nawang Wulan. Berkat dhandhang pusaka ini pula bidadari Dewi Nawang Wulan menanak nasi cukup hanya satu butir beras tetapi nasinya bisa dimakan orang banyak. Selanjutnya BRAy Adipati Sedah Mirah memimpin acara labuh semua bekas acara ritual adhang dhandhang Kyai Duda ke pantai selatan tepatnya di pantai Parangkusumo. Acara ini cukup langka karena diadakan hanya setiap 8 tahun atau sewindu sekali.



Paku Buwono IV (bergelar : Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwana Senapati ing Alaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping IV ing Nagari Surakarta Adiningrat).

ISKS (Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan) Paku Buwono IV adalah gelar lengkap dari Sri Susuhunan Paku Buwana IV, yang merupakan raja ketiga Kasunanan Surakarta yang memerintah dari tahun 1788 hingga 1820. Gelar lengkapnya adalah "Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwana Senapati ing Alaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping IV ing Nagari Surakarta Adiningrat". Ia juga dikenal dengan nama "Sunan Bagus" karena naik takhta di usia muda dan berwajah rupawan. 

Selain itu, Pakubuwana IV juga dikenal sebagai raja yang berani dan tidak mau tunduk kepada Belanda, serta seorang Muslim yang taat. Ia juga dikenal sebagai ahli strategi dan sastra, khususnya yang bersifat rohani, dan menciptakan Serat Wulangreh. 


Berikut beberapa perjalanan penting mengenai ISKS Paku Buwono IV : 

1. Raja Surakarta : Memerintah Kasunanan Surakarta dari tahun 1788 hingga 1820.

2. Julukan : Dikenal dengan nama "Sunan Bagus".

3. Sikap : Berani dan tidak mau tunduk kepada Belanda, serta seorang Muslim yang taat.

4. Karya Sastra : Pencipta Serat Wulangreh, sebuah karya sastra Jawa klasik.

5. Kehidupan Pribadi : Lahir pada tanggal 2 September 1768 dan wafat pada 2 Oktober 1820.

6. Nama Asli : Raden Mas Subadya.



Imajiner Nuswantoro 



Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)